A renewed mind, in the Biblical sense, is a mind that is so saturated with Scripture that it thinks Scripture when a crisis hits, rather than relying on wits for a solution to the crisis.
In other words, our minds are renewed when it is so saturated with the word of God that we think Scripture when decision time arrives, rather than trying to "figure things out for ourselves" by using our wits. At that point in time, we know we have renewed our minds in the Biblical sense. This is what Paul meant in his letter to the Romans.
Rom 12:22 And be not conformed to this world: but be ye transformed by the renewing of your mind, that ye may prove what is that good, and acceptable, and perfect, will of God. (KJV)
Now let us go a step further. Let's pay close attention to those Scriptures in the Old Testament that were obviously addressed to The Abrahamic Seed Group. Concentrate on these because, unless they are specifically done away with, they are still in force now and we Gentile Christians are grafted into the same promises. We get the same benefits from them that the Old Testament members of The Abrahamic Seed Group received from them.


If you want a cure for cancer, heart disease, Alzheimer, or diabetes, don't count on the academia, the National Institute of Health (NIH), or the biotech/pharmaceutical industry. With all the money they have spent on researching these diseases, they have very little to show for it.

In 1971, during the State of the Union address, President Nixon declared the war on cancer proposing "an intensive campaign to find a cure for cancer." Since 1971, Americans spent, through taxes, donations, and private R&D, about $200 billion in inflation-adjusted dollars. This money produced 1.56 million papers on cancer. Yet, today we are no closer to a cure than we were in 1971. Why?
Think back over your life. Think about the people that had a positive influence on you. If your past was like mine, many of them didn't realize the impact they made. The influence was usually due to them caring about you and doing some little thing. What little things have been done for you that changed your life? What little things have you done for someone else that might have changed theirs?


I have been influenced by little things done by others.
I had a boss that asked whether I had the guts to take a job he felt I could do. It was a job I wasn't even qualified to apply for. That question influenced me to set my career goals at a higher level and faster pace than they were at that time.
Waktu atau masa, telah Allah gariskan yaitu selama sehari semalam 24 jam. Dengan jatah waktu tersebut setiap makhluk memiliki kesempatan untuk berbuat kebajikan atas dirinya maupun untuk orang lain. Tak terasa satu tahun telah kita lewati, namun hari-hari terasa begitu cepat dan rasanya baru kemarin bulan muharram. Saat ini sudah dipenghujung bulan dzulhijjah tepatnya tanggal 27 dzulhijjah 1432 H. namun, keburukan lebih banyak dilakukan  daripada kebaikan.

Masa lalu tidak akan pernah dapat kembali, maka jangan sia-siakan kebaikan hari ini yang dapat kita lakukan. “never put of tile what can you do today” itulah pepatah yang sering kita baca. Berkaitan dengan hal tersebut maka berbuat kebaikan hendaknya disegerakan dan tidak diakhirkan, untuk menhindari sifat malas ataupun lupa.

Berbicara hijrah, berarti mengenai perpindahan yang sifatnya wujud maupun non-wujud (red. makna). Ketika rasulullah melakukan perpindahan dari mekah ke madinah, hal itu merupakan hijrah fisik atau perpindahan secara kasat mata. Tetapi ketika ada seseorang yang tadinya malas beribadah kemudian menjadi rajin maka hal inilah yang disebut dengan hirah secara makna. Perpindahan posisi dari buruk ke baik atau sebaliknya itu merupakan bentuk hijrah menurut penulis.

Hijrah spiritual
Kematian berlaku bagi seluruh makhluk hidup yang allah ciptakan, karena makhluk sifatnya fana bukan ba­qa (kekal). “Setiap yang bernyawa pasti akan mati” itulah bunyi ayat dalam al-Quran. Berbicara tentang kematian, rasulullah pernah mengatakan kepada para sahabat terkait kematian ini. Rasulullah mengatakan “…. Sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan terhadap kematian”.

Sebetulnya kenapa kita harus mengingat kematian? Jawabannya adalah ketika sudah meninggalkan dunia, maka kita memasuki alam kubur, hari kebangkitan, berkumpul dipadang makhsyar dan kemudian pertimbangan amal dan melwati jembatan shirotol mustaqim. Untuk melewati fase-fase ini dibutuhkan “bekal” yang cukup agar mampu melewatinya dengan mudah.

“bekal” yang dimaksudkan adalah amal-amal baik yang kita lakukan sewaktu masih hidup di alam dunia. Dengan amal-amal tersebut semua fase terasa mudah dan ringan, berbeda ketika amal-amal tersebut sangat minum bahkan tidak ada sama sekali, maka semuanya akan terasa berat dan menyiksa.

Untuk itu marilah kita hijrah dari lalai menjalankan semua perintah-Nya menuju jalan ketaatan, karena dengan jalan ketaatan inilah semuanya akan berubah dan menjadikan diri kita selamat di dunia maupaun di akhirat. Hijrah dari kebiasaan buruk dan meninggalkannya pasti sangat berat dan sulit, tetapi hal ini bisa diusahakan dengan keseriusan dan keyakinan diri yang kuat untuk berubah.

Godaan untuk berbuat seperti dahulu pasti datang, justru disitulah ujian yang sesungguhnya untuk menentukan ke arah perbuhan atuakah memilih kembali ke posisi semula. Penulis meyakini, ketika dibenturkan dengan posisi sepeti itu maka mengingat kematian dan pedihnya siksa allah kelak, dapat memantapkan pilihan tersebut dan tetap memilih berubah ketimabang kembali.

Hijrah intelektual
Smart atau pintar tentu keinginan semua orang, tetapi untuk meraihnya tidak mudah. Butuh waktu yang lama dan melalui proses yang berliku-liku pula. Orang yang pintar atau smart tentu melalui proses belajar yang sama dengan anak lainnya, hanya saja mereka lebih banyak belajarnya ketimbang bermain, atau lebih banyak membaca ketimbang belanja dan lain sebagainya.

Masih ingatkah dengan pepatah “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya” kenapa yang dituliskan di pepatah tersebut adalah kata rajin sebagai proses untuk menjadikan seseorang menjadi pandai? Ya, tepat! rajin itu merupakan sebuah tindakan yang jarang bisa dilakukan oleh setiap orang, hanya tertentu saja. Rajin itu merupakan sifat yang kontinyu dan selalu dilakukan berulang-ulang setiap hari, kalau menurut penulis rajin itu hampir memiliki kata yang sama dengan istiqomah. “ani rajin menyapu halaman” berarti ani sering menyapu halaman tersebut, tetapi apabila turun hujan bisa saja ani tidak menyapunya. Inilah perbedaan dengan kata istiqomah yang penulis maksudkan. Istiqomah adalah melakukan sesuatu hal dengan terus melakukannya walaupun ada sesuatu yang menghalanginya.

Intinya, jika kita ingin pintar maka harus rajin. Rajin belajar, rajin membaca dan rajin mengulang-ulang pelajaran. Atau jika perlu memakai jurus ATM (amati, tiru dan modifikasi) dengan demikian hijrah yang diinginkan akan tercapai sesuai keinginan. Belajar itu memang membosankan, membaca itu melelahkan dan banyak godaanya, tetapi semuanya harus dipaksakan dan diniati untuk perubahan yang lebih baik. Jika bukan diri kita yang melakukanya siapa lagi.

Kesepatan itu tidak datang dua kali, maka jangan sampai menunggu waktu tua untuk berubah. Jika bisa hari ini kenapa harus menunggu hari esok? Seiapakah yang mampu menjamin esok hari kita masih memiliki kesempatan untuk hidup dan mampu menikmati nikmatnya hidup yang indah ini. Laa tuakhir ‘amalak illa al-ghadi maa taqdiru anta al-yaum.. demikian syair atau pepatah arab mengatakannya. Setiap orang memiliki kesempatan tersebut, maka jangan sampai kita menjadi menusia yang merugi.


Paska pertarungan Indonesia melawan Malaysia di ajang final seagames 2011 meninggalkan kekecewaan yang amat mendalam. Pendukung Indonesia menjadi lemas dan tak berdaya ketika harus menerima kekalahan ketika permainan tak mampu merubah kedudukan sampai dengan waktu tambahan dan akhirnya adu pinalti.

Semua mata yang menyaksikan pasukan u-23, berlinang air mata dan berbinar ketika penjaga gawang Kurnia Meiga menepis tendangan dari kapten Malaysia, tetapi bola masih tetap masuk ke gawang. Akhirnya Malaysia pun merayakan kemenangan mereka dan Indonesia harus puas dengan meraih perak atau kata lain harus puas dengan posisi kedua.

“lebih baik kalah dengan Vietnam atau dengan Thailand daripada harus kalah oleh musuh bebuyutan” kata pendukung fanatic Indonesia. Ada yang menambahkan pula “walaupun menjadi juara umum di seagames, tapi tak puas rasanya tanpa diikuti dengan kemenangan pasukan u-23.”

Garuda harus takluk, dan mengakui kekalahan kepada harimau. Final seagames 2011 merupakan bukti nyata. Tetapi, menang ataupun kalah ya itulah pertandingan, karena dalam pertandingan harus ada kalah dan ada yang menang. Untuk yang kalah ada potensi untuk menjadi pemenang sedangkan untuk yang menang siap-siap dikalahkan, atau berubah posisi menjadi kalah. Menang dan kalah merupakan sifat yang berubah-ubah, tergantung bagaimana mempertahankannya.

Saya kira Indonesia belum siap untuk menjadi urutan pertama, tetapi Indonesia lebih memilih posisi tengah-tengah. Paslanya kalau diatas akan mudah terjatuh, tapi jika di bawah akan tertinggal. Indonesia tidak perlu jadi yang pertama jika nantinya hanya akan membawa kesombongan dan menjadi arogan. Hal ini bisa kita saksikan, ketika Indonesia melawan Vietnam di semifinal dan menang telak 2-0, media masa maupun media cetak kemudian banyak menggunakan bahasa-bahasa arogan misalnya dengan kata-kata “Indonesia menggasak Vietnam, menekuk, menggilas, dan lain sebagainya” padahal hal ini tak perlu.

Mungkin Karena inilah Indonesia tidak menempati peringkat pertama, rasionalnya adalah “sebelum jadi juara sudah sombong, apalagi kalau jadi juara??” bahkan istilah seperti ini bisa saja muncul jika Indonesia menjadi jura, “Malaysia bertekuk lutut atas Indonesia.” Padahal ini tak perlu.

Pemberitaan seharusnya menggunakan bahasa yang lugas tegas dan tidak provokatif terhadap pembacanya. Karena hal tersebut merubah mindset dan mampu mempengaruhi pembaca, hal ini berbahaya jika diterima dengan mentah-mentah oleh masyarakat awam. Kemudian terjadilah konflik dan kerusakan, kerusuhan dan lain sebgainya.

saya kira pemilihan kata dalam pembuatan berita di media yang cetak maupun media audio-visual harus betul-betul baik. Karena hal tersebut berdampak kepada pendengar dan pembaca untuk bertindak dan bersikap di masyarakat. Bangunan inilah yang seharusanya diperbaiki dan menjdai evaluasi bagi kawan-kawan pembuat berita.

Saya apresiasi dengan KPI komisi penyiaran Indonesia yang meng-cut kata-kata kotor dalam film, hal ini juga dapat diterapkan dalam media cetak. Justru inilah yang harus dilakukan. Ketika seseorang membaca, kemudian masuk kedalamnya dan meyakininya, maka bacaan itulah yang melahirkan sebuah tindakan atau sikap bagi si pembaca. Provokatif dalam tulisan lebih mengena dan sangat kuat, sehingga sulit untuk merubahnya.

Sebetulnya kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kekalahan adalah awal dari sebuah perjuanagn untuk meraih sebuah kemenangan. Degan kekalahan itulah kita memiliki tolak ukur sejauh mana kekuatan dan kelemahan diri. Justru mengalah itu lebih mulia dan tidak sombong, daripada menang kemudian malah menjadi sombong.

mahasiswa UII-Yogyakarta


Hari kamis, aku berangkat dari stasiun lempuyangan menuju Jakarta, tepatnya stasiun senen yang akan aku tuju. Sebelum berangkat, ku membeli tiket terlebih dahulu. Namun sayang, tiket yang akan aku beli ternyata semuanya habis. Cuma ada satu, itupun mahal banget dan gak sesuai dengan uang yang ku punya saat itu. “mas keretanya sudah habis semua, yang ada kereta ekonomi AC yaitu Gajah Wong. Harganya seratus dua puluh ribu mas” kalo yang pukul 21.00 wib gak ada to mbak?? Tanyaku penasaran. “sudah habis mas.” Lagi-lagi jawaban itu yang aku terima.

Dalam posisi yang terdesak, aku berpikir “gimana kalo aku nekat, terus naik kereta tanpa beli tiket” gumamku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku mantap berjalan dan bilang ke penjaga kalau aku mau nemuin teman yang ada di dalam stasiun lempuyangan. Akupun dengan secepat kilat sudah berada di dalam stasiun.

Aku bersiap melakukan sesuatu hal yang bener-bener belum pernah aku tahu resikonya; aku siap nekat berangkat ke Jakarta tanpa membeli tiket. Walaupun ada peringatan “mulai tanggal 01 oktober 2011 kereta jarak jauh tidak melayani tiket berdiri.” Itulah bunyi tulisan pemberitahuan yang sempat ku baca di dinding dekat tempat membeli tiket di stasiun lempuyangan.

Raungan suara adzan telah hilang, tetapi aku belum sholat magrib. Maka bergegas aku mencari mushola yang berada di ujung stasiun, beberap saat aku sudah buka tas dan masuk tempat wudhu dan shlat magrib berjamaah.

Setelah semuanya beres ku lakukan, aku kembali ke tempat tunggu dan duduk di kursi yang telah disediakan bagi penumpang kereta yang menunggu kedatangan kereta. Sambil memandangi hilir mudik penumpang yang lain, serta para pedagang makanan, minuman dan lain sebagainya yang meneriakan dagangannya tiada henti kepada setiap orang yang berada di stasiun, supaya dagangannya bisa laku terjual. “nasi.. nasi.. nasinya mas pake ikan ayam.. mangewu” begitulah logat khas pedagang yang sering ku dengar di stasiun lempuyangan.

Tak lama aku menunggu, waktu sholat Isya pun telah datang. Suara adzan berkumandang dimana-mana memanggil, mengingatkan serta mengajak kepada umat muslim untuk melaksanakan sholat. Barang-barang yang aku bawa, ku angkut menuju mushola lagi. Aku sholat ketika sang imam sudah melantunkan ayat-ayat suci al-quran, tepatnya sudah di rakaat yang kedua. Tanpa pikir panjang maka aku langsung mencari posisi dan mengangkat tangan ke atas sejajar dengan daun telinga dan mengucapkan “allahuakbar” sambil ku niat melaksanakan sholat isya berjamaah.

 Setelah sholat isya aku kembai ke tempat tunggu semula. Setelah agak berapa lama, aku bertemu dengan salah satu teman kampusku, arif dan hary namanya. Ternyata arif sedang mengantarkan hary yang akan berangkat ke stasiun bekasi. Disana kami ngobrol banyak dan sambil duduk dalam kursi tunggu bersama-sama. “mir , kamu naek kreta apa?” Tanya hary. Naik kereta bengawan, tapi gak pake tiket. Jawabku sambil berbisik, soalnya takut terdengar sama calon penumpang yang lain. “hah kok bisa?” hary dan arif kaget. “ya bisa lah.. tadi pas ane mau beli tiket katanya dah abis semuanya, terus yang ada Cuma kereta mahal.

Gila ajah 120rb, uang dari mana tuh?? Yang ane bawa juga gak nyampe 50rb. ya udah dweh ane nekat, dan sekaligus pengen ngebuktiin kalo bisa naik kereta tanpa bayar tiket” kataku meyakinkan. “iya juga sih..”  kata mereka sambil tersenyum. “Huh gimana ane juga tadi kehabisan jadi ya terpaksa beli yang gajah wong.” ungkap Hary yang merasa kecewa.

Setelah lama menunggu akhirnya kereta hary pun tiba. “kereta gajah wong dari arah stasiun tugu kini telah tiba, harap kepada seluruh penumpang untuk mempersiapkan diri di jalur  dua.” Itulah bunyi pemberitahuan yang jelas suaranya.

Hary bersiap dan salaman terlebih dahulu, sebelum meninggalkan kami. Ia bergegas masuk kedalam kereta, hanya kami berdua yang masih asyik ngobrol.  Tak lama setelah hary jauh meninggalkan stasiun lempuyangan dengan gajah wongnya, arif pun berpamitan meninggalkan aku seorang diri di stasiun, hingga kereta yang akan aku tumpangipun tiba. Aku langsung mengambil posisi dan mencari tempat yang sesuai, nyaman dan tidak ada yang curiga jika aku naik kereta tanpa tiket, serta aku mampu mngawasi petugas yang akan memeriksa tiket.

Kini aku jauh meninggalkan stasiun lempuyangan, rasa pegal dan sakit menghampiri kakiku. Untung aku membaca Koran bekas yang sudah aku siapkan dari asrama, sebagai jaga-jaga siapa tahu gak dapet tempat duduk ketika di kereta nanti. Ternyata semuanya terbukti, aku menggelar Koran bekas tepat di pintu masuk kereta, dan berhadapan langsung dengan pintu toilet. Pintu toilet tersebut tidak memiliki kunci ataupun semisalnya, sehingga ketika ada yang mau buang air kecil atau sebagainya maka harus di pegang dari luar, agar tidak ada bau yang menghampiriku.

Aku berusaha untuk terjaga, agar bisa terus mengawasi petugas yang meminta tiket. Alhasil setelah 6 jam perjalanan aku pun tertidur juga, tetapi alangkah beruntungnya aku, petugas yang mengecek tiket ternyata tidak ada sampai aku tiba di setasiun senen.
***

Hari sudah menunjukan pukul 12.15, aku merasa lelah, dan capek. Rasanya badan ini sudah tidak karuan lagi, bayangkan saja seharian penuh aku berkeliling ibu kota seorang diri. Aku mencari tempat istirahat yang pas, namun tidak juga aku temukan hingga waktu menunjukan pukul 14.05 hingga akhirnya aku tiba di salah satu shelter bus way dan aku merasa nyaman disana.

Bangunan yang tinggi sekitar lima meter ini sangat nyaman, karena selain banyak angin yang bertiup aku juga bisa memandangi keramaian ibu kota dari dari atas. Setelah aku merasa puas, aku melanjutkan perjalanan menuju stasiun tanah abang untuk membeli tiket kereta yang akan membawaku kembali ke pengembaraan suci, yaitu tempat yang sangat istimewa bagiku yaitu jogja.

Setengan jam berlalu, aku telah tiba di stsiun tanah abang. “pak, kok loker tempat tiket yang ke arah jawa tutup??” tanyaku panik. “iya dek, tiketnya sudah habis” bapak itu menjawab dengan datar. “terus kapan lagi bukanya??” wajahku lemas. “paling besok pagi dek tiket bukanya, pukul 8 biasanya.” Aku langsung meninggalkan tempat loker tersebut dan menuju arah kereta jurusan joga tak lupa aku ucapkan terima kasih kepada bapak, yang memakai pakaian dinas hijau tai kuda . “Tampaknya aku harus melakukan rencana yang sama seperti yang aku lakukan pada saat akan berangkat ke Jakarta kemarin” pikirku.

 Aku duduk di gerbong kereta yang paling akhir, tujuannya adalah agar lolos dari pemeriksaan petugas tiket. Tenyata pemeriksaan yang dilakukan sangat ketat, akupun tidak bisa mngelek dari petugas dan harus diusir keluar dari kereta tersebut. Terpaksa aku menunggu kereta yang esok pagi, karena kereta dari stasiun tanah abang hanya ada satu kali. Terpaksa aku menginap di satsiun dan tidur di mushola terdekat, aku mengira mushola itu aman karena dari awal tiba disana tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Aku tidur dengan tanpa perasaan waspada dan curiga.  Waktu subuh pun tiba, barang-barangku masih utuh dan lengkap. Setelah sholat subuh, aku berdziqir sejenak dan ketika menoleh ke arah barang-barang yang aku letakan, alangkah kaget dan seolah tidak percaya. Barang-barangku raib, semuanya hilang sudah tas, hape, uang, pokoknya semuanya saja.

Aku hanya punya pakaian yang aku kenakan saat itu, dan untungnya aku ingat nomer hape salah satu temanku tanpa pikir panjang aku meminta sms kepada penmpang yang sedang menunggu kereta. Setelah 20 menit barulah ia datang dan kuceritakan semua kronologisnya, ia memberiku uang 50.000 untuk ongkos kembali ke Jogja. Aku ucapkan beribu-ribu terima kasih padanya, terima kasih kawan atas pertolongannya, gak kebayang jika kamu gak nolongin aku, dan terima kasih juga pencuri, ini mungkin balasan buat aku yang sudah melakukan kesalahan [nekat naik kereta].


Catatan di bawah ini bersumber dari buku yang berjudul : Pelajaran Berbasis Fitrah karya Achjar Chalil Hudaya Latuconsina penerbit Balai Pustaka, cetakan pertama, 2008 (halaman 123 - 136) Oleh howard gardner seperti yang di kutip oleh Thomas amstrong (2003), empat kecerdasan utama ini di jabarkan menjadi delapan kecerdasan yaitu:

1. Kecerdasan Linguistic atau (Word Smart)

Peserta didik lebih cenderung menguasai materi pelajaran yang terkait dengan bahasa dan tulisan, kreatif dalama menulis, dan sangat senang membaca
Cirri-cirinya :
• Kreatif dalam menulis
• Mengarang kisah hayal atau menuturkan lelucon dan cerita
• Sangat hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil
• Menikmati waktu senggang dengan membaca buku
• Mengeja kata-kata dengan tepat dan mudah
• Menyukai pantun lucu dan permainan kata
• Suka mengisi teka teki silang atau melakukan permainan seperti scrabble
• Menikmati mendngarkan kata-kata lisan atau ceritaprogram radio pembacaan buu dan sebaginya.
• Unggul dalam pelajaran sekolah yang melibatkan kemampuan membaca dan atau menulis
Cara mudah dalam belajar
• Guru bercerita
• Guru mengajak bermain permainan ingatan tentang nama dan tempat
• Lakukan permainan kosa kata
• Mengisi teka-teki silang
• Padukan membaca dan menulis dengan bidang lain
• Gunakan pengolah kata dalam computer



Ujian Nasional (UN) merupakan penentu keberhasilan sisiwa yang telah mengikuti proses pembelajaran di lembaga pendidikan dari tingkat dasar, menengah hingga tingkat atas.  Berhasil atau gagalnya seorang siswa akan ditentukan  disini, pasalnya apa yang mereka peroleh selama mengikuti proses belajar mengajar selama bertahun-tahun akan diujikan pada ujian nasional (UN). 
Perasaan takut menyelimuti dunia pendidikan di seluruh indonesia bahkan orang tuapun merasa khawatir jika anaknya tidak bisa lolos di ujian nasional (UN). Kekhawatiran itu hingga berlarut-larut dan menjadi dilematik, ketika anak-anak mereka sudah sampai kelas akhir kecemasan dan rasa was-was sangat mengahtui. Sehingga hal ini mendorong dunia pendidikan khususnya guru, dan pihak sekolah untuk membuat system yang mampu menghilangkan kekhawatiran tersebut. Tak heran jika untuk bisa lulus ujian nasional siwa disarankan untuk lebih keras dalam belajar dan disarankan untuk mengikuti privat. Sehingga banyak siswa yang menjadi stres karena ujian nasional ini.



Mahkota perempuan terletak pada rambutnya. Rambut indah dan sehat menjadi dambaan kaum hawa. Dengan rambut yang terawat, anda bisa memikat lawan jenis. Buat kamu yang memiliki rambut hitam, ada cara mudah yang bisa kamu lakuin untuk membuat rambutmu tampak lebih sehat dan berkilau.

Bukan hanya sering keramas, memberikan vitamin dan conditioner atau bahkan rutin mengunjungi salon. Menjaga rambut agar tetap sehat juga terkadang tidak perlu harus mengeluarkan uang.

Berikut tips agar rambut indah kamu tetap terjaga.

- Gunakan Penutup Kepala : Keseringan kontak langsung dengan matahari, bukan hanya membuat rambut menjadi kering dan bau. Jika kamu sering beraktivitas diluar ruangan, gunakan penutup kepala seperti topi atau payung. Kalau lupa atau nggak sempet membawa penutup kepala, biasakan menggunakan hair serum atau hair mist pada rambut hitam-mu agar terjaga dari sinar matahari.

- Shampo dan Conditioner Khusus : Punya rambut sehat dan hitam memang agak sulit. Namun jika rambut kamu berwarna hitam berkilau, tetap pertahankan dengan rutin menggunakan shampo dan conditioner khusus untuk rambut hitam. Karena dalam shampoo dan conditioner khusus mengandung formula vitamin dan pigmen warna gelap.

- Jangan Biasakan Mengikat Rambut : Keseringan mengikat rambut sangat tidak baik untuk kesehatan rambutmu. Karena dengan mengikatnya, rambut akan rapuh dan mudah rontok. Jadi biarkan rambut kamu terurai dan bebas tanpa harus mengikatnya.

- Rajin Kesalon : Untuk mendapatkan rambut indah dan sehat memang butuh biaya. Jadi saat ada uang, usahakan mengunjungi salon untuk merawat rambut dengan hair mask atau hair spa.Kalau rambut kamu bercabang, lakukan trim alias gunting rambut secara berkala setiap 6 bulan sekali. Untuk membuat tampilan rambut hitammu semakin bersinar, kamu bisa mendapatkannya dengan cara smoothing. Jadi untuk memiliki rambut hitam berkilau, bukan lagi impian.


Tersebutlah seorang pahlawan besar Persia bernama Rustam dan Sohrab  Mereka adalah ayah dan anak, namun mereka tidak pernah bertatap muka sampai suatu hari mereka harus beradu pedang, berjuang mati-matian di area pertempuran.sebagai dua komandan dari dua pasukan yang saling bermusuhan.

Cerita ini dimulai saat Rustam harus meninggalkan rumah beberapa saat setelah kelahiran putranya, Sohrab. Ia pergi untuk pergi mengemban tugas sebagai komandan dari sang raja Persia. Tugas itu adalah menaklukan dunia.

Sebelum meninggalkan kedua orang yang dicintainya Rustam memberiakn jimat kepada istrinya, dan berpesan agar jimat itu diikatkan di tangan kanan anaknya, sehingga dia akan mengenali anaknya bila suatu saat bertemu.

Sejak usia belia, putra komandan Persia ini menggabungkan diri nya dengan pasukan Yunani.entah karena bakat turunan atau faktor lainnya, karir Sohrab dalam ketentaraan melejit bagaikan rising star. Kemampuan dan kekuatanya menghantarkan dirinya menjadi komandan pasukan yunani dalam waktu singkat.

Ketika suatu hari  kedua negara tersebut bertemu di medan pertempuran. Berjumpalah sang anak dan ayah, mereka tidak mengenali satu sama lain. Mereka bertempur habis-habisan selama lima belas hari tanpa berhenti.

Rustam mulai kehabisan tenaga dan dengan cara yang licik berhasil membuat putranya tersandung dan terjatuh. Kemudian, dengan segera kesempatan baik itu tidak di sia-siakan, Rustam menikam Sohrab tepat di dadanya. 

Sohrab menjerit ”hai orang malang! Berhati-hatilah terhadap balas dendam Rustam, ayah ku. Untuk perbuatan keji ini, dia pasti akan memberikan ganjaran yang setimpal kepadamu.” ucap Sohrab.

Bagai disambar petir di siang bolong, Rustam terhuyung-huyung ketika mengenali jimat yang ada di lengan kanan Sohrab. Tubuh Rustam seakan menggigil bisu, dia mendekap Sohrab dan mencium dahinya, ”anakku... anakku. Ya tuhan, apa yang telah aku lakukan? Ampun..ampun..ya tuhan.”

Luka yang diderita putranya sangat berbahaya.secepat kilat dia menunggang kudanya dan menuju sang raja, satu-satunya orang yang mempunyai obat penyembuh untuk luka yang tergolong berat. Tetapi, sang raja yang telah mendengar kehebatan Sohrab menolak  permintaan Rustam.

Bagikan pengemis Rustam meng-iba menjatuhkan diri di kaki sang raja, sambil meyakinkan raja bila kelak anaknya sembuh, anaknya akan menggantikan dirinya dan lebih berhasil dalam misi menaklukan dunia. Sang raja tetap bergeming.

Sementara itu, Sohrab telah meninggal sebelum ayahnya kembali. Sewaktu Rustam melihat jenazah anaknya, dia jatuh pingsan dan kehilangan ingatan.

Diambil dari buku : Happiness Inside
Penulis : Gobind Vashdev

Sebuah berita berhembus di penduduk desa tentang sebuah batu permata bernilai selangit yang dimiliki seorang petapa sederhana yang tinggal di pinggiran hutan. Setelah bertahun-tahun, seorang pemuda pemberani mendatangi petapa tersebut, bukan hanya ingin bertanya, namun ia ingin meminta batu mulia itu. 

“ini ambil, ini untukmu,” kata petapa itu tanpa beban.

Pemuda itu kegirangan dan pergi setelah mengucap terima kasih. 

Malam datang, namun pemuda yang beruntung ini tidak bisa tidur, pikirannya tidak bisa diam. Tanpa mampu menunggu matahari terbit, pemuda ini pergi kembali ke tempat petapa itu dengan batu di tangan dan sesakan di pikirannya.

Di depan petapa itu, dia menyodorkan kembali benda yang belum genap 24 jam menjadi miliknya itu, sambil berkata, “hai orang suci, ambilah permata ini kembali, namun berikan hati penuh ikhlas yang mampu memberikan intan ini.”

buku : Happiness Inside
Penulis : Gobind Vashdev

Alkisah, ada seorang raja yang menderita sakit kepala berkepanjangan, sehingga sulit untuk disembuhkan dan memanggil juru sembuh. Raja tersebut berkeliling ke beberapa negara untuk memperoleh kesembuhannya.

Sampai suatu saat dia bertemu dengan seorang tabib yang sangat sederhana tetapi kesaktiannya tidak diragukan lagi. Ketika sang raja mengeluhkan sakitnya, tabib itu dengan enteng menjawab “yang diperlukan Paduka adalah sering-sering melihat warna hijau” setelah berucap begitu, sang tabib dan juga petapa itu dengan santainya membalikan badan dan meninggalkan sang raja.

Karena kesohornnya, raja percaya kepada tabib itu,dan dia kembali kekerajaannya dan mengintruksikan agar semua benda di sekelilingnya di ganti warna hijau, dari cat tembok, seragam tentara, sampai gelas dan piring. Setelah itu, benar, ternyata sakit yang diderita sang paduka raja sembuh.

Raja sangat bahagia dengan kesembuhannya, walaupun ada beberapa kerabat yang tidak suka dengan apa yang terjadi, karena kini tidak ada warna lain selain hijau.

Beberapa bulan kemudian, raja mendengar bahwa tabib yang pernah menyembuhkannya berada di kota mana dia tinggal. Raja meminta perajurit untuk menjemput tabib sakti itu ke kerajaannya.

Setelah bertemu, raja memberikan hadiah serta menjamu orang yang berjasa ini. Raja mengajak tabib berkeliling sambil memperlihatkan bahwa apa yang dinasihatkannya telah dilaksanakan dan benar terbukti menyembuhkannya.

Tabib itu dengan sangat tenang dan muka yang datar berkata “baginda, apa yang anda lakukan? Mengapa anda mengubah istana menjadi satu warna?” dalam kebingungan baginda menjawab, “bukankah itu yang kau sarankan, agar saya banyak melihat warna hijau?”

“ya, saya memang bilang begitu, namun mengapa anda ganti semuanya yang ada di sekitar dengan warna hijau, bukankah lebih bijak bila anda sendiri yang memakai kacamata berwarna hijau.”

buku : Happiness Inside
Penulis : Gobind Vashdev

Suatu hari seorang petani menemukan telur burung elang. Setelah di bawa pulang, sang petani meletakan telur burung elang itu di kandang ayam bersama telur ayam yang lainnya. 

Beberapa hari kemudian telur elang itu menetas, Si Elang kecil tumbuh dan menikmati dunia sekitarnya, dia berjalan seperti induknya, Si Ayam. Ia mematuk-matuk makanan seperti saudara-saudaranya dan bermain dengan ayam-ayam yang lainnya.

Sewaktu ayam itu sudah menjadi dewasa, dia melongok ke atas langit dan melihat ada sebuah makhluk terbang membelah langit dengan gagahnya, elang dewasa itu bertanya kepada orang tuanya, "makhluk pakah itu bu?.."

Induknya menjawab, "oh itu raja dari segala raja burung, namanya burung elang, kita hanya seekor ayam tidak mungkin bisa terbang seperti itu.”

Hingga ajal menjemputnya, Si Elang tersebut mati sebagai ayam. 

Buku : Happiness Inside
Penulis : Gobind Vashdev

Ada seorang usahawan yang bertemu dengan seorang nelayan  yang sedang santai duduk di pinggir pantai dan terlihat sangat menikmati suasana saat itu.

“Mengapa engkau tidak pergi untuk menangkap ikan? Tanya usahawan itu.
Karena ikan yang ku tangkap telah menghasilkan banyak uang untuk makan hari ini, jawab nelayan itu dengan polos nya.

"Kenapa engkau tidak menangkap lagi lebih banyak dari pada yang kau perlukan?" Tanya sang usahawan.
"Untuk apa?" Tanya nelayan sesederhana itu.

“Engkau akan mendapatkan uang lebih banyak, jawabnya. 

“Dengan uang itu engkau dapat membeli jala yang lebih besar, sehingga tangkapan mu lebih banyak, terus engkau akan mendapatkan banyak uang. sehingga dengan begitu bisa membeli perahu motor juga. Dan dengan perahu motor engkau akan melaut lebih jauh dan akan mendapatkan ikan yang lebih banyak lagi... nah, dengan segera uang mu akan cukup untuk membeli dua buah kapal. Lalu kau pun akan kaya seperti aku...” Tutur Usahawan dengan Pede-nya

“Selanjutnya engkau mesti berbuat apa? Tanya si nelayan,
"Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup.." kata si pengusaha.
“menurut mu sekarang aku ini sedang berbuat apa?” kata nelayan puas.

buku : Happiness Inside
Penulis : Gobind Vashdev

Seorang buta jatuh kedalam sumur. Ada seseorang kebetulan lewat disana dan karena meras kasihan melihat keadaan orang yang menyedihkan itu, ia menawarkan jasa untuk menarik orang buta itu kelauar dari sumur tersebut.

Untuk maksud tersebut, dia kemudian melemparkan seutas tali yang  panjang kedalam sumur dan menyuruh orang buta itu untuk memegangnya agar dapat ditarik keluar. Orang buta itu tidak langsung memegang tali. tapi, malah mengajak sang penolong itu berdebat secara panjang lebar yang tidak ada gunanya.

Orang yang buta itu bercerita tentang bagaimana ia bisa sampai jatuh kedalam sumur yang begitu dalam, siapa orang yang pertama kali mempunyai ide membuat sumur?, mengapa orang yang baik hati itu mau menariknya keuar? apakah ia memiliki maksud tertentu dengan menolongnya, apa jaminan kalau ia tidak akan jatuh lagi kedalam sumur itu atau sumur yang lain, dan sebagainya.

Semua omong kosong itu membuat kesabaran penolong yang baik hati itu habis, tetapi dengan tenang ia menjawab bahwa dia sekarang harus memegang tali itu demi kebaikannya sendiri. Penolong itu juga mengatakan bahwa setelah ia ditarik keluar, ia boleh mempelajari keadaannya dan mencari jawabannya sendiri dengan tenang.

Sekali lagi Si Buta itu mengajukan pertanyaan yang bukan-bukan. Dia bertanya mengapa orang yang membawa tali itu tidak jatuh ke dalam sumur, sang penolong itu kemudian mengatakan bahwa dia masih memiliki banyak tugas lain dan bahwa dia akan terpaksa  meninggalkan orang buta itu di dalam sumur bila ia tidak mau keluar dengan segera.

Baiklah, kata orang buta itu, tapi sebelum itu, tapi katakanlah pada saya berapa dalam sumur ini dan kapan ia  dibuat?.

Ya ia cukup dalam untuk dapat menjadi kubur bagi orang seperti engkau, kata si penolong, sambil meninggalkan si buta di dalam lubang tersebut.

Diambil dari buku : Happiness Inside
Penulis : Gobind Vashdev

Suatu hari ada seorang ibu membawa anaknya datang kepada Gandhi, dan berkata,”Gandhi maukah engkau menasehati anak saya ini? Dia mempunyai sebuah penyakit yang untuk kesembuhannya dia tidak boleh mengonsumsi garam. 

Tolong beri nasehat kepadanya untuk tidak makan garam. Saya dan keluarga bahkan dokternya pun sudah berulang kali menasehatinya, namun dia masih tetap masih makan garam. Saya sudah kehabisan kata-kata, tolong saya, siapa tahu dia akan menuruti mu."

Dengan senyum dan suara lembut Ghandi berkata “ibu sekarang saya tidak bisa berkata apa-apa, silakan ibu pulang dan bawa anak ibu kesini minggu depan.

Kata ibu itu, "Ghandi, anak itu di depan mu sekarang, tidak bisakah kamu sekarang menasihatinya? Ghandi dengan senyum yang selalu di bibirnya hanya menggelengkan kepalanya yang menandakan tidak.

Dengan perasaan campur aduk, ibu itu pulang dan tepat satu minggu mereka berdua ada di hadapan Ghandi. Saya sudah menunggu satu minggu, kata ibu itu kepada Ghandi. Sekarang berikan nasihat itu. Kemudian Ghandi datang dan mendekati ke anak itu, dan menasehatinya untuk tidak makan garam. apa yang dikatakan Ghandi tidaklah istimewa, tidak ada satu pun yang baru, hanya sebuah nasihat yang sederhana, tidak lebih. 

Pada saat itu sang ibu merasa sedikit kecewa karena dalam penantian nya satu minggu dia  berharap Ghandi akan melakukan sesuatu yang lebih daripada kata-kata yang biasa.

Tidak lama kemudian Ghandi meminta ibu dan anak itu untuk pulang kali ini perasaan ragu-ragu menyelimuti si ibu. Si ibu tidak yakin ini akan berhasil. Namun yang terjadi sebaliknya, anak ini berhenti makan garam. Ibunya berpikirr mungkin ini hanya akan terjadi satu atau dua kali hari, tetapi kenyataannya lebih dari itu, anak tersebut total berhenti makan garam selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Didorong rasa penasaran yang tinggi seorang diri ibu itu datang menghadap Ghandi untuk ketiga kalinya dan langsung bertanya “Ghandi rahasia apa yang kamu miliki sehingga kamu bisa membuat anak saya berhenti makan garam? Tanya si ibu. “kata-katamu yang kamu ucapkan adalah kata-kata biasa saya sering menasehatinya dengan cara yang sama menurut saya dokternya menasehati dengan cara yang lebih baik, tapi mengapa anaksaya menurut kepadamu?

Dengan lembut Ghandi menjawab pertanyaan ibu dengan jawaban “ibu masih ingat pada saat pertama kali ibu kesini dan saya meminta ibu datang satu minggu kemudian “?

Ya itu kenapa, terus terang saya masih penasaran” sahut ibu itu dengan cepat.

Pada saat itu saya belum bisa menasehati anak ibu untuk makan garam, karena saat itu saya masih  mengonsumsinya. Sepulang ibu, saya saya berhenti makan garam, sampai kemudian ibu datang lagi, baru saya bisa berbicara untuk tidak makan garam ke anak ibu.

diambil dari buku : Happiness Inside
Penulis : Gobind Vashdev

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme