Saya berangkat dari Jogja sekitar pukul 15.30, dan tiba di Stasiun Senen – Jakarta sekitar pukul 01.13 dini hari. Dari Stasiun Senen tujuan yang selanjutnya adalah Stasiun Kota. Karena setahu saya kereta dari Stasiun Kota ada yang langsung ke Stasiun Rangkasbitung (sebelum ada perubahan). Untuk itu saya rela menunggu hingga pukul 03.00 pagi, supaya bisa ke stasiun kota.

Setiba disana, saya tanya ke petugas. Ternyata kata petugas nya, kereta yang ke Stasiun Rangkas sudah tidak ada. “ begini saja, Mas transit dulu ke stasiun Kp. Bandan, nah setelah itu terus naik lagi yang ke St. Tanah Abang. ..” kata petugasnya. Saya tanya lagi, ke tanah abang naik dijalur mana? “Kalau mau ke tanah abang, nanti Mas naik kerta bolak balik yang di jalur sepuluh. nanti untuk berangkatnya sekitar pukul 05.30....”

Saya tanya lagi, untuk loker tiketnya dimana Pak? “Tiketnya belum buka, Mas.. gak apa-apa Masnya naik aja, masih pagi soalnya...” Petugas itu sambil meninggalkan saya. Saya pun terpaksa menunggu di stasiun kota hingga pukul 05.30 pagi...

Saya ikuti betul apa yang disampaikan petugas tadi. Eh, setibanya di Stasiun Tanah Abang ada dua petugas yang pagi-pagi sudah “mencari duit haram” gara-garanya saya tidak beli tiket dari stasiun Kp. Bandan makanya saya dijadikan sasaran empuk di pagi buta waktu itu.

Waktu itu, ketika diintrogasi, saya diajak ke tempat sepi (dibalik papan pengumuman yang terlihat dari luar hanya kaki saja) Karena saya sudah tahu ide busuknya mereka, saya pun menolak. Saya tahu nanti saya disuruh membayar denda, tetapi uangnya nanti akan masuk ke kantong mereka sendiri.

Karena ide mereka tidak berhasil, mereka pun marah. Barang saya sudah dibawa dan dipegang oleh mereka… Mereka tetap bersikukuh mau menggiring saya ke tempat sepi. Sekeras dan sebisanya, saya pun menolaknya. Saya tetap berdiri di tempat semula, saya bilang ke mereka sudah disini saja, kalau mau ditindak. Mereka tetap tidak mau. Akhirnya saya menantang mereka untuk ke kantor saja… Dengan kecewa mereka pun membawa saya ke kantor.

Tadinya saya mau melaporkan tindakan mereka ke kepala Stasiun Tanah Abang. Tapi karena saya juga buru-buru, saya bilang ke mereka. “Pak, saya sudah siap didenda berapapun besarnya denda itu...  tetapi saya tidak terima dengan perlakuan bapak tadi… Saya sudah paham, tahu dan ngerti apa yang akan bapak lakukan ke saya tadi di luar. Saya diajak ke tempat yang sepi tadi, saya sudah tahu maksudnya makanya saya berontak.

Sebetulnya saya bisa saja melaorkan tindakan bapak tadi ke atasan bapak langsung. Saya sudah siap didenda kok... kalau bapak bagaimana? sudah siap saya laporkan ke atasan bapak??? Kalau gak siap kita selesaikan secara kekeluargaan saja… bapak enak, saya juga enak….

Beberapa menit kemudian (setelah mikir2 dulu kayaknya)… “Sudah kamu beli tiket saja dari stasiun yang tadi kamu lewatin…” kata bapak petugas tadi…

“Ini petugas.. pagi-pagi sudah cari duit haram… dasar negara Indonesia.... Indonesia....” celetuk saya dalam hati sambil ngeloyor.


Kemarin ketika hendak berangkat ke Jogja saya memilih jalan kaki (karena jarak dari rumah ke jalan raya tidak terlalu jauh). Ini sidah kebiasaan dan jadi kesukaan saya. Dengan berjalan kaki justru lebih sehat, lebih damai, lebih sejahtera dan terkesan menjadi orag yang biasa.

Jika kita bandingkan dengan jaman sekarang, apakah masih ada orang yang bisa demikian? Hanya usia sekolah dasar (SD) saja yang berani dan mau jalan kaki. Sudah gede sedikit (sudah SLTP) pasti ia merasa malu.

Jika mau kemana-mana minimal harus naik motor, ada pun mereka berani jalan kaki ketika hendak berangkat ke sekolah saja, itu pun bareng dengan yang lain. Kalau hari-hari biasa, apa mungkin mereka berani jalan-jalan? Survei membuktikan.... pasti tidak ada yang berani. Inilah kenyataan yang saya temukan di lingkungan saya sendiri. Untuk itu, kenapa saya lebih senang dengan berjalan kaki, tujuannya adalah untuk melatih mental dan terbiasa hidup sederhana.

Gengsi dalam KBBI (kamus besar bahasa indonesia) itu diartikan dengan kehormatan, harga diri dan keormatan. Orang - orang saat ini lebih besar gengsinya ketimbang kemauannya. Kemauannya sendiri terkalahkan dengan rasa gengsi yang ada dalam dirinya. Padahal gengsi itu hanya perasaan diri sediri dan orang lain belum tentu berpikir sama dengan yang kita pikirkan.

Gengsi itu jika tidak dilawan, maka selamanya akan mempengaruhi diri kita. Dengan cara apa melawan rasa gengsi itu? Kuncinya hanya satu yaitu dengan prinsip. Ingat, setiap kita memiliki prinsip hidup dan tidak selalu sama dengan yang lainnya. Buang jauh rasa malu yang tidak beralasan, rasa minder yang tidak jelas dan rasa lain yang ada dalam diri kita, karena pada dasarnya itu hanyalah angapan kita sendiri.

Jika kita ingin berhasi, maka kesampingkanlah sifat gengsi itu, bahkan jika perlu buang jauh-jauh dalam diri kita. Kita jalan kaki dari rumah ketempat tujuan, jangan takut dianggap miskin, dan sebaginya... masabodoh saja lah. Biarkan anggapan orang lain, biarkan penilaian orang lain terhadap kita, apapun itu kita terima saja. Tetapi ingat jangan sekalipun kita mengoreksi penilaian orang lain terhadap diri kita, biarkan saja dan tetap diam (jangan diladeni).

Itulah prinsip hidup saya. “Gengsi, apa itu??... Gak ada tuh dalam catatan hidup saya....” bagaimana? Anda berani seperti saya??? []

Semoga bermanfaat. 


Setiap tahun, di kampung kami ada kegiatan rutin. Kegiatan itu diantaranya adalah peringatan Isra Miraj Muhamad SAW (biasanya malam hari). Adapun untuk pagi harinya yaitu acara iksaman atau istipalan (ini istilah yang sering kami gunakan). Acara ini adalah acara terakhir sekolah madrasah ibtidaiyah sebelum liburan menjelang ramadhan. Biasanya pelaksanaanya digelar lima belas hari sebelum puasa ramadhan dimulai.

Tak hanya kegiatan tahunan, di kampung kami juga ada kegiatan bulanan. Setiap bulan tentu berbeda, karena menyesuaikan bulannya, dan bulan yang digunakan adalah bulan umat islam (hijriah). Ada rejep, rewah, puasa, mulud, dan seterusnya. Dari acara-acara tersebut sebetulnya ada kesamaan, yaitu membawa nasi dan lauk pauk serta kue-kue untuk dibawa ke mesjid, isilah yang kami gunakan adalah ngariung artinya berkumpul sambil membuat lingkaran setelah itu dibacakan do’a dan setelah selesai nasi tersebut dibagikan kepada peserta ngariung.

Istilah ngariung kami gunakan tidak hanya dalam acara bulanan. Tetapi juga dalam acara mingguan. Di kampung kami sudah mendarah daging dan sudah turun menurun kegiatan pengajian mingguan, yaitu kamis malam dan sabtu pagi. Kagiatan ini rutin, tempatnya selalu berputar. Misalnya kamis malam di mesjid kampung kami, dan sabtu paginya di mesjid kampung sebelah. Pada putaran yang kesekian kalinya kampung kami juga mengadakan pengajian pada sabtu pagi.

Kegiatan ini sebetulnya sangat sederhana. Tiap-tiap rumah dibebankan untuk membuat kue dan memasak nasi (bagi yang punya, lauknya bebas apa saja kuenya juga sama dan intinnya tidak memberatkan). Masakan dari tiap-tiap rumah dikumpulkan menjadi satu, dan nantinya ketika acara sudah selesai maka dibagikan kepada yang hadir. Peserta yang hadir biasanya dari kampung-kampung yang terdekat (sudah menjadi grup dari kegiatan mingguan ini)

Inilah kegiatan yang sering/rutin kampung kami laksanakan. Ada nilai yang begitu besar dari kegiatan ini yang dapat kami ambil. Pertama, menumbuhkan kebersamaan dan kekompakan dalam diri kami, terutama dalam mengangkat nama kampung. Kedua, sedekah yang begitu besar dan bermanfaat. Dengan mebawa masakan dan kue ke mesjid untuk peserta ngariung merupakan pahala yang begitu besar. Ketiga, bersilaturahmi dengan tetanga kampung yang lainnya, disanalah saling mengenal untuk lebih dekat. Jadi, kita tahu mereka dan mereka juga tahu kita.


Minggu lalu, (14/06) saya mudik. Ini pertama kalinya saya mengalami perjalanan yang tidak biasanya. Pengalaman pertama yang saya rasakan yaitu harga tiket kereta ekonomi yang selangit, harganya 90.000 rupiah. Padahal kalau biasanya saya hanya 35.000 rupiah. Kenaikan harga yang tidak rasional dan jelas sangat merugikan.

Padahal dari harga 90.000 rupiah tidak ada perubahan apapun yang saya rasakan. Hanya ber-AC, duduk sesuai nomer tiket, gak ada yang merokok dan tanpa pedagang angsongan. Hanya itu saja, yang lainnya sama saja seperti dulu…. WC yang dekil, bau, dst.  Jelas perubahan yang saya rasakan itu sama sekali tidak memerlukan biaya yang segede itu.

Pakai AC, paling hanya berapa duit??? kebijakan dilarang merokok, berjualan, dan tempat duduk sudah ada sejak dulu. Hanya saja pihak kereta api (Waktu itu) belum bisa tegas jadi ya tetap gak berlaku peraturan itu. Sekarang sudah bisa tegas, dan semuanya sudah mulai tertata dengan baik. Tetapi amat disayangkan… kenikan harga tiket tersebut bagis saya sangat tidak rasional.

Dari harga 35.000 rupiah ya idealnya menjadi 50.000. Jadi tidak terkesan terlalu jauh, dan kenaikan itu tidak sampai 50%. Kenaikan harga tiket yang berlaku saat ini berapa persen? lebih dari 100% bukan..? Ini kegilaan yang sangat luar biasa. Kalau saya kalkulasikan, berapa banyak kauntungan perhari dengan harga 90.000 rupiah??… Padahal di loker tiket sering ada perubahan harga, biasanya ada tambahan 2-3 ribu rupiah. Uang potongan itu untuk siapa?? untuk dirinya sendiri atau untuk dibagi-bagikan….

Hampir semua tiket yang saya beli di stasiun selalu saja seperti itu. Bahkan di stasiun kecil pun sama saja. Harga tiket 2.000 rupiah, tetapi begitu uang pecahan 5.000 saya berikan, kembalian yang saya terima hanya 1.000 rupiah. Ini jelas pemerasan…. Sebagai pengguna jasa kereta api, saya ingin komplen tetapi karena posisi saya di luar dan hanya ada lubang kecil, akhirnya saya pun tak bisa apa-apa.

Khusus untuk semua petugas kereta api….. dan umumnya untuk semuanya. Ingat anda-anda silakan saja melakukan hal-hal yang anda sukai. Tetapi yang anda lakukan belum tentu ada keikhlasan. Jika sudah demikian, yang anda makan bukan lagi harta halal… yang anda makan adalah hak orang lain. Di dunia ini anda boleh selamat, tetapi di alam kubur dan di akhirat jangan mengharap anda bisa selamat..[]

Semoga bermanfaat…..

Siapa sih yang tidak senang ketika mendapat hadiah dari sahabat, orang tua atau dari sanak famili yang lainnya. Tentu semuanya merasa senang, hanya saja tingkat kesenangannya berbeda. Ada yang biasa, seneng banget bahkan ada yang sueneng buanget. hehehehehe alay

Kemarin ketika teman pulang dai malaysia, saya diberi oleh-oleh gantungan kunci. Bentuknya macam-macam, sampai saya pun bingung harus milih yang mana. Mereka bertiga membawa oleh-oleh yang sama, saya dapat tiga gantungan kunci, tapi saya sempet minta tambah dan akhirnya dibolehkan ambil dua. Kini saya punya empat gantungan kunci, lumayan buat dibagiin ke temen-temen dirumah sisanya.

Dulu saya juga dapat gantungan kunci berbentuk gajah, sudah bisa ditebakkan dari mana?? bukan lampung tau... tapi dari negri thailand. Entah kemana gantunagn kunci itu, saya lupa menaruhnya di mana. Saya juga sempat dapat gantungan kunci yang berbentuk hewan kangguru. Kalau yang ini pasti gak bakalan salah lagi bukan?? ya tepat, dari australia.

Gantungan kunci memang menjadi alternatif untuk dijadikan hadiah ketika kita bepergian mngunjungi tempat-tempat atau negara tertentu. Selain simpel dan tidak terlalu berat, harganya juga relatif murah, apalagi jika membelinya dalam jumlah yang banyak.

Karena teman-teman tidak hanya berkunjung ke malaysia mereka juga membawa beberapa gantunagn kunci yang bergambar singan dan ikan (singapure). Siapa yang mau?? silakan pesan kesini. Jika masih ada nanti saya kasih gratis tis tis....

Pulang, itulah kata yang memiliki kontotasi yang sangat luas. Kata pulang sering kita gunakan ketika akan meninggalkan suatu tempat, dan biasanya akan kembali ke rumah. Dalam kamus KBBI, kata pulang itu memiliki arti pergi ke rumah atau ke tempat asalnya. Sehingga ketika seseorang meninggal dunia sering digunakan kata pulang juga, sebagai ungkapan yang lebih halus.

Bahkan ada beberapa istilah yang saat ini tenar di masyarakat kita. Kegiatan ini tidak ada di negara lain dan hanya ada di negara Indonesia. Setiap memperingati hari raya iedul fitri dan iedul adha kita sering menggunakan istilah mudik. Mudik bisa diartikan sebagai pulang ke kampung halaman, disebabkan jaraknya yang jauh.

Kalau kata pulang digunakan bisa kapan saja, misal ketika main ke rumah tetangga. Ketika akan kembali ke rumah tentu menggunakan kata pulang. Sehingga kata pulang itu identik dengan jarak yang dekat. Sedangkan kata mudik digunakan untuk lintas provinsi, pulau, bahkan negara. Biasanya juga, ungkapan kata mudik digunakan bagi orang yang sudah lama menetap di tempat perantauan dan akan kembali lagi.

Sama halnya dengan apa yang akan saya lakukan. Hari Kamis besok (13/06) saya akan mudik ke kampung halaman. Mudik karena sudah lama tidak melihat rumah (padahal sudah punya fotonya di fb). Tak hanya itu, tujuan saya pulang adalah untuk menghadiri acara reuni teman-teman sewaktu Madrasah Aliyah empat tahun yang lalu. Ditambah lagi saya kangen dengan acara perpisahan/pelepasan yang pernah saya rasakan empat tahun yang lalu. Selama itu pula saya belum pernah menyaksikan acara yang begitu berkesan dan menyimpan banyak kenangan.

Semoga perjalanan saya berjalan dengan baik, selamat hingga rumah dan begitu juga ketika balik ke tempat "perantauan". Amiin. Tak banyak yang dapat saya lakukan, bahkan misi mudik saya untuk meminta dukungan do'a dan tak lupa morilnya juga. Semoga perjalanan ini menyenangkan dan selalu dalam lindungan Allah Swt. Minta do'anya saja ya...[]


Sambal merupakan makanan pelengkap untuk orang indonesia. Rasanya tidak puas makannya jika tidak ada yang satu ini. Apapun makananya, sambal tidak boleh terlupakan, apalagi makan besar bersama keluarga. Salah satu kesukaan saya adalah sambal yang digoreng, apapun sambalnya jika melalui proses ini tentu saya menyukainya. Setelah semuanya diulek dan tercampur, lalu sambal itu digoreng hingga mengelurkan aroma yang khas.

Kemarin (06/06) setelah sholat ashar, kami mengadakan bersih-bersih untuk mempersiapkan acara Sarasehan (acara penutup dari Lembaga Pengabdian Masyarakat) pada pridoe kami. Setelah membersihkan rerumputan yang liar di dekat pagar, akhirnya tanpa sengaja saya menemukan pucuk daun melinjo yang begitu muda dan hijau.

Waktu itu, saya pun langsung tertarik dan ingin menjadikannya sebuah pelengkap makanan sama seperti waktu saya dan teman-teman di kampung sering masak bersama dengan mengunakan pucuk melinjo ini. Saya mengambilnya satu persatu dan ternyata banyak juga, tangan saya tidak mampu membawanya. "Ah.. ini jadi saya masak nanti, tiggal nyari bumbu saja.." ucap saya dalam hati waktu itu.

Tak terasa, ternyata kami bersih-bersih memakan waktu yang banyak. Sehingga suasana sudah mulai terasa gelap tanda waktu sholat magrib segera tiba. Padahal kami membersihkan rumput dengan sabit, setelah itu mengangkat vaving dan mendsainnya juga. Rasanya tidak terlalu lama kami bekerja, tetapi sejatinya itu sudah sekitar dua jam yang lalu kami lakukan.

Usai sholat magrib, saya mencari bumbu sambal di warung terdekat. beli bawang merah seribu, beli tomat seribu, beli kemiri seribu, beli kacang lima ratus.... hah?? (ibunya kaget..) mas mas... kalau beli apa-apa to ya paling sedikit itu seribu, mana dapat lima ratus.... Ya sudah deh bu, seribu saja kacangnya. Jumlah keseluruan empat ribu saja. Saya pun bergegas untuk memasak, suah tidak sabar rasanya mengulang kenangan ketika di kampung dulu.

Cara Memasak
Pertama, daun melinjo dibersihkan dan direbus dengan air hingga mendidih. Kedua, goreng atau bakar bumbu sambal yang sudah dipersiapakan semuanya (supaya ketika diulek lebih mudah, karena tidak terlalu keras). Ketiga, jika sambalnya sudah jadi dan daun melinjo sudah matang silakan dicampur dengan sambal dan diulek dengan sambal (supaya lebih mersap). Jika ingin lebih mudah lagi, daun melinjo sudah dipotong kecil-kecil sehingga ketika dicampur dengan sambal lebih mudah meresapnya. Kempat, goreng kembali dan gunakan air dan garam secukupnya jika terlalu kental. Goreng hingga aromanya tercium setelah itu angkat.

Meski masakan sederhana, tetapi sumpah.. masakan ini tak ada duanya. Yang lain lewat deh. hahahahah. Buktinya setelah saya dan teman sekamar makan bersama, mereka ketagihan dan mangungkapkannya untuk bisa makan bareng lagi, dengan pucuk melinjo ini lagi tentunya. Selamat mencoba kawan...


Judul lagu : Humko humise churalo
Film : Mohabbatein
Tipe lagu : Romantis, slow

Lagu humko humise churalo dari film mohabbatein di tahun 2000 merupakan lagu yang cukup fenomenal di indonesia disamping kuch kuch hota hai. Lagu ini sangat mendayu dayu dan romantis, semua penyuka film india ataupun tidak pasti kenal dengan lagu ini.

Berikut ini adalah terjemahan dari humko humise churalo dalam bahasa indonesia.

Humko humise churalo
(Kau curi aku jauh dari diriku sendiri)

Dil mein kahin tum chupallo
(Sembunyikan aku di suatu tempat di hatimu)

Chorus:
Humko humise churalo
(Kau curi aku jauh dari diriku sendiri)

Dil mein kahin tum chupallo
(Sembunyikan aku di suatu tempat di hatimu)

Hum akele ho na jaaen
(Aku bisa tidak tersesat sendiri)

Duur tumse ho na jaaen
(Semoga aku tidak jauh dari mu)

Paas aao gale se laga lo
(Datanglah padaku, peluklah aku)

Chorus :

Humko humise churalo
(Kau curi aku jauh dari diriku sendiri)

Dil mein kahin tum chupallo
(Sembunyikan aku di suatu tempat di hatimu)

Yeh dil dhadkaa do zulfein bikharaad
(Ayo hentakkan hatimu, biarkan rambutmu terurai jatuh)

Sharmaake apna aa.nchal laharaa do 
(Malu malu dan biarkan selendangmu terbang)

Ham zulfein to bikharaa dein
(Jika aku membiarkan rambutku terurai)

Din mein raat ho na jaa'e 
(Mungkin akan mengubah siang menjadi malam)

Ham aanchal to laharaa dein
(Aku akan membiarakan selendangku terbang)

Par barsaat na ho jaa'e
(Tapi mungkin akan menyebabkan hujan turun)

Hone do barsaatein
(Biarkan hujan)

Karnii hain kuch baatei
(Ada begitu banyak hal yang harus kita bicarakan)

Paas aa'o gale se lagaa lo
(Datanglah padaku,peluklah aku)

Chorus:

Humko humise churalo
(Kau curi aku jauh dari diriku sendiri)

Dil mein kahin tum chupallo
(Sembunyikan aku di suatu tempat di hatimu)

Tumpe marte hain ham mar jaa'e.nge
(Aku memujamu, aku akan mati untukmu)

Yeh sab kahate hain ham kar jaa'e.ng
(Semua orang mengatakan ini, tapi aku akan benar2 melakukan untukmu)

Chutkii bhar si.nduur se tum ab yeh maa.ng zaraa bhar do
(beri vermilion merah dalam rambut sampai dahiku, lakukan sekarang juga.

Kal kya ho kisne dekha sab kuchh aaj abhii kar d
(Tak ada yang tahu bagaimana esok hari, jadi lakukanlah sekarang)

Ho na ho sab raazii dil raazii rab raazii
(Mungkin tidak semua orang setuju, tapi hatiku setuju begitu juga tuhan)

Paas aa'o gale se lagaa lo
(Datanglah padaku,peluklah aku)

Humko humise churalo
(Kau curi aku jauh dari diriku sendiri)

Dil mein kahin tum chupallo
(Sembunyikan aku di suatu tempat di hatimu)



Kala itu, pasca ditinggalkan oleh istri tercinta, Khadijah ra. Rasulullah SAW, mengalamai kesedihan yang bagitu dalam. Sehingga peristiwa itu disebut dengan tahun kesedihan (‘am alhuzn).

Rasulullah manusia biasa, seperti halnya manusia yang lain, maka wajar beliau mengalami kesedihan tatkala sang istri tercinta telah tiada. Akhirnya Allah SWT menghibur beliau dengan cara Isra wa almi’raj.

Konsep Isra itu banyak yang menafsirkan sebagai hablun min annas atau hubungan dengan sesama manusia (hubungan sosial). Sedangkan konsep Mi’raj adalah hablun min allah. Dengan kata lain keduanya disebut dengan hubungan horisontal dan vertikal. Dalam agama islam kedua-duanya harus betul-betul saling berkaitan, sehingga muncul istilah kesalehan sosial dan kesalehan individual.

Kesalehan individual yaitu kesalehan seseorang terhadap ajaran agama dan tuhannya. Jika seseorang sudah betul-betul baik agamanya maka sudah bisa dipastikan baik pula dalam masalah ke-sosial-annya. Karena ajaran agama  itu sejatinya mengajarkan untuk berbuat baik dengan sesama, saling menolong, memberi, mengingatkan dan lainnya.

Kesalehan sosial merupakan kesalehan yang berada di “luar”. Bagaimana bergaul, bertetangga, bersikap dan lain sebagainya. Lebih detail lagi misalnya bagaimana kita menghormati tetangga tanpa melihat agamanya dan juga bukan status sosialnya. Dalam sebuah syair :

kelawan konco, dulur lan tonggo… kang padha rukun padha ngasio.. iku sunahe rasul kang mulyo nabi muhammad panutan kito….
kepada teman, saudara dan tetangga... harus rukun dan saling mengasihi..Ini sunah Rasul yang mulia, Nabi Muhammad panutan kita..

Untuk itulah rasulullah SAW setelah isra mi’raj “dihadiahi” sholat lima waktu. Sholat itu merupakan obat bagi Rasulullah supaya tidak terus-terusan sedih, karena dengan sholat seseorang akan merasa tenang (semuanya dikembalikan kepada Allah Qs. Thaha : 14). Tak hanya itu sholat juga mampu menciptakan seseorang menjadi lebih baik sehingga keshalihan sosial dan individualnya bertambah baik (Al Ankabut : 45).

Shalat yang baik tentu memberikan efek yang baik terhadap sikap dan sifat seseorang. Karena sejatinya shalat itu dapat mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan munkar sebagaimana tertulis dalam al-Quran, Inna shalata tanha 'an al-Fahsya wa al-Munkar. Tetapi berapa banyak orang yang menunaikan shalat sedangkan tidak ada perubahan terhadap pribadinya.

Ini adalah renungan untuk saya pribadi sebagai penulis dan para pembaca sekalian yang kebetulan membaca tulisan saya yang sederhana ini. Boleh jadi shalat yang selama ini kita tunaikan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban semata, belum sampai ke tahap kebutuhan. Sebab kalau sudah menjadi kebutuhan tentu akan timbul kecintaan.

Yuk sama-sama kita perbaiki sholat dan introspeksi diri kita masing-masing. Sudahkah kita menjadi pribadi yang terus bertambah baik setelah menunaikan sholat?? Setiap hari kita sholat lima waktu, tetapi apakah Allah membersamai kita dalam sholat itu??…..

Selamat pagi, dan semoga bermanfaat…


Hari ini kegiatan yang saya jalani terasa begitu padat. Tetapi saya merasa bahagia sekaligus senang. Serasa kembali seperti dulu, tiap hari lebih utamanya sore hari ada kegiatan yang membuat saya sibuk dan harus mengeluarkan keringat. Pikiran tenang, bahagia, semuanya terasa begitu nikmat dan pokoknya indah banget hidup ini. Inilah manfaat yang saya rasakan dengan segudang kesibukan.

Kemarin,  (05/06) kami main futsal bareng kawan-kawan asrama. Hari ini, (06/06)  juga saya ditawarin main futsal bersama pengurus asrama. Rasanya capek yang di badan beks kemarin masih ada, tetapi mau gak mau dan saya juga happy kenapa ditolak ajakan ini. Kami pun main seperti biasa, tentunya di tempat biasa juga. Waktunya juga biasa, main satu jam. Bagi kami ini sudah lebih dari pada cukup untuk “menguras” stamina dan membasahi badan dengan keringat seperti habis kehujanan (baca; basah kuyup).

Setelah beberapa menit istirahat dan keringat yang ada di badan ini hilang, kami pun membersihkan aula untuk acara saresehan dalam rangka menyambut isra mi’raj yang dipanitiai Lembaga Pengabdian Msyarakat (LPM) PONPES UII. Acara tersebut akan dilaksanakan pada Hari Sabtu (08/06/13) pukul 19.30 s/d selesai, dan bertempat di PONPES UII, jln. Selokan Mataram, Dabag, Condongcatur, Depok, Selman -   Yogyakarta 55283. Keynote acara tersebut adalah Dr. Busro Muqodas, M.Hum dan Bpk Malik Madani, MA. Bagi yang mau datang, monggo…….. acara ini GRATISSS… Info Acara, Silakan buka Fans Page kami DISINI

Kitab-kitab yang ada di aula kami pindahkan, dan tak lupa kuris-kursinya pun kami pindahkan. Karena aula itu digunakan sebagai kelas untuk kuliah malam hari dan setelah subuh, dengan beragam dosen dari UIN, UGM, UII dll. Setelah beres membersihkan aula, saya dan teman-teman membersihkan halaman. Disana kami mencabuti rumput hanya dengan menggunkan tangan. Awalnya pake cangkul, tetapi karena kondisi tanahnya bercampur pasir maka menggunakan tangan ternyata lebih mudah.

Setelah dirasa cukup dan rumput sudah dibuang dan dibakar kamipun duduk-duduk bareng. Tak lupa karena ada pohon jambu batu, kami pun mencari-cari buah jambu yang sudah matang untuk dimakan. Alhamdulillah dapat beberapa, sehingga semunya dapat memakan buah jambunya. Karena buah jambu terasa kurang, kami pun mencari buah mangga yang ditanam samping rumah pengasuh. Saya memanjat, ternyata ada sekitar lima mangga. Kami isiniatif untuk membuat rujak, salah satu kawan saya mencari bauh pepaya setengah matang dan akhirnya dapat juga.

Hari ini kami membuat rujak dengan koposisi sambal gula merah, cengek, sedikit garam. Ditambah dengan buah mangga dan pepaya lengkap sudah rujak kami hari ini. Setelah semua dikupas, kami menyantapnya bersama. Tak lupa salah satu teman mengumumkan lewat pengeras suara agar kawan-kawan yang lain bisa menikmati rujak mangga ala kami.

Hari ini terasa begitu nikmat dan bahagia. Rasa capek pun seolah hilang dari dalam diri ini. Malahan setelah selesai makan rujak, saya pun menerima tantangan salah satu kawan untuk bermain tenis meja. Tanpa pikir panjang, saya pun menerima tantangan tersebut. Keringat yang sudah lenyap pun akhirnya terpaksa keluar kembali meski tidka sebanyak ketika bermain futsal seperti tadi pagi.

Terima kasih sudah membaca… Ini catatan saya pagi ini, salam hangat pembaca yang budiman…!!


Saya mengapresiasi Partai PKS yang menolak kenaikan harga BBM. Tetapi apakah dukungan itu masih ada untuk PKS ketika tengah dirundung kemelut kasus pencucuian uang yang dilakukan oleh Lutfi Hasan Ishaq (LHI).  Kasus ini semoga cepat diselesaikan dan menemukan titik terang, sehingga status kejelasan untuk partai PKS terkuak.

Saya cukup tercengan ketika membaca berita di eramuslim.com. Judul berita tersebut “MenKum Amir Syamsdin Tantang PKS Untuk Pasang Spanduk Anti Korupsi“. Amir, anggota dewan partai demokrat memandang bahwa tindakan PKS menolak kenaikan harga BBM kurang pantas, untuk itulah ia menantang PKS untuk memasang spanduk anti korupsi juga. Apa tangapan PKS..??

Pengamatan saya, Apakah PKS masih bisa bersaing di pemlu 2014 yang akan datang? Kasus yang menyeruak luas di masyarakat   seolah menghapuskan citra PKS dan mencorang nama PKS sebagai partai yang di cap sebagai partai paling bersih. Bahkan ada salah satu kader yang mengatakan bahwa “PKS saat ini dihina dan dimaki, tetapi kelak akan dipuji….“Untuk lebih jelanya kita lihat saja nanti..

Saya sebagai masyarakat biasa, dan bukan praktisi parpol manapun. Melihat hal ini sanga sulit untuk mengubah pencitraan dalam tubuh PKS. Bahkan yang saya menangkap “pukulan telak” ini telah membuat PKS oleng. Kita lihat pada rounde berapa PKS akan mengadakan perlawanannya.

Apakah PKS akan menerima tantangan Amir Syamsudin? atau hanya diam membisu. Atau PKS mencari cara lain untuk menantang balik Amir Syamsudin. Kita saksikan saja.


Kasus perkosaan dan pencabulan bahkan pelecehan seksual terhadap perempuan, sebetulnya bukan sepenuhnya salah lelaki. Jika kita ungkap satu persatu faktornya tentu akan mencengangkan dan itu sebetulnya disebabkan oleh perempuan itu sendiri. Masih ingatkah dengan kisah Julaikha dan Nabi Yusuf..??

Setiap tahun kasus in terus meningkat, padahal ancaman hukum sudah jelas, tetapi kenapa masyarakat seolah tidak merasa takut (baca: jera). Sebertulnya siapa sih yang salah? Masyarakat atau penegak hukum? Mari kita telisik lebih dalam siapa yang salah disini. Supaya tidak saling menyalahkan dan tidak saling menuduh diantara kita.

Seberapa besar dan gencarnya penegak hukum, mengancam dengan ancaman hukuman yang berat sekali pun tidak akan mampu. Selama tidak dibarengai dengan pemberantasan industri perfilman yang “membimbing” masyarakat ke arah kesana. Kasus di atas naik disebabkan karena tontonan yang non edukasi meningkat juga, bahkan film-film porno berkeliaran bebas.

Inilah yang seharusnya kita jadikan renungan bersama. Bahkan hingga saat ini tontonan yang mengarah kesana masih ada. Salah satunya adalah tayangan Mata Lelaki. Bagaimana bisa tidak terjadi kasus perkosaan jika hostnya tampil sederhana dan berapakaian lengkap. Nyatanya, dengan pakaian yang “belum jadi” sang host pun seolah merayu-rayu mata lelaki.

Jelas-jelas ini salah dan sudah menyalahi. Jika alasan mereka hanya bisnis dan karena tuntutan pekerjaan jelas bagi saya itu salah, masih banyak pekerjaan yang lebih halal. Jika mereka beralasan bahwa laki-lakinya saja yang gak biasa nahan diri.  Cara berfikir seperti ini salah. Jelas, bahwa iman seseorang gak selamanya kuat, apalagi jika dipancing dsb. Jika kucing dikasih ikan, mana ada yang nolak…… ini rasionalnya.

Kita berkaca pada tahun 70 an. Dengan gaya yang biasa, alakadarnya semuanya tetap normal. Bahkan kasus sperti di atas sangat sedikit. Kok bisa? Ya karena tidak ada tontonan yang mengarahkan kesana. Tetapi saat ini, hampir seluruhnya mengarahkan kesana. Sinetron mana yang tidak ada adegan pacaran?.. film horor mana yang gak ada adegan hot nya..?

Jika seandainya tidak ada artis perempuan yang menerima blue film… seandainya film-film indonesia tidak ada adegan ranjang nya… seandainya tidak ada film-film porno yang beredar… apakah mereka mau berperan hanya karena bayaran..? atau karean sudah profesi..? atau juga karena tuntutan ekonomi..??

Alasan dan selalu ada alasan…. Wahai saudara dan saudariku… Jangan kau tukar agama mu dengan apa pun, apalagi dengan sesuap nasi… Jagalah aqidah mu dengan seluruh kekuatan mu, bahkan jika perlu dengan nyawamu sekalipun.


Kala itu saya menyaksikan sebuah acara televisi swasta. Disana ada salah satu penyanyi idola saya, suaranya begitu indah dan merdu. Saya suka lagu-lagunya, terutama yang berjudul aku bertahan; gue banget deh…. hahahah. Siapa lagi kalau bukan Rio Febrian, yang kini resmi menjadi suami dari bintang pemain Tawa Sutra; Sabrina. Pasangan yang cocok, meski beda keyakinan. Semoga terus bertahan seperti judul lagu yang saya sukai.

Ketika ditanya soal makanan, Rio (panggilan akabnya) blak-blakan. Rio tak segan-segan mengakui jika dirinya sangat suka dengan makanan yang banyak “dibenci” orang, yaitu jengkol. Bahkan kata-kata Rio sering saya pinjam dan saya kutip dalam beberapa tulisan, terutama disini. Rio mengatakan kalau makan jengkol itu lebih enak dari makan daging sekali pun. Kalau ada jengkol yang lain lewatttttt………. akunya.

Dari situ, saya bukan hanya kagum sama lagu-lagunya tetapi sama kepribadiannya. Suka dengan jengkol bukan berarti harus malu, kita harus apa adanya dan angapan yang suka makan jengkol itu rendahan, bagi saya hanya mindset saja. Saya sepakat jika perkataan Rio, malah saya tambahin kalimat itu. Jika ada jengkol atau pete ditambah lalapan dan ikan asin yang lain lewatttttttt….. heheehe.

Alhamdulilah di rumah, kami punya kebun, kebetulan ada pohon jengkol yang tiap tahu berbuah. Saya suka jengkol mentah dari mulai yang masih muda, setengah tua, atau yang sudah sangat tua sekali pun. Mentahnya saja suka, apalagi masakanya.. pastilah semuanya suka. Boleh dikatakan saya ini penggila jengkol berat. Saya lebih senang jika hidangan di rumah dengan masakan yang sederhana (ala kampung) dengan menu ikam asin, sayur asaem, ditambah lalapan dan sambal. Makanan sederhana ini bagi saya begitu jauh lebih nikmat, ketimbang makan daging seperti hodangan di hari raya.

Meski harga jengkol naik, saya tak khawatir. Tetapi hanya menyayangkan pemerintah yang mengurus masalah pangan. Kenapa hal seperti ini harus terjadi dan berimbas kepada makanan yang sejatinya banyak orang bilang makanan orang miskin. Kemarin harga bawang yang selangit, kini harga jengkol naik seratus persen… ini yang salah dimananya..? kok bisa..?  Jika karena kelangkaan, hal ini wajar dikarenakan pohon jengkol hanya berbuah satu tahun sekali. Bahkan di kampung saya, tidak semua kebun ada pohon jengkolnya juga.

Harapannya pemerintah bisa belajar dari kenaikan harga bawang. Sehingga bisa lebih “dewasa” lagi dalam hal pangan. Harapan yang selanjutnya, semoga kita bisa belajar kepada Rio Febrian, salah satu artis yang suka dengan jengkol dan berani buka-bukaan. Tiap orang punya lidah yang berbeda, sehingga punya cita rasa yang berbeda kala menikmati sebuah makanan terutama makan jengkol dan pete. Jengkol adalah makanan ornag rendahan, itu hanyalah mindset semata.

Pesan terakhir yang ingin saya sampaikan bagi penikmat jengkol dan pete diseluruh dunia sekalipun. Jangan pernah takut untuk makan jengkol dan pete, apalagi hanya gara-gara dilabeli dengan makanan rendahan. Selama kita bisa menghilangkan bau yang menyengat setelah “makan ria” dengan jengkol, bagi saya tak masalah. Banyak hal yang bisa digunakan untuk menghilangkannya, salah satu yang saya gunakan adalah dengan memakan bubuk kopi setelahnya.

Semoga bermanfaat…. dan selamat pagi para pembaca yang budiman.



Saya begitu kecewa ketika menyaksikan moto gp minggu malam (03/06). Pasalnya jagoan saya adalah si juara dunia tujuh kali berturut-turut; valentino rossi baru bebeapa meter dari garis start harus membentur dan akhirnya terjatuh. Dengan sangat kecewa saya menyayangkan kejaian yang menimpa Rossi, sehingga ia tidak bisa melanjutkan pertandingan lagi.

Awalnya, saya sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di daerah Yogyakarta, secara tidak sengaja saya melintas di pusat elektronik. Ternyata disana banyak pengunjung yang sedang menyaksikan moto gp. Tanpa pikir panjang saya pun ikut membaur bersama mereka disana. Rasa kecewa itu saya simpan dalam-dalam dan hanya bisa mengucapkan “seandainya...”

Ketika mengendarai sepeda motor, setelah selesai menunaikan tugas saya mengajar anak-anak dusun sanggrahan mengaji. Pikiran saya sempat melayang dan memikirkan sesuatu yang tidak jelas. Hingga akhirnya pikiran itu tertuju pada satu kata yaitu munafik. Dalam otak dan hati saya, keduanya berbenturan dengan mendefinisakan arti kata tersebut.

Kenapa saya tidak mendukung pedrosa atau marques saja, padahal mereka adalah rider honda. Ketika itu saya merasa dilema. Apakah saya benar-benar orang munafik?? Mengapa ini bisa terjadi? Dalam keseharian saya begitu akrab dengan motor honda, tetapi jauh dalam lubuk hati, saya mengidolakan rider asal Italia.

Meski Jorge Lorenzo memimpin jalannya balapan, dan akhinya finis di posisi pertama, perasaan ini tetap tidak bisa menerima kecelakaan yang menimpa Rossi.  Saya bahagia, tetapi tidak begitu bahagia. Saya benar-benar bahagia jika Rossi tetap berada di trek balapan hingga akhir, meskipun tidak naik podium.

Akhirnya, ketika selesai menonton moto gp beberapa menit, saya pun mendapatkan kesimpulan yang menjawab tentang apa yang saya pikirkan tadi. Dalam hati saya berucap... ternyata saya ini adalah orang munafik. Jelas-jelas saya lebih mengidolakan Valentino Rossi yang menunggangi motor yamaha, tetapi nyatanya saya lebih suka motor honda, dan yang saya pakai saat ini adalah motor honda.
______________________
*Definisi kata Munafik menurut kamus adalah berpura-pura percaya atau setia dsb kpd agama dsb, tetapi sebenarnya dl hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yg tidak sesuai dng perbuatannya; bermuka dua. Coretan yang lain dapat saudara baca di Kompasiana

Ada yang masih ingat dengan acara AFI (Akademi Fantasi Indonesia)..? Saya ingat betul, ketika acara itu menggunakan sistem polling SMS (short message Sending) untuk mengeliminasi para pesertanya. Kala itu saya belum tahu betul apa fungsi dan keuntungannya dari sisitem seperti itu. Padahal keluarga yang bersangkutan mati-matian untuk mencari dukungan. Jika hanya mengandalkan SMS dari fans paling seberapa? untuk itu pihak keluarga lah yang mencari kesana kemari.

Tetapi, apa yang terjadi setelah mereka juara? kayaknya gak ada tuh yang tenar. Yang tenar paling yang produktif (benar-benar menekuni dunia ke-artis-annya).  Jika hanya mengandalkan popularitas tanpa dibarengi dengan produktiitas mana mungkin bisa laku. Inilah yang dilakukan oleh duo Tika dan Tiwi, menjadi Titu.

Pertanyaannya, kemana yang lain? kerja apa sekarang dan masihkah mereka menjadi artis hingga detik ini? Saya yakin tak ada seorang pun yang tahu nasib mereka. Setelah acara AFI selesai, karir merekapun selesai juga.  Kisah mereka pun hilang tanpa bekas, terlupakan olah tayangan yang lebih baru dan lebih asyik tentunya.

Tak hanya acara AFI saja, melainkan acara televisi yang hampir serupa. Misalnya saja : Dai Cilik, Dai Muda, Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Idola Cilik, dan lain-lain. Bahkan acara terbaru, yang baru saja selesai adalah X Factor. Kenapa Sih masih ada yang mau ikutan? Tak jarang orang yang awam menjadi korbannya, apalagi dari pelosok dan dari luar Jakarta bahakan luar pulau Jawa.

Bagi mereka yang awam tentu belum paham betul terkait bagaimana “kebusukan” di dalamnya. Jika sudah masuk sepuluh besar, berapakah minimal uang yang mereka keluarkan untuk memberikan dukungan melalui polling SMS?? belum lagi jika sudah masuk lima hingga tiga besar. Persaingan itu tentu sangat kuat, dan begitu juga penegluaran yang semakin besar.

Uangnya habis, maka jelas akan tersingkir. Untuk itu mereka terus berusaha mencari pinjaman sana-sini. Kalau orangnya berduit sih gak masalah, habis 1 milyar atau 2 milyar dah biasa. Lah kalau orangnya pas-pasan? pinjam dari mana?? belum lagi kalau gak jadi juara… habis sudah. lagi-lagi yang diuntungkan siapa??? apakah pihak televisi yang menayangkan akan ikut bertanggung jawab?? justru mereka tetap meraih keuntungan.

Saya lebih senang dengan penjurian tanpa menggunakan polling SMS. Selain lebih fair, persaingan diantara kontestan juga tetap sportif. Yang tidak bagus lah yang pasti tersingkir. Bagi mereka yang tampil baik akan terus belajar lebih baik lagi. Saya mengapresiasi Stand Up Comedy, di saat televisi yang lain gencar-gencarnya menggunakan sistem Polling SMS, tetapi mereka tidak malah ikut-ikutan. Inilah yang seharusnya ditiru dalam menseleksi siapa yang pantas mencari juaranya…

Jika anda ingin menjadi korban acara Polling SMS seperti mereka, pikirlah beribu-ribu kali…. Jika sudah siap, silakan saja.

Silakan buka juga di Kompasiana

Saya lupa kapan pertama kali kami bertemu dan bisa saling kenal. Yang jelas waktu itu saya diajak untuk ikut festival kebudayaan Banten. Dari sanalah saya berkenalan dengan salah satu mahasiswi Kedokteran UII yang berasal dari Pandeglang. Dhila, itulah namanya, dan yang saya tahu cuma itu. Jangan tanya nama lengkapnya, untuk yang satu itu saya nge-blank, nyerah pokoknya ..!! Saya pun lebih akrab memanggilnya dengan sebutan “Bu Dokter..”

Walaupun panggilan ibu itu hanya untuk orang-orang yang sudah punya anak, tetapi panggilan itu saya tujukan sebagai tanda hormat. Adapaun kata dokter, yaitu sesuai dengan disiplin ilmu yang saat ini ia tempuh di kampus UII. Kelak, cepat atau pun lambat pasti sebutan dokter akan membersamainya ketika sudah lulus studi dan KOAS nya.

Saya sempat SMSan, bahkan beberapa kali juga sempat komen di jejaring sosial. Telisik punya telisik ternyata Bu Dokter yang satu ini akan diwisuda, tepatnya hari ini (Sabtu, 01/06/13). Wah saya jadi terharu dan jadi ingin cepetan lulus juga. Semoga saya bisa cepat nyusul Bu Dokter dan mudah-mudahan lulus dengan pringkat terbaik (cumlaude).

Selamat ya bu dokter, semoga jalannya dimudahkan selalu…. dan terima kasih juga atas jampe-jampe (bahasa sunda, artinya jampi-jampi) yang dikasih lewat facebook. Semoga saja jampe-jampenya manjur dan mujarab. Bul bala gajibul… mudah-mudahan terkabul. hehhehehe. Nanti kalo sudah di rumah atau sudah jadi dokter jangan lupa bagi-bagi cerita, syukur-syukur kita bisa bertemu lagi.. Mudah-mudahan diberikan umur yang panjang lagi berkah.

Jika saya sakit, saya pun akan datang ke dokter, minimal datang ke dokter puskesmas (Mantri; itulah sebutan bahasa daerah kami). Mudah-mudahan dokter yang saya temui nanti adalah “Ibu dokter” yang dulu teman, sahabat, bahkan saudara sedaerah yang dulu belajar di kampus Islam yang sama, yaitu Universitas Islam Indonesia -Yogyakarta. Amiin


Saya ingat betul, ketika tahun 2009 silam kami masuk di Universitas. Karena mengikuti tes pesantren yang sama maka kami dipertemukan dan kini menjadi keluarga yang sangat indah. SINGO itulah nama kelas kami. Nama itu merupakan singkatan dari “santri rong ewu songo” yang tanpa sengaja kami ambil ketika ngobrol bareng di grup facebook yang kami buat.

Rasanya baru kemarin kami masuk kampus tercinta ini. Sejatinya, empat tahun sudah kami bersama dan menjadi keluarga baru. Awal ketika masuk kami berjumlah 14 orang, tetapi maenyusut menjadi 13 orang, dan akhirnya menysusut lagi menjadi 12 orang. Kini jumlah kami insya allah akan selamanya berjumlah 12 orang dan sekaligus menjadi keluarga selamnya.

Ahmadi Hasanudin Dardiri (solo), Ady Guswady (Lombok, NTB), Ahmad Zaini Aziz (Lampung), Achmad Nurdany (Magelang), Amir Hamzah (Banten), M. khorirul Ansor (Tulungagung),  Miqdam Musawwa (Yogyakarta), Syaifulloh Yusuf (Lampung), Samsul Zakaria (Lampung), Syahruddin (Lampung), Tubagus Syukron Tamimi (Lampung), Yasser Azka Ulilalbab (Semarang). Inilah nama-nama personil SINGO.

Hari ini, 01 Juni 2013 teman kami yang berasal dari kota Semarang, yaitu Yasser Azka Ulil Albab akan diwisuda. Ia merupakan angkatan kami yang pertama diwisuda  dan menyabet gelar ST (Sarjana Teknik) karena ia mengambil jurusan Teknik Industri di kampus tercinta. Saya yakin ia akan menjadi lulusan terbaik, karena prestasinya tidak bisa diragukan lagi.

Selamat ya Sir….. Insya Allah kami secepatnya nyusul kamu. ini adalah ucapan selamat dari saya dan sekaligus ungkapan doa agar lebih fokus dan lebih giat lagi dalam mengerjakan tugas akhir ini.

Sumber Gambar Disini

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme