Sudahkah kita bersyukur hari ini?
Sudahkah kita bersyukur hari ini? Ya pertanyaan itu pantas ditanyakan kepada diri kita masing-masing. Apkah bersyukur ataukah malah kufur atas nikmat Allah tersebut. Secara tidak sadar mungkin lebih condong kepada tidak mensyukuri nikmat ketimbang mensyukuri nikmat. Misalnya saja kita  diberikan kesehatan, tetapi dengan kesehatan tersebut malah digunakan untuk bermaksiat atau melaksanakan hal-hal yang dilarang oleh agama. Naudzubilah...

Bersyukur merupakan gambaran mu’min sejati. Karena syukur merupakan gambaran diri seseorang yang mampu menerima keadaan secara ikhlas, ridha serta tawakkal. Allah berfirman dalam al-Qur’an (QS. Ibrahim : 7-8 ) Artinya :  dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Janji Allah pada ayat diatas menjelaskan bahwa jika kita bersyukur maka kenikmatan tersebut akan Allah tambah, tetapi jika sebaliknya yaitu ingkar dan malah kufur nikmat maka balasannya adalah azab yang sangat pedih. Azab tersebut berlaku di dunia atau diakhirat kelak, kita tidak tahu azab itu kapan ditimpakan. Wallahu’alam

Mensyukuri hidup
Hidup itu adalah sebuah perjalanan dari masa ke masa, dengan berbagai lika-liku yang ada didalamnya. Dalam hidup ini kita biasa menemukan orang yang menjabat sebagai direktur, manager, karyawan, office boy, tukang parkir dan lain sebagainya. Semua jabatan itu dalam kacamata agama islam adalah berupa amanat dan tanggung jawab. Ditakdirkan menjadi orang miskin bukanlah musibah, tetapi disyukuri serta dijalani. Se-miskin apapun tidak syogyanya mencari rizki dengan cara yang diharamkan. Rizki Allah sangat luas, asalkan mau mencarinya dan tidak mudah putus asa.

Kaya atau miskin sebetulnya hanyalah status sosial, jika diberikan kemiskinan seyogyanya menikmati kemiskinan layaknya orang kaya yang menikmati ke kayaan nya. Tidak menyesali nasib yang dijalani, tetapi menerimanya dengan ridha kepada Allah dengan penuh ketegaran. Orang yang kaya bersyukur itu sudah seharusnya, tetapi orang yang hidup dalam kemiskinan kemudian ia bersyukur  atas kemiskinannya adalah orang yang luar biasa di mata Allah bahkan kedudukanya lebih mulia.

Allah melarang  setiap hambanya untuk berkeluh kesah, apalagi sampai menyalahkan Allah swt atas takdir yang diberikan kepada kita. Seharunya menganggap semua ini sebagai ujian agar lebih dekat dengan Allah dan merasa ada ketergantungan dengan Allah sebagai penolong dalam hidup. Hingga kita meyakini bahwa tidak bisa hidup tanpa pertolongan yang diberikan-NYA.

Hendaknya optimisti dalam menjalani kehidupan ini, dengan tetap berusaha semaksimal mungkin. Tidak melalaikan perintah Allah ketika berusaha, sehingga hasil akhir semuanay diserahkan kepada-NYA karena Dia-lah yang tahu apa yang terbaik bagi kita. Dengan demikian kita tidak akan pernah berputus ada menghadapi kehidupan ini, dengan segala kondisi apapun. Allah berfirman : dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut : 69)

Nabi bersabda : “kana al-faqru an yakuna kufran” artinya kefakiran lebih dekat kepada kekufuran. Apa yang disampaikan oleh nabi Muhamad memang begitu adanya. Seseorang yang kekurangan harta (miskin) sangat rentan untuk menukar keimanan mereka dengan uang. Bahkan ada selintingan yang bahwa agama ditukar dengan satu dus mie. Naudzubillah

Hidup dalam kekurangan memang berat, tetapi harus dilandasi dengan sikap tawkkal kepada allah,  janji allah di dalam al-Qur’an “dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS. At-Talaq :3)

Umar bin khatab mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “seandainya engkau bertawakkal kepada Allah swt, niscaya ia akan memberimu rezeki seperti Ia memberi rezeki kepada burung, dimana burung itu terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali lagi dalam keadaan kenyang”

Syukur dan Tawakal
Diriwayatkan bahwa ketika ditanyakan tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari rasulullah saw, ‘Aisyah, dengan mengelurakan air matanya, seraya berkata, “manakah yang tidak mengagumkan dari beliau?” lalu ia menceritakan, “suatu malam, aku tidur bersama rasulullah saw di tempat tidur. Namun, belum lama kami tidur, tiba-tiba beliau membangunkan ku seraya berkata,’wahai putri abu bakar! Izinkanlah aku bangun untuk beribadah kepada tuhanku!’ aku jawab, “sebenarnya aku senang kau tetap berada disampingku, tapi kau labih mendahulukan keinginanmu.’ Maka bangunlan beliau dari tidurnya, lalu berwudhu’ dengan sempurna, dan akhirnya melaksanakan shalat malam. Malam itu beliau shalat sampai subuh, dan selama melaksanakan shalat itu, aku lihat beliau menitikan air matanya hingga basah bajunya. Aku bertanya ‘apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis, wahai rasulullah? Bukankan allah telah mengampuni semua dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab,’tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyur?”

Abu utsman berkata, “syukurnya orang-orang awam adalah syukurnya terhadap nikmat makanan, minuman, dan pakaian. Sedangkan syukurnya orang yang khusus adalah syukurnya mereka terhadap nikmat ketakwaan didalam hatinya” ketika nabi idris mendengar kabar gembira tentang diampunkan segala dosa-dosanya, baliau memohon kepada allah swt agar dipanjangkan umurnya. “mengapa sampai demikian?” tanya orang-orang kepadanya. Beliau menjawab, “agar aku berkesempatan untuk bersyukur kepada-Nya. Sebab, selama ini aku hanya beramal untuk mendapatkan ampunan dari-Nya.”

Tawakkal adalah menyerahkan urusan kepada Allah, dan meyakini bahwa apa pun yang Allah berikan kepadanya tidak akan berpindah kepada orang lain, atau sebaliknya yang tidak menjadi jatahnya tidak mungkin ia terima. ...... dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".(QS. Al-Maidah : 23) Tawakkal itu bertingkat-tingkat, pertama tawakkal yakni bertwakkal terhadap janji-janji allah. Kedua, adalah taslim, yakni bertawakkal terhadap ilmu-Nya dan yang ketiga adalah tafwid, yakni bertwakkal terhadap takdir-Nya.

Dikatakan bahwa tawakkal merupakan permulaan dari tawakkal, taslim adalah pertangahannya, sedangkan tafwid adalah klimaksnya. Ada juga yang mengatakan bahwa tawakkal adalah sikapnya orang-orang awam, taslim adalah sikapnya orang-orang khusus sedangkan tafwid adalah sikapnya orang-orang yang lebih khusus lagi. Abu ali ar-Rudzbari berkata, “ada tiga tingkatan tawakkal, yaitu : pertama, bersyukur jika diberi, dan bersabar jika tidak diberi. Kedua, tetap bersyukur, baik ketika diberi maupun tidak. Ketiga, lebih menyukai tidak diberi karena tahu bahwa ia ada hikmah dari Allah bagi dirinya.”

Jika ditanya siapakah yang paling bersyukur dan bertawakkal? Jawabannya adalah Rasulullah saw. Walau sudah mendapat jaminan pengampunan dosa dari Allah beliau tetap bersyukur. Walau rasulullah sebagai seorang pemimpin tetapi beliau hidup dalam kesederhanaan, hartanya digunakan untuk kepentingan dakwah islamiyah, semuanya beliau serahkan kepada Allah. Jadi, jika ditanya siapakah yang pantas menjadi panutan kita dalam bersyukur dan bertawakkal maka Rasulullah saw adalah jawabannya. Wallahu’alam []

Hamzah Albantani
Divisi Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat
Dalam surat al-Baqarah [2]: 286, Allah swt berfirman لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ Artinya: “…Dia (manusia) mendapatkan ganjaran pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan dia juga mendapat siksa atas kejahatan yang diusahakannya…”

Ayat di atas menggunakan kata kasaba untuk arti usaha kebaikan, sementara usaha kejahatan (dosa), Allah swt pakai kata iktasaba. Menurut gramatika bahasa Arab, kasaba artinya usaha yang dilakukan dengan mudah dan gampang, sedangkan iktasaba adalah usaha yang dilakukan dengan berat dan susah. Dengan demikian, Allah swt mengatakan bahwa kebaikan itu adalah sangat mudah dilakukan, karena sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri yang cendrung kepada kebaikan. Sementara kejahatan adalah suatu yang sangat susah untuk dilakukan karena melawan fitrah manusia.

Contoh sederhana sebagai bukti kebaikan merupakan fitrah manusia, apabila seseorang menonton suatu film –bahkan seorang anak kecilpun- pastilah dia menginginkan sang lakon kebaikan (protagonis) yang menang. Tidak seorangpun yang menginginkan sang lakon kebaikan kalah dan lakon kejahatan (antagonis) yang menang.

Oleh karena kebaikan fitrah maka ia mudah dilakukan, namun sebaliknya kejahatan atau dosa amat sulit dilakukan. Seorang yang tidak pernah mencuri, saat pertamakali melakukan pencurian badannya akan gemetar, jantungnya berdebar, dan akan selalu dihantui rasa takut. Akan tetapi, bilamana seseorang telah mencoba melakukannya, maka dia akan mengulangi lagi pada waktu berikutnya hingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan dan sikap hidup yang susah untuk dirobah. Artinya, jika seseorang sudah memulai melakukan satu kejahatn yang kecil, maka dia akan diliputi banyak kesalahan yang lain, hingga kejahatan yang pada mulanya sulit dilakukan menjadi mudah, bahkan berobah menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Seperti yang dikatakan Allah swt dalam surat al-Baqarah [2]: 81


بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: “Siapa yang melakukan satu kesalahan dia akan diliputi banyak kesalahan yang lain, mereka itulah orang yang kafir.”

Begitulah strategi jitu syaithan dalam menggoda manusia untuk berbuat dosa. Ia mulai membujuk manusia untuk melakukan kesalahan yang sangat kecil, pada akhirnya membuat manusia melakukan dosa-dosa besar, sehingga manusiapun menjadi kafir karenanya. Tentang strategi syaithan ini Allah swt menggambarkannya dalam surat al-An’am [6]: 113

وَلِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

Artinya: “Dan supaya cendrung hati orang-arang yang tidak beriman kepada bisikan itu, lalu mereka merasa senag kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syithan) kerjakan.

Dari ayat di atas, Allah swt menggambarkan tiga langkah syaithan dalam menjerumuskan manusia. Pertama, dia ciptakan kecendrungan hati manusia untuk kejahatan yang pada awalnya mungkin dianggap kecil. Kedua, dia mulai menarik hati manusia untuk berkeinginan melakukan dosa itu dalam bentuk rencana. Dan ketiga, manusia terjatuh ke dalam jurang dosa dan melakukan keinginan syaithan.

Untuk memahami strategi syaithan ini, agaknya menarik menyimak kisah seorang abid yang akhirnya mati di pangkaun syaithan dalam kekafiran. Dikasahkan, hiduplah seorang abid yang sangat taat dan tekun beribadah. Hari-harinya dihabiskan untuk berzikir, shalat, membaca al-kitab dan bermunajat kepada Allah swt. Bahkan, dia mendapatkan karamah dari Allah swt berupa kemampuan berjalan diangkasa. Suatu ketika, syaithan merasa tidak senang dengan kesalehan sang abid, lalu bermaksud menggodanya dan membuatnya menjadi kafir kepada Allah swt.

Suatu hari, datanglah syaithan ke tempat sang abid beribadah dalam wujud manusia. Ia pun ikut beribadah di samping sang abid selama beberapa hari. Ternyata, sang abid memperhatikan orang yang di sebelahnya semenjak pertama kali kedatangannya. Dia sangat kagum dan heran kepada orang itu, karena semenjak awal kedatangannya, ia begitu khusus' beribadah, sehingga selama beberapa hari ia lupa makan dan minum juga tidak tidur. Sementara sang abid seperti layaknya manusia biasa, ketika lapar dia makan dan saat haus dia minum, bila mengantuk diapun tidur. Kekaguman inilah yang kemudian membuat sang abid ingin tahu bagaimana rahasinya agar bisa beribadah sampai ke tingkat seperti itu.

Sang abid memberanikan diri bertanya kepada syaithan yang berwujud manusia tadi, tentang rahasia khusu' beribadah sampai bisa melupakan makan, minum dan tidur. Syaithan “sang penyamar” menjawab "Rahasianya adalah, engkau harus berbuat dosa terlebih dahulu, sebab bila manusia berdosa dia akan beribadah dengan penuh rasa takut sehingga menimbulkan kekhusu'an dan dia akan lupa segalanya, yang ada hanya rasa takut dan penyesalan”. Sang abid ternyata membenarkan teori syaithan tersebut dalam hatinya, dan berkeinginan untuk mencoba. Maka diapun bertanya tentang dosa apa yang akan dia lakukan. Syaithan menjawab “Engkau bisa membunuh seseorang”. Kata sang abid “Itu adalah dosa besar”. Syaithan menyarankan yang kedua agar dia berzina. Sang abid juga menjawab "Itu juga dosa besar”. Saran syaithan yang ketiga meminum tuak (khamar). Ternyata sang abid menerima, karena merasa meminum khamar adalah dosa kecil.

Akhirnya, sang abid ke luar dari tempat peribadatanya dan mencari segelas tuak. Dia mendapatkannya dari seorang wanita penjual tuak keliling. Setelah diminum ternyata menimbulkan rasa enak, sampai sang abid mabuk dan hilang akal. Dalam kondisi mabuk, akhirnya sang abid memperkosa wanita yang menjual tuak itu. Ternyata, berita perkosaan terhadap wanita penjual tuak sampai ke telinga suaminya, hingga membuat suaminya marah dan dia berniat membunuh sang abid. Akhirnya, terjadilah perkelahian antara keduanya yang berujung pada terbunuhnya suami wanita penjual tuak yang telah diperkosa sang abid.

Berita mengenai sang abid yang mabuk, lalu memperkosa dan membunuh manusia, tersebar ke seluruh negeri hingga akhirnya sang abid ditangkap dan disalib di tiang gantungan. Di saat sakaratnya sang abid, datanglah syaithan yang tadi berwujud manusia yang menawarkan bantuan penyelamatan, namun dengan syarat mananggalkan tauhidnya. Sang abid menyanggupi dan saat itulah malaikat datang mencabut nyawanya sehingga sang abid mati dalam kekafiran.

Dari kisah itu, tergambar kelicikan syaithan dalam menjerumuskan manusia. Ia mulai menanamkan ketertarikan hati manusia terhadap dosa yang dianggap kecil, namun pada akhirnya manusia terjerumus melakukan dosa besar yang berujung kepada kekafiran. Itulah yang mestinya selalu disadari oleh setiap manusia, bahwa dia memiliki musuh yang selalu ingin menggelincirkannya ke jurang dosa. Suatu permusuhan abadi sampai hari kiamat. Syaithan sudah memproklamirkan permusuhan itu kepada manusia, semenjak dia diusir dari sorga. Semenjak itu pula, dia bersumpah akan menggelincirkan manusia dari jalan Allah dengan cara apapun. Hal itu diungkapkan Allah swt dalam surat al-A'raf [7]: 16-17


قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ(16)ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ(17)

Artinya: “Iblis menjawab:" karena Engkau telah menghukum saya sesat, maka saya pasti akan menyesatkan mereka dari jalan-Mu yang benar . kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at).

Syaithan bersumpah akan menyesetkan manusia dari segala arah; depan, belakang, kiri, dan kanan manusia. Namun, ada dua arah yang tidak bisa dimasuki syaithan, yaitu arah atas dan bawah. Dari kedua arah inilah manusia berpeluang selamat dari godaan syaithan. Jika diibaratkan tubuh manusia, di mana yang membuat tubuh itu sakit adalah virus yang menyerangnya. Maka, syaithan adalah virus yang membuat rohani manusia sakit. Bila jasad manusia ingin terbebas dari serang virus, maka dia harus menyuntikan sistem imunisasi atau kekebalan tubuh. Rohani yang bisa dijangkitai virus syithan, harus pula diberi imunisasi, dan imunisasinya adalah menutup dua arah yang tidak bisa dimasuki syaithan tadi. Arah atas adalah simbol zikir atau mengingat Allah swt. Sebab, bila manusia masih ingat kepada Tuhan syaithan tidak bisa memasukinya. Arah bawah, adalah simbol manusia yang menyadari kerendahan dan kelemahannya. Karena, bila manusia sadar akan kehinaannya dan kelemahannya sehingga dia jauh dari sikap ujub, takabbur atau sombong, maka dia selamat dari godaan syaithan.

Sementara itu, dalam surat al-A'raf [7]: 200-201 Allah swt memberikan petunjuk agar selamat dari godaan syaithan

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ(200)إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ(201)

Artinya: “Dan jika kamu ditimpa godaan syithan, maka berlindunglah kepada Allah karena Dia Maha Mendengar lagi Mengetahu (201). Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

sumber :
http://www.syofyanhadi.blogspot.com/2008/06/strategi-syaithan-menjerumuskan-manusia.html 
Perjalanan hidup Rasulaullah saw. yang kita temukan secara mutawatir dalam berbagai sumber bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan belaka. Segala hal yang terkait dengan kehidupan beliau adalah sebuah rencana besar dari Allah swt. yang serat dengan nilai-nilai pengajaran bagi seluruh manusia. Berikut akan kita lihat beberapa pelajaran dari perjalanan hidup Rasulullah saw.

Pertama, Muhammad secara harfiyah berarti orang yang terpuji. Karena memang, semenjak kecil Rasulullah saw. telah menunjukan sikap hidup yang sangat mulai dan terpuji. Bahkan, dalam riwayat diceritakan ketika nabi Muhammad hendak disusukan untuk pertama kalinya oleh ibu susunya Halimah, beliau menolak untuk menyusu ke susu yang sebelah kiri, karena susu tersebut adalah milik saudara sesusuannya yang telah menyusu sebelumnya yaitu Hamzah. Rasulullah saw. semenjak masih bayi ternyata telah menunjukan sikap hidup yang mulia. Dia tidak mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Kenapa bisa lahir seorang Muhammad (Manusia terpuji)? Mari kita lihat siapa ayah dan ibunya. Ayah beliau bernama Abdullah (hamba Allah). sesuai dengan namanya, Abdullah semasa hidupnya dikenal sebagi seorang yang shalih, jujur, dan sepanjang hidupnya tidak pernah ditemukan cacat dan keburukan. Dalam al-Qur’an, kata ‘Abd yang dinisbahkan kepada Allah selalu menunjukan kualitas manusia agung dengan separangkat sikap hidup yang mulia dan terpuji (lihat surat al-Furqan [25]: 63-75). Sementara ibunya bernama Aminah yang secara harfiyah berarti perempuan yang jujur dan terpercaya. Memang ibunda Rasulullah saw adalah wanita yang shalihah, jujur dan hidup dengan kemulian diri.Pertemuan Abdullah (hamba Allah) dan Aminah (perempuan yang jujur) pada akhirnya melahirkan Muhammad (manusia terpuji).

Begitulah isyarat Allah swt. kepada manusai bahwa tanaman dan buah yang baik akan lahir dari bibit yang baik pula. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan manusia untuk memilih jodoh atas dasar pertimbangan iman, bukan kecantikan, kekayaan atau kedudukanya. Lihatlah firman Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 221

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu'min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Hari ini, agaknya karena sudah dipengaruhi pandangan dan sikap hidup yang materialistis, cenderung yang menjadi pertimbangan dalam mencari jodoh dalam masyarakat kita adalah harta dan kedudukan. Sementa itu, faktor agama atau keimanan sudah mulai diabaikan. Jika seorang anak gadis berkata kepada orang tuanya bahwa dia sudah punya pilahan pendamping hidup, kebanyakan orang tua selalu mengemukankan pertanyaan, “Apa Pekerjaanya?”. Jarang orang tua yang bertanya, “Apa agamanya, rajinkah dia shalatkah, dst”.

Teramat sering kita temukan di tengah masyarakan sebuah keluarga mengadakan pesta besar dan mewah, karena menantunya seorang dokter, perwira atau pengusaha. Akan tetapi, jarang kita lihat sebuah keluarga memiliki kebanggan yang ditampilkan dalam pesta perkawinan, jika menantunya orang yang biasa sekalipun laki-laki yang shalih, patuh dan taat beribadah.

Oleh karena itu, jangan heran jika kita teramat susah melahirkan genarasi yang shalih, baik, dan patuh. Karena kita tidak lagi mempertimbangkan unsur agama dan keshalihan dalam memilih jodoh dan pasangan hidup. Bibit yang baik saja belum tentu bisa melahirkan tumbuhan dan buah bagus, apalagi jika bibitnya sudah pasti rusaknya, mustahil tanaman yang baik akan tumbuh dan menghasilkan buah yang baik pula dikemudian hari.

Kedua, Nabi Muahmmahd saw. diasuh dan dibesarkan oleh ibu susunya yang bernama Halimah yang secara harfiyah berarti wanita yang santun, lembut dan sopan. Memang, Halimah adalah sosok wanita yang lemut dan santun, sebab dia berasal dari suku Bani Sa’idah yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Arab jahiliyah sebagai suku yang ramah, santun dan fasih bahasanya.

Inilah salah satu hal yang menyebabkan nabi Muahmmad saw. menjadi mansuia yang santun dan memiliki kesopanan yang tinggi di kemudian hari. Asuhan dan didikan dari wanita yang santun sangat berpengaruh terhadap prilaku beliau di kemudin hari.

Inilah pelajaran berharga yang mesti kita ambil bahwa anak dan genarasi yang santun dan memiliki kesopanan serta kelemahlembutan, akan muncul jika anak tersebut diasuh oleh wanita yang ramah, santu, dan sopan pula. Jika seorang anak didik dan dibesarkan di lingkungan yang penuh kekerasan, sudah dipastikan watak yang keras dan kasarpun akan dimilikinya di kemudian hari.

Untuk masa sekarang ini, kita sangat khawatir dengan pendidikan anak-anak kita, terutama generasi Islam. Pandangan hidup yang sangat materialislit, bahwa ukuran kesuksesan itu harus diukur dengan seberapa banyak materi dan kekayaan yang dimiliki seseorang, sangat mempengaruhi pola pendidikan yang diterima anak-anak kita. Karena semua orang berlomba mengejar materi, akhirnya suami dan siteri mesti bekerja di luar rumah, pergi pagi pulang malam. Waktu berangkat anak belum bangun dari tidurnya, begitu pulang anak dijumpai sudah dalam kedaaan tidur lelap. Sehingga, komonikasi antara orang tua dan anak hanya lewat telpon saja. Setiap hari anak-anak tumbuh dan besar dengan pembantu.

Bagaimana jadinya, jika para pembantu yang dipercayakan mengasuh anak-anak kita, hanya memiliki hubungan yang bersifat materialistis dengan kita. Dia sudah tentu tidak akan merasakan bahwa anak yang kita lahirkan dengan susah payah seperti anaknya sendiri. Sudah barang tentu, anak akan besar dengan caranya sendiri atau bahkan tumbuh dengan melewati serentetan drama kekerasan bersama pembantu yang kita tinggalkan.

Oleh karena itu, jangan heran jika anak-anak kita hari ini sangat susah diatur, pembangkang dan bahkan hidup dalam gelombang dosa dan kesesatan. Karena kita, para ibu tidak menyiapkan diri sebagai Halimah atau pengasuh yang santun dan sopan.

Tiga, Nabi Muahmmad saw. semenjak lahir sampai berumur enam tahun dibesarkan di sebuah perkampungan yang jauh dari pengaruh kehidupan kota yang sangat bobrok, hedonis dan sebagainya. Pertanyaan sederhana, mengapa nabi Muahammad saw. harus melewati masa kecilnya di kawasan perkampungan tidak di Makkah yang merupakan kota metropolis ketika itu?

Di antara hikmahnya adalah, bahwa anak-anak yang tumbuh dan besar di kota biasanya jauh lebih mandiri, lebih tangguh dibandingkan anak-anak yang besar diperkotaaan. Di perkotaan, fasilitas hidup sudah sangat lengkap sehingga, apapun yang diinginkan tinggal membelinya saja. Sementara di desa, fasilitas hidup sangat minim dan sederhana, sehingga ketika ingin sesuatu seorang harus mencarinya sendiri atau bahkan membuatnya sendiri. Misalnya, di perkampungan tidak ditemukan orang yang menjual layang-layang, sehingga untuk memperolehnya seorang anak harus mampu atau belajar cara membuatnya sendiri.

Berbeda dengan di kota, hanya tinggal membelinya di tempat-tempat yang sudah disediakan untuk itu. Sehingga, fasilita yang lengkap membuat anak-anakyang dibesarkan di perkotaan menjadi manja, cengeng dan susah untuk mandiri. Bukankah di perkampungan itu, semenjak kecil nabi Muhammad sudah mengambalkan kambing?

Inilah pelajaran berharga bahwa anak semejak kecil harus diajar mendiri dan memiliki ketangguhan hidup dan tidak cengeng. Sekalipun, kita tidak mungkin harus mengirim anak ke desa seperti layaknya Nabi saw., namun subtansi kemandirian mesti kita terapkan kepada anak semanjak dini.

Alasan kedua kenapa nabi Muhammad saw. dibesarkan diperkampungan bahwa di perkampungan lingkungan masyarakatnya jauh lebih bersih dan lebih sehat dibandingkan perkotaan. Di perkampungan, masyarakatnya masih memiliki etika dan kesopanan yang tinggi. Sementara di kota, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa lingkungannya sudah sangat rusak. Masyarakat sebagian besar hidup tanpa nilai dan aturan. Bukankah dengan mudah bisa kita jumpai bahwa sebagian besar anak-anak yang rusak baik akhlak dan pergaulannya adalah anak-anak yyang tumbuh dan besar di perkotaan.

Alasan ketiga, bahwa di pedesaan bahasa manusia masih murni, bersih dan belum terkontaminasi dengan pengaruh budaya luar. Sebab, salah satu karakter pedesaan adalah bahwa ia masih tertutup dengan pengaruh budaya luar. Sementara, kota dihuni oleh berbagai manusia dari berbagai jenis dan bangsa. Tentu akan terjadi pembauran budaya termasuk bahasa. Maka, bahasa diperkotaan adalah bahasa yang sudah rusak.

Dengan dibesarkan di pedesaan Arab, nabi Muhammad saw. akan mendapatkan bahasa yang paling fasih dan bersih dari pengrauh bahasa lain. Itulah kemudian yang membuat nabi Muhammad saw. memiliki kefasihan lidah dalam berbahasa. Bahkan, beliau pernah bersabda, “Saya adalah orang Arab yang paling fasih dalam bahasa Dhadh (bahasa Arab)”.

Empat, setelah berusia enam tahun Halimah menyerahkan nabi Muhammad saw. kepada ibunya Aminah. Namun, baru beberapa hari saja beliau bersama ibunya, Aminahpun meninggal dunia setelah sebelumnya ketika beliau masih berumur dua bulan di dalam kandungan, ayahnya Abdullah pun dipanggil Allah. Setelah ibunya meninggal, pengasuhan diambil alih oleh kakeknya Abdul Muthallib sampai beliau berumur delapan tahun. Sebeb, setelah dua tahun berada dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muthallib pun meninggal dunia.
Ada hal yang menarik untuk kita cermati, kenapa nabi Muhammad ketika berumur enam sampai delapan tahun diasuh oleh kekek beliau dan setelah dua tahun Allah pun mengambil kekaknya.

Umur enam sampai delapan tahun memang secara kejiwaan seorang anak akan sangat dekat dengan kakeknya dan seorang kakekpun sangat merindukan cucunya. Sebab, ketika berumur enam sampai delapan tahun seorang anak berada dalam taraf yang sedang asyik bermain dan bercanda, dan tentu seorang kakek dengan kondisinya yang sudah di akhir hayat sangat senang dan merasa terhibur dengan keadaan ini. Akan tetapi, lebih dari itu kebijksaan dan pengalaman hidup seorang kakek akan diceritakan kepada cucunya dalam bentuk pengajaran pada masa ini.

Oleh karena itu, dalam fase kehidupan manusia memang ada peran kakek yang mesti diberikan, yaitu ketika anak berumur enam sampai delapan tahun.

Lima, setelah Abdul Muthallib meninggal pengasuhan dilanjutkan oleh paman beliau Abu Thalib. Abu Thalib adalah seorang tokoh Quraisy yang sangat berwibawa dan dihormati, akan tetapi secara ekonomi memang Abu Thalib tidak seberuntung suadaranya yang lain. Dari sembikan paman nabi Muhammad saw, Abu Thalib adalah paman beliau yang paling miskin. Sementara yang paling kaya adalah Harits dan Abbas.

Pertanyaannya kemduian, kenapa nabi Muhammad saw. harus diasuh oleh pamannya yang paling miskin, bukannya paman beliau yang paling kaya?

Di antara jawabannya adalah, bahwa seorang anak tidak baik dibesarkan dengan tumpukan harta dan kekakayaan. Jika seorang anak dibesarkan dengan uang yang banyak, maka cenderung dia menjadi anak yang cengeng dan tidak bisa mandiri. Bahkan, anak yang dibesarbkan dengan uang banyak, akan mengakibatkan kerusakan mental adan akhlaknya.

Itulah pelajaran berharga dari kehidupan Rasululla saw, bahwa hendaklah kita membesarkan anak-anak kita dengan mengajarkannya arti dan hakikat kehidupan, janganlah seorang anak dimanja dengan fasilitas yang mewah dan tumpukan uang. Karena sekalipun dengan maksud kita menyayangi anak, namun cara seperti itu justu akan merusak dan menghancurkan anak kita sendiri.

Enam, setelah nabi Muhammad diangkat menjadi rasul dan berdakwah selama tiga belas tahun da Makkah, akan tetapi aktifitas beliau selalu mengalamai hambatan dan tantangan kalau tidak akan dikatakan memperoleh kegagalan. Akhirnya, Rasulullah saw. hijrah, berpindah ke Madinah dan akhirnya dalam waktu sepuluh tahun beliau berhasil mencapai maksud mangajak manusia beriman dengan kesuksesan yang gemilang.

Kenapa nabi harus berpindah dari Makkah ke Madinah? Sebab, Makkah bukanlah lingkungan dan tempat yang kondusif untuk menjadikan nabi Muhammad saw sukses. Inilah pelajaran berharga dari perjalanan hidup Rasulullah saw. bahwa mestilah kita selau berpindah dari lingkungan yang tidak baik menuju lingkungan yang bagus dan kondusif untuk menunjang kesuksesan kita. Sebab, lingkungan adalah hal yang besar pengaruhnya terhadap seseorang. Sekaligus, lingkungan sangat menentukan dan mendukung kesukesesan seorang dalam mencapai maksud dan tujuannya.

sumber :

Manusia adalah makhluk sosial dan suka hidup bersama, begitulah ungkapan populer tentang manusia. Memang tidak ada satupun manusia yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan dan kerjasama dengan pihak lain. Karena tidak ada satupun pekerjaan yang bisa dilakukan seseorang, kecuali di sana ada bantuan dan andil pihak lain.

Jangankan pekerjaan besar dan sulit, untuk tertawapun yang dianggap pekerjaan gampang dan mudah pastilah butuh orang lain. Bukankah tertawa sendiri tanpa ada orang lain akan mendatangkan masalah bagi yang bersangkutan?

Itulah sebabnya pesan pertama yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad saw. di Gua Hira’ adalah penegasan akan fitrah membangun kebersamaan ini. Di mana wahyu yang pertama kali diturunkan, salah satunya menyebutkan bahwa ”manusia diciptakan dari segumpal darah (’alaq). Kata ’alaq secara harfiyah berarti ”tergantung”.

Karenanya, ”lintah” dalam kosa kata bahasa Arab juga disebut ’alaq karena sifatnya yang tergantung saat menghisap darah mangsanya. Gumpalan darah yang merupakan cikal bakal manusia tersebut disebut ’alaq karena sifatnya yang tergantung pada rahim seperti layaknya lintah. Dengan menyebutkan manusia diciptakan dari ’alaq, Allah swt. menegaskan bahwa begitulah sifat dasar manusia yang semenjak awal penciptaannya dia sudah memiliki ketergantungan pada pihak lain.

Sifat ketergantungan yang dimiliki manusia ini kemudian diwujudkan dalam bentuk membangun kerjasama dengan orang lain, dan kerjasama ini berawal dari hubungan persahabatan dan pertemanan. Oleh karenanya, mencari teman dan sahabat adalah fitrah setiap manusia. Namun demikian, agar manusia tidak salah dan keliru dalam memilih teman dan sahabat, maka Allah memberikan tuntunan tentangnya. Tuntunan tersebut menjadi penting, kesalahan dalam memilih teman dan sahabat justru bukannya akan memudahkan hidup manusia, justru malah bisa mendatangkan kesulitan dan petaka.

Adapun tuntuan tersebut seperti disebutkan dalam surat al-Qalam [68]: 8-13

فلا تطع المكذبين. ودوا لو تدهن فيدهنون. ولا تطع كل حلاف مهين. هماز مشاء بنميم. مناع للخير معتد أثيم. عتل بعد ذلك زنيم

Artinya: “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,

Ayat di atas memberikan beberapa kriteria orang tidak boleh kita jadikan teman dan sahabat yang akan kita terima dan ikuti segala saran dan nasehatnya atau bahkan sikap dan prilakunya. Mereka yang tidak boleh dijadikan teman adalah;

Pertama, Orang yang selalu mendustakan ayat-ayat Allah, yaitu mereka yang tidak mau percaya dan menerima kebenaran sekalipun sudah banyak bukti dan argumentasi diberikan pada mereka. Orang yang tidak mau menerima kebenaran biasanya adalah manusia yang egois dan sombong. Kesombongan adalah musuh kebaikan dan menjadikan seseorang jauh dari rahmat Allah serta dekat dengan syaithan.

Bagaimanakah jadinya jika kita mengambil sahabat seorang yang jauh dari Allah dan dekat dengan syaithan? Di sisi lain, bahwa orang yang tidak mau menerima kebenaran dan mendustakan ayat-ayat Allah, tentu saja akan jauh dari amal kebajikan. Sebab, amal kebajikan biasanya selalu lahir dari kepercayaan dan keyakinan akan Allah dan kebesaran-Nya.

Kedua, jangan menjadikan teman dan mengikuti orang yang banyak bersumpah lagi hina. Kehinaan yang dimaksud adalah sesuatu yang lahir dari sifat-sifat buruk yang dimilikinya, salah satunya adalah banyak bersumpah.

Kenapa seseorang sering, banyak atau gampang bersumpah? Sumpah adalah bentuk penguat (ta’kid) yang paling tinggi dari sebuah ucapan. Biasanya sumpah digunakan ketika lawan bicara tidak mempercayai ucapannya. Sehingga, jika seseorang mudah bersumpah itu berarti bahwa dia yakin kalau ucapannya tidak dipercayai orang lain. Perasaan tidak akan dipercayai orang lain, biasanya memang karena ucapan itu mengandung unsur bohong atau mengada-ada. Maka orang yang sering dan banyak bersumpah biasanya adalah pembohong dan suka mengada-ada. Maka ayat ini melarang seseorang untuk menjadikan teman orang yang suka berbohong dan mengada-ada bicarannya. Berteman dengan pembohong hanya akan mendatangkan masalah dan kesulitan bagi yang bersangkutan. Karena seorang pembohong tiadak akan segan berbohong dan mencelakan temananya sendiri demi kesalamatan dan kemashlahatan dirinya.

Ketiga, jangan menjadikan teman orang yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Sikap mencela adalah sikap dimana seseorang tidak pernah bisa melihat kebaikan dalam diri orang lain. Setiap saat dia hanya sibuk mencari keburukan orang lain, bahkan kebaikan yang dimiliki orang lain yang semestinya dihargai justru dianggapnya kejahatan dan disebarkan pada manusia lain. Sikap suka mencela pada akhirnya akan menjadikan manusia dijauhi orang lain dan bahkan cenderung memiliki banyak musuh. Bagaimanakah jadinya, jika kita mengambil orang yang demikian menjadi teman? Tentulah kerugian yang akan kita derita dan alami.

Keempat, jangan jadikan teman orang yang suka menghalangi perbuatan baik. Alangkah buruknya sahabat yang demikian, sudahlah tidak mau berbuat baik, diapun tidak senang melihat orang lain berbuat baik dan terus berusaha menghalangi orang tersebut sehingga jauh dari kebaikan. Alangkah celakanya kita jika menjadikan orang yang demikian menjadi sahabat dan teman karib. Ketika kita bermakasud shalat berjama’ah ke masjid, dia malah membujuk untuk pergi berjudi. Ketika kita bermaksud pergi sekolah dan belajar, dia malah mengajak untuk cabut dan bolos. Ketika kita hendak pergi mendengarkan ceramah di masjid atau mushalla, dia malah mengajak pergi ke bisokop nonton film. Adakah yang akan kita terima selain kerugian dan penyesalan dari sahabat yang demikian? Yang pasti tidak ada.

Kelima, jangan jadikan teman orang yang melampaui batas lagi banyak dosa. Melampaui batas adalah sebuah perbuatan yang disukai oleh syaithan, karena kata syaithan itu sendiri memang berarti melewati batas. Bukankah perbuatan mubazzir adalah saudara syaithan? Karena mubazzir pada prinsipnya adalah perbuatan melampui batas. Makanan yang seharusnya diambil satu porsi yang memang demikianlah kapasitas perutnya, lalu di ambil dua porsi sehingga bersisa dan tidak habis, maka itu adalah bentuk mubazzir. Pakaian yang harusnya cukup 2 pasang, lalu dibeli 10 pasang sehingga menumpuk di lemari dan menjadi lapuk dan lusuh tanpa dimanfaatkan adalah perbuatan mubazzir dan melampaui batas. Handphone yang harusnya cukup 1 buah, lalu dipakai 3 sampai 4 dengan harga jutaan adalah perbuatan melampui batas dan mubazzir, dan seterusnya.

Suatu perbuatan yang melampui batas tentu saja akan selalu mendatangkan dampak buruk bagi yang bersangkutan. Jangankan perbutan yang sudah pasti buruknya, perbuatan yang mubahpun jika melampui batas akan berakibat buruk. Tertawa yang melampui batas akan berujung pada tangisan, begitu juga tangisan yang melampaui batas akan berakhir dengan tertawa sendiri alias ”gila”. Begitulah perbuatan melampui batas. Oleh karenanya, jangan pernah berteman dengan orang yang suka melampaui batas, karena hanya akan mendatangkan masalah dan kesulitan.

Keenam, jangan jadikan tenam dan sahabat orang yang kasar. Sikap kasar jelas tidak akan mendatangkan rasa nyaman, karena hal itu adalah bertentangan dengan fitrah manusia. Oleh karena itulah manusia disebut Allah swt dengan sebutan al-ins yang secara harfiyah artinya jinak dan lembut. Manusia dinamakan demikian karena fitrahnya adalah lembut dan santun. Namun demikian, fitrah atau potensi lembut dan santun ini bisa berubah menjadi kasar karena faktor eksternal yang salah satunya adalah pengaruh orang dekat dan lingkungan sekitar. Seorang anak yang dididik di lingkungan yang identik dengan kekerasan dan prilaku kasar, maka secara perlahan namun pasti potensi lembutnya akan berubah menjadi kasar dan bengis pula.

Bukankah seekor singa atau harimau, jika semenjak lahir dibesarkan di lingkungan manusia yang ramah dan penuh kelembutan akan kehilangan potensi buas dan liarnya serta akan berubah menjadi binatang jinak seperti layaknya seekor kucing. Begitulah besarnya peran orang dekat dalam membentuk karakter dan watak seseorang. Oleh karena itu, jangan pernah berteman dengan orang yang keras, bengis dan kasar karena sikap buruk itu banyak sedikit secara perlahan namun pasti akan menjalar dan menular pada kita sahabatnya.

Ketujuh, jangan jadikan teman orang dan yang terkenal kejahatannya. Sebuah ungkapan bijak mengatakan, ”jika engakau ingin tahu dengan seseorang, maka tidak perlu engkau mengenalnya lebih dekat, namun cukup engkau mengetahui siapa teman dan sahabatnya. Sebab, teman dan sahabatnya itu adalah gambaran siapa sesungguhnya dia”.

Adalah fitrah manusia kalau dia akan mencari teman dan gampang bersahabat dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya, apakah persamaan umur, ras, bahasa, profesi, pendidikan dan sebagainya. Maka wajar jika dikatakan bahwa teman seseorang adalah gambaran siapa dirinya. Maka jika kita berteman dengan seorang ustadz misalnya, maka tentulah orang lain akan mengaggap diri kita sebagai orang baik. Jika berteman dengan pemabuk dan pejudi, mungkinkah orang lain menganggap kita seorang ustadz? Tentu tidak.

Maka, jika anda berteman dan bersahabat dengan pendosa dan memang sudah terkenal dengan kejahatannya, maka tentulah anggapan manusia lain adalah bahwa anda juga seorang penjahat seperti sahabat anda tersebut. Pepatah bijak lain mengatakan, ”jika anda berteman dengan penjual minyak wangi, maka minimal anda akan mencium aroma wanginya. Namun, jika anda berteman dengan ”tukang apa” atau pandai besi, minimal anda akan terkena bunga api, asap atau minimal panasnya api”.
Semoga bermanfaan. Wallahu a’lam.

sumber :
http://www.syofyanhadi.blogspot.com/2012/02/cara-memilih-teman.html

Siswa yang "nakal" itu bernama Naila dan Arina. Sebetulnya mereka berdua tidak nakal, hanya saja istilah  nakal itu saya berikan tanda kutip agar terkesan lebih wah atau lebih menarik. Naila dan Arina adalah kelas XII-A1 (dua belas IPA 1). Setiap saya masuk kelas hampir dua orang ini tidak ada, sempat sekali pertemuan mereka hadir tetapi kedua, ketiga dan keempat mereka tidak pernah ketemu lagi.

Saya kenal dengan mereka ketika mendapatkan tugas PPL (praktik pengalaman lapangan) di MAN Yogyakarta 3 atau yang lebih familiar dengan sebutan MAYOGA. Saat itu saya mendapatkan amanat untuk mengajar pelajaran Qur'an Hadits selama kurang lebih empat pertemuan di kelas mereka dan selebihnya di kelas XI-A4.

Kelas mereka sebetulnya enak, gokil dan lebih dewasa. Mereka sudah bisa menentukan pilihan mana yang terbaik dan yang tidak baik, sehingga lebih mudah untuk diatur. Tetapi karena kondisi pemabgain jadwal mengajar saya yang cukup tidak strategis mengakibatkan semuanya terasa berat. mengutup perkataan salah satu dosen di kampus "siang hari merupakan perjuangan terberat, karena tantangannya lebih berat;ngantuk, capek, kesel dan semuanya campur aduk".

Kembali ke Naila dan Arina, karena mereka tidak pernah ikut pelajaran bahkan tidak ikut ulangan harian pula, sehingga mau tidak mau mereka harus ikut remidi. Tugas yang saya berikan untuk mereka cukup berat tetapi dalam keyakinan saya dengan tugas tersebut justru mereka akan paham dan menguasai pelajaran, sehingga dapat mengejar ketertinggalan dari teman-temannya.

Tugas tersebut adalah mereka harus menulis rangkuman dari pertemuan pertama hingga pertemuan sebelum Ulangan harian. Tugas tersebut merupakan hukuman bagi keduanya karena jarang ada dikelas. Sebetulnya mereka tidak mengikuti pelajaran dikarenakan ada tugas madrasah (TM) biasanya untuk perlombaan atau lain-lain. Sebetulnya mereka adalah siswi yang hebat dan memiliki prinsip, organiasi dan sekolah adalah lahapan mereka. "kelak mereka akan menjadi orang yang sukses" AMIIIN.[]


Setiap orang pasti menginginkan kesehatan, karena denagn keadaan sehat banyak sekali hal yang bisa dilakukan. tetapi sedikit sekali orang yang bersyukur dengan salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT berikan. Kita baru mengerti dan sadar bahwa sehat itu adalah nikmat yang begitu besar, berharga dan tidak boleh disia-siakan setelah kite mengalami atau merasakan sakit itu sendiri. Bahkan tak sedikit orang yang sedang sakit berazam "kelak jika saya sembuh saya akan rajin beribadah, berbuat baik dan lain sebagainya...." azam ini diungkapkan ketika masih sakit, tujuannya adalah untuk memotivasi diri agar bisa sehat kembali dan membuat semangat baru. Ketika sehat apa yang ia azamkan ia laksanakan dengan baik.

Diawal bulan Desember 2012, Aku mendapatkan sebuah ujian dari Allah yaitu berupa sakit. Awalnya sakit itu biasa, bahkan tak sedikitpun terasa, tetapi menginjak tengah malam badan terasa tidak enak dan pada sakit-sakitan. Tadinya aku kira sakit initak akan lama, atau sampai satu mingguan, pasalanya kalau sakit ya paling masuk angin atau sakit kepala. Ya solusinya cukup minum obat atau ditidurkan pasti sembuh, tetapi setelah bangun pagi-pagi sakitnya semakin menjadi. Kepala pening, badan panas dan terasa lemas. Anggapanku lagi-lagi paling ini karena masuk angin, maka ku putuskan untuk tidak berangkat PPL (Praktek Pengalaman Lapangan).

Ketika malam pertama menikmati sakit, sungguh tak kuat rasanya. Ba'da magrib badan tidak enak, cahaya lampu terasa menyesak dan menginginkan cahaya yang redup tidak langsung kena cahaya lampu. Badan terasa panas, ditambah lagi dengan kepala terasa pusing dan sakit. Aku coba untuk memejamkan mata dan merasakan panasnya tubuh ini, tetapi semakin aku rasakan semakin kuat rasa panas itu menghinggapi tubuhku, hingga aku pun tak kuat merasakan panas tersebut. "ya allah jika nyawa ini hendak kau ambil maka ambilah..." batinku. Seketika akupun terbangun dan merasakan tubuh yang basah kuyup disebabkan sekujur tubuhku mengeluarkan keringat.

Dalam keadaan gelap, kuu raih handphone yang ada disampingku, ku lihat bahwa waktu menunjukan pukul 22.00. Badan sudah agak enakan, tetapi untuk bangun belum terlalu enak, masih sakit dan kepala pusing. Dalam kondisi seperti itu (mencari posisi yang enak untuk bisa tidur) berguling kesana kemari tetapi hasilnya tetap tidak bisa. Bahkan aku merasakan sesuatu yang aneh, dan ini tidak biasa aku alami. Malam itu ketika aku berguling-guling, dari arah kepala terasa ada yang meniup.. sempat dua kali aku merasakan dingin seperti kena kipas angin, padahal di kamar kami tidak ada kipas angin.

Pagi harinya kejadian itu aku ceritakan kepada teman sekamar ku. Tetapi ini kami anggap bukan apa-apa, bahkan tak sedikitpun kami merasa ketakutan ataupun merinding. Pasalnya kami tidak percaya dengan hal-hal yang seperti disiarkan televisi. 

Malam kedua badan sudah enteng dan enakan. Tetapi menginjak dini hari sekitar pukul 02.00 tak henti-hentinya aku batuk, batuk itu amat sakit dan terasa mencekik leher ini. Batuk itu berlanjut hingga sore hari dan ku putuskan untuk berobat ke dokter. 

Bermodalkan uang pas-pasan akhirnya berobat kedokter. Karena takut mahal aku mengabari keadaanku ke keluarga yang ada di rumah, alhamdulilah mereka mengirimkan uang tambahan untuk biaya berobatku, walapun tak seberapa tetapi sudah lebih dari pada cukup. Setelah diperiksa, ternyata aku mengalami Radang Tenggorokan. 

Tak banyak yang aku tanyakan ke dokter terkait penyebab sakit ku ini, melainkan aku lebih flashback ke beberapa hari sebelumnya, apa yang aku makan, apa yang sudah aku lakukan sehingga menyebabkan aku sakit. Setelah memutar-mutar otak tak satupun yang aku temukan masalahnya. Hal ini terjadi karena badanku sakit sehingga tidak bisa berpikir secara jernih dan tidak bisa digunakan untuk berpikir tentang sesuatu hal yang sifatnya sulit dipikirkan.

Hingga aku putuskan untuk menelepon ibu yang ada di rumah dan aku tanyakan tentang keadaannya, dan ternyata ibu ku juga baru sembuh dari sakitnya. Ibu bilang kalo ibu juga baru sembuh, "kemarin batuk-batuk dan alhamdulilah sudah mendingan, dibantu dengan minum jahe hangat..." ibu juga menyarankan agar aku tidak terlalu bnayak mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak minyak, salah satunya adalah makanan yang digoreng.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.” Ujaran Rasulullah SAW tsb diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.

Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda : “Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.” Allah memerintahkan :Malaikat pertama, untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah. Malaikat kedua, untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa. Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat pertama, kedua dan ketiga untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba. Namun untuk malaikat keempat, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”

Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.” []

Pertengahan tahun 2009, tepatnya (25/05) aku singgah di kota gudeg Jogja. Yogyakarta merupakan kota pertama yang aku singgahi dalam sejarah kota terjauh yang pernah ku jelajahi. Pada waktu itu memang aku hanya bermodalkan nekat untuk bisa sampai ke Yogyakarta. Pengalaman minim, bahkan jalan pun aku tidak tahu, maklum kuper dan gak pernah kemana-mana dulunya.

Bermodalkan catatan alamat yang diberiakn oleh teh Syifa dan nomor handpon yang ku miliki akhirnya aku beranikan diri untuk menysuslnya di jogja. Alhamdulilah akhirnya sampai ke tempat tujuan dengan selamat dan tanpa ada yang kurang salah satupun, tetapi jujur sewaktu naik bis aku merasa was-was dan sampe gak bisa tenang tidur di perjalanan, walaupun sampe larut malam.

Aku sempat terbangun dan kaget ketika bis yang aku tumpangi berhenti. Cuaca pada waktu itu hujan lebat dan aku tanya ke kondektur ternyata penumpang yang tujuan ke jogja di oper. Seketika itu maka aku langsung bangkit dan meraih tas ku yang ada di bagian atas. Dalam kondisi dingin yang sangat dan diguyur hujan plus malam2 pula, aku turun dari bis dan pindah ke bis yang lain. Huft.. semakin was-was saja perasaanku waktu itu..

Di bis yang baru aku naiki tak henti-hentinya aku kirim SMS ke teh Syifa, walaupun tengah malam aku tak menghiraukannya. Aku tahu jika SMS ku pasti kurang sopan dan mengganggu istirahatnya, tetapi apa yang aku lakukan adalah untuk menutupi rasa khawatirku yang samat sangat malam itu.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, suara adzan yang berkumandang mengiringi bis yang melaju menuju terminal tujuan. Waktu sudah menunjukan shalat subuh ternyata.. rasa khawatirku sudah mulai hilang dan sms dari teh Syifa juga sudah aku terima. Pemandangan suasana di waktu subuh dan hamparan bukit yang memancarkan sinar lampu-lampu dari rumah penduduk mengingatkanku akan sebuah perjuangan yang begitu berat tadi malam, tetapi semuanya kini terbayar sudah dengan pemandangan nan indah penuh pesona.

Perasaaanku tak karuan, aku ingat Ibu di rumah dan sejenak aku ingin pulang ke kampung.. tetapi tekad ku adalah aku akan belajar sungguh-singguh dan menjadi orang yang berguna, kelak aku akan kembali ke kampung halaman dan menjadi orang yang berguna disana. "tunggu aku.. aku pasti pulang" dalam batinku.

Pukul 07.00 aku tiba di Kota Yogyakarta. Sebagai orang asing aku kebingungan dan seolah tak percaya bisa sampai ke tempat yang begitu jauh dari kampung halaman. Segera ku kabari keluarga di rumah dengan hape butut warna biru dongker mirip dengan ulekan sambal. Mereka berpesan agar aku hati-hati dan jaga diri baik-baik, itulah pesan yang masih ku ingat.

Aku dijemput di Km. 4 namanya kentungan. Aku dibawa ke salah satu tempat, namnya adalah asrama zaini... atau dengan kata lain yaitu tempat asrama takmir Ulil Albab UII, karena teh Syifa pada waktu itu merupakan salah satu takmiroh mesjid ulil albab. Rupanya aku tidak sendiri disana, aku ditemani Ali Syamsudin (Im) dari NTT. Di takmir banyak sekali kenangan serta tempaan khususnya buatku, hidup dalam sebuah perantauan memang harus merasakan sulitnya menjalani hidup. Alhamdulilah berkat dukungan takmir semua terasa ringan. thank for all.. specially to mas Rahmat, mas Aziz, mas Feri dan lain-lain yang tidak saya sebutkan disini... semoga allah membalas semua kebaikan kalian dan mengabulkan semua harapan yang diinginkan AMIIN.

Tuhan di manakah engkau... tuhan hari ini di manakah engkau berada? aku mencari dirimu kesana kemari tanpa tahu arah engkau pastinya di mana. Meski hari ini ku cukup lelah mencari, ku coba untuk terus optimis mencari dirimu. Meski hari ini terasa berat dan lelah, tak ada kata menyerah untuk selalu memuja Mu, tuhan...

Tuhan alangkah hampa hidup ini tanpa Mu, tanpa kehadiran Mu di sisiku. Semuanya terasa indah bila engkau di sisiku, di hadapanku dan menemani hidup ku dalam hari-hari ku yang sunyi ini.

ku persembahkan puisi yang ku tulis dalam kegelisahan jiwa ini :

oh tuhan..
dalam gelap ku memohon padaMU
dalam rintih ku mengadu padaMU
tak ada ku mampu selain kepadaMU

Ku sadar bahwa aku biasa
Hanya makhluk yang penuh dosa
bergelimang kesalahan dan maksiat
tapi, ku mencoba untuk berhenti dari itu dan memilih BERTAUBAT

oh Tuhan...
jika dengan cara ini aku bisa lebih mendekatkan diri kepadaMU
MengenalMu..

tuhan di manakah engkau..
hari ini aku full melaksanakan perintahmu..
sholatku tak lagi berlubang..
ku pasrahkan diri ini untuk selalu menyebut Mu
meng-agungkan namaMU dalam setiap langkah ku

tuhan...
tampakkan lah wajahmu
agar aku mampu melihat keagungan yang terpancar dalam wajahMu..
sebagai manusia yang hina dan lemah
aku tak pernah lelah untuk mencari keberadaan MU..

Tuhan TANPAMU AKU BUKAN SIAPA-SIAPA
dan tak tahu harus kembali pada siapa...
esok, lusa atau bahkan hari ini umur ku tak lama lagi..

Pencarian ini sampai detik ini terus berlangsung. Semoga engkau berikan keistqamahan kepada hamba untuk terus berada di jalanMu. Meski kadang hamba lalai dan melupakanMu, tetapi hati ini, jujur tak dapat berpaling selain kepadaMu tuhan illahi rabbi.

* bait-bait puisi di atas merupakan kegundahan yang dialami oleh penulis saat ini. Saat merasa jauh dari tuhan. Maksiat dan dosa selalu diperbuatnya, sedangkan ketaatannya masih sangat dangkal dan baru sekedar menggugurkan kewajiban semata. Semoga Allah memberikan pengampunan dan kasih sayangnya kepada diri ini dan umumnya kepada kita semua selaku hambanya. Amin. []


Kepada Yayah Alawiah dan Ibad Badru Salam, saya ucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.. amiin. Tepat pada tanggal 06 Desember 2012 atau bertepatan dengan 22 Muharam 1434 H. merupakan hari bahagia kalian dan semoga semuanya menjadi lebih bermakna dan penuh limpahan kasih sayang setelah ucap janji setia sehidup semati, tetep setia sampai kakek nenek.

Acara resepsi ini dilaksanakan di kampung Nembol-Pandeglang-Banten, di rumah mempelai putri (Yayah Alawiah). Doakan semoga penulis bisa cepat nyusul dan memiliki pendamping hidup yang begitu setia menemani dalam duka maupun duka. Jujur, penulis merasa iri dengan siapa saja yang sudah menikah, karena hadis nabi mengatakan "pahala satu rakaat orang yang sudah menikah sama besarnya dengan 70 rakaat... sedangkan saya belum menikah jadi pahalanya masih sedikit.."

Untuk itu maka harus perbanyak puasa dan harus giat bekerja untuk mempersiapkan harta dan bekal nanti ketika sudah siap untuk menikah semuanya tinggal pakai dan tinggal jalan saja. Amiiin.



Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme