Pan nanaon bae geh, ari ncan pernah sama sakali mah, aya bae was-was dina hate. Asa sieun kieu sieun kitu tea. Yeuh dicontoan, najan naek kendaraan nanaon geh, rewas nu aya dina rarasaan ari ncan pernah mangkat ka hiji tempat anu jauh. Ari ges pernah pan, pasti hayang ngasaan naek nulain. Biasa naek mobil, hayang ngasaan naek kareta, laju ngasaan naek pesawat jeung sajabanal.

Ari ncan pernah sama sakali, najan bari supirna bener mawa mobilna (teu ugal-ugalan) tetep bae sarieun. Intina pengalaman, atau dengan kata lain elmuna anu mumpuni. Najan kamamana geh, ari pengalamanna loba, nyantai bae. Naek mobil atawa kareta, ari geus sering ka tempat anu dituju, bari sare dina mobil oge. Iyeu conto pikeun pengalaman.

Kiwari urang ngomong conto pikeun elmu. Pangalaman can boga, aya geh bari minim, geus sesumbar asa pang gagahna bae. Perlu dikanyahokeun kusadayana, horeng mah siga kurupuk, karak dibuka tutupna geh laju la-as bae pan. Komo lamun kacaia-an tea, langsung ajur bari ngajeos. (Ncan teruji pokona mah).

Doang anu kedek hayang ternak lele gara-gara ngadeuleu batur. Meuli terpal, nyiapkeun lahan, sampe meuli bibitna sagala menta keukeuhna. Eh pas dilakonan menang saminggu, lauk loba anu paraeh, pelet boros (babari beak),cai teu diganti-ganti. Lajuna mah teu diurus, hulap ngakuna. Ujung-ujungna ngamuk deui bae.

Padahal mah, ulah waka gurasak-gurusuk. Coba meuli bukuna heulanan, pelajari bener-bener teknik jeung cara-carana. Terus cara ngukur pe-ha caina kudu bisa, jeung faktor-faktor lain kudu dikuasaan. Geus asak kabehna, karak mah praktekeun elmuna. Lamun gagal, coba deui. Evaluasi dina kasalahanana.

Iyeu mah pan lain. Diajar geh ncan, boga elmuna ncan, ujug-ujug langsung bae hayang kudu misti. Lajuna gagal jeung bantut. Mending mun nyoba deui, pas ges gagal. Puguh iyeu mah langsung kapok.

Padahal, kabeh geh polana teu jauh siga kitu. Misalna, rek PASRAH ka Gusti Allah swt bae geh, kudu make elmu. Ari elmu pasrahna can BOGA atawa NCAN ASAK mah atuh sarua keneh bohong!
__
Pertama kali saya mendengar kalimat yang agak aneh itu ketika mendapatkan kata "munafik" tapi disandingkan pada wanita berkerudung atau berhijab. “Buat apa jadi orang munafik, pake kerudung tapi perilakunya masih kayak gak orang yang berkerudung...” Inilah zaman sekarang, yang mungkin perbendaharaan katanya sedikit, sehingga menggunakan kata-kata yang tidak tepat sasarannya.

Kata munafik itu telah ada dalam hadits nabi muhammad saw, cirinya ada tiga. Tandanya orang munafik itu ada tiga, bila bicara-berdusta, bila berjanji-ingkari, bila dipercaya-khianat. Itu indikator munafik. Sekarang kita kembali bahas kalimat di atas tadi, “Buat apa jadi orang munafik, pake kerudung tapi perilakunya masih kayak gak orang yang berkerudung...” kira-kira dari tiga ciri munafik tersebut, ada gak hubungan dengan orang yang berkerudung tapi belum baik?

Nah, harus tahu perbendaharaan kata biar tepat dalam pemilihan kata. Kata munafik yang dipakai dalam kalimat di atas, jelas tidak tepat. Sebab kategorinya tidak sesuai dengan pengertian munafik. Berkerudung itu kewajiban seorang hamba (khususnya perempuan yang sudah baligh) dalam mentaati hukum agamamanya. Adapun perkara perilakunya belum baik berarti itu hal lain.

Sama halnya begini, kita masih sholat tapi masih belum bisa menjadi baik. Sholat terus maksiat jalan (STMJ) yang sering kita dengar. Nah, pas kita sadar bahwa ketika kita juga bagian dari pelaku STMJ, apa langsung memutuskan berhenti untuk tidak menunaikan sholatnya? Tentu tidak, bukan sholat yang salah. Tapi sholat sebagai ibadah kewajiban yang harus ditunaikan dan berharap (berdoa) untuk terus berubah jadi lebih baik.

Berkaitan hal tersebut, padanan kata yang tepat atau pilihan kata yang paling tepat untuk menjawab kalimat di atas, yaitu kata integritas. Integritas itu artinya satu atau padunya antara ucapan dan perbuatan. Jadi, apabila ada orang yang di mulutnya bilang A tapi pas dia ngejalaninnya malah B, berarti orang tersebut tidak memiliki intergitas. Sama persis dengan kasus kerudung di atas. “Kamu pake kerudung, tapi gak integritas dengan kerudungmu sendiri...” Nah, kalau begini baru pilihan katanya tepat, bukan pake kata munafik lagi ya.

Oke, mungkin ini masih ada hubungannya juga. Saat ini banyak sekali kata yang diselewengkan dari makna aslinya. Ini juga berpotensi dapat mengaburkan maknanya, sama seperti contoh kata munafik di atas. Kata yang ingin saya bahas adalah “on the way” alias OTW. Tahukan artinya apa? Yapz OTW itu artinya (berada) di jalan atau sedang/masih di perjalanan.

Entah bagaimana, di facebook akhirnya banyak yang menggunakan kata ini, tapi kalimatnya ambigu. Sama mereka, kata OTW diartiinnya jalan-jalan. Darimana kamusnya coba? Jelas ini salah kaprah. “Ah pengen OTW kayak orang-orang...” atau “dari pada di rumah terus, OTW-an yuk..” Menyaksikan “kedunguan” (kalau boleh meminjam kalimatnya Rocky Gerung) pada zaman ini semakin akut. Saya hanya tepok jidat begitu baca status atau tulisan begituan. Semenjak kapan mereka diberikan wewenang merubah arti OTW jadi jalan-jalan.

Jangan ikut-ikutan yang salah ya, sebab kalau ngikutin, berarti apa bedanya kamu dengan mereka. Biasakan untuk menggunakan yang bener ya, sebab tiap kata-kata ada tempatnya yang tepat begitu juga dengan tempat, ada kata-katanya yang tepat.

Masih berkaitan dengan kata, tetapi kali ini lebih esensial dan penting. Sebab membawa nama agama. Orang yang mungkin gak tahu pasti bakal ikut-ikutan. Kalimat yang saya permasalahkan adalah “Rest In Peace” (RIP) artinya istirahat dengan damai.

Kalimat ini punyanya agama kristen, katolik. Ngapain ikut-ikutan nulis atau ngucapin segala. Di islam, jelas ada kalimat yang lebih wah dan mengandung dzikir. Ketika membacanya saja jelas jadi pahala. Sebab di dalamnya ada kalimat Allah, namanya Istirja! lafadznya “Inna lillahi wainna ilaihi rajiiun...” artinya sesungguhnya kami milik Allah dan akan kepada-Nya kami dikembalikan.

Jadi, jelas berbeda jauh ketika mengucapkan atau menulis RIP dengan mengucapkan istirja. Secara kualitas maupun esensinya, jelas lebih menang kalimat istirja. Sadarlah kawan-kawan dunia maya. Luaskan bacaan, bukan sekedar jadi penikmat yang tak bertujuan.[]

Semoga jadi cerdas setelah membacanya, jangan lupa juga perbendaharaan katanya juga ditambah ya.

Salam hangat, Amha!
__
Ada salah seorang kawan yang begitu detail untuk menentukan siapa pasangannya. Hal sepele sangat ia perhatikan. Misalnya saja: bagaimana bertutur katanya, bagaimana ia merespon lawan bicaranya, menghormati orang lainnya dan banyak hal lagi yang lainnya.

Alasan sang kawan sih simpel banget. "Lho nanti dia kan akan jadi pasangan kita untuk selamanya. Akan membersamai kita bertahun-tahun. Kalau nanti akhlak dan tabiatnya jelek, ujungnya kita juga yang repot. Apalagi kalau sudah tabiat, susah untuk diubah. Makanya cari yang punya tabiat baik supaya tidak susah di kemudian hari".

Kalau sudah dapat yang tabiatnya baik, ya sudah enak. Atau ada yang kurang sedikit mah ya gampang. Tinggal nambahin dan ngajarin yang lain. Syukur-syukur sudah pinter bawannya juga. Tidak perlu disuruh, tapi sudah bisa paham dan belajar sendiri. Biasa belajar dari kesalahan atau juga dari pengalaman orang lain. Ini modal dasarnya.

Pungkasnya, kata dia. "Jangan sampe dapat pasangan yang malah suka ngeyel ke suami. Apalagi kalau dibilangin malah ngelawan, matilah kita!"

Sampai saat ini, sang kawan masih mencari. Ia yakin masih banyak stok yang seperti ini. Hanya saja belum ketemu. Faktornya karena belum terlalu serius mencari, atau tempat mencarinya hanya dilakukan di sekitar perkotaan yang jauh dari pendidikan agama. Coba saja cari di sebuah perkampungan yang kental dengan pendidikan agama, pasti di sana banyak stok yang dicari.

Selain perangai dan sikap hidupnya baik, mereka juga tidak senakal perempuan yang ada di perkotaan. Pastinya mereka juga lebih terjaga, masih asli bukan lagi bajakan. Poin plus-plus sebagai tambahan pasti akan banyak didapat. Malah, di sana kita bisa memilih mana yang paling terbaik untuk diajak mengarungi kehidupan dengan baik.

Kebanyakan sudah terkontaminasi dan gaya perempuan sekarang sudah tercuci otaknya. Sudah hedonis, mata duitan, pinter ngeles dan cari alasan serta jawaban. Mungkin lelaki dikiranya tidak cerdas dan tidak tahu. Padahal, lelaki lebih tahu segalanya, maka dari itu memilih untuk diam.
Aneh dan heran, mungkin dua kata inilah yang bisa mewakili apa yang ada dalam benakku. Pasalnya, bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi sudah berkali-kali kualami. Misalnya pergi ke toko buku, disangka sebagai karyawan toko bukunya. Pergi ke swalayan, disangka pegawainya dan sekaligus para pengunjung meminta tolong untuk mengambilkan barang atau sekedar menanyakan jenis barang. Bersyukur sih belum ada yang menyangka tukang parkir pas ada di parkiran.

Kisah lucu yang disangka tukang parkir ada dari kawan asal Thailand. Di minggu pagi kawan-kawan Thailand pergi ke pasar dadakan, namanya Sunday Morning disingkat jadi SUNMOR dibaca "sanmor". Nah ketika sudah tiba di sanmor, mereka berpencar mencari barang yang dibutuhkan. Malang bagi salah satu kawan, ia ke-capek-an dan meneduh di tempat parkiran. Tiba-tiba, ada perempuan yang menghampirinya dan memberikan karcis parkirnya, sambil menunjukkan letak motor yang telah diparkirkannya.

Sambil mendadahkan tangannya, sang kawan ini menyangkal bahwa ia bukan juru parkir. Lalu ditunjuklah petugas parkir yang sebenarnya. Perempuan tadi pun malu, dan meminta maaf. Mendengar kisah ini sepulang dari sanmor, jelas aku ikut tertawa geli. "Haaahaaahaa.. Jauh-jauh dari Thailand ke Indonesia disangka tukang parkir.." candaku ke kawan tadi.

Paling sering kualami itu, sering ditanya oleh orang yang lewat atau kebingungan mencari alamat. Aku juga tak tahu, entah karena mukaku yang menggambarkan penduduk sekitar atau mukaku yang disangka orang baik dan tidak sombong. Nah, ketika ditanya atau dimintai petunjuk jalan dan aku tidak tahu, pasti kuarahkan untuk mencoba tanya ke tempat lain. Atau jika sedikit paham tentang daerah yang ditujunya, pasti ditanya terkait petunjuk lainnya yang memudahkan untuk sampai ke tempat yang dimaksud.

Kalau aku, disangka takmir dan Ustadz? jangan ditanya lagi soal ini mah. Kadang ada beberapa jamaah yang dari jauh dan shalat di masjid, pasti menyangkanya jika Akulah takmir atau salah satu ustadznya. Bagiku sudah tak asing jika sering disangka begini. Bahkan barusan saja, ketika tiba di masjid untuk shalat jumat, ada salah satu jamaah yang dari jauh sudah senyum. Ketika sudah dekat, langsung mengajak salaman "Assalamualaikum ustadz...", Sambil membungkukan badannya. Usianya jika kutaksir jelas lebih tua dariku juga.

Kadang risih juga sih, pasalnya masih jauh dari sangkaan itu. Meskipun sejatinya lebih baik juga, daripada disangka penjahat oleh orang lain, yang ada malah repot. Mungkin juga, bagi sebagian orang malah jadi sesuatu kebanggaan ketika disangka dengan sebutan di atas. Katanya merasa termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi dan meningkatkan ibadah. Semoga saja, ketika sudah tekun dan meningkat ibadahnya, kemudian tidak ada yang menyebutnya dengan sebutan yang diinginkan, lantas tidak menjadikan dirinya loyo dan malas-malasan.

Terasa kaku kalau disapa dengan berlebihan, malah lebih nyaman disapa dengan sapaan orang biasa pada umumnya. Selain lebih nyaman, terkesan lebih membaur juga dengan masyarakat yang lainnya. Tidak terkesan ada jarak atau dinding pemisah yang bernama kelas sosial di masyarakat atau lingkungan tempat kita menetap. Intinya, ingin biasa saja. Allahu'alam.


(Sabtu, 04/14/17) Setelah bermain futsal rutin pada weekend dengan kawan-kawan sepermainan dan kakak angkatan, agendaku hari ini menghadiri rapat ke Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (FE-UII). Isi rapatnya mengenai teknis dan peraturan baru mengenai materi (bahan ajar) yang akan kami sampaikan kepada mahasiswa, khusus dalam bidang keagamaan (ta'lim) nanti. Inilah rencana rapat yang kami terima di grup Whatsapp.

Sepulang dari bermain futsal dan mandi, aku bergegas berangkat ke FE UII. Kebetulan acaranya sudah dimulai dan sedikit terlambat. Aku menyimak materi dengan khusyuk, dan di tengah-tengah materi ada chat Whastapp yang masuk. Isinya kurang lebih seperti ini "Kang, bisa menemani saya ke rumahnya Pak Syarif Zubaidah" karena kebetulan sedang ada kegiatan, maka langsung saja dibalas. "Sedang di FE ini, insya Allah bada dzuhur selesai.."

Rencananya, setelah selesai rapat mau langsung pulang. Tetapi karena hujan, maka diundur sampai shalat dzuhur di sana (di masjid FE). Setelah dirasa agak reda, maka perjalanan pulang pun dilanjut. Ndilalah, ternyata Pak Syarif juga masih ada acara di luar, sehingga acara kunjungan yang akan kami sepakati, jadi diundur beberapa jam.

Perjalanan Awal
Kami janjian untuk makan di Pojok, warung Bu Ning. Warung pojok, begitulah biasa kami menamainya. Entah kenapa kami sering menyebutnya "pojok", mungkin pojok dari dusun Dabag kali ya? tapi kami juga tidak tahu persisnya sih. Atau mungkin juga hanya persepsi kami, letaknya warung itu terkesan posisinya ada di pojok.

Di warung ini sayur dan "ikan" ayamnya yang khas. Selain murah, bisa nambah juga. Selain itu juga, ada yang paling khas dari warung ini yaitu istilah "sepaleh nopo setunggal" (artinya, nasi yang dipesan itu setengah apa satu porsi). Sepaleh dan setunggal ini yang menentukan harga, walaupun sebetulnya mungkin cuma beda beberapa rupiah saja.

Setelah makan, kami lanjut ke UIN Sunan Kalijaga. Ada beberapa kitab yang harus dibeli, untuk keperluan adiknya Samsul yang baru saja mondok di dekat Pesantren Pandanaran. Aku yang tadinya tidak berniat membeli sesuatu, lantaran karena tertarik beberapa judul buku, akhirnya beberapa buku diangkut diangkut juga.

Setelah dirasa cukup dan sudah masuk waktu sholat Ashar, kami menuju Masjid yang ada di area Universitas Isilam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka). Nama yang tertera di depannya bukan masjid ya, tapi "Laboratorium Agama" jadi wajar tempat itu sering jadi bahan candaan. "Ke laboratorium biasanya kan mau praktikum, tapi ini mau shalat" ujungnya, shalat dengan praktikum jadi sulit dibedakan kalau kita berada di UIN suka. Gak percaya? Coba saja!

Awal Peristiwa
Kejadian uniknya tuh setelah selesai dari menunaikan shalat ashar di masjid UIN. Bisa jadi, karena buah dari candaan di atas tadi, sehingga kena batunya deh. Atau mungkin karena sudah dianggap tidak layak pakai, jadi yang mengambilnya punya pikran "Gak akan ada yang nyariin kalau diambil juga.."

Ketika hendak pulang dan tiba di ujung teras, si sandal sudah tidak di tempat semula, atau dengan kata lain telah hilang.Ketika itu masih berpikir positif, dan beranggapan mungkin dipakai orang untuk berwudhu. Akan tetapi sepanjang ujung teras ditelusuri tetap saja tak ada. Akhirnya dengan terpaksa tak bersandal alias nyeker, untung sandalnya sudah jelek. Tapi, kok bisa ya? Padahal jauh dari kata layak pakai. Tapi masih saja bisa hilang.

Pulang dengan tanpa bersandal bagiku biasa saja, dan tidak merisaukan kehilanagn tersebut. Tetapi rupanya Samul yang merasa tidak enak dan sedikit "memaksa" untuk memakainkan sandal. Dengan kata lain, ia membelikan sandal baru.

Di atas motor dan dalam posisi perjalanan ke rumah sang dosen, pikiranku masih merasa heran dengan kejadian tadi. Heran bukan karena memikirkan sandalnya, tetapi "kok bisa hilang" ini ya menajdi titik fokusku. Apa lantaran saking jeleknya, akhirnya orang beranggapan bahwa sandal ini mungkin sudah tak bertuan? Atau ada motif lain lagi yang masih belum bisa di ungkap dan dikupas secara tuntas?

Sepertinnya banyak faktor yang bisa mempengaruhi kejadian ini. bagaimana kalau kejadian ini diangkat menjadi sebuah judul tugas akhir dengan judul "Tingkat Kesadaran Mahasiswa Yogyakarta dalam Bersandal di Masjid" atau jika diangkat dan untuk dimuat di Koran bisa pakai judul "Kasus Ghasab di Masjid Kampus Jogja merajalela" atau lain sebagainya. Sah-sah saja bukan?

Tak berapa lama, akhirnya kami sudah sampai di rumah Pak Syarif Zubaidah. Rupanya kami sudah disambut oleh Mas Najib dan Pak Syarif. Disuguhi kurma dan beberapa panganan manis yang katanya oleh-oleh dari Arab. Banyak hal yang dibicarakan, termasuk tentang peluang pembukaan calon dosen baru. Lalu tes PNS, kursus, dan lain-lain. Karena sebagai orang yang dimintai menemani, tugasku ya hanya menjadi pendengar yang baik.

Setelah dirasa cukup dan yang punya rumah juga sudah terpuaskan hasratnya serta dapat berbagai masukan dari Samsul, kami pun akhirnya pamit. Sekitar pukul lima sore, kami meninggalkan rumah salah satu dosen senior di hukum Islam FIAI UII.

Kembali Hilang
Fakta uniknya, sandal yang berwarna hitam itu sudah beberapa kali menghilang (entah dighasab oleh teman sesama asrama atau oleh para jamaah yang sekedar numpang untuk shalat)  sudah berhari-hari sandal hilang, tetapi suatu hari sandal itu kembali juga. Tentu senang banget bisa kembali lagi. Lalu ketika kubawa ke pengajian di salah satu masjid, sandal itu sepertinya dipakai oleh jamaah lain, beberapa hari ketika kukunjungi masjid itu, sandalnya kembali kutemui.

Hingga suatu malam, kubawa ke sebuah acara shalawat rutin yang kuikuti. Awalnya sandal itu masih ada tepat di depanku, tetapi dalam sekejap tiba-tiba raib. Entahlah siapa yang memakainya. Di sana orang banyak berlalu-lalang dan tak sempat kuamati satu persatu. Pekan depannya sandal itu ada, tepat di posisi semula seperti pekan lalu kuletakan. Karena aku sudah mengikhalaskannya, aku hanya sekilas menatap dan melupakannya. 

Kehilangan sandal  yang unik ini jelas membuat sesuatu hal yang menarik. Akan selalu kukenang.
__
(Tribunjogja - Kamis, 28/06) Sekumpulan orang berpakaian hijau tua loreng dan lengkap dengan senjatanya, sedang berjaga di sebuah asrama mahasiswa di jalan Indraprasta Condongcatur, Depok Sleman - Yogyakarta. Disinyalir ada salah seorang tersangka kasus bom yang telah ditemukan persembunyiannya.

Oknum yang diduga menyimpan bom ini, berinisial AH alias Amha. Rupanya lelaki bertubuh kecil ini berasal dari Kabupaten Serang-Banten. Tepatnya dari Kp. Pancur Ds. Panunggulan Kec. Tunjung Teja. 

Terduga pelaku penyimpan bom yang satu ini, diketahui sudah lama dicari dan diburu. Hanya saja ia selalu lolos dari kejaran petugas. Selalu lihai melarikan diri meski sudah dikepung 2 pasukan mobil.
Pada saat diwawancara, petugas belum mau memberikan klarifikasi secara utuh terkait jaringan mana yang diikuti AH. “Untuk sementara kami masih dalami kasus ini. Jaringan mananya belum kami selidiki lebih jauh lagi..." Ungkap kabid Humas Polsek Dabag, Sleman - DIY, Aiptu Agus.

Salah satu mahasiswa calon doktor di bidang pendidikan ini, rupanya cukup rapi dalam menjalankan aksinya. Bahkan rekan sekamar terduga pelaku pun merasa kaget dan heran. Sebab tidak ada gelagat yang aneh apalagi berbau bom, lebih-lebih terkait gelar doktornya.

"Saya cukup kaget ketika mendengar kejadian ini. Sepengetahuan saya orangnya baik dan tidak aneh-aneh. Biasa saja sih, dan gak keliatan orang sekolah tinggi...” Ungkap salah seorang teman kost yang tidak mau disebutkan namanya.

Ketika digeledah kamar terduga pelaku, oleh petugas. Akhirnya ditemukanlah barang bukti sebanyak 2 buah. Benda yang diduga Bom tersebut tergantung dalam bungkusan plastik hitam, diletakkan tepat di belakang lemari bajunya.

Ketika berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari pihak keluarga maupun kampus tempat ia belajar. Mungkin pihak terkait sedang memastikan jika sang pelaku pernah kuliah di lembaga tersebut dan dari keluarga juga sama, masih melacak keberadaanya.

Malah kepala dukuh Dabag sempat memberikan kesaksian kepada kami di depan asrama AH yang masih ramai dikelilingi pasukan bersenjata. “Masnya pernah ngajarin anak saya mengaji. Tapi kok saya gak nyangka ada kasus begini. Setahu saya orangnya baik dan sopan...

Ketika dikonfirmasi kepada terduga pelaku, ia mengakuinya. AH mengaku telah membeli bom dari tempat langganannya. Ia terpaksa membeli bom karena ada faktor desakan ekonomi. “Selain harganya murah, bisa dipake untuk nyuci berkali-kali. Daripada harus ke laundry mending nyuci sendiri..” Ungkapnya dengan puas. (Amha/)
___
Pagi-pagi, roda depan sepeda fixie yang kubawa, mengalami kebocoran. Ini akibat terkena paku payung di depan Perpustakaan terpadu (pusat). Tepatnya di jalan Kaliurang kilo meter 14,5.

Sepulang dari perpus, dicarilah tempat tambal ban. Sayangnya, semua tempat tambal menolak, bahkan berdalih tidak bisa. Padahal, jika mau mengakali caranya cukup mudah.

Bahkan ada tempat tambal yang seolah sinis menolak. Meski ekspresi ucapannya datar, dari gestur dan matanya tampak jelas bahwa itu sebuah penolakan yang cukup kasar (tidak perihatin, apalagi punya rasa peduli sama sekali).

Ketika kusadar dapat perilaku yang demikian, Aku malah nambah ngeyel. Beberapa kali kutunjukan sikap nyinyir pada pemilik tambal ban itu. Bahkan, aku nekat mengisi ban sendiri dengan menunjukan cara mengakalinya.

Disini gak bisa nambal ya?” Tanyaku berulang-ulang.

Karena kesal, pemilik tambal ban menjawab, “Lha terus kalau mompanya gimana? Gimana mau tahu letak yang bocornya, kalau dipompa ajah gak bisa?

Kan bisa diakali…” timpalku. Sambil kucontohkan caranya.

Tetap saja ia tak bergeming. Akhirnya karena sadar, hanya mencari mereka yang tulus mau membantu. Apa mereka kira, aku gak mampu bayar tambalannya itu? Jika demikian, sungguh sangat naif!

Akhirnya setelah sekian lama, kudapati tempat tambal ban. Sang bapak ngakunya gak pernah nambal ban sepeda. Tapi kuyakinkan bahwa tugasnya cuma nambal ban dan urusan lain (bongkar, mompa dan sebagainya) itu tugasku.

Bapaknya mau menerima usulku tadi. Tapi pas kulihat dengan maksud untuk mencoba, ternyata peralatannya sangat terbatas. Ujungnya, tak jadi nambal di tempat itu dan memilih untuk mencari yang lain.

Untungnya, sudah punya satu tempat tambal yang sreg. Sayangnya, sang pemilik bengkel sudah berangkat kerja. Di rumah hanya ada anak dan istrinya. Di rumahnya sangat sederhana itulah kutemukan keramahan, bahkan lebih wecome dari tambal ban yang sebelum-sebelumnya itu.

Di tengah kemajuan zaman yang cukup memprihatinkan seperti ini, rupanya mereka hanya berorientasi mencari keuntungan materi belaka. Bukan malah menjalin relasi. Padahal, berbisnis tanpa dikuatkan dengan ikatan relasi, sangat rapuh. Tidak lama juga nanti runtuh.

Ingat, relasi yang dibangun bukan relasi abal-abal alias palsu, tetapi relasi yang genuin dan murni. Tempat yang jadi langgananku, kutemui keakraban. Mereka tak segan-segan untuk mengobrol, bahkan mereka tak segan menolong.

Pernah, waktu itu sudah malam hari. Ban belakang bocor. Datang ke tempat tambal yang kini jadi langganan (tapi waktu itu baru pertama kali). Bengkelnya juga sudah tutup malah. Eh, Ibunya mau buka dan bersedia alatnya kupakai untuk nambal (pengerjaan semua kulakukan sendiri, alat-alat dari dari bengkel tersebut).

Karena kebetulan gak bawa uang, ibunya dengan santai. “Sudah, nanti kapan-kapan saja. Kalau lewat ke sini kagi Mas…” Sumpah ini bikin terharu dan inilah sikap dan sifat yang hampir telah langka kita temui di kehidupan zaman sekarang ini. Mereka inilah jelas orang baik.

___ 
Kak Darwati, itulah namanya. Ia satu tingkat di atasku kala kami satu sekolahan di MTs Nurul Falah Sukasari. Asalnya dari kampung Pabuaran.

Masih ingat dengan kisah/kejadian yang kuceritakan semasa sekolah dasar dulu? (Bagi yang belum tahu, bisa discrool ke bawah ya, pasalnya ada diupdetan beberapa hari yang lalu). Nah, ternyata apa kualami semasa SD, ternyata berulang lagi ketika di masa MTs.

Adapun perbedaannya dari kejadian waktu Mts dan SD itu, di antaranya: 1. Darwati itu perempuan, sedangkan yang dulu laki-laki. 2. Tempatnya di dalam ruangan, kalau dulu di alam terbuka. 3. Pakai perantara alat, dulu tanpa alat. 4. Tahu perkembangan pasca kejadian, dulu gak tahu-menahu sama sekali.

Kisah singkatnya begini! Sekolah sedang direhab (diperbaiki), semua kelas dialihkan ke majelis talim yang ada di samping masjid kampung Sukasari. Di Majelis Talim ini, kami belajar sampai gedung sekolah selesai dan siap digunakan kembali.

Kebiasaan di kelas yang biasanya harus bersepatu, kini berubah. Sepatu harus dicopot dan diletakan di luar. Biasa duduk di kursi, berubah jadi lesehan dan malah bisa sambil tengkurap dan tidur-tiduran.
Papan tulisnya yang biasa di atas, nempel di dinding, berubah ada di bawah dan cukup disandarkan ke tiang majelis. Jika tidak salah ingat, pembatas kelas yang satu dengan yang lainnya juga, pakai sekat dari bahan kain.

Karena belajarnya di majelis, maka kami pun sering mainnya di masjid. Ngobrol, bercanda, lari-larian, semuanya hampir di sana. Tetapi tetap kebanyakan siswa lainnya, ketika waktunya istirahat mereka banyak menghabiskan di luar majelis.

Awal mulanya bagaimana, sudah lupa. Tapi ketika itu, kayak main kucing-kucingan. Kak Darwati berlindung di tiang majelis yang ada papan tulisnya. Sehingga, kalau mau ditangkap harus muter dulu.
Menangkap dengan posisi si target berada dalam kondisi seperti ini, jelas sulit untuk di dapatkan. Ujung-ujungnya, muter-muter terus.

Ditengah keputusasaan inilah, kutemukan jurus baru. Karena di hadapanku ada sapu, maka ide itu muncul begitu saja dengan sendirinya.

Sapu itu kuambil. Lalu aku jatuhkan ke lantai. Sambil kuinjak sapunya, dan digerak-gerakan maju mundur dengan menggunakan kaki kanan. Setelah pengetesan ini dirasa cukup, barulah jurus ini kugunakan.

Sapu tadi kudorong ke arah tempat yang kira-kira akan Darwati lewati, lalu kukejar Ia dari arah yang lain (tentunya berlawanan), agar bisa mengarahkan sang target ke rencana yang tadi dibuat.
Ternyata jurusnya berhasil. Seratus persen dan malah melebihi ekspektasi. Sang target tidak hanya terjatuh tetapi kakinya juga sampai menendang pintu majelis dengan kuatnya.

Alhasil, Darwati kesakitan dan terpincang-pincang. Nah, esok paginya ia tak bisa masuk sekolah. Ternyata, kakinya keseleo sampe bareuh, tahukan ya apa itu bareuh? Bareuh artinya membengkak.
Tepat di bagian ibu jarinya yang membiru. Kalau tidak salah, sampai tiga hari lebih Darwati gak masuk sekolah, sehingga teman-teman sekelasnya datang untuk menjenguk.

Tak tahu apa yang ia sampaikan ke temannya itu. Entah gara-garaku atau ia membuat alibi lain. Tapi yang jelas, saat itu rasa bersalah itu ada. Permintaan maaf secara langsung, tak pernah kulakukan, tapi rasa-rasanya kami jadi saling introspeksi diri masing-masing dan mengakui bahwa itu adalah sebuh kesalahan yang tak perlu diulangi lagi.

Bercanda boleh, asal tidak berlebihan. Lagi pula, ketika itu tujuanku cuma satu. Menangkap dirinya dan kegiatan kucing-kucingan itu selesai. Adapun berakhir hingga demikian, jelas itu di luar dugaan.
Semoga dirinya sudah tidak ingat akan kisah ini. Atau kalau masih ingat, semoga yang diucapinnya kayak gini: “Maafin sudah, tapi lupa mah enggak…” Semoga!
__ 
Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme