PONPES UII – Menginjak Ramadhan hari ke 20, panitia Bahana Syiar Ramadhan atau yang disingkat dengan BASYIRO 2013 mengadakan acara puncak sekaligus penutupan acara. Serangkaian acara tersebut dimulai pada pukul 17.00 yaitu dengan diawali khotmil Qur'an serta disusul dengan pengumuman pemenang pelombaan. Sabtu,27/07/13.

Setelah shalat tarawih di mushola PONPES UII - Yogyakarta, acara dilanjutkan dengan Nuzulul Quran. Penceramah yang mengisi acara tersebut ialah Ust. Aang Kunaepi, S.Ag., M.Ag. Dosen UII sekaligus dosen tetapi UNS. “berapa banyak orang yang membaca al-quran tatepi al-Qur’an melaknat mereka..” begitulah beliau membuka pengajian. Sebab karena kebanyakan manusia tidak membaca al-Qur’an dengan hatinya.

Banyak yang hafal dan lancar, tetapi apa yang mereka lakukan hanya diseputar otak saja, dalam hatinya kosong. Sehingga banyak yang ngerti dengan al-Qur’an tetapi perilaku seperti dajal. “ngerti hukumnya dan tahu ayatnya tetapi masih melakukan perbuatan tersebut..” ngerti ayat “laa taqrabu zinaa....” tetapi masih tetap saja melakukannya (pacaran).

Beliau juga berpesan untuk mengoptimalakan dalam mengolah tiga unsur dalam diri manusia. Diantaranya ialah : Hati, Akal dan Jasad.

Hati manusia ada tiga jenis, hati yang mati, sakit dan sehat. Hati yang mati ialah hati yang selalu membading-bandingkan dengan keburukan. Hati yang sakit selalu memiliki sikap iri, dengki, buruk sangka dan sinis terhadap orang lain. Hati yang paling baik ialah hati yang bersih, yaitu hati yang sehat. Hati yang sehat selalu besikap selalu membersihkan hatinya dari “kotoran”.

Unsur yang kedua ialah, akal. Akal manusia merupakan pembeda dari manusia dan hewan. Tetapi ada juga manusia yang lebih heina dari pada hewan. Seburuk-buruknya hewan, tidak pernah menyukai sesama jenisnya. Tetapi manusia, ada yang menyukai sesama jenisnya. Itulah merka orang sukses (suka sesama).

Unsur yang ketiga ialah, jasad.  Jasad merupakan anggota badan yang dengannya kita melakukan tindakan. Sebagaimana iman, tidak hanya ucapan dan membenarkan dalam hati semata, tapi harus disertai dengan tindakan seluruh anggota badan. Inilah arti iman yang sesunguhnya.

Ustadz asli kota Bandung ini menyampaikan pula tentang makna sholat. Baru-baru ini tersiar sholat tercepat di dunia. Shalat tarawih 23 rakaat selesai hanya dengan waktu 7 menit. Ini jelas salah, dan masyarakat yang demikian sangat awam. Menurut pandangannya. Sholat bejamaah yang dilama-lamakan juga kurang baik, sebab kita tidak tahu pekerjaan tiap ma’mum. Yang baik tu, sholat berjamaah bacaanya pendek, sdangkan sholat sendiri bacaanya boleh dipanjangkan. Ingat jangan dibalik.

Jangan beranggapan bahwa sholatnya lama berarti sholatnya khusyuk. Sholat yang khusuyuk bukan sholatnya lama, tetapi mampu mengaktualisasikan nilai-nila sholat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebab ada orang lama sholatnya karena ada calon mertua, ingin dilihat dan lain sebagainya.

Sebelum menutup tuasiahnya, ustadz yang lebih populer dengan sebutan Mr. Ank (baca: mister eng) menyampaikan tiga tipe orang berdoa. Pertama orang berdoa mengadukan tuhannya kepada makhluknya. Kedua, orang yang berdoa mengadukan makhluknya kepada tuhannya (mengutuk). Ketiga, mengadukan dirinya kepada tuhannya. Sebaik-baiknya berdoa ialah dengan cara yang ketiga. (/zah)

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah [02] : 185)

Alhamdulilah pada kesempatan tahun ini kita diberikan kesempatan untuk menjalani ibadah puasa ramadhan. Tak bisa kita lupakan, salah satu kenangan yang begitu besar dalam sejarah negri ini yiatu kemenangan yang dinanti oleh seluruh rakyat indonesia (merdeka) didapatkan pada saat bulan ramadhan pula. Begitu bahagia kala itu bisa lepas dari penjajah yang ratusan tahun menjajah negri tercinta ini.

Jika kita menengok ke belakang, ternyata bulan ramadhan memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari negri kita ini, bahkan bulan ramadhan telah memberikan semangat dan kekuatan yang begitu besar bagi rakyat Indonesia. Meski jumlah pahlawan yang terbatas dan bersenjatakan bambu runcing, ternyata mampu mengusir penjajah dari negri ini.

Inilah salah satu kebesaran Allah swt yang telah menunjukan kebesarannya. Sebagai generasi bangsa, inilah yang harus kita ingat dan renungkan, tanpa campurtangan Allah semua ini tak akan pernah berhasil, bahkan bisa dikatakan mustahil. Tetapi ditangan Allah tak ada yang mustahil, meski bambu melawan peluru tak sulit bagi rabbku untuk memusnahkan musuh-musuhku.

Tak hanya itu, tentu keberhasilan kemerdekaan itu juga ditopang dengan kebersatuan, kebersamaan serta kekokohan diantara pejuang negri ini. Dengan menjunjung tinggi prinsip ini, mereka mengesampingkan ras dan golongan. Tujuan mereka satu, yaitu memperjuangkan kemerdekaan negri ini dengan tumpah darah mereka, tanpa tawar-menawar lagi.

Seandainya para pejuang itu masih hidup hingga saat ini tentu akan menangis, miris dan selalu bersedih. Bhineka tunggal ika hanya tinggal nama, tetapi faktanya kini sudah tak ada. Belum lagi dalam ajaran agama islam yang dianut oleh sebagian besar rakyat indonesia seolah lupa akan ajaran tuhannya. Padahal, sudah tertulis jelas dalam al-Quran : "Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai." (QS. Ali Imron [03] 103.)

Saat ini kita terjebak dalam ranah perbedaan pendapat yang akhirnya tidak menemukan titik temu. Fanatisme muncul dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling baik dan paling benar. Salah satu contoh ialah terkait penentuan kapan mulai dan akhir puasa, yang sering menjadi pembicaraan hangat diawal bulan ramadhan setiap tahun.

Jika meminjam istilah yang digunakan oleh Dr. Malik Madani, M.A., dalam pola keberagamaan kita hanya difokuskan pada pembetukan dan pembinaan sholih al-ibadah (keshalilahan dalam ibadah, keshalihan ritual). Kita hanya mengukir-ukir dan membagus-baguskan sholat saja, sehingga berujung pada perdebatan yang berlarut-larut hingga sampai sesat-menyesatkan.

Inilah kesalahan  yang terjadi, kebanyakan yang dituju dan yang dicari hanya shalih dalam ibadah saja (tata cara sholat). Padahal jika kita renungkan, dalam ajaran Rasulullah saw, tujuan akhirnya adalah untuk shalih al-akhlaq (keshalihan akhlaq). Agama itu datang untuk membetuk moral melalui ibadah, mislanya melalui sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Sehinga, jika sholatnya baik sudah pasti yang lainnya mengikuti.

Mensikapi Perbedaan

“Ya Allah, lunakkanlah hati kami sehingga kami bisa berlapang dada menghargai adanya perbedaan faham dan keyakinan, tanpa harus menghujat bahkan menyakiti hati orang lain yang tidak sefaham dengan kami, Aaamiiin.” Tulisan ini saya dapatkan dari jejaring sosial milik Dr. Junanah, MIS.

Kedewasaan dalam perbedaan itu sangat perlu, sikap ini telah ditunjukan oleh beliau sehingga kita harus menirunya. Semua memiliki argumentasi, dan semua memiliki pilihan untuk memilih yang sesuai dengan diri kita masing-masing. Tidak perlu saling menghujat atau malah lebih dari itu. Oleh karenanya mari kita renungkan bersama kaliamt ini, “Kalian ber-Tuhan satu, bernabi satu, berkitab satu, berkeyaknan satu, tapi kenapa dalam berkehidupan kalian bercerai-berai...?”

Alternatif yang kedua, ketika mensikapi perbedaan ini bisa dengan cara yang lain. Misalnya seperti Gus Nuil dalam sebuah tulisannya. “Kita ini memang bangsa bawel yang kurang proporsional, hanya gara-gara menentukan puasa ributnya setengah mati. Padahal setelah ditentukan harinya mereka juga kadang jarang berpuasa dan menggunakan alasan macam-macam untuk tidak berpuasa.

Sebenarnya puasa itu ada dalilnya; Shumu li ru'yati wa aftiru li ru'yati," berpuasalah kamu setelah melihat bulan dan ber-idul fitri-lah kamu dengan melihat bulan. Nah kalau dengan mata telajang tidak kelihatan maka genapkan sebulan penuh. Sederhana bukan? Jadi, mau berpuasa tanggal 9 sialahkan,  mau puasa tanggal 10 juga silahkan. Tidak puasa pun tidak masalah, wong perintah puasa itu untuk orang yang beriman, bukan untuk yang baru berkelas Islam syahadat tho...”

Puasa dan Mu’min
Ayat tentang puasa (Al-Baqarah  [02] : 183) dimulai dengan menyeru kepada orang-orang yang beriman (yâ ayyuha al-ladzîna âmanû...) dan tidak untuk yang lainnya. Jelas bahwa apa yang disampaikan oleh Gus Nuril, bahwa hanya orang-orang yang berimanlah yang mendapatkan perintah puasa, bukan kepada orang islam yang berkelas syahadat. Kedua kelas ini jelas sangat jauh berbeda.

Dalam agama islam, ada dua rukun yang wajib kita jalani. Rukun islam (arkanu al-islam) dan rukun iman (arkanu al-iman). Kedua rukun ini kita laksanakan secara berbarengan, rukun islam dikerjakan dalam bentuk dzohir (tampak). Misalnya syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan rukun iman yaitu mempercai hal-hal yang gaib (tidak tampak), Allah, Malaikat, Kitab (wahyu), Rasul (utusan Allah), Hari Qiyamat dan Qada-qadar.

Jika kita urutkan tingkatannya, islam (muslim) itu yang pertama, kedua ialah iman (mu’min) dan yang terakhir ialah ihsan (muhsin). Jadi, kedudukan iman itu lebih tinggi daripada islam. Iman itu artinya percaya. Orang yang beriman percaya kepada Allah dengan sepenuhnya, dan tidak setengah-setengah.

Iman itu tidak hanya dalam ucapan belaka, atau pun hati saja, tetapi iman itu dimplementasikan dengan tiga unsur tadi. “al-qoulu bi al-lisan, wa al-tasdiqu bi al-jinan wa al-‘amalu bi al-arkan” artinya : Diucapkan dengan lisan, dibenarkan dalam hati dan dikerjakan dengan segenap anggota badan. Sehingga ucapan, hati dan tindakannya semuanya sudah didasarkan kepada Allah swt dan akhirnya melekat dalam dirinya dan menjadi sebuah sifat.

Inilah iman yang sesungguhnya. Tidak banyak orang yang mampu menggabungkan ketiganya, kadang baru sekedar tahu, tapi dalam hati belum bisa menerima. Bahkan ada juga yang sudah mantap dilidah, sudah diyakini dengan hati, tetapi belum mampu dalam tindakan. Artinya belum bisa sepenuhnya menjaga diri dari keburukan, maksiat, dan dosa-dosa kecil yang lainnya.

Jika sudah demikian, dimanakah level iman kita saat ini? Sudah sampai tahap mana? Apakah baru sekedar lidah, atau hati? Atu malah baru kelas syahadat. Kita renungkan kembali kualitas keimanan dalam diri masing-masing. Sebab keimanan seseorang menentukan kualitas ibadahnya.

Ikhhtitâm
Kedewasaan dalam mensikapi awal dan akhir ramadhan perlu dibudayakan. Sebab hal ini hanya ranah khilafiyah, tidak perlu diperdebatkan lagi. Semuanya sudah memiliki dasar yang jelas, tidak perlu mencari siapa yang paling benar ataupun sebaliknya. Sebetulnya yang salah adalah yang tidak menjalankan puasa.

Orang yang mengaku beriman, tetapi tidak berpuasa (tanpa sebab udzur), dipertanyakan keimanannya. Boleh jadi, keislamannya baru sampai kelas syahadat. Berarti ia belum beriman, orang islam (muslim) belum tentu beriman (mu’min), tetapi orang yang beriman (sesuai dengan arkanu al-iman) sudah pasti islam.

Ramadhan merupakan bulan yang paling ampuh dan tepat untuk menyucikan diri (tazkiyah an-nafs). Dengan berpuasa kita dituntut untuk menjaga diri dari sifat-sifat hewani dan mengumbar nafsu. Sebab dengan berpuasa semua sifat-sifat ini dapat dikendalikan dan diminimalisir. Pada bulan Ramadhan ini juga dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak kebaikan (amal shalih). Selain pahalanya dilipatgandakan, ternyata hal tersebut merupakan sebagai alat terapi, supaya terbiasa melakukan hal-hal yang baik akhirnya akan melahirkan pribadi yang baik pula.

Oleh karenanya, maka kebaikan itu seharusnya terus dijaga supaya terus istiqamah, meskipun ramadhan sudah lewat. Salah satu tolak ukur, untuk mengukur ramadhan itu berbekas atau tidak, cukup dengan melihat before dan after-nya saja. Apakah ada perubahan sebelum dan setelah ramadhan? Disinilah akan terlihat jelas dampaknya. Allahu’alam []

Amir Hamzah
Santri PONPES UII
Alhamdulilah, puasa pada tahun ini terasa penuh makna. Puasa yang Allah wajibkan atas orang-orang sebelum kita seperti dalam  surat Al-Baqarah :183. Tujuannya ialah untuk memberikan pelajaran dan bagaimana mengendalikan nafsu bukan membunuhnya.

Itulah kenapa setiap umat-umat terdahulu Allah wajibkan mereka berpuasa meskipun caranya berbeda-beda. Bahkan dalam ajaran agama lain (khususnya di Indonesia), itu ada yang namanya puasa.

Boleh jadi tujuan mereka puasa juga sama dengan puasa yang kita lakukan saat ini. Hanya saja, kita memiliki keyakinan bahwa yang akan menggatinya langsung adalah Allah SWT. Sebagaimana dalam hadits qudsi "Puasa itu untuk Ku dan Aku yang akan membalasnya.." Sedangkan mereka (nonmuslim) berharap dengan balasan dari tuhan mereka sendiri pula.

Berbicara tentang puasa, saya sendiri sudah melewati sepuluh hari pertama. Rasulullah membagi bulan ramadhan dengan tiga bagian. Sepuluh hari pertama ialah rahmat, kedua maghfirah dan yang ke tiga ialah dijauhkan dari api neraka. Kalau saya menoleh kembali ke belakang, tepatnya pada awal ramadhan, banyak sekali perbedaan yang terasa ketika puasa hari pertama dengan pertengahan bulan ini.

Di manakah letak perbedaan tersebut?. Puasa di hari pertama terasa berat, tetapi memasuki pertengahan bulan, seolah sudah tidak terasa berat. Tadarus, sedekah dan amalan-amalan yang lain pun sangat bersemangat dilakukan ketika masih awal-awal puasa, tetapi jauh berbeda ketika puasa ini menginjak pertengahan bulan, semangat itu mulai luntur dan seolah hilang entah kemana. Kenapa bisa demikian?

Ketika semangat itu menurun dalam diri ini, berarti secara tidak langgsung saya tidak mendapatkan apa yang Rasulullah sabdakan "awwaluhu rahmah.." Saya merasa telah kehilangan kesempatan ini, diawal bulan ramadhan..

Saya sadar, apa yang harus saya lakukan. Saya harus memohon ampunan, cepat-cepat bertaubat kepada Allah dan mendekatkan diri kepadaNya. Semoga dengan taubat itu saya bisa diampni oleh Allah SWT.. biarlah saya kehilangan rahmatNya, tetapi saya tidak boleh kehilangan MaghfirahNya.

Saya yakin, ketika semuanya sudah benar, istiqamah, dan semata mengharap ridha Allah, maka sudah pasti akan dimasukkan kedalam syurgaNya. Pastinya tentu akan dijauhkan dari api neraka. Untuk itu marilah kita tetap jaga semangat, jaga niat, dan  terus istiqamah dalam menjalani ibdah di bulan ramadhan ini, semoga dapat menjalaninya dengan penuh kekhusyukan.

Semoga kesalahan yang saya lakukan ini tidak terulangi lagi, dan dengan niat yang sungguh-sungguh untuk kembali semangat dan memperbaiki diri lagi. Semangat tadarus, semangat beramal kebaikan, dan rajin tarawih, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat melalaikan diri. Tujuan saya hanya satu, yaitu ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi saya, bulan ramadhan kali ini merupakan bulan kejujuran. Jujur dalam artian bahwa sebetulnya diri ini lebih condong ke arah yang mana, kebaikan atau keburukanlah yang lebih dominan. Jik kebaikan lebih dominan berati baik, tetapi sebaliknya maka berusaha lah supaya menjadi lebih baik.

Seperti kisah saya di atas, yang mengalami penyusutan semangat. Perlahan saya ditunjukkan bahwa diri saya yang sesunggunya ialah seperti ini. Lebih condong ke arah keburukan dan senang dengannya. Au’dzubillah min dzalik.[]
Sebentar lagi kakek pensiun. Itulah kabar yang aku terima dari nenek. Sedikitpun kakek tidak merasa ada yang berbeda baginya, setelah pensiun nanti. Pasalnya kakek memiliki segudang pekerjaan yang bisa ia kerjakan disela-sela pensiunnya. Meski pensiun dari pekerjaan kantornya, pekerjaan yang lain masih banyak untuk menantinya.

Kata kakek “gak ada istilah pensiun sebetulnya… ungkapan itu hanya sebagai salah satu kebijakan dari setiap perusahaan atau lembaga saja“. Kalau kita kembalikan kepada agama kita (islam) sebetulnya perpindahan aktivitas dari satu ke aktivitas yang lain itu dimaknai dengan istirahat. Nah, ketika kakek pensiun, berarti secara tidak langsung  sedang istirahat saja. Ungkap kakek datar.

Kakek pernah berkata, jika masa pensiunan kakek saat ini sudah ia fikirkan jauh sebelum kakek memiliki pekerjaan. Kakek sudah mempersiapkan semuanya secara matang, yang ada dalam pikiran kakek bukan harta benda, tetapi anak. Kakek bangga dan puas, karena anak-anaknya sudah bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Bagi kakek, hadiah yang terbesar pada masa pensiunan hanyalah itu.

Kakek tidak memperdulikan harta, jabatan ataupun apapun. Dari anak-anak kecil kakek tidak pernah mempermasalahkan tentang keduniaan. Bagi kakek menjadi manusia yang dapat bermanfaat bagi orang lain itu lebih mulia ketimbang yang lainnya. Pesan kakek buat kami sebagai cucu-cucunya “jadilah orang baik, jadilah orang yang berilmu, jadilah orang yang ikhlas, sebab dunia itu akan mengikuti kalian….“

Inilah masa kebahagiaan kakek yang merasa bangga dengan hasil jeripayahnya semasa hidupnya. Masa pensiunan ini akan kakek isi dengan aktivitas yang lainnya. Sebab kakek orangnya tidak bisa diam, selalu saja ada hal yang bisa ia lakukan. Yang seing kakek lakukan saat ini merawat kebun yang ada di belakang rumahnya.  semoga bermanfaat []

Anak merupakan aset yang paling berharga dalam keluarga. Sebuah keluarga tidak lengkap bila tidak ada yang namanya buah hati (anak). Rasanya sunyi, sepi, dan entahlah apa namanya karena saya belum menikah dan berkeluarga. Yang jelas terasa ada yang kurang dengan hidup ini, meski semuanya serba cukup tetapi apalah gunanya jika tidak memiliki aset berharga yang satu ini.

Seorang anak merupakan penerus keturunan sebuah keluarga, dan ini berjalan tak pernah berhenti hingga seterusnya. Terus bertambah dan bertambah hingga menjadi sekelompok orang, dari satu daerah ke daerah lain, berupalu-pulau, bersuku-suku dan akhirnya berbangsa-bangsa. Hal ini disebabkan karena manusia terus berkembang biak.

Dalam agama Islam, anak merupakan sebuah amanat yang diberikan oleh Allah swt kepada orangtua (ibu dan bapak). Kelak amanat itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah dihari kiamat. Untuk itu mengajarkan agama dan membimbing anak ke jalan yang benar merupakan tugas dari orangtua. Dan begitu seterusnya, karena yang saat ini menjadi anak, kelak akan menjadi orangtua.

Dalam sebuah kisah, diceritakan ada orangtua yang ibadahnya baik, sholatnya tepat waktu, sedekah, suka menolong dan lain sebagainya. Ketika di akhirat, orangtua tersebut divonis masuk surga. Tetapi sebelum masuk syurga ada seorang pemuda yang meminta keadilan. Pemuda itu ternyata putra dari orangtua tersebut. Pemuda itu berkata "mereka memang ahli ibadah, suka menolong, sedekah dan lainnya, tetapi mereka tidak pernah mengajarkan saya shalat, puasa, dan membiarkan saya mabuk-mabukan, maksiat dsb".

Jika saya masuk neraka, maka mereka juga harus bertanggungjawab. Akhirnya orangtua tersebutpun masuk neraka bersama anaknya. Cerita ini menggambarkan dan mengajarkan kepada kita bahwa mendidik dan mengajarkan anak merupakan kewajiban orangtua. Sebab bagimanapun semuanya adalah amanat dariNya.

Al-Qur’an mengatakan bahwa anak/keturunan dan harta adala fitnah "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28). Maksunya ialah dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar.

Fitnah di sini juga berarti bisa menyibukkan atau memalingkan seseorang dan menjadi penghalang baginya dari mengingat dan mengerjakan amal kepada Allah swt, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik, sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah swt uji pada harta dan anak bagi manusia.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SWA juga menyebut keduanya sebagai pembuat pengecut dan kekikiran bagi manusia. Sebagaimana dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah SWT".

Empat Metode

Oleh karenanya, mari lah kita mempersiapkan generasi (anak) yang berkualitas serta memiliki pengetahuan dan kefahaman yang baik dalam agama. Adapun cara yang dapat dilakukan antara lain : a) Mengajarkan konsep Luqman. b) Mengajarkan keteladanan. c) Mengajarkan kejujuran dan d) Belajar keikhlasan.
Empat hal inilah yang hilang dari generasi anak masa depan. Kalau kita berkaca kepada kisah Lukman, bagaimana ia mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana mengenal tuhan dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dalam segala hal, yakinilah bahwa Allah membersamai langkah dan tindakan yang kita lakukan.

Miskin keteladanan, ya kata itu sangat tepat untuk diungkapkan. Pasalnya tak ada lagi yang dapat dijadikan sebagai seorang uswah (teladan) yang hidup, bagi generasi saat ini. Semuanya memiliki "track record" yang buruk. Hanya Rasulullahlah satu-satunya orang yang dapat dijadikan uswah, karena tindak dan tanduk beliau bagitu indah.

Kedua yang patut dijadikan teladan adalah orangtua kita sendiri. Tetapi kebanyakan orangtua tidak mampu menjadi sosok yang dapat dijadikan sebagai uswah oleh anaknya. Berarti di sini lah tantangannya bagi para calon orangtua, bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi contoh yang baik dan panutan bagi anak-anaknya kelak. Yuk kita siapkan sedini mungkin, bagaimana sudah siapkah Anda?

Kejujuran merupakan harga mati, dan hanya segelintir orang saja yang mampu melakukannya. Begitu banyak orang yang mampu melakukan kesalahan, tetapi hanya sedikit saja yang mau mengakui kesalahannya. Jujur terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan yang terpenting adalah jujur terhadap Allah SWT. Berapa banyak yang dapat melakukannya??

Hidup merupakan perjalanan sementara, dan sebagai alat perantara untuk mencapai ke sebuah titik yang disebut dengan akhirat. Semua yang dilakukan, amalan ibadah dan lain-lain bermuara pada satu kata, yaitu kata ikhlas. Semua perbuatan yang tanpa didasari dengan keikhlasan semuanya hampa, kosong dan tak akan memiliki nilai. Itulah sebabnya allah melarang manusia untuk menjauhi sikap riya (syirik kecil).

Terlebih ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan maka ikhlaslah yang tepat untuk diungkapkan. Sedikit ataupun banyak, besar dan kecil semuanya harus diikhlaskan. Sebab manusia tidak akan pernah tahu rencana yang Allah persiapkan untuk dirinya. Apapun itu, pada dasarnya baik bagi diri kita. Yang terpenting, ketika ditimpa musibah bersabar dan ketika mendapat nikmat bersyukur. Lebih dahsyat lagi ketika mendapatkan musiabah ia tetap mengucapkan syukur. Allahu’alam.

____________
* tulsian ini diterbitkan oleh okezone.com di kolom Opini (KLIK DISINI)
Tulisan ini sebagai refleksi Hari Anak Nasional yang diperingati Tgl. 23 Juli

Ramadan kali ini tentu sangat berbeda bagi saya. Ini juga mungkin yang disebut sebagai pendewasaan diri. Bahkan jika kita kembali ke sejarah nabi Muhammad SAW, beliau diangkat menjadi rasulullah pada usia 40 tahun. Kenapa demikian? Jawaban sederhananya ialah karena pada usia 40 tahun tingkat kematangan seorang manusia betul-betul melekat dalam dirinya.

Setelah menjalani beberapa ibadah pusa dari tahun ke tahun rasanya puasa itu sama saja. Malahan, seolah tidak ada bekas ataupun perubahan yang saya rasakan sama sekali. Berdasarkan renungan, dan muhasabah diri akhirnya saya bertekad ramadan kali ini harus betul-betul bermakna buat saya, hingga bertemu dengan ramadan tahun depan (saya optimistis).

Kesempatan kali ini tidak boleh disia-siakan. Sebab ramadan kali ini merupakan momen yang tepat untuk "back to" jalan yang lurus. Saya tidak tahu bahwa tahun yang akan datang akan Allah berikan kesempatan lagi untuk bertemu dengan yang mulia ini. Saya sadar bahwa perubahan seseorang itu tidak dengan cara yang instan, tetapi butuh proses bahkan hingga membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Selain sebagai bulan pendewasaan diri, bulan ramadan kali ini bagi saya sebagai bulan pembelajaran. Saya sangat antusias menyaksikan kajian tafsir Al-Misbah yang dibawakan oleh Prof. Quraish Shihab. Dari pesan-pesan yang disampaikan oleh beliau saya seolah mendapatkan "amunisi" yang baru untuk lebih giat belajar lagi. Terutama belajar dengan kehidupan.

Banyak hal yang saya dapatkan pada ramadan kali ini. Ruh spiritual maupun jiwa sosial saya seolah terpanggil, keduanya seolah hidup. Terasa seperti dua bluetooth handphone yang sedang mengirimkan file dari satu handphone ke handphone yang lainnya.

Saya teringat dengan isi ceramah salah satu ustadz dalam satu kajian. Ustadz tersebut menyampaikan bahwa proses dari "âmanû" menuju ke "mu’minûn" itu butuh proses. Saat ini kita masih mengalami metamorfosa dari yang namanya âmanû (orang yang beriman) menuju kepada mu’minûn (orang yang sudah betul-betul beriman). Proses inilah yang harus kita sadari, sehingga sebisa mungkin proses ini dijaga dari sebab-sebab kerusakannya.

Oleh karenanya, ramadan merupakan bulan yang sangat tepat untuk melakukan "metamorfosis" diri agar menjadi lebih baik lagi. Saya baru menyadari bahwa kenapa pada saat ramadhan setiap muslim dianjurkan untuk berbuat baik, menahan amarah, manahan nafsu dan keburukan-keburukan yang lainnya, yang dikatakan dapat merusak pahala puasa.

Tujuannya hanya satu, yaitu sebagai pembiasaan diri dalam menjadi pribadi yang baik. Dengan kebiasaan-kebiasaan itulah secara otomatis akan menyatu dalam diri dan akhirnya menjadi sebuah sikap bahkan lebih dalam lagi bisa menjadi sebuah sifat. Sehingga sangat disayangkan jika taka da perubahan sedkit pun yang didapatkan dari bulan yang mulia ini. Allahu’alam.
____________
* Tulsian ini pernah dipos kan oleh okezone.com
Siapa sangka, tulisanyang sederhana dan idenya muncul iba-tiba bisa jadi tranding di kompasiana membuat saya kaget juga. sebetulnya ini tulisan saya yang kedua, tulisan yang pertama saya juga dulu sempat muncul di highlight kompasiana. Tulsian yang pertama tentang artis, saya mengembil judul "Norman kamaru sudah almarhum" Bagit saua upload tenyata cukup pesat, jumlah pengujungnya meningkat drastis.

Sama sepert tulisan yang saya buat kali ini.. "mengungkap misteri kuis di acara televisi.. benar gak sih??"
Ada yang masih ingat dengan yel-yel seperti ini..? En.. Ii.. Ni... Te.. Aa... Ta.. Niitaa. Yap Nita,.... dai cilik dari Yogyakarta. Masih ingat bukan? Itulah Nita pildacil 2011 yang suaranya khas kecil dan imut.

Dai cilik yang masuk tiga besar di PILDACIL ANTV 2011 ini sebetulnya pernah ikut acar di jambore anak muslim (JAM Se-DIY) yang diselenggarakan oleh Jamaah Al-Faraby  (JAF) - FIAI UII. Dan dai cilik yang memiliki nama lengkap Anita Nur Chasanah ini keluar sebagai juara pertama dalam kategori lomba PILDACIL.

Kebetulan waktu itu saya jadi ketua panitianya langsung dan sempat menyerahkan hadiah juara umum kepada TPA Karangwaru Lor, kala itu diwakili oleh Mbk. Yeni. Salah satu kenangan waktu itu, fotonya masih saya simpan. Oh ya, foto yang di blog ini (ada di slideshow) bertuliskan "sambutan ketua JAM" itulah kenangan acaranya.

Setelah Nita jadi juara, ada seleksi dai cilik yang diselenggarakan UIN-SUKA. Mbk Yeni sempat mengabari dan meminta doa supaya nita bisa lolos, dan akhirnya Nita pun lolos untuk berangkat ke Jakarta. Sebagai ketu JAF, Syaifullo Yusuf merasa bangga, karena salah satu acara yang diselenggarakn oleh JAF telah sukses bahkan menjadi batu loncatan untuk Nita bisa terpilih menjadi PILDACIL terbaik ke 3.

Tak lupa ketika acara Milad PONPES UII  yang 2012 nita kembali hadir dan menjadi salah satu peserta lomba PILDACIL yang diselanggarakan oleh panitia. Meski Nita tidak keluar sebagai juara, dengan kehadiran Nita juga memberikan hiburan bagi peserta yang lainnya. Banyak peserta yang lain meminta berpose bersama dengan dai perwakilan dari TPA Karangwaru Lor ini.

Sebagai sama-sama pengurus TPA, saya kenal baik dengan Mbk. Yeni, selaku bibi, dan sekaligus guru Nita belajar ceramah di rumah. Mbk Yeni cerita banyak tentang tips-tips bagaimana mengajari keponakan yang lainnya supaya bisa dan mau belajar jadi penceramah. "Kuncinya satu, harus sabar....." Papar Mbk Yeni pada saya. 

Siapa yang tidak senang ketika tulisannya dimuat. Meski belum dapat honor, setidaknya ini dapat memberikan amunisi baru untuk terus berkarya. Apapun itu, besar- kecil, banyak - sedikit semuanya harus di syukuri dan diamini. Semoga kedepan semuanya bisa lebih baik lagi dan terus diberikan ke-istiqamahan dalam berkarya. amiin.
Puasa ramadan merupakan perintah Allah SWT yang dibebankan kepada manusia yang sudah memenuhi syarat, salah satunya yaitu sudah baligh. Baligh itu ada tendensinya, jika dilihat dari segi umur yaitu untuk laki-laki 15 tahun sedangkan untuk perempuan sembilan tahun.

Adapun parameter kedua setelah umur yaitu apabila sudah mengalami "mimpi basah" untuk laki-laki dan menstruasi untuk perempuan. Secara ilmu fiqih, puasa diartikan menahan diri dari segala yang membatalkan mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Menahan diri dari makanan, tidak bersetubuh di siang hari dan hal-hal yang mampu membatalkan puasanya. Jika melihat kepada ilmu fiqih tentu siapapun sudah bisa dipastikan mampu melaksanakannya, dan inilah yang kebanyakan kita lakukan di bulan ramadhan sebelum-sebelumnya.

Maksudnya adalah puasa yang kita jalani hanyalah sebuah ritual yang menggunakan kacamata ilmu fiqih. Lalu bagaimana ketika kita berpuasa tetapi tidak pernah sholat lima waktu, selalu berkata kotor, dan keburukan-keburukan lainnya? Apakah puasa kita memiliki nilai? Apakah tidak berpengaruh dengan puasa kita?

Di sini lah kenapa kita tidak harus berpuasa hanya menggunakan kacamata ilmu fiqih saja. Dalam ilmu fiqih, ketika kita berpuasa tetapi tidak salat dan berkata kotor, selama tidak makan, minum dan yang dapat membatalkan lainnya, tentu puasanya tetap sah. Tetapi dalam ilmu tasauf puasa yang kita lakukan hanyalah perbuatan sia-sia. Allah SWT tidak butuh dengan puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga semata.

Dimensi Ganda
Jika ditinjau dari aspek lain, secara vertikal puasa itu merupakan keshalihan individual sedangkan secara horisontal mengarah kepada keshalehan sosial. Betapa tidak, ketika kita berpuasa secara tidak langsung rasa kepekaan sosial itu telah tumbuh. Sehingga para fuqaha menyebut puasa itu dengan amalan yang berdimensi ganda; yaitu vertikal dan horisontal.

Tak hanya puasa saja, banyak amalan yang memiliki dimensi ganda, salah satunya adalah berqurban, seperti yang kita lakukan pada hari raya ‘Id Al-Adha. Ibadah puasa tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah swt semata, tetapi bagaimana menumbuhkan sikap kepedulian kita terhadap sesama.

Kepedulian terhadap orang lain yang memiliki nasib yang tidak seberuntung dengan saudaranya yang lain. Mereka hidup dalam kekurangan, keterbatasan dan kesulitan. Itu lah kenapa Allah SWT memberikan keringanan kepada orang yang tidak mampu berpuasa supaya menggantinya dengan memberi makan orang miskin (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata: Membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Berkenaan dengan orang tua yang sebelumnya biasa berpuasa lalu karena ketuaannya dia tidak mampu lagi berpuasa, dan wanita hamil yang tidak ada kewajiban puasa atasnya, maka bagi setiap orang dari kedua  golongan ini ada kewajiban memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang dilewatinya dalam bulan Ramadan.

Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang fidyah, tetapi mereka sepakat dengan memberi makan orang miskin (fidyah) ini. Hanya saya yang menjadi perbedaan di antara fuqoha dalam ukuran fidyah itu sendiri yang harus diberikan kepada orang miskin.

Selain itu, kita dianjurkan untuk membayar zakat (bagi yang mampu). Zakat ditunaikan guna mensucikan jiwa dari sifat kikir, tamak, dan cinta kepada harta (hubb ad-dunya) serta membersihkan harta dari hak orang lain yang melekat pada harta seseorang. Bahkan zakat juga membersihkan hati dari rasa dengki terhadap orang yang berharta, dan zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka.

Dalam al-Qur’an perintah untuk mengeluarkan zakat diulang sebanyak 33 kali yang hampir seluruhnya disebut setelah perintah melakukan salat. Hal ini mengisyaratkan bahwa perintah mengeluarkan zakat sejajar dengan perintah shalat, sehingga diharapkan terwujudlah keseimbangan antara manusia dengan Allâh dan manusia dengan sesamanya. (hablun min an-nas wa hablun min allâh) (At-Taubah [09] : 103).

Adapun mereka yang berhak menerima zakat ada delapan golongan (At-Taubah [09] : 60). Itulah hikmah kenapa perintah sholat disandingkan dengan printah berzakat. Sebab menurut Ust. Toto Tasmara, dalam bukunya. Ketika sholat yang kita lakukan dalam bentuk ibadah ritual formal (gerakan takbir hingga salam) selesai, tetapi sejatinya "salat aktual" (dalam bentuk ibadah sosial) kita belum selesai. Justru dengan salat aktual inilah kita berlomba-lomba untuk mendapatkan “tiket” masuk supaya bertemu denganNya. (Al-Kahfi [18] : 110)

Penutup

Seperti sudah disampaikan di awal, bahwa puasa memiliki nilai ibadah yang berdimensi ganda, salat, zakat pun demikian. Dengan ibadah-ibadah seperti ini seharusnya seorang muslim mampu menjadikan dirinya lebih baik lagi. Keshalihan individual tidak berguna jika keshalihan sosial kita abaikan. Keduanya harus berjalan berdampingan, tidak boleh dibiarkan terpisah.

Selain diperintahakan untuk mentaati Allah SWT dan Rasulullah saw kita juga diperintahakan supaya berbuat baik. Sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda: khair an-nas ‘anfa’uhum li an-nas “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”. Itulah kenapa dua keshalihan itu sangat dianjurkan.

Alhamdulillah saat ini kita berada dibulan ramadan, yang mana bulan ini merupakan pendidikan bagi diri kita. Mendidik supaya memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Tak hanya itu, di bulan yang suci ini kita seolah ditunjukan bahwa siapa sesunguhnya diri kita yang sebenarnya. Seberapa besar kualitas ibadah, kepedulian, dan seberapa kuat istiqamah yang kita miliki. Allahu’alam.[]

_______________________-
Tulisan ini, diterbitkan kampus.okezone.com dalam kolom Opini (sumber)

Sepulang dari menikmati suasana Jogja di malam hari bersama ibu guru, saya mendapat sambutan hangat dari salah seorang kawan. Saya dipanggil untuk menyempatkan diri mampir ke kamarnya, karena kebetulan kamar kami di lantai dua dan berdampingan. Ketika masuk saya disuguhi sebuah puding berwarna ungu (seperti buah anggur).

sini kang, ini makanlah.. dapat dari calon isteri saya...” sambil mempersilakan saya duduk. Belum sempat saya duduk, kawan saya ini langsung melanjutkan cerita yang ia alami hari ini dan kemarin. “saya tadi sudah ditelpon bapak, alhamdulilah bapak sudah mengizinkan saya menikah..” sambil menikmati puding.

“bagus kalau gitu.. tinggal menentukan tanggal saja..” imbuh saya. “tapi bapak gak bisa mendapingi lamaran saya kang, soalnya lagi sibuk ngurusin kopi dirumah.. mungkin sama mas saya yang disini.. bapak sudah bilang, nanti akan kirim uang buat beli kalung atau cincinnya saja..” pungkasnya.

Mendengar kabar baik itu saya sangat merasa senang. Tetapi karena saya juga tidak sendiri dan ada beberapa teman, akhirnya guyonan/candaan pun pecah. Kawan saya yang satu ini juga tak tanggung-tanggung cerita kalau dirinya kemarin sempat menangis ketika tidak diberikan izin untuk menikah oleh sang Ibu.

Untung tidak kehabisan akal, ia mengancam jika tidak diizinkan menikah akan pulang dan gak mau kuliah sambil menangis. Paparnya sambil tertawa puas. Tak hanya itu, ia juga bilang ke adiknya kalau lebaran ini gak akan pulang, “ Mir....nanti tolong adik-adik diajak main ya, Mas gak akan pulang.. bilangin ke Mama...

Akhirnya sore tadi ditelepon oleh sang ayah. Untuk memastikan niat dan tekad sang anaknya. Dengan mantap kawan saya yang satu ini mengatakan iya, sudah siap. Sang ayah karena sudah mendengar langsung kemauan anaknya mau apalagi. Padahal orang tuanya akan terus membiayai sampai s3, dengan syarat tidak menikah dulu. Tapi karena ini dilanggar, terpaksa untuk s2 dan s3 insya Allah ditanggung sendiri. Dengan penuh keyakinan ia pun menutup cerita yang dialaminya kemarin dan hari ini. Sebagai seorang kawan, kamipun akan terus memberikan doa dan dukungan selalu.



Di tulisan yang sebelumnya, saya sempat menyinggung salah satu sahabat yang ingin menikah muda. Tetapi sahabat saya yang satunya lagi, mereka sudah sama-sama mendapatkan restu dan ridho dari kedua orang tuanya, hanya saja mereka belum mau buru-buru. Alasannya sederhana, menikah itu hanya bukan mencari kesenangannya tetapi bagaimana setelah menikah??

Kedua sahabat saya ini memang memiliki cara pandang yang berbeda mengenai pernikahan. Mungkin sahabat yang ngebet ingin nikah memiliki pandangan bahwa menikah itu pembawa rizqi. Dengan menikah tentu rizqinya akan ditambah, semangatnya pula bertambah karena ada yang memotivasi, melayani serta berbagi, sang istri lah tentunya.

Bagi sahabat saya yang satunya lagi menikah itu harus betul-betul mapan. Ketika menikah semuanya sudah ada, dan tinggal menikmatinya. Punya pekerjaan tetap, rumah, dan kendaraan pribadi, barulah menikah. Mungpung masih belum banyak pikiran, jadi fokus mempersiapkan semuanya dulu untuk masa depan. Kalau bisa biaya resepsi pun dari uang sendiri, bukan dari orang tua.

Bagi saya pribadi, menikah itu pilihan. Jika sudah siap dengan segala konsekuensinya ya kenapa tidak. Toh semuanya sama-sama baik, dan tujuannya juga baik. Bagi yang mampu menikah muda dengan modal nekat ya monggo, pasalnya banyak yang berhasil juga. Bagi yang memilih mapan dulu juga ya tak masalah. Diserahkan kepada individu masing-masing.

Dalam sebuah kelas, Ustad Hasyim menyampaikan kepada kami, bahwa apabila seorang anak itu sudah baligh maka orang tua sudah tidak berkewajiban mengurusnya, begitulah ilmu fiqihnya. Kata Ust. Hasyim. Tetapi karena ada hubungan sosiologis lah maka (anak) sampai kuliah pun kebanyakan masih dibiayai oleh orang tua. Padahal jika sudah baligh, sudah bisa menentukan hidupnya sendiri.

Kalau boleh memilih, saya lebih sepakat dengan sahabat yang pertama. Meski terlihat berat dan penuh tantangan tetapi inilah rahasia Allah. Seberapa besar dan seberapa kuat kita menyandarkan diri kepada Allah. Saya yakin, orang yang menikah muda apalagi modal nekad biasanya sandaranya adalah Allah, dan biasanya hidupnya sukses. “Tenang, kita punya Allah, semuanya kita serahkan padaNya..” mereka dengan mantap dan penuh keyakinan mengatakannya.

Di sinilah tantangan yang sesungguhnya. Belum lagi pihak dari orang tua yang merasa ragu, bahkan menolak untuk menyerahkan anak perempuannya kepada lelaki yang bermodalkan nekad karena Allah. Lagi-lagi di sinilah kendala pertamanya. Kendala yang kedua, tak sedikit kaum hawa juga yang mau diajak demikian, karena masih ragu dengan nasib masa depannya. "Bagaimana masa depan saya nanti..? kebanyakan perempuan mencari lelaki yang sudah mapan.

Padahal, kemapanan belum tentu identik dengan kebahagiaan. Rasanya terlalu rendah bila kita mengukur kebahagiaan itu dengan sebuah materi. Saya paling tidak sepakat dengan hal ini. Harta itu penting tetapi bukan yang utama. Karena pada dasarnya yang dibawa mati hanyalah amal.

Saya tidak memilih menikah muda, karena sebagai seorang anak yang baik, tugas saya adalah membahagiakan orang tua dulu. Saya lebih memilih orang tua, karena merekalah yang selalu ada buat saya, terutama Ibu. Urusan jodoh, pernikahan, semuanya saya serahkan kepada Allah swt saja. Terpenting jadi anak sholeh dulu. Semoga bermanfaat []

Ditemani hembusan angin malam
yang sunyi sepi..


"Kang kapan sampean nikah..?" salah satu kawan nyeletuk. Dengan nada datar saya pun menjawabnya "belum ke pikiran.. hehehe... " dengan cepat dan sigap saya langsung mengalihkan topik ke yang lain. Sebetulnya, ketika ditanya seperti itu, dalam hati kecil ini tidak bisa dibohongi untuk meng-iya-kan supaya bisa cepat. Teman yang lain hampir semuanya sudah menikah, bahkan ada yang sudah punya dua anak.

Dari satu sisi menikah itu memang sebuah solusi. Apalagi jika sudah siap (baca; mampu) maka menikah pun sangat dianjurkan. Tetapi bagi yang belum siap, menikah harus menunggu waktu yang tepat dan pas.

Salah satu sahabat saya, ia sudah sangat serius untuk menikah. Meskipun kuliahnya belum selesai, dan baru tugas akhir. Pokoknya setelah ia wisuda langsung ijab qabul, itulah rencana yang saat ini ia buat. Orang tua perempuan sudah memberikan  "golden ticket" semua saudaranya sudah pada tahu, tinggal minta doa restu dan ridhonya dari orang tuanya saja.

Hebat bukan? ia memang berani betul..!! Akhirnya saya tahu kenapa ia bisa demikian. Karena beberapa orang yang ia temui kebanyakan menikah muda, sehingga dari sanalah semangat dan keinginan itu terbangun. Bahkan sepupunya juga demikian, dan malah mereka sekarang sukses, senang dan tak kalah penting mereka "dunianya" berlimpah.

Memang perjuangan di awal sangat sulit. Tetapi karena ketekunan berdua dan sudah komitmen dengan pilihan mereka, akhirnya kini berakhir dengan bahagia. Kuncinya hanya satu, yaitu berani. "Katanya.."

Bahkan tadi siang pun (04/07/13) dukungan untuk menikah ia dapatkan dari calon saudaranya. Sebetulnya kami tidak sengaja bertamu ke rumahnya, tetapi karena kebetulan lewat rumahnya kami pun menyempatkan diri untuk bersilaturahmi. Banyak hal yang kami obrolin, salah satunya tentang menikah muda.

Dari percakapan itu saya memetik beberapa poin penting. Terutama tentang persiapan yang harus disiapkan sebelum menikah. Syaratnya adalah harus punya S3 (Es tiga).

Huruf S Pertama, Siap mengalami perubahan. Maksudnya adalah perubahan yang tadinya sendiri kini berdua dan selalu ada yang menemani. Jangan takut ketika bangun pagi ada seseorang disebelah kita. Perubahan yang tak kalah pentingnya adalah perubahan diri dari yang ke kanak-kanakan menjadi lebih dewasa dan lebih berwibawa.

Huruf S Kedua, Siap menerima pasangan kita dengan apa adanya., bukan karena ada apanya. Kekurangan yang ada pada diri pasangan kita harus siap diterima, apapun itu. Jangan menikahi seseorang karena kelebihannya, sebab ketika kelebihan itu hilang pada dirinya maka kita kecewa. Tetapi jika kita menikahi seseorang berdasarkan kekurangannya tentu kita akan lebih mencintainya dengan apa adanya.

Huruf S Ketiga, Siap memiliki keturunan. Karena cepat atau pun lambat maka kita akan memperoleh keturunan (anak). Dengan adanya keturunan itulah lengkap sudah kebahagiaan kita. Peran kita (laki-laki) tak lagi sebagai seorang suami, tetapi berubah menjadi seorang ayah untuk anak-anaknya. Di sinilah peran kita bertambah dan sangat diperlukan. Sosok ayah yang baik, rajin, peduli, bertanggungjawab, dan menyayangi keluarga, tentu menjadi idaman semua orang, terutama bagi istri. Semoga bermanfaat []


Kemarin, ketika sedang asyik dengan komputer, saya mendapatkan sebuah pesan singkat dari nomer misterius. Isi pesannya menyimpan makna yang paling dalam, sampai saya begitu penasaran dengan nomor itu. Akhirnya SMS itu saya balas dengan bahasa yang lumayan tinggi (intelek), tetapi secara tidak langsung menjawab SMS dari nomor misterius tersebut. Dengan sabar saya pun meladeni balasan SMS darinya. 

Alhamdulillah, akhirnya saya mulai bisa menebak siapakah ia sebenarnya.Beberapa kali saya mencoba menebaknya, tetapi selalu salah. Hingga akhirnya saya menyerah dengan nomer misterius. Tetapi, SMS yang ia kirimkan menggunakan kode, serentak saya langsung mengenali karakter kode tersebut dan menyebutkan namanya dengan lengkap. Ya, ia adalah kawn lama saya, kawan yang dulu sempat menemani ketika saya berziarah ke makam Sultan Hasanuddin Banten.

Erik itulah nama sahabat saya ini. Saya dan Erik tentu masih ingat betul tentang kisah perjalanan kami waktu itu, ingatan itu sangat melekat kuat dalam pikiran kami. Dulu ketika itu kami bertemu dengan sahabat baru di sebuah stasiun Karangantu ketika hendak pulang. Kisah ini amat menarik dan tak bisa kami lupakan

Kala itu saya dan Erik ketinggalan kereta. Ternyata kereta berangkat sudah dari pukul 06.00 pagi, sedangkan kami tiba di stasiun pukul 07.30. Sia-sialah kedatangan kami ke stasiun. Uang sudah habis, hanya cukup untuk pulang saja. Kami tak bisa berbuat banyak kala itu, selain hanya bisa menunggu. Ternyata kami tak hanya berdua, ada dua orang lain juga yang sama persis kami alami pagi itu.

Akhirnya dengan basa-basi kamipun menghampiri mereka berdua. Kami mengenalkan nama masing-masing dan mereka pun sama.

"Teh emang pulang kemana gitu.." Tanya ku.
"ke Rangkasbitung." jawab salah satu dari mereka.
" Kata petugas kereta tadi, kereta akan ada lagi pukul 14.00 siang.. " timpalku.
"terus gimana dong.."
" gimana kalau kita jalan kaki saja ke stasiun Serang, deket kok.. " bujuk ku dengan nada yakin.

mereka pun saling bertatap muka dan berdiskusi kecil-kecilan. Ternyata merekapun menyanggupi tawaran saya pagi itu. Disanalah kami ngobrol kesana-kemari sembari mengakrabkan diri dengan teman baru kami. Saya kala banyak nanya, apapun saya tanyakan kepada mereka. Bahkan kami juga gantian ngobrolnya, sambil menyusuri rel kereta yang tak tahu samapi sejauh mana kami berjalan.

Tak terasa matahari sudah berada di atas kepala. Ini menandakan bahwa kami sudah sekitar dua jam perjalanan, tetapi belum sampai di tempat tujuan. Mereka sempat protes dengan ajakan saya, tetapi mau dikata apa, semuanya sudah terlanjur. Apalagi kalau hanya menunggu disana, tentu tidak dapat apa-apa, selain hanya bosan.

Akhirnya kamipun bertanya kepada penduduk sekitar dan mencari alternatif jalan lain. Alhamdulilah ada yang menunjukan jalan dan kamipun akhirnya naik angkot hingga tiba di Serang. Karena kami belum sholat dzuhur, akhirnya kami berempat memutuskan untuk mencari mushola dan sholat berjamaah. Selepas sholat berjamaah kami sudah disambut dengan semangkuk mie instan yang sudah mereka (sahabat yang baru kami kenal tadi pagi) siapkan untuk saya dan Erik.

Kamipun makan mie dengan lahapnya. Rasanya baru tadi pagi kami berkenalan dengan mereka, tetapi seolah sudah seperti kawan lama saja. Tak ada perasaan canggung ataupun malu-malu, kami merasa seperti keluarga saja.

Selesai makan mie, kami kembali ke stasiun dan menunggunya. Setengah jam berlalu, akhirnya kereta yang kami tunggu pun muncul juga. Ketika di kereta, tak banyak yang kami obrolkan, mungkin hanya sesekali kami ngobrol saja. Pada kesempatan itulah saya memberanikan diri untuk meminta nomer handphone mereka. Dengan senang hati merekapun memberikannya pada kami. Hingga kamipun berpisah, dan harus turun duluan di stasiun Cikesal.

Sebisa mungkin kamipun berkirim kabar dan pesan dengan mereka. Tak terasa, ternyata kisah ini sudah hampir genap lima tahun.... setiap bulan ramadhan tiba, saya selalu ingat kisah ini. Saya yakin sahabat saya juga akan selalu ingat dengan kisah ini... teruntuk sahabat saya nan jauh di sana, Erik, Teh Aida dan Teh Mul... sebentar lagi ramadhan tiba, bagaimana masih ingat dengan kisah kita??

Yogyakarta, Rabu 24 Syaban 1434 H / 03 Juli 2013 M


Hampir di beberapa kampung yang saya temui kebanyakan yang ditunjuk sebagai imam sholat ialah yang lebih sepuh (tua) umurnya. Padahal jika kita kembali kepada ilmu fiqih, usia itu menjadi patokan yang terakhir. Ada beberapa kriteria yang lain sebelum itu, sebagaimana disampaikan oleh Ustad Hasyim.

Sebaiknya yang pertama dituntut menjadi imam adalah yang afshah (lebih fasih) bacaannya. Makhorijul hurufnya dan ilmu tajwidnya.

Setelah itu jika sama-sama fasih maka yang dipilih ialah yang lebih wara‘ (hati-hati). Dalam artian lebih menghindari sesuatu yang subhat (meninggalkan sesuatu yang tidak jelas hukumnya, antara halal dan haram)

Jika sama-sama wara’  maka yang dicari ialah yang pengetahuan ilmu fiqihnya lebh banyak. Jika sama-sama ahli dalam ilmu fiqihnya maka cara terakhir yang digunakan, yaitu siapa yang lebih tua umurnya. Itulah yang dipilih. Berarti sudah jelas, yang diutamakan ialah kefasihannya.

Tetapi kenyataan dan kebanyakan di masyarakat itu terbalik. Bacaannya mau belepotan, ngerti ilmu fiqih nggak, tidak menjaga diri, yag penting umurnya sudah tua. Inilah penyimpangan yang bagi saya sangat besar, jika dibiarkan dapat merusak ibadah sholat.

Saya pernah punya pengalaman. Waktu itu bulan ramadhan, saya ikut salah seorang teman dan menginap di kampungnya (namanya dirahasiakan) selama sepuluh hari. Selama itu pula saya ikut sholat berjamaah di mesjid yang diimami oleh sesepuh kampung yang bacaannya saya katakan sangat buruk (makharij al-huruf dan tajwidnya kebanyakan rusak).

Saya sudah berusaha ngobrol dengan kelurga dan kerabat, bahkan ustadz. Kata mereka sangat sulit untuk menasehati dan merubahnya.


Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme