Ibu adalah sosok yang begitu sepesial dan paling saya rindukan. Ketika pulang ke rumah yang ingin saya temui dan orang yang pertama kali ingin saya jumpai adalah sosok ibu.

Kondisi ibu saat ini sudah tua, sama seperti di foto ini. Foto ini diambil kala liburan idul adha kemarin (tahun 2014). Kala itu, Tuti (keponakan) yang bertugas untuk menjepret saya dan Ibu.

Momen ini cukup langka dan jelas, ibu waktu itu tidak sadar kalau kami sedang mengambil gambarnya. Kalau tidak salah, di sebelah kiri ibu ada penjual pecel/gado-gado, Bi Sati biasa kami memanggilnya.

Kalau foto yang ini, foto Teh Juha. Kakak perempuan tepat di atas saya. Teh juha baru punya anak satu, Muhamad Zainal Anbiya (Jeje).

Keponakan saya baru dua, Dari kakak perempuan yang pertama dan perempuan yang kedua. Karena Tuti tidak punya adik, maka keponakan baru dua. Tetapi calon keponakan ketiga, yang sudah di depan mata yaitu Anaknya Ipin (Tajul Arifin) dan Imah (Sarnimah).


Semoga saja nanti proses persalinanya lancar dan tidak ada hambatan sama sekali. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi, kemarin sudah tujuh bulanan.

















---oOo---

Selepas tiba dari perjalanan pulang (mudik) dari Yogyakarta, kemudian mampir ke Jakarta dan menumpang tidur dan paginya perjalanan itu aku lanjutkan. Selepas shalat subuh mudik ke kampung halaman bersama kakak ipar, tentunya dengan mengendarai sepeda motor.

Kurang lebih tiga jam perjalanan. Dari kali deres sekitar pukul 06.00 pagi, sampai ke rumah pukul 08.00. setelah tiba dirumah dan ngajak main keponakan rasa capek itu timbul juga. Setelah itu rasa kantuk datang menyapa.

Terlelap di depan computer adik yang pentium empat setelah mengedit slide power point. Dalam mimpi terebut ada sesuatu keanehan. Awalnya aku bertemu dengan sosok ulama banten yang aku kagumi. Wajah mereka itu mirip dengan apa yang selama ini aku lihat di gambar-gambar.

Mereka datang ke mimpiku dengan sebuah perantara. Ketika itu aku sedang menata ruangan, dan banyak sekali hiasan dinding yang akan aku pasang. Karena saking banyaknya aku harus menata nya tiap dinding.

Keanehan itu terjadi kala hiasan dinding itu aku jauhkan, maka semuanya keadaan berubah menjadi sebelumnya (semua hiasan dinding tersebut belum terpasang semua). Semuanya kembali normal, dan aku harus memulainya dari awal.

Begitu seterusnya. Hingga capek dan putus asa. Karena proyek mendesain ruangan tersebut berada di rumah orang, maka aku putuskan untuk pulang dengan menaiki ojek. Kala ngobrol dengan tukang ojek, ternyata aku mendapat sebuah wejangan atau saran yang lumayan masuk akal dan itu solusi yang tepat.

Awalnya aku menceritakan apa yang ku alami kepada tukang ojek tersebut. Dengan santai tukang ojek ini memberikan tausiahnya. “Jangan pernah menyerah dan jangan pernah menggunakan cara-cara singkat yang tidak dibenarkan sesulit apapun” poin inilah yang aku ingat betul darinya. Pesan yang ia sampaikan aku terapkan betul, setiap jatuh aku pasang dari awal dan terus kuulangi lagi hingga sesuatu keajaiban itu terjadi.

Semuanya menjadi bersinar dan begitu indah, entah dari mana kerlip lampu-lampu yang menghiasi desain ruanganku, padahal aku tidak pernah memasang nya. Seketika itu aku pun terbangun dari tidur. Aku bersyukur sebab sudah diingatkan jika aku belum menunaikan shalat dzuhur.


"Mir iraha balik...? " (Mir kapan pulang...) Demikian isi pesan singkat yang masuk ke hape Nokia jadulku. Pesan tersebut berasal dari kakak pertama. Karena waktu itu belum jelas dan belum tahu mau balik tanggal berapa, dengan datar kujawab dengan datar. "Ncan nyaho ke irahana..." (belum tahu kapan pulangnya). Padahal aku tahu bagaimana perasaan mereka (keluarga) di sana, pastinya mereka khawatir.

"Anu lain mah lebaran baralik, kumpul kabeh di imah, iyeu mah teu balik..." (yang lain juga pada pulang, kumpul semua di rumah bersama keluarga, ini malah gak pulang). Kalimat ini yang biasa aku dengar dari keluarga yang saban kali menelepon dan menanyakan kepulangan ku. Lagi-lagi mereka khawatir dengan keadaan ku yang tidak bisa mudik.

Mudik itu sebenarnya siapa sih yang gak pengen? kembali ke kampung halaman, berkumpul dengan sanak famili tentu harapan semua orang. Nostalgia dengan masa-masa kecil dulu, reunian dengan sahabat-sahabat sekolah dulu, dan makan-makan bareng dengan teman-teman sekolah SMA itu rasanya indah dan sulit untuk dilupakan.

Lagi-lagi masalah mudik itu kan hanya dua. Pertama, kendaraan. Kendaraan yang digunakan ketika menjelang mudik biasanya penuh, sumpek dan bejubal. Pokoknya gak kebayang deh kalau ada anak kecil yang menangis di dalam bis karena kepanasan. Biar mudiknya nyaman, harus jauh-jauh hari pesan tiket dan pulang sebelum musim mudik tiba.

Kalau pesannya telat dan baru ada duit (pesan pas sudah mepet), jangan harap dapat kendaraan atau kereta. Semuanya pasti sudah penuh. Biasanya tetap ada sih tapi harganya itu lho gak ketulungan. Ditengah ketidakstabilan itulah perasaan sulit dikontrol, cemas dan bingung, sehingga harga tiket yang selangit itu biasanya tetap dibeli.

Kalau orang dewasa, ketika kepanasan paling mencari kipas atau buka jendela. Jika tidak menemukan itu, biasanya mencari apapun bendanya asal bisa dijadikan kipas. Semuanya tidak ada, baru deh ngomel dan ngomong aneh-aneh dibarengi dengan nada kesal biasanya.

Kedua ongkos atau biaya. Apalagi kalau tempatnya jauh, maka mau mudik harus mikir-mikir dan jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Sebab niat saja tidak cukup, masalah keuangan pun harus diperhitungkan dengan matang. Tapi bagi mereka yang punya rezeki yang lebih mudik tak menjadi soal, mau kapan pun jadi.

Pagi-pagi setelah shalat subuh ada teman yang sibuk dengan laptopnya. Sesekali ia menelepon temannya untuk konfirmasi. Rupanya ia sedang sibuk mengecek persediaan tiket kereta online. Semua kereta yang dipesan harganya mahal. Belum lagi, tanggal keberangkatan yang diinginkan sudah hampir mau habis. Kalau sudah kehabisan bisa-bisa acaranya gagal.

Kendala yang ia hadapi yaitu satu, harga tiketnya selangit. Mau tidak mau meski mahal tetap diambil juga. Padahal harga tiket yang ia pesan lebih mahal ketimbang biaya hidupnya selama satu bulan. Memprihatinkan bukan? Namanya juga orang hidup pas-pasan, sudah terbiasa dengan "gali lubang tutup lubang".

Catatan sebelum mudik... | 25/07/14
sambil bola balik ke WC karena sakit perut 

Anggi, itulah namanya. Gadis asal Tunjung Teja, Serang - Banten ini, sedang merasakan dilema yang cukup hebat. Ia bingung, harus menikah dulu ataukah pendidikan dulu.

Mau menikah? calonnya belum ada. Mau lanjut s2 masih belum jelas mana yang sesuai dengan hati orang tua. Inilah dilema yang saat ini dihadapinya.

Kedua-duanya memang penting, kalau pendidikan diabaikan nanti bisa apa. Toh S1 sekarang banyak yang pengangguran. Kalau tidak menikah secepatnya, sudah ingat umur…. serba salah. Tapi tetap dibawa enjoy saja, katanya.

Suatu hari, ia dikenalkan dengan salah seorang Ustadz Muda yang sekaligus hafidz al-Quran. Ia mengajar di salah satu pondok pesantren yang terletak di Baros, Serang – Banten.

Ustadz Muda itu dikenalkan oleh saudaranya, karena kebetulan mengajar satu atap di sana. Setelah dikenalkan, Anggi mencoba ingin mengenali sosoknya lebih dekat. Akhirnya sanjian untuk bertemu pun mulai direncanakan.

Mereka bertemu di Pondok Pesantren dan saling mengenalkan diri masing-masing ditemani beberapa teman yang ikut ngobrol bareng juga tentunya (rame-rame).

Diskusi kecil-kecilan dimulai, pertanyaan sederhana dilontarkan. “Wah sayang yah.. padahal sudah hafidz al-quran dan itu sudah menjadi modal… gak pengen tah melanjutkan ke pendidikan yang formal??" Anggi mengawali perbincangan dengan pertanyaan.

Saya itu mencari istri yang menerima saya apa adanya.. mau menerima keadaan saya. Saya di pondok, dan istri saya harus ikut saya di pondok juga.. ” Inilah isi penjelasannya yang ditangkap Anggi.

Rupanya setelah proses tanya jawab dan saling bertanya masing-masing, banyak beberapa karakter yang tidak sama. Sehingga proses ta’aruf itu dibatalkan, dan selesai detik itu juga.

Ada perbedaan cara pandang dan cara berpikir, sehingga jika dipaksakan pasti tidak akan baik, itulah alasan kenapa perkenalan ini dianggap selesai.

Sekufu itu ukurannya bukan diukur dai banyaknya harta, tetapi minimal dari cara berpikir. Apakah sepemikiran, satu misi dan satu visi atau malah tidak sama sekali.

Tunjung Teja, 20/07/2014
Ramadhan, 1435 H - menunggu berbuka.


Saat itu aku berusia 16 tahun, seorang gadis remaja yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Namun ibu selalu menyemangati ku untuk selalu rajin belajar, karena hanya itu tugas yang utama ku saat itu.

Aku terbilang anak yang dengan kemampuan standar dibandingkan dengan teman-teman ku yang lain. Terkadang aku merasa biasa-biasa saja, meskipun aku kerap mendapat juara kelas. Tapi menurutku itu hal yang sepatutnya kupersembahkan untuk kedua orang tua ku.

Rasa nya tak perlu lagi ku tuliskan apa alasan nya, jika berbicara kewajiban kepada kedua orang tua.

Suatu ketika aku punya mimpi, saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku ingin sekali bisa menuntut ilmu di luar negeri, bukan berarti dalam negeri kurang baik. Tapi rasanya impian setiap pelajar pasti banyak menginginkan hal yang sama untuk dapat memperoleh pengalaman di luar negeri.

Aku sangat berharap aku dapat belajar dan menjadi pelajar di sana, Meski rasa nya berat jika melihat kondisi keuangan keluarga ku. Tapi bermimpi kan tidak ada yang melarang, karena bermimpi kan gratis, dan siapapun berhak untuk melakukannya.

Usaha yang kulakukan saat itu hanyalah belajar dengan giat dan berusaha mencari informasi sana sini untuk mencari program beasiswa. Karena dengan cara itu mungkin aku bisa mewujudkan mimpi ku.

Harapan dan cita-cita itu masih aku genggam. Aku simpan dalam lipatan memori yang tersusun rapi menyerupai folder baru, layaknya komputer. Kelak Folder itu akan aku buka ketika semuanya sudah tiba.

Gantungkan lah cita-citamu setinggi bintang di langit… Demikian bunyi kata-kata bijak yang ku dapatkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Tiba-tiba lamunan ku terhenti. Ketika suara lirih itu dengan lembut menyapa ku. “Neng sudah malam, jangan di luar, nanti masuk angin…" Perempuan paruh baya itu mendorong kursi rodaku. Tak terasa hampir satu tahun kursi ini selalu menemani.

#20 Ramadhan 1435 H


Pagi-pagi, usai shalat subuh, bahkan masih lengkap dengan pakaian koko dan sarung, Hamzah langsung menelepon gadis yang pernah ditemuinya itu, beberapa waktu yang lalu.

Aku Hamzah,” katanya memulai pembicaraan.

Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kamu. Pertama, aku ingin menikah dengan kamu tanggal 1 Muharam. Kedua, niatku ini karena Allah. Ketiga, karena sunah Rasul. Keempat, aku ingin terbang ke langit. Cuma sayang, sayapku cuma satu. Bagaimana kalau salah satu sayap itu adalah kamu? Kelima, aku butuhkan jawabanmu besok pukul 5 pagi.

Gadis itu terduduk lunglai. Berbagai perasaan menyelimuti kalbunya. Di satu sisi ia merasa tersanjung dan bahagia, tapi di sisi lain ia juga merasa sedih dan khawatir. Bagaimanapun, ia belum mengenal lelaki itu, walaupun ia seorang Ustadz.

Sebagai gadis, selama ini ia belum pernah pacaran atau pergi berduaan dengan lelaki. Selain tidak suka pergi-pergi iseng, pendidikan ayahnya pun sangat ketat. Sudah beberapa kali ia dilamar, tapi selalu ditolak oleh kedua orang tuanya. Karena itu, awalnya ia gamang saat ingin menyampaikan lamaran Hamzah itu.

Apa boleh buat, lamaran ‘mengagetkan’ dari ustadz muda itu harus segera ia sampaikan kepada kedua orang tuanya, karena esok subuh sudah ditunggu jawabannya. Untunglah kedua orang tuanya menyetujuinya.

Saat esok harinya, pukul 5 pagi, Hamzah menelepon dan yang menerima telepon itu gadis itu sendiri, ia yakin lamaran nya bakal diterima. Satu bulan kemudian, tepat tanggal 1 Muharam [06 April 2016], Hamzah dan Novi menikah di Masjid Al-Jihad.

Kala momen bahagia tersebut, Novi terbayang masa sekolah SMP nya dahulu, setiap kali usai shalat wajib ia selalu berdoa. Tanpa ada yang menyuruh dan tak ada yang mengajari nya, Novi selalu memohon kepada Allah agar mendapatkan jodoh pria dengan 10 kriteria.

Antara lain, pria yang saleh, beriman, ganteng, berkecukupan, terkenal, berakhlak mulia, disayang semua umat, bertanggung jawab, dan pintar. Katanya, “Alhamdulillah… semua yang saya mohon itu ternyata ada pada diri Kak Hamzah!”.

__kisah fiktif, mohon maaf jika ada kesamaan Nama - Ramadhan, 1435 H.

Ustadz Qodir selaku guru kami, mengadakan program kursus bahasa inggris di sekolah. Untuk peserta sendiri yaitu diambil dari anak-anak kelas 4 sampai kelas 6, untuk jenjang SD (Sekolah Dasar) dan MI (Madarasah Ibtidaiyah).

Ketika hari pertama kursus itu dimulai, suasana nya begitu ramai. Sebab sekolah yang ikut mendaftar lumayan banyak, sehingga bisa dipastikan ramainya seperti apa.

Karena tenaga pengajarnya dari pihak internal sekolah, maka Hamzah dimasukkan ke dalam daftar pengajar kursus tersebut.

Kursus itu dilaksanakan seminggu hanya dua kali. sabtu sore dan jumat sore. Kebetulan Hamzah mendapat kelas khusus anak-anak kelas 4, jadi lumayan mengalami kesulitan. Anak-anaknya sulit untuk dikondisikan.

Dari sekian anak, rupanya ada dua orang anak yang begitu serius dan betul-betul mau belajar. Mereka ialah Indah Teriany Daulay dan Siti Farah Annisa.

Letak rumah Indah dan Farah tidak terlalu jauh dari tempat sekolah kami, bahkan sekolah SD (sekolah dasar) nya saja hanya terhalang kebun dan lapangan sepak bola.

Dari kegitan kursus itu, akhirnya Hamzah dekat dengan dua anak tersebut. Meski kadang-kadang agak nakal dan sedikit kurang sopan Farah dan Indah tetap baik dan mengikuti kursus hingga selesai.

Tanpa disangka, ketika penutupan kelas kursus, Farah dan Indah datang dan menghampiri Hamzah dengan malu-malu.

Kakak, ini ada kenang-kenangan dari kami.." kata mereka berdua, kompak.

Apa ini..? aih kok samapi merepotkan segala…" Ucap Hamzah sambil menerima bungkusan.

Dibukanya nanti saja ya Kak.. biar sedikit penasaran.." ucap indah singkat.

Setelah memberikan bungkusan itu, Farah dan Indah pun pamit. Begitu mereka sudah jauh meninggalkan gerbang sekolah, Hamzah masuk ke kamar dan membuka isi bungkusan tersebut.

Ternyata isi bungkusannya kaos berwarna putih. Seketika itu Hamzah mengucapkan terima kasih pada Indah dan Farah meski keduanya sudah tak akan bertemu lagi di kursusan.

Semoga kelak waktu itu akan terulang dan Hamzah berjanji untuk mengucapkan terima kasih banyak atas bingkisannya tersebut.

Terima kasih Farah dan Indah..
Cigodeg, 2006 silam


Semuanya bermula ketika Hamzah yang sedang asyik mendengarkan nyanyian grup Nasyid Syahada yang berjudul Tabah. Ketika itu ada pesan masuk dari akun facebook temannya. Setelah dibuka ternyata dari sahabatnya; Fadli.

Fadli adalah sahabat Hamzah yang kini melanjutkan studi di Bandung. Dari facebook Fadli inilah akhirnya Hamzah berkenalan dengan sosok yang begitu rupawan dan menggunakan jilbab besar. Biasanya julukan yang saat ini nge-trand untuk tipe wanita seperti itu disebut jilbaber. Entah dari mana dan siapa asal mula yang menggunakan kata-kata tersebut.

Hamzah enggan bertanya perihal siapa gadis tersebut. Baginya itu adalah hal yang sangat privasi dan sekaligus prinsip. Semuanya ia pendam dalam-dalam dan harga mati, pokoknya jangan sampai orang lain mengetahuinya.

Meski Fadli sering menyinggung Hamzah terkait siapa orang yang saat ini dekat dengannya, Hamzah selalu pandai menghindar dan mengalihkan topik ke yang lain. Sebetulnya itu ia lakukan sengaja, sebab Hamzah tak mau urusan pribadi nya diketahui oleh orang lain, termasuk sahabat dekatnya sendiri.

Memang Hamzah dari dulu tidak se-terbuka Fadli. Jika ada perempuan yang disukainya, pasti Fadli langsung terus terang dan mencari siapapun sahabatnya yang bisa menghubungkan dirinya dengan gadis pujaan nya tersebut.

Rupanya hal ini berbanding terbalik dengan Hamzah. Ia lebih pemalu dan cenderung penakut. Jika sudah dihadapan perempuan ia langsung gugup dan bergetar. Padahal jika dibandingkan, Hamzah lebih gagah dan lebih tampan ketimbang Fadli. Tetapi untuk urusan yang satu ini Hamzah kalah berani.

Meski Fadli sering menyinggung nya dengan canda-an yang ringan. Entah itu di telepon atau ketika cahtting.

Zah, ente itu padahal lebih keren dari pada ane.. tapi kok malah sampai sekarang masih jomblo….” Ledek Fadli di chatting facebook.

Dengan gayanya yang khas, Hamzah membalasnya santai. “Jomblo itu prinsip bukan nasib Dli…” jawab Hamzah singkat.

Meski keduanya sering menjelekkan, tetapi tetap akur dan baik.

***
Gadis cantik dan jilbaber itu Mitha namanya. Dara asal Tebing Tinggi - Medan ini, kini sedang melanjutkan studinya di salah satu kampus yang terletak di kota kembang; Bandung. Gadis nan cantik jelita itu tidak hanya baik secara fisik, tetapi hatinya juga bersinar seperti sinar mentari di pagi hari yang memberikan kesejukan dan keindahan.

Balutan jilbab merah-marun dan paduan busana muslimah yang menutup tubuhnya, aduhai alangkah sempurna nya gadis itu. Mata lelaki mana yang tak terpikat oleh kecantikan rupa dan kesolehan pribadinya. Ah, sungguh beruntung laki-laki yang dapat meminang nya kelak.

Dari balutan kain yang menutupi badannya, sudah terpancar aura keindahan sang pencipta. Aduhai begitu sempurna engaku tuhanku, yang telah menciptakan seorang gadis yang begitu indah rupa dan budinya. Hati ini terpikat dan dibuat jatuh tak berdaya.

Hamzah kenal Mitha sudah lama, itu pun hanya kenal di jejaring sosial; facebook lebih tepatnya. Tapi, untuk bertemu langsung apalagi menyapanya, jangan harap kawan, ia tak akan berani.

Kata Hamzah, “Mitha itu parasnya rupawan, anggun dan begitu sempurna, sedangkan aku tak pantas dan bukan siapa-siapa”.

Dalam pemahaman Hamzah, ia begitu memegang teguh dan begitu memaknai betul akan maksud dari QS. An-Nuur [24] : 26, bahwa laki-laki yang baik itu bagi perempuan yang baik pula dan begitu juga sebaliknya. Pendapat lain juga berbeda-beda terkait penafsiran ayat tersebut.

Tiba-tiba Hamzah tersadar dari lamunannya. “Kok aku bisa ngelantur sampe kesana ya…" Mungkin Mita sudah punya calon, tentunya lebih ganteng dan lebih mapan dari aku. Jangan berharap lebih, dan jangan macam-macam. Ucap Hamzah dalam hatinya.

"Tak apalah… aku ini kan hanya berusaha menuangkan rasa kekaguman terhadap seseorang yang begitu spesial dan membuat aku benar-benar jatuh cinta ketika pertama kali melihatnya. Aku sadar bahwa laki-laki itu memang terpana dan tertipu dengan kecantikan wanita, tetapi laki-laki juga tidak bodoh dalam menilai mana yang cantiknya dibuat-buat, dengan kecantikan yang terpancar dari dalam dirinya". Gumam Hamzah sambil berjalan meninggalkan tempat duduknya.

***

Sudah dua hari saya mengunjungi kampus Atma Jaya atau yang dikenal dengan singkatan UAJY. Kampus ini ada dua tempat yang saya tahu, pertama di dekat Kampus Sanatadarma - Demangan. Dan yang satunya lagi berada di Babarsari dekat jalan Solo.

Ketika mengunjungi kampus UAJY yang di Demangan tidak ada sesuatu yang bisa say temukan istimewa. Maksudnya tidak ada pemandangan yang membuat saya terenyuh atau membuat saya mengucapkan wow.

Paling yang membuat saya sedikit tersenyum dan nyengir sendiri yaitu ketika mendengar curhatan dan sekaligus pendapat dari mahasiswa hukum sendiri. “Ini itu kampus anak tiri mas.. tapi dulunya anak emas…” ungkap salah satu mahasiswi berkaca mata.

Tak hanya itu. Mahasiswi asal salatiga itu juga mengatakan “anak-anak kampus ini ramah-ramah dan dari junior sampe senior itu deket. Terus suka saling sapa juga, jadi gak pada sombong “ ucapnya, dengan nada agak sedikit kesal. Ini kisah saya di hari yang pertama.

Di hari yang kedua, saya berangkat menuju kampus Babarsari. Awalnya saya bingung mau parker di mana. Dan sempat salah parkir juga, karena salah akhirnya memilih untuk memutar dan parkir di depan kampus ekonomi dan teknik.

Begitu tiba di hall depan, saya langsung membagikan kuisioner ke mahasiswa dan mahasiswi yang sedang asyik ngobrol. “Maaf mabk, mas.. boleh saya minta bantuannya… btw lagi pada sibuk gak nich..” Pinta saya.

"Owh iya mas kenapa?" Tanya salah satu dari mereka penasaran.

Ini lho mbak, saya bawa kuisioner kira-kira mau mengisi tidak? Pokoknya untuk data diri dan semua data ini kami rahasiakan. Jadi jangan takut disalahgunakan. Ini angket terkait kepuasan mahasiswa di setiap universitas, kebetulan saya nyebarinnya di UAJY”. Saya jelaskan dengan detail dan singkat.

Oh begitu ya mas.. sini iya gak apa-apa kita bantuin ngisinya..” Mereka dengan senang hati mengisi kuisioner yang saya bagikan. Tak lupa, saya juga jelaskan tatacara mengisinya, terutama bagi mereka yang masih bingung dan ragu-ragu.

Selesai dikamus ekonomi saya pindah ke kampus yang menyatu dengan rektorat UAJY. Setelah dianggap cukup saya pindah ke kampus Fisip. Disana juga lumayan bingung cari-cari orang yang dimintai tolong, setelah usaha akhirnya dapat juga.

Sisa sepuluh kuisioner saya kembali ke kampus ekomomi. Setelah keliling dan mencari-cari akhirnya dapat juga, dan semuanya hari ini saya selesaikan menyebar kuisioner ke kampus UAJY.

Eh kelupaan, tadi ada kejadian yang luar biasa. Ketika meinggalkan fakultas fisip. Ketika melewati salah satu mobil, saya terpukau dengan salah seorang sopir yang sedang membaca al-Quran. Subhanallah, waktu kosongnya digunakan untuk membaca alquran, benar-benar muslim yang taat dan memiliki kebiasaan yang baik pula. Biasanya sopir yang saya temuka kala menunggu majikan atau bosnya, biasanya mereka habiskan dengan tiduran atau ngobrol, tetapi kali ini berbeda.

Semoga bapak sopir yang saya temukan tadi terus istiqamah dan diberikan kemudahan dalam hidupnya. Amiin []
Yogyakarta
08/07/14
Ada yang tidak biasa dengan kultum ramadhan di Masjid Baiturrahman - Pringgolayan, Depok, Sleman - Yogyakarta, yang disampaikan oleh Ustadz Probosuseno, bada shalat Isya berjama'ah.

Diawal ceramahnya beliau membuka ceramah dengan langsung mengatakan orang yang normal dan usianya sudah pas, pasti ingin menikah, kalau tidak normal silakan dicek, pasti ada yang tidak beres dengan onderdilnya.

Kalau sudah menikah, terus dikaruniai anak, hartanya cukup, seneng ibadah keluraganya harmonis maka itu adalah keluarga yang sakinah. Keluarga yang bahagia, harmonis, dan penuh dengan kasih sayang.

Syarat untuk menjadi keluarga sakinah itu ya sakinah itu sendiri. “SAKINAH”. Huruf "S" yang pertama itu Sehat, semuanya sehat, mertua, menantu, anak dan istri sehat semuanya. Kalau ada yang sakit salah satu pasti mumet, repot dan tidak tenang. Apa lagi punya mertua dan menantu semuanya masih pada lengkap dan sakit semua. Tambah mumet, bisa pusing mikirinnya.

Tak hanya sehat tetapi juga harus sekufu/selevel. Sekufu tidak mesti diukur dari harta, tetapi minimal sepemikiran. Istrinya profesor, suaminya buta huruf, misalkan. Atau sebaliknya, suaminya pinter banget, istrinya lelet. Atau juga, suaminya kayak buanget istrinya biasa-biasa saja. Terus nikah, pas sudah menikah suatu hari suaminya beli minuman yang dibungkus botol plastik, selesai minum botolnya dibuang. Tiba-tiba istrinya bilang, "jangan dibuang mas, sayang bisa untuk dijual..." Kan enggak lucu!

Huruf yang selanjutnya yaitu A. Agama yang baik adapun parameter agama seseorang baik itu ya dinilai dari 10S (sahadat, shlolat, Syukur, sabar, soleh, sayang, santun, setia, senang/menyenangkan, support/ngdukung).

Huruf yang selanjutnya yaitu K. Komunikasi. Komunikasi yang dibangun dua arah, bukan satu arah. Di keluraga dibiasakan untuk komunikasi, ayah ibu anak semuanya boleh mengungkapkan ide dan gagasannya. Komunikasikan apapun masalahnya.

Huruf yang selanjutnya I, yaitu Ilmu menikah. Ilmu menikah itu tidak diajarkan di kampus atau perguruan tinggi sekalipun. Semua ini ada dipergaulan, dan kebiasaan seseorang terhadap dirinya. Orang yang baik tentu akan baik terhadap isterinya. Dan begitu juga sebaliknya.

Huruf yang selanjutnya yaitu N, Nama kesayangan. Maksudnya ialah memanggil dengan nama kesayangan. Rasul memanggil Aisyah saja dengan ya humairah (wahai pipi yang ke merah-merahan), Umar dipanggil dengan panggilan singa padang pasir, dll. Dalam keluarga, panggilan-panggilan sayang seperti ini sanagt perlu.

Huruf yang selanjutnya A, itu Adil. Adil merupakan laki-laki terhadap isterinya. Apalagi ketika laki-laki sudah menikah dan ibunya tidak mau pisah dengan anak laki-lakinya maka repot sudah. Bagaimana mungkin laki-laki direbutkan dua orang perempuan yang sama-sama mencintainya, yang satu pernah melahirkannya dan yang satu lagi menemani dan membersamai hidupnya kelak.

Huruf yang terakhir H, yaitu Harmonis. Sebuah hubungan yang baik tentu ada cekcok atau masalah kecil. Tetapi dari konflik itu bagaimana mendialogkan maslah tersebut supaya tidak tambah besar dan terselesaikan. Bukan malah tambah besar dan membuat semuanya rusak.

Keharmonisan yang baik bagaimana menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Harmonis itu kan cocok, padu, ngepas dan saling mengisi. Sehingga ketika keduanya memahami betul akan kekurangan terhadap dirinya bukan tidak mungkin keduanya akan saling menutupinya bukan? dan itu sangat luar biasa.

Tambahan, sakinah itu butuh yang namanya KOMITMEN. Komitmen adalah upaya untuk mencapai sesuatu tujuan dengan saling percaya, saling mendukung, saling baik membaikkan guna mencapai apa yang menjadi tujuan. Komitmen itulah yang sesuatu bertambah. Yang tadinya hanya cinta menjadi lebih cinta. Yang tadinya sayang akan menjadi lebih sayang.

Tadinya acuh menjadi peduli, tadinya benci menjadi sayang, tadinya kasar menjadi lembut dan begitu seterunya. Sudahkan kita berkomitmen dengan istri ketika diawal pernikahan? sehingga kalau salah satu diantara keduanya salah jalan, tinggal diingatkan “Inget lho dengan komitmen yang sudah kita bangun…!!!

Sambil mendengarkan shalawatan tim hadrah assujadi yang sedang mendendangkan lagu-lagunya, plus sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Berkorban merupakan tindakan yang sangat sulit dilakukan. Sudahkah kita berkorban untuk orang lain? Seberapa sering kita berkorban? Pertanyaan ini sebetulnya hanya menyentil sedikit saja tentang siapa sih diri kita ini. Salah satu contoh, misalkan uang yang dikantong pas-pasan, terus ada orang minta tolong, apakah kita rela dengan sepenuh hati terus dikasihkan. Atau malah bilang maaf gak punya…

Pengorbanan itu mudah, tapi sebetulnya sulit. Tadi, yang kita bahas ialah tentang pengorbanan terhadap orang lain, bagaimana dengan pengorbanan terhadap diri sendiri? Nah lho kena juga kan. Pengorbanan apa saja yang sudah kita lakukan terhadap diri sendiri?? Sudahkah mengorbankan uang jajan untuk membeli buku (tapi bukan paksaan dosen, pacara atau etc. lah).

Berkorban untuk orang lain maupun untuk diri sendiri ternyata sama tidak enaknya. Betul gak? Ya, sebab keduanya sama-sama berada pada posisi yang bertentangan. Kedua hal yang bertetangan inilah yang akhirnya membuat bingung, batin atau hati kecil kita dipertaruhkan. Tetapi yang dominan justru hawa nafsu yang mampu mengendalikannya.

Puasa ramadhan merupakan bulan pelatihan diri (training to self). Melatih diri supaya lebih matang dalam bersikap. Bahkan menumbuhkan kembali kekuataan spiritual yang telah lama dikuasai oleh hawa nafsu. Itulah sebabnya dalam sebuah hadits rasulullah saw dinyatakan “apabila telah datang bulan ramadhan, syetan-syetan diikat…” (HR. Muslim)

Syetan-syetan diikat maksudnya, hawa nafsunya (keburukan) menjadi lemah. Sehingga godaan-godaan itu tidak ada lagi. Tetapi karena nafsunya kebal dan kuat, tak jarang meski bulan ramadhan masih banyak yang tidak berpuasa. Inilah salah satu alasan kenapa bulan ramadhan disebut juga sebagai bulan kejujuran.

Bulan kejujuran, maksudanya bukan bulan yang terbebas dari kata-kata bohong. Tetapi yaitu dimana bulan yang menunjukan siapasih diri kita yang sesungguhnya. Jika ingin tahu siapa diri kita yang sesungguhnya maka lihatlah diri kita pada bulan ramadhan, apa sajakah yang kita lakukan, manakah yang lebih dominan. Kebaikankan ataukah sebaliknya.

Jika kita mau berubah, tentu semuanya bisa berubah. Tergantung lagi dengan kesiapan terhadap pengorbanan tadi. Siap berkorban untuk meninggalkan sesuatu yang dianggap manis dan memilih jalan yang pahit, ataukah tetap memilih si manis. Seberapa besar pengorbanan itu ada dalam diri kita saat ini. Anda berani??… Alahu’alam[]

Semoga bermanfaat, selamat berpuasa….

1435 H/ Puasa ke - 5
Semenjak dicetuskan bahwa calon presiden Republik Indonesia hanya ada dua calon maka persaingan ini akan begitu kentara. Setelah melihat background kedua calon presiden tersebut saya tidak serta merta langsung memilih diantara keduanya. Hingga suatu ketika saya dihadapkan dengan berita yang bertebaran di dunia maya.

Parabowo itu penjahat Hak Asasi Manusia, dipecat dari militer, tidak beristri dan lain sebagainya. Dari sana saya justru tertarik ingin mencari tahu siapa sih sosok yang satu ini. Begitu saya mencari tahu dan makin ke sini semakin dekat bahwa sesungguhnya yang bermain ialah media. Silakan baca Profilnya 

Rasanya tidak elok jika kita dijelekkan oleh orang lain terus marah-marah di media. Tak ada gunanya, dan itu dilakukan oleh Pak Prabowo. Pembawaannya yang kalem dan tenang menjadikannya tidak muda tersulut emosi dengan selentingan-selentingan berita miring tentangnya.

Masih ingat betul di ingatan saya, ketika Pak Prabowo di debat perdana disinggung terkait HAM. Dengan penuh hormat beliau menjawab pertanyaan dari Pak Jusuf Kalla. Pemimpin itu bukan ingin menjatuhkan, tetapi membangun bersama, itulah yang saya ambil dari debat kala itu.

Makin ke sini suasana politik semakin ramai. Apalagi banyak berita yang tidak jelas sumbernya. Semenjak mengetahui hal tersebut saya pun cenderung menjaga diri dari yang namanya media, sebab bagi saya hanya akan menyebarkan fitnah. Itu hanya black campaign dan menjelekkan lawannya sendiri. Menurut saya pribadi itu tak elok.
Ada dua perbedaan yang begitu mencolok di dunia maya. Menurut saya pribadi, ini tidak elok dan seharusnya kita bisa lebih cerdas untuk memilih siapa sih yang sesungguhnya memikirkan masa depan republik ini. Kala itu sahabat saya bercerita bagaimana ia diserang habis-habisan, hingga akhirnya ia sakit hati. Sahabat saya ini mengatakan seperti ini :

Kalau ada yang menjelekan kubu A, pasti yang membela seperlunya saja… lain halnya kalau yang disukan itu kubu B, pasti yang membela mati-matian dan kata-katanya sudah ke mana-mana.. komentar dari satu dan yang lainnya berdatangan untuk membantu..

Sahabat saya pernah komentar bermaksud membela kubu A, tetapi akhirnya yang menyerang saya begitu banyak dan akhirnya keteteran. Sejak saat itu akhirnya sahabat saya mengambil kesimpulan bahwa ini adalah permainan media. Dan semua ini memang begitu adanya, pasti ada orang dibalik ini semua. Tetapi biarlah, kelak semuanya juga akan terungkap, cepat atau pun lambat.

Awalnya memang tidak percaya, sebab belum pernah melakukan hal itu. Suatu ketika saya merasa tertantang dan ingin membuktikannya. Setelah menulis sebuah artikel, tak lama setelah itu komentar dari akun-akun yang tidak jelas itu berdatangan dan mengatakan ini dan itu. Akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan dari ini semua. Memang apa yang dikatakan sahabat saya ini benar adanya.
Sebagai rakyat Indonesia yan cerdas mari kita dukung siapa yang betul-betul bisa membaca republik ini aman dan lepas dari dikte orang asing. Stop penjajahan kekayaan Indonesia dan mari membangun kekuatuan, keamanan, ketahanan, dan kewibawaan Negara kita tercinta ini. Saya kira visi dan misi #PrabowoHatta sudah sangat jelas dan itulah yang saat ini kita inginkan.

Dari kasus miring yang diberitakan,, tentu kita mengambil hikmah apa yang sebetulnya terjadi. Sudah jelas-jelas semua yang dilakukan hanya untuk menjaga keamanan. Begini saja, sekarang kita bermain logika, apa yang akan saudara lakukan apabila kala itu saudara menjadi Pak Prabowo? Sedangkan pada saat bersamaan yang lain berada di Malang.

Apa yang terjadi, ketika langkah itu diambil yang terjadi adalah katanya menyalahi wewenang dan tugas. Bagaimana perasaan saudara diperlakukan seperti ini, masih bisakah bersabar, masih bisakah untuk ikhlas?.. Karena Pak Prabowo adalah pemimpin, maka ia yang mengambil alih dan mempertanggungjawabkannya.
Itulah sebabnya Gusdur dalam stasiun televisi Swasta mengatakan “Orang yang paling ikhlas itu Prabowo.. yang lainnya enggak…” Bukan tanpa alasan Gusdur mengatakan ini di depan berjuta mata yang menyaksikannya. Pengabdian beliau tidak diragukan lagi, nasionalismenya jangan ditanya, perjuangan untuk republik ini sudah sangat jelas ada padanya.

Sejauh ini, langkah dan sikap yang diambil menurut saya sangat tepat. Biarkan masyarakat yang menilai semuanya. Jangan pernah terpancing apalagi sampai blunder. Sangat tidak elok apa lagi sampai mengucapkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Buka mata dan buka telinga kita semua. Mari kita #SelamatkanIndonesia dari musuh yang mengancam dan ingin menguasai negeri tercinta ini. Mari dukung #IndonesiaSatu untuk menuju Indonesia yang lebih baik. Kalau bukan kita siapa lagi. Hidup garuda di dadaku… Prabowo presidenku…. Ku yakin hari ini pasti menang….


Hari ini (28/06/14) sebagian umat muslim sudah melaksanakan puasa Ramadhan. Tapi, tidak dengan saya. Saya lebih memilih puasa esok hari saja, sebab dari pengumuman sidang isbat tadi malam, kondisi bulan tidak terlihat. Sehingga saya makin mantap untuk berpuasa mengikuti pemerintah. Tapi saya dapat kabar dari orang rumah, mereka sudah memulai puasa hari ini.

Karena hari ini sebagian sudah berpuasa, maka terasa begitu sepi. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.00. Tumpukan buku-buku dan segala macam peralatan yang berserakan menghiasa kamar. Ya, saya sedang bersih-bersih kamar dan merapikan rak buku. Tujuan awalnya sih mau bersih-bersih kamar, karena esok akan menyambut bulan ramadhan.

Satu-satu buku-buku itu dipilah dan dipilih. Ditata serapi mungkin agar indah dipandang. Tetapi, ketika sedang asyik bermain dengan buku-buku, tiba-tiba suara itu muncul dari luar kamar.

Kang… Assalamu’alaikum…” Sambil mengetuk pintu.

Dari suaranya, saya sudah bisa menebak, siapa orangnya. Tanpa pikir panjang saya langusng menimpalinya dengan singkat..

Wa’alaikumussalam Sul..” .

Dibuka saja pintunya, Sul….” Timpal saya.

Begitu pintu itu dibuka, dan menyaksikan tumpukan buku, dan asyiknya saya bermain dengan buku-buku, Samsul pun dengan nada khasnya mengawali perkataan.

Kang temani saya yuk ke Kokap…” Rayu Samsul.

Di mana tuh..” Jawab saya singkat.

Itu lho deket rumahnya Pak Nanang… jalan ke Kulon Progo, daerah Wates lah pokoknya…” Berjalan menghamiri saya dan duduk menyandar tembok.

Oh, daerah situ, dalam rangka apa Sul..?” Tanya saya penasaran.

Itu lho Kang, Ngisi ceramah di acaranya BAKSOS FKEI…” Samsul menjelaskan.

Di desa binaannya mereka ya Sul…” Timpal saya.

Bisa jadi Kang…?” Tanya Samsul. Dari raut wajahnya Samsul memang berharap ada teman yang menemaninya.

Karena kebetulan saya juga lagi kosong, maka tawaran itu saya sanggupi. Sekaligus mencari ide tulisan buat di posting ke blog. Wah ini ksesmpatan emas dan tempat yang baru, pasti ada sesuatu yang unik untuk ditulis.

Setelah merapikan buku-buku yang berserakan, dan tidak sempat semuanya. Saya pun langsung berangkat menuju tempat tujuan. Tak lupa, sebelum berangkat, kami menukar motor terlebih dahulu, sebab dikhawatirkan jalannya naik turun. Jika dipaksakan dan tidak diganti, kasihan motornya, sudah gak sekuat dulu.

Saya dan Samsul berangkat. Kami pun mampir di rumah makan Ayam Jebred lebih dulu untuk menukar sepeda motor. Bertemulah kami dengan dua orang adik tingkat yang sedang menyantap makan sore, Andi Mustafa Husain dan Arda. Ali-alih  menukar sepeda motor, saya sedikit mencicipi es teh yang ada dihadapan mereka dengan porsi gelas cukup besar. Lumayan menghilangkan rasa kering dan haus ditenggorokan,

Ketika kami meninggalkan mereka, saya perhatikan betul jam tangan silver yang saya kenakan. Waktu itu menunjukan pukul 17.35. Karena sudah senja, dan perjalanan kami cukup jauh akhirnya kami memutuskan untuk shlata magrib disalah satu Pom bensin Ambar ketawang.

Selepas menunaikan sholat, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pasar Wates. Disana panitia sudah menunggu kedatangan kami. Dari sana masih satu jam perjalanan lagi ternyata. Tempat yang kami tuju yaitu Dukuh Plampang Tiga, RT 76, RW 77 Kalirejo, Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta.

Tempatnya berada di atas bukit. Ketika hampir sampai ke tempat yang kami tuju, seluruh pemandangan dari atas tak terbatas. Hanya kilauan dan kedipan lampu yang bersinar terlihat oleh mata kala sesekali melihat ke sekeliling perjalanan. Waktu itu saya duduk dibelakang motor, jadinya bisa melihat ke segala penjuru arah.

Motor yang Samsul kendarai berhenti. Salah seorang panitia menyarankan pada kami untuk turun dari motor. "Sudah sampai Mas, Ini tempatnya. Tapi jalannya kayak gini, harus turun, gak boleh dibonceng, bahaya soalnya."

Begitu tiba di rumah yang begitu panjang dan besar itu, saya dan Samsul langsung mengambil air wudhu. Kami melaksanakan shalat Isya berjamaah. Kala itu Samsul langsung melanjutkan shalat tarawih. "Kang, Tarawihnya masing-masing saja ya.. saya mau duluan.." Ucap Samsul.

Selesai shalat kami disuguhi roti dan teh hangat. Tak berapa lama kami disuguhi makan juga. Memang sudah dari perjalanan kami menahan lapar, dan alangkah beruntungnya, begitu sampai langsung disuguhi makan. Padahal janji saya ke Samsul ketika berboncengan di motor, "kalau gak disuguhi makan dulu Sul, nanti saya yang minta ke panitia deh.."

Selesai makan hujan turun, meski tidak terlalu deras, jalanan menjadi licin. Belum lagi kami harus menuruni turunan untuk sampai di masjid yang akan diisi tausiyah agama oleh Samsul Zakaria. Saya hampir saja terpeleset dan jatuh. Sebab sandal Eiger yang saya bawa, raib entah ke mana. Dan ternyata ada panitia yang memakainya. Setelah dicari, ternyata memang betul, dan saya menemukannya.

Satu jam kurang Samsul mengisi tausiyah agama. Membahas kisah sahabat yang masuk syurga, kisah Barsiso yang digodai oleh syetan, dan stabilitas emosi (sabar). Setelah berbincang sebentar dengan takmir, Rt dan Pak Dukuh, kami pun pamit pulang. Karena lupa jalan pulang, kami meminta panitia untuk mengantar.

Kira-kira satu jam perjalanan lamanya dari Plampang ke Jogja. Begitu tiba jalan Wates, kami mencoba menghubungi Mas Andi Noor untuk konfirmasi warung makannya masih buka atau sudah tutup. Lama, setelah memasuki jalan ringroad, barulah ada balasan, katanya masih buka. Ketika sudah sampai di sana, ternyata sudah tutup.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk makan dan sekaligus sahur di Matto Kopi. Sepulang dari Matto, sekitar pukul 01,00 dini hari. Setengah jam kemudian, saya melaksanakan shalat tarawih sendirian di kamar dengan delapan raka'at (empat kali salam) dan tiga rakaat witir.

Yogyakarta, edisi #1 Ramadhan

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme