Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku

Lirik lagu di atas milik band Naff. Bagi penikmat lagunya tentu tahu judul lagu tersebut. Saya lebih suka mencomot lagu-lagu dari mana-mana, kalau enak didengar dan liriknya pas (banyak ungkapan-ungkapan keren) biasanya saya menikmatinya. Tak hanya untuk didengarkan, melainkan untuk dipahami dan dipelajari.

Termasuk dengan bait di atas. Banyak makna yang bisa diambil, bahkan pesan yang dituangkan di dalamnya 'ngena' banget. Ada beberapa pesan yang ingin disampaikan melalui lagu ini. Pertama, kalimat "miliki aku dengan segala kelamahanku". Artinya totalitas dalam memilih pasangan hidup, seluruh kekurangan yang ada padanya harus diterima dan bukan karena kelebihan semata.

Kelebihan atau sesuatu yang ada pada diri seseorang tanpa dimiliki oleh orang lain, hanyalah sementara. Misalnya saja, ganteng atau cantik. Jika karena ia memiliki paras atau rupa yang baik, akhirnya pilihan itu dijatuhkan maka yang ada hanya sia-sia. Kelebihan yang demikian hanya tinggal menghitung waktu saja, sebab akan hilang ditelan oleh masa.

Totalitas yang dimaksudkan ialah menerima kekurangan yang ada padanya. Sehingga ketika menerima kekurangan tersebut otomatis sudah menerima kelebihan yang ada pada dirinya. Tapi, sejujurnya ini memang sulit. Manusia dianugerahi cara berpikir, dengan cara berpikir itulah manusia tentu akan lebih memilih seseorang yang memiliki kelebihan dulu ketimbang kekurangnnya.

Padahal, hidup itu simpel. Sesimpel cara kita berpikir dalam menjalani hidup ini. Terkadang manusia menjadikan hidup ini rumit, sesuai dengan cara berpikirnya yang serba susah dan sulit. 

Kedua, adalah kalimat "jangan pernah letih mencintaiku". Kalimat ini menyimpan pesan yang berarti 'tanpa batas'. Seseorang yang berpikir pendek tentu akan mudah mengambil langkah yang tidak tepat dan berakhir pada kebuntuan. Tidak ada tujuan dan menghasilakan sesuatu yang kosong tanpa hasil. Tetapi jika sebaliknya, seseorang yang berpikir panjang dan jauh ke depan, tentu keputusanya mengandung sebuah tujuan dan melalui proses berpikir terlebih dahulu, mesikpun sangat singkat. 

Maksudnya ialah, tanpa batas yang saya maksudkan yaitu tidak serta merta mengambil langkah yang fatal. "Ya mbok direnungkan dise...." (ya direnungkan dulu) jangan asal mengambil langkah itu. Mungkin ini ujian hidup. Inilah kekurangan saya, dan belum bisa memberikan kebahagiaan seperti yang diharapkan. Tapi usaha yang sudah saya lakukan merupakan sebuah bukti pengorbanan, dan ini menurut saya sudah maksimal.

Ketika ada konflik atau masalah, jangan langsung mengambil langkah "kita akhiri saja semuanya...". Masalah itu justru bagian dari sebuah keintiman dan kekompakan. Dengan adanya masalah, semuanya akan ketahuan, bahkan semuanya akan teruji betul. Mensikapi masalah dengan kepala dingin, sabar dan mengembalikan kepada Allah swt.

Kalau sudah totalitas, maka harus tanpa batas juga bukan? Saya tutup dengan bait lagu, masih dari lagu Naff.... []

Aku mencintaimu setulus hatiku
Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku
Aku Mengasihimu sepanjang usiaku
Aku Menginginkanmu lebih dari apapun

Meski tak seindah yang kau mau
Tak sesempurna cinta yang semestinya
Namun aku mencintaimu
Sungguh mencintaimu


Jika berbicara grup band, tentu tidak asing di telinga kita dengan grup band yang satu ini; Sheila On7. Band yang cukup populer dan sangat terkenal di era 2000an. Saya masih ingat betul, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan sering menyanyikan lagu-lagunya bersama teman. Di sinilah saya mengenal lagu-lagunya Sheila On7.

Bila kita berbicara tentang Sheila On7, tentu tidak bisa terlepas dari personilnya, Duta, Adam, Eros, Sakti dan Anton. Sheila on 7 adalah grup musik Indonesia yang berdiri pada 6 Mei 1996. Grup band ini pada awalnya adalah sekumpulan anak-anak sekolah dari beberapa SMA di Yogyakarta. Di awal berdirinya bersatulah lima anak muda, Duta (vokal) berasal dari SMA 4, Adam (bass) dari SMA 6, Eross (gitar) dari SMA Muhammadiyah I, Sakti (gitar) dari SMA De Britto, dan Anton (drum) berasal dari SMA Bopkri I. (untuk lebih lanjut tentang sejarahnya, silakan baca wikipedia)

Ada beberapa lagunya Sheila yang saya sukai, diantaranya : Dan, Anugerah terindah yg ku miliki, Sephia, Betapa, dll. Lagu-lagunya memang asyik dan keren-keren pokoknya. Ada yang menarik dari band asal Yogyakarta ini, terutama salah satu personilnya yang keluar tahun 2006 dan memilih untuk berdakwah. Kini namanya berganti menjadi Salman al-Jugjawi. Kini ia mantap berdakwah dan merubah penampilannya seratus delapan puluh derajat.

Namanya Sakti Ari Seno. Siapa menyangka bahwa sang gitaris kini telah meninggalkan hingar bingar dunia hiburan dan fokus pada keislamannya. Pria kelahiran 14 Juni 1980 ini memutuskan keluar dari grup band Sheila On 7 pada tahun 2006 dan perlahan-lahan fokus pada ajaran-ajaran dalam agama Islam.

Apa sih yang melatarbelakangi Sakti Ari Seno untuk mendalami Islam? begini awal mulanya, berawal ketika akan berangkat menuju Malaysia untuk mengikuti event penghargaan para musisi, sembari menunggu pesawat, ia berjalan-jalan di sebuah toko buku. Ia tertegun pada sebuah buku berjudul "Menjemput Sakaratulmaut bersama Rasulullah".

Pikirannya pun melayang tak tentu, ia membayangkan bagaimana jika pesawat yang ditumpanginya tiba-tiba jatuh lalu ia dan ratusan penumpang lainnya tewas dalam penerbangan. Seketika hatinya bergetar membayangkan dirinya di akhirat tanpa amal kebaikan dan lebih banyak perbuatan dosa. Apalagi pada waktu itu memang sedang heboh-heboh nya berita kecelakaan pesawat.

“Saya bayangkan kalau pesawat terbang saya terhempas dan saya mati, apa bekal yang sudah saya punya? Saya tiada apa-apa. Tapi saya percaya mati tetap akan datang kepada saya pada waktu yang tidak bisa kita perkirakan,” ceritanya dia kemudian membeli buku tersebut dan setelah selesai membaca buku tersebut sepanjang kembali dari Malaysia.

Ternyata petunjuk Allah tidak berakhir disitu saja, kembali ke Indonesia, ia mendapati ibunya sakit keras. Bayang-bayang akan kematian semakin membuat dirinya 'terbuka'. Dan sejak saat itulah perlahan-lahan ia mulai meninggalkan ranah hiburan dan fokus untuk belajar Islam. Sakti mantap dan memilih mengundurkan diri di tengah-tengah proses rekaman album "507". Ia pun melanjutkan pendidikannya ke Pakistan.

Kamis, 20/12/13 - OSPP UII (organisasi santri pondok pesantren) berencana ingin mengundang Ustadz Salman al-Jugjawi untuk mengisi di malam jum'at (kamis malam) yang kami gunakan sebagai waktu untuk sharing dan bertukar informasi. Acara itu biasanya kami mulai setelah sholat magrib berjama'ah dan dilanjutkan dengan membaca surat yasiin.

Pihak  OSPP sudah membuat konsep acara dan berkonsultasi dengan nama acara tersebut dengan Ustadz salaman. Tema yang diambil kalau tidak salah, "Bagaimana Menjadi Hamba yang Shalih". Pada hari H, beliau mengabari bahwa tidak bisa hadir karena ada kepentingan yang lain. Akhirnya terpaksa diundur minggu depan. Lagi-lagi,(26/12/13) ketika dikonfirmasi melalui SMS dan telpon ternyata tak ada jawaban. Mungkin beliau masih sibuk.

Bukankah masih ada hari yang lain? Ini sudah rencana Allah swt. []

Sudah tiga hari jogja selalu mendung dan hujan di pagi hari. Tapi, meski demikian, hari ini sangat istimewa, karena bertepatan dengan tanggal 22 Desember yang diperingati sebagai hari ibu. Sebetulnya sudah jauh-jauh hari ingin mempersiapkan tulisan untuk hari ibu, tetapi belum ada inspirasi dan ide apa yang mau saya angkat. Akhirnya pas hari H malah bingung apa yang mau ditulis. Akhirnya biarlah kata-kata ini yang merangkai sendiri kemana arahnya.

Karena ini hari Ibu, maka topiknya tentang ibu. Oh ya, sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih yang sangat banyak buat seseorang yang dulu sudah ngasih puisi (alih-alih buat ikut lomba) tentang ibu, dan sampe sekarang puisi itu masih tetap saya simpan. Semoga kamu menjadi ibu yang hebat dan luar biasa bagi anak-anak kelak, sebagaimana harapan kamu yang pernah diungkapkan dulu.

Ibu adalah sosok yang sangat luar biasa. Walaupun kadang kita sewaktu masih kecil menganggapnya sangat galak dan mengerikan. Tetapi ketika sudah besar, akhirnya kita bisa memahami bahwa semua itu sebuah tanda sayang dari seorang ibu. Ibu tidak ingin anaknya lemah dan terus bergantung hidupnya kepada orang lain. Itulah kenapa ibu selalu mengajarkan sebuah kemandirian.

Ketika awal masuk Sekolah Dasar (SD) saya tidak pernah diberikan uang jajan, mungkin karena memang tidak punya. Kebiasaan inilah yang menjadikan saya tetap sekolah meski tidak jajan di sekolah. Bahkan, kalau nasi belum matang pun sekolah tetap jalan. Setelah pulang sekolah barulah makan, meski dengan lauk sisa dan seadanya.

Menginjak kelas tiga, saya sudah diajarkan arti sebuah kemandirian. Pakaian yang kami pakai, harus dicuci sendiri (kecuali pakaian seragam sekolah). Jadi kalau tidak mencuci sendiri cucian numpuk dan tidak punya baju yang lain untuk dipakai. Kebiasaan ini sudah diajarkan ibu kami, dan seluruh anak-anaknya jadi punya tanggungjawab sendiri-sendiri.

Belum lagi saya juga harus menggembala kambing yang kami pelihara di belakang rumah. Kami baru bisa pulang setelah kambing-kambing itu kenyang. Kira-kira pukul 16.30 atau sampai 17.00 kami baru bisa pulang dan setelah itu mandi sore. Tak ada waktu untuk bermain dengan teman-teman yang lain, waktu bermain hanya dihabiskan di hutan bersama kambing-kambing gembalaan.

Saya sempat membandingkan kebiasaan ini dengan anak-anak yang lain, kok saya seperti ini dan itu. Orang lain dapat jajan dan selalu dikasih oleh orangtua ketika hendak berangkat sekolah, teman-teman bisa main setelah pulang sekolah, sedangkan saya harus menggembala kambing. Rasanya ada yang tidak adil dengan hidup ini. Tapi, saat ini saya tahu maksud dari kisah hidup ini.

Sebagaimana Firman-Nya : "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?, dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu, karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Ash-Sharĥ [94] : 1-6)

Tempaan-tempaan ini memang berat, tetapi dibalik itu semua ada sesuatu yang sudah Ibu “siapkan” bagi mereka yang mau menjalaninya. Pengalaman pahit, susah dan kerja keras memang sangat dibutuhkan, supaya tetap menjadi manusia yang rendah hati dan tidak menjadi “kacang lupa kulitnya”. Inilah didikan ibu yang awalnya memang keras dan terkesan kejam.

Dua kata buat ibu yang saat ini berada di rumah, hebat dan tangguh. Di sisa hidup ini sebagai anak yang baik, saya hanya ingin mengabdikan diri buat ibu dan membahagiakan ibu. Semoga harapan ini tercapai dan diberikan kemudahan oleh Allah swt. Selamat hari ibu…[]


Salah seorang Ustadz membuka pengajian nya dengan sebuah kalimat sederhana. “Langit mendung, tandanya mau hujan”. Kemudian kalimat yang kedua “saya kuliah di universitas, maka saya akan jadi sarjana”. Kalimat yang terakhir “setiap manusia yang hidup akan mati”. Dari tiga kalimat yang dipaparkan oleh Ustadz tadi, manakah yang lebih pasti adanya?

Serentak peserta pengajian menjawab, “kalimat yang terakhir ustadz”. Lalu apakah yang sudah kita perbuat untuk mempersiapkannya, jika kita sudah meyakini bahwa kalimat yang terakhir tadi lebih pasti adanya? Tanya ustadz kepada jama’ah. Semua jama’ah pun terdiam dan suasana menjadi hening. Apakah ada yang sudah siap untuk mati? Ada yang sudah cukup amalnya untuk di akhirat kelak? Pertanyaan-pertanyaan itu tak ada seorangpun yang mampu menjawabnya.

Ilustrasi di atas adalah pengalaman pribadi penulis ketika mengikuti sebuah pengajian. Apa yang disampaikan oleh ustadz di atas begitu mengena dan mampu diresapi oleh semua jema’ah. “Cukuplah kematian, yang menjadi nasihat hidup yang paling ampuh bagi orang yang hidup….” Demikian pesan yang disampaikan oleh Ustadz ketika mengakhiri pengajian nya.

Kematian merupakan sebuah kepastian yang banyak sekali dilupakan oleh umat manusia. Untuk itu banyak dari mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Disebabkan karena mereka lalai dan lupa bahwa dirinya akan bertemu dengan kematian. Karena mereka lupa, maka mereka bertindak sesuka hatinya. Padahal, ia tidak menyadari bahwa ia akan mengalami kematian entah kapanpun dan di mana pun ia berada.

di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendati pun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh…” (QS. An-Nissa [04] : 78)

Pesan dalam al-Qur'an
Banyak ayat yang menjelaskan terkait kematian. Misalnya, "Setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian…" ini janji allah yang begitu pasti dan tidak bisa ditentang oleh manusia. Karena semua yang ada di dunia ini sifatnya fana (tidak abadi).

tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Imran [03] : 185)

Rasulullah bersabda : "seandainya kalian tahu apa yang aku tahu, pastilah kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa." Sesuatu yang Rasulullah maksudkan ialah kematian. Sebab kematian tersebut dapat memutuskan semua kegiatan manusia yang hidup. Semua aktivitas yang semasa hidup itu dilakukan maka ketika mati kegiatan tersebut terhenti.

Bahkan semua kekayaan, rumah, hewan peliharaan, anak dan istri semuanya akan meninggalkan kita. Hanya kain kafan dan amal lah yang dapat dibawa kedalam kubur. Apabila seorang manusia meninggal, maka terputus lah semua amalnya, kecuali hanya tiga hal.

Sebagaimana hadis riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad: “Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputus lah amalnya kecuali dari tiga, yakni sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak saleh yang mendoakannya

Ikhtitam
Cukuplah kematian yang menjadi pesan ampuh bagi kita yang hidup. Sebab ketika kematian itu tiba, semuanya tak ada yang mampu membendung dan menemaninya. Semua hanya kesunyian dan yang menjadi teman disana hanya amal ketika hidup di dunia. Marilah perbanyak amal shaleh untuk menyambut kematian.

Salah satu ciri orang yang bertaqwa menurut Ali ra ialah Al-Isti’dad Li-Alyaum al-Rahiil (mempersiapkan diri untuk hari esok/hari akhirat). Nabi muhamad saw berpesan, man kana yaumuhu khairan min amsihi fahua rabihun (siap yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia adalah orang yang beruntung).

Untuk itu marilah buat hari-hari kita lebih baik dibandingkan hari-hari yang kemarin, Hari dimana kesalahan demi kesalahan sudah kita lakukan. Mari buka lembaran baru dan senantiasa meminta ampun dan bertaubat atas semua kesalahan yang pernah kita lakukan. []

Terkadang kita tak pernah sadar dan cenderung tidak mau tahu, mungkin sewaktu kita marah atau emosi yang lebih di ikuti itu perasaan dan perasaan. Sebenarnya inilah salah satu cara setan masuk dalam diri manusia untuk menguasai tingkah lakunya dan membuat manusia tersebut menjadi lalai dan lari dari hidayah Allah swt.

Saya pernah mendengarkan sedikit uraian dari sahabat sewaktu berdiskusi singkat. Dia bercerita sedikit, tentang Iblis di masa Nabi Musa as. Suatu ketikan Musa memintakan ampun kepada Allah untuk Iblis, tetapi karena sikap keras kepalanya lah Allah tetap tidak memaafkan nya. Akhirnya, Iblis memberikan imbalan kepada Musa atas usahanya tersebut. Iblis memberitahukan sedikit tentang keberadaan mereka.

Pertama Iblis mengatakan “ketika orang yang sedang marah di situlah saya berada.” Kedua,ketika orang yang sedang mabuk di situlah saya berada.” Dan ketiga, yang paling menarik dan banyak dilakukan oleh orang-orang. Baik disengaja atau pun tidak, yaitu “ketika manusia itu berduaan lain jenis dan bukan mahromnya di situlah saya berada.

Sekarang kita sudah tahu keberadaan mereka. Saat ini tinggal bagaimana kita mampu mengalahkannya. Al-Quran sudah sangat jelas dan gamblang menyatakan bahwa syetan itu merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Yuk kita perangi dengan sekuat tenaga dan ilmu agama. Meskipun tidak tampak oleh mata, tetapi kita sudah tahu pos-pos mereka.

Oleh karenanya mari bersama sama jaga hati dan pergunakan dengan sebaik-baiknya. Jangan mudah marah, karena setan akan senang dengan orang pemarah. Jangan pernah meminum-minuman keras, sebab jika sudah mabuk apa yang kita lakukan tentu tidak akan pernah tahu. Bahkan dalam sebuah kisah, bahwa mabuk merupakan sumber malapetaka.

Dan yang terakhir, jangan pernah berkhalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis). Sebab orang yang ketiganya ialah syetan. Jika sudah ada syetan maka bisikan-bisikan yang menjerumuskan akan datang. Tak sedikit orang yang menjadi korbannya. Apakah kita mau jadi korban yang selanjutnya??

Sesunguhnya syetan adalah musuh yang paling nyata, firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 208 : "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah-keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu".

Dalam surat lain, sesungguhnya tipu daya syetan itu lemah, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisa [04] : 76)

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman. Dan tidak ada kekuasaan iblis atas mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Q.S. Saba’[34]: 20-21).

Ia (setan) berkata, ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan hal-hal di muka bumi terlihat baik bagi mereka (manusia) dan aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka." (Q.S. Al-Hijr[15]: 39-40).

Menjauhi Angan-Angan Kosong Dan Bisikan Setan

Rahasia penting lainnya yang diungkapkan Allah dalam Al-Qur’an adalah bagaimana menyelamatkan diri dari bisikan setan. Ini merupakan masalah penting bagi orang-orang beriman yang takut kepada Allah dan menginginkan surga, karena bisikan setan itu menyesatkan dan memalingkan manusia dari jalan Allah, dan menjadikan manusia sibuk dengan perbuatan sia-sia dan remeh. Setan berusaha untuk menanamkan perasaan sedih dan takut kepada manusia, menyemaikan benih-benih pertentangan di antara mereka, menyebabkan mereka merasa ragu-ragu terhadap Allah, Al-Qur’an, dan agama. Setan memenuhi hati manusia dengan angan-angan kosong.

Dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka memotong telinga binatang ternak, lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka, lalu mereka benar-benar mengubah ciptaan Allah. Barangsiapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (Q.S. An-Nisa’: 119-120).

Apa saja yang dibisikkan setan kepada manusia, ia tidak dapat memalingkan manusia dari bimbingan Allah sepanjang mereka mengikuti jalan yang telah Allah tunjukkan. Allah memperingatkan orang-orang beriman agar waspada terhadap bisikan setan: 

Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Q.S. Al-A‘raf: 200-201).

Semoga bermanfaat []

Sudah lama tidak update tulisan di blog ini. Tiap singgah ke blog ini rasa-rasanya itu-itu saja tulisannya, tidak ada yang baru lagi. Tenang, sebenarnya karena ada alasan yang cukup rasioal sehingga saya menjadi malas dalam mengupdate tulisan-tulisan yang bisa saya share di blog ini. Hanya saja tulisan yang saya buat kurang tepat bila diposting di blog ini, setelah saya pikir-pikir.

Cowok kok galau, kan kederngernya juga rancu. Ya, akhir-akhir ini tulisan saya, agak condong ke curhat dan sedih gitu, jadinya agak segan (baca: malu) untuk diposting. Sebab bisa banyak sindiran yang akan saya dapatkan nantinya. Untuk itu karena beberapa pertimbangan tulisan itu cukup saya simpan di catatan saya saja, dan cukup saya yang tahu isi tulisan tersebut.

Ngomong-ngomong masalah postingan, saya tertarik dengan permainan sepak bola atau tinju. Gimana, cowok banget bukan!!! daripada mikirin yang lain-lain dan tambah hati sakit, perasaan gak karuhan, mendingan kita membahas sesuatu yang lebih netral dan pastinya tetap tidak ketinggalan zaman. Saya suka kedunya, karena keduanya merupakan olahraga yang begitu luar biasa. Jargon yang sering diucapkan oleh host tinju misalnya saja, “jiwa laki bukan pengecut! laki minum extra joss…

Kembali ke sepak bola, perolehan penghargaan yang saat ini paling bergengsi ialah Balon D’or. Ballon d'Or (bahasa Perancis) artinya Bola Emas. Merupakan penghargaan sepak bola yang diciptakan dan dianugerahkan oleh majalah France Football sejak tahun 1956 kepada pemain sepak bola yang penampilannya dianggap terbaik sepanjang tahun sebelumnya.

Dalam bahasa Inggris, penghargaan ini lebih dikenal dengan nama European Footballer of the Year (atau Pemain Sepak bola Terbaik Eropa). Sang pemain mesti merupakan pemain yang sedang memperkuat sebuah klub anggota UEFA. Hingga tahun 1995, pemain tersebut juga harus merupakan warganegara Eropa. Pemilihan dilaksanakan oleh sekelompok wartawan sepak bola Eropa. -Sumber Wikipedia-

Adapun penerima terbanyak (lebih dari satu kali mendapatkannya) ajang pemain bergengsi ini diantaranya : Lionel Messi (4 Kali) 2009, 2010, 2011, 2012. Johan Cruyff (3 Kali) 1971, 1973, 1974. Michel Platini (3 Kali) 1983, 1984, 1985.  Marco van Basten (3 Kali) 1988, 1989, 1992. Alfredo Di Stéfano (2 Kali) 1957, 1959.

Adapun untuk tahun 2013 ini, ada 3 besar Nominator Peraih Ballon d'Or 2013 yang telah diumukan pada awal bulan Desember 2013, yaitu Franck Ribery (Bayern Munich/Prancis) Cristiano Ronaldo (Real Madrid/Portugal) Lionel Messi (Barcelona/Argentina). Untuk pemenangnya sendiri akan diumumkan pada tanggal 13 januari 2014 di Zurich Swiss. Proses pemilihannya dilakukan oleh perwakilan pelatih, kapten timnas, dan media.

Siapapun pemenangnya, dialah yang terbaik. Sejauh ini saya tetap menjagokan si mantan anak asuhan Sir Alex Ferguson, siapa lagi kalau bukan Christiano Ronaldo. Pemain yang memiliki skill luar biasa, dan mesin gol yang paling subur, fantastic dan keren bagi klub yang ia bela. Hanya saja, ia terjebak dengan tampilan muka yang agak seram, dan terkesan seperti arogan. Padahal jika kita cek dan amati tentang kepedulian, loyalitas seorang CR7 tidak bisa diragukan.

Masih ingat dengan anak aceh yang di jadikan anak angkatnya, hanya gara-gara anak itu kebetulan mengenakan kostum Portugal, dan CR7 melihat kejadian tersebut. Akhirnya anak itupun dicari dan diangkat sebagai anak asuh nya eks. punggawa Manchester United tersebut. Berita yang begitu luar biasa dan sangat senang didengar oleh seluruh umat muslim di dunia, yaitu kala ia ingin belajar membaca al-Quran, bahkan ingin belajar sholat, kepada sahabatnya di Real Madrid. Siapa lagi kalau bukan, Mesut Ozil.

Masih ingat juga dengan kejadian kala itu CR7 enggan bertukar kostum dengan salah satu pemain Israel. Taj hanya itu, uang hasil lelang dari sepatu emasnya ia gunakan untuk membantu pendidikan anak-anak di Palestina. Dan yang terakhir, CR7 menjadi duta mangrove bagi Indonesia, ia tidak mau menerima satu peser pun dari kegiatan ini.

Bagaimana, luar biasa bukan?. Adakah pemain yang lebih baik dan se-loyal Christiano Ronaldo….?

Malam yang dingin, disertai dengan gemercik gerimis membersamai acara ngobrol bareng (ngobar) kami di Matto. Tepat pukul 21.00 kami memulai diskusi, tak lupa secangkir kopi panas dan snack, melengkapi suasana hangat malam itu bersama dengan ‘SINGO’ (santri rong ewu songo) yang berjumlah sepuluh orang.

Jauh jauh hari sebelum acara pernikahan Samsul Zakaria, kami selaku sahabat dan sekaligus teman satu asrama, satu angkatan dan sekaligus satu asrama di Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (PONPES UII) sudah menyusun satu rencana. Mulai dari akomodasi perjalanan, kado, dan bahkan sampai mobil serta harganya; semua sudah kami perhitungkan matang-matang. Intinya ada beberapa bahasan yang kami rampungkan, dari yang biasa hingga yang detail sekalipun.

Sehingga ditentukanlah satu itu orang kena berapa rupiah yang harus dikeluarkan (iuran atau patungan tepatnya). Setelah sepakat maka kami membahas masalah yang kedua, yaitu kado apa yang pas untuk hadiah pernikahan sahabat kami yang satu ini. Karena semuanya memiliki ide dan bagus, maka kami pun kebingungan. Karena tidak ditemukan kata sepakat, akhirnya kami membuat sebuah undian.

Undiannya begini, kami menghitung sesuai urutan duduk dari sebelah kanan duluan, lalu nomor tadi dituliskan di kertas. Nanti, jika nomer undiannya keluar, maka ia berhak membelikan hadiah tersebut. Tetapi ada dua syarat yang harus ia terima, pertama hadiahnya boleh apapun terserah, apapun itu intinya dibebaskan kepada yang bersangkutan dengan budget dari hasil iuran tadi. Kedua teman-teman yang lain tidak boleh tahu akan hadiah/kado tersebut, hingga yang bersangkutan membukanya.

Setelah dikocok, maka keluarlah nomer undian 4, teman kami, Ady Guswadi yang dapat nomer undian tersebut. Akhirnya bahasan untuk hadiah pun selesai. Pindah ke bahasan yang ketiga ialah bahasan kendaraan. Dengan pertimbangan dan beberapa survey yang dilakukan maka ada dua rekomendasi tempat rental yang bisa diambil. Tetapi harus menunggu konfirmasi tujuh hari sebelum keberngkatan.

Tempat yang kami tuju ialah Jawa Tengah, lebih tepatnya ialah kota Banjarnegara. Kira-kira perjalanan yang kami tempuh dari Jogja dengan rute Candi Borobudur sekitar 4 sampai 5 jam, tapi jika lewat Temanggung bisa lebih lama.  Ketika hari H, kami mengambil rute yang terdekat, tetapi ketika pulang kami menggunakan jalan yang lain.

Perjalanan yang cukup melelahkan dan membosankan, sehingga harus molor dan tida sesuai dengan harapan. Kami tidak sempat untuk menyaksikan akad nikhnya Samsul, dan kami juga tiba sekitar pukul 10.00, sedangkan akad sekitar 30 menit yang lalu.

Kami tiba ketika acara khutbah nikah dan prosesi sambutan dari pihak mempelai laki-laki, serta dari pihak mempelai perempuan. Pihak Samsul diwakili oleh Bapak Nur Wahid (Mas Nur) sedangkan dari pihak Melan, yaitu dr. Udin Ali Ahmad (Pamannya).

Ada pesan yang menarik disampaikan oleh dr. Udin Ali Ahmad selaku perwakilan mempelai perempuan dan sekaigus dosen di fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Papar beliau, kata "CINTA" adalah sebuah singkatan, pertama ialah huruf C. Cepat datang kalau dipanggil. Kalau kita cinta, maka ketika sang pujaan ini memanggil maka ia akan cepat menyahut dan datang secepat mungkin.

Kedua, huruf I yaitu Ingat selalu padanya, wajah dan semua yang menggambarkan tentang dirinya selalu ada dan menari-nari di atas kepala. Rasanya tak bisa lepas dari memikirkan sang pujaan hati.

Ketiga, huruf N yaitu Nikmat kalau bertemu, tidak ada yang paling mengesankan dan membahagiakan, selain moment untuk bertemu. Rasanya dunia ini hanya milik berdua, dan yang lain seperti numpang. hahaha

Keempat, huruf T yaitu Tetap setia padanya, jika memang kita cinta, dan betul-betul mencintainya maka harus setai dengan pasangan. Kalau meminjam perkataannya pak Mario tegus “setia pada pasangan itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang pribadinya sangat luar biasa..”

Kelima, Huruf A yaitu Apa saja untuknya, jika sudah cinta segalanya hanya untuk dia seorang. Bahkan nyawapun tidak segan untuk ia korbankan demi seseorang yang sangat ia cintai. Tetapi, Cinta yang hakiki ialah cinta kepada Illahi rabbi.

Gimana, sudah pahamkan ya? Tinggal dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak mesti untuk lawan jenis, tetapi digunakan kepada sanak-saudara juga malah lebih sesuai. Allahu'alam.[]

Dua hari sebelum acara berlangsung, saya diajak oleh teman satu angkatan dan sekaligus satu jurusan juga. Saya diajak untuk menjadi salah satu panitia acara DPPM UII yaitu MONEV (monitoring dan evaluasi) DIKTI 2013. Awalnya saya merasa blank dengan acara tersebut, sebab tidak sempat diberitahukan kegiatan acara tersebut secara rinci.

Dengan bermodalkan pengalaman sebelum-sebelumnya, saya menyanggupi ajakan tersebut. Pokoknya gak sampe kepikiran yang gimana-gimana waktu itu. Tetapi begitu tahu tugas saya adalah menemani dan membersamai salah seorang profesor dari DIKTI dan seluruh peserta yang hadir adalah para dosen plus peneliti, waktu itu nyali saya hampir saja menciut.

Tetapi dengan modal pede dan berpikir positif akhirnya saya memutuskan untuk tetap tenang, santai dan rileks. Ini adalah kesempatan, jadi sayang kalau disia-siakan. Jangankan sekelas profesor, setingkat presiden pun saya gak akan menolak tawaran ini. Saya akan menjawab why not.. kalau ditawari untuk jadi panitia lagi.

Bahkan saya merasa senang dan senyum-senyum sendiri, kala ada dosen yang sempat menyangka jika saya pegawai DIKTI. “maaf mas, acara ini sampai berapa hari..? masnya dari DIKTI ya..?” Mendapati pertanyaan itu, sebagai panitia saya jawab langsung dan kemudian saya klarifikasi. “Maaf ibu, saya masih mahasiwa UII dan hanya jadi panitia disini”. Dalam hati saya mengamininya semoga bisa jadi kenyataan.

Acara ini tak jauh berbeda dengan program kepemanduan yang seirng saya lakukan. Jadi semuanya saya nikmati dan se-enjoy mungkin berada di dalam acara tersebut. Hanya saja yang membedakannya yaitu level dan tingkatannya. Kalau biasanya mahasiswa, tapi kali ini derajatnya lebih tinggi, yaitu setingkat dosen yang sudah bergelar s2 dan s3, bahkan sudah profesor.

Biasanya yang saya pandu ialah mahasiswa baru atau mahasiswa smester dua dan tiga, bahkan sampai smester 6 (khusus mahasiswa pra KKN). Para peserta yang ikut acara sudah menerima hibah dari DIKTI dan ini bisa dikatakan sebagai laporan penelitian mereka. Kebetulan, selama dua hari ini (11-12/Nov/2013) saya ditugasi untuk membersamai Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, MP, PhD. (silakan klik siapakah beliau sesungguhnya? DISINI dan DISINI atau DISINI)

Ini kesempatan yang luar biasa dan sekligus menjadi pengalaman yang begitu istimewa bagi saya, sebab tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti ini. Alangkah senang dan bahagianya pokoknya. Jarang-jarang lho bisa duduk bareng dan ngobrol – ngobrol dengan professor langsung, seolah tanpa ada skat seperti ngobrol dengan teman ngobrol saja.

Bertemu dengan seorang profesor bagi saya sangat luar biasa, apalagi bisa mengabadikan moment itu dengan jepretan kamera. Tapi sayang, selama dua hari itu tidak ada waktu yang tepat untuk bisa mengabadikannya, ditambah lagi tidak ada kamera yang bisa digunakan. Salahsatu hal yang begitu istimewa menurut saya yiatu dapat bertemu dengan orang besar. Salah satunya ialah Profesor yang satu ini.

Sekilas dari gaya dan penampilan beliau terkesan biasa, dan sederhana. Tetapi ketika melihat prestasinya tak henti-henti saya berdecak kagu kepada beliau. Tak hanya itu, ditambah lagi dengan hadirnya para peneliti sekaligus dosen yang semuanya juga luar biasa. Ide-ide penelitiannya patut diperhitungkan, sehingga wajar didanai oleh DIKTI.

Adapun skema penelitian dosen-dosen yang di MONEV diantaranya: Unggulan Perguruan Tinggi, Disertasi Doktor, Strategis Nasional, Hibah Kompetensi, Hibah Pascasarjana, Hibah Bersaing, Fundamental, dan Dosen Pemula. Adapun jumlah keseluruhan ialah 122 orang, berasal dari Universitas Swasta yang ada di Jogja dan Jawa Tengah. Sedangkan untuk reviewer-nya yaitu Prof. Totok dari UNSOED dan Prof. Haryono dari UNNES.

Karena acara ini berlangsung dua hari, maka tugas kedua profesor tersebut me-reviw hasil penelitian pada dosen, sudah sampai tahap mana, apa saja yang sudah dilakukan dan banyak lagi pertanyaan yang lain. Jatah tiap profesor, selama satu hari yaitu sekitar 30 dosen dan hari yang kedua pun sama. Adapun untuk jatah waktu, tiap dosen diberikan waktu presentasi dan Tanya jawab maksimal 20 menit.  

Saya bersyukur bisa bertemu dengan Prof. Totok, orang hebat dan masuk kedalam 104 Inovator terbaik Indonesia. Pepatah mengatakan “kalau kita berteman dengan pedagang minyak wangi pasti ketularan wanginya….” Kalau tinggal disekeliling profesor, dosen, peneliti dan pokoknya  orang-orang hebatlah semoga ketularan pintarnya. Syukur-syukur bisa menjadi seperti mereka. Amiin []


Selepas nonton pertandingan liga champions antara Real Madrid vs Juventus, (06/11/13) kami tidak beranjak dari depan televisi. Sehingga ada tayangan  dari channel TV swasta yang menyuguhkan sesuatu yang begitu spesial dan sangat berharga bagi kami (para cowok) khususnya. Khazanah, ya itulah nama acara tersebut, kali ini tema yang disampaikan ialah tentang suami idaman.

Mendengar dan menyaksikan hal tersebut, lantas kami semakin bersemangat dan tertarik untuk bisa menontonnya hingga selesai. Dengan penuh antusias dan semangat kami memperhatikan tayangan tersebut tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.

Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari acara ini, pertama. Suami yang ideal adalah yang mampu memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan ini tidak hanya untuk urusan dunia saja, melainkan akhirat juga. Sebab ketentraman hidup tidak hanya ditopang oleh materi saja, tetapi spiritual juga sangat dibutuhkan. Sehingga keduanya harus dan wajib ada pada diri seorang suami idaman.

Sering kali para wanita tertipu dengan kekayaan dunia semata, sehingga tidak memperhatikan aspek spiritual sang lelaki tersebut, sehingga pada akhirnya ada “kekosongan jiwa”. Inilah yang saat ini kebanyakan terjadi, secara materi mereka berkecukupan tetapi sejatinya mereka mengalami kegundahan atau tidak merasa bahagia dan tentram.

Banyak sekali di sosial media yang menuliskan “bahagia itu sederhana…”. Sejujurnya saya tidak tahu konsep yang mereka maksudkan, tetapi dari kalimat tersebut saya bisa menarik garis merahnya. Ya bahagia itu sangat mudah dan simpel, tetapi sebagai manusia yang tidak pernah merasa puas dan cukup kemudahan dan sesuatu yang simpel itu menjadi sangat sulit dan runyam.

Bahagia itu tetap bisa tidur nyenyak meski harga barang-barang naik. Bahagia itu adem ayem dan rukun bersama anak, dan isteri. Bahagia itu.. jika semua badan sehat, jasmani maupun rohani. Bahagia itu tetap sabar dan selalu berpikir jauh kedepan. Dan buah dari ini semua ialah merasa cukup dengan apa yang sudah allah berikan dan mensyukuri apa yang sudah dimiliki.

Kedua, suami yang baik adalah suami yang baik terhadap istrinya. Saling menghormati dan menyayangi dalam hubungan antar suami dan istri sangat dianjurkan. Tujuannya ialah supaya tercipta hubungan yang harmonis dan saling memahami sifat maupun sikap antar keduanya. Sehingga dengan demikian akan tercipta hubungan yang ideal.

Jika berbicara kebaikan suami, maka kembali kepada kedewasaan suami itu sendiri. Jika suami sudah betul-betul dewasa tentu akan labih bisa mengontrol semua emosi yang ada pada dirinya. Semua manusia dianugerahi dengan siifat marah, tetapi bagaimana mengolah atau menjaga kemarahan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah betul-betul dewasa.

Dalam keluarga tentu konflik-konflik yang kecil itu pasti ada. Saya kira itu sangat wajar dan siapapun pasti akan mengalaminya. Disinilah sebetulnya ujian itu. Keburukan dan kejelekan antar keduanya akan terbongkar secara blak-blakan. Sifat asli suami dan istri akan mencuat ke permukaan.

Sebesar dan sesulit apapun masalah itu, pasti ada jalan keluarnya. Kuncinya ialah bagaimana mencari sisi baiknya. Jika masalah sudah betul-betul memuncak dan sangat sulit diredakan, maka kembalilah pada masa lalu, ketika waktu itu memutuskan untuk menikah maka harus disertai dengan keputusan untuk menerima dia dengan apa adanya, termasuk kekurangan yang ada dalam dirinya.

Mencintai istri sama halnya mencintai diri sendiri, jaga dan rawatlah dengan sebaik-baiknya, jangan pernah menyakiti hati apalagi fisiknya. Berikan kasih sayang terbaik kita (sebagai seorang suami) kepada istri tercinta. Berikan keyakinan padanya, bahwa ia tidak salah dan tidak kecewa karena sudah memiliki suami terbaik seperti anda.

Ketiga, memberikan teladan dan nafkah yag terbaik. Sudah menjadi tugas seorang suami sebagai kepala rumah tangga dan mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya. Peran yang sifatnya wajib ini tidak boleh diabaikan apalagi disepelekan. Sebab akibatnya bisa fatal, dan berujung kepada ‘keretakan’.

Seorang suami merupakan imam bagi istrinya, maka jadilah imam yang dapat mengarahkan, membimbing, menuntun, menasehati, dan menyadarkan makmumnya. Dengan kata lain, suami itu dituntut untuk bertu-betul perfect dalam segala hal. Sebetulnya tidak ada suami yang sempurna, tetapi ialah yang lebih menonjol dalam hal kebaikannya.

Memberikan nafkah adalah perintah Allah, jika diabaikan maka berdosa hukumnya. Bagaimanapun istri adalah bagian dari hidup (belahan jiwa) seorang suami, maka sudah menjadi kewajiban bagi suami untuk memberikan nafkah yang terbaik. Berikan nafkah lahir dan batin yang paling terbaik untuknya.

Semoga kita termasuk calon-calon suami terbaik dan mereka (istri), tidak menyesal telah memilih kita. Tunjukan bahwa kita bisa menjadi suami yang terbaik, dapat memberikan kebahagiaan yang terbaik, merawat anak-anak yang super, pendidikan yang terbaik, penjagaan yang terbaik, dan kasih sayang yang terbaik. Buatlah mereka bangga.. sampai mereka (istri) berkata dalam hatinya “aku bangga memiliki sosok suami seperti diri mu….”.

Suami ideal menurut saya dan yang ada dalam mindset saat ini ialah, ia yang penuh santun pada istri, kata-katanya lemah lembut, memanggil dengan panggilan yang disukai, menjaga perasaan istri, ikut membantu pekerjaan rumah, mengasuh dan memberikan pendidikan agama pada anak, menyayangi istri sama halnya menyayangi dirinya, selalu sabar, menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Tak hanya itu, marahnya ditunjukan dengan cukup diam dan hanya sebentar, memberikan kecukupan bagi kebutuhan keluarga, meski ada tugas atau pergi keluar kota tetap menjaga kehormatan keluarga, dan yang paling penting yaitu pandai membahagiakan istri dan menghiburnya kala sedang gelisah…

Wahai istriku, bidadariku, cintaku, sayangku,…. “aku ingin mengajak dirimu masuk kedalam syurganya Allah…. Semoga kelak kita bisa bertemu di sana”. []

Rasanya gatal sudah beberapa hari tidak memposting tulisan di blog tercinta. Selain jawdal yang penuh, padat dan aktivitas yang begitu variatif sehingga saya kesulitan untuk mengambil tema dari 'perjalanan' kisah hidup ini untuk ditulis. Dengan kecewa, semua pengalaman yang berharga ini saya biarkan mengalir seperti air, biar waktu yang menjjawabnya saja, ah gimana ntar aja......

Dimulai dengan pesantrenisasi, kemudian nganter teman untuk mengurusi prosesi pernikahan dan akad nya di Banjarnegera, serta tak ketinggalan ngurusin yang satu ini, apalagi kalau bukan tugas akhir (skripsi). Selain karena gak mood dan banyak malas, ditambah lagi dengan berita duka, sehingga lengkap lah sudah perjalanan hidup saya selama beberapa hari ini.

Tak hanya itu, batin saya juga mulai goyah dan berusaha mencari cara yang jitu untuk mengobatinya.  Mulai dari mendengarkan musik SID (superman is dead), Afgan, Mak Ijah ingin naik haji (soundtrek film), dan sampe ke sholawatannya Gusdur (syiir tanpo wathan). Rasanya hati ini belum bisa tenang dan seolah masih ‘dihantui’ dengan kegundahan.

Bahkan saya sempat bertanya ke salah seorang sahabat, “dulu puasa Daud berapa lama?? Jujur dalam hati ini saya ingin mencari ketentraman dan ketenangan dengan cara berpuasa dan lebih mendekatkan diri kepada yang mahakuasa. Butuh kerja keras dan tekad yang kuat memang, tapi ini harus saya lakukan dari sekarang juga, sebab mau kapan lagi??

Di tahun yang baru ini, saya juga berniat untuk terus menambah amunisi dan lebih giat untuk terus menjalankan amalan-amalan yang wajib maupun sunah untuk dikerjakan diawal waktu. Semoga apa yang saya niatkan ini bisa terus terjaga dan menjadi amalan yang istiqamah. Al-Istiqamatu khairun min alfi al-karamah….. (istiqamah itu lebih baik dari pada seribu karamah) demikian kata Ust. Roy Purwanto.

Harapan saya juga, semoga tahun yang kemarin menjadi bahan refleksi untuk menjadi lebih baik dan terus baik selamanya. Sejatinya, orang yang baik ialah bukan orang yang tak pernah salah. Orang yang baik ialah orang yang mau terus belajar dari kesalahannya sehingga berubah menjadi lebih baik dan selamanya menjadi orang yang terbaik.

Tak lupa saya mengucapkan, mohon maaf yang tak terhingga dan dengan segala kerendahan hati ini saya menyadari dan mengakui kesalahan-kesalahan yang salama ini saya perbuat. Untuk itu saya pribadi memohon kesediaannya bagi para rekan, sahabat, teman, kakak, adik dan semua orang yang pernah saya sakiti (dengan sengaja ataupun tidak sengaja) sekali lagi saya mohon dimaafkan.

Mari kita mulai dengan lembaran baru dan hari yang baru. Tak ada dosa dan kesalahan yang mengganjal dalam hati kita. Kini kita kembali suci dan sama-sama bersih seputih gunung salju. Lembut, selembut sutera. Indah, seindah ciptaanNya yang mahaindah.

Selamat tahun baru Hijriyah yang ke 1435 kawan!! Semoga lebih konsisten, istiqamah dan diberikan kemudahan oleh Allah, serta selalu berada dijalanNya yang lurus. Amiin.[]

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada  sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi lelaki ada bagian dari apa  yang  mereka usahakan, dan bagi perempuan juga ada bagian dari yang mereka usahakan, dan bermohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. al-Nisa’ [4]: 32)

Setiap wanita memiliki daya tarik atau kelebihan masing-masing. Akan tetapi, di antara sekian banyak wanita, barangkali hanya ada segelintir wanita yang memiliki kepribadian kuat dan, lebih dari itu, ia tidaklah perlu bersengaja menebarkan pesona kepada setiap orang namun pesona itu terlihat dari tingkah laku dan tutur katanya yang penuh arti dan kecantikannya terpancar dari dalam dirinya (inner beauty). Lebih tepatnya, dalam hal ini sosok semacam itu kemudian penulis sebut sebagai wanita shalihah.

Memang pada kenyataannya, terlalu mudah bagi kita pada zaman yang serba fashionable ini untuk menjumpai wanita yang berpenampilan menarik bila dilihat dari luarnya. Ia senantiasa menebarkan pesona kepada setiap orang yang ditemuinya baik itu dengan kemolekan paras tubuhnya atau dengan kecantikan wajahnya atau dengan gaya bicaranya yang dibuat-buat. Memang banyak orang terutama lawan jenis yang bergegas mendekatinya untuk menjadi kawan ataupun kekasihnya, namun dalam waktu yang tidak berlangsung lama, seiring dengan memudarnya kecantikan dan kemolekan tubuhnya, satu demi satu orang-orang dekatnya akan tidak segan-segan beringsut menjauhinya. Orang-orang yang menjauh tersebut beralasan bahwa mereka hanya menyukai tampilan luar wanita tersebut. Dan ketika tampilan luar tadi hilang dari dirinya, maka hilang pula rasa suka dan kecintaan mereka padanya.

Beda dengan sosok wanita shalihah. Kehadirannya dinantikan banyak orang karena keberadaannya akan memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi setiap orang lain. Dengan kepribadiannya yang kokoh, ia senantiasa bersiteguh menjaga norma-norma etika yang berlaku dalam masyarakat namun tidak meninggalkan idealisme keberagamannya yang tinggi: membela hal-hal yang disucikan dan menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Sebagai contoh, saat bepergian atau di mana pun dan kapan pun di tempat umum ia berada, ia tidak pernah lupa untuk selalu menutupi auratnya dan menjaga pandangan matanya dari melihat, dengan sengaja, hal-hal yang dilarang agama (ghodul bashar). Meskipun begitu, wanita jenis ini tidak mau ketinggalan dengan kemajuan zaman: ia terus membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan, baik umum maupun terlebih agama secara mendetail.

Wanita Shalihah Mengantarkan Keluarga ke Surga
Pada zaman sekarang ini, tak jarang kita jumpai keretakan hubungan dalam hidup berumah tangga (broken home). Banyak pasangan suami istri—terlebih umumnya keluarga selebritas—yang pisah ranjang dan akhirnya bercerai. Akibatnya, antara lain, anak mereka mengalami goncangan jiwa yang begitu dahsyat dan kemudian berimbas kepada perkembangan psikologis dan emosinya.

Semua ini berawal dari ketidaksiapan para pasangan untuk menjalani hidup berumah tangga dan terlebih disebabkan oleh kekosongan spiritual serta krisisnya keimanan mereka. Untuk itu, dalam hal ini, sosok wanita yang shalihah dalam keluarga menjadi suatu keniscayaan. Sebab, wanita adalah pondasi keluarga. Jika keimanannya ringkih, maka ringkih pula keluarganya sehingga mudah terombang-ambing oleh badai yang datangnya dari luar ataupun dalam keluarganya sendiri.

Dalam hidup berumah tangga, seorang wanita yang shalihah akan tahu apa saja yang mesti dilakukannya. Dan biasanya, ia akan melakukannya dengan sebaik-baiknya, baik ketika menjadi istri bagi sang suami maupun ketika menjadi ibu bagi anak-anaknya. Seorang wanita yang shalihah akan selalu berupaya untuk menciptakan suatu suasana keluarga yang sakinah (bahagia, damai, dan tenteram). Tak dapat dipungkiri, wanita yang shalihah adalah madrasah (sekolah)  bagi suami dan anak-anaknya.

Menjadi Istri Teladan
Sebagai istri, dalam kesehariannya, wanita shalihah akan senantiasa tanggap dengan masalah yang dihadapi suaminya. Apabila ia merasa mempunyai kemampuan untuk membantu memecahkan masalah yang mengeruhkan pikiran dan menyempitkan dada suaminya, maka ia segera melakukannya. Karena sikap seperti ini banyak meringkankan beban suaminya. Karenanya, suaminya akan merasakan bahwa di dalam rumahnya terdapat permata yang berharga, bahkan jauh lebih berharga daripada permata mana pun yang ada di dunia. Subhanallah.

Tatkala sang suami hendak bepergian, istri yang shalihah akan menyisakan waktu untuk berhias bagi suaminya (tidak mesti harus mempercantik diri dengan menggunakan alat kosmetik-terutama saat repot mengurusi anaknya). Hal ini dimaksudkan agar ketika suami berangkat, yang terakhir dilihatnya adalah wajah istri yang cantik dan menyejukkan.

Begitu pula ketika suami pulang: istri yang shalihah akan menyambut dengan baik kedatangan suaminya. Ia tidak akan ikut larut dengan keadaan suaminya manakala menjumpai suaminya dalam keadaan murung atau lelah. Bahkan sebaliknya, ia akan bersegera menyambutnya dan memenuhi segala keinginannya dalam keadaan apa pun, tanpa menanyakan penyebab kesempitan atau kelelahannya begitu suami sampai di rumah. Sebab bila seorang suami telah tenang dan menanggalkan pakaian kerjanya dan kemudian mengenakan pakaian rumahnya, biasanya ia langsung mengadukan keluhannya kepada sang istri penyebab kekeruhan pikirannya.

Namun jika suaminya tetap diam saja dan tidak menceritakan kondisi yang dialaminya, maka sang istri akan mencoba menanyainya dengan nada yang menunjukkan bahwa ia sangat memperhatikan keadaan suaminya yang pulang dalam keadaan seperti itu.

Sebenarnya, tentang bagaimana perilaku istri yang baik, para wanita dapat merujuk kepada wanita-wanita shalihah zaman Rasulullah SAW  Kenapa harus zaman Rasulullah? Karena pada zaman ini, para wanita mendapat bimbingan dan wejangan langsung dari Rasulullah SAW ketika mereka mendapatkan suatu persoalan dalam rumah tangganya. Dan kalau kata-kata tersebut dari Rasulullah r, maka tak dapat diragukan lagi bahwa itu adalah mashlahat (kebaikan).

Buku-buku sejarah telah menyebutkan dari Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah bahwa ia sering menahan lapar selama beberapa hari. Pada suatu hari suaminya, yaitu Ali bin Abi Thalib melihat istrinya bermuka pucat, lalu ia bertanya: “Wahai Fathimah, apakah gerangan yang engkau alami?” Fathimah menjawab: “Sejak tiga hari kami tidak menemukan suatu makanan pun di dalam rumah.” Ali berkata: “Mengapa engkau tidak menceritakannya kepadaku?” Fathimah menjawab: “Sesungguhnya ayahku, Rasulullah SAW, telah berpesan kepadaku pada malam pernikahanku: “Wahai Fathimah, jika Ali datang kepadamu dengan membawa suatu makanan, makanlah ia. Akan tetapi, jika ia tidak membawa sesuatu pun, janganlah engkau memintanya.”

Begitu mulia sikap Fathimah. Alangkah indahnya jika sikap tersebut dimiliki oleh setiap istri dalam keluarga. Akan tetapi, kebanyakan wanita, diakui atau tidak, mempunyai keahlian khusus dalam mengosongkan kantong-kantong suami mereka. Ada yang di antara mereka tidak dapat menahan diri bila melihat sejumlah uang dalam kantong suaminya, maka saat itu ia langsung menimbulkan keadaan darurat di dalam rumah dan masih belum rela sebelum dapat menguras semua uang yang ada dalam kantong suaminya.

Menjadi Ibu yang Baik bagi Anak-anaknya
Anak merupakan amanat di tangan kedua orangtuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan niscaya ia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya ia akan menjadi orang yang celaka dan binasa. Keadaan fitrahnya akan senantiasa siap untuk menerima yang baik atau yang buruk dari orangtua atau pendidiknya.

Dalam perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya, wanita yang shalihah akan tahu apa yang harus diperbuat baik di saat sebelum memiliki anak, waktu anaknya masih dalam kandungan, atau ketika anaknya lahir. Lebih dari itu, ia tahu bagaimana harus mendidik dan mengasuh anaknya dengan baik sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para muslimah teladan zaman Rasulullah SAW.

Seorang ibu yang baik akan selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya baik mulai dari ketika ia masih berupa nuthfah dalam rahim sang ibu hingga ia sudah meninggal sekalipun. Dalam kesehariannya, ibu yang baik akan menghargai keberadaan anak-anaknya, memperlakukan mereka dengan adil tanpa membedakan laki-laki atau perempuan. Selain itu, dengan ungkapan tegas lagi lembut dan kemudian diwujudkan dengan contoh yang baik, ia mengajarkan budi pekerti dan tauhid serta akidah kepada anak-anaknya. Maka dari itu, keberadaan ibu yang shalihah akan terasa menyejukkan dan menenteramkan anak-anaknya sehingga mereka nantinya akan menjadi generasi yang tahan dengan goncangan (teruji) dan bisa diandalkan di masa-masa yang akan datang, generasi yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Walhasil, beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya.” (H.R. Thabrani dan Hakim). Bagi mereka yang tengah mencari pasangan, setidaknya tulisan ini bisa menjadi “acuan” sebelum meminang, tanpa menafikan sebuah ungkapan bijak yang berbunyi: Pria baik-baik (shalih) adalah untuk wanita baik-baik (shalihah) pula. Begitu juga sebaliknya. Wallahua’lam.[]

Sumber : http://alrasikh.uii.ac.id/2013/11/01/mencari-wanita-shalihah/

Setelah Ashar (25/10/13) kami berencana untuk sowan ke rumah Ustad, yang kebertulan beliau sedang short course diluar negri (Amerika). Maksud kedatangan kami yaitu untuk menyampaikan amanat kepada keluarga yang ada di rumash sekaligus menyerahkan beberapa lembar surat dari kantor pos. Sekitar pukul 17.30 kami meninggalkan Jogjakata. Kali ini kami mengambil rute ke arah jalan Solo, tepatnya yaitu ke arah Candi Prambanan.

Karena perjalanan sore hari, kemacetan pun tak dapat terelakkan. Dibeberapa titik kemacetan itu kami dapati, meskipun demikian kemacetan ini masih dalam tingkat normal. Lagi-lagi, karena waktu keberangkatan yang terlalu sore, maka kumandang adzan magrib sudah terngiang di telinga kami ketika kami dalam perjalanan. Karena tanggung sebentar lagi sampai, maka kami memutuskan untuk sholat magrib ketika sudah tiba di tempat tujuan.

Setelah tiba di perkampungan yang kami tujuan, maka kami pun menunaikan sholat magrib. Setelah selesai kami langsung melanjutkan perjalanan, ketika tiba di depan rumah kami disambut oleh dua malaikat kecil yang membuka gordeng kamar dan melihat kami dari dalam.

Seketika mereka pun berlari ke arah pintu, terdengar suara kunci yang mereka buka dari dalam, tapi karena kedua malaikat kecil itu masih kecil jadi belum bisa membuka kunci atas. Kemudian dengan refleks malaikat kecil itu membuka jendela dan berkata, "mamah masih madi, Mas Lio gak sampe, jadi gak bisa buka kunci yang atas..." dengan sepontan kami pun menjawab "oh.. ya udah gak apa-apa.. nanti saja..."

Tak berapa lama pintu rumah pun terbuka. Muncullah seorang sosok jagoan kecil, ia adalah Gus Lionel Akbar atau saya biasa memanggilnya dengan "Mas Iyo". Kami ajak bersalaman dan ngobrol sebentar. Setelah itu muncul Ibu, dan kami juga langsung menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan tersebut. Sahabat saya langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam ranselnya. "ini ibu.. ada titipan dari Ustadz.. dan beberapa ada yang harus ditandatangani plus diberi matrai."

Ibu pun masuk ke rumah dan tak berapa lama langsung membawa amplop berwarna cokelat dan matrai 6000. Setelah mengurus surat-surat serta menyantap roti bakar dan segelas susu jahe yang disuguhkan malam itu, maka kami pun berpamitan. Motor Honda Kharisma berpelat BE pun meninggalkan suasana pedesaan yang tak jauh dari Candi Prambanan. Pedesaan yang sangat sejuk dan pemandangannya begitu indah.

Di perjalanan, sekitar 10 menit dari tempat kami berpamitan. Sahabat saya mengajak untuk ziaroh ke makam Sunan Bayat (Sunan Pandan Aran). Sunan Bayat ialah salah satu pengikut Sunan Kalijogo yang diperintahkan untuk menyebarkan islam di daerah Bayat. Demikian informasi yang saya dapatkan dari papan sejarah ketika sudah tiba di sana.

Waktu itu, saya pun menyetujuinya. Karena sahabat saya agak sedikit lupa rute jalannya, maka kami memutuskan untuk bertanya ke salah satu penduduk yang kebetulan berada di pinggir jalan, atau sedang jualan. Dari petunjuk itulah akhirnya kami bisa tiba di tempat tujuan. Meskipun hampir mau salah jalan, dan mengambil inisiatif yang salah. Wajar, instingnya kurang gak sehebat GPS (Global Positionging System), heeeee.

Ketika tiba di sana, kami kami duduk-duduk dulu dan ngobrol sejenak. Tujuannya supaya tidak terlalu capek, sebab posisi makam berada di atas bukit dan kami harus menaiki anak tangga. Setelah dirasa cukup istirahatnya, kami pun langsung bergegas. Tak lupa, kami harus bayar 1000 rupiah untuk masuknya, dan waktu itu kami juga memutuskan untuk sholat Isya di atas saja, supaya setelah selesai sholat bisa langsung ziaroh.

Ketika menapaki anak tangga dan melihat kanan-kiri, sahabat saya melontarkan sebuah kalimat yang menggelitik pikiran. "Kenapa ya makam-makan disini kebanyakan berada di atas bukit...?" mendengar ungkapan yang demikian, lantas saya mengeluarkan sebuah kalimat yang hampir sama, "kenapa pintu Masjid Agung Cirebon dibuat kecil...?" Mungkin ada makna yang tersembunyi dari alasan ini semua.

Bisa jadi karena orang-orang yang berilmu itu posisinya memang harus berada di atas, demikian ungkapan sahabat saya. Saya menimpali, lebih tepatnya mungkin biar penziaroh bisa berolahraga dan nanti badannya sehat. Atau, untuk menjadi seorang yang luar biasa itu ada tahapan dan prosesnya, gak jadi begitu saja. Harus bener-bener menyerahkan semuanya karena Allah, istiqamah dan amalan-amalan yang lainnya.

Waktu menunjukan pukul 21.30, tapi para pengunjung yang ingin berziaroh selalu saja ramai. Meski demikian, kami tetap bisa mencari posisi yang strategis dan PW. Sehingga ketika yang lain selesai, barulah kami bisa gantian. Pokoknya dua malam ini berturut-turut sungguh luar biasa. Kamis malam ke Gunung Pring di Magelang, dan jum'at malamnya ke Sunan Bayat.

Luar bisa dan di luar ekspektasi saya pokoknya...! Perjalanan ini kira-kira kami tempuh sekitar 40 menitan. Mungkin karena baru saja (pengalaman pertama naik motor) dan belum tahu jalan, jadi terasa lama. Tapi ketika sudah selesai dan pulang, malahan terasa dekat. Kami pun kembali ke Jogja malam itu juga. []


Sepulang dari kondangan pukul 20.30 wib, kami langsung tancap gas. Meski kondisi jalanan yang basah dan sedikit gerimis, kami tetap meluncur menuju Gunung Pring. Pring dalam bahasa jawa yaitu berarti bambu, dengan kata lain berarti Gunung Pring yaitu Gunung Bambu. Letak Gunung Pring yaitu di daerah Muntian - Magelang. Malam itu (24/10/13) para pengunjung tetap saja ramai berdatangan, mungkin karena bertepatan dengan malam Jum'at.

Sekitar pukul 21.30 kami tiba di Gunung Pring. Kami disambut dengan gapura yang khas, dan tampaknya ada perubahan dengan pintu masuk tersebut. Dulu kondisinya tak sebagus saat ini. Rasanya sudah sekitar setahun yang lalu, saya terakhir mengunjungi tempat ini. Tapi entahlah, saya sudah lupa dengan siapa saja terakhir berkunjung ke tempat ini.

Ketika menapaki anak tangga, dan menikmati pemandangan kanan kiri yang dipenuhi pedagang. Sesekali kami pun melirik ke kanan dan kiri untuk mencari sesuatu benda yang dapat kami beli di sana. Ketika itu, tiba-tiba tanpa disadari ada teman-teman kampus yang baru saja selesai ziaroh, Taufik, Indra, dan Sandi. Kami pun bersalaman dan ngobrol sebentar. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke atas bukit dan mereka melanjutkan ke tempat lain. Katanya sih mau lanjut ziaroh ke Pabelan.

Nah, disini ada kejadian lucu. Setiba di Mesjid, sahabat saya bilang "nanti setelah Isyaan kita baru ziaroh..." Tanpa pikir panjang kami pun langsung berwudhu dan ikut sholat, sebab ada yang sedang berjamaah juga. Setelah sholat barulah sahabat saya itu berkata, "ngerasain yang aneh gak mir... " diam sejenak. "bukannya tadi sebelum ke tempat Lita kita udah sholat isya ya.." hahahhahah. Saya pun hanya bisa nyengir dengan kejadian ini.

Setelah kejadian lucu tadi, kami langsung ambil posisi. Sekitar satu jam kami ziaroh di sana, meskipun hanya satu tempat saja. Tak lupa ada salah seorang sahabat yang titip minta didoakan supaya diberi kesembuhan. Alhamdulillah sudah saya laksanakan permintaannya. Semoga cepat sembuh ya... amiin.

Setelah dirasa cukup, kami pun meninggalkan makam Kyai santri. Tak lupa, ketika menyusuri anak tangga kami menyempatkan diri untuk mencari barang yang bisa kami beli. Sahabat saya membeli sebuah kopiah, sedangkan saya masih bingung mau beli apaan. Ketika sudah di bawah barulah sadar, bahwa model sorban yang saya inginkan gak ada yang sebagus pas di atas tadi, maka dengan secepat kilat saya pun kembali ke atas dan membelinya.

Sempat tawar-menawar dengan pnjualnya, tapi karena saya juga buru-buru akhirnya saya sampaikan "udah 40rb mbak mentok".  Akhirnya dilepaslah sorban itu dengan harga segitu, padahal tadinya bersikukuh ingin 50rb. Saya cukup senang dan berniat dalam hati "Semoga sorban ini dapat bermanfaat, salah satunya menjadi benda yang dapat mengingatkan dan sekaligus menyemangati saya ketika sedang malas-malasan dalam beribadah.. amiin."

Meski tak sebagus sorban kyai atau ajengan dan kayi besar yang lainnya, tak apalah... sudah punya juga sudah bersyukur banget dweh. Semoga tambah rajin, giat dan semangat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah swt. Waktu sudah mulai larut, kami pun bergegas untuk kembali pulang ke Jogja. Semoga diberikan kesehatan dan umur yang panjang, sehingga masih berkesempatan untuk kembali mengunjungi tempat ini. Allahu'alam []

(Kamis, 24/10/13) Suasana Jogja sudah mulai redup, sang surya mulai memancarkan sinar keemasannya dari ujung barat, waktu sudah menandakan sore hari. Ketika itu saya sedang asyik menjelajahi dunia maya di 'warnet pribadi' (baca: kamar), tiba-tiba muncul sebuah SMS yang cukup singkat dari salah satu teman. Isi SMS tersebut yaitu ajakan untuk mengunjungi teman yang baru saja melaksanakan sunnah rasul.

Tanpa pikir Panjang, saya pun meng-iya-kan ajakan tersebut. Tak lupa di SMS itu juga disisipkan sebuah kata ajakan, sehingga menambah saya bersemangat untuk melakukan perjalanan ini. Ya, disana dituliskan "setelah pulang dari sana, kita nanti mampir ke Gunung Pring... kita ziaroh ke makam Kyai Raden Santri..."

Sekitar pukul 17.00 kami berangkat dari Jogja, dan karena kondisi Jogja sudah mulai berbeda dari tahun-tahun sebelumnya maka macet pun tak bisa kami hindari. Berawal dari depan PPUII (Jln. Selokan Mataram) sudah mulai terasa. Macet itu berlanjut di jalan Gejayan hingga ke perempatan kentungan (jakal km. 4). Tak hanya itu, di jalan Magelang macet pun kami dapati, tapi disana masih wajar, sebab sedang ada pembangunan jalan.

Di perjalanan, awan terlihat begitu gelap dan pekat. Bahkan sempat ada gerimis yang menemani perjalanan kami. Meski tak besar, gerimis itu membuat kami sedikit was-was, pasalanya kami tidak membawa mantel hujan. Dengan niat bismillah kami tetap tancap gas, alhasil ternyata gerimis itu menghilang. Karena sudah terlalu malam, kami pun memilih menepi dan sholat magrib di SPBU jalan Magelang.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kembali. Tak lama kami pun tiba di kota Magelang. Dari kota, kami mengambil arah ke kiri dan masuk ke jalan desa. Disana kami disambut dengan pemandangan yang luar bisa, kota magelang yang menawan kala malam hari. Lampu berkedap-kedip dari kejauhan, nampak begitu indah dipandang dari atas bukit.

Sekitar setengah jam kami menelusuri jalanan desa, disambut dengan hamparan sawah nan luas dan terasa begitu sejuk. Kala itu saya membayangkan melewati jalanan itu di sore hari, pasti lebih seru dan lebih nikmat. Dikala senja mulai meredup, para petani mulai bersiap-siap untuk pulang dari sawah menuju rumah tercinta, anak-anak gembala tak lupa meramaikan jalanan.. oh begitu indah rasanya bisa menikmati pemandangan itu lagi.

Akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Suara lantunan adzan Isya dari mushola bercat hijau nan mungil ternyata sudah menyambut kami. Momen indah itu pun tak mau kami lewati begitu saja. Kami langsung memarkirkan sepeda motor mega pro berwarna merah di depan rumah penduduk, dan langsung mengambil air wudhu. Tak ada waktu yang paling indah selain mendirikan sholat Isya dengan berjamaah.

Selepas dari masjid, kami menyampaikan maksud dan tujuan. Akhirnya kami pun langsung dibawa TKP. Kami menunggu beberapa menit, tak lama akhirnya muncul juga orang yang kami tunggu-tunggu, mereka ialah Dwi Meylita dan Mas Mujamil, alias pengantin baru. Tanpa basa basi setelah bersalaman kami pun memohon maaf karena datangnya telat dan mengganggu waktu mereka.

Tak disangka, ternyata Mas Mujamil menimpalinya dengan guyonan* juga. "gak apa-apa, gak ngeganggu... masih belum larut juga kok...." seketika itu kami pun tertawa. Setengah jam lebih kami ngobrol ngalor-ngidul, kesana-kemari dengan pengantin baru. Karena sudah larut dan dirasa sudah cukup plus campur tidak enak hati, maka kami pun berpamitan. "Semoga pernikahannya langgeng, awet sampe kakek nenek.." itu do'a dari kami untuk mereka. Akhirnya kami pun pamitan. "Pak, Bu... kami bade terasan.." (Pak, Bu.. kami mau pamitan..)

Motor mega pro berwarna merah yang berpelat BE itu pun semakin jauh meninggalkan desa kecil di pinggir kota Magelang. Gelapnya malam semakin pekat, dan gerimis kecil pun menemani perjalanan kami kembali ke Yogyakarta. Tentunya tidak lupa untuk mampir berziarah Ke Gunung Pring.

Tambahan!
Kami berdua lupa jika sudah sholat isya di jalan tadi, sebelum bertamu ke rumah pengantin baru. Eh, begitu sampai di Gunung Pring, sholat isya lagi. Begitu sholat iya selesai, sang kawan sambil mesem "Bukannya tadi kita sudah shalat isya ya..." Kami pun tertawa terkekeh-kekeh dengan apa yang kami lakukan barusan.
____________________
*) Guyonan (bhs. jawa) artinya candaan.


Siang itu begitu trik, jalan aspal pun terasa panas bila terkena telapak kaki, dan harus memakai alas kaki. Tampak dari kejauhan dua bocah yang baru pulang Sekolah Dasar, berlarian. Mereka bergegas pulang ke rumah. Dua anak kembar itu ternyata sudah dinanti tugas besar dari orang tuanya.

Mereka bergegas mengganti pakaian sekolah dan langsung mengeluarkan kambing-kambing dari kandangnya. Suara kambing yang mengembe sudah terdengar jelas, dan itu menandakan bahwa kaming-kambing sudah sangat lapar. Padahal, kedua bocah itu belum sempat sarapan tadi pagi, karena nasi masih dimasak. Tapi bagi mereka, hal ini sudah biasa.

Tanpa pikir panjang kedua bocah itu langsung membuka pintu kandang kambing. Sementara satu bocah lagi berjaga di salah satu kebun orang lain, supaya kambing-kambing itu tidak masuk ke kebun yang ada tanaman singkong dan lain sebagainya. Sebab kalau masuk ke kebun mereka bisa kena marah habis-habisan oleh si pemilik kebun.

Kegiatan ini sudah biasa mereka lakukan. Mengembala kambing pukul 13.00 dan pulang ke rumah pukul 17.00. Kedua bocah itu juga harus rela bersahabat dengan keringat, trik panas matahari, bahkan hujan dan petir. Bagi kedua bocah itu sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari.

Di saat orang lain sudah mandi dan wangi, mereka masih berada di hutan mengurus kambing-kambing peliharaannya. Di saat orang lain bisa bermain sepulang sekolah, kedua bocah itu tak punya pilihan selain bermain dengan kambing-kambing nya. Salah satu cara supaya bisa main ya harus nekat, tetapi resikonya tanggung sendiri. Siap-siap saja, pulang ke rumah kena marah dan gak dapat jatah makan.

Pokoknya nyesel banget kalau ngelakuin hal senekat itu, yang ada nanti malah rasa bersalah… “ Ungkap mereka. Meski demikian pahit yang mereka alami, kedua bocah tersebut tetap menikmati rutinitas yang mereka jalani. Hingga ketika mereka sudah betul-betul bisa mengembala kambing dan menjaganya, akhirnya tugas itupun dibagi dua. Mereka pake sistem selang-seling.

Si A hari ini dapat tugas mengembala kambing, esoknya Si B yang bertugas mengembala, sedangkan Si A libur. Tugas ini begitu seterusnya.

Akhirnya, mereka tumbuh dan berkeinginan untuk bisa seperti orang-orang yang sukses pada umumnya. Mereka berusaha sekeras tenaga demi masa depan, tentunya mereka ingin memiliki pendidikan yang berbeda dengan orang tua, serta kakak-kakaknya juga.

MEHIMEMADE - kata itulah yang mereka pegang hingga saat ini. Kata yang tak memiliki makna tersebut menjadi motivasi mereka untuk memperjuangkan masa depan nantinya. Meskipun anak kembar itu, saat ini harus terpisah oleh jarak dan waktu. "Allahumma sahil 'Umurana...."
   
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS. Al-Insyirah [94] : 1-8)

Sebuah surat di atas merupakan penghibur bagi saya. Bahkan surat ini salah satu penyemangat saya dalam menjalani semua aktivitas yang saat ini “bermasalah” menurut saya. Karena permasalahan yang kini saya alami sangat berat dan butuh kekuatan ekstra untuk mengendalikannya.

Hanya dengan membaca surat ini berulang-ulang, dan memahami artinya sedemikian dalam dan luasnya sehingga “masalah” ini agak berkurang dan saya sedikit tenang. Saya percaya dengan isi pesan yang allah sampaikan dalam surat ini. Terutama dengan kata-kata “sesudah kesulitan itu ada kemudahan” saya sangat percaya dengan ini semua.

Apapun masalahnya hadapi dan terima saja. Ini adalah perjalanan yang harus saya lalui. Ada beberapa fase yang harus saya alami dan fase ini sudah Allāh atur untuk mengulanginya. Ini pertanda Allāh sayang, supaya saya jadi lebih baik dan terus baik. Bisa jadi saya belum lolos tes di fase ini, sehingga harus diulang beberapa kali lagi.

Mungkin saya harus fokus ke pekerjaan yang lain dan mengejar niat yang dahulu saya utarakan sebelum berangkat ke kota gudeg ini. Bisa jadi, secara tidak langsung mungkin saya telah disinggung secara halus oleh Allāh supaya back to niat. Sedangkan “masalah” yang saat ini saya hadapai, kelak juga kelar sendiri. Toh semuanya sudah sama-sama ngerti.

Kuncinya sabar dan tawakkal pada Allāh. Raih tujuan dan selesaikan semuanya dengan tepat waktu. Tayaqanū... Innallāha ma’aka []

Pagi ini rabu,16/10/13. Kami seperti biasa melakukan rutinitas pagi, yaitu main futsal bareng di Gaol. Meski harus merogoh kocek lima ribu rupiah untuk main satu jam, bagi kami itu biasa. Sebab dengan uang lima ribu tersebut, secara tidak langsung kami telah menjaga diri dari sebuah kedzoliman.

Ketika kita diberikan tubuh dan dianugerahi kesehatan maka tugas atau kewajiban kita yaitu menjaganya. Salah satu menjaga tubuh itu ialah berolahraga. Dengan olah raga badan akan terhindar dari penyakit dan menjadikan badan sehat. “orang yang tidak pernah olah raga, berarti ia telah mendzolimi dirinya sendiri…” begitu kata KH. Anwar Sanusi ketika mengisi kajian di TVRI.

Sebab tugas manusia ialah menjaga amanat allah. Nah dalam kaitan ini, tubuh juga merupakan amanat dari Allah yang harus kita rawat dan kita jaga. Kita akan merasa sesuatu itu penting dan benar-benar memiliki manfaat manakala memperoleh kebalikan apa yang tidak kita harapkan. Kita merasa sehat itu indah, penting dan mahal ketika kita jatuh sakit. Banyak hal lain yang tidak kita sadari saat ini.

***

Tak sengaja, setelah mandi dan melaksanakan tugas dari ‘bos’ saya nonton film Spiderman. Sambil menyantap daging Qurban yang sudah saya rebus tadi malam, dan ditemani salah seorang sahabat pula. Setelah selesai, saya melanjutkan nonton Spiderman. Saya tertarik dengan adegan-adegan dalam film tersebut, terutama percakapan nya.

Ada beberapa percakapan yang saya tangkap dalam film tersebut. Salah satunya yaitu ketika sang Bibi menanyakan tentang Jean (Marry Jean Watson). Tetapi kala itu Peter Parker mengatakan bahwa dirinya sudah melupakannya, “seorang suami harus mendahulukan istrinya sebelum dirinya… sedangkan aku, telah menyakitinya…” ucap Peter. Peter mengakui kalau ia telah menyakiti Jean. Sambil mendekati sang bibi, Peter memberikan sebuah cincin yang dulu ingin ia berikan kepada Jean sebagai tanda keseriusan nya.

Mendengar pengakuan Peter, sang bibi mengatakan “aku tahu kau orang yang baik, mulailah dari yang tersulit, maafkanlah dirimu Ben... kelak, semuanya akan kembali…” dengan nada penuh kelembutat. Sang bibi meletakkan kembali cincin itu di atas meja dan meninggalkan Peter.

Tak hanya adegan itu, di akhir film lebih seru dan menurut saya sangat menyimpan makna yang paling dalam. Ketika Sendman (manusia pasir) berkata, “aku tak pernah menginginkan semua ini…. Waktu itu anak ku sekarat dan aku butuh uang.

Saat itu aku bertemu dengan pamanmu, aku menyuruh ia keluar dari mobilnya.. lalu ia mengatakan padaku,”kenapa kau melakukan hal yang demikian.. lebih baik kau taruh senjatamu dan kembali pulang….” Waktu itu aku panik dan melihat temanku lari.. dan ada senjata di tanganku.

Aku tak tidak meminta kau untuk memaafkan ku, tapi aku hanya ingin kau paham…”. Mata sang manusia pasir pun berlinang, kemudian ia berkata, “saat ini, yang aku punya hanya anakku seorang….” Ia membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Spiderman.

Baru beberapa langkah Sendman meninggalkan tempat berdirinya, dan kala itu Spiderman masih compang-camping, lalu dengan sambil berlinang air mata Peter Parker berkata “kau sudah aku maafkan…

Matanya Sendman semakin nanar dan berwarna merah. Akhirnya manusia pasir pun terbang bersama angin yang membawanya pergi.

Apa kabar jodohku?
Apakah kau juga sedang terjaga malam ini?
Apakah kau juga sedang memanjatkan doa kepada Ilahi di sepertiga malam ini?
Dan apakah mulut dan hatimu terus menerus berzikir disaat ini?
Begitu sangat aku merindukanmu, wahai jodohku....
Berharap kau segera datang menjemputku.
Tapi mungkin saat ini belum saatnya yang tepat untuk kita bertemu.
Walau aku sungguh mau, Walau aku sungguh ingin,
Namun takdir kehidupan mengharuskan kita untuk berjalan lebih lama dan masih banyak kewajiban yang harus kita emban dan kita lakukan.

Apa kabar jodohku?
Apakah kebaikan sedang melingkupi hatimu saat ini?
Apakah kedamaian bersama Allah sang maha pengasih telah mengisi hari- harimu hingga kini?
Bagaimana dengan Quranmu?.
Sudahkah kau berakrab dengannya hari ini?
Ceritakanlah kepadaku..
Aku berharap bisa mendengarnya. ..Apa kabar jodohku?
Sehatkah kau saat ini?
Lalu episode apa yang sedang kau jalani sekarang?
Jujur, rasanya lelah aku menunggumu.
Sampai- sampai aku berharap,
Ketika mata ini terbuka, kau telah berada duduk disebelahku,
Kau tersenyum dan membangunkan aku.
Bersama kita bertafakur serta bersujud kepadanya.

Apa kabar jodohku?
Berat hati ini menantikanmu, gelisah pula hati ini memikirkanmu.
Jika saja sekarang kita telah halal dalam ikatan suci,
Aku akan merawatmu dengan penuh kasih sayang.
Maka doakanlah...
Agar aku sabar menunggu, agar kau pun juga bersabar menunggu. Tenanglah....
Aku disini masih bersabar menanti mu, maka kaupun seharusnya begitu.

Jodohku...
Bilakah kita akan bertemu?
Pasti kita akan bertemu.
Namun sekarang, bahagiakanlah dahulu orang tua dan orang- orang yang menyanyangimu.
Namun sekarang, penuhilah dahulu segala kewajibanmu.
Dan perbaikilah kekuranganmu.
Maha suci Allah yang pasti akan memberikan kita kebahagiaan
Disaat dan waktu yang tepat

Jodohku....
Aku yakin, bila laki- laki yang baik adalah untuk wanita yang baik dan wanita yang baik adalah untuk laki- laki yang baik.
Maka bisakah kau bantu aku dengan doamu, agar aku mampu membaikkan dan memperbaiki diriku?
Dan, sudahkah kau sendiri berdoa dan berusaha agar hidup dan dirimu terasa lebih baik?
Semoga kelak saat kita bertemu, aku dapat menjadi hadiah untukmu.
Seorang pendamping yang senantiasa menyenangkanmu.
Semoga di akhir penantian kita nanti,
Kebahagiaan dan kedewasaan batin dari sebuah pribadi, sudah kita miliki.

Jodohku...
Semoga kau tak selalu memenuhi hari dan hatimu hanya dengan aku.
Semoga tetaplah Allah yang menjadi raja di kalbumu.
Dan doakanlah agar akupun berlaku yang sama.
Agar pertemuan kita nanti benar-benar berada dalam ridhoNya.

Jodohku...
Jangan risau dengan lamanya waktu,
karena aku insyaAllah adalah sebuah kepastian untukmu.
Bukankah kau juga yakin bahwa Allah menciptakan makhluknya berpasang- pasangan?.
Maka jangan risau dengan lamanya menunggu.
Jangan pula kau belokkan arah hidupmu pada keputusasaan.
Yakinlah, semua hanya masalah waktu.
Waktu yang pasti akan ada ujungnya.
Dan karena Allah tidaklah sedang mendholimi hambanya.
Maha suci Allah yang pasti akan memberikan kita kebahagiaan
disaat dan waktu yang tepat.

(Syahidah/Voa-islam.com)
http://www.voa-islam.com/muslimah/article/2011/11/24/16805/apa-kabar-jodohku/
Tujuan menyembelih hewan pada bulan Dzulhijah, ialah menyembelih sifat kehewaniahan yang terdapat pada diri manusia. Inilah makna mazaji dari ibadah yang satu ini. Tetapi tak hanya itu, tujuan menyembelih hewan juga merupakan bentuk ketaatan/kepatuhan manusia kepada sang khaliq atas apa yang sudah diperintahkan dalam al-Qur’an.

Lalu bagaimana bagi yang tidak mampu untuk menyembelih? Salah satu khotib jum’at beliau menyampaikan bahwa dibolehkan berhutang kepada siapa saja yang tidak mampu untuk berqurban. Tetapi jangan khawatir, saat ini ada yang namanya arisan qurban dan ini merupakan cara alternatif yang diperbolehkan oleh agama. Jika dirasa berhutang itu sangat berat.

Saat ini tidak ada yang sulit jika kita punya kemauan dan kerja keras. Tetapi jika betuli-betul miskin dan tidak punya, maka tidak diwajibkan. Toh perintah ini diwajibkan bagi mereka yang mampu dan berkecukupan. Bagi yang tidak mampu silakan ‘iri’ dengan mereka dapat melaksanakan berqurban. Tetapi iri yang dimaksudkan di sini ialah iri yang positif dan berorientasi kepada kebaikan.

Dengan merasa iri yang baik, dan berkeinginan kuat akhinya ia berniat untuk bisa berqurban tahun depan, dan mulai hari ini ia berjanji yntuk giat dan menabung supaya bisa berqurban. Sikap inilah yang harus kita tiru, bukan malah sebaliknya; yaitu timbul sikap iri yang pasif. Iri yang hanya bisa mengumpat dan menjelek-jelekan kebaikan orang lain, padahal dirinya belum tetntu bisa melakukannya. Hati-hati dengan sifat ini, jangan sampai dipelihara.

Berqurban Perasaan
Ketika menyaksikan orang lain bisa berkurban, sedangkan kita tidak tentu secara emosi kita merasa terbebani. Beban perasaan lebih tepatnya. berarti secara tidak langsung perasaan kita telah ikut berqurban. Bisa jadi inilah berqurban yang sesungguhnya, makna pengorbanan yang sesunguhnya adalah seperti ini. Disaat orang lain merasa mampu melakukan kebaikan, tetapi kita belum bisa, dan lain sebagainya. Yuk mari berdoa kepada Allah supaya diberikan kesempatan berkurban tahun depan.

Tidak usah khawatir dengan tidak bisa berkurban tahun ini disebabkan tidak punya uang yang cukup. Yakinlah kelak Allah akan cukupkan, dan waktunya berkurbanpun tiba. Asal kuncinya mau dan tetap berusaha untuk merealisasikanya. Ungkapan ini terkesan keluar dari orang-orang yang pesimis dan hanya untuk berapologi semata, tetapi bagi orang yang betul-betul percaya dengan kemahakuasaan allah, baginya taka da yang tak mungkin.

Boleh jadi, berkurban perasaan jauh lebih berat ketimbang berkurban dengan harta. Tak sedikit orang yang rela mengelurkan uangnya hanya untuk memperoleh ketenangan, rasa puas dan sebagainya. Tujan mereka hanya satu, yaitu ingin memuaskan perasaan yang mereka rasakan. Bisa jadi orang yang hartanya berlimpah-ruah, tetapi perasaan mereka tidak tenang.

Bahkan sebaliknya, banyak orang yang sederhana tetapi perasaan mereka tentram, tenang dan damai. Meski semuanya serba kekurangan, mereka mampu hidup dengan penuh kebahagiaan, semua kekurangan tersebut bagi mereka hanyalah perhiasan kehidupan yang hanya sesaat saja. Toh kehidupan yang sesungguhnya bukan disini, jadi tak perlu risau dan khawatir.

Orientasi Akhirat
Apapun permasalahannya, jika dikembalikan kepada sebuah hakikat tentu semuanya jadi beres. Begitu pun dengan permasalahan yang saat ini kita hadapi, tersenyum lah dan biarkan semuanya mengalir apa adanya. Masalah itu penting dan dengan masalah itu kita akan belajar akan sebuah arti kehidupan.

Semua permasalahan sejatinya adalah kenikmatan, hanya saja rasanya pahit. Seperti kita minum jamu, rasanya pahit dan cenderung tidak enak. Tetapi dibalik rasa pahit itu ternyata ada nikmat yang tiada tara. Badan menjadi sehat, kuat dan bugar. Jika kita bandingan dengan orang yang meminum anggur, rasanya manis dan wangi. Tetapi dibalik rasa manis itu justru kerusakan lah yang timbul. Pikiran tidak fokus, menjadi mabuk dan jika sudah mabuk apapun bisa saja terjadi.

Orang yang cerdas ialah orang yang berpikir jauh kedepan. Orang yang cerdas dapat dilihat dari caranya mengambil sebuah keputusan, berorientasi pendek atau jangka panjang. Sebab sesuatu yang sifatnya pendek itu tentu memiliki kemanfaatan yang singkat tetapi sebaliknya jika orientasinya jauh ke depan maka nilai kemanfaatannya lebih lama juga.

Penutup
Berqurban pada hakikatnya mudah dan sederhana. Tetapi dibalik kesederhanaan dan kemudahan tersebut ada sebuah nilai yang memiliki makna yang cukup dalam. Berkurban merupakan sebuah ibadah yang memiliki keterkaitan antara ibadah yang sebelumnya. Masih ingat dengan bulan Rajab, Syaban, Ramadhan, Syawal dan Dzul Qo’dah. Kelima bulan ini berkaitan erat dengan bulan Dzulhijah.

Isi dari keenam bulan ini bermakna sebuah penyucian, pengorbanan, penghapusan sifat-sifat hewaniyah yang terdapat dalam tubuh manusia. Dengan adanya bulan ini manusia ‘dipaksa’ untuk bisa keluar dari sifat-sifat yang buruk dan berubah menjadi manusia yang seutuhnya.

Untuk itulah pengorbanan ‘kemanusiaan’ yang sesungguhnya telah diuji. Jika ia mengaku benar sebagai manusia maka akan sadar diri, bahwa selama ini dirinya telah menjadi seekor hewan yang hanya memikirkan perut dan dibawah perut. Orientasinya hanya untuk dunia semata, bukan untuk kehidupan akhirat yang lebih abadi. Allahu’alam []

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme