Suatu sore, Herman sedang berselancar di dunia maya. Tiba-tiba HP (hand phone) nya bergetar, menandakan ada sebuah pesan untuknya. Ternyata Rudi, yang mengirimkan SMS (Short Message Sending) tersebut. Intinya, SMS itu adalah meminta tolong kepada Herman  untuk menyadarkan salah satu teman mereka yang sedang putus asa. Awalnya Herman merasa tidak yakin dapat membantu, ia sadar betul bahwa dirinya bukanlah orang yang pandai dalam banyak hal. Herman menyadari bahwa dirinya hanyalah orang biasa, seperti teman Rudi yang lainnya. Ketika sekolah dulu, tidak pernah masuk ke rangking sepuluh besar.

Akhirnya, dengan bermodalkan niat tulus dan ikhlas Herman pun mencoba sebisa mungkin untuk memenuhi permintaan dari temannya itu. Rudi sangat senang dengan sikap Herman. Rudi tahu bahwa Herman pasti akan selalu membantunya, apalagi ketika dimintai bantuan oleh teman akrabnya sendiri. Itulah kelebihan Herman, sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-teman yang lain. Begitulah sosok Herman di mata sang teman.

Dara, begitulah ia disapa oleh teman-teman seusianya. Gadis yang memiliki nama lengkap Dara Khoirunnisa, begitu ceria dan aktif di kegiatan kampus. Namun karena ia sakit-sakitan dan sakitnya tak kunjung sembuh ia menjadi putus asa. Ia sering mengeluh, bahkan ia sempat mengatakan ingin mengakhiri hidupnya. Alasannya, karena Dara  sudah capek, sudah tidak kuat harus seperti ini terus-terusan dengan penyakit yang dideritanya.

Herman sebisa mungkin menyadarkan Dara. Herman merasa bingung dengan peristiwa yang dialami Dara. Ia tidak belajar ilmu seperti ini ketika kuliah. Di kampus tempat ia belajar tak ada rumus atau jurus seperti ini yang diajarkan oleh dosennya. Namun, Herman teringat pesan Ustadz Rahmat ketika mengikuti pengajian mingguan, di mesjid Al-Falah. Begitu detail Ustadz  Rahmat menjelaskannya, bahasanya juga sangat lembut dan lugas. Herman ingat betul Ustadz Rahmat sedang membahas QS. Al-Baqarah [02] : 286

Artinya : Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."

Dengan pengetahuan yang dimilikinya, Herman berusaha dengan maksimal untuk  meyakinkan Dara. Awalnya ia merasa tidak yakin dengan apa yang ia lakukan. Tetapi atas izin Allâh swt Alhamdulilâh ternyata Dara mau menerima nasihat darinya. Dara berjanji akan berubah dan mau menerimanya dengan ikhlas dan sabar, Dara juga yakin bahwa apa yang ia jalani merupakan takdir Allâh yang sudah tertulis di lauhilmahfudz, seperti yang dinasihatkan Herman kepadanya.

Menanamkan Keyakinan
Setiap masalah yang dialami oleh manusia tentu berbeda. Walau pun tinggal dalam satu atap rumah dan satu ari-ari ketika dalam kandungan, tentu masalah yang dihadapi tak ada yang sama. Masalah itu datang silih berganti, jika masalah yang satu selesai maka masalah yang satunya lagi datang. Ini semua adalah rangkaian kehidupan, kehidupan orang yang normal tentunya. Hanya orang tidak normal (gila) yang tidak  memiliki masalah dalam hidupnya.

Jika berada diposisi Dara? Apa yang akan dilakukan ketika mengalami hal demikian? akankah bisa bersabar?  bisa saja tindakan yang lebih “nekat” akan dilakukan, bahkan melebihi yang dilakukan Dara, dan hal itu dilakukan di luar kesadaran. Tidak sedikit orang yang prustasi kemudian memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Untuk itu, sebagai seorang muslim yang harus diakukan agar membentengi diri supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka solusinya adalah dengan memperkuat keyakinan (keimanan) kepada Allâh swt.

Dalam kondisi tertekan, kehilangan arah (bimbang), atau pun merasa terasingkan tentu hanya Allâhlah yang terasa begitu dekat, hanya Allâh juga yang dapat dimintai pertolongan. Berserah diri kepada Allâh bila semua usaha telah dilakukan dengan maksimal, merupakan keharusan, karena Allâhlah yang menentukan hasilnya. Berpasrah diri, ungkapan itulah yang sering diucapkan ketika melakukan sholat. Sadarkah dengan apa yang diucapakan tersebut? “…inna shalatî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî lillahirabbil’âlamîn

Bagi yang memiliki keyakinan tinggi terhadap sang khâliq tentu masalah sebesar apapun tak akan menjadikan beban baginya. Ada sebuah penghargaan yang telah dipersiapakan ketika rintangan itu mampu dilewati. Mereka sadar betul bahwa untuk meperoleh mutiara dibutuhkan perjalanan panjang, menyelam jauh ke dasar samudera. Mereka tak gampang menyerah, tidak gampang patah, walaupun tantangan selalu menghadang dirinya.

Allâh SWT berfirman : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali’Imran [03] : 139)

Mensikapi Dengan Sabar
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik bahwa suatu ketika Rasûlullâh saw. berjumpa dengan seorang wanita yang sedang menangis di hadapan sebuah kuburan. Nabi saw. menegur wanita tesebut, “bertaqwalah kepada Allâh dan bersabarlah.” Wanita yang kebetulan belum mengenal Nabi menjawab, “Pergilah! Jangan engkau campuri urusanku. Engkau tidak tahu kepedihan yang menimpaku.”

Setelah diberi tahu bahwa yang menegurnya adalah Nabi saw, wanita itu merasa menyesal dan segera menemui beliau untuk meminta maaf. Kemudain, Nabi saw. bersabda, “hakikat kesabaran dinilai pada saat pertama datangnya musibah.” Adapun yang dimaksudkan oleh Nabi sabar itu tidak harus menunggu setelah musibah itu berlalu.

Bersabar berkaitan pula dengan masa depan, sebagaimana firman-Nya : “Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya  janji Allâh itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi”. (QS. Al-Mu’min [40] : 55)

Sabar itu memberikan nuansa “waktu dan masa depan.” Sehingga, sabar merupakan fungsi jiwa yang berkaitan sebanding dengan harapan waktu dan peroses berikhtiar untuk nyata. Sabar yang berarti merupkan harapan (tujuan, perjalanan dalam menggapai ridha Allâh), hanya dapat terwujud apabila mampu “bertoleransi dengan waktu.” Bila menanam benih padi, tentu saja tidak otomatis padi tersebut yang tumbuh. Untuk itu harus dipelihara, dipupuk, dan dibersihkan dari segala rerumputan dan hama yang mengancam. Menanam benih, memelihara, lalu memetik dan mejualnya merupakan rangkaian usaha dalam bersabar.

Kesabaran petani tampak dari sikapnya. Menunggu (faktor waktu) terus bergiat, memlihara, dan bersiaga menghadapi segala macam tantangan, hama, cuaca, dan penderitaan rasa cemas. Ketika banjir melanda tanamannya, itu tidak membuat surut, begitu pula ketika terkena hama, selalu saja ada upaya untuk memperbaikinya bahkan mencari alternatif-alternatif yang dilakukannya.

Sabar berarti memiliki ketabahan dan daya yang sangat kuat untuk menerima beban, ujian, atau tantangan tanpa sedikit pun mengubah harapan untuk menuai hasil yang ditanamnya. Rasûlullâh memuji orang mukmin yang bersabar , sabdanya : “Sungguh menakjubkan orang mukmin itu, jika ditimpa ujian dia bersabar” (HR. Bukhari)

Ikhtitâm
Sabar dapat disetarakan dengan kecerdasan emosional (emotional intelligence), yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai tekanan (stressor). Sehingga, orang orang yang bersabar tidak mengenal atau memiliki kosa kata “cengeng”. Karena makna dari sabar itu bagaikan batu karang yang tidak pernah bergeming walau ditimpa ombak samudera. Mereka tidak memiliki rasa gentar apalagi surut dari perjalanannya untuk menempuh jalan yang sudah mereka yakini. Firman Allâh swt : Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar...(QS. Al-Ahqâf [46] : 35)

Mereka yang sabar akan menerima ujian sebagai tantangan. Baginya hal tersebut adalah sesautu yang biasa atau memang demikianlah seharusnya. Dangan hati yang lapang dan antusias, ia merasakan penderitaan dengan senyuman. Kepedihan hanyalah sebuah selingan dari sebuah perjalanan. Bukankah tidak selamanya jalan yang ditempuh itu mulus dan indah. Terkadang harus mendaki dan penuh tantangan atau ujian. Itulah sebabnya, Allâh memeberikan kabar gembir bagi orang-orang yang tabah dalam perjalanannya.

Apapun yang dihadapi hendaknya disikapi dengan sabar. Bersabar itu tidak memiliki batas, ketika ada yang mengatakan “sabar itu ada batasnya,” berarti secara tidak langsung ia sudah tidak bersabar. Lebih tepatnya adalah “Shobrun ‘alâ shobrihî..” bersabar di atas kesabarannya.

Begitu dahsyat orang-orang yang sabar, Allâh berfirman  (QS. Al-Anfâl [08] : 65) : “…. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu…..” Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bersabar, dan senantiasa saling mengingatkan dalam kesabaran. Amîn. Wallâhu a’alamu bi asshowâbi.[]

Amir Hamzah
Div. Pendidikan - Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM)
PONPES UII - Yogyakarta


Rasulullah bersabda : “sesungguhnya yang paling ku takutkan dari yang ku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya , “wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu? ” beliau menjawab, “riya’.” Allah berfirman kepada mereka kelak pada hari qiyamat, tetkala memberikan balasan amal-amal manuisa,” pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ di dunia apakah kalian mendapatkan balasan dari sisi mereka?” (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Baghawy)

Riya’ berasal dari kata ru’yah, yang artinya adalah melihat. Orang yang riya’ adalah mereka yang menginginkan agar orang lain melihat apa yang dilakukannya. seseorang beramal untuk Allah tetapi juga diniatkan untuk selain Allah, yaitu ingin di lihat oleh orang lain. Sehingga orang yang riya’ itu pada dasarnya melaksanakan ibadah yang Allah perintahkan tapi niatnya bukan karena Allah. Menurut al-Quran surat al-Ma’un riya’ ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat/manusia. Virus riya’ dalam diri seseorang melalui beberapa hal diantaranya adalah : pertama Senang terhadap pujian dan sanjungan, kedua selalu menghindari celaan dan yang ketiga yaitu mengaharap kedudukan di hati orang lain.

Tiga aspek inilah yang menjadikan penyakit riya’ itu tumbuh dengan subur dan akhirnya menggrogoti jiwa manusia, dan menjadikan amalan-amanlan manusia menjadi tidak di terima oleh Allah swt.  Orang-orang yang riya’ ternasuk orang yang celaka sebagaimana dalam firman Allah dalam surat al-Mau’un : “maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’.” [107]: 5-6

Macam-Macam Riya’

Riya’ itu banyak macamnya, diantaranya adalah sebagai berikut : pertama, riya’ yang berasal dari badan. Biasanya hal ini lebih bersifat kepada bentuk fisik yang ingin di lihat atau memamerkan tubuh yang bagus atau sebagainya, memperlihatkan mata cekung dan  agar terlihat ahli puasa, memperlihatkan kegagahan, penampilan yang menarik, dan kecantikan maupun kecakapan yang ada pada dirinya. Kedua, riya’ yang berasal dari perhiasan/pakaian. Merasa apa yang ia punya paling bagus dari yang lain, sehingga merasa ingin di lihat oleh orang lain; atau memakai pakaian yang meniru para ulama agar dipandang sebagai ahli ibadah atau oarng yang ahli ilmu agama, atau memperlihatkan pakaian yang mahal, atau rumah dan harta yang ia miliki.

Ketiga, riya’ yang berasal dari perkataan. Biasanya membagus-baguskan bacaan ketika berbicara, dan begitu juga ketika membaca al-Quran dengan niat ingin di puji oleh orang lain yang mendengarnya. Sehingga membuat yang mendengar memberikan pujian atas keindahan suaranya ataupun yang lainnya. Keempat, riya’ yang bersal dari perbuatan. Yaitu memanjangkan bacaan sholat saat ruku dan sujud, menampakan ke khusyukan, shodakoh lantaran karena ada seseorang yang disukai atau lain sebgaianya, sehingga apa yang ia lakukan bukan murni atas kehendak dirinya melainkan karena ada dorongan dari orang lain yang mengakibatkan ia melakukan perbuatan itu. Kelima, yaitu riya’ dengan teman dan orang-orang yang berkunjung kepadanya. Misalnya ia memiliki teman yang sudah terkenal dan lain sebagainya kemudian ia selalu menyebut-nyebut temannya tersebut, bahwa orang tersebut sering datang kerumahnya. Ia punya banyak teman dan bahkan ia pernah didatangi oleh si fulan dan fulanah yang terkenal itu.

Bahaya Riya’

Bahaya riya’ yang pertama, dapat menghapus amal shalih. Seperti yang disampakan di atas, yaitu seseorang yang melaukan perintah Allah akan tetapi ia memasukan sifat riya’ ketika melakukan amalan tersebut dan hal itu menyebabkan amalan yang seharusnya mendapatkan pahala, akan tetapi menjadi amalan yang sia-sia. Amalan yang shalih itu menjadi amalan yang kosong dan tidak memiliki nilai di mata sang khalik. Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya yang paling ku takutkan dari yang ku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya , “wahai rasulullah, apakah syirik kecil itu? ” beliau menjawab, “riya’.” Allah berfirman kepada mereka kelak pada hari qiyamat, tetkala memberikan balasan amal-amal manuisa,” pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ di dunia apakah kalian mendapatkan balasan dari sisi mereka?” (diriwayatkan Ahmad dan Al-Baghawy)

Bahaya Riya’ yang kedua, riya’ adalah penyakit yang tersembunyi. Karena penyakit riya’ itu tidak tampak dan hanya pelakunya sajalah yang tahu, maka sangatlah sulit untuk mengetahui siapa yang terkena penyakit riya’ ini, oleh karena itu riya’ sangat berbahaya dan dapat menyerang siapa saja, kapanpun, dan dimanapun. Rasulullah bersabda : “maukah aku tunjukan sesuatu yang lebih aku takutkan kepadamu dari pada al-Masih dan ad-Dajjal? Yaitu syiruik yang tersembunyi, seorang berdiri mengerjakan shalat lalu ia menghiasinya karena ada yang melihatnya.” (Riwayat Ibnu Majah)

Bahaya riya’ yang ketiga yaitu riya’ dapat menambah kesesatan. Sudah sangat jelas sekali jika ada seseorang yang terjangkit penyakit riya’ maka penyakit tersebut akan menggerogoti jiwanya dan menyerang seluruh elemen yang ada di dalam tubuhnya terutama hati. Riya’ merupakan penyakit yang sukar disembuhkan, sehingga bagi orang yang telah terkena penyakit ini akan terus menerus menjalankan riya’ dalan kehidupannya sehingga ia akan terus menerus masuk kedalam kesesatan tersebut. Allah berfiraman dalam al-Quran :

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabakan mereka berdusta.” (QS. Al-baqarah [2] : 9-10)

Terapi Riya’
Hal yang pertama adalah dengan membiasakan diri menyembunyikan amalan. Sebisa mungkin kita melakukan kebaikan dan kemudian kita melupakan kebaikan tersebut, sehingga dangan tidak mengingat-ingat kebaiakn tersebut maka secara otomatis kebaikan itu tidak akan pernah kita ungkapkan ataupun kita ucapkan kepada orang lain. Seperti dalam peribahasa yang sering kita dengar yaitu “tangan kanan beramal dan tangan kiri tidak tahu.” Berusaha untuk tidak mengingat-ingat dan menyembunyikan dari tangan kiri atas perbuatan tangan kanan merupakan salah satu terapi yang bisa mencegah penyakit riya’ ini muncul.

kedua adalah dengan mengetahui dan mengingat bahaya riya’. Jika kita menyadari akan bahaya riya’ tersebut, tentulah kita takut dengan kemurkaan Allah dan azabnya bagi diri  kita  tetkala kita melakuakn amalan riya’, dan tentunya kita akan menyadari sebetulnya pujian itu untuk apa, dan tidaklah memiliki apapun.  Apalah artinya sebuah pujian dan sanjungan apabila Allah tidak ridha, bahkan sanjungan dan pujian hanya akan menimbulkan murka Allah kepada hambanya.

ketiga adalah dengan Berdoa kepada Allah. Yaitu dengan memohon untuk dijauhkan dari penyakit riya’ yang mampu menghilagkan pahala amal shalih. Abu Musa al-‘Asy’ari berkata :

“Pada suatu hari Rasulullah berkhutbah kepada kami. “wahai sekalian manusia, takutlah akan syirik ini (riya’) karena ia lebih tersembunyi dari pada rayapan seekor semut”, lalu salah seorang bertanya, “ya Rasulullah, bagiamana kita mewaspadainya?” beliau menjawab, “berdoalah dengan doa ini : ya allah kami berlindung kepada engkau dari mempersekutukan sesuatu dengan Mu apa yang kami ketahui dan kami memohon ampunan dari apa yang kami tidak ketahui.” (Riwayat Ahmad)

Penutup
Riya’ merupakan penyakit yang berbahaya dan mampu menghapus amal shalih, dan menjadikan manusia rusak, karena apa yang ia cari hanyalah sesuatu yang tidak berarti dan sifatnya hanya sesaat saja. Oleh karena itu kita harus menjauhi penyakit riya’ ini, jika tidak ingin terjebak dan masuk kedalam lembah kegeglapan, yang mampu membuat mata hati kita tertutup rapat oleh pintu riya’. Percuma kita sholat, puasa, menolong, dan lain sebagainya jika hanya ingin di lihat oleh orang lain dan di nilai oleh rang lain.

Jika penyakit riya’ telah datang menghampiri diri kita maka cepat-cepatlah memberikan penawarnya yaitu dengan segera mengingat allah dan mengingat bahaya riya’ tersebut dan kemudian berdoa kepada allah untuk dihindarkan dari penyakit tersebut. Jika tidak cepat-cepat di obati maka penyakit tersebut akan menyebabkan semuanya amalan kita hilang dan menjadi sia-sia. Ketika semua amalan yang kita lakukan telah dibumbui dengan sifat riya’ maka amalan tersebut sudah dipastikan tertolak dan menjadi amalan yang kosong, hampa dan lain sebagainya. Amalan yang demikian hanya memiliki tampilan luar semata, akan tetapi tidak memiliki sesuatu arti apapun di hadapan allah swt.

Sebisa mungkin kita menyadari bahwa pujian dan sanjungan itu merupakan sesuatu hal yang tidak memberikan manfaat,  dengan kesadaran itu maka kita akan mengesampingkan niat untuk mendapatkan sebuah pujian ataupun sanjuangan dari  makhluk yang namanya manusia. Ingatlah bahwa pujian hanya akan membuat kita terjebak kedalam sebuah lembah yang sebetulnya menjadikan diri kita lemah, tidak berdaya, dan membuat mata hati kita menjadi tertutup.

Sadarilah bahwa sebetulnya yang kita cari bukanlah pujian ataupun sanjungan dari manusia akan tetapi yang kita cari adalah ridha Allah swt untuk memperoleh  sebuah balasan yang setimpal atas amalan-amalan yang telah kita lakukan dalam hidup ini, dan yang kita cari adalah balasan syurga dari Allah untuk menempuh hidup di akhirat yang kekal suatu hari kelak. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang terjauh dari sifat riya’, dan selalu mendapatkan ridha Allah dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang selalu bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat, dan menjadi hamba-hamaba yang bertaqwa.

“Ya Allah kami berlindung kepada engkau dari mempersekutukan sesuatu dengan Mu apa yang kami ketahui dan kami memohon ampunan dari apa yang kami tidak ketahui.” Amin. Wallahu’alam bishowab.[]

*Amir Hamzah
Mahasisiwa Prodi PAI│FIAI UII
Santri PONPES “Ashabul Kahfi”

#arikel ini pernah diterbitkan oleh buletin Al-Lulu, PONPES UII

Itu foto, biarlah menjadi memori foto terindah. Dan wacana biarlah menjadi wacana. Namun, akan ada story historis disana. Terlihat disana, ada action seorang wanita berjilbab merah, tengah beraction sedikit membuka pelukan tangannya. Pelukkan itu, bukan sekedar pelukan kecil, namun itu adalah gambaran dari betapa besar pelukkannya terhadap teman-teman yang duduk-berdiri bersama mengelilinginya. Mengapa ia berpose seperti itu?. Itu karena ia merasa begitu sayangnya terhadap mereka disana. Banyak rasa, story dan pengalaman yang ia dapatkan bersama mereka.

Story ini memang indah. Sejak, kali pertama kita jumpa di kelas hingga saat ini kita satu gerakan. Tentunya, gerakan skripsi manis kita.

Ahaa, bila kita flash back ke depan banyak story yang terungkap. Ada sosok Ustad-Ustad pencerah hati kita yang the-best the-best, seperti AZIZ-AMIR-YUSUF. Kalian sangat istimewa deh. Santun pulak perangainya. Ada pula sosok Ibu-Ibu kita yang nah kasih perhatian, nasehat, omelannya yang tentunya sangat-sangat positif untuk kita. Tidak lain tidak bukan mereka adalah MEYLITA , NURUZ and NURUL @nuru, yang dulu-dulu sempat mendapatkan nominasi wanita cantik nan galau se-Indonesia. Mengapa?. Itu karena dia sempat memiliki hati yang indah namun tengah berjarak di Pulau Seberang sana, dengan segala tugas yang diamanahkan kepadanya. Namun, seiring waktu berjalan nampak’y Si Nurul pun sukses mengatasinya. Ehem, ikut salut yah kita.

Oh, ya!!. Kelas kita juga tak luput dari “SESUATU” loh.!! Tau tak, mengapa??. Itu karena kelas kita juga nah punya sosok artis gitu. Yah, artis layaknya Syahrini versi Prodi kita. Dia nah selalu berpenampilan oke-oke punya. Dia nah pake sesuatu yang bling-bling. Mulai dari aksesoris’y, fashion’y, dan model gaya berjilbab’y. Kita nah senang deh liat gayanya yang sesuatu itu. Dan Dia terlihat manis dengan gaya diri’y sendiri. Apa-apa yang ia kenakan, kita ikut senang. Bahwasanya, kita boleh berkreasi apa-pun asalkan itu terlihat meching, cocok dan nyaman untuk dikenakan. Sosok artis sesuatu itu adalah ROCHIMAH MUSTIKANINGRUM, yang sering di panggil dengan nama “TIKA”

Lanjut story berikutnya, ada pula sosok teman kita yang nah nampak imut-imut, baik, terkadang mengingatkan kita kalo-kalo ada info-info penting dan tugas-tugas kuliah. Yah, dia seperti surat kabar untuk kita. Hehe, NISA KUSWANDARI nama’y. Teringat pula dengan sosok bapak kita. Itu tuh, bapak MAUL dan Pak DITA FATURRAHMAN. Mengapa saya sebut mereka bapak?. Itu karena suara mereka yang mirip bapak-bapak. Hehee.

Yuhuu, kelas kita, ada juga sosok terheboh. Dia memang selalu heboh. Ada orang yang nah asik ketiduran di kelas, dia jadi’in korban. Tentunya korban kejailannya, keisengan’y. Dia isengin teman kita, sampe-sampe satu kelas tertawa semua. Pokoknya dia sering iseng. Tapi ia sangat-sangat lucu pula. Kata-kata apapun yang keluar dari mulut’y, pasti bikin heboh kita dan teman lainnya. Kita ketawa di buat’y. Contoh neh, dia selalu manggil-manggil cewek pujaan’y dengan panggilan “cinta”. Neh kata-kata yang sering ku dengar. “Hallo, Tika.!! (Sandy sambil senyum). “Tika cintaku, I Love you”. Kemudian, Ada Nurul datang, bilang lagi “Hai cinta, Aku padamu. Nurul dihatiku.” Dan begitu seterusnya gombalan-gombalan maut’y setiap perkuliahan kita. Itu dia sosok si endut kita. Si SANDY anak Cilacap punya. Hehe.

Satu lagi sosok yang nah buat kita sempat terharu. Ia selalu kasih perhatian-perhatian ke kita yang tak di sangka-sangka. Seperti waktu kita memerlukan sesuatu, namun diri kita belum bisa usaha’in sesuatu itu. Ternyata, ia nah datang ke kita secara tiba-tiba. Nah kasih sesuatu itu ke kita. Baik sesuatu itu bernilai, besar ataupun kecil tapi itu suatu rasa yang indah buat kita. Feel inilah yang nah buat hati kita rasa haru. Terima kasih LINA (HERLINA MUNAWAROH) , kau nah hadir kasih support-support, story-story dan kritikan ke kita, yang terkadang buat kita koreksi terhadap diri ini menjadi lebih positif kembali.

Gak ketinggalan juga. Si VIVI teman kita. Teman yang gaul punya. Kata iklan bilang, “Gak ada Loe, Gue masih bisa Happy”, (Hehe, sedikit rubah kata”). Nah, ia paling cocok sama Sandy. Sama-sama gila’y di kelas. Dan selalu stand by sama yang nama’y BB. Kan komunitas blackberry geto.

Kita juga punya sosok teman yang disiplin, tuh dua cowok. Si om HARRY dan om ARIF. Disusul juga dengan sosok Rock N Roll kita. Si Master ANDI, Pacitan punya. Begitu pula dengan sosok Si Kribo kita. Sosok nah muncul dari Flores punya. Si om SYUKUR. Nama lengkap’y sih ABDUL SYUKUR USMAN. Tapi ia sangat tenar dengan nama “SYUKUR”. Jadi kalau ada apa-apa selalu panggil syukur dan harus selalu bersyukur. Hehehe. Dia nah sering jadi topik pembicaraan dosen kita. Seperti ini. “Haduh, Syukur. Jauh-jauh dari flores sampai kelas Cuma tidur”. Tapi apapun keadaan syukur yah tetap bersyukur. Lah emang nama’y syukur, yah harus bersyukur, karena Si Syukur masih mau berangkat kuliah walaupun sore-sore. Begitu seterusnya, berputar-putar dengan kata-kata syukur. Tapi Si Syukur, adalah sosok yang hebat juga. Dia nah sosok pertama yang mencetuskan kata-kata “Si Mentah” kepada teman kita Si INAM, teman-teman bilang. INAM (IN’AM/NAIM) ini, adalah sosok yang baik juga. Baik karena kita di kasih tumpangan berangkat PPL di SMA UII, waktu minggu pertama kami dilepas disana. Pan kita tau jalan waktu itu. Setelah kita tau jalan, lalu, balapan motor lah kita. Hehehe.

Satu lagi neh. Sosok yang nampak diam-diam menghanyutkan nan yang suka ngeledekin kita, Si nama’y. Dan kabar’y tengah kecantol anak didik’y di sekolah tempat ia PPL. Hehehe, ikut senang yak. Lanjutkan aksimu, Om.!!

Intinya, kalian semua adalah kebaikan-kebaikan yang kumiliki, ku rasa sampai saat ini. Sekarang kita semua sama-sama gerak dalam karya tulis ilmiah kita. Semangat kalian adalah semangat kita juga. Kelak, esok kita gerak wisuda bersama. Semoga silahturahmi ini akan berjalan sampai nantinya kita gapai semua target-target keberhasilan pencapaian kita. Terima kasih ku kepada Allah SWT yang telah mempertemukan kita di kampus ini. Semua ini tidak lepas dari rencana indah-Nya, kita dapat duduk di samping kalian, mendapat story-story kalian serta pengalaman-pengalaman pun juga berkat-Nya. Saya bersyukur, atas rencana indah-Nya ini yang kelak menuntun hidup ke depan.

Oke teman-temanku. Kita nah gerak. Kalian juga gerak. Merdeka untuk kita semua ^^ —

Oleh :
Ika Aryani

Sumber :
https://www.facebook.com/ika.aryani.9/posts/504188212951815?comment_id=5466022&offset=0&total_comments=45&notif_t=mentions_comment

#catatan :
foto yang digunakan di atas sengaja tidak disamakan dengan sumber aslinya, tujuannya adalah untuk mengabadikan momen yang lain.

Tadinya aku kira telat, setiba di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) mobil xenia putih telah berada diparkiran. “waduh Pak Idrus kayaknya sudah datang..” batinku. Tetapi dengan keberanian yang aku miliki aku tetap berjalan menuju ruang kerja beliau. Dengan membaca bismillah aku memasuki ruangan dosen-dosen FIAI. Ternyata, taka da satu orang pun yang aku temui di dalamnya. Ruangan Pak Idrus pun terlihat masih tertutup, kunci ruangannya juga masih tergantung di lubang kunci pintunya. Ini menandakan bahwa baru karyawan/office boy yang membersihkan ruangan beliau.

Pikiranku kembali terbang ke jauh. Yang ada dalam benak ku pada waktu itu “bagaimana jika pak idrus sudah masuk kelas?? Bisa repot kalo kayak gini..” tetapi dengan sabar aku berjalan meninggalkan ruangan beliau dan menuju hall. Disana aku melihat-lihat madding yang berada ditengah-tengah hall. Mading tersebut sudah ada semenjak aku masuk sebagai mahasiswa baru, rasanya taka da yang erubah dengan madding ini gumamku dalam hati.

Sambil mencari-cari informasi jadwal seminar proposal skripsi, tiba-tiba kau dikagetkan dengan suara laki-laki tua. Dari suaranya aku sudah dapat mengenali siapakah lelaki tua itu. Pak Muhanam, begitulah ia disapa. Orangnya kecil dan kurus, serta memiliki jangggut yang lumayan panjang sudah keputih-putihan tetapi tidak lebat. Dengan gayanya yang khas, pak Muhanam menyalami ku dan kamipun salig bertegur sapa ditengah hall FIAI.

Suasana FIAI begitu sunyi, dari kesunyian tersebut terdengarlah suara orang yang aku tunggu seklaigus aku cari-cari. Aku yakin suara itu adalah suara pak idrus. Dengan langkah yang pasti aku segera menuju ke sumber suara tersebut, tampaklah lelaki yang berumuran sekitar 50an, dengan berbalut kemeja ungu tua panjang dan celana bahan yang berwarna hitam. ikat pinggangnya terlihat sudah begitu lama dibandingkan dengan baju dan selana yang beliau kenakan.

Perawakan beliau tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kurus, rambut beliau cukup tebal dan berkumis tipis. Bentuk mukanya besar, agak bulat serta sangat sulit untuk tersenyum. Begitulah tampak beliau dari fisik depannya.

Dengan mantap akupun memasuki ruangannya beliau. Tanpa dipersilakan duduk pun aku langsung duduk didepan meja beliau, karena pak idrus saat itu sudah duduk di kursinya. Dengan basa-basi aku membuka percakapan, setelah ngobrol sejenak aku langung mengalihkan pembicaraan pada pagi itu. “begini pak.. ketika saya mengajar TPA, saya akhirnya menemukan sebuah judul… bla..bla..bla..” dari cerita tersebut aku sampaikan bahwa permasalahan itulah yang  akhirnya membuat saya tergelitik untuk membahasnya di skripsi ini.

Ketika pak idrus bertanya lebih jauh, dengan mantap saya jawab pertanyaan bapak sudah ada dibuku ini…  beliau langsung terkejut dan bertanya “buku siapa kui??” “saya kira bapak kenal beliau”. Jawab ku. sambil menyodoran buku. Oh iya pak judul skripsi saya tentang ini “patpadk”

Ya sudah, bagus itu… terus mau penelitian di mana??? Mungkin disleman saja pak. Kenapa gak di daerah mu?? Waduh pak kurang pas. Masyarakatnya belum terbiasa dengan baca tulis.

Tak lupa saya meminta do’a dari belia. “do’a juga harus di lakoni… percuma do’a juga kalo tanpa usaha”. Secepatnya dikerjakan. Begitu pesan beliau. Dengan perasaan senang dan lega akhirnya akupun berpamitan meninggalkan ruangan beliau.

Ternyata, salah satu teman pun sudah berada di depan ruangan pak idrus. Ia juga baru mau mengajukan judul skripsinya. Namanya Hari Sulistiantoro ia berasal dari Bekasi.

Yogyakarta, 28/maret/2013

Semalam aku tidak bisa tenang, banyak hal yang ada dibenak ku yang aku pikirkan. Semuanya terasa campur aduk dan menjadi satu, ibarat es campur yang siap untuk diminum. Tak hanya itu, tadi malam juga aku memperbaiki komputerku yang sudah lama “istirahat” akibat terkena radiasi suara petir cukup keras waktu itu. Alhamdulilah semuanya bisa diperbaiki, sekaligus aku install ulang hingga aku tak sadarkan diri bahwa aku sudah terjaga dan lelap dalam tidur.

Suara adzan subuh yang menyadarkan aku dari kesunyian malam. Sejenak aku bisa lupa semua beban yang begitu menumpuk. Begitu aku sadar aku tertidur, maka sejak itu pula pikiran –pikiran itu muncul, rasa cemas dan gelisah itu muncul kembali. Aku bangun dan langsung mengecek komputer yang semalam aku tinggalkan. Ternyata semuanya baik-baik saja dan telah siap untuk digunakan.

Selepas sholat subuh aku langsung mandi, karena aku sudah janji dengan ketua prodi untuk bertemu pada pukul 07.30 di Fakultas. Tak lupa ku buka-buka buku dan coretan yang pernah aku buat untuk mengajukan judul. Aku masih ingat dengan perkataan beliau, kalau mau mengajukan judul harus diawali dengan masalah.

Setelah mempersiapkan buku-buku dan semuanya sudah siap, maka aku langusng tancap gas menuju kampus tercinta. Di jalan sesekali ku lihat jam yang ada di ponsel, sesekali aku juga mengamati orang yang beraktivitas di pinggir jalan.

Ketika sedang asyik mengendarai sepeda motor Honda tahun 70an aku dikagetkan dengan kerumunan kendaraan yang berjejer cukup panjang, sehingga deretan itu menjadi sebuah kemacetan.  “Ada apa gerangan?” Gumamku dalam hati. Tak lama dari kejauhan terlihat seseorang yang memakai rompi hijau menyala, akupun sudah bisa mengenal siapakah orang tersebut; ia adalah pak Polisi.

Dengan rasa waswas dan sedikit ketakutan, aku tetap mencoba memberanikan diri untuk terus memacu sepeda motorku. “walupun ada razia aku sudah pasrah…” pikir ku singkat.  Dalam kegelisahan yang tiada berujung itu, akhirnya terjawab sudah ketika aku menyaksikan ada sebuah sepeda motor vixon yang terjatuh dengan velg depan hancur. Tak hanya itu, body motor Honda kharisma yang rusak parah tak berjarak tak begitu jauh dari motor vixon.

Seketika, akupun merasa was-was campur dengan ketakutan. Akhirnya aku memacu sepeda motor dengan begitu pelan dan tetap terjaga dalam kondisi “sadar”. Yang ada dalam pikiranku pada waktu itu “kecelakaan itu disebabkan kerena tidak dalam kondisi sadar.” Misal, karena ia ngebut akhirnya terjadilah kecelakaan maut dan berakibat nyawa jadi taruhannya.

Boleh ngebut, tapi asal tahu tempat, dan kondisinya. Jika jalanan sepi ngebutpun tak masalah, tetapi jika terjadi kecelakaan ya tanggung sendiri saja. Pagi hari jalanan sangat ramai, setiap jalan pasti penuh. Karena kebanyakan setiap orang berangkat kerja pagi hari, mahasiswa berangkat ke kampus pagi juga, begitu juga dengan siswa-siswi yang akan belajar disekolah mereka.


Tak perlu mengatakannya. biarlah ia tahu dengan sendirinya. Suatu saat semuanya akan tahu... Cepat atau lambat ia akan mengerti. Tak perlu merasa sakit hati, kecewa apalagi sampai merana. Anggap saja semua ini bumbu kehidupan. Toh siapa pun pasti pernah mengalaminya. Satu kali, dua kali bahkan berkali-kali tentu akan menjadikan diri kita lebih kuat.

Biarkan semua ini mengalir seperti air. Tak perlu melawan arus atau mengemis-ngemis kepada dirinya. Jika ini memang baik menurut dirinya kenapa tidak, kenapa juga saya tolak. Yang tahu dan mengerti hanya ia, karena sedang mengalaminya. Ikuti saja semua ini dengan hati yang lapang serta kepala yang dingin. Berjalan saja seperti biasanya tanpa harus menoleh ke belakang.

Jika ini sudah digariskan oleh sang pencipta kenapa merasa gelisah. Jika sudah jodoh ya gak akan kemana-mana, begitulah pepatah yang sering kita dengar. Semoga semua ini merupakan jalan bagi kami untuk lebih baik dan lebih mengerti satu sama lain. Tanpa ujian, manusia tak akan menjadi kuat. Tanpa tempaan yang begitu keras tak mungkin sebuah keris bisa memiliki lekuk yang begitu indahnya.

Kadang semuanya butuh tempaan jika ingin kuat. Butuh ujian untuk naik ke level yang lebih tinggi. Siswa saja harus ujian jika ingin naik atau lulus dari sekolah. Semuanya butuh tempaan jika ingin menjadi yang lebih baik. Tak ada yang semudah membalikan tangan ketika ingin meraih sesuatu yang besar. Jalani saja dan nikmati semuanya dengan penuh sukaria. Yakinlah Allah bersama kita, terus pupuk keintiman kita itu dengan tuhan. Niscaya tuhan juga akan melebur menyatu dengan diri kita.

Bersyukur semua ini masih saya alami. Berarti saya masih normal sebagai manusia. Hidup ini masalah, memang begitulah adanya. Dengan masalah ini justru seseorang akan menjadi kuat, dan bahkan keintimannya dengan tuhan semakin tampak atau bahkan malah sebaliknya. Saya sadar, Iman yang saya punya masih rendah, ketika punya masalah barulah ingat akan tuhan. Tetapi semua ini saya syukuri karena ini adalah proses dalam mensyukuri nikmatNya.

Ya Allah, semuanya ku serahkan pada Mu. JIka ini sudah takdirmu maka dengan takdirmu pula aku akan menrima semua takdir yang engkau berikan. Tak ada yang mampu aku lakukan selain menerima semuanya, saya percaya ini semua atas kehendakMu semata.

Satu hal yang ing aku katakan.... dan dari dalam lubuk hati yang paling dalam "Izinkan aku menyayangimu secara beda dan sederhana.... maaf jika aku tak bisa menyayangimu seperti kebanyakan orang...."

kamar tercinta-Jogja, 23/03/13


Keberadaan pintu memang begitu urgen. Setiap ruangan yang ada di dalam rumah pasti memiliki sebuah pintu. Tak hanya sebatas untuk keluar dan masuk saja, melainkan sebagai pembatas privasi seseorang. Dengan adanya pintu seseorang merasa aman dan terlindungi. Secara sederhananya adalah seseorang dapat tidur nyenyak apabila pintu rumahanya terkunci rapat. Apa jadinya jika rumahnya tidak berdaun pintu, apakah ia akan nyenyak tidur??

Sebuah rumah dikatakan lengkap apabila memiliki daun pintu. Pintu merupakan alat  sederhana untuk masuk atau keluar rumah. Tetapi dalam cakupan yang luas, pintu juga bisa menjadi karakter seseorang. Misalnya saja ketika seseorang lebih suka menutup pintu rumahnya ia termasuk orang yang tertutup. Sedangkan jika pintu rumahnya sering terbuka itu menandakan bahwa dirinya sangat terbuka dengan orang lain.

“Pintu rumah kami terbuka untuk bagi siapa pun...” kata-kata seperti ini sering kita dengar. Entah sebagai basa-basi atau tanda bahwa dirinya sangat terbuka dengan orang lain. Pintu memang dapat menjadi sebuah simbol dari sebuah rumah, sekaligus pemiliknya.

Beberapa alasan yang penulis peroleh dari gaya seseorang ketika menggunakan pintu rumah/kamar. Pertama, kegiatan yang ia lakukan tidak ingin diketahui orang lain. yang boleh mengetahuinya adalah hanya orang dalam atau dirinya sendiri, karena ada perasaan tidak nyaman, atau seolah ada yang mengawasi (dibaca: intai).

Kedua, jika pintu itu terbuka otomatis orang yang diluar bisa masuk seenaknya saja. Bagi ia hal yang demikian bagitu mengganggu dan tidak mengenakan. Kehadiran orang lain menurut ia sangat mengganggu tak hanya itu bisa jadi malah mengacaukan suasana atau mood si yang punya rumah/kamar.

Ketiga, mungkin ada beberapa orang yang terlihat begitu pendiam, tidak percaya diri, bahakan menutup diri ketika berada di luar. Tetapi ketika ada di dalam kamarnya sendiri ia seolah begitu menikmatinya. Ketika berada di dalam kamar maka baginya merupakan kebebasan, sebab hanya ia seorang dan tidak ada yang tahu sedang apa ia disana.

Beberapa info yang dapat penulis peroleh dari penelusuran terkait seseorang jika dilihat dari pintu rumah/kamarnya. Apakah anda termasuk orang yang tertutup atau terbuka? Apakah anda sebetulnya tidak termasuk kedalam kategori di atas. Tetapi tujuan anda menutup pintu bukan sebagai tindakan menutup diri atau sebagainya. Mungkin takut ada ayam, atau kucing yang masuk ke kamar anda? [amr]

Baris-berbaris rasanya saat ini sudah tidak diminati siswa-siswi lagi. Bisa dihitung orang yang  mau baris-berbaris mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati kemerdekaan indonesia (tgl. 17 Agustus). Alasannya mungkin sederhana, panas lah, gak asyik lah atau ngapain capek-capek ikut upacara. Mendingan jalan-jalan dan jajan, daripada panas-panasan gak jelas.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa pahlawannya..” begitulah pelajaran PPKN yang aku terima ketika duduk di bangku MTs. Siswa sekarang mungkin tidak tahu apa itu kepanjangan dari PPKN karena saat ini pelajaran itu kini telah diubah menjadi PKN. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, itulah kepanjangan dari PPKN. Eskul Pramuka yang kurang diminati ditambah lagi dengan penanaman nilai-nilai pancasila yang sudah meredup mengakibatkan merosotnya rasa naionalisme dalam diri siswa. Lambat laun mengikis dan akhirnya menghilang dalam dirinya.

Sederhananya, ketika kita sudah tidak mau mengikuti upacara memperingatai kemerdekaan 17 Agustus berarti bisa dikatakan bahwa kita sudah tidak menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah mengorbankan seluruh harta, keluarga, bahkan nyawanya untuk kemerdekaan yang kini kita nikmati. Alangkah tidak tahu diri, tidak punya malu, dan tidak memiliki harga diri jika memiliki pandangan bahwa upacara bendera itu tidak memiliki makna.

Jika para pahlawan yang dulu memperjuangkan kemerdekaan masih hidup, tentu mereka akan merasa sedih dan menyayangkan sikap generasi penerus bangsa yang saat ini mengalami dekadensi moral. Sikap apatis dan tidak tahu balas budi serta tidak menghargai perjuangan-perjuangan yang telah mereka korbankan demi kemerdekaan anak cucunya kelak. Kenapa hal ini terjadi??

Budaya pancasila sudah hilang, pancasila yang dulu sakti kini sudah tidak begitu sakti. Bahkan dalam acara televisi suasta disiarkan ada seorang memiliki gelar tinggi, bahakan bisa dikatakan sebagai orang penting. Tetapi ketika diperintahkan untuk menghafal pancasila, ternyata ini tidak hafal lima dasar pancasila tersebut. Sungguh sangat memalukan dan tentunya tidak boleh ditiru, orang seperti ini.

Berarti, jangannkan ia mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, hafal juga tidak. Semua terasa percuma, gelar yang ia punya tak begitu berarti jika nilai-nilai yang ada dalam pancasila sudah ia lupakan. Wajar jika korupsi, kejahatan, tawuran bahkan pencabulan terjadi setiap hari.

Tulisan bhineka tunggal ika yang terdapat pada pita burung garuda, kini hanya simbol tulisan semata. Tak lagi memiliki nilai bahkan sudah banyak dilupakan oleh kita. Kita saksiakn kerusuhan dan tawuran anatar warga yang sering sekali terjadi. Ini menandakan bahwa perbedaan tak lagi dihargai. Telah dicabik-cabik dan dirusak oleh generasi yang tidak bertanggung jawab. Generasi yang tidak merasakan pedihnya perjuangan melawan penjajah, untuk memeperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Tidak hanya itu pedoman yang ada dalam pancasial itu sendiri kini telah terkikis. Apakah kita masih ingat akan arti “bhineka tunggal ika..” walaupun berbeda-beda suku, adat dan bahasa tapi kita tetap satu. Kini yang terjadi malah sebaliknya, tawuran tidak hanya dilakukan oleh sisiwa dan mahasiswa saja, melainkan kini dilakukan oleh warga. Sungguh amat disayangkan. Perpecahaan yang ada malah semakin meluas dan seharusnya kita bangkit dan sadar akan semua ini. Yuk kita perangi (KKN) Korupsi Kolusi dan Nepotisme... tapi jangan malah menjadi temannya. Apakah kita siap???

Ditingkat pejabat, pancasila sudah dijadikan sebagai "alat" untuk memperkaya diri dengan mengatasnamakan rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat, demikian nama yang mereka punya. Tetapi yang terjadi hak-hak rakyat tidak pernah diberikan. Rakyat tidak pernah merasa diperhatikan dari semua kebutuhannya. Petani tak lagi dihargai, pendidikan masih saja harus dibebankan biaya dan masih banyak yang lainnya.

Jika benar-benar mengakui dirinya nasionalis buktikan. Jika merasa agamis buktikan. Mengaku sebagai nasionalis dan agamis seharusnya dibuktikan dengan mentaati nilai-nilai pancasila itu sendiri. Kesalehan sosial dan kesalehan spiritual harus berimbang.

Pengikisan Nilai-Nilai Pancasila
Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak lebih suka menggunakan media sosial, sebut saja facebook. Padahal, secara tidak langsung facebook dapat merusak tatanan kebiasaan masyarakat indonesia. Misalnya saja tegur sapa dan saling menghormati. Apa yang terjadi dengan Facebook? kebiasaan yang seing kita bangun justru malah hilang sedikit demi sedikit. Memiliki Facebook boleh-boleh saja, tetapi tidak sampai berlebihan, apalagi memprovokasi pihak lain.

Begitu juga dengan handphone. Banyak disalah gunakan dalam menggunakannya. Dulu, sebelum ada handphone bisa dikatakan sangat jarang orang membatalkan janji, bahkan bisa dikatakan hampir selalu ditepati. Semenjak ada Handphone mendorong seseorang untuk mudah dalam membatalkan janjinya. Lima menit sebelum pertemuan, ia dengan mudahnya membatakna perjanjian yang sudah disepakati dua minggu yang lalu.

Media televisi tak lagi memberikan pendidikan. Salah satu televisi swasta yang menayangkan kemampuan seseorang dalam bernyanyi. Setelah seleksi yang cukup panjang akhirnya dipilihkah beberapa finalis. Dari beberapa finalis ini mereka akan dicari mana yang lebih baik. Nah, cara yang dilakukan untuk menentukan siapa yang terbaik ditentukan cengan cara voling suara SMS terbanyak. Kok bisa? bukankah dengan cara yang demikian tidak adil. Buaknkah cara yang demikian sama saja dengan tidak fair?

Sangat jelas dan tanpa disadari pengikisan itu terus ada disekeliling kita. Harus pandai memilah dan memilih serta cerdas dalam mensikapi sesuatu hal. Jangan hanya karena orang lain kemudian kita ikut-ikutan. Masa depan negri ini ada di tangan kita, kalau bukan kita yang menjaganya siapa lagi?

*********

(Artikel ini pernah diikutkan lomba blog, dengan teman Pancasila dengan tema "Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural" Saya sudah merasa senang ikut perlombaan ini, walaupaun akhirnya tidak juara. Pengumuman Pemenang Disini )


Suatu ketika ada seorang anak yatim piatu. Yang dia ingat adalah perkataan mama nya sebelum meninggal dulu. “Nak kelak apapun yang terjadi jangan pernah meminta kepada selain tuhan...”. beberapa tahun berlalu. Akhirnya sang anak pun tumbuh dan memasuki usia sekolah. Akan tetapi karena ia yatim piatu maka ia tidak memiliki biaya untuk sekolahnya tersebut.

Akhirnya sang anak ini teringat kepada pesan mama nya sebelum meninggal. Anak tadi kemudian memutuskan untuk menulis sepucuk surat. Isi surat tersebut berbunyi seperti ini :

Kepada Yth
Tuhan

Tuhan, saya adalah seorang anak yatim piatu. Saat ini saya membutuhkan dana untuk keperluan sebagai berikut : Biaya sekolah :50 dolar, Sepatu : 10 dolar, Bayar asrama : 40 dolar. Total keseluruhan adalah 100 dolar.
Saya butuh uang ini secepatnya tuhan.

Terima kasih
Dari Anak mu

Akhirnya sang anak tadi membawa surat tersebut ke tempat pos. Petugas pos kaget bukan kepalang. “lho kok ini surat di tujukan kepada tuhan?” Karena bingung akhirnya petugas pos pun ingin membaca surat tersebut. Setelah membaca surat tersebut akhirnya petugas pos merasa kasihan kepada anak tersebut, kemudian surat itu diberikan kepada polisi, karena tugas polisi adalah mengayomi masyarakat.

Kepala polisi begitu takjub dan kaget dengan isi surat tersebut. “keimanan anak ini begitu bagus, sangat bahaya jika sampai keimanannya berubah lagi” akhirnya kepala polisi tadi mengumpulkan seluruh personilnya dan mengadakan patungan. Sehingga terkumpulah uang sejumlah 80 dolar.

Sang kepala polisi akhirnya menulis surat jawaban untuk anak tersebut dan memasukan uang yang terkumpul tadi didalamnya. Kop surat dari polisi menggunakan tulisan kepada anak ku... dan diakhiri dengan tulisan Tuhanmu. Akhirnya surat tersebut dikirimkan melalui salah seorang polisi untuk diantarkan ke alamat rumah anak itu.

Sang anak begitu terkejut ketiaka ada seorang polisi yang datang menghampiri rumahnya. Kecemesan itu pun hilang ketika polisi mengatakan bahawa ia mengantarkan subuah surat dari tuhan untuknya. Setelah membaca amplop bertulisakan untuk anak ku.. dari tuhan. Akhirnya anak itu menjadi percaya. Dengan perasaan gembira ia membuka surat itu, ia mersa kecewa setelah menghitung uang yang diberikan tuhan, ternyata hanya 80 dolar.

Sebelum polisi tersebut akan meninggalkan rumah sang anak. Sanga anak meminta kepada polisi untuk menunggunya sebentar. Ia akan menulis surat balasan kepada tuhan, yang berisi sebagai berikut : “tuhan, lain kali kalau mengasihkan uang jangan lewat polisi.. soalnya 20 dolar diambil polisi”.


Siapa yang pernah melihat film “You Are The Apple Of My Eye” tentu akan ingat dengan yang namanya Dimensi Pararel. Inilah percakapan tentang Dimensi Pararel.

Film yang bergenre unik, lucu serta dibumbui dengan kisah percintaan membuat film ini begitu menarik menurut saya. Apalagi kisah yang diambil dari masa sekolah hingga mereka mencapai usia dewasa dan akhirnya menikah (dengan orang lain). Percakapan yang saya ingat betul adalah tentang DIMENSI PARAREL.

“Apa kamu percaya dengan dimensi paralel? (Dimensi dimana diri kita yang lain berada di sana dan melakukan hal yang berbeda dari yang kita lakukan sekarang). Mungkin, di dimensi paralel itu, kita sekarang bersama. Terima kasih karena kamu telah menyukaiku....... Aku juga suka pada diriku yang menyukaimu saat itu. Kamu selamanya adalah hal yang terindah di mataku.....

Kisah yang ditampilkan dalam film ini cukup menarik. Ada edukasi dan kisah cintanya pula, walaupun di ending ceritanya tidak sesuai dengan harapan penonton. Kenapa si cewek tidak menikah dengan pemeran utamanya ya?? Sangat disayangkan, tetapi ya itulah sebuah perjalanan kehidupan. Tak selamanya apa yang diinginkan akan tercapai sesuai dengan yang kita inginkan.

Dimensi Pararel
Dimensi pararel intinya adalah, sebuah kejadian dimana kita berada di tempat yang berbeda tapi dalam waktu yang sama. Kalo di film ini digambarkan ketika si pria menelpon wanita, si wanita berada di taipei dan si pria di daerah lain, namun mereka sama-sama bisa melihat bulan yang indah banget malam itu.

Dimasa lampau kita berjalan dengan pasangan kita (pacar), pada saat menyeberang jalan depan sekolah dia tertabrak mobil, dan di masa kini kita dihadapkan dengan mesin waktu yang memungkinkan kita bisa mencegah kejadian dimasa lampau.

Saya berfikir pada dua hal, pertama kematian artinya timelinenya habis, kedua adanya dimensi paralel itu sendiri. Jadi kematian dalam sisi dimensi tidak bisa ditolak karena waktunya memang sudah habis, dan mengenai penyebab kematian akan dijawab oleh dimensi paralel.

Jikalau kita bisa menyelamatkan dia dari kecelakaan dia di sebuah dimensi, di dimensi lain yang paralel akan ada properti lain yang membuat schene (takdir) membuat pacar anda mati selain tertabrak mobil bahkan mungkin sama persis, hingga kita tidak mampu membedakan dimensi yang mana yang dahulu kita lalui. pemikiran saya ini juga berlaku selain kematian, seperti bencana, cacat, dan kecelakaan lainnya.

Orang akan berpikir, jika si A balik ke masa lalu dan membunuh kakeknya sebelum si kakek punya keturunan (ayah/ibu si A), maka si A akan lenyap. Sebab tanpa ayah/ibunya, si A takkan lahir. Tapi masalah muncul. Jika di masa lalu, si kakek sudah mati sebelum dia punya keturunan, bagaima mungkin si A bisa ada di masa lalu untuk membunuhnya? Sebab logikanya, masa depan telah ditulis ulang dan si A seharusnya hilang. Lalu kenapa si A bisa membunuh kakeknya di masa lalu? Paradoks/masalah itu dinamakan Paradoks Sang Kakek.

Versi John Titor
John Titor menyebutkan bahwa paradoks itu SALAH. Sebab jika si A balik ke masa lalu ataupun maju ke masa depan, dia akan mendarat di DUNIA LAIN serupa tapi tak sama. Agar lebih mudah dijelaskan, ibaratkan waktu sebagai sungai yg terdiri dari trilyunan tetes air. Dunia/masa kita ini adalah setetes air yg mengalir bersama tetes2 air lain membentuk sungai.

Dunia John dan dunia kita serupa, sama2 seperti tetes air. Dengan mendatangi masa kita, John melompat dari dunianya dan mendarat di dunia kita. Meski masa kita serupa dengan masa lalu dari dunia John, dunai kita bukanlah dunianya. Jika John membunuh kakek kandungnya di dunia kita, kakek John yg asli (yg berasal dari dunia John) akan tetap selamat.

Sebab orang yg John bunuh di masa kita adalah orang lain yg serupa tapi tak sama. Jadi intinya, jika kita balik ke masa lalu dan berharap bisa mengubah sesuatu agar masa depan berubah, hal itu takkan bisa terjadi. Sebab perubahan yg terjadi hanya mempengaruhi dunia yg kita datangi.

Sumber :
http://tiyoe.wordpress.com/2009/05/26/dimensi-ruang-dan-waktu-teoriku-menanggapi-isu-john-titor/
http://fascalemon.blogspot.com/2013/01/dimensi-paralel.html
http://megamegan27.wordpress.com/2012/08/09/dimensi-paralel/
http://unofficialsite.blogspot.com/2013/01/dimensi-parallel.html


Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Qs. Alhujarat [49] : 10)

Prolog
Hidup memang selalu berputar, kadang di bawah kadang juga di atas. Apapun itu, nikmati saja dan jangan pernah diambil pusing, dalam bahasa inggris dikenal dengan easy going. Setiap orang pasti memiliki masalah, tetapi tingkat kesulitannya berbeda-beda, cara menyelesaikannya pun tentu berbeda pula. Untuk itu apapun kondisinya, saat ini yang penting dinikmati dan dibawa hepi aja. Suatu saat kita akan menjadi lebih kuat dan lebih lihai dalam menyelesaikan masalah itu. Bolehlah saat ini masalah datang bertubi-tubi, tetapi kelak masalah itu akan memberikan manfaat.

Ketika masalah itu datang menghampiri, diusahakan jangan pernah lari darinya, sebab tanda orang yang gagal adalah lari dari masalahnya. Padahal, jika kita berfikir secara sehat dengan menggunakan logika tentu masalah itu akan hilang atau selesai jika dihadapi dan dicari soluisnya, bukan malah lari dari masalah tersebut. Salah besar ketika ada orang yang berusaha menyelesaikan masalah dengan car lari dari masalah yang sedang ia hadapi. Justru dengan cara demikian yang ada hanya menambah masalah.

Saya teringat dengan perkataan guru sewaktu sekolah dulu, “hidup itu masalah, apapun yang dilakukan pada dasarnya menimbulkan masalah..” begitulah kurang lebih kata-kata beliau. Apa yang disampaikan oleh beliau sampai saat ini masih saya ingat betul, satu contoh yang beliau sampaiakan pada waktu itu adalah makan. Ketika kita makan, maka masalah yang timbul setelah itu adalah kita harus mencuci tangan dan mencuci piring. Tak hanya disitu, piring tersebut bisa bersih apabila menggunakan sabun, jika tidak ada sabun terpaksa harus membelinya dan begitu seterusnya.

Masalah memang tanpa disadari muncul dengan sendirinya disebabkan oleh diri kita sendiri, dan ini merupakan konsekuensi yang harus dihadapi dan dijalani oleh makhluk hidup. Ketika kita memiliki masalah, maka bersyukurlah. Dengan masalah itu kita dapat berfikir, mampu mencari sebuah solusi dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang waras. Hanya orang gila atau tidak waras yang tidak memiliki masalah.

Like and Dislike
Apa yang kita lakukan tidak sepenuhnya dapat sejalan dengan anggapan orang lain. Ketika memilih yang A, belum tentu menurut orang lain A ini baik untuk dirinya dan begitu juga B itu menurut kita tidak baik tetapi menurut orang lain itu adalah baik. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan kita terskat dan seolah dipandang berbeda atau bahakan sebaliknya juga terhadap orang lain.

Like and dislike merupakan hal yang biasa, tetapi hal ini tidak biasa apabila sudah diintervensi oleh sikap dan sifat yang lainnya. Misalanya saja diintrvensi oleh sikap buruk sangka, menuduh, dan menyebarkan fitnah. Hal-hal yang seperti ini sebaiknya dihindari, dibuang jauh-jauh dari gaya hidup. Sebab jika dipelihara yang ada hanya akan melahirkan perpecahan dan efek yang paling dahsyat adalah terputusnya tali silaturahmi.

Sesama muslim, bermusuhan itu sangat dilarang. Untuk itu islam mengajarkan supaya hidup rukun dan damai. Apabila ada permasalahan jangan disimpan sampai lebih dari tiga hari, jangan sampai berlarut-larut. Rasûlullâh saw bersabda : Dari Anas Radhiyallahu Anhu ia berkata : Rasûlullâh Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Janganlah kalian saling memutuskan tali persaudaraan, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah kalian saling membenci dan janganlah saling menghasud. Jadilah kalian hamba Allah ta'ala yang bersaudara. Tidaklah halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari". (HR.Bukhari dan Muslim) Shahih Bukhari (6065) dan Shahih Muslim (2559).

Tak hanya itu, ancaman bagi yang mendiamkan sauadranya itu lebih dari tiga hari adalah neraka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Barang siapa yang meninggalkan saudaranya lebih dari tiga hari kemudian ia mati maka ia masuk neraka. (HR. Abu Daud dengan sanad yang berdasarkan pada syarat Muslim) Shahih Al-Jami' (7659) dan Shahih Abu Daud karya Al-Albani rahimahullah (4106).

Lebih jauh lagi, apabila ada yang mendiamkan sudaranya tersebut hingga setahun lamanya maka ia dianggap telah menumpahkan daranyanya sendiri. Dari Abu Khirasy Hadrad bin Abu Hadrad As-Salmi Radhiyallahu Anhu, ada yang memanggilnya dengan As-Sulami, salah seorang shabat Rasul, bahwa sanya ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Barang siapa yang mensiamkan sadaranya selama setahun maka ia seperti menumpahkan darahnya". (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih) Shahih Al-Jami' (6581) dan As-Silsilah Ash-Shahihah (928) dan shahih Abu Daud karya Al-Albani rahimahullah (4107).

Hikmah
Kunci dari sebuah masalah itu adalah menerimanya dan mampu memaafkan kesalahan orang lain. Hal ini tentu telah dicontohkan oleh Rasûlullâh saw dalam kehidupannya. Bagaimana beliau hidup berdampingan dan selalu memlihara sikap baik terhadap semua orang, termasuk dengan orang yang membencinya bahkan terhadap orang yang ingin membunuhnya. Rasûlullâh saw tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk membalas perlakuan yang diterimanya dengan balasan yang setimpal, melainkan beliau mendoakannya supaya diberikan hidayah Allâh.

Orang yang gagah perkasa ialah bukan orang yang memiliki kekuatan fisik, tetapi orang yang mempu menguasai dirinya ketika dalam kondisi marah. Begitu pula dengan mensikapi sebuah masalah, sebesar apapun masalah tersebut tetapi mampu disikapi dengan tenang dan sabar. Tak layak bagi seorang muslim saling menjelekkan saudaranya yang lain lantaran karena hal sepele, mislanya saja karena tidak sepemikiran atau tidak sejalan dalam pilihan hidupnya.

Meminta maaf atas segela kesalahan yang kita miliki terhadap orang lain itu sangat dianjurkan hanya dengan cara demikianlah dosa kita akan dihapuskan. Karena menghilangkan dosa terhadap sesama manusia adalah meminta maaf/ meminta dihalalkan, sedangkan menghilangkan dosa terhadap Allah Swt adalah dengan cara bertaubat. Sudahkah kita meminta maaf atas kesalahan kita?? Atau malah tidak merasa memiliki dosa sama sekali. Naûdzubillâhi Min Dzalik.[jng]   
Jajang, 14/03/13

Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah swt, karena setelah melihat sebuah informasi di salah satu blog [lupa nama blognya] akhirnya saya mencoba dan mencari tahu semua tentang hal itu.

Baiklah supaya tidak penasaran, yang saya maksudkan disini adalah mengukur ketepatan arah kiblat pada sebuah mesjid yang terletak di sekitar Kampung Pancur, Desa Sukasari  Kecamatan, Tunjung Teja, Serang - Banten, yang tak lain kampung tersebut adalah tempat saya dilahirkan dan sekaligus tempat yang begitu bersejarah.

Adapaun cerita terkait arah kiblat dipindahkan oleh Allah, silakan bisa dibaca disini atau disini juga disini. Sebagai referensi sumber bacaan dan sekaligus informasi tambahan bagi pembaca terkait kenapa perpindahan arah kiblat ini dilakukan. Saya kira lebih rasional, sehingga bisa diterima dengan akal sehat dan lebih masuk akal.

Untuk mencari masjid yang hendak dicari, kamu harus mengarahkan kursor ke sudut kanan dan kiri pojok atas. Disana cari pengaturan model pencarian yang menurut kamu mudah untuk dicari, ada pilihan Map dan silakan cari daerah mu, yang lebih mudah untuk digunakan adalah menggunakan SATELLITE. Tapi jika masih pemula dan awam ya silakan ikuti tips/cara yang saya buat dibawah ini.

Misalkan : cara yang paling mudah mencari "Kampung Pancur" adalah sebagai berikut :
  1. Masukan/Ketik nama "Serang Banten" di kotak enter address. dan pastikan pengaturannya lokasinya Map. [bukan satelit, hybrid, terain, atau earth]
  2. Disana kamu akan menemukan nama tempat : Cipocok Jaya, Curug, Sukamenak, Petir, Seuat, dan Tundjung. Nah disamping Tundjung kamu akan menemukan nama tempat PANIIS. 
  3. Silakan kamu zoom. [cukup menekan tanda [ + ] sebanyak tiga kali] 
  4. Ganti Type peta ke Hybrid. 
  5. Kamu tinggal cocokan dengan LOKASI yang ada dibawah [nama-nama masjid] yang sudah dibuat.


Oh iya, untuk mempermudah, saya sudah buatkan kordinat mesjid-mesjid yang ada disekitar daerah terdekat [yang sudah ditandai dengan berwarna biru], silakan di cek kebenarannya [silakan klik tanda yang berwarana biru, nanti secara otomatis akan muncul namannya]. Untuk menge-cek arah kiblatnya, silakan cari dan sesuaikan dengan "mesin pencarian" yang ada di atas. SELAMAT MENCOBA...

Letak dan Nama-Nama Mesjid



Dari pengamatan saya, melalui google maps diatas. Dari ke tujuh masjid tersebut yang yang paling sedikit memiliki kemirinagnnya (sekian mili) dari garis Merah (diatas) adalah Masjid Kp. Nanggor. Kemudian Masjid Kp. Pancur, yaitu kurang ke sebelah utara sedikit, di ikuti masjid Kp. Kubang, Masjid Kp. Kupluk, Masjid Kp. Ancol dan masjid Kp. Sukasari. Sedangkan Masjid Kp. Kalong (kebablasan) lebih miring ke Utara [kurang miring ke selatan].

Berikut ini hasil nya :









Yang saya tulis di atas berdasarkan pengamatan dan percobaan yang sudah saya lakukan, dan sedikitpun tidak ada unsur apapun. Wallâhu’alam

Amir Hamzah


Suatu sore, sang teman mengirimkan sebuah SMS. SMS tersebut sangat singkat, yaitu menanyakan tentang keadaan kabar saya. Tentu sms tersebut begitu besar maknanya, sayang jika tidak dibalas, lagian ia merupakan teman baik saya. Akhirnya sms kami pun tak hanya membahas hal-hal yang biasa, tetapi sampai membahas tentang masa depan juga.

Saya bertanya kepadanya : BTW udah kerja ya sekarang mah? Berarti udah banyak dong tabungannya. Udah siap nikah belum? Calonnya udah ada belum? Demikian pertanyaan saya pada teman yang begitu akrab ketika di sekolah MA. Ternyata pertanyaan yang panjang tersebut, ditanggapi dingin oleh teman saya ini, ia hanya membalas SMS dengan kata-kata singkat “tabungannya buat naik haji, dipersiapkan dari sekarang”. Seketika saya merenung, dengan balasan sms yang ia kirimkan.

Akhirnya, percakapan kami harus berakhir sampai disitu, karena di tempat saya sudah terdengar kumadang adzan sholat maghrib.
***

Ketika saya membuka Facebook, ada salah satu teman saya juga yang begitu aktif update di facebook. Tentu yang dijadikan ststus oleh kawan saya ini adalah perasaan-perasaan senang dan mampu memberikan motifasi bagi teman-teman yang membacanya.

Kawan saya ini membuat update status seperti ini :Bulan ini Nambah 2 jetii.. Nyariiisss menembus 8 angka.. Keep iqtisod aja dech pzti bisaaa..” Karena teman saya lagi mendapatkan hasil dari usahanya, akhirnya saya komentarin : “wah... pendapatannya udah gede, tapi tetep memperhatikan iqtisod... persiapan buat naik haji ya may....” Tanpa saya sangka, kawan saya membalas komentar saya dengan balasan seperti ini “Alhmdllâh mir bwt ortu.. ortu dulu yg brngkt mir.. doain tahun ini ortu brngkt.. ane mah msh bnyk yg hrs dipersiapin dulu..”.

Saya pun hanya bisa meng-amînkan semua keinginan kawan-kawan saya ini, semoga semuanya dimudahkan oleh Allâh swt dan terrealisasi sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Pelajaran
Apa yang diutarakan oleh kedua kawan saya ini ada kesamaannya, walau pun tempat dan media yang digunakan mereka berbeda. Kawan yang satu menggunakan media SMS, sedangkan kawan yang satunya lagi menggunakan media Facebook. Saya sering merasa heran, apakah ini sebuah pertanda petunjuk ataukah sebuah “pesan rahasia” melalui percakapan dua kawan, untuk bercita-cita dari sekarang untuk pergi ke baitullâh [naik haji].

Pergi ke baitullâh ketika usia masih muda merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Selain untuk menyempurnakan rukun islam yang kelima, disana kita melakukan sholat di masjidil harom yang mana pahalanya beribu-ribu kali lipat. Kelak bila, umur panjang dan  Allâh mengizinkannya pasti cepat atau lambat saya bisa menyempurnakan rukun islam yang kelima.

Saya berharap kelak tak hanya orang tua yang bisa diberangkatkan ke baitullâh, saudara dekat, dan orang-orang yang pantas menunaikannya. Amîn

Saya sempat iri dengan mereka, saat ini mungkin kawan saya sudah dan sedang menikmati hasil dari jerih payah dan perjuangannya, tapi saya masih menjadi orang yang biasa seperti ini. Dalam lubuk hati yang paling dalam, saya meyakini bahwa Allâh memiliki jalan lain dalam meraih apa yang dicita-citakan oleh setiap hambanya. Sebagai manusia, kita hanya diperintahkan untuk tunduk dan patuh atas semua yang Allah gariskan, pasti semuanya yang  terbaik.


Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al-Baqarah [02] :30)

Sejak dahulu para pakar telah mencoba meneliti perihal makhluk yang bernama manusia dengan berbagai teori yang bersumber dari logika. Para Filsuf mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang cenderung terus menerus mencipta (uncountable creator). Para sahli ilmu sosial mengatakan bahwa manusia adalah makahluk yang cenderung berkumpul (zoon politicon) sehingga merasa tersiksa kalau diasingkan dari pergaulan antarmanusia. Sedangkan ahli jiwa mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk yang yang punya perasaan (felling), makhluk yang berpikir (thinking), dan berkeingingan (willing). Dan para ahli biologi mengatakan bahwa manusia itu tersusun dari unsure-unsur hayati.
Menurut Charles Darwin bahwa manusia itu berasal dari kera (1859) dengan kata lain menegaskan bahwa manusia itu masih satu rumpun dengan kera. Evolusi yang dialami oleh kera-kera itu sekian juta tahun mengubahnya menjadi manusia seperti sekarang ini, dengan segala kelengkapan indrawi. Teori Drwin sampai pada saat ini masih menjadi perdebatan dan sangat bertentangan dengan kitab al-Qur’an yang menjadi pedoman umat islam, dalam al-Qur’an dijelaskan bagaimana manusia diciptakan oleh Allâh SWT.
Disebutkan dalam al-Qur’an bahwa manusia itu memiliki banyak nama yaitu : Insân, Ins, Nas, Unas, Basyar, Banî Adam, dan Zuriat Adam. Allâh menyatakan bahwa Dia menciptakan manusia dalam bentuk yang teramat sempurna. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Proses Penciptaan Manusia
Allâh menciptakan manusia dari tanah, selanjutnya dari setetes sperma yang “hidup”dan bertemu dengan indung telur kemudian melakukan pembuahan di dalam perut seorang Ibu, sehingga jadilah manusia. Al-Qur’an menjelaskan penciptaan manusia dengan sejelas-jelasnya, “Kami jadikan dia sebagai mani dalam simpanan yang aman (rahim), lalu kami jadiakan mani itu segumpal darah, dari segumpal darah itu kami jadikan daging, kemudian kami jadikan kerangka tulang dan akhirnya kami bungkus tulang itu dengan daging. (Qs. Al-mu’minun : 12-14). Proses penciptaan manusi dalam rahim diawali dengan perjanajian antara ruh dengan Allâh swt, yang berisi tentang persaksian bahwa Allâh adalah sebagai Rabb.
Seperti dalam Surat Al-Arâf [07] ayat 172 dijelaskan. “ Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “bukankah aku ini tuhanmu? “mereka menjawab : “betul (engkau tuhan kami), kami menjadi saksi.” (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat tidak mengatakan : “sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang yang lemah terhadap ini (keesaan tuhan).
Telah jelas bahwa al-Qur’an sendiri telah menjelaskannya, akan tetapi bila terdapat beberapa hal yang belum diketahui oleh manusia, itu berarti ilmu yang dimiliki oleh manusia belum sampai dengan apa yang ada didalam al-Qur’an, karena sesungguhnya ilmu manusia tak akan mampu untuk memikirkan ciptaan Allâh swt.
Sebenarnya inilah yang harus kita akui, tidak semestinya menggugat al-Qur’an dan mengatakan apa-apa yang ada dalam al-Qur’an tidak rasional. Hati-hatilah dengan perkataan kita terhadap kalâmullâh karaena ilmu kita belum sampai untuk memikirkan ciptaan-ciptaanya.
Sesungguhnya berbicara tentang manusia tanpa instrumen iman kepada Allâh, sama artinya membicarakan sesuatu yang rumit dan cenderung tanpa jawaban yang pasti. Manusia adalah makhluk yang memiliki “unsure ke-illâhian”, maka tidak mungkin mendalami manusia tanpa melibatkan sang penciptanya.

Tugas Berat
Allâh menciptakan manusia dengan beberapa tujuan, selain tujuan untuk beribadah dan menjadi khalîfah di muka bumi sekaligus untuk menjaga bumi agar selalu konsisten berputar  pada porosnya. Selain itu manusia juga diperintahkan utuk mencari kehidupan yang layak bagi hidupnya di alam semesta ini.
Tugas manusia sebagai khalîfah dimuka bumi ini tak semudah membalikan tangan karena manusia yang Allâh karuniai dengan akal pikiran ini, memiliki karakter yang berbeda-beda. Selain itu, tugas manusia sendiri adalah menjaga alam agar tetap baik dan bukan pula sebaliknya. Alam bisa memberikan potensi yang baik bagi manusia bila saja manusia bisa mengolahnya dengan baik dan benar. Tentunya manfaat itu akan dirasakan oleh manusia itu sendiri.
Bukan menghancurkan dan memanfaatkannya untuk kepentingan sepihak tanpa memikirkan akibat yang akan diterima oleh manusia yang lain. Pemanasan global (global warming) ialah salah satu bentuk keserakahan manusia yang menguras manfaat alam ini tanpa memperdulikan akibat yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kerusakan di bumi pada abad ini adalah akibat dari kelalaian manusia terhadap tugasnya sebagai pengemban amanah.
Sebagai contoh adalah dalam penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi) yang berlebihan akan menghasilkan emisi gas buang, berupa arbon mono-oksida (co2) yang membuat lapisan ozon di kutub utara semakin menipis. Akibatnya suhu dibelahan kutub utara naik sebesar 1-3 derajat celcius, es di kutub utara mencair menyebabkan naiknya permukaan air laut. Terjadi perubahan iklim yang ekstrim, perbedaan antara musim hujan dan musim panas menjadi tidak jelas, dan lain sebagainya.
Menurut para pemerhati lingkungan baik individu maupun institusi/kelembagaan, menyimpulkan bahwa hal ini terjadi akibat kerusakan dan perubahan ekosistem yang luar biasa akibat perlakuan tidak ramah terhadap sumber-sumber daya alam yang selama ini menjadi tumpuan pendapatan ekonomi. Penebangan hutan dan pemanenan hasil alam dilakukan dengan cara yang tidak sehat, bahkan melanggar norma sehingga terjadi kerusakan lingkungan.
Fakta terjadinya kerusakan alam saat ini tidak dapat dipungkiri, terutama di Indonesia, kerusakan yang terjadi akhir-akhir ini terjadi akibat dari keruakan alam yang sangat berdampak terhadap kehidupan manusia. Disamping itu, setiap tahun bahwa negara kita menghasilkan jutaan ton sampah yang tak terkelola dengan baik, ditambah dengan adanya banjir. Ditambah lagi dengan udar di kota-kota besar telah tercemar akibat indusri dan buruknya system trasnsportasi.
Bila kita telaah lebih lanjut, permasalahan yang kini dihadapi oleh umat manusia pada umumnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai sebuah proses dinamika alam. Kedua, sebagai akibat perbuatan manusia itu sendiri. Kedua bentuk kejadian di atas mengakibatkan ketidaksimbangan pada ekosistem dan ketidaknyamanan kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora maupun fauna.
Jika dibandingkan dengan yang pertama, jelas kalah. Kerusakan yang terjadi diseluruh belahan dunia tak lain adalah akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Kini sebagian penduduk dunia ini sudah menyadarinya dan mengusung jargon “Go Green”. Langkah ini dipandang mampu untuk mengurangi kerusakan alam yang telah terjadi. Namun, jumlah orang yang sadar terhadap lingkungan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang merusaknya.

Epilog
Manusia sebagai pengemban amanah, penjaga dan khalifah hendaknya memperhatikan apa - apa yang menjadi tanggung jawabnya di muka bumi ini. Tak selamanya menguras manfaat yang ada di dalam isi bumi ini, melalinkan menjaganya agar terus berputar dengan semestinya, dan jangan sampai membuatnya “oleng”. Semua ini dikembalikan pada kita (manusia) sendiri karena manusialah yang diberikan kekuasaan untuk mengurusnya, apalagi sudah jelas-jelas mengetahuinya.
Kini tak hanya di Jakarta saja terjadi banjir, tetapi hampir di daerah lain pun ikut-ikutan kena banjir ketika musim hujan turun. Semua kejadian-kejadian alam ini, pastilah ada kaitainnya dengan manusia. Dalam al-Qur’an Allâh berfirman : “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-Rûm [30] : 41)
Dalam ayat lain Allâh menjelaskan bahwa manusia tidak merasa bahwa kerusakan itu dilakukan oleh tangan-tangan mereka sendiri dan mengatakan bahwa mereka itu melakukan perbaikan. “Artinya : dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan." Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Qs. Al-Baqarah (02) : 11-12)
Agama harus dipahami dalam arti yang lebih luas dan dijadilan basis manusia dalam berprilaku terhadap lingkungannya, sehingga manusia tidak memperlakukan dunia ini seenaknya saja dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan nasib dunia ini.  "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'râf [07]: 96). Jika manusia sadar betul akan semua tindak dan tanduknya sebagai khalîfah, tentu yang ia lakukan adalah menjaga dunia seutuhnya. Semua ini akan terwujud bila umat muslim berlandaskan dengan tuntunan yang di gariskan oleh Allâh dan Rasûlnya.

Amir Hamzah
Santri dan Mahasiswa UII
Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme