Banyak bnegt yang membuat tulisan terkait fakta-fakta unik mengenai dirinya sendiri. di facebook, blog dan MEDSOS lainnya. Tadinya saya tidak tertarik untuk mengikuti, tetapi karena beberapa pertimbangan akhirnya tidak ada salahnya untuk dicoba.

Unik, dan mewakili siapa sih dia sebenarnya. Dari 20 fakta ini, para pembaca bisa mengenal karakter dan sifatnya, bahkan karakternya bisa ditebak. Inilah alasan saya kenapa menulis ini di blog pribadi. Monggo, yang belum kenal bisa membaca fakta yang saya tuliskan.
  1. Terlahir ke dunia ini dengan saudara kembar yang identik. Meskipun nama yang disematkan tidak seperti anak kembar lainnya. Amir Hamzah dan Tajul Arifin, inilah nama kami. Itulah kenapa saya senang menggunakan kata "twin(s)boy" (sengaja huruf S diletakan ditengah) sebagai pembeda dengan yang lainnya.
  2. Dari kecil sudah terbiasa menggembala kambing. Bahkan hingga lulus sekolah Madrasah Tsanawiyah masih menggembala kambing. Sebab kalau tidak menjalankan tugas ini bisa kena marah dan tidak mendapat jatah makan, hehehehhehehe.. inilah hukuman yang harus diterima, jika membantah tugas dari orang tua.
  3. Sudah terbiasa mandiri dari kecil. Pakaian yang dikenakan tanggung jawab sendiri-sendiri. Urusan mencuci baju orangtua tidak mengurusi. Waktu sekolah SD, khusus seragam dicuci orangtua. Sudah masuk madrasah semuanya sendiri, termasuk menyetrika seragam sekolah.
  4. Semenjak SD hingga Madrasah Aliyah (MA) tidak suka jajan. Karena tidak pernah punya uang untuk jajan. Kalaupun punya, tidak berani untuk jajan, malu karena biasanya juga enggak. Alasan yang mendasar yaitu takut ditanya “tumben jajan… biasanya juga enggak..
  5. Ketika Sekolah Dasar, dibuatkan kursi khusus. Jadi, selama duduk di kelas 2 hingga lulus Sekolah Dasar (SD) duduk di kursi itu.
  6. Pernah juara lomba mata pelajaran Bahasa Indonesia, ketika berlomba di kecamatan. Waktu itu antara kelas 5 dan kelas 6 pokoknya, soalnya lupa-lupa ingat gitu. Dan juga ada piagam kala itu, tapi hanya diumumkan saja. Walaupun ada serifikatnya, pasti tinggal kenangan, sudah raib dan menjadi abu.
  7. Pernah rangking pertama dari kelas satu hingga kelas 6 SD. Bahkan dapat nilai terbesar ketika ujian pelulusan Sekolah Dasar.
  8. Ketika sekolah di Madrasah Tsanawiyah, prestasi melorot menjadi ke-3. Karena malas belajar dan banyak sekali tekanan batin.
  9. Mendapatkan ucapan SELAMAT dari guru matematika langsung, karena diawal tes nilainya paling besar, dan itu sangat senang sekali.
  10. Pernah mengalami kejadian yang luar biasa, dan tak akan pernah dilupakan.Tepatnya bulan Desember tahun 2000. Rumah terbakar karena terjadi arus pendek di kabel atas. Tak butuh lama, hanya beberapa menit saja semuanya sudah rata dengan tanah dan menjadi arang. Tidak ada benda apapun yang sempat dibawa, hanya pakaian yang dikenakan waktu itu. Peristiwa ini terjadi kira-kira pukul 01.00 (tengah malam).
  11. Sekeluarga, tinggal di gubuk yang hanya berdindingkan batu-bata. Bentuknya persegi, dan tidak ada kamar. Tidur dengan tikar seadanya dan mengandalkan pakaian sumbangan dari saudara-saudara. Memilih tinggal sementara di sana, karena tidak mau merepotkan saudara yang lain.
  12. Mengalami masa-masa sulit, tetapi akhirnya bisa bangkit. Butuh motivasi yang besar untuk bangkit dan melupakan semua yang telah terjadi. Dengan bersama-sama akhirnya semua masa itu bisa dilewati.
  13. Menjalani masa sekolah Madrasah Aliyah (MA) yang lebih lama, yaitu 4 tahun. 1 tahun digunakan untuk pengenalan program bahasa. Wajar telat dijalan, dan teman-teman yang lain sudah pada lulus juga. jadi serba tertinggal.
  14. Nganggur selama satu tahun selepas lulus dari pesantren. Awalnya mau kuliah dengan mengandalkan beasiswa yang ada. Tetapi setelah dicari-cari akhirnya tidak lolos dan ada juga yang telat daftarnya.
  15. Penyuka celana bahan. Hampir semua celana yang dipunyai bentuk dan modelnya sama, warnanya juga yang gelap. Tetapi, baru-baru ini suka dengan celana levis. Meskipun alasan utama gak suka levis karena malas mencucinya.
  16. Punya kemeja, celana dan sandal yang masih tetep awet meski sudah dipakai dari tahun 2008.
  17. Punya cita-cita pengen punya sanggar, komunitas belajar, syukur-syukur punya pesantren khusus untuk orang-orang hebat. Pengen bisa lanjutin pendidikan dan mengabdi untuk masyarakat sekitar
  18. Punya mimpi pengen kuliah dan alhamdulillah kesampaian, (semua ditanggung sama Univ. sampe lulus). Meskipun dulu dapat hasil nekat dan keadaan orang tua gak mampu membiayai. 
  19. Lebih sering gak dikirimi, dan mengandalakan serabutan dan banting sana-sini buat bisa makan. Alhamdulillah sudah terbiasa dan tidak pernah dikirimi. 
  20. Semasa kuliah mengandalkan nebeng (ikut numpang) sama temen yang berangkat ke kampus. Begitu juga sepulang kuliah. Harus berlama-lama menunggu di gerbang kampus siapa tahu ada yang mau pulang. 
Masih banyak lagi fakta-fakta lain yang belum ditulis. Bahkan bisa lebih dari angka 20. Tetapi setidaknya yang sedikit ini sudah mewakili. []



Berlebihan, itulah kesan yang pertama kali ada dalam benak pikiranku, setiap melihat perempuan yang mengenakan hiasan kuku. Entah itu pakai cutek, pacar, tato kuku dan apalah namanya itu. Bagiku tetap saja tidak pantas. Apalagi pewarna yang digunakan tidak sesuai dengan warnanya.

Kalau sudah melihat itu, pandangan dan anggapan pun berubah. Awalnya kagum, tapi setelah diketahui ternyata di kukunya mengenakan pewarna, kekaguman dan anggapan baik itu langsung hilang. Tadinya dianggap cantik, jadi berubah 180 derajat, menjadi jelek.

Belum lagi kalau kukunya dipanjangkan. Lengkap sudah, ketidaksukaan itu menjadi bertambah banyak. Enek melihatnya juga. Apa coba tujuan dari memanjangakan kuku, tidak ada sama sekali anjuranya. Iya kalau kukunya bagus, ini mah kukunya juga jelek.

Stndarisasi ini tidak objektif memang, tetapi inilah cara dan gaya berpikir ku ketika menilai seseorang. Lebih suka yang tampil apa adanya. Tidak neko-neko, tidak banyak gaya, dan tampil dengan bantuk jari yang rapi dan apa-adanya.

Aku paling senang dengan bentuk jari yang lancip, itulah bentuk jari yang paling ku sukai. Biasanya jarinya indah, dan bentuk kukunya juga indah. Entah kenapa, setiap melihat perempuan dengan bentuk jari yang lancip kepribadiannya menarik, asyik, dan orangnya lincah. Tak hanya itu, orangnya juga mudah bergaul dan tidak bosan dilihat.

Teman sekolahku kebetulan jenis kelaminnya perempuan. Meski perempuan, tapi bentuk jarinya mirip laki-laki. Besar-besar dan kukunya juga persis kuku laki-laki. Semenjak saat itu jadi phobia dan lebih sering memperhatikan bentuk jari dan kuku perempuan sebelum kenalan. Pasalnya aneh dan seram, itulah kesanku.

Tak hanya itu, masih banyak cara atau penilaian yang menurutku sampai saat ini kevalidannya tidak diragukan lagi. Masih seputar jari dan perempuan.

Untuk mengetahui perempuan itu masih singel atau sudah ada yang punya, bisa dilihat dari jari manisnya. Lebih tepatnya, lihat saja pada bagian jari tangannya. Apakah ia mengenakan cincin atau tidak. Simple banget kan?

Jangan terkecoh dan buru-buru mengatakan cinta. Selidikilah terlebih dahulu, siapa perempuan tersebut. Jangan-jangan ternyata sudah menikah dan memiliki anak. Atau lebih tua usianya.

Jika perempuan itu tidak memakai cincin, jangan senang dulu. Tengok dan perhatikan lebih detail jari-jemarinya. Apakah ada kerutan atau masih mulus seperti anak-anak muda pada umunya.

Bagi yang mempermasalahkan usia atau umur cara ini bisa diterapkan. Sebab, usia perempuan bisa dilihat dari kerutan jari-jemarinya. Tidak percaya? silakan buktikan.

Jangan pernah mengatakan hasil penyelidikan tadi di depannya, cara yang paling tepat ialah menjauh. Menjauh, itulah langkah yang harus diambil ketika sudah mengetahui siapa perempuan tersebut.

Tapi jika status sudah tidak menjadi masalah, dan sudah kadung cinta silakan dilanjutkan hingga ke jenjang yang lebih serius. Pesanku jagalah ia baik-baik.. bimbing dan tuntunlah jika ia salah (tidak sesuai dengan harapan).

Beberapa minggu yang lalu, saya dan teman-teman sempat diminta salah satu sekolah negri untuk ‘ngajar ngaji’ (membaca al-quran) ditingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Untuk lembaga sekolah yang dimaksud sengaja kami sembunyikan identitasnya.

Para guru mengeluhkan bahwa anak muridnya kebanyakan belum bisa mengaji. Ditambah lagi, dari depag ada peraturan baru, yaitu untuk kenaiakan tingkat dari kelas tujuh ke kelas delapan mereka harus sudah ‘bisa’ mengaji. Kami diminta mengajar seminggu sekali, tepatnya setiap hari kamis pukul dua sore.

Awal ketika kami tes, murid-murid bilanganya secara serentak bisa, katanya. Tetapi begitu diminta untuk membaca ayat yang kami tunjukan, hanya beberapa saja yang bacaanya sudah baik dan benar, selebihnya masih banyak yang salah. Inilah fenomena saat ini, sudah usia di atas 12 tahun belum bisa mengaji.

Miris memang, tetapi sebagai kakak, pembimbing, guru atau orangtua, maka tugas kita yaitu terus mengajari mereka sampai betul-betul bisa membaca alquran. Agar adik-adik ini pintar dan cepat bisa, maka kegiatan mengaji ini harus dilakukan setiap hari (pembiasaan). Usahakan waktunya sehabis shalat magrib, karena waktu menjelang Isya ini cukup pendek, atau jika tidak bisa silakan cari waktu yang enakanya kapan saja.

Metode pembiasaan merupakan cara tercepat untuk mengingat dan mengenal huruf. Sehingga akan cepat dan mudah untuk membaca alquran dengan baik dan benar. Proses ini sudah terbukti dan digunakan tempat pengajian kampung-kampung. Meski yang dipelajari hanya sedikit, tetapi karena terus diulang akhirnya cepat bisa.

Lain halnya dengan hanya seminggu sekali, tentu akan lebih sulit. Selain lambat, pelajaran yang ditangkap juga menjadi faktornya. Bahkan, pelajaran yang sudah ia dapatkan di minggu kamarin akan lupa ketika berjumpa di pertemuan hari ini. Belum lagi ditambah dengan rasa malas, hal itu semakin menambah daftar kesulitan yang dijalani.

Dua Metode
Dalam ‘belajar ngaji’ ada dua metode yang digunakan. Keduanya sudah terbukti ampuh dan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bukan kekeurangan lebih tepatnya, tetapi lebih didasarkan kepada sifat ‘malas’nya orang zaman sekarang. Toh metode itu sudah betul-betul ampuh dan teruji.

Pertama, Metode Baghdadiyah. Metode ini menggunakan buku sendiri, bentuknya tipis terdiri dari pengenalan huruf (tanpa syakl), kemudian huruf berharokat pisah-pisah, setelah itu baru huruf berharokat dan bersambung, dan biasanya kalau sudah melewati tahap tersebut langsung ke juz amma.

Metode ini lebih menitikberatkan kepada metode eja. Metode yang menyebutkan huruf dan sekaligus harokatnya (tanda bacanya) ini, terbukti lebih sulit, kata orang zaman sekarang. Tetapi, dari unsur pengenalan huruf, jenis dan bentuknya lebih melekat kuat dalam ingatan. Tak hanya itu, pelajaran tajwid dan panjang pendek bacaan pun bisa mudah dimengerti.

Meskipun pelajaran tajwid itu ada waktunya sendiri waktunya. Bahkan ‘parukunan’ (belajar sholat) itu juga ada waktunya sendiri. Biasanya langsung dipimpin oleh guru ngaji dan diikuti oleh santri-santrinya.

Setiap murid yang sudah dianggap lancar, baik dan benar bacaanya akan mengajari yang belum bisa, setelah semuanya selesai mengaji maka giliran dirinya yang mengaji ke guru ngaji. Ia betul-betul lulus kalau sudah selesai khatam satu alquran, atau 30 juz. Pengesahan itu diberikan oleh guru ngaji sendiri, bukan oleh dirinya sendiri.

Kedua, Metode Iqra. Metode ini diperkenalkan oleh tim dari MM-Yogyakarta. Metode ini menggunakan jenjang bertahap, dari tahap satu hingga tahap enam. Tiap-tiap tahapan memiliki tolak ukur yang jelas, ada penilaian indicator yang jelas.

Siapa yang belajar iqra pasti akan lebih cepat bisa membaca, tapi kelemahannya ialah pengenalan hurufnya kurang kuat. Kebanyakan orang yang sudah menyelesaikan iqra tahap enam, sudah merasa bisa membaca al-quran, sehingga ia enggan untuk melanjutkan ke tahap yang lebih tinggi, yaitu al-quran.

Apapun metodenya asalakan tekun dan terus mengulang pasti bisa. Begitu dianggap bisa, maka jangan pernah berhenti membaca alquran. Silakan cari guru yang lebih fasih dan lebih aqra' dalam membacanya. Pelajari juga Makharijul huruf, Shifatul huruf, Ahkamul huruf, Ahkamul maddi wal qasr, dan Ahkamul waqaf wal ibtida’.

Di tempat saya sendiri, motivasi anak untuk ‘ngaji’ khususnya usia menjelang dewasa (sudah masuk SLTP) sangat kurang. Hanya beberapa orang tua saja yang sadar dan peduli akan pentingnya pendidikan agama ini. Padahal ini adalah modal untuk mereka suatu hari nanti, terlebih untuk dirinya sendiri dan syukur bisa diajarkan kepada orang lain.

#YukNgaji…


Jaka Ahmad yang juga dikenal dengan nama "Jack" adalah mahasiswa tunanetra asal Indonesia yang sedang kuliah S2 program Social Work di Universitas Flinders, Adelaide, Australia Selatan. Salah satu hobi Jack adalah senang bepergian, dan berikut pengalamannya dengan seorang sopir bus di Adelaide.

Seperti di kota-kota lain yang pernah saya singgahi atau tinggal, di Adelaide saya juga suka bepergian sendiri, apalagi dengan menggunakan transportasi umum seperti bus atau kereta. Sangat terbiasa dengan hiruk-pikuk lalu-lintas Jakarta yang semrawut membuat saya sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan di Adelaide yang lebih teratur.

Bayangkan saja, yang biasanya saya harus berlari, menghadang bus untuk menanyakan jurusannya, atau lompat dari bus ketika ingin turun dari bus yang tidak sepenuhnya berhenti, kini saya tinggal berdiri manis di pemberhentian bus dengan merentangkan tongkat putih saya dan bus pun akan berhenti dengan sukarela agar saya bisa menanyakan jurusan bus tersebut.

Suatu sore, ketika saya hendak pulang ke tempat tinggal saya, saya menaiki bus 720 ke arah kota dari Flinders Medical Center. Sebelum duduk, saya berkata pada sopirnya, bahwa saya mau turun di bus stop 22. Biasanya saya duduk di kursi paling depan, yang merupakan kursi prioritas bagi penyandang disabilitas, ibu hamil atau lansia.

Namun kali ini saya duduk agak jauh dari sopir. Bus berjalan dengan laju dan saya mulai asyik mendengarkan musik. Ketika sedang menikmati perjalanan sore tersebut, bus berhenti dan tiba-tiba sopir bus tersebut menyentuh pundak saya dengan pelan.

"Kamu seharusnya turun di stop 22, kan? Maaf, saya lupa… dan sekarang kita sudah di bus stop 18," kata sopir tersebut.

Dari intonasi suaranya, saya bisa menilai kalau dia memang merasa bersalah. Tapi saya sudah terlanjur kesal, jadi tanpa bicara, saya langsung berdiri dan berusaha untuk turun dari bus. Namun sopir tersebut berkata pada saya.

"Kalau kamu turun di sini, kamu akan kesulitan menyeberang sendirian karena tidak ada jalur penyeberangan. Tapi biarlah saya bantu kamu menyeberang," ujar sopir tersebut sambil mengikuti saya.

Turun dari bus, sang sopir kembali melanjutkan ”Atau kamu ikut saja sampai bus stop 16, karena di sana ada jalur penyeberangan dan kamu bisa menyeberang dengan aman lalu kamu bisa naik bus arah sebaliknya sampai di bus stop 22."

Masih kesal dan tanpa berbicara padanya, saya kembali naik ke dalam bus, menyetujui usulannya.
Sampai bus stop 16, sopir tersebut menemani saya turun dari bus dan menuntun saya menuju jalur penyeberangan. Dia menekan tombol lampu penyeberangan dan menunggu bersama saya.

"Kamu sebaiknya kembali ke bus," akhirnya saya berbicara padanya. "Kasihan penumpang lain mereka bisa terlambat nanti."

"Saya akan seberangkan kamu terlebih dahulu, baru nanti saya lanjutkan perjalanan saya," dia pun menjawab.

Mendengar jawaban tersebut, saya mulai melunak dan merubah sikap saya, lebih berusaha menyembunyikan kekesalan saya karena kejadian tadi.

"Saya akan baik-baik saja. Saya bisa menyeberang sendiri. Jalur ini sangat aman untuk saya seberangi. Kamu tidak usah kuatir," ujar saya mencoba untuk meyakinkan sopir tersebut. "Penumpang yang lain akan terlambat dan nanti kamu bisa di-complain."

"Tidak apa saya di-complain, yang penting kamu selamat," jawab dia pendek.

Saya sempat terperangah mendengar jawaban tersebut. Namun saya segera kembali meyakinkan sopir tersebut untuk segera kembali ke busnya namun tetap dia tidak beranjak dari posisinya. Lampu berubah hijau, dan kami pun menyeberang.

Setelah itu, sopir tersebut mengantar saya ke bus stop yang ada di dekat penyeberangan tersebut. Dia mengatakan bahwa ini adalah bus stop 16, dan semua bus yang melintas akan melewati bus stop 22. Saya pun berterima kasih padanya sebelum akhirnya dia menyeberang kembali.

Kurang lebih 10 menit saya berdiri di bus stop tersebut dan akhirnya sebuah bus pun merapat. Baru saja saya mau bertanya, tiba-tiba sopir bis tersebut berkata:

"Naiklah, saya akan antar kamu ke bus stop 22." Setengah heran, saya pun naik ke bus tersebut, dan kali ini saya duduk dekat sopirnya.

"Bagaimana kamu tahu kalau saya mau ke stop 22?" saya bertanya pada sopir tersebut.

"Sopir 720 yang tadi kamu naiki, dia berkomunikasi dengan saya melalui radio panggil," jawab sopir tersebut santai.

"Dia bilang kamu kelewatan dan berpesan pada saya untuk mengantar kamu ke stop 22."

Saat itu saya tersenyum dan muncul perasaan salut yang tinggi terhadap sopir 720 tersebut.
Saya ingat hal ini sering terjadi saat saya bepergian di kota-kota di Indonesia, di mana sopir atau kernet lupa menurunkan saya di tempat yang saya inginkan.

Namun bila ini terjadi di Indonesia, perlakuan yang sering terjadi adalah mereka menurunkan saya di suatu area yang saya tidak kenal, lalu menyuruh saya untuk menyeberang dan naik arah sebaliknya, tanpa membantu saya menyeberang.

Sering pula penumpang lainnya mengomentari "Lagian sih, pergi sendirian. Gak ditemenin aja?" atau "Ngapain sih pergi-pergi? Gak bisa orang rumah aja yang disuruh?"

Kalau sudah demikian, biasanya saya hanya tersenyum kecut saja dan akhirnya terbiasa dengan komentar-komentar seperti itu. Namun terkadang ada juga sopir atau kernek yang berbaik hati menyeberangkan saya terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanannya.

Kejadian di 720 tersebut cukup membuat saya terkagum-kagum dengan perilaku orang Barat yang konon katanya cuek dengan orang lain. (tribunnews.com)

---oOo---

Cerita dari kisah di atas memberikan gambaran dan perbandingan bahwa mana orang yang lebih bermartabat dan lebih peduli terhadap orang yang memiliki keterbatasan. Karena kita tiknggal di Indonesia, maka sudah pasti mengenal perlakuan apa yang akan diterima, terlebih jika kita menjadi sebagai orang yang tunanetra.

Sejatinya keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk melakukan aktivitas apapun, selama ia mampu dan ingin melakuakkannya kenapa tidak. Apa yang dilakukan “Jack” merupakan sentilan bagi kita yang hidup normal dan memiliki kelengkapan fisik.

Tak hanya itu, Jack juga menyentil bagaimana perilaku kita sebagai orang Indonesia sendiri yang konon katanya ramah dan paling murah senyum. Ramah dan murah senyum sangat penting, tapi lebih penting lagi jika ditambah dengan kepedulian yang tinggi terhadap semua orang.

Ajaran agama islam itu sendiri bermuara kepada rahmatan lil’alamin, menjadi rahmat di alam jagat raya ini. Kata rahmat jika diartikan, mengandung arti yang sangat luas dan komplek. Ajaran-ajaran seperti ini kiranya harus dibudayakan dan dipelajari ulang, supaya lebih paham dan melekat dalam diri kita.

Wama arsalnaka illa rahmatan lil’alamin. Demikian bunyi ayat alquran surat alanbiya : 107. Artinya : tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi seluruh manusia. Rahmat itu sendiri berarti kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab, Ibnul Mandzur).

Jika ada orang muslim yang membunuh dan melakukan tindakan anarkis, jelas-jelas berarti ia tidak memahami maksud dari ayat tersebut. Jika memahami sebuah ajaran tidak secara utuh, maka yang terjadi adalah penyimpangan. Bahkan pemahamannya juga salah dalam mengaplikasikannya.

Memiliki kepedulian terhadap orang lain, merupakan salah satu dan sepersekian kecil dari bentuk rahmat itu sendiri. Jika kita benturkan dengan besarnya rahmat yang Allah berikan dan tentunya Rasulullah ajarkan kepada kita. Semoga kita menjadi manusia yang lebih peka dan memiliki kepedulian terhadap seluruh makhluk. Allahu’alm. []

Bingung, tak tahu harus menulis apa, dan topik apa yang harus saya tulis. Tapi yang jelas malam mini saya harus punya satu buah karya. Bagus atau jelek itu bukan ukuran keberhasilan untuk saat ini, patokannya adalah ada atau tidak. Jadi apa pun hasilnya harus diapresiasi dan disyukuri.

Baiklah, saya mulai dengan sebuah cerita ketika satu hari sebelum menjelang hari raya idul qurban. Karena ada dua versi yang merayakan, ketika hari jumat pagi saya dapat SMS dari rumah. “Untuk wilayah Nanggor dan sekitaranya, hari raya idul adha jatuh pada hari sabtu. Termasuk Kp. Pancur..” demikian bunyi sms yang Haer kirimkan.

SMS dari Haer sengaja tidak saya balas dan dibiarkan. Sms itu baru saya balas ketika esok paginya. Sekitar pukul 08.30 barulah saya kirim SMS ke Haer, itupun hanya menanyakan suasana rumah. Apakah rame atau tidak. Biasanya kalau lebaran ramai.

Meski hari sabtu banyak yang merayakan idul adha di sekitar asrama, saya tetap memilih untuk merayakannya hari minggu. Alasan saya sederhana dan itu sesuai dengan ru’yat. Dan juga, idul adha tidak dihitung dari waktu wukufnya jamaah haji di padang arafah.

Perbedaan ini sebetulnya lebih didasarkan kepada hilal. Likulli baldatin ru’yatuha…  Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Mustofa (Imam Masjid Istiqlal) “ Suatu ketika Sahabat Rasulullah, Ibnu Abbas, mengutus sahabat lainnya, Qurayb, mengunjungi Damaskus untuk menemui Muawiyah. Disana sudah berpuasa Ramadhan.

Kemudian Qurayb berkata kepada Ibnu Abbas, disana sudah berpuasa, apakah disini juga harus berpuasa.

"Ibnu Abbas kemudian mengutip hadits Rasulullah riwayat Muslim, yang mengatakan likulli baldatin ru'yatuha," jelas Ali Mustofa. Artinya, setiap negeri memiliki ru'yatnya sendiri. Tidak bisa disamakan antara ru'yat di Makkah dengan di Indonesia. (Repbulika)

Jadi, mau kapan pun ya silakan yang penting punya sandaran dan landasan yang jelas. Jangan taklid buta dan ikut-ikutan saja.
***

Hari sabtu tak ada kegiatan sama sekali. Hanya bersih-bersih asrama saja, itupun pagi hari. Selebihnya dari siang hingga sore hari kosong. Selepas sholat magrib masih tidak ada kegiatan dan belum sempat makan dari pagi juga.

Selepas Isya, Yusuf menelepon dan minta ditemani untuk mengunjungi teman-teman Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang sedang mengadakan acara di desa binaan. Tepatnya di daerah Turgo, di bawah kaki Gunung Merapi, Yogyakarta.

Karena belum makan, maka kami menyempatkan dulu untuk mengisi perut. Selesai menyantap mie goreng dan segelas teh hangat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kaki gunung merapi. Kondisi jalanan yang ramai dibanjiri para jamaah masjid yang bertakbir keliling lengkap dengan megaphone dan rebana nya.

Meski suasana malam itu dingin, ditambah suasana pegunungan, maka semakin menjadi. Rasa dingin menemani perjalanan kami hingga tiba di Turgo. Malahan sedikit gerimis, untung tidak turun hujan. Kondisi jalan juga basah serta dipenuhi kabut. Kami pun hati-hati menyusuri jalanan yang naik turun.

Setelah menikmati perjalanan sekitar satu jam, barulah kami tiba. Ketika kami tiba, tampak bapak-bapak dan pemuda sedang asyik menata Masjid Al-Karim yang esok pagi akan digunakan untuk shalat idul adha. Mahasiswa LDK juga ikut membantu membersihkan dan memasang sound. Sebagian lainnya berada di dalam masjid, mereka bertakbir secara bergantian.

Setelah dirasa cukup, kami pun pamit pulang. Kalau tidak salah, waktu itu menunjukan pukul 23.00. Jalanan sudah sangat sepi, apalagi dari turgo, sudah tidak ada satupun kendaraan yang melintas. Untung kami dua motor, jadinya tidak terlalu was-was.

Malam itu kami meninggalkan kaki gunung merapi dan kembali ke keramaian kota Yogyakarta. Selamat Idul Adha 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Tahun 2013, kata selfie resmi menjadi salah satu kata yang dimasukan kedalam kamus oxford sebagai salah satu perbendaharaan kata. Entah siapa yang memulai kata tersebut dan siapa pencetusnya. Tidak terlalu penting untuk diketahui, tetapi yang harus dimengerti ialah arti dari kata itu sendiri.

Selfie yaitu berpose/memoto sendiri dengan menggunakan kamera handphone kemudian diupload ke jejaring social. Bahkan saat ini sudah disediakan tongsis (tongkat narsis) bagi mereka yang suka selfie.

Narsis sendiri hampir mirip dengan Selfie. Tetapi sebetulnya narsis itu lebih kepada sifat, bukan perilaku.

Menurut psikolog klinis dan forensik, Kasandra Putranto, selfie merupakan bagian dari narsis. Sedangkan narsis atau narsistik adalah prilaku mencintai diri sendiri yang berlebihan. Narsis tidak hanya pamer di jejaring sosial tapi juga ingin selalu menang sendiri, baik dengan orang lain maupun pasangannya.

"Selfie mewakili satu elemen narsistik, selfie kan prilaku memotret. Narsis adalah lebih kepada mencintai diri sendiri. Pamernya nggak cuma wajah, bahkan berhadapan dengan orang maunya menang sendiri, yang penting diri sendiri daripada orang lain. Itu kan narsis," jelas Kasandra (wolipop.detik.com)

Narsisisme (dari bahasa Inggris) atau narsisme (dari bahasa Belanda) adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist).

Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos (versi bahasa Latin: Narcissus), yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam.

Ia sangat terpengaruh oleh rasa cinta akan dirinya sendiri dan tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam dan akhirnya tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis. (id.wikipedia.org)

Selfie; Kebebasan Berekspresi
Seren Haf Gibson, seorang mantan model terkenal di daratan Inggris, mengatakan bahwa berpose sedemikian rupa dengan angle tertentu kemudian mengabadikannya dengan menggunakan kamera di smartphone dan mengunggahnya di jejaring sosial atau internet adalah bentuk dari peluapan atau pemberdayaan diri sendiri serta ungkapan kebebasan berekspresi. (merdeka.com)

Dulu, jika ingin ‘mempublikasikan diri’ caranya cukup sulit, harus membuat tulisan yang berbobot dan bagus, kemudian dikirim ke tabloid, majalah atau Koran. Tetapi saat ini hal yang demikian tidak perlu lagi, cukup mempostingnya di jejaring social dan hanya beberapa menit saja semuanya sudah dilihat orang banyak.

Ketika hasil postingan tersebut di-like atau dikomentari dengan komentar yang positif, hal ini menambah kepuasan tersendiri bagi sipemiliknya. Merasa dihargai dan diperhatikan oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Tetapi tidak sedikit yang ‘kebablasan’ dengan postingannya. Aib dan foto-foto tidak layak ‘dikonsumsi’ publik pun ikut diposting.
***
Kemarin, (Jum’at, 3 Okt 2014) Saya digemparkan dengan sebuah berita ibadah haji. Bukan karena berita tentang duka-cita atau kejadian seputar ibadah haji seperti biasanya. Berita ini tidak ada sangkut pautnya dengan salah satu rukun ibadah haji, tetapi banyak yang melakukannya, yaitu selfie dengan latar belakang ka’bah.

Sangat kecil memang, dan cukup sepele, tetapi menurut saya pribadi hal yang demikian dapat menggugurkan pahala dari ibadah haji itu sendiri. “kegiatan itu (selfie) mirip seperti yang dilakukan turis (red). Demikian kata ulama Mekah.

Sudah sangat jelas, hal yang demikian menggugurkan nilai-nilai ibadah haji. Sebab rasulullah saw selama menjalankan ibadah haji dengan penuh khusyuk dan rendah hati. Ulama - ulama Mekah pun mengeluhkannya. dan mengecam keras atas aksi ini.

Ulama Jeddah, Sheikh Assim Al-Hakeem, mengatakan, “Ketika Rasul (Muhammad SAW) melakukan ibadah haji, ia berkata: ‘Allah, saya melakukan ibadah tanpa bermegah-megahan dan sombong hati.’ Melakukan selfie dan merekamnya di video sama saja menentang harapan Rasul kita.”

Pendapat saya, kegiatan selfie itu boleh-boleh saja, selama dalam batas wajar (tidak berlebihan). Silakan untuk selfie, selama kegiatan yang dilakukan bukan menyangkut hal-hal ibadah. Tapi jika selfie yang dilakukan sudah menyangkut kedalam urusan ibadah, jangan sampai dilakukan. Sebab akan merubah esensi dari ibadah itu sendiri. Allahu’alam []

Bersama alunan gema takbir
selamat I'ed al-Adha 1435 H

Apapun akan terasa berharga dan paling istimewa, kala semua itu jauh dan tidak ada di dekat kita. Tetapi sebaliknya, ketika sesuatu itu selalu ada, maka yang muncul adalah sikap biasa saja. Seperti lirik lagu ini, kita butuh cahaya ketika sudah redup, merindukan matahari ketika mulai musim salju, begitu pun dengan cinta. 

Inilah gambaran tentang semua yang manusia miliki. Semoga tidak hanya menikmati lagunya saja, tetapi esensi dari lirik yang dinyanyikan juga bisa memberikan dampak yang positif bagi kita. Belajar itu tidak hanya dari buku, tetapi belajar dari sesuatu hal terkecil sekalipun.  

Jika tidak mampu belajar dengan membaca, maka dengarkanlah. Jika tidak mampu belajar dengan mendengarkan, maka lihatlah (meniru). Jika tidak mampu dengan cara yang terakhir, silakan tanya kepada diri sendiri, siapakah dirimu yang sesungguhnya. 

Manusia atau bukan?? Cekidot... selamat mendengarkan !!

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
'Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
'Cause you loved her too much
And you dived too deep

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go (oh, oh, ooh, oh no)
And you let her go (oh, oh, ooh, oh no)
Will you let her go?

'Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

'Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go



Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme