Ada yang tahu bagaimana perkembangan si artis dadakan Norman Kamaru?? Gaungnya sudah tidak terdengar lagi saat ini. Norman yang kala itu tenar gara-gara rekaman youtube dengan lagu caya-cayanya seolah menyirih seluruh masyarakat. Kini semuanya telah hilang bagai ditelan bumi. Norman Kamaru seperti sudah almarhum…. Demikian kata sahabat saya.

Segala sesuatu yang baru dan booming dengan tiba-tiba, maka akan cepat hilang dan dilupakan oleh orang lain dengan secepat itu pula. Tetapi sesuatu yang dimulai dengan cara bertahap, justru akan lebih berkesan dan menyimpan kenangan yang begitu kuat dalam ingatan. Lagu - lagu yang tahun 70-an kini tetap dikenang, bahkan terasa “nikmat” di telinga.

Hal seperti inilah yang seharusnya dijadikan pegangan oleh setiap orang dalam bertindak. Ketika tawaran yang baru, dan datang  menghampiri hendaknya bisa selektif dalam menentuka pilihan. Tidak serta merta melupakan apa yang sudah sejak lama kita impikan dan diida-idamkan. Salh satu contoh yang bisa diambil pelajaran adalah Norman Kamaru. Bagaimana ia meninggalkan dunia TNI dan memilih untuk menjadi seorang artis. Nyatanya, hingga saat ini ke-artis-an Norman tidak lagi terdengar.

Tawaran yang datang tiba-tiba memang menggiurkan. Tapi jika salah mengambil keputusan maka semuanya akan hilang. Saya yakin Norman merasa menyesal, dulu ia mengambil keputusan yang tidak tepat. Padahal dengan mengabdi di Negara semuanya akan berbuah manis untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan Jadi artis hanya saat itu saja. besoknya lagi tidak dipakai. Mungkin inilah kenapa alasan artis-artis senior kemudian “menceburkan diri” menjadi wakil rakyat.

Artis yang sudah berpengalaman ia sadar betul dengan yang ia jalani, dunia yang ia jalani hanya sebentar.  Setelah naik daun tentu akan redup kembali dan hingga akhirnya kembali ke asal. Sudah banyak artis-artis yang sudah tua kemudian memilih menjadi orang biasa, dan menikmati hasil jerihpayahnya. Ada juga artis yang terkena sakit ganas, kemudian semua hartanya habis digunakan untuk berobat dan kembali menjadi orang biasa.

semoga bermanfaat..


Orang yang pertama datang ke mesjid untuk sholat jumat, maka ia diibaratkan sedekah satu ekor sapi. Orang yang datang kedua, diistilahkan dengan sedekah dengan seekor kambing. Orang yang ketiga diibaratkan sedekah dengan seekor ayam. Oang yang ke empat diibaratkan berkurban dengan sebutir telur… kita sering dibarisan yang mana nich?? pertama, kedua, ketiga, keempat atau malah yang terakhir…??

Hadits Rasulullah di atas merupakan sebuah motivasi bagi kita untuk berlomba-lomba datang ke mesjid lebih awal. Jika kita tiba di mesjid untuk sholat jumat ketika khutbah sudah dimulai, apakah pahala jumat itu masih kita dapatkan? diibaratkan bersedekah apakah orang yang datangnya terakhir, bakteri mungkin.

Yuk kita datang ke mesjid lebih awal, disana kita bisa memperbanyak dzikir, tasbih dan tahmid. Bahkan kita bisa “bersuka ria” dengan kalimat-kalimat toyyibah. Membasahi mulut kita dengan kalimat illahiyah, dengan demikian mulut yang kita gunakan untuk berkata kotor dan bohong diberikan kesempatan untuk memuji tuhannya.

Jangan karena kita jadi khotib terus datangnya duluan. Tetapi giliran jadi makmum datangnya paling akhir dan sengaja duduk di shaf paling akhir.

Apa yang kita cari?
Penulis setuju dengan pendapat bahwa khutbah itu tidak mesti harus menggunakan bahasa arab secara keseluruhan. Bahasa arab itu hanya dibaca ketika bagian yang menajdi rukun khutbah, tetapi pendukung atau isi dari apa yang disampaikan boleh menggunakan bahasa masing-masing. Pendapat penulis, dengan menggunkan bahasa daerah setempat justru ada sebuah pesan atau ajakan yang bisa disampaiakan kepada jama’ah sekalian.

Oleh karenanya, ketika jama;ah pulang ke rumah, ada sebuah ilmu yang didapatkan dari mesjid. Secara otomatis setiap minggu jama’ah mendapatkan pencerahan dan belajar. Bagi yang tidak sempat ikut pengajian mingguan, ini juga bisa menjadi solusi. Bayangkan jika khutbah hanya menggunakan bahasa arab dari awal hingga akhir, lalu apa yang didapatkan dari khutbah tersebut? bertahun-tahun seperti itu, tidak ada kemajuan sama sekali.

Penulis ketika tiba waktu shalat jum’at, yang penulis cari adalah mesjid dimana ada khotibnya yang bagus. Dengan demikian, setiap minggu penulis mendapatkan penecerahan dan ilmu yang baru dari berbagai khotib. Bahkan biasanya apa yang khatib sampaiakan ketika berkhutbah, penulis mencoba tulis ulang ketka sudah tiba di kamar. Hingga terciptalah sebuah tulisan yang dipadukan dari khatib dengan pemikiran penulis. allahu’alam []

Semoga bermanfaat..


Akhir-akhir ini banyak iklan-iklan yang menganggu. Bahkan menurut penulis pribadi iklan itu tidak layak ada. Entah hanya karena ingin diKlik dan akhirnya mendapatkan keuntungan bagi si pembuat iklan tersebut atau malah bagi penyedia layanan tersebut. Secara pribadi penulis mengecam perbuatan yang demikian, itu adalah cara haram. Jika si pembuat iklan itu berpikir, jelaslah bahwa yang ia lakukan adalah mengotori dirinya sendiri dan mengotori orang lain.

Supaya iklan itu menarik orang untuk me-Kliknnya maka cara apapun digunakan, termasuk dengan gambar wanita telanjang. Jelas ini perbuatan salah. Amat disayangkan, sekelas kompasiana pun berani dan memasangnya. Apa tujuannya kompasiana memasang iklan tersebut?? jelas ini melanggar dan mengotori citra kompasiana itu sendiri.

Tak hanya satu tempat saja, tetapi ada beberapa tempat, di bagian atas dan di bagian samping. Jelas ini mengganggu menurut penulis. Bagi pengunjung yang lain tentu demikian (sehati bagi yang memiliki hati). Media yang dianggap sebagai agaen perubahan malah “menjerumuskan” inilah yang salah.

Oleh karenanya, marilah beriklan secara baik dan benar. Jika ingin mencari keuntungan dengan cara beriklan, maka gunakanlah cara yang baik, sehingga akan membawa dampak kebaikan. Ketika kita sudah mati, kelak akan diperatngungjawabkan, dengan cara apa harta itu kita dapatkan dam kemana kita belanjakan??

Semoga bermanfaat… penulis hanya sekedar menyampaikan dan saling mengingatkan dalam kebaikan….


Media belajar itu tak hanya harus dari buku-buku saja. Belajar itu sangat luas maknanya. Ketika kita jalan-jalan pun bisa saja itu bermakna belajar. Lebih tepatnya belajar menggunakan hidup yang lebih baik, dengan jala-jalan pikiran yang sumpek akan terasa ringan dan seolah seperti istirahat. Tak hanya itu, ketika jalan-jalan banyak hal yang kita jumpai disana dan itu bisa menjadi alat atau media untuk belajar juga.

Kemarin (26/05) tanpa disengaja saya menjumpai teman yang sedang asyik nonton film. Ketika itu saya pun ikut menyaksikan film tersebut, tetapi hanya beberapa menit saja. Dirasa film itu menarik dan mengundang "emosi" untuk ditonton, maka saya pun berjanji pada sang teman untuk meminta filenya paska urusan saya selesai.

Usai sholat Isya saya pun mendatangi kamarnya dan meminta file film tersebut. Malam itu pula saya menontonnya sendirian, saya pun terbawa emosi dan mulai tertarik dengan film tersebut. Film yang berdurasi 20 episode itu saya selesaikan dalam waktu dua hari. Lumayan menguras emosi dan banyak hal yang saya dapatkan dari film tersebut. Terutama tentang pelajaran bagaimana menjalani hidup ini.

Meskipun hanya sebuah film, nilai-nilai yang saya tangkap justru lebih besar. Ada berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar pelajaran yang bisa diambil dari kisah yang fiktif tersebut. Kelak makna itu akan kita rasakan dan kita temukan ketika sudah menjalani hidup yang sesungguhnya. Kelak khidupan kita seperti apa dan bagaimana maka jalani saja... Intinya, terus belajar untuk jadi lebih baik dan jangan pernah merasa putus asa.

"Pengorbanan.." mungkin kata itu sangat cocok untuk menggambarkan film ini. Makna film itu bermuara pada satu titik di mana pengorbanan itulah kata kuncinya. Pengorbanan yang begitu besar, bahkan lebih berharga daripada nyawa sendiri.. Secara rasional, nyawa itu hanya kita miliki sekali dalam seumur hidup, tetapi pengorbanan itulah yang akhirnya menjadikan dirinya hidup untuk yang kedua kalinya.

Pernahkan kita berkorban untuk orang lain? berapa besar pengorbanan itu? apa yang kita rasakan jika pengorbanan tersebut tidak dihargai bahkan seolah tidak pernah dianggap? jika sudah demikian, apakah kita mau berkorban yang kedua, ketiga dan seterusnya? atau malah berhenti sampai disitu?.... Pengorbanan tanpa batas itulah yang saya temukan dalam film ini.

Tak perduli berapa kalikah pengorbanan itu, tak mesti ia tahu pengorbanan yang sudah dilakukan. Teruslah berkorban dan berkorban...

Kang Ma Roo itulah nama laki-laki yang berkorban demi seorang perempuan pujaanya. Ia rela menghancurkan masa depannya sendiri demi orang lain. Tetapi setelah ia keluar dari penjara, justru perempuan yang selama ini diidamkannya malah berpaling ke lelaki lain. Lelaki itu pemilik perusahaan besar.

Di sinilah ia merasa pengorbanannya selama ini tidak pernah ada. Apa yang ia lakukan selama ini ternyata hanya permainan. Ia telah dimanfaatkan oleh perempuan itu. Kini ia bersiap untuk membalas dendam dan menyadarkan Si Perempuan jalang itu.

Korban film korea, tadinya
mau cari film yang lain.

Pukul 07.00 pagi suara motor khas Pak Gino sudah terdengar. Sontak saya pun yang berada di kamar lantai dua, langsung berdiri dan mengejar ke arah datangnya suara motor tersebut. Di balkon atau teras [depan asrama] itulah biasa Pak Gino memarkirkan motor tahun 70 an. Dengan tablug (bakul khusus di belakang motor) khas warna hijau dikedua sisinya, yaitu untuk mengangkut dagangan yang Pak Gino bawa.

Tak tahu kapan mulainya Pak Gino sudah jualan seperti ini di asrama kami. Yang jelas kami sudha hafal betul dengan manu Pak Gino, kalau pagi hari kadang nasi goreng, opor, dan soto. Kalau sore hari atau menjelang malam hari yaitu nasi putih biasa beserta sayur, ikan, sate, telur dan ayam. Ada satu khas yang tidak bisa lepas dari Pak Gino, yaitu gorengan dan minuman tehnya.

Pagi ini, Pak Gino membawa opor khasnya. Beberapa teman pun datang menghampiri dan berkumpul disekeliling pak gino, siapa cepat dia dapat duluan, meskipun datangnya terakhir. Meski demikian, tetapi bila ada yang lebih duluan dan lebih senior, maka yang merasa junior tetap mempersilakan seniornya terlebih dahulu. Tapi ya tergantung orangnya juga, kadang ada yang ngerti kadang ada juga yang belum ngerti.. biasalah kehidupan namanya juga.

Telat sedikit bisa berabe, pasalnya pak gino hanya membawa beberapa mangkuk saja. Jadi ya kalau ingin mencicipinya harus dulu-duluan. Gak hanya itu, alasan malas keluarlah salah satunya. Sehingga banyak memilih Pak Gino sebagai solusi pengganjal perut yang lapar sementara.

Apapun makanannya minumnya ya teh Pak Gino.... slogan ini mungkin cocok buat Pak Gino. Rasa tehnya yang khas, dan manisnya yang pas, sehingga menurut saya teh Pak Gino lah yang terlezat saat ini. Saya pernah membandingkan rasa teh yang ada di angkringan dan burjo di sekitar atau di tempat yang saya kunjungi, tetapi rasanya tetap kalah jauh dengan rasa teh nya Pak Gino.

Ketika saya tanya langsung pada Pak Gino : Pak tehnya kok enak banget, pake merek apa emang pak?? Dengan gaya bicara yang khas, beliau menjawab :  Kami (maksudnya saya) hanya pake teh merk cap tang Mas.. di warung-warung juga banyak yang jual kok Mas.... mohon maaf, Mas nya mau buat juga atau gimana?......  Demikian potongan dialog kami waktu itu.

Terbukti sudah, meski dengan olahan sederhana, di tangan Pak Gino teh yang biasa itu begitu nikmat dan lezat bagi kami, khususnya saya pribadi.

Berdua semenjak di dalam perut ibu memang takdir kami. Memiliki wajah yang mirip, gaya bicaranya, bahkan postur badan pun sama. Kata orang, kami ini kembar identik, sehingga sangat sulit untuk dibedakan. Uwa atau budhe sampai sekarang tidak bisa membedakan kami, guru-guru sekolah pun sama. Mereka kesulitan untuk membedakan kami, karena kata mereka kami sulit dibedakan.

Malah kata teman-teman, kami ini berbeda. Wajah dan suara kami pun berbeda. Mungkin karena mereka sering bemain bersama dan bertemu setiap hari di sekolah, sehingga hafal dan dapat membedakan kami secara detail. Menurut beberapa teman, salah satu muka kami ada yang oval dan satu lagi lancip. Tetapi sebaliknya ada juga yang mengatakan bahwa muka salah satunya lancip, sedangkan satunya lagi oval.

Ada juga yang bilang kalau kakaknya lebih kecil dari adiknya. Tapi ada yang bilang juga malah adiknya yang lebih kecil dari kakaknya, manakah yang bener?? Itu semua penilaian orang lain dan kami sendiri tidak bisa membenarkannya. Setiap orang punya pengamatan yang berbeda, dan penilaian yang berbeda pula terhadap orang lain.

Untung dan Ruginya
Menjadi anak kembar memang salah satunya adalah menguntungkan. Kemana-mana selalu berdua tanpa harus membutuhkan teman yang lain. Apalagi ketika jalan-jalan malam hari, karena berdua malam yang gelap pun bukanlah hal yang menakutkan. Banyak keuntungan yang tidak disebutkan satu persatunya deh, pokoknya banyak buangetttt.

Jika tadi ngomongin untung, maka sekarang kita ngomongin ruginya, atau gak enaknya. Ruginya  jadi anak kembar itu ya kayak gini... harusnya dapat jatah satu eh malah dapat setengah, karena harus dibagi berdua. Kalau gak dibagi yang ada malah nanti berantem, dan ini tidak bisa terhindarkan dimasa kecil kami. Mungkin jika orang tuanya mampu (kaya) pastilah gak akan pernah merasakan yang seperti ini, gak akan ribut gara-gara hal sepele. Inilah resiko jadi anak kembar yang berasal dari orang pas-pasan.

Kalau orang tuanya kaya, apapun bisa terpenuhi. Kebutuhan gizi, pakaian, sekolah, jajan dan sebagainya. Kebutuhan apapun tinggal ambil dan tinggal bilang. Tetapi apa yang kami rasakan justru tidak demikian, semuanya butuh pengorbanan dan usaha yang keras. Misalnya, untuk membiayai pendidikan ke perguruan tinggi perjalanannya saja sangat berliku. Maklum saja orang tua kami tidak mampu untuk membiayainya. Tetapi alhamdulillah, dengan keinginan yang kuat akhirnya jalan itu terbuka lebar.

Hubungan Batin Si Kembar
Banyak yang bilang jika hubungan anak kembar dengan kembarannya itu sangat dekat dan erat. Jika satunya sakit maka kembarannya ikut sakit juga. Padahal, yang saya rasakan ketika salah satu dari kami ada yang sakit ya biasa saja. Tidak ada yang namanya hubungan batin atu semacamnya. Semuanya bisa saja, bahkan tidak ada firasat atau apapun yang kami alami. Kalau salah satu dari kami sakit, ya sakit saja. Gak pernah ada sampai ikut-ikutan sakit segala. Mungkin itu mah lebay aja kali.. HEHEHHHEHE

Yang kami alami semenjak kecil hingga saat ini tak ada perasaan giman-gimana, semuanya normal seperti biasanya. Jika hubungan batin dengan ini mungkin iya, saya bukan sekali dua kali merasakan hal itu. Ketika sedang sendiri, perasaan saya kok inget rumah terus, kok inget ibu terus. Ternyata pas dicek ke rumah, ternyata beneran... ibu sedang sakit. Bahkan sebaliknya, ibu kok tiba-tiba telepon dari rumah, ternyata ibu tahu jika saya sedang sakit.

Sejauh ini, meski kami dari Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah, bahkan tinggal di pesanteren bareng hubungan batin itu gak pernah ada. Adapun yang sering dibilang oleh kebanyakan teman-teman ataupun orang lain, menurut saya itu hanyalah pengaruh tontonan televisi belaka. Adapun jika sakit atau jatuh berbarengan di lain tempat, itu hanyalah kebetulan (sebagai anak kembar yang kata orang kembar identik, kami belum pernah mengalaminya).

*tulisan ini diposting di blog : kembarqueen.com

Salam kenal untuk pembaca dari kami
Amir Hamzah & Tajul Arifin


Setiap pendidikan yang ada di wilayah atau daerah tertentu pasti memiliki perbedaan. Mulai dari kualitas, mutu, manajemen dan kualitas guru itu sendiri. Pendidikan yang ada di kota pasti lebih baik dibandingkan dengan yang ada di daerah pedesaan atau jauh dari kota. Apalagi antara sekolah yang berlabel negri dengan sekolah yang hanya berlabel swasta. Perbedaan tersebut pasti sangat mencolok, dan kedua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Jika standarisasi ujian nasional (UN) dijadikan sebagai nilai kelulusan bagi lembaga sekolah, hal ini sangat tidak sesuai dan terkesan memaksa. Perbedaan pendidikan tidak bisa seenaknya sisamakan, lebih-lebih diukur dengan standarisasi yang belum jelas arahnya. Maka, tidak bisa begitu saja memutuskan kelulusan siswa. Pasalanya sudah jelas, pendidikan di Negara kita ini berbeda dan tidak bisa disamakan.

Sekloah yang bagus kualitas gurunya tentu akan menghasilkan murid-murid yang bagus pula, akan tetapi jika sekolah yang hanya memiliki kualitas gurunya standar tentulah menghasilkan murid yang standar pula. Hal ini bisa dibuktikan dengan bagaimana mereka mengerjakan soal UN yang dibuat oleh diknas.

Guru yang ada di desa dengan yang ada di kota sangat jauh perbedaanya. Guru yang di kota mereka bisa mengakses soal-soal yang terbaru, dan dipredikisi akan keluar di ujian Nasional. Tetapi jika guru yang ada di desa mereka hanya mengandalkan buku-buku ujian nasional yang belum tentu ada di soal UN. Sebetulnya masalah mereka hanya satu, yaitu tidak cukup biaya untuk memiliki soal-soal yang terbaru.

Masalah yang demikan harus menjadi acuan dan menjadi evaluasi terhadap standarisasi UN, dalam menentukan kelulusan siswa. Saya lebih sepakat jika ujian nasional hanya sebagai standarisasi antar sekolah yang ada di Indonesia, bukan standar kelulusan siswa.

Standarisasi sekolah yang dimaksudkan adalah hanya merupakan evaluasi sekolah-sekolah yang ada di seluruh Indonesia, jika hasil UN mereka jeblog atau tidak memuaskan maka yang harus di cari adalah ada maslah apa dengan sekolah tersebut. Jika kekurangan guru yang berkualitas, maka pemerinah mengirimkan guru yang berkualitas tersebut ke sekolah yang bersangkutan. Jika manajemennya kurang baik, maka pemerinah memberikan pelatihan kepada sekolah tersebut, khususnya untuk para guru agar mampu  menerapkan manajemen yang baik.

Perlu dipahami dan dihayati bahwa pendidikan bukan sesuatu hal yang bisa begitu saja terlihat hasilnya, melainkan butuh waktu yang lama. Oleh sebab itu maka pendidikan harus di evaluasi dan dirancang sedemikan rupa untuk mampu menghasilkan pendidikan yang mampu bersaing dengan dunia luar dan dunia kerja. Tujuan dari standarisasi ini memang baik, tetapi butuh proses yang lama dan harus mengalami perubahan lagi. Agar lebih efisien dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat luas.

Inti dari pendidikan adalah bagaimana menciptakan manusia yang mampu bersaing dengan negara lain. Harapan ini dapat terwujud bilamana semua konsep pendidkan dijalankan dengan benar dan diterima oleh semua masyarakat dengan nilai kejujuran dan nilai kewajiaban yang melekat dalam hati mereka. Sehingga memahami betul makna dari standarisasi tersebut seperti apa dan arahnya kemana.

Kultur Budaya
Budaya mencontek dan plagiat memang sudah bukan rahasia, tetapi sudah menjadi hal yang biasa. Ujian Nasional menjadi ternodai dengan maraknya pemberi kunci jawaban yang diragukan keabsahannya dan ini menjadikan siswa enggan belajar serta mengandalkan bantuan kunci jawaban tersebut. Padahal kunci jawaban tersebut belum tentu kebenarannya. Kunci jawaban tersebut, siswa peroleh dari seseorang yang tidak jelas. Bahkan mereka ada yang sampai mengumpulkan uang untuk membeli kunci jawaban tersebut. Satu mata pelajaran berfariasi harganaya, biasanya ada yang 1 sampai 2 juta. Merekapun terpaksa iuran satu kelas untuk dapat kunci jawaban tersebut, harapan mereka hanya satu yaitu bisa lulus UN.

Saat ini ditambah lagi dengan pihak sekolah yang menjadi penolong, pasalanya kepala sekolah tidak mau nama baiak sekolahnya tercoreng gara-gara tidak ada yang lulus UN dari salah satu muridnya. Sehingga sekolah tersebut berusaha meluluskan siswa-siswanya dengan jalan apapaun. Demi kebaikan bersama, dan tidak menimbulkan  tindakan yang seharusnya tidak dilakukan, maka saya sepakat jika UN lebih baik dihapuskan saja. Buat apa jika hanya memperparah perilaku lembaga sekolah, dan mencoreng nama pendidikan. Walaupun sebetulnya cara mensiasati UN itu yang salah, bukan kesalahan di system UN-nya. Lagi-lagi ini merupakan sebuah budaya, hal ini sangat sulit untuk dibasmi ataupun dihilangkan secara cepat, melainkan butuh proses yang lama.

Saya menyatakan bahwa adanya perbedaan di setiap sekolah itu harus diakui, karena hal itu wajar, karena secara tinjauan psikologis, sosiologis, dan geografis semuanya berbeda, dan tak akan mungkin sama. Pendidikan jika ingin diubah maka harus pelan-pelan, toh perubahan itu butuh proses. Jika perubahan ngotot dilakukan, maka konsekuensinya adalah penyelewengan-penyelewengan dalam dunia pendidikan tidak mungkin bisa terelakkan. Pasalnya pihak sekolah tidak menginginkan hanya gara-gara UN, nama baik sekolah mereka tercoreng.

Miskin Keteladanan
Bangsa yang besar adalah yang menghargai para pahlawan nya. Saat ini jangankan menghargai para pahlawan bangsa, mengenal namanya saja tidak. Jika ingin bukti, bisa ditanyakan langsung kepada siswa salah satu sekolah terkait masalah ini. Diperparah lagi  dengan “keteladan pemimpin” negri ini yang mengatasnamakan rakyat, demi kepentingan pribadi dan golongannya. Sehingga dengan “keteladanannya” ia memeras, menindas, menyiksa, dan memakan uang rakyat, sungguh biadab.

Pepatah yang sering kita ungkapkan “guru kencing berdiri murid kencing berlairi” kini pepatah itu telah berubah, menjadi “guru kencing berlari murid mengencingi guru.” Inilah yang terjadi saat ini. Alasan yang mandasarinya adalah karena guru saat ini miskin keteladanan, sehingga siswa tidak lagi meghormati guru melainkan menjadi musuhnya disekolah.

Guru tak lagi digugu dan ditiru, melainkan menjadi sosok yang hanya pekerja kantor yang libur setiap hari sabtu dan minggu. Proses pendidikan di kelas sangat lemah, bahkan hanya ala kadarnya saja. Guru hanya memerintahkan siswa untuk mencatat dan membaca, begitulah setiap harinya. Jika seperti itu terus, kapan siswa memperoleh transfer of value dari seorang guru pengajarnya??...

Epilog
Peran seorang guru tidak bisa dipisahkan dari setiap murid atau siswanya. Gurulah yang berperan besar dalam dunia pendidikan, dari sekolah TK, SD, SLTP, SLTA dan Kuliah. Tanpa peran guru tidak mungkin siswa bisa menjadi pintar, dan mampu mengusir kegelapan yang ada di dalam hidupnya. Pepetah mengatakan “belajar tanpa guru bisa menjadi sesat” disinilah arti pentingnya seorang guru. Guru yang baik adalah mereka yang memberikan keteladanan bagi murid atau siswanya, bahkan mereka bisa menjadikan guru sebagai orang tua yang kedua setelah ibu dan bapak mereka.

Seorang guru harus bisa menempatkan diri mereka sebagai kakak, teman, guru, dan orang tua. Empat keperibadian ini, jika diterapkan dalam keseharian guru dan melekat pada seorang guru, pastilah siswa akan menghormati, menyenangi dan menyukainya.  Saya meyakini empat kepribadian tadi, sudah mewakili dari kompetensi dasar seorang pendidik.

Negri ini butuh pahlawan tanpa jasa (guru) yang mampu menanggulangi bobroknya moral negri ini. Sehingga dengan sentuhan-sentuhan pendidikan yang ia ajarkan kepada murid/siswanya mampu menjadikan mereka orang-orang yang besar, berkarakter, berkepribadian baik, dan bermoral. Hingga pada akhirnya membawa negri ini keluar dari broken country.

Ridha berasal dari kata radhiya (fi'il madhi) - yardha (fi'il mudhor'i) yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam, yaitu: ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu'ah Al-Islamiyyah Al-'Ammah: 698) . Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya,
 '' ..Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.'' (QS 98: 8).
Sedangkan menurut Ustadz Muhamad Roy, MA. selaku pemimpin Pondok Pesantren UII atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Pondok Pesantren Ashabul Kahfi; beliau mengatakan bahwa ridha adalah perasaan senang ketika mendapakan musibah atau pun kesenangan. Jadi antara musibah dengan kenikmatan sama saja, tidak ada bedannya bagi orang yang betul-betul memiliki sikap ridha ini.

Ridha tidak sama dengan pasrah. Ridha cenderung menjadikan manusia aktif, sedangkan pasrah sebaliknya; yaitu pasif. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. artianya kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman :
 ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).
Lain halnya dengan pasrah, karena pasrah itu cenderung tidak ada usaha sama sekali dengan apa yang telah ia terima dari sang pencipta.

Ridha itu adalah derajat yang paling tinggi dibandingkan dengan sabar, tawadhu, dan lain sebagainya. Seperti apa yang disebutkan oleh Abu Nashr As-Sarraj, ada tujuh tingkatan maqam yaitu: tubat, wara’, zuhud, faqru, shabr, tawakal, dan ridha. Alangkah sangat jauhnya tingkatan ridha tersebut, sehingga tidak mudah memiliki sikap ridha yang sesungguhnya. Kadang mulut yang mengatakan ridha, akan tetapi hati sebetulnya masih gondok atau marah dan masih ada rasa tidak senang.

Tingkatan Ridha
Pertama, tidak hubb ad-dunya (cinta dunia). Cinta dunia atau cinta kepada sesuatu hal yang bersifat keduniaan (hubbubdunya) merupakan penyakit setiap manusia yang berpikir pendek.  Sedangkan orang yang berpikir panjang ia akan meninggalkan jauh-jauh sifat ini, karena hidup ini hanyalah singkat dan tidak lama. Dengan demikian ia berpikir unuk mencari sesuau hal yang kekal dan menjalani urusan keduniaanya dengan sewajarnya saja. 

Kedua, Khusnudzon (berbaiksangka) kepada Allah. Apapun yang diberikan allah kepada dirinya, entah itu ujian yang berupa kesengsaraan aaupun kesenangan akan ia terima dengan ungkapan syukur. Baginya apapun cobaan yang datang akan diterima dengan lapang dada karena semuanya sudah kehendak allah den segala musibah yang dibebankan kepada hambanya yaitu dengan kesanggupan hamba tersebut.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...... (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
Ketiga, Ihklas. Orang yang ikhlas (muhlis) tidak biasanya tidak neko-neko dan bersikap apa adanya. Ia tidak menimbang sesatu secara berlebihan, walaupun perbuatan tersebut merugikan dirinya dan membahayakan dirinya. Menurut dekan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Drs. H. Dadan Mutaqien, SH. MHum., “jika kita ingin mengalahakan syetan maka syaratnya adalah kita harus memiliki sifat ikhlas dengan segala sesuatu hal, dengan demikian syetan akan merasa terkalahkan dan tidak lagi mampu menggoda manusia”. Ikhlas yaitu hanya mengharapkan  balasan allah tidak dari yang lain.

Sedangkan menurut Bapak Junaidi, MA. selaku dosen pengampu mata kuliah tasawuf. Beliau mengatakan bahwa ikhlas dan sabar merupakan tingkatan tertinggi dalam ilmu tasawuf. Ikhlas adalah menerima semua pemeberian dari Allah swt. (yang enak maupun tidak enak) sedangkan sabar adalah menyadari akan prosesnya. Allahu'alam []
*Prolog Makalah Filsafat Akhlaq
Saya ingat betul kala pertama kali tiba di Kota Gudeg, Yogyakarta. Padahal, tak ada sanak famili disana, yang saya punya hanya satu orang saja waktu itu. Itupun hanya kakak kelas di bangku Aliyah dulu. Teh Syifa, begitulah biasa saya sapa beliau. Teh Syifa adalah orang yang paling berjasa dalam hidup saya. Tanpa ada bantuan, saran dan petunjuk dari beliau, tidak mungkin saya tahu dan menginjakan kaki di kota Gudeg hingga detik ini.

Hari itu, tanggal 25 Mei 2009. Saya memberanikan diri untuk berhijrah dan berniat untuk menuntut ilmu di sana. Walau pun orang tua kala itu (sehari sebelum keberangkatan) tidak mengizinkan dan bersikukuh untuk mencegah saya berangkat. Alhamdulillah dengan usaha yang gigih akhirnya saya dapat meyakinkan orang tua (teutama ibu) untuk “melepaskan” anak kesayangannya.

Berangkat dari Terminal Grogol – Jakarta Barat dengan menggunakan Bis Handoyo kelas ekonomi (waktu itu Rp. 90.000,-) dan berangkat pukul 17.00 membuat saya merasa begitu was-was. Pasalnya ini adalah perjalanan pertama dalam hidup saya yang paling jauh. Dulu, perjalanan paling jauh saya cuma dari Serang ke Jakarta Barat. Itu pun kalau di hitung jarak tempuhnya hanya sekitar 3-4 jam saja.

Ketika saya memutuskan untuk berangkat ke Jogja dengan jarak tempuh sekitar 11-12 jam itu merupakan perjalanan yanh cukup berat. Pertama, saya tidak tahu daerah Jogja. Kedua, hanya secarik alamat yang pernah Teh Syifa dulu berikan untuk saya simpan. Ketiga, pengalaman saya dalam bepergian sangat minim, bahkan boleh dibilang say ini wong ndeso.

Pengalaman yang paling mengerikan waktu itu adalah saya dipindahkan dari Bis Handoyo ke bis yang lain. Padahal malam itu hujan lebat dan sangat dingin. Dengan sangat terpaksa saya pun pindah bis. Sempat ingin marah, tetapi saya sadar harus marah pada siapa. Akhirnya saya pun mengirimkan SMS ke Teh Syifa hanya sekedar menyampaikan bahwa saya dipindah untuk ganti bis. Walau pun pada waktu itu sudah pukul 02.00, saya tetap memberanikan diri untuk SMS ke Teh Syifa, saya tahu bahwa Teh Syifa sedang istirahat kala itu.

Rasa ketakutan itu terobati ketika sudah tiba di kota Yogyakarta yang sejuk dan campur dingin juga. Saya tiba di terminal Jombor dan meminta Teh Syifa untuk menjemput. Setelah mendapat saran dari Teh Syifa, saya pun disarankan supaya menunggu di perempatan Jalan Kaliurang km 4,5 (Kentungan). Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Teh Syifa pun tiba. Kami pun langusng melaju ke tempat dimana Teh Syifa tinggal.

Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya motor yang kami tumpangi tiba di depan sala satu mesjid yang berkubah emas. Mungkin mirip mesjid Dian Almahri seperti yang ada di Depok. Ternyata mesjid itu bernama Mesjid Ulil Albab. Mesjid yang terletak di lingkungan kampus Universitas Islam Indonesia –Yogyakarta, berarti mesjid yang besar dan megah itu milik kampus. Berarti, Teh Syifa adalah salah satu takmiroh (pengurus mesjid) kampus tersebut.

Di takmir itulah saya dikenalkan dengan teman-teman baru. Banyak teman  yang saya kenal disana. Terutama yang paling dekat kala itu adalah Ali Syamsudin, atau lebih tenar dengan panggilan Iim atau Im. Kawan baru saya ini berasal dari daerah NTT lebih tepatnya dari  Waingapu. Dengan logat dan gayanya yang khas, pertama kali jumpa dengannya, saya dibuat ingin tertawa terus. Tetapi lama kelamaan semuanya jadi biasa. Hingga kami pun menjadi lebih akrab dan saling mengenal satu sama lain. Kini Ali, (bisa saya sapa) kuliah di Fakultas Ekonomi dengan jurusan Manajemen dan saat ini sedang mengerjakan tugas akhirnya. Semoga kita sukses....

Terima kasih Teh Syifa... terima kasih Tekmir Ulil Albab....


Sabtu (18/05/2013) saya jadi pemandu pesantrenisasi pra kuliah kerja nyata (KKN). Ini adalah tugas saya yang kesekian kalinya. Sebab saya tidak dapat menghitung berapa kali memandu mereka. Dari berbagai fakutltas sudah saya rasakan. Pada hari ini justru ada perbedaan, jika kemarin seluruh peserta wajib menginap di rusunawa, tetapi kali ini tidak.

Lebih ringan dan lembih mudah memang. Tetapi dari segi efektivitasnya tentu malah berkurang. Dengan menginap tentu ada materi tambahan, yaitu materi tentang membaca alquran, tajwid dan makhorijul hurufnya. Hari ini materi itu dihilangkan, sehingga kemampuan mahasiswa dalam pengetahuan Al-Qur’an bagi yang mengikuti pesanterenisasi tidak diketahui.

Inilah perbedaan antara kampus Universitas Islam Indonesia (UII) dengan kampus yang lain. Ada beberapa tahap pesanterenisasi yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa UII. Pertama adalah Orientasi Nilai-nilai Dasar Islam (ONDI). Tujuan ondi adalah untuk mengkelasifikasikan kemampuan keislaman mahasiswa UII menjadi tiga kategori, dasar, menengah dan lanjut.

Kelas dasar yaitu bagi mahasiswa yang pengetahuan agamanya sangat lemah. Ada beberapa indikator yang sudah menjadi aturan baku didalamnya. Kelas menengah adalah kelas yang diperuntukan bagi mahasiswa yang pengetahuan keislamannya masih dibawah lanjut. Sedangkan untuk kelas lanjut yaitu mahasiswa yang memiliki pengetahuan agama labih. Mengerti hukum-hukum, dail – dalinya serta kemampuan ilmu Al-Quran di atas rata-rata (bisa mengajarkan kepada yang lain).

Kedua, adalah Latihan Kepemimpinan Islam Dasar  (LKID). Tujuannya adalah bagaimana mahasiswa mampu menjadi pemimpin yang betul-betul ideal, tidak hanya kuat secara keilmuan tetapi kuat secara spiritual.  Ketiga, pesantrenisasi pembekalan khusus bagi mahasiswa. Sehingga mereka wajib menginap selama waktu yang telah ditentukan.

Keempat  adalah pesanternisasi pra kuliah kerja nyata (KKN). Tujuan dari pesantren ini adalah membekali pengetahuan keislaman bagi mahasiswa yang akan berangkat KKN. Karena akan berbaur dengan masyarakat, mahasiswa dituntut untuk mampu membawa cirinya sebagai mahasiswa islam.

Materi Pesantrenisasi
Ada delapan materi yang menjadi pokok pelajaran mahasiswa dalam pseanteren kali ini. Akhlak bermasyarakat, manajeman Mesjid dan TPA, Kesiapan menjadi imam, muadzin dan memimpin doa, Kesiapan menjadi kahtib dan penceramah, Persiapan menjadi MC dan Moderator, Hisab penentuan arah kiblat, dan yang terakhir adalah perawatan jenazah.

Delapan materi ini sekiranya sangat dibutuhkan ketika berada di masyarakat. Sehingga ketika mahasiswa berada di masyarakat dan disuruh untuk melaksanakan salah satunya tidak kaget dan justru yang diharapkan adalah mahasiswa sudah siap. Sekali lagi, inilah salah satu kelebihan UII dibandingkan dengan kampus yang lain.

Ada yang memandang bahwa pengukuran arah kiblat itu tidak penting. Tetapi perlu saya sampaikan bahwa justru dengan ilmu inilah kita bisa mengukur arah kiblat secara tepat. Bayankan saja ketika anda KKN ada mesjid yang arah kiblatnya melenceng. Apa lantas kita yang tahu terus diam saja, dan membiarkannya?? Sebagai orang yang tahu maka tugasnya adalah memberi tahu. Selain itu di daerah Yogyakarta sekitar enam puluh persen arah kiblat mesjidnya masih melenceng empat belas derajat.

Mempelajari arah kiblat dengan menggunakan alat yang khusus justru lebih mudah. Tetapi dengan menggunakan bantuan matahari juga bisa. Hanya saja butuh software yang sederhana untuk menentukan kapan dan jam berapa matahari berada tepat di atas kabah. Jika kita satu derajat saja melenceng dari arah kiblat maka kira-kira sudah sekitar 111 km jauh melencengnya. [zah]


“Selamat pensiun....” ungkapan itu saya persembahkan kepada Opa Fergie yang sudah sukses bersama Manchester United. Banyak yang bilang jika Opa adalah pelatih tersukses. Saya tidak menapikan kesuksesan Sir Alex Ferguson di Old Trafford. Sudah banyak gelar yang dipersembahkan bagi MU dari tahun 1986. Kini masa itu telah tiba, masa dimana Opa harus pensiun dan mengenang semua perjuangan yang telah lampau dengan Setan Merah.

Satu hal yang saya sukai dari Opa. Opa selalu mengkritik pemain-pemain supaya bisa tampil lebih baik. Tak hanya itu, Opa juga mampu memoles pemain-pemain muda menjadi pemain berbakat. Salah satu contoh adalah Christiano Ronaldo. Menjadi pengganti pemain hebat seperti David Beckam tak mudah, tetapi dengan motivasi yang kuat, akhirnya CR7 sebutan Ronaldo mampu menjelma menjadi pemain luar biasa bahkan melebihi David Beckam.

Memenangi beberapa pertandingan disegala ajang pernah Opa buktikan, dan itu merupakan pencapaian yang sangat fantastik bagi saya. Semoga pencapaian yang luar biasa ini dapat diikuti oleh pengganti Opa. Semoga Setan Merah tetap konsisten berada di zona atas dan menunjukan kelasnya sebagai penguasa di negri Elisabeth.

Ucapan selamat jalan yang kedua saya persembahkan kepada salah seorang sahabat, semoga sampai ke tempat tujuan serta kembali dengan selamat... Itulah doa yang dapat saya persembahakan untuk kedua orang teman yang pada kesempatan ini diberikan lebih oleh Allah.

Teman yang pertama dari Fakultas MIPA yang bernama Miqdam Musawwa, yang berangkat umroh beserta keluarganya. Sedangkan teman yang kedua adalah teman satu fakultas, hanya saja beda jurusan yaitu Samsul Zakaria, ia akan berangkat ke negri jiran; Malayasia.

Semoga saya kelak bisa seperti mereka. Saya bisa pergi haji dan umroh dan juga sering bolak balik Malayasia, entah apapun kegiatannya. Semoga semuanya dapat saya rasakan dikemudain hari. Amiin.

"Dam, makasih ya atas oleh-oleh air zam-zamnya... Buat Samsul, jangan lupa juga oleh2nya.... hihihi..

Bulan April kemarin menyimpan banyak kenangan. Ada dua sosok yang fenomenal yang begitu menggelitik untuk di telisik lagi. Sekitar tanggal 18 April 2013 salah satu sosok yang luar biasa dengan karyanya yaitu Mbah Warson. Siapa yang tidak kenal dengan kamus Indonesia – Arab yang diberi nama Kamus Al- Munawwir.

Bagi pondok-pondok pesantren kamus tersebut begitu familiar setelah kamus Munjid, karangan orang non muslim. Ada yang mengatakan bahwa kamus Al-Munawwir merupakan kamus kritik bagi kamus Munjid yang begitu kental dengan ‘misionaris’. Salah satu contoh yang paling bisa disaksikan adalah tidak ada lafadz basmalah dalam kitab Munjid. Tak hanya itu, kosa kata tentang ketauhidan selalu disandarkan pada pemahaman Nasrani.

Kembali kepada topik awal, tepat seminggu setelah Mbah Warson wafat. Salah satu artis, penceramah, model, ikon, ustadz, tetapi saya lebih pas menyebutnya dengan sebutan penceramah, ia adalah Uje. Gayanya yang khas membuat dirinya diberikan gelar “Ustadz Gaul.” Beliau wafat karena kecelakaan dari sepeda motor dalam perjalanan menuju ke rumah.

Ada yang menarik dari Uje ini, sebelum meninggal ia sempat membuat firasat. Tetapi tak ada sau pun yang menangkap bahwa hal tersebut merupakan tanda-tanda perpisahan terakhir dengan orang-orang yang dicintainya. Uje sempat menuliskan kata-kata terakhirnya dalam twitter :

"Pada akhirnya.. Semua akan menemukan yg namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu.. Kembali adalah yg terbaik.. Kembali pada siapa..??? Kpd "DIA" pastinya.. Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut..”

Semoga keduanya berada disisi Allâh swt. Atas semua amal kebaikan yang pernah mereka lakukan semasa hidupnya. Semoga kelak kita semua kembali kepada Allah dengan khusnul khotimah. Amin.

Inilah kematian, kita tidak pernah tahu kapan akan datang menghampiri. Hari ini, esok, lusa, minggu depan atau bahkan bulan depan, sekali lagi kita tidak tahu semua itu. Untuk itu maka perbanyaklah amal shaleh untuk bekal nanti. Karena hanya dengan bekal itulah kita akan selamat dari semua siksaan Allâh swt.

Setiap diri yang bernyawa akan menemui kematian. Manusia tidak ada yang bisa lari dari yang namanya mati. Dimana pun bersembunyi tetap saja kematian itu akan mendatangi kita. “Dimana pun kamu berada, kelak kematian akan menemukan mu. Meskipun kamu bersembunyi di benteng yang sangat kokoh.... ” ayat lain menjelaskan bahwa “Apabila ajal seseorang sudah tiba, maka ia tak mampu menundanya maupun mempercepatnya....”

Untuk itu jelas sudah, bahwa cukuplah kematian sebagai nasihat bagi yang hidup. Tak ada yang perlu dibangggakan dalam hidup ini, karena semuanya tidak akan dibawa mati. Duni hanyalah tempat persinggahan sementara, sedangkan tempat yang baik dan lagi abadi adalah akhirat. “Dan alam akhirat adalah tempat yang paling baik lagi abadi.” wallâhu ‘alam []


Meski sudah dibilang angkatan tua, 2009 tidak mau kalah dalam pertandingan futsal antar angkatan  (12/05) di Ponpes UII. Dari lanjutan perlombaan Class Meeting kemarin, angkatan 2009 tetap tampil ngotot dan berjuang keras untuk menjadi juara. Akhirnya semua itu terbukti. Dengan skor tipis yaitu 1 – 0 sudah cukup bagi angkatan 2009 untuk menyingkirkan lawan dan akhirnya resmi menjadi juara 1.

Tampil dengan skuad terbaiknya angkatan 2009 beberapa kali mengancam pertahanan angatan 2010. Hanya saja arah bola masih menghantam tiang dan tipis di atas mistar gawang. Beberapa peluang itu diciptakan dari permainan apik angkatan 2009.

Kali ini kombinasi yang dipasang angkatan 2009 cukup berbeda. Memasang saudara Syaifulloh Yusuf sebagai striker dan pemain sayap saudara Udin Paul dan Samsul Zakaria. Sedangkan dilini belakang atau bek yaitu masih sama, saudara Ady Guswady dan Ahmad Zaini Aziz. Alhasil lumayan efektif dan mampu mengimbangi gempuran angkatan 2010.

Dari kubu lawan (angkatan 2010) rupanya tidak menurunkan skuad pemain terbaiknya. Sehingga Habib Zen dan Fadhal Fazri kewalahan dalam menyuplai bola ke depan. Beberpa kali mengancam pertahanan 2009, tetapi masih bisa digagalkan oleh para pemain 2009. Walaupun demikian kedua tim bermain cukup baik.

Jalannya Pertandingan
Dengan diwasiti oleh saudara Latif angkatan 2011. Baru beberapa menit pertandingan berjalan, bola mengenai tangan pemain angkatan 2009. Seketika itu lawan berteriak “final sit...” dengan berjaran ke arah kejadian, lalu wasit meniup peluit dan mengatakan final. Sontak angkatan 2009 tidak terima keputusan itu. “lho final dari mana..?? orang jauh gitu kok.. terus orang gak ada garisnnya juga...” Masalah itu akhirnya bisa selesai. Tak ada final, tetapi hanya sebagai pelanggaran.

Pemain belakang 2009 berjibaku dan harus rela jatuh di atas tanah yang bercampur dengan batu-batu krikil. Pertahanan belakang yang dijaga Aziz  dan Ady cukup rawan, tetapi dengan disiplin yang baik serangan 2010 dapat mereka patahkan. Sehingga lawan tidak banyak menciptakan peluang dan membahayakan lini belakang.

Dalam pertandingan sore ini, kedau kubu bermain cukup ngotot. Beberapa peluang lebih banyak diciptakan oleh angkatan 2009. Tendangan jarak jauh saudara Samsul Zakaria masih mengenai tiang gawang. Tak mau kalah, tendangan saudara Syaifulloh Yusuf tipis berada di atas mistar gawang. Permainan dibabak pertama harus berakhir dengan skor kacamata.

Setelah babak pertama selesai saudara Amir Hamzah langsung masuk untuk menggantikan saudara Ady Guswady yang cedera. Pada babak kedua angkatan 2009 tidak mengendurkan serangan. Akhinya kebuntuan itu pun terpecahkan melalui gol semata wayangnya Syaifulloh Yusuf. Kedudukan pun kini berubah menjadi 1 – 0. Meski telah unggul, angkatan 2009 tidak lantas bermain dengan formasi bertahan. Serangan demi serangan tetap kami lancarkan.

Menggantikan saudara Ady Guswady peran seorang Amir Hamzah dilini belakang cukup besar. Dengan dibantu beberapa pemain yang agak turun, beban itu menjadi agak ringan. Beberapa  serangan balik dari lawan akhirnya dapat digagalkan. Tak satu pun gol yang mampu lawan ciptakan hingga peluit babak kedua dibunyikan.

Akhinya dengan kemenangan tipis 1 – 0 mampu mengantarkan angkatan 2009 menjadi juara lomba futsal sore tadi dalam perlombaan Class Meeting OSPP UII tahun 2013.

Susunan pemain  angkatan 2009 :
Ady Guswady, Samsul Zakaria, Syaifulloh Yusuf, Ahmad Zaini Aziz, Udin Paul dan AMIR Hamzah (masuk babak kedua menggantikan Ady).

Susunan pemain Angkatan 2010 :
Ahmad Syaroni, Miftahul Ulum, M. Iqbal Zen, Fdhal Fazri, dan Ahmad Said.


Acara Class Meeting yang diselenggarakan Divisi Olah Raga OSPP (Organisasi Santri Pondok Pesantern) UII Yogyakarta berjalan cukup baik. Perlombaan yang pertama adalah lomba futsal. Bermain di lapangan berdebu alias depan asrama pondok pesantren tak menciutkan angkatan 2009. Kami (2009) turun pada league kedua, setelah pertandingan angkatan 2010 melawan 2012 (11/05).

Sore itu kami bertanding melawan angkatan 2008, mas Ahmad Muflihin dan Cs. Tetapi karena angkatan 2008 tidak hadir, dan hanya ada beberapa saja maka terpaksa kami dinyatakan juaranya. Dengan kata lain angkatan 2008 di diskualifikasi. Untuk itu kami bertanding melawan angkatan 2011.

Jalannya Pertandingan
Dengan kombinasi pemain yang lumayan apik, angkatan 2009 meladeni permainan 2010. Dengan memasang saudara Udin Paul sebagai striker rupanya tak sia-sia, dua gol dipersembahaknnya untuk  angkatan 2009. Satu gol lagi dipersembahkan oleh saudara Zaini Aziz, yang sering disandingkan  dengan Hernadez, striker klub Manchester United.

Gawang 2009 bukan sepi dari teror dan bombardir pihak lawan. Hanya saja, pertahanan yang dilakukan oleh saudara Ady Guswady begitu kokoh. Sehingga tak ayal serangan lawan sering kali kandas. Sedangkan saudara Amir Hamzah bekerja sebagai penyerang sayap, dan menymbang beberapa asis pada pertandingan kala itu.

Pada babak pertama, kami unggul 2 gol tanpa balas. Dengan diwasiti saudara Fadhal Fazri laga babak kedua semakin seru. Alih-alih ingin membalas ketertinggalan, angkatan 2011 malah kebobolan untuk ketiga kalinya. Tendangan saudara Ahmad Zaini Aziz tak mampu dibendung bek lawan, bola pun masuk lewat sela-sela kaki, dan masuk tepat kearah gawang.

Hingga peluit babak kedua dibunyikan tak ada lagi gol yang tercipta. Angkatan harus puas dengan  kemenangan 3 - 0 atas angkatan 2011 tanpa balas. Dengan kemenagan ini, angkatan 2009 telah di tunggu adik angkatannya di babak final, yaitu oleh angkatan 2010.

“Ini modal yang cukup bagus bagi kami, semoga dengan kemenangan ini kami mampu tampil lebih baik lagi di laga final.. dan tentunya diperkuat lagi dengan hadirnya beberapa pemain berkelas kami...” kata Udin Paul. Memang pertandingan tadi sore tanpa diperkuat oleh Syaifulloh Yusuf dan Samsul Zakaria. Dua pemain ini terkenal dengan gocekan dan tendangan mautnya.

Orang yang bisa gitar katanya romantis... makanya saya ingin belajar. Tetapi saya sadar, ada beberapa hal yang saya dapatkan dari belajar gitar. Pertama yaitu belajar menuangkan perasaan melalui sebuah lagu. Apalagi ketika sumpek, galau, dilema, dan risau sangat tepat jika dituangkan kedalam bait-bait kata yang indah.

Selain itu, menurut ilmu psikologi, jika masalah itu kita pendam dalam hati maka yang timbul adalah penyakit. Jadi dengan seperti ini saya sudah berusaha keluar dari resiko terkena penyakit, mungkin ini gaya hidup sehat ala saya....

Oleh karenanya, masalah sebesar apapun jika dikeluarkan insya Allah gak jadi penyakit. Bisa jadi malah nanti ada yang ngasih solusinya. Oh iya bagi yang memiliki masalah sebaiknya jangan curhat di FB, karena tidak menyelesaikan masalah.... walau pun ada yang komentar, kadang komentarnya tidak menjawab permsalahan tetapi malah memperkeruh.

Lanjut ke masalah gitar. Kedua, melalui gitar saya belajar tentang mengsinkronkan dua hal, dalam hal ini yaitu musik dan lagu. Begitu juga dengan kehidupan ini, banyak yang bisa disingkronkan. Terlebih banyak hal yang menurut kita tidak sesuai atau tidak sepemikiran dengan yang kita harpakan.

Nah dari situ saya semakin mantap untuk belajar alat musik yang satu ini. Selain teman menghibur diri, gitar juga ternyata mampu mengajarkan makna ketenangan jiwa yang sedang bergejolak. Tentunya tak hanya disandarkan kepada alat musik semata, tetapi tujuan utamanya adalah kepada sang khaliq.

Salah seorang sufi yang terkenal dengan tariannya yang khas, Jalaludin Rumi menemukan bahwa dengan cara bersyair itu mampu mendekatkan dirinya kepada sang pencipta. Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik.

Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.[]


Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme