"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Berkata itu perak, sedangkan diam itu emas". Pepatah ini tentu sangat familiar di telinga kita. Tapi kadang juga disalahartikan, terutama oleh kaum istri. Ketika sang istri diam, tandanya berarti emas. Cepat-cepatlah bawa ke toko emas, pasti diamnya sembuh dan normal. Meski pelesetan, tentu itu dapat merusak makna pepatah di atas tadi. Sebab yang dimaksud diam di atas adalah tidak berbicara sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah dan sebagainya.

Ibnu Mubarak ditanya terkait apa maksud dari ucapan Lukman kepada anaknya yang berbunyi "Apabila berkata itu perak, maka diam itu emas" Ia menjawab, "Jika berkata dalam kebaikan adalah perak, maka diam dari berkata yang mengandung maksiat adalah emas." Dalam kitab Nashaihul Ibad, diam adalah ashamtu. Ashamtu yang dimaksud adalah assukutu yang berarti diam dari sesuatu yang tidak bermanfaat dalam urusan agama dan dunia, atau diam tidak membalas terhadap orang yang membencinya. Diam merupakan sebagian dari ibadah yang paling tinggi, karena kebanyakan kesalahan itu timbul dari lisan. Begitulah lidah, kecil bentuknya dan tidak bertulang, tetapi sangat membahayakan si pemiliknya.

Lisanu al-mari min khadami al-fuaadi, demikian bunyi pepatah dari Mahfudzat yang pernah penulis pelajari. Artinya lidah seseorang itu merupakan "perpanjangan tangan" hatinya. Atau dengan kata lain, ucapan seseorang menggambarkan bagaimana isi hati si pemiliknya. Jika ucapannya santun dan baik, maka hatinya juga sama dengan apa yang diucapkannya pula. Atau dalam pepatah yang lain, Al-kalamu sifatu al-mutakallimi, tutur kata merupakan gambaran sifat si penuturnya.

Jika tidak dapat menjaga diri (dari bahaya lisan), bisa menyebabkan banyak persoalan. Umpatan, tuduhan yang tak berdasar, mencari-cari kesalahan dan sifat lainnya, dapat menghinggapi siapa pun. Ujung-ujungnya banyak pihak yang tersakiti. Malahan, tidak hanya lisan yang berbahaya; tulisan pun kini punya peran yang sama bahayanya. Jagalah ucapan dan tulisan, agar tercipta suasana yang damai dan tenang. Renungkanlah pepatah yang satu ini, "Alkalamu yanfudzu maalaa tanfudzyhu al-ibaru" artinya perkataan itu dapat menembus apa yang tidak dapat ditembus oleh jarum.

Jika dirasa tidak berefek dengan pepatah diatas, mari renungi pula hadits ini "Bisa jadi seseorang itu mengatakan satu patah kata yang menurutnya tidak apa-apa, tetapi dengan kalimat itu ia jatuh ke neraka selama tujuh puluh tahun". (HR. Tirmidzi).

Saat ini, berdiam diri dan menahan diri merupakan sebuah langkah yang sangat dianjurkan. Bukan karena tidak mampu melakukan atau mengambil tindakan, tetapi lebih kepada menjaga diri agar tidak memperkeruh suasana. Sebab langkah yang diambil bisa menyebabkan multi-tafsir dan diterjemahkan dengan sekehendak orang yang membacanya. Baik bisa dianggap buruk, bahkan yang buruk dibuat seolah baik. Jelas ini sudah tidak sehat dan berbahaya. Sehingga, alternatifnya adalah dengan diam.

Uzlah, Sebagai Solusi
Peran media yang kini begitu massif tidak dapat dibendung lagi. Satu-satunya filter yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi diri dari media sosial yang telah terkontaminasi hoaks dan cenderung memecah belah rakyat. Jika dalam diri tidak dibentengi dengan sikap diam, tentu yang terjadi adalah kita akan terbawa arus di dalamnya. Cara kongkritnya adalah, diam sejenak lalu renungi dalam-dalam akan dampak dari informasi yang telah diterima.

Dalam bahasan ilmu tasawuf, ada istilah uzlah. Proses uzlah dilakukan oleh seseorang yang ingin mengosongkan batinnya dari perkara-perkara yang menurutnya membuat sumpek atau kalut. Sehingga, ia ingin mengosongkan hati dan pikirannya dari kesumpekan tersebut, dengan cara berdiam diri di suatu tempat yang sepi dari keramaian dan hiruk-pikuk manusia (menyepi dan menjauh dari keramaian, semisal ke hutan atau goa-goa dst).

Cara beruzlah di atas, merupakan salah satu pendapat yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali. Mengasingkan diri secara menyeluruh (baik jasad dan ruh) ke tempat yang sunyi, sehingga menemukan ketentraman jiwa dan hatinya. Tentu, dalam beruzlah model ini diisi dengan amalan-amalan ibadah kepada Allah swt (bukan sekedar mengasingkan diri dari keramaian semata. Amat bahaya, bisa jadi yang datang bukan cahaya Allah, tapi setan yang masuk dalam dirinya). 

Mengasingkan diri dari manusia, agar menguatkan sinyal-sinyal ketersambungan dengan sang maha kuasa. Bagi mereka yang ingin memperoleh ketentraman hati dan ketenangan jiwa, serta mengolah hati agar lebih baik silakan beruzlah. Mencari kedamaian dalam diam, hanya akan diperoleh dengan cara beruzlah. "Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati (jiwa), sebagaimana "uzlah untuk masuk ke medan berpikir (tafakur)" menurut Ibnu Athailah (al-Hikam).

Adapun pendapat yang lain, misalnya pendapat Imam "Atha, tidak perlu menyepi dari hiruk-pikuk dunia, cukup ruhnya saja yang dilatih dan didiamkan dari perkara keduniaan, sedangkan jasad tetap berinteraksi dengan manusia pada umumnya. Cukup hawa nafsunya yang ditekan dan ditahan untuk tidak terpaut cinta akan dunia. Misalnya, jika malam tiba, barulah ketersambungan itu dimaksimalkan, diisi dengan berdzikir, shalat malam, dan tafakur kepada Allah.

Proses uzlah merupakan cara yang efektif dalam menanggulangi permasalah hati dan diri dalam hal keduniaan, pun demikian untuk menjalin kelekatan dengan sang pencipta. Begitupula dengan masalah-masalah yang saat ini ada di sekitar kita. Berbagai cara sudah dilakukan, dan sesuai prosedur, lalu pihak-pihak yang terkait juga sudah turun tangan, tinggal kita sebagai penikmat (objek) di bawah, yang harus menahan diri dan merenungi dalam-dalam agar tidak memperkeruh suasana.
Perilaku pengguna medsos yang belum dewasa dan dengan mudahnya membagikan sesuatu yang belum tentu kebenarannya, merupakan momok yang sukar diselesaikan, bahkan menjadi tantangan sendiri bagi kita untuk terus terjaga. Mungkin waktulah yang akan menyadarkan mereka dengan sendirinya.

Dalam mengahadapi konflik pun demikian. Terkadang kita membutuhkan sikap diam dalam menanggapinya. Diam di sini bukan berarti acuh dan membiarkannya, tetapi lebih kepada merenung untuk mencari solusi dan bantuan dari petunjuk sang kuasa. Bukankah Rasulullah juga pernah melakukan kontemplasi ke gua hira? Cara yang dilakukan oleh Rasulullah bukankah sama dengan cara "diam" dari kegundahan yang beliau rasakan?

Namun jika belum ada cara untuk menyelesaikannya, maka diam menjadi solusi terbaik. Diam merenung dan berpikir sejenak untuk mencari jalan keluar dari masalah yang tengah dihadapi. Bukan sembarang diam, melainkan yang dapat menimbulkan kedamaian yang hakiki, ketenangan dan kejernihan dalam hati, ketajaman dalam pikiran, kedalaman dalam akhlak yang baik, serta totalitas seseorang dalam penghambaannya kepada Illahi.

Penutup
Nabi bersabda "Shalat itu tiang agama sedangkan diam dari (ucapan dan perbuatan jelek) lebih utama daripada ibadah dan sedekah yang dapat memadamkan murka Allah. Puasa itu perisai dari siksa neraka, tetapi diam itu lebih utama. Jihad itu puncaknya agama, tapi diam itu lebih utama. Diam dari ucapan dan perbuatan jelek adalah ibadah yang paling tinggi." (Maqalah kesebelas, bab keempat)
Diam itu adalah perhiasan bagi orang yang alim dan selimut (penutup) bagi orang yang bodoh, dan diam itu rajanya akhlak. Diam juga mengandung hikmah yang banyak, akan tetapi sedikit orang yang melakukannya. Bila diam ini diamalkan dengan sebaik-baiknya, maka semua yang tidak diinginkan dapat dihindari. Akan tetapi jika belum bisa diam dengan sepenuhnya, setidaknya kurangilah sedikit kejelekan yang ada dalam diri.

Hiruk pikuk duniawi memang sungguh menggoda. Maka tidak aneh, jika dunia dengan segala pernak-perniknya selalu menjadi primadona di dalam hati manusia. Harta, jabatan, kekuasaan, wanita, dan lain sebagainya selalu memenuhi rongga-rongga hati setiap manusia, yang pada akhirnya melalaikan mereka dari hakikat tugas kehidupan yang sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah. (QS. Adz-Dzaariyaat [51] : 56) "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".

Hati akan sakit, dan mati. Jika sudah mati, maka akan merusak komponen-komponen lain dalam tubuh manusia. Perilakunya akan sulit dikontrol, sehingga setanlah pengendalinya. Alhasil orang yang sudah terindikasi memiliki hati yang mati, akan semakin jauh dari cahaya illahiah. Agar tidak terserang sakit yang semakin parah dan sukar disembuhkan, maka cara yang paling simpel dalam menghadapi dunia ini dengan cara diam sesuai dengan ketentuan di atas. Allahu'alam.

Amir Hamzah
Ngaji di UII. Tulisan ini diterbitkan buletin alrasikh pada tanggal 21/12/18. Nama penulisnya di buletin menggunakan nama Pandu Wiranta. Bisa dicek di alamat alrasikh.uii.ac.id
___
"...Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)..." (Qs. Al-Kahfi [18] : 10)

Sebentar lagi momen ini akan tiba, dan pada tanggal 28 Oktober biasa kita peringati sebagai hari sumpah pemuda yang berisi bertumpah darah satu, yaitu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia dan berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong. Sumpah pemuda pertama diikrarkan untuk menumbuhkan semangat perjuangan bangsa Indonesia pada waktu itu masih dijajah oleh Belanda. Perumus sumpah pemuda adalah Moh. Yamin.

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas di bawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu.

Kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli. Tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Anak muda zaman dahulu sudah memberikan sumbangsih yang luar biasa pada Negara ini. Bahkan juga, para pemuda mengkalim yang menggulingkan kekuasaan orde baru setelah sekian puluh tahun berkuasa. Lalu, di masa depan nanti, apakah para pemuda Indonesia akan memberikan kontribusi untuk Negara ini? apalagi saat ini dikenal dengan istilah era disrupsi akibat revolusi industry 4.0.

Belajar dari Ashab al-Kahf
Kisah sumpah pemuda mencerminkan bahwa pemuda adalah masa di mana semangat yang tinggi, menggelora, pantang menyerah, dan tak tergoyahkan dalam menggapai sebuah harapan. Semangat inilah yang menjadi hal positif dalam diri pemuda. Di dalam al-Quran Allah mengisahkan pemuda yang kukuh dalam keyakinannya kemudian melawan rezim kekuasaan di masa itu, sehingga mereka lari kedalam gua dan kemudian Allah menidurkannya selama tiga ratus tahun lebih. Allah berfirman di dalam surat Al-Kahfi [18] ayat 10-13:

"(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian kami bangunkan mereka, agar kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu). Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk".

Mereka adalah para pengikut Isa yang melarikan diri dari kekejaman Romawi untuk mempertahankan tauhid yang mereka anut, mereka ditidurkan selama tiga ratus tahun (kurang lebih) dan kemudian dibangunkan kembali untuk membuktikan kekuasaan Allah swt. dalam membangkitkan manusia pada hari kiamat kelak.

Dalam tafsir Al-Misbah, kata fityah adalah bentuk jamak dari fata yang artinya remaja. Kata ini bukan saja mengisyaratkan kelemahan mereka dari segi fisik dan jumlah yang sedikit, tetepi juga usia yang belum berpengalaman. Namun demikian, keimanan dan idealisme pemuda itu meresap dalam benak dan jiwa, sehingga mereka rela meninggalkan kediaman mereka untuk mempertahankan idealisme yang ada dalam dirinya. Idealisme anak muda memang seringkali mengalahkan kebijaksanaan dan pengalaman orang tua, itulah kenapa  Nabi Muhamad mengingatkan agar memberi perhatian kepada para pemuda, karena seperti sabda Rasulullah "mereka yang mendukung saya saat orang tua menentang saya".

Belajar dari Nabi Ibrahim AS.
Selain kisah dari ashab al-Kahfi ada juga kisah dari Nabi Ibrahim as. Menurut al-Biqa'i kedudukan Nabi Ibrahim adalah sebagai pengumandang tauhid, melalui pengalaman ruhaninya. Ia menemukan tuhan yang maha esa dan meyakininya, bahwa dia bukan tuhan suku, atau tuhan masa tertentu, tetapi tuhan seluruh alam. Sehingga Nabi Ibrahim wajar menyandang gelar pengumandang ketuhanan yang maha esa, karena sebelum masa nabi Ibrahim para nabi (sesuai dengan perkembangan akal masyarakatnya) memperkenalkan Allah sebagai tuhan yang mereka pahami sebagi tuhan suku atau tuhan kelompok tertentu.

Nabi Ibrahim datang dengan memperkenalkan tuhanNYA sebagi tuhan seluruh makhluk yang menyertai mereka dalam keadaan sadar maupun tidur, menyertai mereka bukan hanya dalam kehidupan dunia ini tapi berlanjut hingga hari kemudian.

Nabi Ibrahim as. Lahir di daerah Babyl, ayahnya bernama Azar. Ayahnya sangat dicintai oleh Raja Namrud, karena ia sangat pandai mambuat patung berhala dan patuh kepada Raja Namrud. Walaupun Ibrahim anak seorang pembuat berhala, tapi tidak lantas mengikuti ayahnya. Allah memberikan hidayah kepada Nabi Ibrahim untuk tidak menyembah berhala dan menolak ajaran sang ayah. Nabi Ibrahim ketika remaja, ia sudah berpikir tentang adanya alam ini. Apa yang terlihat matanya seperti bintang, rembulan, matahari, dan lain-lain kemudian ia timbang-timbang siapakah mereka itu semua.

Nabi Ibrahim heran melihat arca yang disembah padahal tidak bias bergerak tidak bisa mendegar. Tidak bias menjawab terhadap apa yang dimintakan oleh yang menyembahnya, serta tidak mendatangkan kemadharatan dan mendatangkan manfaat bagi yang menyembahnya. Kemudian Nabi Ibrahim bertanya kepada ayahnya. "Kenapa patung itu disembah?" Ayahnya menjawab "Ini sudah mejadi sesembahan nenek moyang kita dan sudah menjadi warisan turun temurun". Allah berfirman dalam Surat al-Anbiya : 52-56

"(ingatlah), ketika Ibrahim Berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah Ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?". Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata". Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?". Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang Telah menciptakannya: dan Aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu".

Nabi Ibrahim memiliki rencana untuk menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh Kaum Namrud. Ketika Raja Namrud beserta kaumnya mengadakan upacara, tempat menyembah berhala itu sepi, maka Nabi Ibrahim menjalankan rencananya untuk memenghancurkan patung patung tersebut. Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala, dan yang disisakan hanya satu yang besar kemudian kapak yang dipakai oleh Nabi Ibrahim di kalungkan di leher patung yang besar itu.

Ketika mengetahui  Raja Namrud dan para pengikutnya menemukan berhala-berhala itu telah hancur maka pelakunya sudah jelas yaitu Ibrahim. Dipanggilah Ibrahim, di sana Nabi Ibrahim berdebat dengan kaum Namrud, ia berusaha melawan kaum Namrud dengan kebodohan mereka sendiri. Al-Quran mengabadikan percakapan Nabi Ibrahim dengan Kaum Namrud dalam surat al-Anbiya [21] ayat 59-64.

"Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami, Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim." Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim ".  Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami, Hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar Itulah yang melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". Maka mereka Telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)".

Karena mereka marah terhadap Ibrahim maka akhirnya kemudian Kaum Namrud menyediakan kayu bakar untuk membakar Nabi Ibrahim, yang telah menghancurkan sesembahan mereka. Akhirnya pertolongan Allah pun datang, dan memberikan mukjizatnya kepada Nabi Ibrahim. Api yang sifatnya panas, dan dapat membakar, ternyata tidak melukai tubuh Nabi Ibrahim sedikitpun. Berkat idealisme Nabi Ibrahim sewaktu muda, tidak mau menyembah sesembahan yang telah turun-temurun, mengantarkan nabi Ibrahim menemukan tuhan yang sebenarnya, diselamatkan oleh Allah dari kekejaman kaumnya dan mendapat gelar khalilullah (kekasih Allah).

Penutup
Kisah para pemuda di atas, memberikan gambaran yang nyata kepada kita, bahwa idealisme yang dimilki oleh para pemuda merupakan idealisme yang tinggi dan mampu mengalahkan kebijaksanaan orang tua. Kemerdekaan Indonesia ini tak lain adalah buah dari idealism para pemuda yang mendesak Presiden Sukarno untuk segera mengumumkan kemerdekaan dengan dasar Jepang sudah mundur dan mengaku menyerah. Momen ini dianggap tepat oleh para pemuda untuk segera mengambil alih (untuk merdeka).

Lalu, dua kisah yang ada di dalam al-Quran merupakan hikmah yang harus kita ambil dengan sebaik-baiknya. Para pemuda yang ditolong oleh Allah dan ditidurkannya selama tiga ratus tahun lebih merupakan keteguhan para pemuda dalam memegang ketauhidannya. Begitupula dengan kisah Nabi Ibrahim As. yang dengan idealisme yang tinggi ia berusaha untuk mencari kebenaran yang sebenar-benarnya. Akibat mempertahankan idealismenya inilah ia dibakar oleh Kaum Namrud, dan seketika itu pula pertolongan Allah datang dengan mukjizatnya.

Al-akhir, pemuda adalah pejuang masa depan, yang di tangannya ada harapan baru dan semangat baru yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang baru pula. Mudah-mudahan negri ini memperoleh generasi baru yang mampu memberikan kedamaian dan kesejahteraan, serta menjadi pelindung bagi semua makhluk di era disruptif ini. Harapan terkhusus, yaitu agar pemuda yang menjadi tumpuan masa depan, mampu memberikan dampak yang positif bagi keberlangsungan Negara Indonesia tercinta ini.

Yakinilah pula, jika Allah akan menjadi penolong selama idealisme yang ditampilkan murni untukNYA. Bukan sekedar pencitraan apalagi untuk sekedar mencari sensasi agar menjadi viral di dunia maya lalu mendapat popularitas. Naudzubillah.

Amir Hamzah
Ngaji di UII | Tulisan ini diterbitkan oleh alrasikh.uii.ac.id tanggal 26/10/18 dengan menggunakan judul Pemuda Idaman dan nama penulisnya juga diubah dengan menggunakan nama Pandu Wiranta mahasiswa Kimia UII angkatan 2016.
___
Pukul setengah sepuluh tadi malam (22/18), saya dikagetkan dengan sebuah pesan suara dari whatsapp. Isinya kurang lebih begini "Mohon doanya, semoga kami diberikan keselamatan. Ini sekarang lagi ngungsi di gunung..."

Setelah mendapat kabar (yang cukup bikin hati gelisah tersebut) dari salah seorang keluarga jauh ini, saya langsung cek ke internet dan nyari info terbaru. Terutama ke situsnya BMKG dulu, tapi updatenya yang terakhir itu tentang gempa lombok tadi sore hari. Untuk info Labuan - Banten belum ada.

Buntu di sana, cari info diberita online. Tapi masih minim sumber yang di dapat. Maka kesimpulan sementara yang saya cari belum didapat. Akhirnya coba mengais informasi dari kerabat yang tadi sedang mengungsi. Katanya, pas terakhir chatt, ada getaran yang cukup kencang. Ada sura dentuman keras juga, tapi cuma sekali.

Setelah dicek lagi ke berita onlien, didapatlah info dari twitter bmkg yang menyatakan bahwa hal itu bukan tsunami, hanya gelombang pasang biasa yang disebabkan bulan purnama. Masyarakat diminta tenang. Karena mendapati info dari bmkg seperti itu sudah agak tenang.

Tetapu setelah beberapa menit, hape mulai rame dengan kiriman video dan kiriman suara orang yang sedang panik dan suaranya tersengal-sengal. Ada video air yang naik, orang yang siap ngungsi dan lain sebagainya. Dugaan sementara, jangan-jangan ini hanya dibesar-besarkan beritanya oleh oknum tertentu. Makanya saya tetap menahan diri untuk tidak gegabah dan mengupload sesuatu untuk dijadikan status di medsos.

Asumsi awal saya ketika itu, tentang anak Gunung Krakatau. Makanya yang saya tanyakan pertama kali ada gempa atau tidak, jawabnya tidak ada, hanya yang ada getaran saja. Terus yang kesapu air laut, itu yang jaraknya benar-benar dekat dengan tepi pantai. Sehingga wajar kalau rusak dan hancur semua. Air laut sudah sampai ke jalan, karena posisi jalannya memang di dekat pantai.

Tetap berusaha tenang dan berpikir jernih. Ini yang saya coba lakukan. Sambil mencari informasi sebanyak mungkin, supaya tidak salah informasi. Awal-awal sempat sedikit kecewa juga dengan situsnya BMKG yang seolah bikin seseuatu yang terkesan tidak serius, katanya gak berpotensi tsunami tapi yang di lapangan terjadi cikup bertolak belakang.

Belakangan baru saya tahu kenapa BMKG terkesan lambat dan sekaligus terkesan inkonsisten, cukup wajar hal ini terjadi sebab ternyata alat yang digunakan oleh bmkg tidak secanggih alat dan semodern yang dimiliki negara Jepang. Alat mereka lebih akurat dan cepat. Sehingga bisa lebih dini juga memberikan informasi terkait bencana.

Terkait dengan musibah yang sudah terjadi ini, mari kita jadikan pelajaran dan proses untuk intropeksi diri terutama tentang hubungan kita dengan sang maha pencipta. Musibah ini teguran, peringatan bagi kita yang mungkin sudah lalai atau melupakan dirinya. Mari tingkatkan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah swt. jangan buat Dia marah sehingga mengirimkan azab yang lainnya.

Cukuplah yang demikian ini sebagai bentuk peringatan bagi kita sebagai manusia yang berpikir. Allahu'alam...

Banyak banget yang menulis fakta-fakta unik mengenai dirinya sendiri. Di facebook, blog dan medosos lainnya bisa kita temukan itu. Tadinya, saya tidak tertarik untuk mengikuti ide di atas, tetapi karena beberapa pertimbangan akhirnya pikiran itu berubah."Tidak ada salahnya untuk dicoba...".

Kira-kira dari 17 fakta ini, para pembaca bisa mengenal karakter dan sifat yang ada dalam diri saya. Mungkin kepribadian saya juga bisa ditebak, heeheee. Salah satu alasan kenapa saya menuliskan fakta-fakta ini di blog pribadi, tak lain supaya yang belum kenal bisa lebih mengenal lagi.

1. Terlahir ke dunia ini dengan memiliki saudara kembar yang identik (katanya sih). Meskipun nama yang disematkan ke kami tidak seperti anak kembar yang lainnya. Amir Hamzah dan Tajul Arifin, inilah nama kami. Karena punya embel-embel kembar itulah, kenapa akhirnya saya senang menggunakan kata "twin(s)boy" (sengaja huruf 'S' diletakan di tengah) sebagai pembeda dengan yang lainnya (meski salah secara penulisan).

2. Dari kecil sudah terbiasa menggembala kambing. Bahkan hingga lulus sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) masih menggembala kambing. Sebab kalau tidak menjalankan tugas yang satu ini, bisa kena marah dan tidak mendapat jatah makan sore.Itu hukuman yang harus diterima, bila berani membantah tugas dari orang tua.

3. Sudah terbiasa mandiri dari kecil. Misal, pakaian yang kami kenakan, sudah jadi tanggung jawab sendiri-sendiri. Urusan mencuci baju orang tua sudah tidak mengurusi. Waktu sekolah SD, khusus seragam masih dicuci orang tua. Sudah masuk Madrasah Tsanawiyah, semuanya kami lakukan sendiri, termasuk menyetrika seragam sekolah.

4. Semenjak SD hingga Madrasah Aliyah (MA) tidak suka jajan. Karena tidak pernah punya uang untuk jajan. Kalau pun punya, tidak berani untuk jajan. Seolah ada rasa malu aja,  karena biasanya juga enggak jajan. Alasan yang paling mendasarnya, yaitu takut ditanya “Tumben nih jajan… biasanya juga enggak..”

5. Ketika Sekolah Dasar, dibuatkan kursi khusus. Jangan dibayangkan zaman kami sekolah fasilitasnya seperti sekarang ya.Dulu jumlah kursi dan meja minim. Bentu kursinya kayak model sekarang, di sebelah kanan kursi ada tempat untuk menulis. Jadi, selama duduk dari kelas 2 hingga lulus, duduknya di kursi itu. Tiap tahun kursinya juga ikut naik kelas.

6. Pernah juara lomba mata pelajaran Bahasa Indonesia, ketika ikut lomba di kecamatan. Waktu itu antara kelas 5 atau kelas 6 SD pokoknya, lupa-lupa ingat gitu. Hadiahnya cuma piagam kala itu, dan tahunya dari wali kelas pas diumumin di kelas. Serifikat/piagamnya itu tinggal kenangan, sudah raib di peristiwa tahun 2000.

7. Selalu dapat rangking dari kelas satu hingga kelas 6 SD. Bahkan dapat nilai terbesar ketika ujian pelulusan Sekolah Dasar. Bukan maksud untuk dibanggain atau niat pamar juga sih, justru karena dianggap biasa saja, makanya ditulis. Malah yang luar biasa gak dicantumin heehee..

8. Ketika sekolah di Madrasah Tsanawiyah, prestasi melorot menjadi ke-3. Pernah, pas awal masuk caturwulan pertama, mendapat ucapan SELAMAT dari guru matematika langsung, karena di awal tes nilai matematika paling besar di antara teman sekelas, dan itu mmcukup mengesankan sekali.

9. Pernah mengalami kejadian yang luar biasa, dan tak akan pernah dilupakan.Tepatnya bulan Desember tahun 2000. Rumah terbakar karena terjadi arus pendek di kabel atas. Tak butuh lama, dan hanya beberapa menit, bangunan rumah sudah rata dengan tanah dan menjadi arang. Tidak ada benda apa pun yang sempat dibawa, hanya pakaian yang dikenakan waktu itu. Peristiwa ini terjadi kira-kira pukul 01.00 dini hari.

10. Tinggal di "rumah sementara" yang hanya berdindingkan batu-bata, sebagai tempat sementara. Bentuknya persegi, atapnya ada genting dan hateup (dari daun kirai) dan cuma satu ruangan alias tidak ada kamar. Tidur dengan tikar seadanya dan mengandalkan pakaian sumbangan dari saudara-saudara. Memilih tinggal sementara di sana, karena tidak mau merepotkan saudara yang lain.

11. Meski mengalami masa-masa yang sulit, tetapi akhirnya semua itu dilewati dan bisa bangkit. Butuh motivasi yang besar untuk bisa bangkit; melupakan semua yang telah terjadi, dan belajar mengkhlaskan semuanya. Lalu merubahnya dengan rasa syukur yang tiada tara, sebab masih diberikan kesempatan hidup.

12. Menjalani masa sekolah Madrasah Aliyah (MA) yang lebih lama, yaitu 4 tahun. 1 tahun digunakan untuk pengenalan program bahasa. Wajar telat dijalan, dan teman-teman yang lain sudah pada lulus juga. jadi serba tertinggal.

13. Nganggur selama satu tahun selepas lulus dari pesantren. Awalnya mau kuliah dengan mengandalkan info beasiswa yang ada. Tetapi setelah dicari-cari akhirnya tidak lolos dan ada juga yang telat daftarnya.

14. Penyuka celana bahan. Hampir semua celana yang dipunyai bentuk dan modelnya sama, warnanya juga yang gelap. Tetapi, baru-baru ini suka dengan celana levis. Meskipun alasan utama gak suka levis karena malas mencucinya.

15. Punya kemeja, celana dan sandal yang (sampai saat ini) masih tetep awet meski sudah dipakai dari tahun 2008. Selama seminggu sekali masih sering dikenakan. Meski warnanya mulai sedikit berubah dan agak kusam.

16. Punya cita-cita pengen punya sanggar, komunitas belajar, syukur-syukur punya pesantren khusus orang-orang hebat. Punya tempat kursus juga atau semacam tempat untuk memberikan pelatihan berupa soft skill bagi masyarakat, sehingga mereka bisa mandiri dan mengembangkan kemampuan soft skillnya sendiri-sendiri (mandiri).

17. Punya komunitas diskusi dan organisasi yang memberikan edukasi bagi semua level usia. Tujuannya supaya bisa membumbing, membangun, mencerdaskan, dan mengembangkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kemajuan zaman.

Sebetulnya masih banyak lagi fakta-fakta lain yang belum saya tulis. Bahkan bisa jadi jumlahnya lebih dari angka 17 juga, tetapi setidaknya yang sedikit ini semoga sudah bisa mewakili. []

Sewaktu mengkhatamkan Juz ke 19 dari al-Quran, tepatnya di surat An-Naml ayat ke 39-40 ada kisah yang dulu sempat jadi bahan kontemplasi dan kini kisah itu kembali coba kupahami dengan seksama. Yaitu kisahnya Nabi Sulaiman yang hendak memindahkan kerajaannya.

Dalan dialog tersebut, pertama ada 'Ifrit dari golongan jin yang sanggup memindahkan kerjaan Nabi Sulaiman, dengan durasi waktu "Qabla antaquma min maqamik.." yaitu sebelum beliau bangun dari duduknya.

Lalu yang lebih mencengangkan lagi, ternyata ada yang mampu lebih cepat dari Si 'Ifrit tadi. Tak tanggung-tanggung, durasinya adalah "Qabla anyartadda ilaika tharfuk.." Sebelum mata Nabi Sulaiman mengedip. Dengan kata lain, ia mampu melakukannya sekejap mata.

Siapakah orang kedua ini? Kok ia bisa dan mampu mengalahkan kemampuan yang dimiliki dari golongan raja jin. Dalam ayat tersebut dituliskan "Alladzii 'Indahu 'ilmun minal kitaab..." Yaitu orang yang memiliki ilmu dari kitab (ahli kitab). Berarti sejatinya ia adalah manusia biasa.

Kesimpulannya, atau pelajaran yang dapat diambik di antaranya: Pertama, manusia memang bisa samapi setaraf dengan malaikat ketika beribadah dengan sebenar-benarnya. Tetapi jika mengerjakan apa yang diperintahkan setan, manusia juga bisa setara dengan setan.

Kedua, Tidak ada kekuatan yang lebih hebat dan dahsyat jika dikembalikan kepada Allah swt. Kemampuan yang menurut akal manusia mustahil, tetapi bagi Allah semuanya mungkin. Berarti jangan bersandar atau meminta pertolongan ke bangsa jin, sebab mereka sejatinya juga lemah. Manusia tetap lebih unggul, bila terus bertaqwa kepada Allah swt.

Ketiga, perlu diperhatikan kenjutan ayat tersebut. Kemampuan tersebut berasal dari Allah. Apakah dengan kemampuan tersebut menjadikan tambah bersyukur atau malah ingkar. Perhatikan kalimat ini "Hadza min fadli rabbi.. liyabluani aasykuru amakfur..." Ketika seseorang telah bersyukur, maka kenikmatan itu akan kembali kepadanya.

Keempat, ternyata jawaban sederhana yang bisa kita jadikan kesimpulan kenapa golongan jin itu kalah, sebab ia mengaku bahwa dirinya adalah makhluk terkuat dan dapat diandalkan. Artinya, ada sebuah kesombongan dalam dirinya. Jika dibandingkan dengan seorang ahli kitab tadi, jelas ia menganggap bahwa semuanya atas izin sang mahakuasa, Allah subhanahu wata'ala.

Kelima, jadilah manusia yang selalu menyandarkan diri kepada Allah swt. meskipun urusan itu amat kecil, (semisal karena tali sendal yang putus, sekalipun) karena Allah adalah tempat untuk mengadu. Allahu'alam []

Sebelum menjadi keluarga SAKINAH yang dihiasi dengan MAWADDAH dan RAHMAH, antara lain ada beberapa tahapan yang mesti dilalui lebih dulu. Di antaranya:

1. Tahap Bulan Madu
Masa dimana sedang menikmati manisnya sebuah perkawinan. Sangat romantis, penuh cinta dan senda gurau. Pada tahap ini biasanya digambarkan bersedia hidup dalam suka maupun duka.

2. Tahap Gejolak
Mulai timbul gejolak, kejengkelan, sifat aslinya sudah kelihatan, sudah mulai menyadari bahwa perkawinan bukan sekedar romantisme, tapi ada kenyataan2 baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Masing-masing akan menyesal kenapa harus memilih ia sebagai pasangan hidupnya. Terancam cerai dan gagal. Namun kesabaran dan tolransi akan membawa mereka ketahap selanjutnya.

3. Tahap Perundingan dan Negosiasi
Jika keduanya saling membutuhkan, maka tahapan ini akan dilalui. Keduanya akan mulai mengakui kekurangan dan kelebihan masing-masing. Lanjut ke tahap selanjutnya.

4. Tahap Penyesuaian
Keduanya sudah mulai menunjukan sifat aslinya dan saling perhatian serta menunjukan penghargaannya. Merasa nikmat menyatu bersama kekasih, berkorban dan mengalah demi cinta.

5. Tahap Peningkatan Kualitas Kasih Sayang
Keduanya sudah menyadari secara sepenuhnya (bahwa hubungan suami istri memang sangat berbeda dengan segala bentuk hubungan sosial lainnya). Pada tahap ini masing2 menjadi teman terbaik dalam bercengkrama, berdiskusi, serta berbagi pengalaman. Keduanya berusaha melakukan yang terbaik demi menyenangkan pasangannya.

6. Tahap Kemantapan
Masing-masing merasakan dan menghayati cinta kasih sebagai realitas yang menetap, sehingga sehebat apapun guncangan mendera, mereka tidak akan bisa menggoyahkan rumah tangganya. Memang riak-riak kecil akan tetap ada, namun riak-riak yang tidak akan menghanyutkan. Pada tahap inilah mereka merasakan cinta sejati.

Tahapan ini merupakan gambaran umum yang biasa dijalani hubungan suami istri. Tetapi ini sifatnya relatif, urutannya tidak permanen. Bukan tidak mungkin juga ada tahapan-tahapan yang lainnya.

(Sumber : Tafsir AlQuran Tematik, badan litbang dan diklat kementrian agama RI, Kamil pustaka. [Cet. IV] tahun 2017)
___

Pagi ini cuaca amat cerah, secerah hatiku yang sedang berbunga-bunga. Meskipun dari info BMKG yang kudapat, nanti siang kondisi Jakarta akan turun hujan deras. Sedikitpun tak merubah cuaca hatiku.

Hari ini kegiatanku tetap sama, pergi ke kantor dekat Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta Barat. Dari Grogol naik angkot, turun di jalan Kiai Tapa (pas flyover) sebelum gedung Roxy Square. Tinggal nyebrang jalan, sudah sampe di pintu gerbang tempatku mengabdi.

Tak terasa sudah hampir 5 tahun mondar-mandir di Jalan Tawakal dan Masjid Al-Ikhlas. Adapun dengan yang bangunan yang satu ini (kampus B), seolah sudah jadi rumah keduaku, tentunya setelah rumah di kampung tempatku dilahirkan.

Berkenaan dengan waktu 5 tahun pengabdianku, aku teringat akan kisah para penegak agama (menolak menyembah dewa-dewi) yang berjuang gigih. Mereka ikhtiar dengan segala macam cara (usaha secara maksimal), tetapi tak berhasil. Ujungnya, mereka kalah dan dijadikan buronan. Mau tak mau mereka bersembunyi ke suatu tempat. Mereka adalah Ashab Al-Kahfi.

Masyarakatnya bernama Ephesus - Romawi, Agamanya Nasrani. Nama gubernurnya Daqyanus yang memerintahkan mereka untuk menyembah dewa-dewi (politeisme).Sebagian yang menolak ajaran itu adalah mereka yang kisahnya diabadikan dalam Qs. Al-Kahfi. Mereka lari ke gua setelah usaha maksimal dan bukan lari karena takut, melainkan karena dapat ilham.

Setetelah tempat persembunyian mereka diketahui, Daqyanus memerintahkan untuk menangkap mereka. Tapi ketika di depan pintu masuk gua, mereka dihinggapi rasa takut dan tidak ada yg berani masuk. Maka akhirnya Daqyanus mempunyai ide untuk menutup goa tersebut. Ditutuplah pintu goa agar mereka yang berada di dalam kelak mati dengan sendirinya, karena tidak bisa keluar.Ternyata harapan itu tidak tercapai. Allah memberikan mukjizat dan kuasanya.

Selama 309 tahun mereka tertidur di dalam gua, sebagaimana ditulis dalan alquran. Mereka bangun serasa baru kemarin. Lalu ke pergi ke pasar untuk membeli makan dan ternyata semua sudah berubah. Baru sebentar, tapi keadaan sudah cukup derastis berubah, tak ada lagi penduduk yang ia kenal. Ia merasa aneh, dan yang melihat dirinya pun seolah aneh dengan gaya pakaiannya.

Karena di pasar membayar dengan uang zaman dahulu (semasa mereka hidup di zaman Daqyanus) tentu sudah tidak berlaku lagi, sehingga dianggap penipu oleh sang pedagang dan akhirnya ditangkap. Setelah diintrogasi terbongkarlah kisah mereka. Mengetahui berita itu, para penduduk dan raja Theodosius bergegas ingin tahu. Ketika sampai ke tempat gua persembunyian, mereka hanya menemukan jasad orang yang telah diintrogasi beserta temannya.

Ternyata Allah mencabut nyawa mereka setelah utusan yang pergi ke pasar dan diintogasi tadi kembali membawa makanan, setelah mereka makan dan kembali tidur untuk selama-lamanya.  Mereka pun meninggal dengan tenang. Setelah memberikan tanda/petunjuk yang besar bagi kaum yang beriman. Adapun jumlah mereka diperdebatkan, bagi umat islam tentu hal itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. Adanya bukti mereka ditidurkan selam 309 tahub sudah cukup menjadi bukti kebesaranNya.

Kepemimpinan pemerinrah telah beralih ke Theodosius dan masyarakatnya pun telah menjalankan ajaran agama dengan benar.
___
Sungguh indah dan bahagia, bila hidup ini disertai dengan keharmonisan, keselarasan, dan kebersamaan. Setidaknya dari tiga kata kunci atau tiga poin tadi, bermuara pada satu kata, yaitu kesalingan. Mengapa demikian?

Iya, harmonis itu terjadi karena saling memahami. Begitu juga dengan keselarasan bisa terbentuk akibat saling memiliki visi yang sama. Terakhir, kebersamaan muncul dari rasa saling melengkapi sehingga tidak ingin berpisah antar keduanya.

Saling itu bermakna bergantian. Jika yang satu khilaf, maka satunya mengingatkan. Begitu juga sebaliknya, gantian. Bisa dibayangkan kalau sudah tidak peduli, acuh dan masakbodoh. Maka tidak akan ada apapun, selain percekcokan dan perseteruan.

Begitulah hubungan itu, dibangun melalui kata saling. Bukankah ketika kita memiliki pekerjaan lalu dibantu, maka pekerjaan itu akan terasa ringan. Sebaliknya, ketika kita membantu orang yang telah meringankan pekerjaan kemarin. Saling menolong, lihat, sungguh indah bukan?

Istri tugasnya membantu tugas suami, begitu juga suami membantu tugas istri. Jika dalam rumah tangga terjadi hal yang demikian, pasti rumah tangganya harmonis. Tetapi jika sudah tidak ada sikap saling, kita bisa menebak dan merasakan situasi tersebut.

Poinnya, semoga kelak saya bisa menjadi orang yang mempraktikkan sikap saling ini. Lalu mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Harapan yang selanjutnya yaitu menjadi kepala keluarga dan sekaligus patner yang baik bagi rekan satu tim nanti, terutama dalam mengarungi masa depan.
____

Facebook sedang ramai diperbincangkan, pasalnya data pemiliknya telah bocor dan dimanfaatkan oleh sebuah perusahaan untuk keuntungan tertentu. Bahkan katanya untuk kepentingan kemenangan pemilihan Donald Trump kala dirinya mencalonkan diri sebagai presiden Amerika dengan Hillary Clinton.

Lebih luas lagi, data yang bocor bisa dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mendeteksi kelemahan sebuah Negara. Dengan adanya data tersebut, yang bersangkutan dapat dengan mudah wara-wiri ke Negara yang diinginkannya tanpa diketahui oleh siapapun. Atau dampak yang paling mengancam ialah, pundi-pundi kekayaan atau keuangan pemiliknya bisa saja lenyap secara tiba-tiba di tabungan atau rekiangingnya. Sungguh mengkhawatirkan bukan?

Inilah sebuah bukti nyata bahwa data pribadi bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu, cukup membuat shok dan panic sebagian orang. Oleh karena itu, maka data pribadi perlu dijaga. Apalagi data diri di media sosial, harus waspada tingkat tinggi, tidak asal menyimpan data pribadi di sana. Sebab media social merupakan pintu masuk segalanya.

Email Gratis

Ini pemikiran saya pribadi saja. Email merupakan alat yang serba bisa. Kalau bahasa saya, email adalah kunci inti yang serba bisa. Itulah sebabnya, jika ingin membuat akun apapun, syaratnya adalah email. Email dapat menyambungkan kita dengan akun medsos lainnya. Bahkan email juga kaya akan fungsi. Selain untuk menyimpan data, email juga banyak pilihan di dalamnya untuk kepentingan lain dan lebih banyak fitur yang kita butuhkan. Itulah email, fungsi dan kelebihanya.

Teorinya begini, saat ini kita secara tidak langsung sudah terbantu secara Cuma-Cuma alias gratis dengan bantuan email. Kita juga seolah sudah reflex menggunakan email tersebut. Lalu apa jadinya jika suatu saat email tersebut disalahgunakan? Bukankah kita sudah menjadi pengguna tetap dan data pribadi sudah tersimpan secara rapih di email? Hampir semua data-data penting ada di sana.

Atau, kalau kita berpikir sebagai jiwa ekonomi. Email karena sudah mendunia dan digunakan oleh semua manusia, bukan tidak mungkin suatu saat akhirnya dikomersilkan. Apa yang akan kita lakukan jika sudah demikian? Pasti kita akan rela membayar dengan harga berapapun asal, data yang ada di email tersebut kembali. Apakah ini tidak akan terjadi? Bisa saja, sebab kita tidak tahu siapa yang saat ini menguasai teknologi di muka bumi ini. Termasuk yang menguasai email yang kita gunakan ini.

Masih ingat dengan teori Paflov? ia menemukan sebuah teori pengulangan, kala itu anjing yang diberikan makan dengan membunyikan peluit. Setiap jam makan, peluit dibunyikan. Terus menerus dilakukan, hingga beberapa waktu. Lalu ketika bukan jam makan dan peluit dibunyikan, apa yang terjadi? Tepat, anjing tersebut datang dengan sendirinya.

Kita juga sebagai pengguna email, tentu akan dibegitukan (seperti anjing yang tadi, hanya saja saat ini tidak sadar), ketika email akan dihapus tiba-tiba dan kita tidak bisa mengaksesnya, apa yang akan kita lakukan? Lalu dari pihak pemiliknya mengatakan "Anda harus bayar dulu 10 juta, jika ingin datanya bisa diambil.." yang terjadi, kita pasti kita akan nurut ke pemilik akun tersebut. Mengerikan bukan?

Sekali lagi, ini hanyalah pikiran saya yang jauh kedepan. Entah ini akan terjadi atau tidak, wallahu'alam! Setidaknya kegelisahan ini patut kita renungkan bersama. Alahkan baiknya jika kita sedia paying sebelum hujan. Dari sekian ratus ribu juta penduduk Indonesia, tidak ada yang mampu membuatnya? Tentu penduduk negri ini jelas memiliki mereka yang otaknya di atas rata-rata. So bangkitlah! Stop jadi konsumen!

Hal di atas merupakan sesuatu yang belum terjadi, adapun yang jelas dan nyata sudah terjdi dan tak sadar kita alami adalah system ekonomi yang ada di dunia. Tak hanya di situ, adanya bank dan regulasi uang yang hanya dikuasai oleh matang uang dari satu Negara saja, alhasil maka mereka seolah merasa berkuasa dan terus mencari cara agar tetap berkuasa. Jelas, kini sudah menjadi system dan tidak mungkin untuk dilawan atau dihilangkan bahkan dihancurkan sekalipun.

Contoh lain, produk-produk yang saat ini kita nikmat silakan dicek, siapa pemiliknya, asal pabrik dan brand atau merek dagang yang ada di dalamnya. Pasti mengarah ke salah satu perusahaan besar yang kiblatnya ke salah satu Negara maju. Sekali lagi, kita hanyalah pemakai dan tidak bisa mampu untuk menyainginya. Bisa saja menyangingi, tetapi butuh proses dan waktu yang tidak sebentar.

Permisalan yang lain, ada penemuan dari seorang mahasiswa yang dapat menciptakan mobil listrik. Mobil ini ramah lingkungan dan beban biaya yang dikeluarkan bisa lebih hemat dari harga mobil yang ada saat ini. Satu sisi ini merupakan sebuah berita gembira, tetapi bagi korposari pembuatan mobil, jelas ini merupakan saingan baru yang harus segera disingkirkan. Jika tidak, mereka akan rugi dan beralih ke mobil baru.

Disini kita akan melihat bagai mana para perusahan mobil yang telah ada membungkam penemuan ini dan sebisa mungkin dihilangkan. Alasannya jelas banyak, bisa masih dalam konsep, bahan yang dibutuhkan sulit didapat atau lain sebagainya. Masalah intinya adalah, mereka tidak mau rugi, mobil yang mereka sudah produksi bisa menjadi barang rongsokan dan berakhir perusahaan bangkrut. Sudah tidak asing laigi jika ada produk apapun yang baru dan dianggap bisa menyaingi perusahaan besar yang pernah ada, nasibnya akan tragis.

Data di Internet

Akhir-akhir ini pikiran ini terus terganggu dengan beberapa hal, terutama terkait data yang ada di internet. Alih-alih gratis alias tidak berbayar, kita dimanjakan dengan semua fasilitas itu. Khawatirnya, jika data yang sedemikian banyak itu mereka pegang bagaimana? Kita bisa apa?

Misalnya saja tiba-tiba kita tidak bisa masuk ke google drive, sedangkan di sana ada data-data yang sangat penting. Lalu dari pihak google drive memberi tahu bahwa untuk bisa masuk kea kun tersebut harus membayar sekian dolar. Misalkan cukup satu dolar saja. Dengan jumlah pengguna internet yang milyaran orang ini, bisa dikalikan berapa banyak uang yang mereka dapatkan dari cara ini.

Belum lagi data-data yang ada didalamnya dipanen, dipasang sebuah aplikasi penyusup yang dapat mengetahui semua hal yang ada dalam diri kita. Kebiasaan, hobi, alamat, dan hal-hal yang pribadi sekalipun mereka catat. Kita bisa apa?

Dari data sederhana saja kita bisa mengolah dan menentukan si A begini dan si B begitu. Apalagi saat ini sudah ditemukan kecerdasan buatan, bukan tidak mungkin lagi semua hal yang tentang kita sudah mereka rekam dan catat dengan baik. System internet menggunakan algoritma, bahasa mudahnya mereka menggunakan pendekatan pola. Semakin sering kita menggunakannya, maka pola yang sama akan terus diulang. Ujungnya hal itu digunakan untuk menebak kepribadian kita.

Dari surat kabar yang saya baca, beberapa like yang kita berikan di dunia maya itu bisa menentukan kepribadian, bahkan tipe seksual yang ada dalam diri kita. Algoritma yang dipasang sudah sangat canggih dan bisa mengancam keprivasian kita. Jika sudah tidak ada privasi, buat apalagi kita hidup, karena sejatinya kita ibarat sedang bertelanjang.

Inilah bahaya yang saat ini harus kita sadari dan tidak mudah untuk memberikan data-data yang menyangkut diri kita di dunia maya. Intinya, yuk kita kembali ke kehidupan yang nyata, dan lebih banyak bertegur sapa secara tatap muka langsung. Hidup tanpa dunia maya itu lebih asyik dan berkesan bukan? Kita pernah mengalami dan merasakannya. Sebelum 'terjajah' oleh dunia maya seperti sekarang ini.

"Cinta adalah kebebasan. Seperti burung-burung yang terbang melintasi langit luas, meninggalkan musim-musim kecemasan. Cinta bukan tentang "bebas untuk" tetapi "bebas dari". Bebas dari rasa bersalah karena kegagalanmu membanggakan seseorang yang semestinya memang kau bahagiakan".(Fahd Djibran : 69-70)

Kutipan di atas sengaja kucantumkan di awal tulisan ini, sebagai daya tarik bagi para pembaca (syukur kalau masih ada yang mau membaca sih). Buku yang dibaca di toko buku favoritku, sebut saja Toga Mas di jalan Gejayan tepat perempatan lampu merah Condongcatur, Sleman - Yogyakarta.

Setiap akhir pekan, antara hari Sabtu atau Ahad, pasti kukunjungi tempat ini. Bahkan dua hari berturut-turut kadang dilakukan, jika buku yang dibaca belum kelar terselesaikan. Biasanya sekali duduk ada buku yang selesai dibaca. Ini salah satu target atau standar diri yang kubuat sendiri. Okelah kalau beli aku belum bisa, tapi untuk baca aku mampu, maka kemampuan ini yang kumanfaatkan sebaik mungkin.

Kenapa di Toga Mas, selain jaraknya agak dekat dengan asrama, tempat ini satu arah dengan jalan pulang. Selama sepekan minimal satu buku kulahap, jadi kadang ke TM kadang ke Gramedia. Sabtu ke TM hari Ahadnya duduk manis di Gramedia. Kadang merasa risih juga sih, takut pemilik tokonya marah. Tapi semua perasaan itu aku tepis, toh apa salahnya numpang membaca, buku yang dibuka juga tentu sudah terbuka bukan masih utuh ada plastiknya. Jadinya tidak melanggar peraturan.

Eh kok kemana-mana ya, bahasan kita kan tentang bukunya Fahd Djibran. Buku ini jelas ringan banget bahasanya, jangan takut kesulitan mencerna. Apalagi kalau sudah tahu siapa aslinya sang penulis ini, pasti super kagum deh. Aku juga tak sengaja mengenalnya dari nama bekennya sekarang, terus ditambah tips ilmu nulisnya yang kadang kutiru.

Intinya Aku baca buku ini, karena tahu siapa si penulisnya yang kini tenar dengan nama Fahd Pahdepie. Bukan karena mentang-mentang dulu sama-sama di tempat perantauan ya, terlalu luas dan keren tempat ini dideskripsikan.

Buku ini juga sangat unik, setiap akhir catatan dijadikan sebagai judul baru. Nah, bagi yang tidak mengamati dengan baik pasti tidak akan ngeh deh, Aku juga baru sadar setelah beberapa judul dihatamkan. Ini jelas bagiku jadi teknik baru untuk mengasah kemampuan. Kalau tidak salah, ini buku perdananya Fahd, jadi ya wajar banget jika buku ini jadi pegangan untuk penulis pemula (dari segi tekniknya ya).

Terus kerennya juga, ada beberapa pengetahuan baru yang kuperoleh. Misalnya tentang teori cinta (seperti tercantum di atas) dan terkait mimpi. Di balik mimpi yang terkesan sepele, ternyata ada istilah REM (Rapid Eye Movement). Lalu ada Lucid Dream yaitu posisi dimana kita menyadari bahwa diri kita sedang mimpi.

Pokoknya bukunya cukup recomended banget buat dibaca. Selain itu Fahd juga berbagi "tips" bagaimana menjalani hidup ini agar dapat dilalui dengan penuh kebahagiaan bersam orang-orang yang kita cintai.

----
Analisisku! Dari buku ini, aku mengerti...
Tema tiap judul, diambil dari kata terakhir judul sebelumnya. Jadi, si penulis menjabarkan atau menjadikan qlue untuk dikembangkan.
----

Tadi malam (05/01/18) Ustadz Tajul Muluk dalam pengajian rutinnya di Ponpes UII, Sleman-Jogja. Beliau  menyampaikan begini: "Orang yang kelamaan jomblo itu cenderung jadi pemalas. Alasanya yaitu dikarenakan tidak punya target dan tantangan. Hidupnya jadi mengalir saja. Begitu juga dengan santri yang kelamaan di pondok, jadi orientasinya pemalas. Malas untuk ngapa-ngapain..."

Dari pesan yang disampaikan oleh sang ustadz Asal Madura ini mengisyaratkan bahwa tantangan dan ujian itu perlu. Apalagi bagi kepada yang masih jomblo (belum menikah). Tujuannya agar menjadi pelecut sekaligus pemicu untuk tidak malas. Supaya tidak malas, maka ubahlah haluan dan ciptakan tantangan.

Kalau Ust. Roy Purwanto ketika mengisi di malam Jumat (29/12/17). Beliau menyampaikan, "Tidak apa-apa awalnya itu karena dorongan materi atau wanita sekalipun sebagai pemicu. Tetapi, ketika di akhir, ubahlah niat tersebut agar bernilai ibadah..."

Sebagaimana dikisahkan ada kiai yang sering menulis buku. Orientasinya agar dapurnya terus mengepul. Ketika tulisan itu masuk penerbit dan akan dicetak, maka niatnya diubah oleh sang kiai tersebut dengan lillahitaala.

Hal serupa juga dibahas penulis terkenal Asma Nadia dalam kolom publik-Republika (06/01/18). Di sana dituliskan terkait keadilan Allah SWT. atas keberanekaragaman ciptaannya, terutama dalam iklim dan kekuatan. Kenapa tidak semua diberikan yang sama, padahal masih tinggal dunia ini? Lalu, apa yang didapat dari keberagaman (iklim dan kekuatan) tersebut?

Justru disitulah keadilan sangkuasa. Karena perbedaan itulah yang lemah belajar kuat, dan menimbulkan kelebihan lain yang dari dalam dirinya. Sekaligus "tamparan" keras bagi kita yang selama ini masih berpikir pesimis dan kerdil dalam "melihat" sebuah kehidupan.

Dipertegas pula oleh Hamdan ketika mengisi kuliah tujuh menit. Ibadah itu tidak hanya shalat, tetapi juga di luar shalat. Satu sisi shalatnya bagus dan rajin, tetapi mempunyai masalah dengan hubungan sosialnya.

Misal, tidak suka bersosialisasi, mudah marah, dengan artian cepat tersinggung dan parahnya merasa paling dekat dengan Allah swt. Bukankah ini ibarat kaki pincang? Yang satu pake sepatu sedangkan satunya nyeker.

Padahal, keduanya harus seimbang, antara kesalihan personal dan kesalihan sosial mestinya berjalan secara sinergi.

HV (hape harus diputar, biar tahu maksud dari singkatan ini)
___

Gerakan mahasiswa yang dulu terkenal ada powernya, kini sudah tak terdengar lagi gaungnya. Dulu terksan tegas dan berani bak harimau dengan taring dan cakar tajamnya. Kini, mirip harimau ompong, yang kehilangan kekuatannya. Dolar sudah tembus sampai 15 ribu rupiah lebih, kok masih adem ayem aja ya? Lalu, masalah pemerintah yang anti-kritik, kok gak ada gerakan juga? Belum lagi masalah hutang negara yang meningkat kawan, please.. mau bayar pake apa dan siapa yang bakal melunasi?

Apa memang mentalnya mahasiswa saat ini sudah beralih ke youtuber semua. Yang hari-harinya nungguin tambah subcriber (sibuk bikin konten doang) dan takut kehilangan subcribernya jika ini dan itu? Atau sibuk main instagram (cari spot foto, udah gitu diupload ke instagram dan ngarepin like dari followernya) sehingga masa bodoh dengan kekacauan zaman ini yang semakin parah.

Pokoknya parah banget, bagaikan borok menahun. Masih membekas dalam ingatan, saat mahasiswa Universitas Indonesia di forum itu memberi kartu kuning ke presiden. Semenjak itulah seolah nyali mahasiswa semakin ciut, melempem, tak bertaji dan hilang ditelan hingar bingar kekacauan jagat raya, bak sound system tiba-tiba mati listrik. Mungkin ada hal lain yang tidak pernah kita ketahui di balik kejadian itu.

Jika teralihkan oleh dunia maya (youtube, Instagram, dan sejenisnya), ayo BANGUN!!!. Dunia kita, dunia nyata. Tunjukan aksi hebat kalian di depan para penguasa yang dzalim dan semena-mena atas kebijakan-kebijakan yang mereka buat tidak berpihak ke rakyat alih-alih kesejahteraan rakyat, kalau dihitung dengan seksama, yang sejahtera justru para pemilik perusahaan besar malah. Ayo bangun! dan lepaskan semua yang membuat kalian malas bergerak.

Baca bukunya Tere Liye "Negeri Para Bedebah" atau bukunya mantan aktivis, dan mantan bupati pula, Hadi Supeno "Korupsi di Daerah, Kesaksian, Pengalaman dan Pengakuan" Di kedua buku itu dengan jelas di gambarkan bagaimana praktek kejahatan bermain. So, kita mau leha-leha menunggu negri ini hancur? Kalau kita bisa mencegahnya, kenapa tidak dilakukan? Atau minimal memperlambat dan menundanya beberapa waktu.

Jika memang ada dana yang sengaja menyumpal aksi kalian, please berpikir jernih! Nominal dan angka-angka itu tidak sebanding dengan penderitaan rakyat yang terzalimi. Penderitaan bisa berlanjut bertahun-tahun sepanjang waktu karena kebijakan yang merugikan rakyat. Pendaptku, aksi mahasiswa kalah oleh aksi 212 kemarin. Beruntung aksinya damai dan tertib, penuh ketenangan karena menjalankan nilai-nilai agama. Mahasiswa seharusnya bisa mengambil ilmunya untuk bangkit bergerak. Jangan berdiam saja.

Atau hanya sibuk lempar bola salju lewat komentar-komentar di dunia maya. Buktikan dengan aksi hebat kalian, buktikan akan kegagagahanmu yang peduli dengan keselamatan negri ini. Nurani kalian kini di mana? Mau seperti pers yang seolah sudah tidak lagi menjunjung nilai-nilai kebenaran dalam menyampaikan sebuah berita, tetapi menjunjung siapa yang bayar? Jika sudah demikian, tamatlah riwayat negri ini.

Saya tidak dapat membayangkan, jika aksi sebanyak itu pesertanya para mahasiswa seluruh Indonesia. Bisa habis seisi Jakarta dengan jumlah mahasiswa sebanyak itu. Kisah tumbangnya rezim orde baru, bisa saja terulang kembali. Ini bayangan saya ketika melihat aksi 212 kemarin di monas. Seandainya mereka mahasiswa semua dan kumpul di Jakarta, tentu dengan penuh kedamaian juga, pasti ada yang lebih panik!

Aksi 212 sudah memberikan teladan, so mahasiswa mau kapan menirunya? Mau? Bisa? Kami tunggu aksimu wahai mahasiswa Indonesia!!!

Beberapa hari sebelumnya dikabari suruh datang ke sebuah acara oleh kawan, tepatnya adik kelasku di pesantren dulu. Kami jarang kontakan lewat pesan kecuali kalau ada hal-hal yang penting. Nah, dari isi pesan yang dikirim itu, sudah bisa ditebak isinya apa. Maka jawaban yang kukirimkan ketika itu to the point "Acara walimahan apa Akad aja..." Dibalas, "Cuma akad aha Mas..."

Karena sudah tahu maksudnya, maka kupinta alamat acaranya dilaksanain dimana. Dikirmlah share location yang kupinta. Langsung dibuka dan dipahami letak dan tempat-tempat apa saja yang bisa dijadikan patokan kalau nanti kesana. Intinya sih, pas sudah di tempat yang dituju tidak salah tempat apalagi kesasar.

Karena dianggap infonya sudah lengkap, maka kusudahi chatt kami di whatsapp tersebut.

Bebeberapa hari kemudian, tepatnya bada subuh, bahwa data yang kubutuhkan masih kurang. Kutanyakan langsung lewat WA "Minta nama lengkap calon mempelai perempuan dan bapaknya..." langsung dikirimlah pesannya, tapi masih centang dua dan berwana hitam. Tandanya sudah masuk tapi belum dibaca. Kira-kira pukul stengah enam pagi ada balasan. Nama yang dikasih cuma calon pengantinnya.

Acaranya hari ahad pagi, sekitar pukul 09.00. Berarti bisa sambil sepedahan kesananya. Olahraga dapat, datang ke undangan acara akad nikah juga dapat. Dua-duanya bisa ditunaikan secara bersama tanpa ada benturan jadwal.

Sambil gowes santai, menikmati pemandangan alam sekitar, mengamati penduduk sekitar, lalulalang kendaraan baik roda dua maupun roda empat dan banyak hal yang didapat dari bersepeda ria. Tiba di lokasi yang dituju masih agak pagi, keliling nyari petunjuk dan menggunakan GPS. Gps yang kumaksud yaitu (Gunakan Penduduk Sekitar), tanya-tanya ke penduduk.

Celakanya, banyak orang yang tidak kenal dengan nama lengkap yang kusodorkan ke penduduk sekitar. Ditambah lagi, di sana tidak ada ciri-ciri mau ada acara nikahan sama sekali. Jadinya ya kayak biasa aja tea. Bayangin ajah men, kalau di kampung kita mah pasti sudah heboh sekampung. Minimal di satu rumah itu jadi pusat keramaian yang lalu lalang ngerjain ini dan itu.

Hingga diakhir kutahu, bahwa yang namanya acara keluarga ya acara yang bener-bener sakral. Gak ada yang tahu blas. Parahnya, orang yang kutanya tadi pagi, ternyata rumahnya hanya beda letak dan masih berhadapan (gila kan???). Suasananya desa tapi kok gak kenal sama tetangga? Aneh banget gengs.

Dua jam lebih telah berlalu. Kuhubungi ulang temanku yang akan nikah. Kebetulan posisinya sedang di jalan, jadi bisa kupastikan semua data yang kubutuhkan, termasuk menanyakan posisi letak rumah atau tempat resepsi. Sesuai dengan instingku, letaknya tepat di sana. Aku tiba saat sambutan dari puihak perempuan. Namanya kalau tidak salah ingat Bpk Suyut, ia mantan kades.

Ada guyonan dari keluarga perempuan sebagai pencair suasana di pagi itu. Maklum agak tegang, karena dua budaya dan sekaligus dua keluarga besar akan menyatu yang diikat dengan tali pernikahan kedua mempelai. Lalu, ada hal yang paling menjadi perhatianku saat sambutan itu terkesan lebih menekan kata "sarjana" ketika mengenalkan kakak mempelai perempuan yang baru nikah kemarin. Belum ada dua minggu, baru sekitar sepuluh harian usia pernikahnya.

Jamuan menu makannya menggunakan jasa catering, pantas saja pihak keluarga tidak disibukkan dengan agenda masak ini dan itu. Tim catering sudah men-cover semuanya dengan baik. Menunya juga lumayan lengkap dan cukup memuaskan tamu yang hadir di acara tersebut.

Yogyakarta, 2 Desember 2018



Budaya yang telah mengakar dari "hulu" hingga ke "hilir". Dari pusat pemerintahan hingga lingkup terkecil. Korupsi RASKIN, KTP, KK, SIM dan Pajak dibahas tuntas oleh sang penulis, tentu kasus suap proyek-proyek besar juga. Bantuan korban bencana dikorupsi, anggaran pendapatan daerah, bahkan proyek-proyek sudah tidak asing dan jadi sasaran empuk mereka.

Dijelaskan pula bagaimana sistem korupsi yang tadinya bermula di pemerintahan pusat lalu berubah ke pemerintah daerah. Akibat dari otonomi daerah yang tidak disertai dengan sistem yang bersih. Akhirnya pemerintah daerah juga korupsi secara masal dana dari pusat. Kalau meminjam kalimatnya Prof. Safii Marif "Desentralisasi tidak dibarengi dengan reformasi birokrasi..."

Kekacauan seperti ini merupakan dampak dari sistem yang tidak dibayangkan sebelumnya. Repotnya, kini bagai benang kusut yang tak mudah menemukan ujung awal dan asal muasalnya. Jika dicari pelaku awalnya tidak mungkin bisa, sebab bisa jadi ini dilakukan secara berjamaah, bukan lagi perorangan. Jika pun ada perorangan tersangkanya sudah meninggal dunia.

Trik dan alasan korupsi rata-rata karena biaya birokrasi dan biaya pencalonan yang tidak murah. Karena harganya yang mahal itulah ketika mereka sudah menjabat bisa langsung mencari ide untuk mengembalikan modal. Atau bisa juga mereka sudah kongkalingkong di awal. Kalau dapat proyek nanti dilempar ke perusahaannya. Intinya, banyak yang berkepentingan, tergantung posisi jabatannya "krusial" atau tidak.

Budaya buruk ini menjadi tugas rumah bagi siapa saja yang masih merasa waras. Bagi yang merasa memiliki hati nurani tentu akan malu semalu-malunya jika telah melakukan korupsi. Tapi anehnya, para pelaku seolah tidak merasa malu akan perbuatannya. Mereka hanya sedang tidak beruntung dan kena apes saja, sehingga tidak menyesali perbuatannya.

Hati ini sungguh tersayat ketika membahah korupsi di lembaga pendidikan, terutama sekolah. Bagaimana guru dan pejabat di atasnya bermain dengan lihainya. LKS, seragam, sumbangan bangunan, daftar ulang, dan biaya lainnya yang terkesan diada-ada. Jika di lingkup ini saja masih belum beres, apalagi di luar. Sungguh miris dan menyedihkan. Mana lagi lembaga yang bisa dipercaya dan dijadikan panutan untuk saat ini, berarti???

Bahaya yang paling mengkhwatirkan dari korupsi ini menular ke anak-cucu. Jika sudah demikian, mau jadi apa negeri yang kini ditinggali? Cara terbaik yang bisa dilakukan adalah katakan tidak pada korupsi, dan dimulai dari diri sendiri serta dimulai dari keluarga sendiri.

Kalau kita bandingkan dengan negara tetangga saja, jelas sekarang kita kalah jauh. Dari segi mental saja, mental kita, mental maling! tidak ada mental pejuang. Bukan berpikir bagaimana membuat terobosan, tapi sibuk bagaimana 'mengakali' supaya dapat lebih.

Jika saudara sedang diajari untuk menjadi koruptor, maka berhentilah. Atau jika anda salah seorang koruptor, maka bertaubatlah. Sekecil apapun hak orang lain yang anda ambil akan berefek ke masa depan. Tinggal waktu yang berbicara, cepat atau lambat!

Saat semua pemain ingin jadi striker, dan menciptakan gol, ia tetap setia di belakang. Maka tak jarang pula ia beradu fisik dengan lawan, bahkan dengan teman satu timnya sendiri demi menyelamatkan gawangnya dari kebobolan.

Dialah si penjaga gawang. Blok pertahanan terakhir dari sebuah tim sepak bola. Apapun akan dilakukan, asal si kulit bundar tidak melewati gari gawang dan tiangnya.

Sadarilah! Bahwa saat ini kita sedang 'bermain bola’. (Penulis menganggap dunia maya saat ini ibarat pertandingan sepak bola). Maka kita harus jadi penjaga gawang yang baik agar tidak mudah kebobolan (baca: tidak terpengaruh dan termakan isu murahan).

Kini, para pemain sedang berlomba memasukan bola ke gawang lawan. Tapi, saat ini (seolah) bola sedang berada di kaki mereka sendiri. Keputusan itu ada pada mereka pula. Apakah akan dioper, digiring terus atau ditendang sendiri ke gawang lawan?

Kondisi bola masih liar berada di tengah lapangan. Banyak kemungkinan yang akan terjadi dan tidak akan kita tahu akhirnya. Pengambilan keputusan ada di mereka yang sedang membawa bola.

Dan, sekali lagi. Tugas penjaga gawang tetap setia di belakang, menjaga bola agar tidak kemasukan. Kadang datangnya sukar diprediksi dari arah mana saja.

Apa jadinya, jika dalam sebuah tim, semua ingin main sebagai penyerang, tetapi tak ada yang mau menjadi penjaga gawang. Atau, penjaga gawangnya ada, tetapi asal-asalan. Sungguh mengkhawatirkan bukan?

Di film Spiderman, tepatnya di adegan terakhir. Ada dialog antara Peter Parker dan Manusia Pasir (Sendman).

Sebelumnya Spiderman sangat dendam dan marah kepada Sendman. Tapi setelah dijelaskan alasannya oleh Sendman (kenapa bisa sampe membunuh paman Ben, setelah merampok bank). Ia pun paham.

Sendman hanya berkata “ Aku tak ingin meminta dirimu untuk memaafkanku, tetapi aku hanya ingin kau paham…”

Maka Peter Parker pun mengatakan “Kau sudah kumaafkan…” Lalu manusia pasir pun menghilang bersama tiupan angin.

Aneh tapi nyata. Inilah yang kini terjadi dan sadar atau tidak, semuanya telah dilakukan oleh sebagian masyarakat. Ya, meniup lilin dalam rangka merayakan ulang tahun.

Tradisi ini merupakan milik orang non islam. Media yang digunakanya adalah api dan menggunakan nyanyian. Nyanyian dengan sholawatan dan juga doa, jelas berbeda ya. Dan, yang dimaksud dengan tasabuh atau meniru, yaitu berkaitan dengan ritual.

Ulang tahun itu merupakan sebuah ritual, seperti biasa kita saksikan; meniup lilin, memohon, dan bernyanyi. Apalagi atribut yang dikenakan mirip orang Yahudi (mengenakan topi kerucut). Sekali lagi, tolong dipahami.

Senada dengan yang dibahas oleh ustadz Abdul Somad, dalam tayangan youtube singkatnya. "Merayakan ulang tahun adalah ritual dan tradisi orang majusi yang menyembah api. Meniup lilin, menyebutkan permohonan, ditambah dengan topi kerucut. Nanti ketika dibangunkan dari kubur bareng orang Majusi."

Man tasabbaha biqaumin fahuwa minhum... Siapa saja yang meniru suatu kaum, maka ia termsuk kaum tersebut. Lalu, memakai dasi itu meniru bukan? Bukan, sebab itu hanya aksesoris pelengkap pakaian. Lagi pula tidak sebagai pelengkap ritual ibadah kaum tertentu. Jadi, jelas beda ya, mana yang ritual dan bukan.

Sebagai umat Islam, cara yang tepat dan dibolehkan tentu sangat banyak. Misal membuat makanan lalu dibagi-bagikan dengan niat sedekah atas rasa syukur yang telah diterima. Atau mengundang anak yatim dan makan bersama di rumah. Tentunya, tanpa ada tiup lilin dan ritual yang dilarang.

Setelah makan selesai atau sebelum makan, dibacakan doa sesuai dengan tatacara Islam. Para hadirin pun mengaminkan doa tersebut. Saya kira banyak cara islami yang bisa diterapkan. Bukan malah meniru apa yang jelas dilakukan oleh agama selain Islam.

Bahkan, dalam syair Abu Nawas yang sering dibaca, di sana disebutkan bahwa sejatinya umur itu berkurang sertiap harinya, dan dosa terus bertambah. Dalam hadits juga kita diperintahkan untuk menggunakan masa hidup sebelum datang kematian. Menggunakan masa muda sebelum datang masa tua. Agama kita menganjurkan untuk mengevaluasi diri, tetapi caranya bukan dengan berpesta...

Jika kita telusuri asal muasal permasalahan ini, bisa jadi berawal dari tayangan televisi yang sering ditonton. Dari kebiasaan inilah akhirnya ada peniruan atau direalisasikan dalam kehidupan secara nyata. Ditambah lagi dengan kontrol dan filter yang kurang dari pihak rumah, sehingga hal-hal yang ada di televisi (terutama yang sering mereka tonton) dijadikan bahan acuan untuk ditiru.

Peniruan perilaku secara mentah-mentah yang terjadi ini, jelas menjadi perhatian bersama. Sehingga ketika menyaksikan televisi hendaknya didampingi dan diarahkan. Bila perlu diberikan edukasi mana yang boleh dan tidak boleh dengan disertai alasan yang masuk akal. Dengan demikian setidaknya bisa mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Allahu'alam.
Hati memang sukar untuk dibohongi. Terlebih mulut bisa mengucapkan a-z tetapi isi hati tidak mampu berkata demikian. Ia konsisten dengan apa yang ada di dalamnya. Tidak bisa disogok apalagi dibayar dengab apapun.

Tepat tanggal 21 November 2018 malam, perasaan ini semakin memuncak. Apalagi ketika waktu sudah menynukan hampir pukul 00.00 wib. Saking gelisah dan bingungnya, kuputuskan untuk keluar seorang diri. Kubawa si Soleh membelah keheningan malam tanpa tujuan.

Kukayuh sejauh mungkin yang kubisa. Selama itu pula, rasa kantuk tak sekalipun datang menghampiri. Mungkin karena diri ini kucoba paksa untuk melupakan sesuatu. Tetapi sepertinya gagal, semakin keras dilakukan semakin kuat sesuatu itu muncul.

Ingin rasanya malam itu kutulis sesuatu. Tapi entah mengapa jemari dan isi kepalaku terasa malas untuk menumpahkan semua yang ada. Ingin menulis empat huruf pun serasa berat. Padahal jika huruf itu setiap hari selalu ditulis. Entah kenapa malam itu terasa beku.

Serasa ada tembok yang menghalangi dan memantulkan gema. Gema itu seolah mengeluarkan kata-kata yang sama dan berulang terus menerus. "Percuma... percuma.. percuma..." Demikian suara gema itu semakin kuat.

Jika difokuskan untuk didengar, maka sura itu semakin keras. Oleh karenanya, kualihkan semua pikiranku ke hal lain. Coba kupaksa untuk melupakan sejenak.

Tak terasa, kumandang adzan subuh telah bersahutan dan kumasih terjaga dalam kondisi yang sangat bugar. Lalu kuputuskan untuk kembali ke asrama.

Sebenarnya, malam itu kutahu harus berbuat apa dan bagaimana. Tetapi perasaan ini seolah mengatakan "Biarlah, sesekali dirinya dikasih pelajaran. Biar sadar..."
Hati memang sukar untuk dibohongi. Terlebih mulut bisa mengucapkan a-z tetapi isi hati tidak mampu berkata demikian. Ia konsisten dengan apa yang ada di dalamnya. Tidak bisa disogok apalagi dibayar dengab apapun.

Tepat tanggal 21 November 2018 malam, perasaan ini semakin memuncak. Apalagi ketika waktu sudah menynukan hampir pukul 00.00 wib. Saking gelisah dan bingungnya, kuputuskan untuk keluar seorang diri. Kubawa si Soleh membelah keheningan malam tanpa tujuan.

Kukayuh sejauh mungkin yang kubisa. Selama itu pula, rasa kantuk tak sekalipun datang menghampiri. Mungkin karena diri ini kucoba paksa untuk melupakan sesuatu. Tetapi sepertinya gagal, semakin keras dilakukan semakin kuat sesuatu itu muncul.

Ingin rasanya malam itu kutulis sesuatu. Tapi entah mengapa jemari dan isi kepalaku terasa malas untuk menumpahkan semua yang ada. Ingin menulis empat huruf pun serasa berat. Padahal jika huruf itu setiap hari selalu ditulis. Entah kenapa malam itu terasa beku.

Serasa ada tembok yang menghalangi dan memantulkan gema. Gema itu seolah mengeluarkan kata-kata yang sama dan berulang terus menerus. “Percuma… percuma.. percuma…” Demikian suara gema itu semakin kuat.

Jika difokuskan untuk didengar, maka sura itu semakin keras. Oleh karenanya, kualihkan semua pikiranku ke hal lain. Coba kupaksa untuk melupakan sejenak.

Tak terasa, kumandang adzan subuh telah bersahutan dan kumasih terjaga dalam kondisi yang sangat bugar. Lalu kuputuskan untuk kembali ke asrama.

Sebenarnya, malam itu kutahu harus berbuat apa dan bagaimana. Tetapi perasaan ini seolah mengatakan “Biarlah, sesekali dirinya dikasih pelajaran. Biar sadar…”
Ningsih, itulah namanya. Jika ditanya, aku lupa kapan perjuampaan awal itu terjadi. Intinya itu, dalam dirinya aku melihat ada sesuatu yang lain. Sesuatu itu bernama masa depan. Kalau di film Dancing Jhodi "Tujh me rabbi ta hei..." Kata Sahru Khan. "Aku melihat tuhan dalam matamu..."
Iya, masa depan. Karena seolah-olah aku menemukan penggalan puzzle yang selama ini kucari. Potongan itu rasanya terlengkapi, kala aku berkenalan dengan dirinya. Sejak itu pula, hatiku merasa 'klik' dengannya.

Pepatah arab mengatakan, "Awalul mathar bil qatri, wa awwalul hubb bi annadhar..." Permulaan hujan itu gerimis, dan permulaan cinta dari awal pandangan. Begitu juga dengan semua ini, tidak mungkin hadir begitu saja tanpa sabab-musababnya. Kalau dalam bahasa gombal itu ada ungkapan seperti ini "Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali.." Silakan lanjutkan sendiri lanjutannya ya!

Aku yakin, yang namanya Ningsih itupun kini sedang merasakan kebingungan. Sama seperti apa yang kini kurasakan pula. Bingung harus bagaimana dan bersikap apa. Ujung-ujungnya ya menggantung. Padahal saling mengakui ada "rasa" itu dalam hati kami masing-masing. Hanya saja enggan mengutarakan lebih dulu.

Mengenalnya hanya butuh hitungan beberapa menit saja. Tapi butuh ribuan tahun untuk dapat melupakan dirinya. Terutama mengikhlaskannya bersama deburan ombak air laut di pantai Carita. Membiarkannya pergi bersama bintang di kegelapan malam. Melepasnya pergi bersama sayap-sayap burung di angkasa. Inilah intinya.

Bahkan kubiarkan angin membawa cintaku pergi. Pergi dari dirimu bersama lenyapnya lembayung di ujung barat. Hingga berganti menjadi kelap-kelip bintang di malam hari. Hati ini menjadi hampa, lenggang tak ada si doi dambaan hati.

Jika, tuhan berkehendak atas irdahnya, maka aku sebagai manusia biasa hanya pasrah menerimanya. Dengan penuh kesadaran menerima proses atas apa yang disekenariokan-Nya, inilah kata guruku ketika menerjemahkan arti kata sabar. "Terus bersabar dalam kesabaran..."

(Ditulis, 10/12/17)


Klik ( part 2)

Ningsih tak tahu entah kini dimana keberadaannya. Bayangnya lenyap, seolah ditelan kegelapan malam. Meski dalam nurani ini kuyakini, ia masih sering ngintip; mengamatiku secara diam-diam. Entahlah. Apa yang ia inginkan ku tak mengerti.

Pernah suatu ketika, ada seseorang yang begitu mirip denganya. Tetapi setelah coba kusapa dari dekat, rupanya ia bukanlah Ningsih yang selama ini kucari. Semoga ia tetap sehat dan diberikan kelapangan dalam hidupnya. Tidak seperti aku yang tidak jelas arahnya ini.

Mungkin ia sudah bahagia dengan seseorang yang telah membersamainya. Selamat berbahagia wahai kekasih impian, yang tak mampu kudekap dalam alam kenyataan. Semoga kutemukan Ningsih lain yang tidak sekedar khayalan. Lebih nyata tentunya; dalam kehidupan! 

Lebih indah dari bulan purnama, lebih cantik dari bidadari surga, lebih jelita dari ratunya sang kaisar kerajaan. Tapi ia lebih sederhana dan mirip Fatimah Azzahra binti Rasulullah SAW atau kedewasaan dan ketegarannya mirip sang Ibunda, yaitu Khadijah.

Pendek kata, ia yang selalu bersabar dan memiliki pribadi pembelajar.
(Ditulis, 11/12/18)


Klik (part 3)

Di persimpangan jalan Sudirman ketika itu kita dipertemukan oleh keadaan. Dan terakhir kita dipertemukan di Terminal Rambutan. Apa sudah lupa? akan rute-rute perjalanan yang dulu ditempuh! Entah mengapa hatimu begitu mudahnya dibagi pada ia yang menawarkan kepalsuan.

Padahal, sabar sedikit saja. Toh, menunggu itu sesuatu yang sangat sebentar, jika dibandingkan dengan kebersamaan dalam mengarungi mahligai kehidupan. Bila dengan yang sekecil ini saja sudah tergadaikan, lantas bagaimana dengan masalah-masalah di dalam pe-rumahtangga-an?

****

Ningsih, jika pilihan itu baik bagimu. Tak masalah bagiku. Tak usahlah kau hiraukan tentang perasaanku, bagiku sendiri cukup jelas, kebahagiaanmu itu yang terpenting. Bahagiamu juga bahagiaku. Melihat dirimu bahagia, sudah lebih daripada cukup. Membiarkanmu bahagia, itulah tujuanku.

Ningsih, kuharap hubungan kita akan tetap baik dan tetap seperti sedia kala. Tak akan kurang sama sekali. Bila perlu, kita anggap jadi keluarga, supaya silaturahim tak akan pernah putus untuk selamanya. Ada yang lebih berharga untuk dijalin, dan itu bisa membawa kita ke surga-Nya.

"Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat), maka sambunglah tali silaturahmi" demikian sabda Rasulullah saw. 
___

Klik (part 4)

Entah kenapa, ada dorongan yang amat kuat dari dalam hati untuk mengunjungi rumahmu. Setelah sekian banyaknya pekerjaan yang numpuk itu terselesaikan, barulah aku bisa meluangkan waktu. Ahad sore bada ashar ku berangkat.

Biasanya lewat selatan, kali ini kucoba lewat sisi timur. Sekalian nyoba jalan baru. Setelah sekian lama minta bantuan perbaikan jalan dari tahun 2010, baru terlaksana sekarang. Lewat sisi timur cukup jauh, bisa kena empat puluh lima menitan kira-kira.

Beberapa perkampungan kulewati, pemandangan pesawahan dan para penggembala kambing dan kerbau kerap kusaksikan di pinggir jalan. Owh iya kendaraan yang pulang 'ngabesan' juga ada dua atau tiga kalau tidak salah kudapati berpapasan. Hingga kejanggalan itu muncul tanpa kusadari.

Tak kuhiraukan berjejernya motor dan mobil di depan kampungmu yang diapit sawah. Dalam batinku "Ada yang nikah sepertinya, rame banget jalannya..." aku tiba di dekat rumahmu, dan tepat di gang yang biasa itu kuparkirkan motor.

Alangkah terkejut dan kagetnya, kala kulihat tenda dan kursi-kursi itu tepat di rumahmu. Dekorasi panggung dan depan rumah disulap jadi super mewah nan elegan. Para tamu undangan sedang lahap makan dan berlalu lalang. 

Andai saja mentalku lemah, mungkin jatuh pingsan. Tapi sebagai seorang kesatria, pantang mundur meski gejolak di dada bagaikan gemuruh petir yang siap dikelurkan dan menghantam apa saja di bumi. Ada amarah seperti letupan lahar gunung merapi, menyala seperti besi terbakar.

Situasi tetap kujaga, tetap tenang dan tenang. Ku tetap mendekati rumahmu dan coba masuk ke keramaian. Tiba-tiba ada lelaki seumuranku ya langsung memeluk dan matanya merah seperti akan mengeluarkan air mata. "Kamu datang juga... Maafkan kami ya..." Sambil mempererat pelukannya.

Tatapanku masih fokus ke papan kecil di atas panggung yang ada tulisannya. Di hiruf depan tampak jelas huruf 'N' tapi huruf selanjutnya terhalang tamu undangan yang sedang mengambil hidangan di perasmanan.

Ketika tulisan itu sudah terlihat dengan jelas tanpa ada halangan. Eh, kumandang adzan subuh membangunkanku. Alhamdulillahiladzi ahyana badama amatanaa wa ilaihi annusur...
____
*Mohon maaf jika ada kesamaan dalam penulisan nama dan tempat.



(Tribunjogja - Kamis, 28/06) Sekumpulan orang berpakaian hijau tua dan lengkap dengan senjatanya sedang berjaga di sebuab asrama mahasiswa di jalan Indraprasta Sleman - Yogyakarta. Diduga salah seorang tersangka kasus bom telah ditemukan persembunyiannya.

Oknum yang diduga menyimpan bom berinisial AH alias Amha. Rupanya lelaki bertubuh kecil ini berasal dari Serang-Banten. Tepatnya dari kp. Pancur Ds. Panunggulan Kec. Tunjung Teja.

Terduga pelaku penyimpan bom ini diketahui sudah lama dicari dan diburu. Hanya saja selalu lolos dari kejaran petugas.

Para penyidik belum memberikan klarifikasi terkait jaringan mana yang diikuti AH. “Untuk sementara kami dalami kasus ini.. Jaringan mananya belum kami selidiki. Ungkap kabid Humas Polsek Dabag, Sleman - DIY.

Salah satu mahasiswa calon doktor di bidang pendidikan ini, rupanya cukup rapi dalam menjalankan aksinya. Bahkan rekan sekamar terduga pelaku pun tidak mengetahuinya.

"Saya cukup kaget ketika mendengar kejadian ini. Sepengetahuan saya orangnya baik dan tidak aneh-aneh..” Ungkap salah seorang sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Ketika digeledah kamar terduga pelaku, telah ditemukan dua buah barang bukti. Bom tersebut ditaruh dalam bungkusan plastik hitam yang diletakkan tepat di belakang lemari baju.

Belum ada konfirmasi dari pihak keluarga maupun kampus tempat ia belajar. Kepala dukuh Dabag sempat memberikan kesaksian di depan asrama AH. “Masnya pernah ngajar anak saya mengaji.. Tapi kok gak nyangka ada kasus begini..”

Ketika dikonfirmasi, AH mengakuinya. Ia mengaku telah membeli bom dari tempat langganannya. Ia terpaksa membeli bom karena desakan ekonomi. “Selain harganya murah, bisa dipake nyuci berkali-kali. Daripada ke laundry mending nyuci sendiri..” Ungkapnya dengan puas. (Amha/)

 diambil dari Tumblr (catatansikembar.tumblr.com)

------ TULISAN 2018 ------

RESONANSI SEMANGAT BARU

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah [09] : 108)

Jika kita lihat dan kita bandingkan, tentu perayaan tahun baru masehi dan tahun baru hijriah tidak sama. Tahun baru hijriah yang sejatinya milik kita (umat Islam) seolah sepi dari penyambutan, atau bahkan ada yang tidak tahu dan biasa-biasa saja. Tetapi jika peringatan tahun baru masehi, hampir semua bisa dipastikan ikut bereforia merayakannya. Sambutan suara mercon, kembang api dan bahkan hal-hal yang sifatnya sia-sia pun mereka lakukan.
Semoga diamnya umat Islam yang tidak terlalu riuh merayakan tahun baru hjriah ini, lebih kepada pambaruan niat dan dibuktikan langsung dengan tidankan nyata. Tindakan hijrah yang diniatkan tidak sekedar hanya di status dunia maya, melainkan dituangkan dalam kehidupan sehari-hari. Harapan inilah yang sejatinya menjadi inti dari merayakan tahun baru hijriah ini. Perayaan yang dilakukan lebih kepada pengajian dan jelas tujuaanya ibadah, jelas ini lebih baik dari perayaan lainnya.
Perayaan tahun baru hijriah juga, jika kita telusuri dari sejarahnya, tentu bukan melalui proses yang sembarangan. Kenapa tidak dipilih dari kelahiran Nabi Muhammad saw dan sekaligus peristiwa penyerbuan tentara gajah ke Kabah? Atau dipilih tanggal ketika wafatnya Rasulullah? Lalu, kenapa yang dipilih itu ketika proses hijrah Nabi ke Yatsrib? Inilah yang harus kita dalami dan kita renungi bersama.
Ketika nabi sudah menaklukan kota Mekah maka tidak lagi ada perintah hijrah. Dengan kata lain perintah hijrah sudah ditutup. Makna yang dimaksudkan nabi tentunya adalah hijrah fisik yang menunjukan perpindahan dari satu kota ke kota yang lain karena penindasan. Atau juga secara tidak langsung, itu adalah salah satu bentuk jaminan dari Nabi Muhammad bahwa hidup di Mekah tidak ada lagi penganiayaan dan penyiksaan. Semua bisa hidup dengan damai dan tentram di sana.

Kisah Masa Lalu
Banyak sumber sejarah yang menuliskan bahwa penentuan awal hijriah merupakan di masa Umar ra. Fakta ini juga tidak sepenuhnya salah. Tetapi Umar ra bukan orang yang pertama merumuskan ini. Khalifah Abu Bakar Asshiddiq juga pernah merancangnya ketika masa jabatannya sudah mencapai dua setengah tahun. Imam as-Suyuthi mengatakan bahwa Rasulullah sudah menggunakan hitungan bulan hijriah ini. Ketika itu beliau meminta Ali ra untuk menuliskan surat kepada umat nasarani di Narjan dengan dibubuhi kalimat “Surat ini ditulis pada hari kelima sejak hijrah” wallahu’alam. Inilah sekelumit sejarah penanggalan hijriah.
Pada masa itu faktanya Nabi diintimidasi dan diancam akan dibunuh ketika berdakwah di Mekah. Rupanya dakwah Nabi yang ditolak di Mekah ini, sampai kepada orang-orang Yatsrib dan mereka meminta dibaiat oleh Nabi dan merka pula meminta Nabi untuk ikut bersama mereka pergi ke Yatsrib. Rupanya niatan itu sudah ada dari Nabi dan lantas tidak langsung mengikuti saran mereka. Hingga suatu ketika, hijrah ke Yastrib itu menjadi kenyataan.
Setelah itu pula, kota Yatsrib berubah namanya menjadi Madinah an Nabi (Kota Nabi). Perubahan nama yang baik merupakan sebuah itikad baik pula. Mungkin ini pula yang melatarbelakangi perubahan nama. Seperti ada mualaf yang baru pindah dari agama masa lalunya dan memeluk islam, maka hal yang pertama setelah syahadatain, namanya juga diubah. Inilah sebuah langkah nyata yang terjadi ketika nabi tiba ke Yatsrib kala itu.
Tantangan dakwah Nabi ketika itu cukup jelas. Mengajak mereka yang lalai dari menyembah Allah dan lebih memilih menyembah patung-patung. Dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya jelas-jelas nyata. Program mereka mengajak manusia yang menganut paganis agar kembali ke tahuid. Bahasa mudahnya, mengajak yang belum islam agar memeluk islam. Sebab yang mereka sembah hanyalah patung yang tidak memberikan manfaat dan madarat bagi mereka sendiri. Ritual nenek moyang yang tidak perlu dipelihara apalagi dijaga.
Itulah Islam, hadir sebagai agama yang memberikan dampak positif bagi manusia. Kebiasaan mereka membunuh anak permpuan dan menguburnya hidup-hidup, ditentang oleh islam. Kedudukan antar laki-laki dan perempuan sama. Pada saat itu budaya kebersihan tidak terlalu diutamakan, nabi hadir dengan kebiasaan hidup bersih yang dilakukanya. Bersiwak adalah contoh nyata yang dilakukan nabi.

Kisah Masa Kini
Perubahan zaman begitu terasa. Apalagi perubahan itu ditandai dengan merabahnya dunia maya sebagai ajang konsumsi manusia masa kini. Tentu hal ini tidak dirasakan oleh manusia yang hidup di masa lampau. Atau kira, kira dua puluh tahunan yang lalu. Percepatan masa atau transformasi masa yang begitu sangat cepat. Apa-apa serba cepat dan jika kita tidak tidak ikut seharian saja, maka seolah kita telah tertinggal informasi jauh banget. Inilah masa kini.
Orang lebih senang dengan dunia maya, sibuk dengan hal-hal yang tidak nyata. Mereka rela berjam-jam hanya dengan gawai dan membaca status orang lain. Padahal jelas itu tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu. Jika orang dulu sibuk membaca karya orang (buku dan tulisan lain yang panjang-panjang) saat ini orang lebih tertarik kepada teks-teks yang pendek. Jelas ini perubahan yang sangat jauh berbeda yang dapat kita rasakan perubahannya. Saama-sama membaca karya orang, tetapi teksnya tidak sepenjang dahulu. Kira-kira ini kemajuan atau malah kemunduran? Atau inilah fenomena saat ini, bukan untuk dibandingkan!
Dakwah yang dilakukan oleh nabi tentu tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh umat saat ini. Esensi dakwahnya sama, hanya metode dan pendekatannya yang berbeda. Sehingga pendakwah harus memiliki cara-cara yang terbaik untuk menyampaikan dakwahnya tersebut, agar diterima dengan baik pula.
Bedanya dengan zaman Nabi, berhala yang dulu itu fasif atau berupa patung, kini berubah menjadi sesuatu yang seolah hidup. Misalnya saja handphone, media sosial, makae-up, follower, harta, jabatan, dan lain sebagianya. Inilah berhala yang nyata dan saat ini berada dihadapan kita. Bagi yang tidak terpengaruh dengan hal di atas, tentu tidak masalah. Tetapi dari sekian banyak yang disebutkan di atas tadi, tentu yang namanya manusia saat ini pasti memiliki kecondongan ke salah satunya.
Jika mengutip kalimat ustadz Salim A. Fillah (di acara ‘Inilah Jalanku’) beliau menyampaikan bahwa “Jalan dakwah itu berat, penuh rintangan, terjal dan banyak masalahnya”. Meski demikan, tentu balasannya juga akan setimpal dengan prosesnya. Janji Allah itu pasti.

Kisah Masa Depan
Hidup di masa depan, tidak bisa kita prediksi akan seperti apa gilanya. Tetapi sejatinya, kita dapat meraba nanti akan seperti apa di kehidupan yang akan datang ini. Toh saat ini saja sudah segila ini, apalagi nanti. Tentu akan lebih gila lagi dan lebih dahsyat kegilaan yang terjadi di muka bumi ini. Bukan tidak mungkin pula semangat untuk hijrah ini pula akan semakin memudar atau bahkan hilang sama sekali. Naudzubillah min dzalik.
Momentum peringatan hijriah itu dimaknai sebagai sebuah nilai dan syarat akan pelajaran yang besar. Sehingga kita yang sering lalai, menjadi ingat akan identias siapa kita ini. harapannya dengan kembali mengingat sejarah hijrah nabi, mampu mengembalikan semangat keislaman dan keagamaan kita untuk lebih rajin beribadah mendekat kepada Allah swt. Untuk itu, semangat tahuan baru hijrah itu harus terus dimaknai sebagai ajang untuk berhijrah ke arah yang labih baik.
Dengan demikian, berubah menjadi baik itu tidak mesti harus menunggu satu tahun dulu. Tetapi setiap hari harus diperbaharui, bahkan setiap detik pun semangat itu harus terus digulirkan dalam hela nafas kita. Sehingga semangat beribadah dan ketaatan kepada sang khaliq itu selalu dipupuk dengan baik. Bukankah memperbaharui niat dan keimanan itu selalu dianjurkan? Jika tidak dengan semangat seperti ini, lalu dengan cara apa menyadarkan orang yang sedang lalai?
Maka harus ada sesuatu yang baru untuk ditawarkan. Sesuatu yang sifatnya tidak kaku apalagi membosankan, merupakan tantangan tersendiri bagi penerbar dakwah kebaikan. Oleh karena itu, cara dan ide kratif harus digunakan, asal tidak keluar dari koridor dan tetap mengamalkan esensi dari surat an-Nahl ayat 125 : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”
Waktu itu hanya berjalan kedepan, tidak dapat mundur ke belakang, sehingga tidak ada gunanya terus meratapi penyesalan. Lakukan perbaikan, dan belajarlah dari kesalahan. Menjawab pertanyaan di atas, kenapa tahun baru hijriah itu diambil dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw? Selain usulan dari Ali bin Abi Thalib, ternyata proses hijrah Nabi merupakan peristiwa yang besar dan sangat mashur serta tidak menjadi perdebatan kala itu. Proses hijrah itu pula merupakan jati diri umat Islam yang sesungguhnya, yang meletakkan garis tegas antara hak dan yang bathil, menurut Umar ra . Allahu’alam bishawab.
Amha, ngaji di UII
___


HARI RADIO REPUBLIK INDONESIA

Radio merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebab salah satu penyalur informasi yang digunakan kala itu merupakan cara yang paling efektif. Melalui radio pula, semangat nasionalis ini dibentuk dan dibangun. Berkat radio pula, semangat Bung Tomo di Surabaya menggelegar dalam melawan penjajah serta menyemangati para pejuang yang lainnya. Sungguh besar jasa radio bagi negri ini.
Sebagai manusia yang terus berpikir, rupanya pengembangan yang awalnya hanya berupa suara ini terus bergerak dan berubah melalui tampilan atau visual. Sehingga tidak lagi mendengar suara, tetapi sudah bisa menyaksikan gerak bahkan gambar siapa yang berbicara. Inilah teknologi, yang semakin ke depan akan semakin maju lagi.
Dulu melihat televisi hanya lewat benda yang ukurannya besar dan dinamai televisi. Saat ini, fungisi televisi sudah tergantikan dengan gawai. Tampilan suara, gambar, gerak dan video sudah bisa dinikmati dalam genggaman alias dalam gawai. Sehingga apapun sudah ada ditangan. Istilah “dunia dalam genggaman” memang betul adanya. Jarak tidak lagi menjadi masalah apalagi hambatan. Cukup buka gawai dan sambungkan.
Kemajuan apa lagi yang akan manusia ciptakan nanti. Dengan sederet kemajuan tersebut. Fungsi radio sepertinya sudah mulai tergerus. Beda ketika era 80an dimana radio sedang tenar-tenarnya. Banyak yang kini terkenal sebagai artis, dulunya adalah sebagai seorang penyiar radio.
Terlebih adanya youtube merupakan tawaran yang menggiurkan untuk orang belajar secara otodidak dan menentukan sendiri topiknya sendiri. Jika diperhatikan, youtuber itu hampir mirip dengan penyiar radio, hanya saja radio lebih kepada kekuatan suaranya. Tetapi youtuber lebih menggabungkan aspek suara dan gambar. Sulitan mana? Jelas keduanya sama-sama sulit, sebab harus memiliki skill di bidang itu.
Saya ingat betul ketika masih kecil. Kakak punya saound di kamar. Setiap setelah subuh, ibu menghidupkan sound itu dan menghidupkan radio. Siaran yang dipilih biasanya ceramah Zainudin Mz. Ceramah itu biasa selesai pukul enam pagi. Dengan demikian, saya juga merupakan saksi dimana radio merupakan sebuah pilihan hiburan pada masanya. Tetapi inilah zaman yang semakin maju dan berkembang, bukan tidak mungkin fungsi radio ini akan tergantikan dan terlupakan. Stasiun radio yang dibangun itu akan tutup dengan sendirinya.
Hari Radio Republik Indonesia (RRI) diperingati setiap tanggal 11 september. Selamat hari radio.
Amha, ngaji di UII
___



LIGA vs NYAWA
Saya mengikuti betul informasi tentang dunia sepak bola baik yang lokal maupun internasional. Bahkan saya juga sempat membaca postingan Kang Emil terkait pertandingan Persib dan Persija di fanspagenya.
Kemenangan tipis yang diraih Persib di penghujung pertandingan membuat para bobotoh sumringah bahagia. Tetapi kebahagiaan itu memiliki cacat dan sekaligus duka mendalam.
Sebagai penikmat sepak bola, baik virtual maupun nyata, tentu saya merasa prihatin dengan kejadian kemain malam. Tragis dan amat disayangkan, dalam video itu ada aksi anak-anak yang ikut memukuli korban.
Jelas ini tindakan biadab. Penduduk Indonesia yang terkanal dengan budaya senyum dan keramahannya ini, harus mengajarkan seorang anak kecil terlibat dalam kasus pembunuhan. Mau jadi apa ia kelak ketika dewasa?
Kepada para pemakai dunia maya, stop menebar video tersebut, jika anda melakukan hal demikian, berarti secara tidak langsung ikut mengajarkan budaya kekerasan pada orang lain. So, cukup tahu dan biarkan pihak terkait yang menanganinya.
Kira-kira siapakah orangtua si anak tersebut? Apakah yang dirasakan orangtuanya ketika menyaksikan video tersebut dan melihat aksi anaknya ketika itu? Secara tidak langsung, sebagai orang tua, tentu telah gagal mendidik anak.
Sekali lagi sangat disayangkan dan tidak sepatutnya terjadi. Apa sih yang didapatkan dari yang namanya supporter? Alih-alih mempertahankan harga diri, harga diri yang mana? Harga diri siapa?
Yuk bebenah diri. Semua kudu belajar dewasa dan berpikir jernih. Saya sepakat dengan kalimat akhir Kang Emil, “Jika harus berakhir dengan nyawa, mendingan tak usah ada laga…”
Tulisan ini awalnya dishare di Facebook.
___


Saya hanya sebagai masyarakat biasa, bukan siapa-siapa. Saya juga salah satu mantan penggembala kambing di kampung. Saya awam dengan semua hal, termasuk dunia perpolitikan di negri ini.
Pemahaman yang saya dapatkan, murni dari pengalaman empat tahun yang lalu. Sebab saya tidak pernah belajar ilmu politik secara langsung atau terlibat di kepengurusan politik praktis. Sekali lagi saya hanyalah orang awam.
To the point! Sekitar empat tahun lalu, dua kandidat calon presiden beradu straregi untuk memenangkannya. Saya ingat betul ketika tim dari salah satu kubu, menggunakan medsos sebagai strategi kemenangannya.
Ketika kubu lawan menampilkan sebuah opini atau fakta, maka tim yang sudah sangat masif dan militan ini langsung menyerang dengan akun-akun kloning alias buatan (tidak bisa dilacak keasliannya).
Secara otomatis, ketika ada pendukung yang komentar, akan dihajar habis-habisan oleh tim militan ini. Sehingga down dan yang lain enggan berkomentar juga. Satu orang, lawan akun kloning jumlahnya tak terhingga ya keok juga.
Ini strategi yang dipakai oleh salah satu kubu yang saya tangkap dan saya rekam baik-baik dalam ingatan. Lalu, ketika menang, pemilik medsos sampai datang ke indonesia. Tentu menyimpan sejuta pertanyaan, terutama bagi saya pribadi.
Masih ingat dengan kartu hape harus registrasi pakai Kartu Keluarga dan Kartu tanda penduduk? Saya sebagai orang awam jelas-jelas menangkap ada perubahan strategi. Terbukti, akun-akun kloningan itu tidak semasif empat tahun lalu.
Jelas, ini strategi mereka. Sayangnya di masyarakat sipil yang tidak paham dengan hal ini, rupanya masih terjebak dan terpancing dengan cara-cara mereka. Sudah jelas, mereka sudah tahu kelemahan cara jadul ini. Makanya mereka saat ini diam.
Penjahat kelas kakap, tentu akan menganggap remeh penjahat kelas teri. Pengalamannya baru semur jagung, baru sedikit makan asam garamnya. Mainnya kelas kakap, jelas sudah beda. Cukup satu tindakan bisa berefek luas. Back-up mereka media besar (cetak, visual dan berita online). Media kelas ecek-ecek jelas kalah!
Kiranya, cara-cara cerdas dan bermartabat ini perlu diikuti semua lapisan. Agar tidak menuai kekalahan kedua kalinya. Sebagai bocoran, mereka sudah belajar banyak dari kekalahan di DKI kemarin. So jadilah pemilih yang cerdas.
Tiba-tiba ada suara “bangun-bangun, sudah masuk dzuhur..” Ibu membangunkan. Rupanya, tulisan opini di atas hanya bunga tidur.
Ditulis, sebagai reaksi kejut semata
___


Satu empat empat nol

Inilah masa di mana awal perpijakan tahun baru kita dimulai. Nasib dan masa depan di tentukan sedari sekarang. Oleh karenanya, yuk kita rangkai dan kita tentukan arahnya.
Jika niatnya baik, insya Allah akan berbuah baik juga. Jika baik, tentu ada sang mahakuasa membersamai kita. Tinggal tekad dan kekuatannya yang mesti dijaga.
Satu empat empat nol, titik balik untuk berubah. Berubah lebih baik dalam segala hal. Terutama dalam menjalin keintiman dengan Rabbul'alamin, lebih-lebih dalam keadaan lapang maupun sempit.
Peningkatan spiritual dan intelektual terus diasah, juga dalam aspek kemajuan dipelajari. Lalu tidak lupa target pribadi untuk ditambah. Lebih produktif dan menciptakan banyak karya. Rumusnya sedikit lebih beda, itu lebih baik.
Jaringan tetap dibangun dong pastinya. Bisnis dikontrol rutin. Kesehatan dijaga dan diperhatikan. Planing untuk 10 tahun ke depan selalu disiapkan, sudah ada timnya malah. Pokonya, selamat datang di era industri 4.0
__ Asal corat-coret
__


Yuk jadi Penjaga ‘Gawang’

Saat semua pemain ingin jadi striker, dan menciptakan gol, ia tetap setia di belakang. Maka tak jarang pula ia beradu fisik dengan lawan, bahkan dengan teman satu timnya sendiri.
Dialah si penjaga gawang. Blok pertahanan terakhir dari sebuah tim sepak bola. Apapun akan dilakukan, asal si kulit bundar tidak melewati gari gawang dan tiangnya.
Sadarilah! Bahwa saat ini kita sedang 'bermain bola’. (Penulis menganggap dunia maya saat ini ibarat pertandingan sepak bola). Maka kita harus jadi penjaga gawang yang baik agar tidak mudah kebobolan (baca: tidak terpengaruh dan termakan isu murahan).
Kini, para pemain sedang berlomba memasukan bola ke gawang lawan. Tapi, saat ini (seolah) bola sedang berada di kaki mereka sendiri. Keputusan itu ada pada mereka pula. Apakah akan dioper, digiring terus atau ditendang sendiri ke gawang lawan?
Kondisi bola masih liar berada di tengah lapangan. Banyak kemungkinan yang akan terjadi dan tidak akan kita tahu akhirnya. Pengambilan keputusan ada di mereka yang sedang membawa bola.
Dan, sekali lagi. Tugas penjaga gawang tetap setia di belakang, menjaga bola agar tidak kemasukan. Kadang datangnya sukar diprediksi dari arah mana saja.
Apa jadinya, jika dalam sebuah tim, semua ingin main sebagai penyerang, tetapi tak ada yang mau menjadi penjaga gawang. Atau, penjaga gawangnya ada, tetapi asal-asalan. Sungguh mengkhawatirkan bukan?
Di film Spiderman, tepatnya di adegan terakhir. Ada dialog antara Peter Parker dan Manusia Pasir (Sendman).
Sebelumnya Spiderman sangat dendam dan marah kepada Sendman. Tapi setelah dijelaskan alasannya oleh Sendman (kenapa bisa sampe membunuh paman Ben, setelah merampok bank). Ia pun paham.
Sendman hanya berkata “ Aku tak ingin meminta dirimu untuk memaafkanku, tetapi aku hanya ingin kau paham…”
Maka Peter Parker pun mengatakan “Kau sudah kumaafkan…” Lalu manusia pasir pun menghilang bersama tiupan angin.
AMHA
Ditulis sebagai refleksi di hari raya ‘idul qurban 1439 H. 22/08/18 M
___



MELURUSKAN apa yang SALAH

Di media sosial (medsos), sering kita jumpai kalimat begini “Gue mah gak MUNAFIK di facebook. Apa adanya jadi orang. Gak kayak lu, pura-pura doang. Pura-pura baik dan sok baik, padahal busuk…”
Penggunaan kata MUNAFIK di atas tidak tepat dan salah kaprah. Sebab kalau kita lihat pengertian kata munafik dalam hadits Nabi, itu ada tiga konsep. Pertama, idza hadatsa kadzaba (jika bicara dusta). Waidza wa'ada akhlafa (jika berjanji ingkar). Waida tumina khaana (jika dipercaya khianat).
Dusta itu berkaitan dengan ucapan atau data yang didapat dari berita secara langsung atau tidak langasung, lalu ditanya oleh orang dan membelokan apa yang dikatakannya itu. Adapun ciri munafik (di atas) dua lagi, sudah cukup jelas.
Kontek dusta yang selanjutnya, yaitu terkait ketika diminta bersaksi dalam kasus tertentu. Entah dibayar atau ada kepentingan lain, sehingga si saksi ini tidak mengatakan yang sesungguhnya.
Sehingga, yang paling penting, konteks dusta itu ranahnya menyangkut apa-apa yang dapat dilihat oleh mata kepala atau secara dzohir saja. Jika selain itu (yang tak tampak), tidak dihukumi munafik.
Intinya, sesuatu hal yang masih di dalam hati, baik masalah yang buruk sekali pun tidak bisa dihukumi apapun. Nahnu nahkumu bidzawahir (kami hanya nghukumi apa yang tampak saja).
Malahan, kita diharuskan untuk menjaga baik-baik apa yang ada di dalam hati ini. Jangan sampai diketahui oleh orang banyak. Tidak pula mengumbar-umbar apa yang saat ini kita rasakan. Benci, marah, cinta dan lainnya, itu urusan hati belaka. Tak perlu dibeber-benerkan ke siapa pun.
Bukankah itu bukti Allah sayang dengan makhluknya. Setiap orang tidak mampu menebak isi hati manusia yang lainnya. Jika ini dibuka oleh Allah, sepertinya sudah musnah yang namanya manusia. Allah saja jaga aib-aib itu, kenapa kita malah pamer-pamerkan sendiri di medsos? Kebalik bangetkan?
Jika pun diungkapkan atau diceritakan, silakan cari tempat atau orang yang tepat. Bukan diumbar ke medsos. Menunjukkan kebaikan (meski hanya di medsos) tanda bahwa dirinya sudah mulai dewasa. Dia mulai sadar bahwa kebaikan itu penting dan akan berbuah kebaikan pula. Bahkan bisa saja di situ ada pahalanya juga.

Allahu'alam
___



BELUM ADA JUDUL

Percaya gak percaya, tapi tanpa sadar ini yang terjadi dan ada di sekitar kita. Bahkan, kita sendiri pelakunya. Iya, beneran. Parahkan?
Kita sudah dicekoki dengan yang namanya dunia matrealis. Contohnya, diajari untuk mengenal duit. Baru lahiran tujuh hari saja, ada upacara potong rambut. Nah biasanya ada uang yang dibikin hiasan (biasanya ditancepin ke buah jeruk atau kelapa muda).
Kira-kira, itu ada maknanya enggak? Gak adakan! Terus, nilai-nilai dari hiasan itu apa? Pasti gak ada nilainya juga! Kenapa harus pake hiasan duit? Pake hiasan yang lain kan cukup.
Lalu, pas hajatan ada yang namanya paculan (ini menurut saya baru. Dan baru saya tahu sekarang ini, dulu gak pake kayak begini), maksudnya apa itu ya? Biar ngerasain mandi duit? Malah terkesan mirip kaum hedonis.
Agama mengajarkan kita untuk hidup tak menuhankan dunia. Sebab dunia tak akan dibawa ke alam syurga. Dunia yang dipuja-puja, hanya akan jadi bencana. Parahnya lagi, jadi lupa ibadah kepada tuhannya.

Miskin Nilai
Inilah yang kini terjadi. Bahkan pergeseran nilai itu begitu kentara. Tidak aneh jika murid tak lagi ada sopan santunnya di hadapan guru maupun orang tuanya. Sebab mereka tak diajarkan nilai-nilai.
Mereka tahunya materi dan materi. Meski haram tak lagi peduli. Ditambah dengan dunia digital dan bergawai (sibuk main hape). Maka, semakin komplek permasalah ini. Sudah tak punya dasar pendidikan nilai, ditambah miskin akhlak. Rasanya lengkap sudah.
Kuncinya, kembali ke pendidikan nilai. Dan ajari anak-anak semenjak kecil pendidikan nilai. Ajari arti sebuah kejujuran, kerja keras, pantang menyerah dan menghargai orang lain. Jika pendidikan ini ditanamkan dari kecil bukan tidak mungkin mereka akan menjadi manusia yang yang unggul.
Minimal mereka tidak menjadi generasi “micin” yang kini sedang tenar. Wajar rasanya, jika mereka jadi tidak terkontrol. Sebab mereka sudah diajari materi yang tidak tepat. Tapi belum terlambat, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Ajari generasi kita, bahwa tidak semua harus pake duit. Tidak semua dibeli pake duit. Kalau kata guru saya begini “Uang itu penting, tapi bukan segalanya…” inilah nilai-nilai yang harus diajarkan semenjak kecil. Allahu'alam.
Amir Hamzah
Penikmat Kue Pancong dan mantan pangangon embe.
__



Tips Hari Ini

Berbijaklah dalam hal apapun, termasuk di medsos. Urusan dunia nyata, jangan dibawa ke dunia maya. Jadi tolong ya, kudu bisa dibedain. Masalah dunia nyata jangan dibawa ke dunia maya. Nanti yang ada, masalah itu makin kacau. Inget lho, kalo dunia maya itu biasanya hanya bisa memperkeruh suasana.
Harusnya yang tahu cuma antara dia dan kamu, karena diupload ke medsos semuanya jadi pada tahu. Gak semua orang mau dan siap kalau permasalahan yang ia punya, diketahui oleh orang banyak. Rahasia itukan salah satu penjaga aib. Kalo semua diupload, sama saja seperti buka aib sendiri.
Ini yang gak banyak orang sadari. Masalah kecil aja bisa berefek besar. Oleh karenanya, kudu disaring sebelum disering. Apalagi masalah yang sifatnya sensitif atau kontroversial (yang diupload), yakin bisa bikin perang deh. Paling parah, ya bisa putus hubungan.
Sekali lagi, berbijaklah dalam bermedsos. Terutama yang ada di kampung, pesan dari saya pribadi “Jangan terlalu ‘vulgar’ di medsos, jangan semua ditumpahkan ke medsos, apalagi kalau tentang maslah. Bisa bahaya…”
Sedikit tambahan, “Kalau mau, silakan upload kalimat-kalimat yang baik, motivasi, dakwah dan semua hal yang baik-baik. Justru kalau yang begitu malah sebanyak-banyaknya diupload. Jangan upload yang keburukan, tapi uploadlah kebaikan. Kalao foto selfie yang diupload? Sesekali boleh, kebanyakan ya jangan…”
Diselesaikan secara keleluargaan. Datangi langsung dan ngomong langsung dengan yang bersangkutan (bagi yang punya masalah). Jangan sedikit-sedikit, dibuat status di medsos kalau ada masalah. Intinya, masalah dengan manusia ya diselesaikan di ranah dunia. Jangan dibawa ke dunia maya, sebab gak ada titik temunya.
_______
(Tulisan ini dibuat, dalam rangka menjawab, menasehati, mengingatkan kepada semua pihak yang merasa update statusnya berisi konten berbahaya dan menimbulkan masalah). Semoga yang bersangkutan membacanya.
Dipindah dari Facebook..
___


SYUKURAN TERAKHIR

Hari jumat dihubungi lewat WA oleh kawan yang kini jadi dosen di Unisula-Semarang. Inti dari pesan tersebut ngajakin main ke pantai Depok - Bantul DIY.
Sebetulnya, bukan sekedar main. Tetapi merayakan sekaligus syukuran salah seorang sahabat yang keterima menjadi hakim. Karena sudah akan ditugaskan, maka momen ini dianggap pertemuan terakhir sebelum keberangkatan.
Hari Sabtu pagi, sekitar pukul 08.00 kami berangkat. Karena tidak bareng, keputusan untuk ngumpul barengnya di SPBU jalan paris (parangtritis).
Karena kami (dua motor) sudah duluan, terpaksa agak lama deh nunggunya. Minuman dan snek yang dibeli sudah mau habis, tetap saja kawan yang lain (sekitar lima motor) belum nampak batang hidungnya sedikit pun.
Setelah agak sekian lama, satu persatu mulai muncul. Setelah kumpul semua, kami pun langsung berangkat. Adapun satu motor, sudah lebih dulu menunggu di depan. Maklum, kawan yang satu ini aslinya Bantul.
Setelah sekian menit yang kami tempuh, tiba juga di tempat tujuan. Hamparan pasir lengkap dengan para perahu nelayan yang baru tiba dari laut dan para pengunjung lain kala menikmati libur panjang.
Suguhan pemandangan indah, ditambah dengan antraksi kedirgantaraan dari angkatan udara Adi Sucipto membuat hari itu lebih istimewa. Secara kebetulan ini merupakan hari yang sangat beruntung bagi kami.
Info dari pemilik warung makan, pukul 14.00 malah akan ada atraksi terjun payung juga. Tapi sayang, kami harus kembali melanjutkan perjalanan ke tempat lain kalau jam segitu. Malah, selepas dzuhur kami juga sudah cabut dari Pantai Depok.

Lanjut zuarah ke makam Syekh Bela Belu.
Sabtu, 18/02/18
___


SEKILAS INFO

Tai Embe atau tai kambing ternyata berkhasiat tinggi. Dipercaya mampu menyembuhkan beberapa penyakit, semisal kangker, stroke, penyakit darah putih, dan banyak lagi yang lainnya, sebagai mana diungkapkan dr. Amir Hamzah. Pasalnya kambing menyukai dedaunan, imbuhnya.
Kotoran kambing yang dapat dijadikan obat adalah kambing jawa atau kambing berjenis bulu halus. Tidak semua jenis kambing. Selain itu, kambing ini sedikit sekali memakan rumput dibanding dengan dedaunan. Perbandingannya hampir 20 dan 80 persen.
Dengan demikian, kualitas dedaunan yang dikonsumsi menjadi lebih variatif dan menggabungkan seluruh kandungan dedaunan. Sehingga dedaunan obat itu secara alami diproduksi oleh kambing jawa ini. Hal ini cara alternatif bagi mereka yang tidak suka makan sayuran.
Cara paling mudah untuk dikonsumsi (dan disarankan vagi pemula) yaitu dengan mencampurkan kedalam kopi. Caranya, pilih beberapa butir dan dikeringkan. Lalu digoreng (tanpa minyak), atau dibakar. Setelah itu dihancurkan dan aduk dengan kopi.

Selamat mencoba!!!
Hoax


----- CATATAN DI TAHUN 2017 ----


Rencana Menikah

Bagiku, memikirkan hal yang belum terjadi cukup sulit. Jangankan memikirkannya, membayangkannya saja sudah setengah mati. Eit, tapi tidak untuk persiapannya dong. Apalagi persiapan bathin, sudah seratus persen. Untuk lahirnya malah belum siap. Gimana nanti saja deh…
Adapun merencanakan pasti sudah. Rencana yang paling ingin direalisasikan ialah menolak hadiah atau bawaan para undangan, kecuali mereka niatnya ikhlas untuk memberi. Sehingga tidak ada catatan, dan tidak menjadi hutang dikemudian hari.
Rencana pertama ini pasti terkesan aneh. Tetapi, ini salah satu cara untuk memutus budaya hutang menghutang. Sebab jika tidak disadarkan bisa repot di masa depan. Misal harga mie sekarang berapa? Kalau suatu saat mie langka dan mahal, apa sanggup dan siap membayarnya?
Kedua, rencana yang ingin kupakai ialah akad nikah di kantor urusan agama. Selama ini imej menikah di sana, biasanya pernikahan yang cacat atau ada sesuatu yang salah. Sehingga menikah di KUA itu terkesan jelek. Padahal, menikah fungsi kantor urusan agama ya tugasnya menikahkan. Selain itu, biayanya juga gratis. Kalau petugas yang dipinta menikahkan biasanya ada tarifnya lho.
Ketiga, maharnya sesuatu yang bermanfaat dan berkesan. Misalnya saja, selain emas ditambah membacakan salah satu surat dalam alquran. Jadi sebelum aqad dimulai, pengantin laki-lakinya ngaji dulu. Redaksi nikahnya begini “ saya terima nikahnya pulan binti pulan, dengan mahar emas dan bacaan surat alikhlas –misal– dibayar tunai.”
Keempat, yaitu menjamu makan para undangan dengan gratis, makan sepuasnya asal tidak dibungkus atau dibawa pulang. Ini salah satu acara walimah yang disunnahkan nabi. Lagu yang diputar sholawat atau nasyid, bukan yang lain. Kalau bisa sekalian pengajian deh. Uangnya mending ditabung untuk persiapan bangun rumah dan kebutuhan lain. Daripada setelah walimah, malah mulai nabung dari awal lagi?
Kelima, bulan madu. Meski tidak ada tuntunan, apa salahnya menikmati keindahan ciptaan Allah yang ada dibelahan kota lain. Sekaligus nambah wawasan, dan mengunjungi tempat yang belum pernah didatangi (ziarah).
Inilah lima hal terdekat yang muncul secara spontan (barusan) saja terlintas dalam pikiran. Semoga saja bisa terwujud dan semua pihak dapat menerimanya.

_Condongcatur, 06.45 (21/12/17)
Pojok kamar PONPES UII


Kepalsuan

Kepalsuan berasal dari kata palsu (Berawalan ke- dan akhiran -an). Kata palsu dalam kamu bahasa Indonesia, diartikan sebagai tidak sah, tiruan, gadungan, curang atau tidak jujur. Jika menggunakan awalan dan akhiran seperti di atas, maka berarti mengenai prihal palsu atau diartikan sebagai ketidakjujuran.
Jika ada barang bagus, pasti ada tiruan atau barang palsu yang dibuat. Kenapa? Karena barang yang asli harganya mahal. Maka diciptakan barang palsu, dengan harga yang miring. Sekali lagi ini bukan untuk membolehkan membuat barang palsu. Sebab, ketika ada pihak yang dirugikan maka biasanya salah dan bertentangan dengan hukum.
Itu tadi terkait barang. Sekarang, bagaimana jika dengan sifat manusia? Tentu kepalsuan itu ada. Tentu ada yang dianjurkan dan ada juga yang sebaliknya. Asal bisa menempatkannya saja. Melakukan kepalsuan tetapi tujuannya untuk membahagiakan, atau agar orang tidak kecewa, itu bagus.
Tetapi kepalsuan yang ujungnya membuat kerugian (misalnya menipu), jelas itu tidak dibenarkan. Apalagi menipu beberapa orang lalu ia memperoleh keuntungan dari caranya tersebut. Jelas ini cara-cara yang dilarang, termasuk kriminal.
Jika dalam masalah perasaan, apakah ada kepalsuan juga? Kapan melakukan kepalsuan itu? Hemat saya, cinta itu berkaitan dengan perasaan. Perasaan itu biasanya sangat sensitif. Jadi, tak boleh ada kepalsuan. Sekali melakukan kepalsuan, maka selamanya dicap sebagai pemalsu cinta.
Cinta juga berkaitan erat dengan kepercayaan dan saling memahami. Apalagi ketika memulainya, jangan sampai diawali dengan kepalsuan, bisa bahaya. Pepatahnya begini “Jika anda memulainya dengan kepalsuan, maka selamanya akan berada dalam kepalsuan. Untuk menutupi kepalsuan di awal, harus ditutupi dengan kepalsuan yang selanjutnya…”
Intinya berbahaya. Kita akan berada pada posisi yang tidak nyaman. Kemana-mana dihantui kepalsuan, bahkan hidupnya pun seolah terasa tidak nyata. Kalau saya biasa mengatakan begini, “Buat apa bohong/melakukan kepalsuan, gak ada untungnya kok…”
Yuk memulainya dari diri sendiri untuk berprilaku jujur.
Menulis dadakan tadi pagi, ketika kata itu muncul. Dan jadi ide…
__


Menentukan pilihan terhadap pasangan

Ada salah seorang kawan yang begitu detail untuk menentukan siapa pasangannya. Hal sepele sangat ia perhatikan. Misalnya saja, bagaimana bertutur kata, merespon lawan bicaranya, menghormati orang lain dan banyak hal lagi yang lainnya.
Alasan sang kawan sih simpel banget. “Lho nanti dia kan akan jadi pasangan kita untuk selamanya. Akan membersamai kita bertahun-tahun. Kalau nanti akhlak dan tabiatnya jelek, ujungnya kita juga yang repot. Apalagi kalau sudah tabiat, susah untuk diubah. Makanya cari yang punya tabiat baik”.
Kalau sudah dapat yang tabiatnya baik, ya sudah enak. Tinggal nambahin dan ngajarin yang lain. Syukur-syukur sudah pinter bawannya juga. Tidak perlu disuruh, tapi sudah bisa belajar sendiri. Biasa belajar dari kesalahan atau juga dari pengalaman orang lain.
Pungkasnya, kata dia. Jangan sampe dapat pasangan yang malah ngeyel ke suami. Apalagi kalau dibilangin malah ngelawan, matilah kita!
Dari obrolan singkat dengan kawan.


KLIK

Ningsih, itulah namanya. Jika ditanya, aku lupa kapan perjuampaan awal itu terjadi. Intinya itu, dalam dirinya aku melihat ada sesuatu yang lain. Sesuatu itu bernama masa depan.
Iya, masa depan. Karena seolah aku menemukan penggalan puzzle yang kini masih kucari. Potongan itu terlengkapi, kala aku berkenalan dengan dirinya. Sejak itu pula, hatiku merasa ‘klik’ dengannya.
Awalul mathar, bil qatri wa awwalul hubb bi annadhar… Permulaan hujan itu gerimis, dan permulaan cinta dari pandangan. Begitu juga dengan semua ini, tidak mungkin hadir begitu saja tanpa sabab-musababnya. Kalau dalam bahasa gombal itu bias ada ungkapan seperti ini “Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali..”
Aku yakin, yang namanya Ningsih itupun kini sedang merasakan kebingungan, sama seperti apa yang kini kurasakan pula. Bingung harus bagaimana dan bersikap apa. Ujung-ujungnya ya mengantung. Padahal saling mengakui ada “rasa” itu dalam hati.
Mengenalnya hanya butuh hitungan beberapa menit saja. Tapi butuh ribuan tahun untuk dapat melupakan dirinya. Terutama mengikhlaskannya begitu saja. Itulah intinya.
Bahkan kubiarkan angin membawa cintaku pergi. Pergi dari dirimu bersama lenyapnya lembayung di ujung barat. Hingga berganti menjadi kelap-kelip bintang di malam hari.
Jika, tuhan berkehendak atas irdahnya, maka aku sebagai manusia biasa hanya pasrah menerimanya. Dengan penuh kesadaran menerima proses, inilah kata guruku ketika menerjemahkan arti kata sabar.

__Amha, 10/12/17
*Mohon maaf jika ada kesamaan dalam penulisan nama dan tempat.
TW
__

SALAHKAH

Entah bagaimana dan karena apa, kumerasa ada sesuatu yang berbeda. Ada situasi dalam perasaanku yang seolah membuat hatiku menemukan apa yang selama ini kucari. Kala itu juga, hati merasa tentram.
Kisah sewaktu sekolah MTs, dari Pak Sutirman seolah begitu nampak dan hadir kembali ke permukaan. Iya, kisah seorang laki-laki yang hanya sekedar tukang kupas buah kelapa. Meski hanya itu pekerjaanya, ada wanita yang diajaknya menikah, beruntungnya wanita tersebut menerima.
Apa yang terjadi, rupanya mereka kini sudah menjadi haji dan punya beberapa toko besar di pasar-pasar. Siapa sangka, nasib baik itu akan berpihak kepadanya? Inilah realitanya. Manusia tak diberikan kemampuan untuk melihat masa depan.
Kisah di atas, merupakan yang sedikit mewarnai dan mempengaruhi cara berpikir serta cara pandangku terhadap masa depan, apalagi untuk menilai seseorang yang akan membersamaiku di masa depan nanti. Bagi yang sudah paham, pasti bisa menangkap pesan apa yang kumaksudkan ini.
Realita kadang tidak sesuai dengan harapan. Lalu, salahkah jika ternyata perasaan ini terlabuh kepada seseorang? Tapi seseorang tersebut milik kekasih orang lain. Haruskah ditikung, diculik, diambil paksa, atau dicuci otaknya? Cara mana yang harus kuambil?
Tetapi, semua itu rasanya tidak etis dan bukanlah caraku. Benar memang apa yang dikatakan Imanuel Kant, “Dalam hukum, ketika kita merebut hak orang lain, maka kita telah bersalah. Tapi dalam moral, ketika kita baru berpikir untuk merebut hak orang lain saja, sudah salah….”
Maka, caranya yaitu hanya dengan memahami quote ini. “Satu-satunya kebaikan yang tetap baik dan tidak terpengaruh oleh posisi maupun situasi, yaitu berkeinginan untuk menjadi baik…” atau dalam kajian filsafat dikenal dengan God Will.
Amha, pekenalan singkat.
_

KETUPAT MENYIMPAN BERKAT

Makanan yang satu ini cukup unik dan spesial. Khususnya di kampung kami, ketupat menjadi tradisi rutinan tiap tahun. Tiap rumah memasak ketupat dan sayurnya, lalu dibawa kemasjid dan malamnya didoakan. Misalnya saja di penghujung bulan Safar dan pertengahan bulan Ramadhan.
Di penghujung bulan Safar yaitu sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah Allah swt berikan, sekaligus syukur atas terbebasnya dari jumlah bencana/penyakit yang Allah turunkan (meski kabar ini keabsahannya masih saya telusuri).
Adapun di pertengahan Ramadhan, adalah sebagai tanda bahwa puasa yang dijalani sudah setengah bulan atau sudah dapat lima belas hari. Sekaligus sebagai tanda penggunaan doa qunut ketika shalat tarawih.
Makanan yang dibuat dari daun kelapa muda (Janur) ini merupakan makanan spesial, terutama bagi penulis. Bahkan rasanya begitu nikmat dan sangat dirindukan. Meski sering makan lontong atau ketupat sayur di pasar, tetap saja ketupat yang dibuat pada bulan khusus ini, lebih terasa nikmat dan berkahnya.
Semoga kebiasaan atau adat seperti ini akan terus ada untuk selamanya. Zaman boleh berubah, tahun boleh berganti, tetapi adat seperti ini harus tetap lestari. Tugas kita adalah meneruskannya.
Amha, yang merindukan makan ketupat di masjid bersama…
-


Keluarga kecil

Dari tampilannya nampak mereka keluarga kecil biasa dan beesahaja. Tetapi ada yang terlihat dan juga tampak berbeda. Yaitu makan bersama. Suami-istri dan dua anaknya itu memesan nasi goreng dan es teh.
Meski terkesan sepele, tapi bagiku ini luar biasa. Tidak banyak orang tua memiliki waktu untuk dihabiskan dengan keluarganya. Makan bersama sesekali di luar rumah, kadang perlu juga.
Refresing dan sekaligus menghilangkan kejenuhan bagi anak istri yang biasa di rumah terus-terusan. Waktu yang sedemikian sempit ini, dimaksimalkan untuk quality time.
Nanti, aku suatu saat akan melakukan yang seperti ini. Bila perlu dua minggu sekali. Atau masaknya di rumah, tapi makannya di tempat yang berbeda. Misalnya dipantai, tempat rekreasi, atau sambil ziarah wali.
Kala makan di tempat pakde Jawahir “Ra tega bay” sebagai selogannya.
__

Ia makhluk tuhan juga. Berilah makanan yang sisa, jika tak mampu memberinya makanan istimewa. Jangan pula malah menghardik dan memukulnya. Bisa jadi, hal yang sepele itu bisa menyelamatkan kita serta mendapat rahmatNYA…
SETIAP minggu, di kampung kita sering ngaji. Biasanya yang dikaji itu ilmu fiqih. Dengan kata lain, kita berusaha belajar bagaimana ibadah mahdhah kita sesuai dengan kaidah ilmu fiqih. Padahal, ilmu fiqih itu ranahnya furuiyah (cabang). Ini terbukti dengan empat imam yang diakui; seperti Imam Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Hanafi.
Perbedaan tata cara shalat misalnya, setiap imam itu punya pendapat sendiri-sendiri, sehingga berbeda dengan imam yang lainnya. Dari niat saja, sudah banyak perbedaannya. Ada yang harus dilafalkan dengan lisan atau cukup dalam hati, sampai ke perbedaan yang pake qunut atau yang tidak dan banyak lagi.
Pengajaran ini memang baik dan bermanfat, tetapi kajian muamalahnya malah jarang diajarkan. Misalnya, hal-hal dalam kehidupan antara manusia dengan makhluk lain juga harus dikaji. Tidak sekedar masalah hablun minallahnya saja yang dipelajari.
Dalam istilah umum itu dikenal dengan “ngaji diri”. Mengkaji hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan hewan, manusia dengan tumbuhan, bahkan manusia dengan alam. Dengan demikian, tidaknya aspek ibadah mahdhah saja yang dipelajari, tetapi ibadah ghairu mahdhah juga dipelajari.
Harapannya bisa seimbang. Contoh kecil yang ini misalnya. Kucing itu makhluk ciptaan Allah juga. Berilah makanan sisa, jika tak mampu memberinya makanan istimewa. Jangan pula malah menghardik dan memukulnya. Bisa jadi, hal yang sepele itu bisa menyelamatkan kita dan dapat rahmatNYA, sehingga masuk syurga.
Kita pasti memukul atau marah sejadi-jadinya, ketika ada kucing yang mencuri ikan di meja makan. Apakah lantas tindakan itu dibenarkan? Apakah agama membolehkan atau tidak? Jika sejenak kita renungi, sebenarnya kucing itu hanya hewan. Ia tidak tahu mana yang boleh dan tidak yang boleh.
Harusnya kita paham dan mengerti, jika ia juga punya perut dan rasa lapar. Tapi tidak punya pikiran seperti manusia. Manusia saja kalau lapar, pasti mencari makanan yang bisa dimakan, bahkan tak peduli dari mana makanan itu berasal dan bagaimana caranya.

____


Duhai sang Nabi
Penyejuk hatiku
Kami semua selalu rindu,
Betapa hasrat ingin bertemu.
Datanglah…
Wahai sang kekasihku
Hadirlah dalam mimpi indahku
Kumpulkan kami dan keluarga
Bersama Nabi kekal di syurga…

Lirik shalawat di atas, adalah penggalan atau bagian dari shalawat Ya Rasulullah. Dimana, ketika melantunkan atau mendengar shalawat ini, hati bergemuruh dan tak terasa air mata ini selalu menetes.
Aku rindu, rindu ingin bertemu kekasihku. Pujaanku..
Begitu juga ketika menulis ini, mata mulai berkaca-kaca dan berlinangan air mata. Seolah air mata ini akan tumpah tak terbendung.
Ya, semenjak kembali aktif ke majelis shalawat di jalan ring road utara, ada perbedaan signifikan yang kurasa. Dulu aktif juga karena diajak teman, tapi kini inisiatif sendiri. Alhamdulillah.
___





Berani Mengusik

JANGAN berani mengusik kehidupan orang lain, jika hidupnya sendiri juga tidak sudi diusik oleh orang lain. Jangan kebalik bung, maunya ngusik saja, giliran diusik malah marah. Seharusnya ya ngaca dulu deh.
Seenaknya nyerocos, menjelekan orang, begini dan begitu. Giliran dirinya dijelekan juga, seolah tidak terima. Gini ajah deh, siapa yang mendzolimi maka akan didzolimi juga. Itu rumusnya, dicatat ya!
Berani bermain api, maka harus siap kena bakar. Silakan sesuka anda mau ngomong gimana atau berbuat apa, balasan yang hakiki pasti datang. Mau nyebar isu dan ngomong kejelekan, silakan. Lakukan sepuasnya, bila perlu sampe doer deh tuh bibir.
Sori, kami tak ada waktu buat ngurusin yang demikian. Biar yang di atas saja mecatat dan membalasnya. Terlalu rendah jika kami harus ngurusin yang gak bermutu. Ngurusin kejelekan orang yang sudah jelek…
Kehidupan kami ya begini. Suruh siapa anda usik. Jangan bangunkan singa yang sedang tidur, jika anda belum siap dengan resikonya. (Digubah dari gubahan yang semestinya).
____


Menjaga Jantung

JANTUNG adalah organ tubuh yang bekerja memompa darah keseluruh tubuh. Semua makhluk hidup yang bernafas, memiliki jantung. Jantung merupakan organ inti yang harus dijaga.
Hari ini diperingati sebagai hari jantung. Hal ini diharapkan agar manusia bisa menyadari akan kesehatan jantung dan menjaga pola hidup sehat. Jika jantung sudah kena, dan organ inti sudah tidak fit, bisa bahaya. Salah satu jalan yang harus dilakukan ialah oprasi.
Mesin kendaraan saja, jika sudah bermasalah, biasanya harus dibongkar semua. Dibuka mesinya dan dubersihkan semua. Waktu yang diperlukan tidak sedikit, sebab banyak yang dibongkar dan kembali disusunnya lumayan memakan waktu.
Begitu juga dengan mesinnya manusia. Meski manusia memiliki ruh, tetapi secara sunnatullahnya ruh itu butuh jasad yang benar-benar baik (baca: sehat). Itulah kenapa ada namanya kematian, karena fungsi-fungsi jasad itu terbatas dan ada masa berakhirnya (fana).
Ketika diberikan kesehatan, apa yang kita lakukan dengan kesehatan tersebut? Berapa banyak kebaikan yang mampu dilakukan, dan keburukan seberapa sering? Atau malah yang mendominasi keburukannya. Jika demikian, berarti kita telah berbuat dzalim terhadap diri sendiri.
Diberikan kesehatan, tetapi tidak bersyukur dan kufur. Diperintahkan untuk melakukan banyak beribadah (perintah Allah), malah banyak melanggarnya. Giliran mati, eh maunya masuk syurga. Halah, ngaca dulu braaay.
Jantung itu terasa berdetak, ketika tiap detakan itu kita barengi dengan dzikir, tasbih dan tahmid, maka bukan tidak mungkin seluruh langkah dan gerak hidup ini selalu di jalan sangkhalik. Kalau sudah demikian dan ajal menjemput, insya Allah mati dalam keadaan khusnul khatimah.
Di rumah sakit, ada alat yang bernama kejut jantung. Ini berfungsi untuk mengejutkan jantung seseorang yang tiba-tiba tak lagi berdenyut. Biasanya ketika menjelang kematian, untuk memastikan jika jantungnya tak dapat lagi bekerja. Ketika itu, darah pun berhenti mengalir pula.
___



LIGA vs NYAWA

Saya mengikuti betul informasi tentang dunia sepak bola baik yang lokal maupun internasional. Bahkan saya juga sempat membaca postingan Kang Emil terkait pertandingan Persib dan Persija di fanspagenya.
Kemenangan tipis yang diraih Persib di penghujung pertandingan membuat para bobotoh sumringah bahagia. Tetapi kebahagiaan itu memiliki cacat dan sekaligus duka mendalam.
Sebagai penikmat sepak bola, baik virtual maupun nyata, tentu saya merasa prihatin dengan kejadian kemain malam. Tragis dan amat disayangkan, dalam video itu ada aksi anak-anak yang ikut memukuli korban.
Jelas ini tindakan biadab. Penduduk Indonesia yang terkanal dengan budaya senyum dan keramahannya ini, harus mengajarkan seorang anak kecil terlibat dalam kasus pembunuhan. Mau jadi apa ia kelak ketika dewasa?
Kepada para pemakai dunia maya, stop menebar video tersebut, jika anda melakukan hal demikian, berarti secara tidak langsung ikut mengajarkan budaya kekerasan pada orang lain. So, cukup tahu dan biarkan pihak terkait yang menanganinya.
Kira-kira siapakah orangtua si anak tersebut? Apakah yang dirasakan orangtuanya ketika menyaksikan video tersebut dan melihat aksi anaknya ketika itu? Secara tidak langsung, sebagai orang tua, tentu telah gagal mendidik anak.
Sekali lagi sangat disayangkan dan tidak sepatutnya terjadi. Apa sih yang didapatkan dari yang namanya supporter? Alih-alih mempertahankan harga diri, harga diri yang mana? Harga diri siapa?
Yuk bebenah diri. Semua kudu belajar dewasa dan berpikir jernih. Saya sepakat dengan kalimat akhir Kang Emil, “Jika harus berakhir dengan nyawa, mendingan tak usah ada laga…”
Tulisan ini awalnya dishare di Facebook.



HARI RADIO REPUBLIK INDONESIA

Radio merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebab salah satu penyalur informasi yang digunakan kala itu merupakan cara yang paling efektif. Melalui radio pula, semangat nasionalis ini dibentuk dan dibangun. Berkat radio pula, semangat Bung Tomo di Surabaya menggelegar dalam melawan penjajah serta menyemangati para pejuang yang lainnya. Sungguh besar jasa radio bagi negri ini.
Sebagai manusia yang terus berpikir, rupanya pengembangan yang awalnya hanya berupa suara ini terus bergerak dan berubah melalui tampilan atau visual. Sehingga tidak lagi mendengar suara, tetapi sudah bisa menyaksikan gerak bahkan gambar siapa yang berbicara. Inilah teknologi, yang semakin ke depan akan semakin maju lagi.
Dulu melihat televisi hanya lewat benda yang ukurannya besar dan dinamai televisi. Saat ini, fungisi televisi sudah tergantikan dengan gawai. Tampilan suara, gambar, gerak dan video sudah bisa dinikmati dalam genggaman alias dalam gawai. Sehingga apapun sudah ada ditangan. Istilah “dunia dalam genggaman” memang betul adanya. Jarak tidak lagi menjadi masalah apalagi hambatan. Cukup buka gawai dan sambungkan.
Kemajuan apa lagi yang akan manusia ciptakan nanti. Dengan sederet kemajuan tersebut. Fungsi radio sepertinya sudah mulai tergerus. Beda ketika era 80an dimana radio sedang tenar-tenarnya. Banyak yang kini terkenal sebagai artis, dulunya adalah sebagai seorang penyiar radio.
Terlebih adanya youtube merupakan tawaran yang menggiurkan untuk orang belajar secara otodidak dan menentukan sendiri topiknya sendiri. Jika diperhatikan, youtuber itu hampir mirip dengan penyiar radio, hanya saja radio lebih kepada kekuatan suaranya. Tetapi youtuber lebih menggabungkan aspek suara dan gambar. Sulitan mana? Jelas keduanya sama-sama sulit, sebab harus memiliki skill di bidang itu.
Saya ingat betul ketika masih kecil. Kakak punya saound di kamar. Setiap setelah subuh, ibu menghidupkan sound itu dan menghidupkan radio. Siaran yang dipilih biasanya ceramah Zainudin Mz. Ceramah itu biasa selesai pukul enam pagi. Dengan demikian, saya juga merupakan saksi dimana radio merupakan sebuah pilihan hiburan pada masanya. Tetapi inilah zaman yang semakin maju dan berkembang, bukan tidak mungkin fungsi radio ini akan tergantikan dan terlupakan. Stasiun radio yang dibangun itu akan tutup dengan sendirinya.
Hari Radio Republik Indonesia (RRI) diperingati setiap tanggal 11 september. Selamat hari radio.
Amha, ngaji di UII

__


MAKANAN itu kebutuhan bagi tubuh untuk menggerakan anggota badan. Dengan kata lain, makanan adalah sumber energi bagi tubuh manusia, hewan dan tumbuhan. Jika tidak makan dalam jangka panjang, maka yang terjadi adalah melemahnya fungsi semua organ.
Untuk itu, makan itu sangat dianjurkan. Ibadah puasa juga disudahi atau ditutup dengan makan. Agar badan kembali fit setelah dijeda menerima asupan energi. Kalau handphon itu harus dicas agar batrenya bisa penuh lagi, dan dapat dipergunakan untuk membuka aplikasi.
Kalau makanan, biasanya berurusan dengan perut. Apalagi jika sudah lapar, apapun yang bisa dimakan pasti dicari untuk mengganjal perut. Penulis pernah makan mie yang dicampur air hujan. Ketika itu sedang hujan deras dan sudah hampir imsak juga.
Atas desakan itu, maka langkah nekatpun diambil. Jika mie dimakan mentah, air minumnya harus nyari lagi. Biar gak ribet dan sekalian dapat minumnya juga, yaudah deh pake air hujan. Hasilnya, rasa tetap sama dan mirip kayak makan pilus pake air sambel.
Selezat dan senikmat apapun maknan, jika badannya tidak sehat, maka rasa makanan akan sama; semua menjadi tidak enak. Sekali lagi, bukan makanan yang bermasalah, tetapi diri kitanya. Begitu juga dengan hidup ini, masalah itu ibarat makanan, kadang hidup kita tak selamanya sehat.
Ketika dapat masalah dan keadaan diri tidak fit, maka masalah akan terasa pahit lagi getir. Tetapi jika posisi diri sedang baik, rasanya masalah seberat apapun terasa nikmat.
Intinya, bagaimana kita bisa menjaga diri untuk terus dalam kondisi fit/sehat, agar terbiasa melahap masalah itu senikmat mungkin…
__Amha
Condongcatur, nunggu giliran nyuci.

#

Kata Imam Ghazali ada 3 tipe manusia. Tipe makanan, tipe obat, & tipe penyakit. Carilah teman yang jujur, soleh, paling baik akhlaknya, dan teman yang tidak tamak dunia.
____

Bingung mau memulai dari mana tulisan ini. Biar enak dan mudah, Saya coba ambil dari quote di atas. Quote ini didapat ketika ngaji filsafat di MJS (masjid jendral sudirman) di dekat Demangan - Jogja.
Pertama, manusia tipe makanan. Yaitu tipe yang selalu dibutuhkan oleh semua orang. Keberadaanya selalu dicari dan dipakai jasanya. Jadi, manusia bertipe ini jelas memiliki manfaat yang cukup besar di tengah-tengah masyarakat.
Kedua, tipe obat, maksudnya yaitu manusia yang dibutuhkan ketika keadaan tertentu saja. Obat itukan dibutuhkan ketika kita sakit, jika sedang sehat, ya tidak dibutuhkan. Fungsi obat memang demikian.
Ketiga, tipe penyakit. Dibenci, dihindari dan sebesar apapun biayanya pasti dibayar, agar sang penyakit ini bisa hilang. Jika ada manusia yang seperti ini berarti kehadirannya hanya membuat orang di sekitarnya tidak nyaman dan merasa terancam. Ini bahaya!
Ketiga tipe manusia ini ada di sekitar kita. Untuk itu, maka sebisa mungkin memilah dan memilih untuk dujadikan teman. Teman yang baik, merupakan cermin dari diri yang baik. Begitu juga sebaliknya, ketika tidak baik, lihat saja siapa temannya.
Carilah teman yang baik. Atau yang bisa mengingatkan kala kita salah dan saling menasehati dalam kesabaran. Salah satu indikator teman yang baik adalah ia yang tidak tamak dunia, ia akan memberi pengaruh pada teman yang lainnya untuk berperilaku demikian.
Sosok orang yang tidak tamak dunia yaitu meski mendapatkan yang lebih, ia tidak serta merta mengambil semuanya. Ia hanya mengambil seperlunya saja dan tidak memiliki keinginan untuk menumpuk-numpuknya. Rasanya sulit untuk menemukannya, tetapi nyatanya ada kok.
NB. Ternyata tiga tipe manusia ini, penulis temukan di dalan kitab Talimul Muta'alaim.
_____


Pada zaman dahulu, ada seorang Syaikh yang sedari lahir sampai dewasa tidak pernah kenal dengan dosa. Orang tua benar-benar menjaganya kala itu, sesudah ortu tiada pun ia tetap tak kenal dosa. Bahkan ia tak punya pekerjaan, makannya rerumputan, dan dari sisa makanan orang yang dibuang. Ia hanya fokus beribadah saja.
Seperti pada manusia pada umumnya, ia pun meninggal dunia.
Tapi syaikh ini konon dihidupkan kembali. Sebab kriteria syurga tidak untuknya, begitupun dengan neraka yang kriterianya sudah cukup jelas. Atas ketiadaan kritetia inilah akhirnya ia dihidupkan kembali. Dan orang yang tahu akan kematiannya terheran-heran dan bertanya-tanya.
Ketika ditanya, ia memberikan jawaban demikian. “Bukankah orang yang pantas di syurga itu bagi mereka yang bertarung di dunia, hingga bisa mengalahkannya dan ia tetap baik. Begitu juga sebaliknya, ketika ia kalah dan dikuasai oleh dunia, maka ia berhak masuk neraka.”
__


Si Donal Bebek

Donal Bebek itu selalu dapat sial dan kalah dari sepupunya. Tapi, Donal beruntung punya tiga orang keponakan; Kwak, Kwik, dan Kwek yang selalu setia membantunya.
Sepupu Donal terkenal dengan keberuntungannya. Itulah alasan dia diberi nama Si Untung. Suatu ketika, Donal rela keluar uang banyak untuk membeli peralatan pancing dan kapal kecil. Sedangkan sepupunya itu, hanya di dermaga, jorannya pun dari ranting pohon. Setengah hari kemudian, Donal tak dapat ikan satu pun, tapi Si Untung dapat ikan banyak, bahkan dapat ikan sebesar badannya.
Donal hanya dapat sepatu bekas dan botol bekas. Umpan yang ia beli mahal, rupanya tidak memberikan jaminan. Nasibnya tetap tak seberuntung Sang Sepupu. Ternyata botol usang itu berisi peta harta karun milik sang konglomerat yang meninggalkan kekayaannya puluhan tahun silam.
Isi peta harta karun bocor dan Si Untung pun merasa tetarik dengan misi ini. Di saat Donal dan tiga keponakan sudah naik kapal kecil untuk tiba di petunjuk awal. Eh, sepupunya hanya santai saja. Tiba-tiba ada kapal pribadi yang menawarkan tumpangan dan kapal itu siap mengantarnya kemana pun ia suka.
Begitu di tengah lautan, bertemu Donal dan keponakannya. Ia melambaikan tangan sambil mengucapkan selamat jalan. Ini, lagi-lagi ketidakberuntungan Donal. Semakin jauh-jauh kapal pribadi itu meninggalkan perahu kecil mereka.
Rupanya kapal pribadi yang dinaiki Untung, tiba-tiba mogok. Mesinnya mati atau karena kehabisan bahan bakar. Donal kembali semangat dan memacu kapal kecilnya. Sepupu Donal yang merasa keberuntungannya sudah habis, memilih memancing sambil menunggu bantuan datang. Tiba-tiba pancingannya dimakan paus dan seketika kapalnya melaju mengarah ke kota yang akan dituju. Melihat hal itu, Donal pun kembali lesu.
Sang Paus terus menarik kapal Si Untung hingga melewati kota yang menjadi tujuannya. Donal kembali semangat dan seolah keberuntungan akan berpihak padanya. Teka teki peta harta karun yang harus dipatahkan berada di sekitar patung Liberty.
Dari dinding obor patung liberty, Donal harus memecahkan kalimat misteri yang ada di sana. Perburuan dan petualangan dimulai. Sementara Sang Sepupu terdampar ke sebuah pulau kecil. Di sana ia bertemu bapak-bapak yang tidak ia kenali, dan berusaha peduli padanya.
Pak tua itu sebenarnya sang konglomerat yang dicari Donal. Hanya saja ia, tidak menyadari bahwa lelaki tua itu yang meninggalkan kekayaannya dan ingin mengasingkan diri. Adapun Donal dan keponakan harus menjelajah beberapa negara untuk menemukan teka teki petunjuk yang dibuat sang konglomerat.
Dengan kata lain, Donal dan keponakan harus rela berjuang untuk bisa nenemukan sesuatu. Dan yang akhirnya teka-teki membawa Donal ke pulau kecil itu, bertemu dengan sang konglomerat. Setelah Donal sampai ke tempat itu, baru Untung menyadarinya. Tapi, sudah telat dan terlambat. Donallah yang akhirnya berhak mendapat harta karun tersebut.

AMHA, diadaptasi dari sebuah novel disney.
____


Di suatu pagi, ada seorang Kiai yang akan menguji para santri-santrinya. Semua santri dikumpulkan, lalu disuruhlah seorang santri untuk mengisi gelas kosong dengan air keran.
Lalu Sang Kiai berbicara di depan para santrinya: “Siapa yang dapat bewudhu, cukup dengan air satu gelas ini…” Para santri yang lain saling menoleh ke sebelah kanan dan kirinya.
Lalu berdirilah santri yang paling tua. “Saya akan coba Pak Kiai..” sambil berjalan menghampiri gelas yang berisi air. Dengan mengucap bismillah, santri veteran tersebut mengambil gelas yang berada di hadapan Sang Guru.
Sedikit demi sedikit ia tuangkan ke wajahnya. Lalu ke tangan, rambut dan kaki. Setelah selesai, Sang Kiai mengucapkan pujiannya. “Alhamdulillah, Bagus…”
Lalu dari belakang ada santri yang mengangkat tangan. “Pak Kiai, saya bisa wudhu dengan air hanya setengah gelas, atau bahkan tidak sampai…” Sang Kiai merasa penasaran dengan santrinya ini.
“Santri tertua saja sedikit kesulitan dengan air segelas, kok ini santri masih junior tapi berani dan cukup percaya diri.” Gumam Kiai dalam hati. “Kalau demikian, silakan tunjukkan caranya pada kami..” lanjut Sang Kiai.
Santri tadi izin ke kamar sebentar untuk mengambil sesuatu. Sementara salah seorang santri disuruh untuk mengisi gelas tadi dengan air dan hanya setengah saja.
Ternyata santri tadi mengambil sebuah botol bekas minyak wangi yang disemprot. Tampaknya botol itu sudah bersih dicuci dan kosong. Lalu dituangkanlah air dari gelas tersebut ke botol.
Ia tinggal menekan tuasnya dan air pun keluar. Air yang kelur dari lubang kecil itu diarahkan ke anggota wudhu. Ia wudhu seperti biasanya dan seperti santri veteran sebelumnya juga.
Begitu selesai, air di botol tadi masih tersisa cukup banyak. Melihat apa yang dilakukan santri junior, Sang Kiai pun merasa sangat puas. Santri tersebut pun mendapat pujian luar biasa dari Pimpinan Pesantren tempat ia belajar. [ ]

AMHA
Condongcatur, DIY
___


Ziarah Keliling

Setiap kamis malam, atau biasa disebut malam jumat. Kami sering mengagendakan untuk ziarah kubur. Selain untuk mengingat mati, kami juga mengambil kisah hidup dari siapa yang kami ziarahi.
Malam jumat pertama kami ziarah ke makam Sunan Pandan Aran di daerah Bayat. Malam jumat kedua, kami ziarah ke makam Mbah Kiai Nur Iman, Patok Negoro di Mlangi. Malam keempat ziarah ke makam Mbah Mufid Di Ponpes Sunan Pandan Aran konplek tiga, Kaliurang km.12.
Minggu keemat rencananya mau ke makam Mbah Ali Maksum. Eh, ndilalah ternyata sang kawan diajak teman yang lain untuk ziarah ke makam Gusdur Jombang. Agenda kami pun untuk sementara dikensel. Insya Allah dilanjut minggu depan.
Aku dan Iqbal sengaja mengagendakan kegiatan ini. Selain mengisi waktu senggang, kami juga sedang mencari spiritualitas yang selama ini masih berserakan. Tapi bagiku, ini merupakan perjalanan spritualitas dan sekaligus perjalanan sejarah.
Bagaimana pun kapan lagi bisa jalan bareng dengan calon doktor muda, aktif meneliti dan juga hati-hati dalam hal makanan. Jika sesuatu yang subhat, ia akan meninggalkannya. Tak hanya itu amaliah ibadah sunnahnya keren, puasanya juga, kalo pinternya sudah pastilah.
Kalo gak pinter, mana mungkin bisa lolos beasiswa LPDP yang sebentar lagi dijalaninya. Sebelum sibuk makanya acara ini kami agendakan sedari sekarang.
_



Sekitar awal tahun 2010 silam, kulangkahkan kaki ke sebelah selatan daerah Banten. Tepatnya di kecamatan Bayah. Bukan tanpa tujuan, kaki ini kupijakkan ke daerah sana. Namun ada hal yang penting, terutama mengenai permasalahan hati.
Pagi-pagi sekali kuberangkat dari rumah. Ketika itu, aku naik angkot hitam yang biasa mengangkut ibu-ibu dan para penghasil kebun untuk dibawa ke pasar. Tapi aku berhenti di Karangtanjung, tepatnya dipertigaan jalan Kadu Banen.
Kutunggu mobil jurusan Malingping. Ini adalah perjalanan ketigaku, menuju tempat asing yang sama sekali belum pernah kukunjungi sebelumnya. Pertama, ke Jakarta. Lalu yang kedua ke Yogyakarta. Semuanya hanya bermodal alamat dan berani nekat.
Stelah beberapa jam, aku tiba di Malingping. Di daerah Malingping kutanyakan lagi arah terdekat ke tempat yang akan kutuju itu naik apa saja dan jurusan mana. Akhirnya petunjuk itu didapat, dan Aku naik angkot sampai Panggarangan. Seingatku itu juga sih.
Setelah tanya-tanya ke supir angkot, ditunjukkanlah jalan pintas. Aku sih percaya saja, dan diturunkan di pertigaan yang cukup sepi dan hanya ada beberapa ojek. Setelah aku tunjukkan alamat yang aku punya, mereka tahu dan paham betul.
Tapi, harga ojeknya itu yang bikin menguras. Setelah deal-dealan dengan tukang ojek, akhirnya disepakati. Aku dibawa menyusuri bukit dan jalan yang cukup sepi dan jalannya juga lumayan menantang. Wajar jika ongkosnya lumayan mahal ketika itu.
Aku tiba di sebuah kampung, namanya Kampung Jatake. Bapak Soleman atau Bapak Eman itulah yang aku tuju. Setelah tanya-tanya, aku ditunjukkan bahwa rumahnya dekat masjid, tepat sebelah atas masjid. Dari warga sekitar juga, aku baru tahu jika beliau seorang Ustad.
Beruntung, di sana aku sempat disambut Aa Dede. Kami kenal ketika a Dede masih mondok di Rangkas. Jadinya, aku pun bisa lebih akrab dan bisa ngobrol banyak. Bahkan selama dua hari _kalau tidak salah_ juga, sempat menginap di sana. Meski ada rasa tidak enak hati dan merepotkan, ya mau gimana lagi.
Hari ketiga aku pun memutuskan untuk pamitan. Sepulang dari Bayah, banyak pelajaran yang kudapat. Aku juga berjanji pada diriku untuk jadi orang yang lebih baik. Tujuan awalku memang hanya karena sekedar ingin mendengar sebuah alasan, tak lebih.
Mobil dari Bayah, mengantarku tiba di terminal Mandala - Rangkasbitung. Dari sana ku naik mobil jurusan Bogor dan turun di daerah BTN Kopi, atau kopi. Kala itu waktu sudah sekitar pukul 17.00 wib. Hingga rumah yang kutuju pun ditemukkan.
Orang yang aku cari pun ada. Meski awalnya sempat tak sadar akan kehadiranku. Setelah duduk dan kutanya, tak butuh waktu lama. Jika tidak salah hanya 15 menit. Sesuai tujuan awalku, aku hanya ingin mendengar alasan dan jawaban. Semua sudah kudengar, urusanku kuanggap sudah selesai.
Kutinggalkan perumahan BTN Korpri, bersama itu pula kutinggalkan masa laluku, kisahku, bahkan kenanganku. Kecewa, marah, gundah, dan tak percaya semuanya menjadi satu. Tapi, ya mau bagaimana pun aku tak mampu berbuat apa-apa. Itu sudah menjadi hak dan keputusannya. Aku hanya bisa pasrah.

Pringulung, menjelang subuh.
04:18 10/08/17
_____


Kualitas Facebook Seseorang

Saya kenal facebook 2009 dan ketika itu saya juga buat akun. Saya mengalami banyak hal dalam perkebangan facebook. Terutama dalam hal tampilan, tombol pendukung, hingga ke bentuk/model yang sekarang.
Dari facebook juga saya paham akan bahaya dunia maya. Pemahaman itu muncul, karena pada tahun 2009 sudah banyak orang yang menjadi korban fb. Meski tidak separah seperti saat ini.
Awal punya fb, mirip banget kayak pas awal-awal punya handphone. Pas awal punya handphone semua nomor diisengi, diteleponin, kalo ada geratisan tak segan untuk ditelepon. Ngetik nomor acak, terus kalau yang angkat perempuan diajak kenalan, tapi kalau cowok ya langsung dimatikan.
Costumer servis cewek, malah sering jadi korbannya. Iseng tanya-tanya dan ngajak kenalan ujungnya. Meski sang customer merasa sebal akhirnya dan menutup telpon sebelum obrolan selesai. Lucu pokoknya jika dikenang, haaaa…
Sama halnya ketika punya fb, semua orang ditambahkan sebagai teman, sebanyak-banyaknya kalau perlu. Tak peduli siapa mereka dan apa pekerjaannya, asal tambahkan saja yang lain-lain bisa belakangan. Dulu sih masih bebas tidak seperti sekarang.
Seiring jalannya waktu, akhirnya bisa kirim pesan lewat inbok, bisa kirim gambar, terus bisa videocall dan akhirnya seperti saat ini. Biasa buat grup, fanspage juga. Hanya saja sekarang lebih hebat dan aksesnya juga lebih kuat. Tidak seperti dulu, mudah banget untuk dibobol.
Saya, pernah meng-hack fb orang lain yang tidak saya kenali bermodalkan alamat email yang bersangkutan. Kini, berlapis-lapis perlindungannya. Jadinya lebih sulit untuk dibobol deh.
So, bagi pemilik akun fb pemula dan yang updetnya untuk selfie sendiri, pamer kekayaan, atau pamer yang lainnya, kalo bisa ya distop. Saya juga gak gitu-gitu amat pas awal punya fb. Atau latar belakang pendidikan itu memang memengaruhi seseorang dalam menggunakan facebook ya?
Contoh sederhana, perilaku facebook seseorang dinilai dari jenjang lulusan pendidikannya. Misal, lulusan SD beda dengan lulusan SMP, lalu berbeda juga dengan lulusan SMA bahkan dengan lulusan universitas. Tapi, kayaknya tidak ada bedanya sih. Soalnya masih banyak yang katanya lulusan universitas, tapi gaya facebooknya kayak anak SD.
_


Profil Kawe

Setiap barang yang dimiliki saat ini pasti memiliki tiruannya, atau setidaknya ada tingkatan mutunya. Produknya asli biasanya lebih mahal, kualitasnya juga sangat baik dan lebih terjamin.
Sedangkan yang kualitasnya tidak sebaik dan sebagus produk asli, biasanya kita sebut dengan kawe (KW). Adapun untuk harganya, yang kw biasanya berbeda. Pasti lebih murah, terus diragukan juga kualitasnya.
Ada orang yang punya prinsip, kalau barang yang ia beli harus asli dan anti kw. Mahal tak lagi masalah, sebab mahal itu menunjukan kualitas dan kekuatan suatu barang.
Buat apa beli yang murah tapi kegunaannya hanya sebentar, lebih baik mahal tapi awet. Demikian alasan yang disampaikan kepada teman-temannya bagi yang terbiasa anti kawe.
Kalau kita memilih pasangan, pilih yang mana? Memilih yang asli apa yang kawe?
Tidak sedikit yang dapat pasangan awal kenalnya dari facebook dan akhirnya langsung jadian. Lalu berakhir dengan perpisahan setelah pertemuan di dunia nyata.
Alasannya karena foto yang ditampilkan di facebook kebanyakan kw, alias tidak menggunakan foto asli. Mungkin di foto profilnya tampak cantik, nyatanya setelah ketemuan dan melihat aslinya langsung berbanding terbalik dengan bentuk foto profil facebooknya. Nah lho..?
Peristiwa ini bukan rahasia lagi, tetapi sudah menjadi hal yang lumrah. Untuk itu, silakan tampilkan apa adanya dan seasli mungkin, ketika berfose atau menggambil gambar untuk dishare ke facebook.
Terus usahakan jangan yang bagus-bagus saja, tapi yang tidak bagus juga ikut diupload kesana. Biar bisa mengimbangi penilaian orang yang akan memberi nilai, sehingga hasilnya bisa lebih objektif.
Segala sesuatu yang diawali dengan sebuah kebohongan, akan berakhir dengan ketidakpastian atau kehancuran. Tetapi, jika sesuatu diawali dengan kejujuran, semuanya akan berjalan dengan baik, apa adanya, dan bahkan tanpa beban.
Untuk itu, yuk tampil apa adanya dan jadilah diri sendiri. Tanpa harus peduli akan ucapan orang lain, atau mendengar cemoohan orang lain. Terlebih yang kita lakukan tidak bertentangan dengan asas keagamaan dan kebiasaan.
Sampai ada orang yang berani mengucapkan: “Gue suka dengan gaya lo..” Kata-kata itu pasti kan didapat kala kita bisa tampil apa adanya dan menjadi diri sendiri. Bukan malah menjadi orang lain, apalagi sekedar hanya ikut-ikutan teman saja.
_


Sudah Bahagia Belum?
Tanya jawab kebahagiaan :

1. Dengan skala 1-10, berapakah nilai kebahagiaan yang kamu rasakan sekarang?
2. Dimanakah kamu selalu bisa merasakan bahagia?
3. Kapan kamu selalu merasa bahagia?
4. Berasal dari manakah kebahagiaanmu?
5. Peristiwa apakah yang membuatmu merasa paling bahagia selama hidup ini?
6. Bagaimana caranya sehingga kamu bisa merasa bahagaia? Apa yang kamu lakukan?
7. Apakah kebahagiaan itu? Apa arti kebahagiaan menirutmu?
8. Apakah satu kata yang muncul di pikiranmu saat mendengar kata kebahagiaan?
9. Seandainya kamu diminta menyebutkan 1 hal yang terkandung dalam kebahagiaan, apakah itu??
10. Peristiwa apakah yang berhasil membuatmu menyadari bahwa kebahagiaan itu penting dalam hidup ini?
11. Siapakah yang selama ini kamu anggap sebagai orang yang bahagia?
12. Siapakah yang ingin kamu ajak menemanimu saat kamu merasa bahagia?
13. Jika kamu diberi kemampuan menciptakan kebahagiaan umat manusia, apa yang akan kamu ciptakan?

_buku: sejnak henging, adjie silarus.
#


Minyak wangi bagi sebagian orang merupakan kebutuhan skunder, sehingga rela mencari dan memilih aroma tertentu yang pas untuk dirinya meskipun jauh letak dan jaraknya. Campuran alkoholnya macam-macam, mulai dari lima puluh lima puluh, tujuh puluh tiga puluh, atau seratus persen murni tanpa campuran alkohol. Itukan selera, dan harganya juga pasti berbeda-beda.
Tadi siang, tepatnya mau shalat jumat. Sang kawan menunjukan minyak wanginya. Mungkin maksudnya hanya sekedar menunjukan dan menyuruhku untuk sekedar mencicipi harum baunya saja. Tapi, aku malah mengoleskan ke baju kemko setelah mencium baunya.
Sontak sang kawan tadi langsung bergerak dan mau mengambil, ternyata gerakanku kalah cepat dan dua garis bekas goresan minyak wangi sudah menempel jelas di kemkoku. “Huh kang, tuh jadi keliatan banget itu bekasnya..” dengan nada sedikit kecewa. “Aku juga paling pake cuma gini kok..” sambil mengoleskan minyak wangi ke tangan dan diusap-usapkan ke badan.
Perasaanku tak ada masalah dengan itu, terutama ketika kejadian itu. Tetapi setelah berangkat ke masjid dan shalat sunah, pikiranku mulai berkontemplasi ria. Di situ pikiranku tertuju pada kejadian minyak wangi tadi. “Bisa jadi itu minyak wanginya mahal. Bisa jadi juga itu murni, gak dicampur alkohol..” demikian pikiranku berbicara dalam hati.
“Jika minyak wangi biasa, mana mungkin sekhawatir dan sekecwa itu (meskipun hanya tampak sedikit kecewa)”. Kata temanku yang penikmat parfum, semakin sedikit campuran alkoholnya ya jelas, semakin mahal. Terbukti betul, hingga tulisan ini dibuat, bau harum seperti permen karet masih begitu jelas di kemko.
Jika dirupiahkan dan dihitung pake skala mililiter, wah kira-kira sudah berapa rupiah yang kuambil dari harga minyak wangi tersebut? Satu botol kecil ukuran 100 mili, ya tinggal dikalikan saja totalnya. Aku sudah ngerampok orang lain, hanya saja caranya berbeda. Kontemplasi hal-hal yang sederhana, kadang membuatku jadi lebih hati-hati dan berusaha untuk jadi lebih baik.
Jangan tiru sifatku yang jelek dan buruk ini ya. Lalu, saranku jangan gengsi untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan. Jika sudah demikian, maka tinggal diserahkan kepada sang mahakuasa. Dan tak semua kejadian melalui kontemplasi, sehingga banyak juga yang terlewatkan. Maklumlah, hanya manusia biasa dan penuh khililaf dan dosa.

Allahu'alambisshowab.
Nologaten, 18.40
_____



“Untung tak dikira, malang tak dinyana…”
Demikian ungkapan yang tepat untuk peristiwa yang dialami salah seorang Sahbat Nabi Muhammad SAW yang bernama Suhail bin Amru dan istrinya,r ketika dirampok dalam sebuah perjalanan.
Setelah harta dan makanan diambil, mereka dilepaskan. Tapi Suhail dan istri tetap mengikuti para perampok itu secara perlahan dari belakang, hingga behentilah mereka di suatu tempat.
Mereka mebagikan hasil rampokannya. Dan memakan makanannya. Tapi Suhail tertuju perhatiannya kepada sang pemimpon gerombolan ini. Dia hanya duduk dan tidak ikut makan dengan yang lainnya.
Akhirnya Suhail berinisiatif untuk mendekatinya dan bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut makan bersama mereka?..” tanya Suhail. Pemimpin itu menjawab, “Aku puasa..”
Suhail kaget dan berkata, “Bagaimana bisa, engkau merampok tapi berpuasa?..” Dia menjawab, “Aku bermaksiat) tapi aku tetap melazimi satu amal saleh sebagai satu penghubung antara aku dan Allah. Hingga suatu saat nanti aku bisa masuk (mendapat hidayah) melalui pintu itu, kembali kepada Allah.”
Dua tahun berlalu. Suhail berangkat ke Mekah untuk melakukan ibadah haji. Ketika sedang tawaf, melihat lelaki yang mirip dengan pemimpin gerombolan perampok kala itu. Tapi kala itu penampilannya sudah berubah menjadi seorang zuhud dan ahli ibadah.
Mantan pemimpin perampok itu juga mengenali Suhail bin Amru. Maka ia pun mengulang perkataannya yang lampau, “Barangsiapa yang membuat pintu yang menghubungkan kepada Allah, maka suatu saat dia akan masuk lewat pintu tersebut..”
“Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS. Az-Zumar [39] : Ayat 53-54)

Sumber: Majalah Baitul Mal. Edisi 105/Juni 2017.
_


Ibnu ‘Athailah dengan sangat halus mengingatkan kepada kita yang sudah on the track: “Kemaksiatan yang mendatangkan rasa hinaan lebih baik daripada ketaatan yang mendatangkan kesombongan..”
Ungkapan di atas, sekali lagi bukan sebagai dalil pembenaran bagi yang bermaksiat itu boleh. Sekali lagi tidak!!! Ungkapan di atas, hanya berlaku bagi yang rajin dan mengaku dirinya sudah “dekat” dengan sang pengcipta.
Apakah sudah benar-benar dekat, lalu seolah menjadi paling mulia? Paling shaleh, paling ini itu, dan paling semuanya dah. Hati-hati, setan itu banyak cara menjerumuskan. Sebelum melakukan ketaatan setan ganggu, ketika melakukan juga diganggu, bahkan selesai melakukan pun setan dengan halus memuji.
Lalu, ya sudah cukup jelas. Yang menganggap dirinya paling semuanya itu sedang dipuji setan. Diagung-agungkan, disanjung bahwa dirinya lebih baik dari manusia-manusia lain. Terlebih manusia para ahli maksiat yang lainnya. Padahal, yang menentukan manusia baik atau tidak, ketika sakaratul maut.
Jangan terlalu cepat melabeli seseorang dengan A, B, atau C. Boleh jadi saat ini belum dapat hidayah, tetapi suatu saat bisa saja hidayah itu datang sebelum ajal menjemputnya. Lalu yang sudah dapat hidayah, merasa bangga? Oh tidak juga, berhati-hati dan waspada itu penting; apakah nanti matinya membawa iman atau tidak?
Kehati-hatian serta mawas diri merupakan sesuatu yang tidak boleh dilepaskan. Anggap saja saat ini sedang berjalan ditumpukan duri-duri tajam. Jika tidak bisa memilih, maka duri itu akan terinjak. Jika sudah demikian maka kaki terluka dan harus dirawat. Jelas butuh waktu untuk sembuh dan tidak begitu saja normal.
Kita bisa belajar dari keasalahan. Kadang untuk menjadi baik harus melalui tahapan dan deretan keburukan. Batu akik saja harus digali, digosok dan ditempa untuk bisa terlihat mempesona. So, jaga diri dan hati-hati untuk terus mawas diri.(AH/)
Allahu'alam.
_


DINAMIKA KELAHIRANKU

1988 - Terlahir ke dunia. Tapi, tanggal berapanya masih simpang siur. Akhirnya ketika itu tanggal lahir dibuat sembarangan, atau dengan kata lain asal tulis saja. Dan ditambah juga dengan ijazah SD yang raib dimakan si jago merah tahun 2000 silam.
Dengan demikian, lengkaplah sudah. Entah kenapa, data di sekolah SLTP juga hilang, sehingga ketika akan mengikuti Ujian Nasional kepala sekolah memberikan tanggal kelahiran kami yang baru. Tanggal inilah yang dipake dan kini tertera di akta kelahiran dan data kependudukan.
Sebagai seorang yang tak pernah puas, maka proses pencarian tanggal kelahiran yang akurat pun selalu dilakukan. Sumber primer pun diwawancarai dan begitu juga sumber skunder dijadikan tambahan pendukung dalam pencarian data ini.
Kata ibu, “kami lahir hari Sabtu.” Sebab bertepatan dengan bapak-bapak yang pulang kumpulan atau pengajian rutin setiap hari Sabtu pagi. Kegiatan pengajian Sabtu dan malam Jumat masih berlangsung hingga saat ini.
Terus ibu juga bilang, “kami lahir pada bulan Jumadil Akhir.” Dua data ini yang jadi sumber kuat. Hari sabtu dan bulan jumadil akhir dalam bulan hijriayah. Pencarian dilakukan dengan mengacu pada kalender hijriyah di hape nokia jadul.

(Data kalender)* silakan cek di atas.

Awalnya kucari kalender tahun 1407 Hijriyah, atau tahun 1987. Setelah dilihat, ternyata cukup jauh. Bulan Januari yang masuk pada bulan Jumadil Akhir, hanya tiga hari. Tanggal 29, 30 dan 31, selebihnya didominasi oleh bulan Februari.
Setelah dicocokkan dengan data tahun 1988 atau 1408 Hijriyah, barulah tepat. Tanggalnya setengah-setengah, dua minggu masuk ke bukan Januari, sisanya masuk ke bulan Februari.
_____

Setelah ditemukan, di bulan jumadil akhir tahun 1408 itu bertepatan di antara bulan januari dan februari tahun 1988. Tepatnya akhir januari dan februari mendekati akhir. Dan disitu juga ditemukan ada tanggal 31.
Lalu sumber sekunder yang dijadikan data. Yaitu sepupu yang mengatakan : “Ketika bayi tetangga dan adik sepupu baru berumur 5 bulan, kami lahir. Lalu setelah kami berumur 2 bulan setengah, anak sepupu lahir juga.”
Bahkan, kata ibu: “Ketika kami akan lahir dan Ibu Dukun yang biasa dipanggil, sedang berada di kampung Ancol.” Maka, data kelahiran dari Ancol itu jadi acuan terdekat kami. Setelah ditemukan, ternyata tanggal lahirnya 28 Januari 1988.
Sedangkan sepupu yang lahir dua bulan setengah setelah kami lahir, tanggal kelahirannya yaitu 09 Maret 1988. Jika mengacu ke tanggal ini, kami lahir awal-awal Januari harusnya. Tapi data ini malah bertentangan, sebab awal-awal Januari 1988 bukan bulan Jumadil Akhir, tapi Jumadil Awwal.
Sehingga, ketika patokannya bulan Jumadil Akhir dan hari sabtu, dan mendekati kelahiran dari orang Ancol, berarti tanggal 30 Januari 1988 atau 13 Jumadil Akhir 1408. Tanggal ini cukup masuk akal, tapi masih bisa salah juga.
Tapi, bisa juga tanggal 23 Januari 1988 atau 06 Jumadil Akhir, dengan catatan bahwa tanggal lahir orang ancol itu harusnya tanggal 21 Januari 1988 atau 04 Jumadil Akhir 1408. Jika dihitung mundur (dua bulan setengah) dari kelahiran anaknya sepupu yang 09 Maret 1988 atau 23 Rajab 1408 H.

Berasambung…
_


PERNAH lihat pedagang ketoprak, tapi makannya beli ke tukang soto? Atau tukang uduk beli makan ke tempat pecel, atau lain sebagainya.
Intinya, setiap orang yang bekerja di bidang yang ia geluti, pasti merasa bosan. Pernah berpikir jika eskrim itu enak? Tapi bagi pegawai atau pembuat eskrim, itu biasa saja.
Karena sudah biasa dan bosan, maka yang dicari sesuatu yang baru. Seperti tukang jagal, pasti bosan makan daging setiap hari. Bahkan, bawa daging dari tempat kerja jadi malas.
Jangan-jangan, pencipta dan pemiliki Facebook juga merasa bosan dengan fb. Itulah kenapa sang pemilik sendiri malah tidak aktif di facebook.
Lalu, kita yang hanya penikmat facebook, apakah pernah merasa bosan? Atau sampai kapan kebosanan itu akan muncul?
Bisa jadi, pemilik facebook malah memutar otak dan bekrja keras, untuk membuat penikmatnya betah berlama-lama dengan fb. Lalu setelah kita tak bisa lepas dengan dunia maya, maka mereka bisa melakukan apapun.
Bisa saja dibuat tidak lagi gratis. Bisa saja dikenakan tagihan dan biaya lain, atau apalah namanya itu. Hal ini bisa saja terjadi dan dilakukan. So, siap-siap saja dari sekarang.
_


Meniru Rasulullah

Rasulullah hidupnya biasa menahan lapar. Jika di pagi hari ada makanan, rasul makan. Tapi jika tidak ada, rasulullah puasa. Lebih banyak tidak ada makanan, jadi rasulullah banyak berpuasa.
Kalau kita tiap hari menemukan makanan. Jadinya banyak makan, dan tidak terbiasa untuk berpuasa. Jika kebiasaan itu diubah (belajar berpuasa/menahan lapar) apakah kita sanggup?
Inilah cara hidup rasulullah yang sederhana. Bahkan di rumahnya tidak ada makanan. Saking tidak ada makanan, ada pengemis yang datang dan meminta makanan, ketika itu di rumahnya hanya ada tiga butir kurma.
Sekali lagi, hanya tiga butir. Kalau kita hari ini? Apa yang dipunya di dapur? Nasi ada, bahkan berasnya masih banyak di karung dan tinggal digiling kalau sudah habis. Punya lauk, macam-macam menunya. Sayuran dan lalapan, pokoknya lengkap dan banyak.
Lalu masihkah kita bisa menirunya? Rasulullah bukan tidak mampu untuk kaya. Jika beliau mau, tinggal minta dan menumpuknya untuk bekal besok, lusa, bahkan seterusnya. Tetapi kenapa beliau memilih untuk tidak berharta dan sangat sederhana?
_



Kenapa Batu?

Pasti hampir semua orang pernah mendengar istilah “batu loncatan”. Kenapa yang dipakai itu harus kata batu? Kenapa tidak pakai kata papan, kayu, atau tanah sekalian?Padahal kata batu dalam istilah lain itu bekonotasi buruk dan tidak baik. Misalnya
saja, “kepala batu.. ” lalu ada juga dalam pribahasa “ lempar batu sembunyi tangan..”
Sampai saat ini masih bingung, kenapa batu itu dijadikan istilah di atas? Apa karena batu itu keras, sehingga enak untuk dijadikan tempat meloncat. Atau ada alasan yang lain?
Ada juga juga pribahasa yang sangat baik tentang batu. “Belajar di waktu kecil, bagai mengukir di atas batu. Sedangkan belajar di wktu dewasa bagai mengukir di atas air..”
Atau salah satu ulama terkenal dan hebat luar biasa. Beliau adalah Ibnu Hajar al-Asqalani. Kenapa beliau mendapat julukan anak batu? Ya, karena dulu beliau putus asa dalam belajar dan memutuskan untuk pulang. Tapi di perjalanan pulang, beliau menemukan batu yang berlubang akibat teteasan air.
Dari situ, beliau tersadar dan tak ada kata menyerah. Batu yang begitu keras, bisa terkikis dan berlubang meski oleh tetesan air. Setelah menyadari itu dan kembali belajar, beliau kini ulama yang sangat terkenal. Terutama karya-karyanya yang saat ini sering kita pelajari.
_


Al'ulama waratsatul anbiya..Ulama adalah pewaris para Nabi.
JIKA kita belajar ilmu hadits, di sana dijelaskan terkait kedudukan haditsnya, matannya, bahkan kepada perawinya itu sendiri. Kedudukan hadits bisa berubah satatusnya diakibatkan karena ada kecacatan dalam perawinya. Misal perawinya tidak tsiqah atau hafalannya lemah.
Itulah kenapa kitab hadits punya Imam Bukhari dan Muslim menempati kitab yang paling tinggi derajatnya dibanding kitab hadits punya Imam yang lain.
Selain karena selektif dalam pemilihan haditsnya, perawi yang meriwayatkan hadits tersebut juga dapat diakui ketsiqahannya, hafalannya, kejujurannya dan kesolehannya sudah pasti.
Sebab itu, maka ketika kita menulis atau mengutip sesuatu dari tulisan atau ucapan orang lain harus dicantumkan sumbernya. Sebagaimana karya ilmiah. Jika demikian, pola penulisan hadits itu adalah karya yang paling terilmiah di dunia.
Pada zaman dan tahun sekian, para ulama sudah berpikir sejauh itu. Berpikir keilmuan yang bisa dipakai sepanjang masa. Semua itu, berkat bimbingan sang kuasa. Sebab mereka melibatkan Allah dalam karya-karyanya.
Ide mereka lahir dari ilham sang mahakuasa. Lahir setelah bermunajat dan taqarub ilaallah. Tidak lepas dari hadats kecil, banyak berpuasa dan satu hal yang diingat, bukan untuk cari nama. Sekarang, bagaimana dengan kita?..
Jauh bangetkan?.. Meniru rasulullah saja tidak bisa, meniru para sahabat juga tidak bisa, meniru para tabiin dam ulama juga tidak bisa. Lantas siapa yang kita tiru? Eh, giliran ditanya masuk surga mah ya pasti mau. Disuruh duluan, eh nanti dulu. Belum siap kalao yang itu..
_

AH Terlibat Kasus Bom

(Tribunjogja - Kamis, 28/06) Sekumpulan orang berpakaian hijau tua dan lengkap dengan senjatanya sedang berjaga di asrama jalan Indraprasta Sleman - Yogyakarta. Diduga tersangka kasus bom ditemukan persembunyiannya
.Oknum yang diduga menyimpan bom berinisial AH. Rupanya lelaki bertubuh kecil ini berasal dari Serang-Banten. Tepatnya dari kp. Pancur Ds. Panunggulan Kec. Tunjung Teja. Terduga pelaku penyimpan bom ini diketahui sudah lama dicari dan diburu.
Para penyidik belum memeberikan klarifikasi terkait jaringan mana yang diikuti AH. “Untuk sementara kami dalami kasus ini.. Jaringan mananya belum kami selidiki. Ungkap kabid Humas Polsek Dabag, Sleman - DIY.
Salah satu mahasiswa calon master di bidang pendidikan ini rupanya cukup rapi dalam menjalankan aksinya. Bahkan rekan sekamar terduga pelaku pun tidak tahu.
"Saya cukup kaget ketika mendengar kejadian ini. Sepengetahuan saya orangnya baik dan tidak aneh-aneh..” Ungkap salah seorang sumber yang tidak mau disebutkan namanya.
Ketika digeledah kamar terduga pelaku ini, ditemukan dua buah barang bukti. Bom tersebut ditaruh dalam bungkusan plastik hitam yang di letakkan tepat di belakang lemari baju.
Belum ada konfirmasi dari pihak keluarga maupun kampus tempat ia belajar. Kepala dukuh Dabag sempat memberikan kesaksian di depan asrama AH. “Masnya pernah ngajar anak saya mengaji.. Tapi kok gak nyangka ada kasus begini..”
Ketika dikonfirmasi AH mengakuinya. Ia mengaku telah membeli bom dari tempat langganannya. Ia terpaksa membeli bom karena desakan ekonomi. Selain harganya murah, bisa dipake nyuci berkali-kali. “Daripada ke laundry mending nyuci sendiri..” ungkapnya dengan puas. (Amha/)
#


Lahir atau melahirkan berarti mengeluarkan anak, dengan kata lain beranak. Lahir juga bisa diartikan sebagai bagian terluar dari sesuatu, atau dalam bahasa arab dikenal dengan kalimat lahiriyah.
Seorang kawan dari Melayu (tepatnya dari Patani - Thailand) nyeletuk ngomong begini: “Bang, lahir itu artinya beranak kan?..” tanyanya padaku. “Kok di Indonesia yang dipakai "Mohon maaf lahir dan batin” lanjutnya. “Kalau di kami pakenya dzahir dan batin…” ia menegaskan gagasannya.
“Oh.. Kata lahir di situ sebetulnya hanya kependekan dari lahiriyah.. ” jawabku. Lalau kulanjutkan jawaban tersebut. “Kata dzahir dan lahiriyah boleh dikatakan sama. Dan kenapa kata lahiriyah tidak dipake, sebab ada kata batin. Jika kata yang dipakai lahiriyah, maka kata batin juga harus diganti menjadi bathiniyah..”
Setelah mendengar pemaparan yang sedikit, rasanya sang kawan dari Melayu ini jradi paham. Tapi yang kini bergejolak dalam hatiku. Padanan yang pas untuk merubah ucapan dalam bahasa indonesia secara utuh rasanya cukup sulit dan terdengar aneh.
“Mohon maaf luar dan dalam..” sepertinya kalimat ini bisa menggantikan kata-kata asing yang selama ini kita pakai. Tetapi isi kalimatnya menjadi terdengar kaku dan aneh. Ternyata di sini membuktikan bahwa bahasa memiliki kelemahan, tidak hanya sekedar jumlah hurufnya saja yang masih kekurangan.
Dengan kata lain, kita tidak bisa lepas dari kata-kata asing. Terlebih kata itu sudah menjadi baku dalam kehidupan kita. Tidak salah jika kata-kata bahasa arab-lah yang paling banyak kita pakai. Selain padanannya yang sulit dicari, bahasa arab juga memiliki keunggulan.
Selain itu, bahasa arab adalah bahasa alquran, dan juga bahasa penduduk syurga. Unggul dalam segalanya ya cukup wajarkan? Misalnya saja kata hikmah, dalam bahasa arab hanya satu kalimah/kata. Tapi jika dijelaskan dalam bahasa indonesia bisa menjadi panjang.

Allahu'alam.


Laila & Qais
***
“Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan air mata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha mengghiburnya.”
“Dapatkah aku pungkiri cinta, sedangkan air mata dan derita telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta.”
***
Syair di atas merupakan penggalan dari kitab Burdah karangan Syekh Busyairi. Syair yang berkisah tentang kekuatan cinta kepada Rasulullah dan Sang Pencipta. Kekuatan cinta yang ada di dalamnya begitu besar dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Kecintaan kepada rasulullah merupakan cinta tulus murni sepenuh jiwa.
Menurut Ibn Hazm Alandalusi cinta merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Tidak ada yang salah dengan cinta, tergantung bagaiamana mengaplikasikan dan mengendalikannya saja. Hakikat cinta adalah anugerah dan berkah untuk manusia, oleh karenanya cinta itu adalah keindahan, pengorbanan, kesetiaan, mencintai, bahkan setiap orang memiliki definisi yang berbeda.
Kisah Laila dan Qais merupakan bukti kisah cinta yang begitu kuat dan diabadikan oleh para ulama besar. Bahkan dalam kisah nabi-nabi terdahulu telah dikisahkan kekuatan sang permaisuri terhadap budaknya. Ya, cinta Julaikaha kepada Yusuf yang bergebu-gebu, hingga akhirnya dipertemukan kembali dengan kondisi yang berbeda.
“Siapa saja yang mencintai sesuatu, maka ia akan dipertemukan dengannya meski aku tak dapat bertemu, mungkin kelak suatu saat akan bertemu dengannya.” Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Apakah kisah hidup ini akan mengalir laksana kisah Laila dan Qais, atau seperti kisah Yusuf dan Julaikha? Berharap sih seperti kisah yusuf.
MH, itulah inisial yang aku kagumi selama ini, bagiku MH sama dengan Laila. Aku terpesona dan mengagumi dirinya. Hanya kekuatan dan rasa yang menggelora kini kurasakan. Namun, ku tak mampu untuk menyampaikan, apalagi mengatakannya. Wahai Laila.. Apakah dirimu sudi menerima dan membalas cintaku ini?
Rasa cinta yang saat ini kurasa, aku yakin tak ada yang salah dengannya. Hanya saja, aku tak mampu untuk berkata dengan jujur, dan apa adanya. Aku hanya dapat menulis, menuangkan kata-kata dalam baris, mengagumimu tanpa syarat alias gratis, dan aku suka hobimu yang suka menulis.
Aku punya cita-cita kelak ingin mendirikan sanggar dan kitalah pengajarnya. Punya sesuatu yang bisa dibagi dengan orang lain meski dari cara dan sisi yang lain. Aku suka dan ngerasa visi hidup kita sama, itulah kenapa seolah aku merasa ada kecocokan dalam diri kita.
Aku tidak pernah mengukur seseorang dari rupa maupun rias rupawan. Bagiku siapa pun kelak akan mengalami masak tua, dan beruban, jadi tak elok jika menilai seseorang dari tampilan lahiriyah semata.
_Amir Hamzah


Menantu Idaman

SELEPAS menikah, aku tinggal bersama mertuaku. Karena mertuaku dikenal seorang guru ngaji dan ustadz, maka sebagai menantu baru ada saja celah untuk mengetes. Apalagi ketika pertama kali sholat di mushola tempat istriku tinggal.
Awalnya menolak disuruh jadi imam, dan beralasan masih banyak yang lain. Tapi akhirnya nurut juga. Mau gak mau emang harus siap dan serba bisa. Alhamdililah jadi ketagihan masyarakatnya. Katanya sih suaranya manis dan gurih.
Tak hanya disitu, ketika kebingungan mau ngadain hiburan masyarakat, para pemuda setempat lagi-lagi melibatkanku untuk mengkonsep acara. Alhamdulilah semua puas, dan mereka minta tahun depan biar lebih seru lagi. Ujung-ujungnya aku juga disuruh tinggal lebih lama disitu.
Hanya saja, Pekerjaan Rumahku masih banyak. Misalnya saja, ngaji Nahwu dan sorofku dulu setengah-setengah. Jadi belum bisa ngaji kitab kuning alias kitab gundul. Padahal itu ilmu yang paling pas untuk bermasyarakat.
Kalau aku bisa, dan mahir, yang akan dikaji bukan lagi kitab fiqih, tapi kitab akhlaq dan tasawuf, seperti kitab Nashaihul ‘Ibad karya dari Syeh Nawawi al Jawi. Lalu kitab tauhid, semisal kitab Jauar at-tauhid, agar keimanannya teguh.
Biar pada tambah pinter, hatinya pada tentram dan damai. Tak ada yang dendam - dendaman dan saling menjelekkan, tapi lebih ke memaafkan. Saling merukunkan itu yang paling penting. Sebab, tak ada keindahan selain ukhuwah dan jamaah.
Pekerjaan Rumah yang kedua adalah menggalakan remaja ke arah pergaulan yang positif. Mengisi dan membuat acara yang bisa menyelamatkan masa depan mereka ke arah yang lebih baik. Syukur-syukur bisa menggandeng pihak lain yang berwenang untuk memberikan sejenis pelatihan dan soft skill.
Pekerjaan rumah yang ketiga, yaitu menyediakan sarana belajar tambahan bagi siswa dan siswi. Tidak hanya bidang pelajaran sekolah yang berbentuk bimbingan belajar (bimbel), tapi ke arah kreativitas dan seni juga. Tentunya ini di luar jam sekolah pagi dan sore (khusus pada waktu libur sekolah).
Semoga saja ada jalan…

_

Keren Tanpa Rokok

KENAPA sih keren, gagah dan maco itu diidentikan oleh kebanyakan (meski tidak semua) laki-laki dengan rokok? Bukankah rokok itu sejatinya hanya kebutuhan sekunder saja? Sejatinya juga malah membahayakan.
Bahkan ada analogi unik dan menggelitik, yang pernah saya temukan dalam sebuah tulisan. “Dirinya (badannya) saja ia sayangi, apalagi pasangannya. Kalau sama dirinya saja sudah gak sayang, gimana bisa sayang sama keluarganya, anak-istrinya dll.” nah PR besar bagi ahli hisap jika diginiin. Skak mat deh.
Kata kebanyakan perempuan, justru laki-laki yang tidak merokok itu lebih baik. Selain mulutnya tidak bau rokok, tak perlu mikirin uang yang habis gara-gara jajan rokok. Initinya untuk disave ke kebutuhan lain lebih banyak. Yuk bayangkan. Sehari 20rb, kali sebulan? Setahun? Bahkan 2 tahun saja sudah 14 juta.
Jadi bisa menghemat besar-besaran. Malah bisa beli motor baru, kes lagi bayarnya, tanpa harus mikirin angsuran bulanan. Asal, bisa konsisten untuk menyisihkan uang 20rb ke dalam celengan. Intinya, merokok itu tidak baik dan imej kekerenan itu bukan rokok.
Bahkan ada yang bilang, rokok itu tanda atau ciri orang mampu. Mampu dalam hal apa dulu? Maksudnya ciri orang kaya gituh? Haaa. Jadi absrut. Begitu juga ketika ditanya enakanya ngeroko itu dimana? Ya begitulah, enak ajah. Kalo gak enaknya pas gimana? Efek sampingnya apa? Nah lho…
Abis makan, ngerokok. Itu enak banget. Mulut yang tadinya pait jadi terobati dengan merokok. Padahal hanya itu, tapi kenapa hampir setiap ngobrol roko selalu dibakar? Padahal tadi bilang, enaknya pas cuma abis makan doang! Tuh jadi absurt lagi kan? Heee
Oke, kalo semisalnya rokok itu gak apa-apa, kenapa kita sendiri ngelarang jika ada adik, saudara, atau siapapun yang ngerokok tapi usianya masih anak SD? Apa alasannya karena dia belum bisa nyari duit doang? Atau bisa repot kalau sudah ketagihan ngerokok?
Sejatinya, dari hati nurani kita sendiri mengakui dan menyadari bahwa merokok itu tidak baik. Jangan salah, banyak pencurian yang dilakukan gara-gara berawal dari belajar merokok dan akhirnya jadi pecandu. Butuh rokok, tapi tak ada lembaran kertas. Minta ortu gak dikasih. Terpaksalah akhirnya mencuri.
Dengan demikian, silakan simpulkan sendiri isi tulisan ini seperti apa kesimpulannya. Yang jelas, ketika saya ditawari merokok atau ditanya merokok atau tidak? Jawaban saya hanya ini “Alhamdulilah saya belum mau…”

_



Pagi Itu…

KISAH ini kualami sendiri. Pagi-pagi sekali ku sudah berada di mobil angkot berwarna kehitaman (orang-orang sini biasanya menyebut dengan sebutan angkot Nanggor). Ada buku, atau lebih tepatnya kitab yang akan kubeli di pasar Cibadak-Pandeglang.
Di sampingku juga sudah ada ibu-ibu sekitar 35 tahun umurnya, dan memakai perhiasan emas di tangan kanan dan kirinya. Gelangnya itu rame, persis buah kokosan coy. Taukan buah kokosan tea. Ditambah cincin di jemarinya juga.
Bikin silau dan copet girang kesenangan, karena dapat sasaran empuk. Baginya ini buruan jinak dan gak usah capek-capek nyari. Buruannya dateng sendiri.
Penumang selain kami berdua, ada juga lelaki bertopi dan bertas ransel. Ditambah satunya lagi anak sekoah. Semuanya normal dan tak ada kejadian apapun.
Begitu turun dari angkot di pasar cibadak, ibu yang tadi di sebelahku teriak histeris. “Copet.. Copet..”
Lantas aku curiga dengan lelaki yang bertopi, pandanganku kuarahkan ke sekitar parkiran. Nyatanya orang itu belum jauh dan jalannya semakin cepat.
Ku kejar lelaki bertopi itu. Eh ada dua orang yang mencoba menghalangi jalanku. Aku sadar jika kedua orang ini masih gerombolannya.
Beruntung pernah belajar tapak suci, dua gerakan jurus yang kuambil sudah mampu melumpuhkan keduanya. Lelaki bertopi masuk ke dalam pasar, tapi dengan mudah pula kutemukan.
Begitu ditangkap, langsung saja kusapa “hai copet..” maka seliruh pasar, matanya tertuju padaku. Ia mengelak dan berdebat, tapi dengan sigap juga kubawa dia untuk ke tempat kejadian perkara.
Beruntung di sana sudah ada Pak polisi dan kedua orang yang kulumpuhkan pun sudah ditangani polisi. Lelaki bertopi pun akhirnya tak bisa mengelak lagi.
Ibu itu pun berterima kasih dan meminta nomorku. Kami pun akhirnya sedikit akrab, dan ibu itu tanya-tanya seputar diriku. Bahkan ia sempat nyanya “sudah punya calon belum..?”
Aku yang sedikit kikuk pun menjawab dengan apa adanya. Setelah itu kami berpisah dan mencari barang yang dibutuhkan masing-masing.
Esok harinya, ibu itu mengirimkan pesan singkat. “Mas, mau gak dikenalin dengan anak ibu..? Nanti sore ibu ajak sekalian ke rumah mas, sekalian nganterin buka puasa dan ngucapin terima kasih.”
Bingung mau balasnya. Waktu tak terasa bergerak lebih cepat. Sudah menujukan pukul 16.00. Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Gagang pintu sudah kupegang dan siap kubuka.
Hey bangun, ashar.. Sudah jam berapa ini? Bangun cepat! Teriak sehabatku membangunkan. Huh dasar, udah mau seru padahal mah.

_


Rupanya banyak sekali yang penasaran dengan ISTRIKU. Kepo sangat kalau kata orang melayu. Di sini, semua tentang istriku akan kutuliskan dengan gamblang. Jadi, silakan simak dan baca dengan sebaik-baiknya.
Awalnya sih ya iseng-iseng aja, eh ternyata banyak yang nganggap serius. Apalagi pas lihat fotoku yang sedang menggendong bayi mungil. Padahal itu anaknya teman yang kebetulan aku bantu gendongin. Wakti itu bapaknya lagi ada tamu dan ibunya nyiapin makanan.
Istriku itu yang jelas perempuan. Cantik, so pastilah. Namanya juga perempuan, dimana-mana juga padanannya cantik, bukan ganteng. Adapun asalnya, ya dari planet bumi. Bukan sejenis alien dari angkasa raya atau dari bangsa lelembut.
Orang pada kepo dan nyari tahu siapa istriku. Padahal aku sendiri saja belum tahu. Doakan saja.
_

Menu Setahun Sekali

DI TEMPAT kami, makan daging sapi atau kerbau bisa dihitung dengan jari. Malah, bisa saja setahun cuma sekali. Kalau makan daging kambing ya pas ada yang aqiqah atau pas qurban, atau pas ada yang punya nadzar, itu pun kalau kebagian.
Selebihnya tak ada daging dalam menu makanan sehari-hari. Jadi, cukup wajar jika pas makan daging perut jadi tak bersahabat. Perut panas dan bab jadi tidak enak. Mungkin karena efek kaget, kok harus mengolah makanan seperti ini. Jarang mengolahnya, jadi agak susah.
Apalagi seperti makan ‘angeun lada’ atau daging yang dijadikan sop, dengan rempah khas. Biasanya potongan jeroan dan beberapa organ lain yang dipotong kecil-kecil. Meski tahu akan tidak enak ke perut, tetap saja disantap. Sebab ini menu favorit.
Komsumsi daging khusus di awal bulan syawal ini bisa sampe gila-gilaan. Tiap rumah bisa membeli daging 3-6 kilo. Beberapa hari kedepan menu makan akan berubah, lauknya serba daging. Ada daging ayam, sapi, arau kerbau.
Kadang, yang tidak suka daging harus rela masak yang lain. Atau bahkan nafsu makan berubah karena ada daging. Perut rasanya kenyang terus. Biasanya yang paling pas untuk menandingi daging yaitu mie dan bakso.
Dua makanan ini seolah menjadi makanan yang selalu ingin makan meski sudah makan dengan daging. Mungkin karena aroma yang ditimbulkan merangsang otak untuk kembali lapar. Yang jelas makanan pelarian dari menu daging, biasanya mie.
Lebaran tanpa daging, seolah hampa. Umpama “hidup tanpa cinta”. Jadi, sebokek apapun, setidak punya uang pun, daging merupakan makanan wajib ketika lebaran. Dibela-belain ngutang untuk bisa makan daging pas lebaran.
Lebaran tanpa kamu, iya kamu daging. Serasa gak lebaran kayaknya. Kalau anak kecil, mungkin serasa gak dibeliin baju baru. Hampa.

_


Ngajajal Awak

KAMARI ngajajal awak caritana mah. Niat ngabuburit bari sasapedahan kanu babaturan. Jarakna lumayan jauh, mun dikira-kira sigana aya 30 kilometer. Sapedahna lain sapedah biasa, oge lain torpedo.
Sapedahna nyaeta anu muter bae pedalna mun dibawa leumpang. Eta jarak anu 30 kilometer teh sapedah digoes bae teu eureun-eureun. Teu istirahat saeutik-eutik acan. Terus jalana oge bari nanjak. Jarak tempuhna ditotal sakitar sajam.
Alhamdulilah awak masih jagjag jeung kuat. Teu kabere hayang nginum atanapi haus. Pokona mah ssetik geh teu karasa. Ngan suku we paregel. Tapi dijojorkeun sakedap geh cager.
Nyampe ka kost babaturan teh teu langsung buka, soalna masih 10 menit kana waktu buka puasa. Kesang dina awak oge teu pati loba, maklum keur puasa meureunan nyah. Ditambah sahurna teu loba nginum.
Bari sahurna jam dua geh tetep kuat. Terus sahurna oge cukup ku emih rebus sareung sangu opat sendok mah aya. Tapina alhamdulilah tetep kuat bari dibawa sasapedahan jauh jeung medana lumayan beurat.
Iyei mah lain niat pamer atawa sombong. Ngan saukur ngajajal awak. Ari awak dibiasakeun anu berat-berat mah biasana oge kabawakeun kuat. Sabalikna, anu teu tiasa mah malah jadi lembek. Tujuanana kadinya wungkul, sanes kanu lain.
Terus, sabadana buka puasa, dilanjut sholat magrib. Tas sholat karak dahar. Ngarereh bari nonton tv. Adzan isya; soalat isya, lanjut taraweh. Tarawehna teu miluan witir, ngudag waktu; tos janjian jam 9 diajak maen futsal.
Harita teh tos jam 20.20 padahal. Lajuna mah ngebut bae mawa sapedahna. Untung turunan, jadi bisa lewih cepet nyampena. Kira-kira sampe ka kamar teh jam dalam kurang sapuluh menit.
Buru-buru ganti baju, mawa sapatu, bari ngadahar cau. Ngebut deui ka tempat futsal. Paling 5 menitan sampe ditempuh pake sapedah. Di lapangan ges aya pemaen keur pada pemanasan.
Ganti calana, make sapatu, asup ka lapangan ngajajal bola. Teu butuh pemanasan, ja ges cukup panas. Sapedahan bolak balik 60 Km ges cukup jang pemanasan.
Maen sajam satengah, tapi tetep bae teu karasa cape iyeu awak. Gagah keneh horeng mah. Najan bari ngudagan bola ti ujung kaujung, asa eweh erenan. Istirahat geh ges ereunan bae maena puguh.
#Condongcatur

_

5 Hari Sekolah

KEBIJAKAN apalagi ini? Masuk sekolah hanya 5 hari dan 8 jam perharinya. Alih-alih mau pemantapan pendidikan karakter katanya. Karakter yang mana? Yang mau menjauhkan anak-anak dari pendidikan agama? Lalu, sekolah agama yang sore hari mau dihilangkan, mau dihapus?
“Ganti mentri ganti kebijakan”. Rasanya ungkapan ini begitu tepat. Dari zaman M. Nuh, dan Pak Anis Baswedan selalu diubah-ubah. Begitu diganti, diubah lagi. Justru yang dipusingkan adalah peserta didik. Sekarang, kajiannya saja masih mentah, sudah disahkan. Mau ngejar target atau gimana?
Pendidikan di Indonesia bukan mencerdaskan, tapi malah membingungkan. Jika di kota-kota pakai sistem 5 hari dan 8 jam di sekolah, lantas bagaimana kemampuan agamanya, BTQnya?
Jika di pelosok (kampung) jam belajar agamanya diterapkan lebih intensif. Sehingga kemampuannya lumayan dan bisa diadu dengan anak yang ada di kota. Keberadaan sekolah sore (madrasah diniyah) dan ngaji bada magrib, merupakan pendidikan plus setelah sekolah formal.
Jika pendidikan plus yang seperti ini dihilangkan, saya khawatir, semakin kesini orang akan semakin jauh dan susah belajar agama. Sudah susah belajarnya, ditambah malas belajar ya sudah tinggal kiamat!

_


Membangun Tim

KELAK, anak pertama kita jika laki-laki kuberi nama Huwa Yusuf Aufa Wudda, jika perempuan Hiya Ahilatul Aufa Wudda. Banyak alasan kenapa kupakai nama itu, selain artinya juga cukup bagus menurutku.
Adapun untuk anak kedua, belum terpikirkan. Fokus ke yang pertama dulu. Dari awal kehamilan sampai lahir, kupersembahkan lantunan ayat-ayat alquran, agar ia menjadi generasi yang luar biasa. Dipersiapkan jauh-jauh hari.
Pagi dan sore, terutama waktu-waktu yang paling bagus untuk menangkap kecerdasan diusahakan selalu diisi dengan yang baik-baik. Supaya ketika lahir kedunia tinggal menyesuiakan diri.
Asi eksklusif sampe dua tahun, pendidikan dari orang tua juga intensif. Sholawat dan kalam illahi selalu membersamai. Dengan demikian ia akan cepat menangkap dan menghafalnya.
Bahasa diperkenalkan sedini mungkin, agar lebih cepat bicara. Bakatnya diasah, dilihat kecenderungannya, difasilitasi, didukung, dimotivasi. Diberikan ruang yang cukup untuk membaginya.
Belajar kedisiplinan, belajar tanggung jawab dan belajar mandiri, ini yang penting. Peran orang tua yang lebih dominana. Sekilah dan lembaga lain, sebagai pengasah saja.
Bukan tidak mungkin ia akan menjadi pribadi yang baik, jika pondasi yang dibangunnya juga dari bahan kebaikan. Ditambah dengan prinsip keterbukaan dan tak ada skat antara semua pihak, dalam tim yang kita beri nama KELUARGA.
_

Bersama Tapi Tak Menyatu

“Kita itu memang bersama, tapi kebersamaan yang dibangun tak jua menyatukan kita.” Demikian ungkap Herman kepada Wati. Kala mereka bertemu di depan kampus, sore itu.
Makin ke sini makin gak jelas. Inilah yang dirasakan herman. Apakah dia serius atau sekedar main-main? Atau juga hanya sebatas menutupi kesendiriannya, agar tidak dicemooh orang? Atau memang sudah bosan, beda ketika masih ‘baru punya’?..
Herman dan Wati setatusnya kini tidak samar-samar, seolah di antara hubungan mereka tak ada yang spesial. Kemistrinya tidak ada, lebih sering sendiri-sendiri. Lebih parahnya, tak ada konfirmasi apapun kalau ini dan itu. Ya tahu-tahu menghilang saja.
Inilah yang dikatakan, “bersama tapi tidak menyatu.” Jika sekedar membersamai saja, itu bahaya. Bisa-bisa orang lain pun bisa melakukannya. Tapi jika mampu menyatu, sedikit orang yang bisa melakukanya. Bahkan hanya segelintir orang saja.
Menyatu itu terkoneksi, tersambung, terhubung, baik secara lahir maupun batin. Ini sulit. Sehingga apapun itu, kalau sudah nyambung, jarak bukan lagi halangan, waktu tak jadi pembatas. Aku dan kamu, begitu juga kamu dan aku.
#

Rencana Kita

TERUNTUK cintaku belahan jiwaku. Baitan dan untaian kata ini kupersembahkan untukmu. Meskin semua ini terkesan lebay dan alay, belum tentu orang lain mampu melakukannya. Jadi, ini adalah pengakuan terhebat bagiku.
Saat ini, waktunya cukup tepat romantis, ya selepas berbuka puasa di penghujung ramadhan ke19. Ditemani lantunan suara sholawatan dan gemuruh adzan serta doa dari para shoimun yang telah selesai menunaikan kewajibannya sedari fajar hingga matahari terbenam.
Hari ini, ku ingin mengungkapkan rencana dan pandanganku ke depan bersamamu kelak. Baik secara suka maupun duka. Bahagia mapun susah. Intinya dalam keadaan apapun tetap bersama.
Menghabisakan honeymoon ke tempat yang romantis berdua. Naik gunung berdua dan menikmati malam di sana. Kelak jika buah hati kita sudah bisa diajak, mereka juga kita ajak menginap juga. Biar mereka bisa merasakan suasana alam.
Setiap sebulan atau dua mingu sekali, kita menghabiskan waku bersama keluarga. Meski tidak ke tempat yang mewah, setidaknya kita bisa menikmati kebersamaannya. Mengisi hari-hari penat setelah bekerja, dengan keceriaan dan kebersamaan.
Semua punya peran masing-masing dan saling mendukung antar satu dengan yang lainnya. Saling mengingatkan ketika ada yang salah, dan menguatkan kala ada yang lemah. Ayah mendukung mama, mama ngedukung anak-anak. Anak-anak juga ngedukung ayah.
Keharmonisan ini yang akan kita bangun, kita jaga, kita pupuk dan kita rawat bersama.
Ahillatul Aufa Wudda
_

Karya Anak Sekolah

Nama Afi Nihaya Faradisa mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pembaca. Ya, melalui tulisan fenomenal yang dibuatnya banyak orang yang menjadi terkagum-kagum. Tapi banyak juga yang menyindir dan mencemoohnya.
Apapun itu, yang jelas bagiku Afi sudah berkarya. Karya yang dihasilkan cukup baik, bagus, naratif dan membahas isu kekinian. Adapun yang mencemooh ya itu sih tanda tak mampu. Jika memang mampu ya buktikan, dengan tulisan yang sama pula seperti Afi.
Padahal Afi masih duduk di bangku SLTA, tapi kok bisa membuat tulisan sebaik itu? Ini yang saharusnya ditiru oleh anak-anak sekolah seusianya. Bila tidak bisa berkarya seperti Afi, minimal menciptakan karya yang lainnya.
Memanfaatkan media sosial untuk berkarya seluas-luasnya. Bukan malah foto-foto yang tak jelas tujuannya. Jika anak sekolah cuma bisa sekedar upload foto-foto saja, bagaimana dengan hasil belajarnya?
Di saat orang lain sudah berpikir bagaimana menciptakan, ini mah malah asyik-asyikan. Di saat orang lain punya karya dan membanggakan, ini mah malah baru berpikir akan. Nasibmu ada di tanganmu. Bukan sibuk memikirkan orang lain, tapi ini sekedar mengingatkan.
Punya waktu yang sama, kesempatan yang sama, peluang yang sama, hanya kemauan dan cara pikir yang membedakannya. Masih tetep mau seperti itu juga? Ya sudah, itu mungkin jalan hidupnya.

_

Putih yang Abu-abu

Putih itu lawannya hitam. Bisa juga warna bendera Indonesia, setelah warna merah. Putih itu warna susu, selain warna cokelat. Putih itu ya sejatinya seperti itu. Kita semua paham dan ngerti dengan maksud kata putih di atas.
Tapi, kata ‘putih’ yang satu ini sering mengerutkan dahi. Misalnya, “Bang air putihnya satu..” atau juga, “Itu lho, cowok yang kulitnya putih..” kata putih disini masih membingungkan. Air putih itu bisa susu putih, bisa air beras, tapi kok malah air mineral?
Padahal, jernih dengan putih itu jauh berbeda! Apalagi dengan warna kulit?

_


3 Keringanan

Ada 3 jenis keringanan bagi orang yang diperbolehkan tidak berpuasa. 1). Disebabkan karena sakit, 2). Dalam perjalanan atau bepergian, 3). Sudah tidak mampu karena faktor usia (tua renta). Adapun untuk nomor 1 dan 2, itu qada (mengganti di hari yang lain). Untuk nomor 3 yaitu dengan fidyah (memberi makan seorang miskin).
Selain dari tiga ciri-ciri di atas, tak ada alasan. Tapi jika ada yang tidak masuk dalam daftar di atas, tapi tetep tidak puasa, berarti yang sakit jiwanya. Haaa..
Apalagi sampe diupload ke facebook, terus pake caption “lebih baik jujur daripada munafik…” Anda sakit jiwa? Padahal dilanjutan ayatnya sudah jelas, bahwa berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui..
Ini yang menyampaikan pesan, langsung dari pemilik dan pencipta manusia itu sendiri, melalui Jibril dan kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu kenapa kita tidak mau menuruti pencipta kita sendiri?

Albaqarah [02] : 184.
_

Kenaikan

UKK (ujian kenaikan kelas). Sekilas tak ada yang salah dengan singkatan tersebut. Fokus saya hanya kepada kata “ke-naik-an”. Jika kata kenaikan berdiri sendiri (tanpa ada kata ujian dan kelas) malah jadinya aneh.
Jika misalkan kita bandingkan dengan kata “menaiki” meski berdiri sendiri sudah bisa dipaham artinya. Kenapa menggunakan kata kenaikan? Padahal kata Naik juga sudah cukup bagus kok. Ujian Naik Kelas. Tak ada yang aneh bukan? Malah terdengar lebih berbahasa.
Kata ‘kenaikan’ yang ditemui selain di singkatan UKK, ada juga di kalimat “Kenaikan lsa almasih”. Kalimat yang sudah umum dan telah lama ada. Atau ada yang menemukan di kalimat lain? Entah ini sengaja atau tidak, tapi saya menemukannya tanpa disengaja.
Intinya, kenapa pakai kata “kenaikan”?
_

Salah Kaprah
RIP (Rest In Peace) adalah ungkapan yang sering dipakai bagi orang kristen kepada yang meninggal dunia. Jadi, jika ada orang islam yang menuliskan atau menggunakan kata-kata ini, harus dicek keislamannya.
Banyak tulisan-tulisan RIP di kaos-kaos anak muda, di atribut motor, aksesoris, dan lain sebagainya. Bagi yang tidak tahu mungkin dimaafkan, tapi kalau yang sudah tahu, harap diingatkan. Jangan hanya gara-gara lihat dan rame lalu malah ikut-ikutan.
‘Beristirahat dalam kedamaian’ kira-kira begitu artinya, jika kita artikan ke Bahasa Indonesia. Konsep kematian dalam Islam itu sejatinya bukan ketenangan atau kedamaian. Tetapi awal dari kehidupan akhirat. Di sinilah gambaran awal bahwa akan seperti apa manusia tersebut, ketika hari pembalasan itu tiba.
Di sana (alam kubur) manusia disiksa atas amal ibadahnya di dunia. Jadi tidak ada kata damai, atau istirahat. Justru amalnya lah yang menemani manusia dalam kuburnya. Jika amalnya baik maka jadi penerang. Jika buruk amalnya, maka menyeramkan.
Sekali lagi, Konsep kematian yang diyakini agama kristen berbeda dengan konsep kematian agama Islam. Jadi jangan salah kaprah. 'Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’ adalah ucapan yang begitu dahsyat dan tak ada duanya..
_

Atisipasi Hoax

Postingan ini tak butuh dilike atau dikomen, tapi wajib DIBACA !!!
Berita hoax masih beredar luas di masyarakat. Penyebarannya yang masif dan sporadis, cukup menyulitkan untuk diberantas. Untuk itu dibutuhkan kerja sama antar pemilik akun facebook.
Untuk memberantas berita hoax, maka pemilik akun facebook harus dituntut lebih cerdas dan selektif ketika membaca atau melihat berita. Tetapi kebanyakan tidak demikian. Masih banyak pemilik akun pemula di facebook, mereka seolah melihat berita di sana benar adanya. Lalu disebarluaskan.
Berikut ini ciri-ciri berita hoax yang sering muncul di media sosial. 1). Ada kata-kata ‘sebarkan’. 2). Si pemilik akun meminta komen 'amin’. 3). Gambar yang dipasang cukup janggal. 4). Tidak dicantumkan kapan dan di mana kejadian itu terjadi. 5). Beritanya pasti yang aneh-aneh. 6). Sumber beritanya abal-abal. Untuk mengetahui berita itu abal-abal atau bukan, silakan baca saja nama alamat webnya.
Kepada para pengguna facebook yang masih amatir, pemula, dan masih awam, tolong cerdas sedikit. Keamatiran anda bisa dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan oknum tertentu. Percaya atau tidak, Like dan komen anda bisa dijual-belikan. So berhati-hatilah.
_

Ngaji Quran dan Koran

Di bulan puasa, tentu banyak orang yang berlomba-lomba mengkhatamkan alquran. Tidak salah memang jika bulan ini disebut dengan syahr alquran. Termasuk gurunya Imam Syafii, yaitu imam Maliki; ketika memasuki bulan puasa, seluruh kegiatannya beliau hentikan dan fokus mengkaji alquran.
Begitu istimewa bulan puasa, sehingga dikhususkan waktunya untuk mengkaji alquran. Tak hanya itu, bahkan bisa memkahatamkannya berkali-kali. Lalu, bagaimana dengan kita? Aktifitas keagamaan kita juga diliburkan, tapi seberapa sering waktu kita habiskan untuk membacanya?
Sudah dapat 15 hari puasa, tapi baru khatam sekali. Rasanya tak berarti dan untuk apa disombongi. Padahal orang-orang terdahulu bisa sampai 30 kali atau 60 kali khatam. Subhanallah.
Selain mengkaji huruf perhuruf, dikaji juga maknawiyahnya juga. Agar bisa paham dan mengerti betul isi kandungan dari ayat-ayat tersebut yang kita baca. Dengan demikian maka dapat pahalanya juga dobel-dobel.
Jika ngaji alquran merupakan makanan wajib, tentu ngaji koran juga salah satu makanan sunahnya. Jika alquran itu untuk rohani maka koran itu untuk membuka wawasan dan berita yang tebarukan.
Bahkan, banyak juga bahasan yang menguak seputar bulan puasa. Ada beberapa kiai atau pakar agama yang diberikan kolom khusus mengisi kajian alquran. So, tidak ada kata malas apalagi alasan untuk tidak membaca.
Ketika kita mau membaca, maka secara tidak langsung membuka pikiran dan mindset untuk berpikir lebih maju. Bukankah membaca juga perintah pertama kepada Nabi Muhammad?
Jadi, yuk banyak-banyakin membaca. Buku itu jendela dunia, maka membaca adalah menjelajahinya. Tak perlu modal besar, hanya mau dan tidak.
_

Desa Vs Kota

Seseorang itu dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan sekitarnya. Contoh nyatanya yaitu orang yang tebiasa tinggal di kota dan suka pegi ke mana-mana, cara berpikirnya akan berbeda dengan yang di desa.
Orang yang di desa, karena tidak pernah pergi kemana-mana ya cara berpikirnya biasa saja. Tidak punya keinginan yang tinggi-tinggi. Lain halnya orang yang di kota, banyak maunya. Dan kadang aneh-aneh.
Orang desa masih berpikir tradisional dan orang kota sudah berpikir modern. Orang yang di desa cenderung lebih berpikir santai, tenang dan mengedepankan kebersamaan. Sedangkan orang kota sebaliknya, terburu-buru dan individualis.
Jangan jadi orang desa yang kampungan, atau jangan jadi orang desa ke kota-kotan. Jadilah dirimu sendiri. Boleh tinggal di kota, tapi mbok ya jangan lupakan asalnya.
Saya orang kampung, tapi cara berpikirnya seperti orang kota. Tetapi, saya lebih menyukai dan mengambil kebiasaan orang desa dalam bertingkah laku, dan bersikap. Boleh berpikir modern, tapi tidak boleh merubah identitas diri. Terlebih, identitas diri kita yang super.
Begitu juga sebaliknya, buat apa mempertahankan sesatu yang pada dasarnya saya sendiri atau kita tidak tahu kebenaran yang sejatinya. Selama kita punya nalar, maka bernalarlah. Asal tidak keluar dari syariat-syariat agama.
_

Tradisi Ngupat

Tradisi ‘Ngupat’ atau membuat ketupat pada dasarnya lebih terkenal pada hari lebaran/idul fitri. Tapi, di kampung kami, tradisi ngupat itu biasa dilakukan pada pertengahan bulan suci Ramadhan.
Entah dari mana asal muasal kegiatan ini dilakukan. Yang jelas, di daerah Serang-Banten, khususnya di Desa Panunggulan Kampung Pancur, kegiatan ini sudah rutin diadakan. Tepatnya, ketika puasa sudah mencapai 15 hari.
'Meulah kupat’ atau membelah ketupat merupakan filosofi yang cukup logis, ketika dijadikan sebagai makanan simbol pertengahan bulan Ramadhan. Sebab ketika akan memakannya, ketupat harus dibelah dari tengah terlebih dahulu.
Dengan demikian, maka di sana akan terbentuklah potongan ketupat yang simetris (kedua sisinya sama). Begitu juga dengan puasa yang dijalani sudah berada di pertangahan, yaitu 15 hari yang sudah dilalui dan 15 hari lagi sisanya. Itulah kenapa ketupat menjadi menu rwajib di setiap pertengahan Ramadhan.
Tak hanya disitu, setiap rumah juga mengantarkan hasil ketupat buatannya untuk dibawa ke Masjid atau Mushola. Setelah sholat tarawih, ada ritual doa. Lalu ketupat kembali dibagikan kepada yang hadir. Sehingga, ketupat yang dibawa ke rumah adalah buatan orang lain.
Tradisi ini sebetulnya cukup mengajarkan kepada kita hidup yang bermasyarakat itu ya seperti ini. Tak hanya ada pesan yang tersirat, tapi ada makna kebersamaan dan saling merasakan antar satu dengan yang lainnya.
_

Final yang Sempurna

Dua klub papan atas memperebutkan gelar terbaik dari yang terbaik. Rela madrid sebagai juara bertahan ditantang sang jawara dari Italia, Juventus. Keduanya saling menunjukan tajinya di awal pluit pertandingan dibunyikan.
Serangan berbahaya ditunjukan Juventus. Beruntung penyelamatan gemilang dilakukan penjaga gawang el real, Carol Navas. Kedudukan masih imbang.
Petaka muncul untuk Juventus, kala umpan dari Carvazal dituntaskan dengan baik oleh mega bintang el real. Cristiano Ronaldo membuka kran gol untuk real madrid di menit ke-20 babak pertama.
Tak lama, gol balasan dari Juve hadir pada menit ke 27 dari kaki marjuki. Kedudukan menjadi imabang. Serangan kedua klub tak segencar pada awal-awal pertandingan, keduanya hanya menunggu bola dan saling serang, hingga babak pertama habis.
Akhirnya gol kedua madrid muncul pada menit ke 61 melalui tendangan kaki kanan Casemiro. Skor kembali berubah dan melalui gol cantik CR7 pada menit 64. Kedudukan berubah jadi 3-1 untuk keunggul real madrid.
Juventus semakin tetinggal dan tetekan. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh real madrid. El real makin menggila. Benzema ditarik, digantiakan Bale, sedangkan Isco diganti Asensio.
Pertandingan harus tercoreng dengan keluarnya kartu kuning kedua yang diberikan kepada Guardado. Dengan ini Juventus harus bermain dengan 10 pemain.
Gol Madrid kembali muncul di babak 90, melalui pemain pengganti yaitu Asensio. Dengan ini, maka el real kembali menjuarai dua tahun berturut-turut. Sekaligus mematahkan rekor dengan 12 kali juara liga champion. Sekali lagi selamat untuk Real Madrid.
Ramadhan #8 _
_

Semadiwal (Semangat di Awal)

Semangat menyambut bulan suci ramadhan begitu menggebu-gebu. Ada yang berkeliling dengan arak-arakan obor, pawai bedug dan lain sebagainya. Tapi kini, ketika sudah memasuki hari kedelapan seolah semangat itu mulai menciut.
Kenapa seolah semangat itu hanya ada di awal-awal saja, dan makin kesini malah makin lemah. Jika kita umpamakan, hal seperti ini mirip hape. Berarti saat ini batrenya sudah mualai ngedrop. Makanya butuh carger supaya batrenya terisi kembali, dan bisa optimal lagi.
Ada apa dengan semangat keramadhanan ini? Apakah karena semangat ramadhan yang dibangun sejatinya hanya seremonial belaka, atau hanya sekedar ikut-ikutan saja? Sehingga esensi menyambut ramadhan itu sejatinya nol besar.
Lalu, pesta menyambut ramadhan itu fungsinya untuk apa? Apakah ada hungungan dengan menjalani aktivitas di bulan ramadhan. Jika iya, kok makin kesini yang tarawih semakin kosong? Malah tidak seramai ketika ikut pawai obor dan arak bedug?
Mari kita sama-sama introspeksi diri. Ramadhan sudah memasuki hari kedelapan, tapi kok jamaah semakin sepi? Kok yang tadarus tak seramai ketika awal-awal ramadhan? Sekali lagi mari kita carger lagi semangat itu biar kembali semangat.
Ketika rasa malas itu datang, maka harus dilawan. Buat motivasi yang besar, jika perlu kita anggap ini adalah ramadhan terakhir kita. Sebab kita tidak tahu jika ramadhan tahun depan bisa merasakannya lagi. Ini terkesan ekstrim? Iya gak apa-apa! Asal semangat itu tetap terjaga.
Atau, ketika malas itu tiba? Ingatkah akan amalan apa yang sudah kita perbuat di bulan ramadhan ini. Sudah maksimal ataukah belum. Jika belum maksimal, tuk diperbanyak. Mungpung bulan ramadhan, rugi kalo ibadahnya hanya yang standar-standar saja. Amalan yang sunah semuanya dikerjakan, dan tak ada yang satu pun terlewatkan. Nah, ini baru keren coy..
Intinya, yuk pupuk terus semangat beribadah dari awal ramadhan, tengah, hingga akhir ramadhan. Semoga bisa istiqamah. Amiin.
Ramadhan ke #7
_

Niat (2)

“Besok saya mau ke Jakarta”. Kalimat seperti ini, kebanyakan orang kita menyebut itu dengan niat. Padahal itu bukan niat, tetapi ‘Azam namanya.
Kecuali jika kita sudah di pinggir jalan, terus sedang nunggu mobil jurusan Jakarta dan begitu ada mobilnya langsung naik. Nah baru itu yang dinamakan niat.
Maksud akan mengerjakan sesuatu yang akan dilakukan, disertai perbuatannya detik itu juga.
Saya husnudzon, sebenarnya Niat yang kita pahami saat ini yaitu niat dalam definisi bahsa indonesia, bukan pengertian atau definisi yang sesuai dengan bahasan fiqih.
Ketika mengartikan niat dalam fiqih, ya arti niat yang dimaksud dalam ilmu fiqih, bukan dalam definisi bahasa indonesia.
Ramadhan #6

Niat (1)

Niat itu qosdu assyai muktarinan bifi'lihi. Maksud melakukan sesuatu disertai dengan melakukannya. Niat sholat dzuhur itu tepat ketika akan shalat dzuhur, dan tidak bisa niat sholat dzuhur ketika pada waktu subuh.
Begitu juga dengan niat puasa. Ketika niat puasa dilakukan setelah shalat tarawih itu bukan niat puasa yang sesungguhnya. Jadi setelah makan sahur harus niat puasa lagi.
Ada sebagian yang menganggap niat yang dibaca setelah solat tarawih itu cukup. Padahal jika kita kembali kaitkan dengan paragraf awal di atas, jelas tidak sah niatnya.
Kecuali, niat puasa setelah solat tarawih dan kita tidak lagi makan dan minum, lalu bangun-bangun sudah subuh berarti niatnya sah. Tapi kalau sudah niat, terus makan dan minum lagi, ya sudah batal niatnya berarti.
Intinya, niat puasa setelah sahur itu wajib. Adapun niat steleah tarawih hukumnya sah jika tidak makan dan minum lagi sampai masuk waktu berpuasa. Jika diselingi makan dan minum, setelah niat, berarti batal niatnya.
Ramadhan #6
_


Ajeng dan Uben

Ada banyak nama kucing yang membersamai kami selama tinggal di Kawah Condrodimuko ini. Misalnya ada Ajeng, Uben, dan Stepen.
Ajeng adalah kucing milik ust. Willy Ashadi. Ustadz yang dikenal dengan ceramah khasnya tentang ‘kun’ ini memperlakukan Ajeng begitu istimewa. Jadi, tak salah jika Ajeng juga begitu Akrab dengan beliau.
Bahkan beliau jika pergi makan, tak lupa membeli ikan satu potong, khusus untuk makannya Ajeng. Tapi karena Ajeng sudah beranjak dewasa dan Ust. Willy juga banyak kesibukan, maka Ajeng kembali ke naluri kehewanannya.
Kucing kedua bernama Uben. Kucing satu ini cukup jahil dan sedikit nakal. Asal usul Uben saya sendiri lupa. Yang jelas, waktu kemunculaannya sudah bikin gemes.
Pernah ada sekelompok ibu-ibu yang mampir untuk numpang sholat di Mushola Ashabul Kahfi. Setelah dipenghujung shalatnya, ada ibu-ibu yang menggerak-gerakan jari telunjuk. Mungkin dikira Uben itu ekor tikus, secepat kilat uben menkam jari ibu tersebut.
Seketika itu juga ibu-ibu yang sedang sholat ikut kaget dan berteriak histeris. Kami hanya terpingkal-pingkal melihat ulah Uben. Dan ibu-ibu tersebut terpaksa mengulang sholatnya dari awal.
Kucing yang saat ini ada bersama kami, entahlah siapa namanya. Saya namai Stepen, biar ada namanya saja. Tapi yang jelas ia tidak seperti Ajeng yang selalu diistimewakan, dan tidak senakal Uben juga. Stepen ini kadang jadi mainan kami dan si kecil Nisa.
Bahkan jika kita tengok ke dalam sejarah, Rasulullah SAW. punya kucing juga, namanya Moeza. Tak hanya disitu. Rasulullah juga membela kucing. Di dalam salah satu hadits dijelaskan ada seorang perempuan yang masuk neraka gara-gara mengurung kucing tanpa diberi makan.
Ramadhan #5
_

Donat(ur)

Sore tadi donatur takzil libur. Kami yang berdiskusi ria bada sholat ashar siap menyusun rencana. Opsi-opsi pun dikeluarkan. Sebisa mungkin opsinya yang win-win solution.
Hingga dicetuskanlah bahwa ngaji kitab Misbah al-Dzolam tetap dijalankan, dengan konsekuensi dimajukan waktunya. Lalu 15 menit sebelum waktu berbuka tiba, ngajinya disudahi.
Ngaji kitab pun dimulai seperti biasa, yang datang juga agak sedikit. Detik demi detik pun berlalu. Tak disangka ternyata suguhan untuk berbuka pun datang. Berupa segelas teh dan tahu goreng menjadi jatah kami.
Alhasil, ngaji pun dilanjut sampai waktu berbuka tiba. Alhamdulillah, donatur yang biasa libur, ternyata masih ada donatur lain. Meskipun hanya sekedar untuk membatalkan, nyatanya mengenyangkan.
Sungguh beruntung bagi mereka yang memberi makan kepada yang berpuasa. Mereka mendapat pahala sebanyak orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikit pun.
Ramadhan #5


Bulan Pendidikan

Perintah puasa yang terdapat pada surat albaqarah ayat 183 merupakan dalil nyata bahwa manusia yang beriman diwajibkan untuk melaksanakannya. Perintah puasa sejatinya sudah ada kepada kaum-kaum terdahulu.
Di sini, Allah sebagai guru dan manusia sebagai muridnya. Nama lembaganya yaitu pendidikan ilahiyah. Jenjangnya yaitu khusus bagi orang-orang yang beriman. Sehingga wajar jika puasa adalah amalan khusus dan istimewa.
Pendidikan ilahiyah yang diajarkan, yaitu menggunakan kurikulum pengendalian hawa nafsu dan menahan rasa lapar serta dahaga. Tak sebatas di situ saja, bahkan lebih luas. Misalnya menahan diri dari perkataan kotor dan hal-hal yang tak bermanfaat, plus harus banyak bersabar.
Adapun sistem penilaian yang diberikan adalah berupa rapot atau laporan tertulis. Tetapi sayangnya rapot itu sifatnya tertutup dan hanya sang guru yang mengetahuinya. Jadi, siapa yang nilai puasanya paling besar belum ada yang tahu.
Output atau harapan yang ingin dicapai dari lembaga pendidikan ini yaitu melahirkan lulusan yang bertaqwa. Jadi, kita sebagai siswanya mari tekun belajar dan giat berlatih agar bisa menjadi lulusan yang bertaqwa.
Jika sudah bertaqwa, bukan tidak mungkin hadiah syurga yang sudah disiapkan bisa menjadi milik kita. Syaratnya ya tinggal mau atau tidak.
Ramadhan #4

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme