JUDUL PENELITIAN

Judul penelitian dinyatakan secara singkat dan spesifik tetapi cukup jelas menggambarkan masalah yang akan diteliti, tindakan untuk mengatasi masalah serta nilai manfaatnya. Formulasi judul dibuat agar menampilkan wujud penelitian tindakan kelas PTK bukan penelitian pada umumnya. Umumnya di bawah judul utama dituliskan pula sub judul. Sub judul ditulis untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang subyek, tempat, dan waktu penelitian. Berikut contoh judul penelitian tindakan kelas PTK dalam pendidikan dasar. 

Meningkatkan hasil belajar melalui pembelajanan kooperatif pada mata pelajaran IPS (dapat dituliskan topik bahasan dan juga mata pelajarannya) di SD Negeri XXX.

Penerapan pembelajaran model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada mata pelajaran Fisika Kelas VII di SMP XXX.

Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri pada Mata Pelajaran Geografi untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep tentang Perpindahan Penduduk.

BAB I 
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Tujuan utama penelitian tindakan kelas PTK adalah untuk memecahkan permasalahan pembelajaran. Untuk itu, dalam uraian latar belakang masalah yang harus dipaparkan hal-hal berikut.

Masalah yang diteliti adalah benar-benar masalah pembelajaran yang terjadi di sekolah. Umumnya didapat dari pengamatan dan diagnosis yang dilakukan guru atau tenaga kependidikan lain di sekolah. Perlu dijelaskan pula proses atau kondisi yang terjadi.

Masalah yang akan diteliti merupakan suatu masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut.

Identifikasi masalah di atas, jelaskan hal-hal yang diduga menjadi akar penyebab dari masa!ah tersebut. Secara cermat dan sistematis berikan alasan (argumentasi) bagaimana dapat menarik kesimpulan tentang akar masalah itu.

B.    Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah

Pada bagian ini umumnya terdiri atas jabaran tentang rumusan masalah, cara pemecahan masalah, tujuan serta manfaat atau kontribusi hasil penelitian. 

Perumusan Masalah, berisi rumusan masalah penelitian. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian tindakan kelas  PTK. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan cara mengajukan indikator keberhasilan tindakan, cara pengukuran serta cara mengevaluasinya.

Pemecahan Masalah; merupakan uraian altematif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti disesuaikan dengan kaidah penelitian tindakan kelas PTK. Cara pemecahan masalah ditentukan atas dasar akar penyebab permasalahan dalam bentuk tindakan yang jelas dan terarah. Alternatif pemecahan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Di samping itu, harus terbayangkan manfaat hasil pemecahan masalah dalam pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran. Juga dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas PTK dirumuskan secara jelas, dipaparkan sasaran antara dan sasaran akhir tindakan perbaikan. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian-bagian sebelumnya. Sebagai contoh dapat dikemukakan penelitian tindakan kelas PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi pembelajaran yang dianggap sesuai, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan lain sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi pembelajaran bukan merupakan rumusan tujuan penelitian tindakan kelas PTK. Ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif.

Di samping tujuan penelitian tindakan kelas PTK di atas, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh, khususnya bagi siswa, di samping bagi guru pelaksana penelitian tindakan kelas PTK, bagi rekan-rekan guru lainnya serta bagi dosen LPTK sebagai pendidik guru. Pengembangan ilmu, bukanlah prioritas dalam menetapkan tujuan penelitian tindakan kelas PTK.

BAB II 
KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Pada bagian ini diuraikan landasan konseptual dalam arti teoritik yang digunakan peneliti dalam menentukan alternatif pemecahan masalah. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku-pelaku penelitian tindakan kelas PTK lain di samping terhadap teori-teori yang lazim hasil kajian kepustakaan. Pada bagian ini diuraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan mendasar usulan rancangan penelitian tindakan. Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dapat dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan indikator keberhasilan tindakan yang diharapkan/ diantisipasi. Sebagai contoh, akan dilakukan penelitian tindakan kelas PTK yang menerapkan model pembelajaran kontekstual sebagai jenis tindakannya. Pada kajian pustaka harus jelas dapat dikemukakan:
  1. Bagaimana teori pembelajaran kontekstual, siapa saja tokoh-tokoh dibelakangnya, bagaimana sejarahnya, apa yang spesifik dari teori tersebut, persyaratannya, dll.
  2. Bagaimana bentuk tindakan yang dilakukan dalam penerapan teori tersebut pada pembelajaran, strategi pembelajarannya, skenario pelaksanaannya, dll.
  3. Bagaimana keterkaitan atau pengaruh penerapan model tersebut dengan perubahan yang diharapkan, atau terhadap masalah yang akan dipecahkan, hal ini hendaknya dapat dijabarkan dari berbagai hasil penelitian yang sesuai.
  4. Bagaimana perkiraan hasil (hipotesis tindakan) dengan dilakukannya penerapan model di atas pada pembelajaran terhadap hal yang akan dipecahkan.

BAB III 
PROSEDUR PENELITIAN

Pada bagian ini diuraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, waktu dan lamanya tindakan, serta lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Sistematika penelitian tindakan kelas ini meliputi:

Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian. Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya.

Variabel yang diselidiki. Pada bagian ini ditentukan variabel-variabel penelitian yang dijadikan fokus utama untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedurevaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) variabel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya. Rencana Tindakan. Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti : 
  1. Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan penelitian tindakan kelas PTK yang diprakarsai seperti penetapan tindakan, pelaksanaan tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi penelitian tindakan kelas PTK, dan lain-lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang ditetapkan. Disamping itu juga diuraikan alternatif-alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah 
  2. Implementasi Tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan. Skenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. 
  3. Observasi dan Interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang. 
  4. Analisis dan Refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan berikutnya. 
  5. Data dan cara pengumpulannya. Pada bagian ini ditunjukan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. 
  6. Indikator kinerja, pada bagian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindakan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan yang diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.
  7. Tim peneliti dan tugasnya, pada bagian ini hendaknya dicantumakan nama-nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian. 
  8. Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir. 
  9. Rencana anggaran, meliputi kebutuhan dukungan financial untuk tahap persiapan pelaksanan penelitian, dan pelaporan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN (Lain-lain yang dianggap perlu seperti rancangan materi dan pembelajaran yang akan dilaksanakan, serta alat pengumpulan data).

SUMBER :
http://belajarpsikologi.com/proposal-penelitian-tindakan-kelas/

Bagi yang ingin mendownload PTK langsung silakan BUKA DISINI
1. Identifikasi Masalah

Dalam mengidentifikasikan masalah, Anda sebaiknya menuliskan semua masalah yang Anda rasakan selama ini.

2. Pemilihan Masalah

Anda tidak mungkin memecahkan semua masalah yang teridentifikasikan itu secara sekaligus, dalam suatu action research yang berskala kelas. Masalah-masalah itu berbeda satu sama lain dalam hal kepentingan atau nilai strategisnya. Masalah yang satu boleh jadi merupakan penyebab dari masalah yang lain sehingga pemecahan terhadap yang satu akan berdampak pada yang lain; dua-duanya akan terpecahkan sekaligus. Untuk dapat memilih masalah secara tepat Anda perlu menyusun masalah-masalah itu berdasarkan kriteria tersebut: tingkat kepentingan, nilai strategis, dan nilai prerekuisit. Akhirnya Anda pilih salah satu dari masalah-masalah tersebut, misalnya “Siswa tidak dapat melihat hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain.”

3. Deskripsi Masalah

Setelah Anda memilih salah satu masalah, deskripsikan masalah itu serinci mungkin untuk memberi gambaran tentang pentingnya masalah itu untuk dipecahkan ditinjau dari pengaruhnya terhadap pembelajaran secara umum maupun jumlah siswa yang terlibat.

Contoh: “Jika diberi pelajaran dengan pendekatan terpadu antara geografi, ekonomi, dan sejarah siswa merasa sukar mentransfer keterampilan dari satu pelajaran ke pelajaran lain. Pelajaran yang saya berikan adalah geografi, tetapi saya sering mengaitkan pembahasan dengan mata pelajaran lain seperti ekonomi dan sejarah. Ketika saya minta siswa mengemukakan hipotesis tentang pengaruh Danau Toba terhadap perkembangan ekonomi daerah, siswa terasa sangat bingung; padahal mereka telah dapat mengemukakan hipotesis dengan baik dalam mata pelajaran geografi. Saya khawatir siswa hanya menghafal pada saat dilatih mengemukakan hipotesis. Padahal dalam kehidupan sehari-hari keterampilan berhipotesis harus dapat diterapkan di mana saja dan dalam bidang studi apa saja. Pada hakikatnya setiap hari kita mengemukakan hipotesis. Ketidakbisaan siswa itu terjadi sepanjang tahun, tidak hanya pada permulaan tahun ajaran. Kelihatannya semua siswa mengalami hal yang sama, termasuk siswa yang cerdas. Guru lain ternyata juga mengalami hal yang sama, siswanya sukar mentransfer suatu keterampilan ke mata pelajaran lain.”

4. Rumusan Masalah

Setelah Anda memilih satu masalah secara seksama, selanjutnya Anda perlu merumuskan masalah itu secara komprehensif dan jelas. Sagor (1992) merinci rumusan masalah action research menggunakan lima pertanyaan:

1.    Siapa yang terkena dampak negatifnya?
2.    Siapa atau apa yang diperkirakan sebagai penyebab masalah itu?
3.    Masalah apa sebenarnya itu?
4.    Siapa yang menjadi tujuan perbaikan?
5.    Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi hal itu? (tidak wajib, merupakan hipotesis tindakan).

Contoh rumusan masalah:

•    Siswa di SLTP-X tidak dapat melihat hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain di sekolah (Ini menjawab pertanyaan 1 dan 3)
•    Grup action research percaya bahwa hal ini merupakan hasil dari jadwal mata pelajaran dan cara guru mengajarkan materi tersebut (Ini menjawab pertanyaan 2)
•    Kita menginginkan para siswa melihat relevansi kurikulum sekolah, mengapresiasi hubungan antara disiplin-disiplin akademis, dan dapat menerapkan keterampilan yang diperoleh dalam satu mata pelajaran untuk pemecahan masalah dalam mata pelajaran lain (Ini menjawab pertanyaan 4)
•    Oleh karena itu kita merencanakan integrasi pembelajaran IPA, matematika, bahasa, dan IPS dalam satuan pelajaran interdisiplin berjudul Masyarakat dan Teknologi (Ini manjawab pertanyaan 5)

Contoh pertanyaan penelitian:

1.    Kesulitan apa yang dialami siswa dalam mentransfer keterampilan dari satu mata pelajaran satu ke mata pelajaran lain?
2.    Apakah siswa dapat mentrasfer keterampilan lebih mudah antara dua mata pelajaran yang disukai?
3.    Apa yang menyebabkan siswa menyukai suatu mata pelajaran?
4.    Apakah ada perbedaan antara prestasi belajar siswa yang belajar dalam kelas mata pelajaran multidisiplin dibandingkan dengan mereka yang dalam kelas mata pelajaran tunggal?

G. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

1. Kajian Teori

Dalam membuat rumusan masalah di atas sebenarnya Anda telah melakukan “analisis penyebab masalah” sekaligus membuat “hipotesis tindakan” yang akan diberikan untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk melakukan analisis secara tajam dan menjustifikasi perlakuan yang akan diberikan, Anda perlu merujuk pada teori-teori yang sudah ada. Tujuannya sekedar meyakinkan bahwa apa yang Anda lakukan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Dalam hal ini proses kolaborasi memegang peranan yang sangat penting.

Anda juga perlu membaca hasil penelitian terakhir, termasuk CAR, siapa tahu apa yang akan Anda lakukan sudah pernah dilakukan oleh orang lain; Anda dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang itu. Manfaat lain yang lebih penting, Anda akan mengetahui trend-trend baru yang sedang diperhatikan atau diteliti oleh para guru di seluruh dunia. Sekarang ini sedang nge-trend pembelajaran yang bernuansa quantum teaching, quantum learning, contextual learning, integrated curriculum, dan competency based curriculum yang semua berorientasi pada kepentingan siswa. Jika penelitian Anda masih berkutat pada pemberian drill dan PR agar nilai UAN mereka meningkat, tanpa memperdulikan rasa ketersiksaan siswa, profesionalisme Anda akan dipertanyakan.

2. Hipotesis Tindakan

Lakukanlah analisis penyebab masalah secara seksama agar tindakan yang Anda rencanakan berjalan dengan efektif. Hipotesis tindakan dapat Anda tuliskan secara eksplisit, tetapi dapat juga tidak karena pada dasarnya Anda belum tahu tindakan mana yang akan berdampak paling efektif.

H. METODOLOGI

1. Setting Penelitian

Setting penelitian perlu Anda uraikan secara rinci karena penting artinya bagi guru lain yang ingin meniru keberhasilan Anda. Mereka tentu akan mempertimbangkan masak-masak apakah ada kemiripan antara setting sekolahnya dengan setting penelitian Anda.

2. Perbedaan Mengajar Biasa dengan CAR

Dalam melakukan CAR kegiatan mengajar standar (biasa) berlangsung secara alami; tetapi ada bagian-bagian tertentu yang diberi perlakuan secara khusus dan diamati dampaknya secara seksama. Langkah-langkah seperti pembuatan satuan pelajaran, rencana pelajaran, lembaran kerja, dan alat bantu pembelajaran lainnya adalah langkah pembelajaran standar, bukan CAR. Asumsinya CAR dilaksanakan oleh guru yang sudah melaksanakan pembelajaran standar secara lengkap tetapi belum berhasil. Ia akan memodifikasi bagian-bagian tertentu dari pembelajaran standar itu. Bagian yang dimodifikasi itulah fokus dari CAR Anda.

3. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan CAR sebaiknya hanya menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan CAR. Jika ada perubahan pada satuan pelajaran misalnya, hanya bagian yang diubah saja yang perlu diuraikan secara rinci. Akan lebih baik jika perubahan itu diletakkan dalam konteks satuan pelajaran aslinya sehingga terlihat jelas besar perubahan yang dilakukan. Perangkat-perangkat pembelajaran juga hanya tambahannya yang diuraikan secara rinci. Jika pembelajaran standar telah dilaksanakan dengan baik perangkat pembelajaran yang diperlukan untuk CAR dengan sendirinya sebagian besar sudah tersedia.

Yang sering terjadi dalam CAR selama ini pembelajaran standar belum dilaksanakan sehingga CAR menjadi wahana untuk mewujudkan pembelajaran standar. Hal itu terlihat dari latar belakang yang diuraikan secara emosional oleh peneliti, umumnya menggambarkan pembelajaran yang sangat tradisional, buruk, dan di bawah standar. Setelah sekolah mendapat bantuan dana peningkatan kualitas pembelajaran pun uraian latar belakang itu tidak menunjukkan adanya perubahan yang berarti. Secara tidak langsung ditunjukkan bahwa perlakuan-perlakuan yang diberikan oleh pemberi dana selama ini berlalu tanpa bekas.

Tahap perencanaan bisa memerlukan waktu setengah bulan karena harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, termasuk di dalamnya adalah penyusunan jadwal, pembuatan instrumen, dan pemilihan kolaborator.

4. Siklus-siklus

Dalam CAR siklus merupakan ciri khas yang membedakannya dari penelitian jenis lain; oleh karena itu siklus harus dilaksanakan secara benar. Siklus pada hakikatnya adalah rangkaian “riset-aksi-riset-aksi- …” yang tidak ada dalam penelitian biasa. Dalam penelitian biasa hanya terdapat satu riset dan satu aksi kemudian disimpulkan. Dalam CAR hasil yang belum baik masih ada kesempatan untuk diperbaiki lagi sampai berhasil.

Siklus terdiri dari (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi; dan (5) perencanaan kembali. Yang diuraikan dalam siklus hanya bagian yang dimodifikasi melalui action reseach, bukan seluruh proses pembelajaran. Modifikasi atau perubahan secara total jarang dilakukan dalam action research yang berskala kelas karena bagaimanapun sistem pendidikan secara umum masih belum berubah.

Misalnya Anda akan memodifikasi pembelajaran dengan memperbanyak penggunaan carta. Dalam “perencanaan” yang Anda uraikan adalah tentang carta itu saja, misalnya “Tiap pertemuan diusahakan akan ada carta yang digunakan dalam kelas.” Dalam “pelaksanaan” Anda uraikan kenyataan yang terjadi, apakah benar tiap pertemuan bisa digunakan carta, misalnya “Penggunaan carta tiap pertemuan hanya dapat dilakukan selama dua minggu pertama; minggu berikutnya rata-rata hanya satu carta tiap empat pertemuan.” Anda tentu saja dapat mengelaborasi “pelaksanaan” itu dengan menyebutkan carta-carta apa saja yang digunakan, saat-saat mana yang paling tepat untuk penggunaan, siapa yang menggunakan, berapa lama digunakan, berapa ukurannya, di mana disimpan, dsb., dsb. “Pengamatan” didominasi oleh data-data hasil pengukuran terhadap respons siswa, menggunakan berbagai instrumen yang telah disiapkan. “Refleksi” berisi penjelasan Anda tentang mengapa terjadi keberhasilan maupun kegagalan, diakhiri dengan perencanaan kembali untuk perlakuan pada siklus berikutnya.

Dalam action reseach selama ini banyak siklus yang bersifat semu, tidak sesuai dengan kaidah yang sudah baku. Inilah kelemahan-kelemahan yang terjadi.

1. Dalam siklus diuraikan semua proses pembelajaran, sehingga tidak dapat dilihat bagian yang sebenarnya sedang diteliti. Seolah-olah seluruh proses pembelajaran diubah secara total melalui CAR, dan sebelumnya pembelajaran berlangsung secara tradisional, buruk, dan di bawah standar.

2. Tidak jelas apakah perlakuan dalam suatu siklus dilakukan secara terus-menerus selama periode tertentu, sampai data pengamatan bersifat jenuh (menunjukkan pola yang menetap) dan diperoleh dari berbagai sumber (triangulasi). Sebagai analogi, jika selama satu minggu suhu badan pasien menunjukkan suhu 37,50 C; 370 C; 370 C; 37,50 C; 37,50 C; 37,50 C; dapatlah disimpulkan bahwa kondisinya telah kembali normal. Itu digabungkan dengan data pengamatan lain selama seminggu juga seperti perilaku, nafsu makan, dan denyut nadi pasien, yang bersifat triangulatif.

3. Siklus dilakukan tidak berdasarkan refleksi dari siklus sebelumnya. Ada siklus yang dilakukan secara tendensius: siklus pertama dengan metode ceramah, siklus kedua dengan demonstrasi, dan siklus ketiga dengan eksperimen, hanya ingin menunjukkan bahwa metode eksperimen adalah yang terbaik. Peneliti ini lupa bahwa metode harus disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran. Untuk materi pertama boleh jadi justru metode ceramah yang lebih cocok.

5. Instrumen
Instrumen merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan CAR. Jenis instrumen harus sesuai dengan karakteristik variabel yang diamati. Triangulasi dan saturasi (kejenuhan informasi) perlu diperhatikan untuk menjamin validitas data.
Sebagai paradigma sebuah penelitian tersendiri, jenis PTK memiliki karakteristik yang relatif agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian naturalistik, eksperimen survei, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain PTK dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian kualitatif dan eksperimen. PTK dikatagorikan sebagai penelitian kualitatif karena pada saat data dianalisis digunakan pendekatan kualitatif, tanpa ada perhitungan statistik. Dikatakan sebagai penelitian eksperimen, karena penelitian ini diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya perlakuan. Ditinjau dari karakteristiknya, PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain: (1) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional; (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya; (3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek instruksional; (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.

Menurut Richart Winter ada enam karekteristik PTK, yaitu (1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolaboratif, (4) resiko, (5) susunan jamak, dan (6) internalisasi teori dan praktek (Winter, 1996). Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan secara singkat karakteristik PTK tersebut.

1. Kritik Refeksi; salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi. Hanya saja, di dalam PTK yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau penilaian, dan refleksi ini perlu adanya upaya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi terhadap perubahan-perubahan.
2. Kritik Dialektis; dengan adanyan kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap: (a) konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun dapat dipisahkan secara jelas, dan, (b) Struktur kontradiksi internal, -maksudnya di balik unit yang jelas, yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.
3. Kolaboratif; di dalam PTK diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Mengapa demikian? Oleh karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung.Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki ,kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
4. Resiko; dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut agar peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya (a) melesetnya hipotesis dan (b) adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan karena ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kalaborator dan selanjutnya menyebabkan pandangannya berubah.
5. Susunan Jamak; pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal karena ditentukan oleh suara tunggal, penelitinya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur jamak karena jelas penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasi atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang diteliti harus mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Suatu contoh, seandainya yang diteliti adalah situasi dan kondisi proses belajar-mengajar, situasinya harus meliputi paling tidak guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar-mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai, dan sebagainya.
6. Internalisasi Teori dan Praktik; Menurut pandangan para ahli PTK bahwa antara teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung tranformasi. Pendapat ini berbeda dengan pandangan para ahli penelitian konvesional yang beranggapan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang terpisah. Keberadaan teori diperuntukkan praktik, begitu pula sebaliknya sehingga keduanya dapat digunakan dan dikembangkan bersama.

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa bentuk PTK benar-benar berbeda dengan bentuk penelitian yang lain, baik itu penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif maupun paradigma kualitatif. Oleh karenanya, keberadaan bentuk PTK tidak perlu lagi diragukan, terutama sebagai upaya memperkaya khasanah kegiatan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan taraf keilmiahannya.

D. MODEL - MODEL ACTION RESEARCH

Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari berbagai model action research, terutama classroom action research. Dialah orang pertama yang memperkenalkan action research. Konsep pokok action research menurut Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu : (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus.
Model Kemmis & Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan Kurt lewin seperti yang diuraikan di atas, hanya saja komponen acting dan observing dijadikan satu kesatuan karena keduanya merupakan tindakan yang tidak terpisahkan, terjadi dalam waktu yang sama

E. MASALAH CAR

Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan masalah CAR.

1. Banyaknya Masalah yang Dihadapi Guru
Setiap hari guru mengahadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada putus-putusnya. Oleh karena itu guru yang tidak dapat menemukan masalah untuk CAR sungguh ironis. Merenunglah barang sejenak, atau ngobrollah dengan teman sejawat, Anda akan segera menemukan kembali seribu satu masalah yang telah merepotkan Anda selama ini.

2. Tiga Kelompok Masalah Pembelajaran
Masalah pembelajaran dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu (a) pengorganisasian materi pelajaran, (b) penyampaian materi pelajaran, dan (c) pengelolaan kelas. Jika Anda berfikir bahwa pembahasan suatu topik dari segi sejarah dan geografi secara bersama-sama akan lebih bermakna bagi siswa daripada pembahasan secara sendiri-sendiri, Anda sedang berhadapan dengan masalah pengorganisasian materi. Jika Anda suka dengan masalah metode dan media, sebenarnya Anda sedang berhadapan dengan masalah penyampaian materi. Apabila Anda menginginkan kerja kelompok antar siswa berjalan dengan lebih efektif, Anda berhadapan dengan masalah pengelolaan kelas. Jangan terikat pada satu kategori saja; kategori lain mungkin mempunyai masalah yang lebih penting.

3. Masalah yang Berada di Bawah Kendali Guru
Jika Anda yakin bahwa ketiadaan buku yang menyebabkan siswa sukar membaca kembali materi pelajaran dan mengerjakan PR di rumah, Anda tidak perlu melakukan CAR untuk meningkatkan kebiasaan belajar siswa di rumah. Dengan dibelikan buku masalah itu akan terpecahkan, dan itu di luar kemampuan Anda. Dengan perkataan lain yakinkan bahwa masalah yang akan Anda pecahkan cukup layak (feasible), berada di dalam wilayah pembelajaran, yang Anda kuasai. Contoh lain masalah yang berada di luar kemampuan Anda adalah: Kebisingan kelas karena sekolah berada di dekat jalan raya.

4. Masalah yang Terlalu Besar
Nilai UAN yang tetap rendah dari tahun ke tahun merupakan masalah yang terlalu besar untuk dipercahkan melalui CAR, apalagi untuk CAR individual yang cakupannya hanya kelas. Faktor yang mempengaruhi Nilai UAN sangat kompleks mencakup seluruh sistem pendidikan. Pilihlah masalah yang sekiranya mampu untuk Anda pecahkan.

5. Masalah yang Terlalu Kecil
Masalah yang terlalu kecil baik dari segi pengaruhnya terhadap pembelajaran secara keseluruhan maupun jumlah siswa yang terlibat sebaiknya dipertimbangkan kembali, terutama jika penelitian itu dibiayai oleh pihak lain. Sangat lambatnya dua orang siswa dalam mengikuti pelajaran Anda misalnya, termasuk masalah kecil karena hanya menyangkut dua orang siswa; sementara masih banyak masalah lain yang menyangkut kepentingan sebagian besar siswa.

6. Masalah yang Cukup Besar dan Strategis
Kesulitan siswa memahami bacaan secara cepat merupakan contoh dari masalah yang cukup besar dan strategis karena diperlukan bagi sebagian besar mata pelajaran. Semua siswa memerlukan keterampilan itu, dan dampaknya terhadap proses belajar siswa cukup besar. Sukarnya siswa berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan ketidaktahuan siswa tentang meta belajar (belajar bagaimana belajar) merupakan contoh lain dari masalah yang cukup besar dan strategis. Dengan demikian pemecahan masalah akan memberi manfaat yang besar dan jelas.

7. Masalah yang Anda Senangi
Akhirnya Anda harus merasa memiliki dan senang terhadap masalah yang Anda teliti. Hal itu diindikasikan dengan rasa penasaran Anda terhadap masalah itu dan keinginan Anda untuk segera tahu hasil-hasil setiap perlakukan yang diberikan.

8. Masalah yang Riil dan Problematik
Jangan mencari-cari masalah hanya karena Anda ingin mempunyai masalah yang berbeda dengan orang lain. Pilihlah masalah yang riil, ada dalam pekerjaan Anda sehari-hari dan memang problematik (memerlukan pemecahan, dan jika ditunda dampak negatifnya cukup besar).

9. Perlunya Kolaborasi
Tidak ada yang lebih menakutkan daripada kesendirian. Dalam collaborative action reseach Anda perlu bertukar fikiran dengan guru mitra dari mata pelajaran sejenis atau guru lain yang lebih senior dalam menentukan masalah.

* Bagi yang ingin mendownload PTK secara langsung, silakan BUKA DISINI
A. PENGERTIAN

Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai.

Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti.

Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.

Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti.
Perbedaan antara penelitian formal dengan classroom action research disajikan dalam tabel berikut.

Penelitian Formal
Classroom Action Research
Dilakukan oleh orang lain Dilakukan oleh guru/dosen
Sampel harus representatif Kerepresentatifan sampel tidak diperhatikan
Instrumen harus valid dan reliabel Instrumen yang valid dan reliabel tidak diperhatikan
Menuntut penggunaan analisis statistik Tidak diperlukan analisis statistik yang rumit
Mempersyaratkan hipotesis Tidak selalu menggunakan hipotesis
Mengembangkan teor Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung

B. MENGAPA PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENTING ?

Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesional seorang guru :

1.    PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap lakukan.apa yang dia dan muridnya
2.    PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.
3.    Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.
4.    Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
5.    Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.
6.    Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

C. HAKIKAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.

PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.

Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).

Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).

Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.

Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

* Bagi yang ingin mendowload PTK secara langsung, silakan BUKA DISINI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Satuan Pendidikan    :  MAN III Yogyakarta (MAYOGA)
Mata Pelajaran    :  AL-Qur’an Hadits
Kelas/Semester    :  XII IPA 1/ Ganjil
Alokasi Waktu    :     2 X 45 Menit

A.    Standar Kompetensi:
Memahami  ayat-ayat al Qur’an dan al Hadits tentang tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat

B.    Kompetensi  Dasar
Peserta didik memahaami QS. Al-An’am : 70, QS. An-Nisa’ :36 dan  QS.Hud :117-119 dan  hadits tentang tanggung  jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi :
  • Membaca dan Mengartikan  QS. Al-An’am : 70
  • Membaca dan mengartikan QS..An-Nisa’:36
  • Membaca dan mengartikan QS.Huud :117-119
  • Membaca dan mengartikan Hadits tentang tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat
Nilai Karakter Bangsa
  • Religius, jujur, disiplin, kerja keras, mandiri, rasa ingin tahu,  gemar membaca, dan tanggung jawab.
Kewirausahaan/Ekonomi Kreatif
  • Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
  • Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
  • Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
D.    Tujuan Pembelajaran :
Peserta didik mampu :. 
  • Membaca dan Mengartikan  QS. Al-An’am : QS.  An-Nisa’ : 36, QS  Huud:117-119 dan  Hadits tentang tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat
  • Membiasakan  diri untuk  membaca al-quran
  • Menanamkan  rasa tanggungjawab terhdap diri, keluarga dan  masyarakat
E.    Materi Pembelajaran :
QS. Al-An’am : 70, QS.An-Nisa’ :36 dan QS.Hud:117-119 dan hadits tentang tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat

Pendahuluaan
Guru mengucapkan salam, Membaca  do’a sebelum belajar, Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, dan apersepsi

Kegiatan Inti
•    Eksplorasi
  • Dalam kegiatan eksplorasi :
  • Membaca ayat tentang tanggung jawab  manusia terhadap keluarga, masyarakat
  • Mengartikan  ayat tersebut sesuai dengan  ayat al-quran
  • Seluruh Peserta didik diminta untuk membaca ulang, menelaah dan  mengambil inti kandungan dari ayat-ayat tersebut
•    Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi,
Seluruh peserta didik menyimak Lembar LKS dari  masing-masing ayat yang terkait dengan perintah  tentang  tanggung jawab  manusia terhadap keluarga, masyarakat
  • Peserta didik diminta untuk mengungkapkan pengalaman, perasaan serta keterlibatannya terhadap ayat diatas
  • Peserta didik Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahuinya
  • Peserta didik berdiskusi dengan kelompok masing-masing ynang telah ditentukan
  • Peserta didik mempresentasikan di depan kelas [berpasangan dengan teman kelompoknya]
•    Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Peserta didik:
  • Klarifikasi guru dan peserta didik terkait mana saja yang belum dipahami
  • Peserta didik Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui
  • Guru dan peserta didik menyimpulkan  isi kandungan ayat tersebut.
Materi Inti :
Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. mereka Itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. (QS. Al-An’am : 70)
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS.An-Nisa’ :36)
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS.Hud:117-119)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه

“Dari abdullah bin umar ra. Ia berkata : aku mendengar rasulullah saw bersabda : kamu semua adalah pemimpin dan harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seseorang imam adalah pemimpin dan harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin bagi istrinya, seorang istri adalh pemimpin bagi rumah tangga an bertangung jawab atas kepemimpinannya. Pembantu adalah pemelihara terhadap harta uannya, di harus bertangungjawab atas kepemimpinannya. Abdullah berkata : saya kira rasulullah berabda juga seorang anak adalah pemelihara milik orang tunya, dia harus bertanggung jawab atas peliharaannya itu. Dan kamu semua adalah pemimpin dan harus bertanggungjawab atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari Muslim dan Tirmidzi)
Penutup
Guru memberikan tugas berupa :
  • Guru memberikan tugas individu.
  • Guru memberikan tugas kelmpok
  • Refleksi/Aplikasi Quantum.
    F.    Metode Pembelajaran 
    Model    :  Diskusi Kelompok (Small Group)
    Metode  : Ceramah; Tanya jawab; Diskusi; Penugasan; Kerja kelompok.
    Alat       : Spidol, Papan  tulis, penghapus,  Potongan ayat,  dan  kertas kosong

    G.    Sumber Belajar :
    • Buku pelajaran siswa (Hikmah)
    • Depag. Al-Qur'an dan terjemahannya
    • M.Quraish Shihab,Tafsir al-Mishbah.
    • Tafsir Al-Maraghi
    • Internet
    H.    Penilaian
    1. Penilaian  ProsesPenilaian Hasil diskusi kelompok (terlampir)



    Mengetahui,                                                                                Yogyakarta,     /    /2012
    Guru mapel Al-Qur’an Hadits                                                  Mahasiswa PPL



    ( Miatu Habbah, S,Ag )                                                            ( Amir Hamzah )
      NIK :                                                                                         NIM : 09422109

    Kamis malam (08/11) tepatnya pukul 18.30 kegiatan rutin di PONPES UII telah dimulai. Acara Pengajian dan sekaligus sharing ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh santri yang tinggal di asrama. Malam ini merupakan malam yang paling berbeda dengan malam-malam yang biasanya, karena ada sesuatu yang paling beda dengan acara tersebut.

    Sesuia dengan kesepakatan dan atas perintah dari pimpinan pondok yang baru Ust. Willi Ashadi S.Hi acara pada mala ini dibuat sedemikian serunya. Malam ini adalah malam pemilihan tiga kandidat calon ketua OSPP [organisasi santri pondok pesantren] UII dan disertai tanya jawab seputar visi dan misi dari setiap calon ketua OSPP ini. 

    Ketiga calon ini antara lain adalah dari angkatan 2010, Ahmad sa'id, Mifathul Ulum, dan M. Iqbal Juliansyah Zen. Ketiga memiliki perbedaan karakter dan sangat menonjol, semuanya bisa nampak jelas dari kegiatannya keseharian ketika bersosialisasi tinggal di pesantren. Ahmad Sai'd misalnya, Ia sangat kental dengan latar belakang pendidikannya yaitu jurusan kimia. Ia seperti ilmuwan atau yang lebih populer di kenal denagn sebutan sainstis.

    Mifatahul Ulum, Ia dikenal dengan seseorang yang suka berfikir atau lebih kepada pemikiran. Bahkan teman-teman santi memberikan gelar baginya dengan sebutan Karl Max Weber. Lain said dan lain ulum, Iqbal begitu biasa dipanggil lebih dikenal dengan seorang yang alim, religius, atau bahkan teman-teman santri memberikan laqobnya dengan sebutan habib. Hal ini dikarenakan ia lebih senang dengan hafalan qurannya dan pribadinya terkenal dengan kalem dan bersahaja.

    Kajian kamis malam ini terkesan sangat ramai dan penuh celotehan, canda tawa, gojlokan, bahkan adu argumentasi secara positif. Tak lupa wejangan dari pengurus ponpes yaitu Pak Jumakir dan Ust. Willi memberikan wawasan baru. 

    sebelum menyampaikan pesannya kepada santi-santri pak jum menyampaikan pepatah jawa yang sanngat familiar di teling akita "ing ngarsa sung tladha, ing madya mangun karso, tut wuri  handayani" pesan tersebut sangat besar dan begitu mendalam bagi santri. "pesan saya hanya empat mas iqbal.. kalau cocok diambil jika tidak ya sudah gak apa-apa gak usah diambil.. tegas pak Jumakir. "pemimpin itu harus bisa seperti tanah, banyu, bayu dan geni" ke empat elemen ini memiliki sifat yang berbeda dan harus ada dalam diri pemimpin (red.)

    Ustad. Willi Ashadi menambahkan bahwa diri itu terbagi kepada empat bagian. Diri yang terdri, diri yang di bagi, diri yang terdari, dan diri yang sebenar-benarnya diri. Pertanyaannya adalah dimanakah dirii kita??. tak hanya itu Ustadz yang pintar bermain gitar dan mirip dengan baim ini menyampaikan makna tersirat. "Kun ma allah, wain lam takun maa allah kun maa man maa allah" tak hanya itu, beliau menambahakan "landaskanlah sesuatu apapun atas karena allah, jangan karena makhluk". 

    Jika sesautu itu didasarkan kepada makhluk, ketika apa yang dilakukan tidak sesuai dengan harapan maka yang ada hanyalah sakit hati, kecewa dan lain sebagainya. Tetapi jika semuanya disandarkan kepada allah teak tercapaipun gak apa-apa, kita harus sabar. tetapi jika dikabulkan maka bersyukur alhamdulilah.[]

    Pada pagi buta, aku sudah bergegas untuk mempersiapkan perlengkapan yang akan aku bawa ke sekolah tempat (PPL) Praktik Pengalaman Lapangan ku. Setelah sembahyang subuh, tak lupa ku semir sepatu yang sudah lima tahun lebih menemani kahidupanku.

    Begitu juga dengan kemeja yang sudah menemani hidupku dari semenjak kelas tiga Madrasah Aliya hingga saat ini masih setia menemani hari-hariku di kota Gudeg. Kemeja tersebut aku beli ketika teman-teman se-kelas mengadakan baju seragam angkatan plus untuk daleman jas hitam yang telah kami persiapkan untuk acara besar kami, sebut saja acara perpisahan terakhir kami berada dan menuntut ilmu di seklolah MA At-Taqwa.

    Persiapan ku hari ini cukup matang, karena biasanya ada saja yang kelupaan bahkan sampai ketinggalan. Jika sudah tertinggal rasanya malas untuk kembali mengambilnya, walaupun baru beberapa meter saja jarkanya dari asrama tempat berteduhku. Ya itulah aku yang serba mengalir dan membiarkan sesuatu terjadi apa adanya. Toh dalam keyakinanku bahwa apa yang terjadi merupakan sudah kehendak sang tuhan.

    Celana panjang warna hitam khusus aku bawa dari rumah, tak lupa menjadi celana andalan yang biasa ku pakai untuk PPL. Mencari bahan di Jogja lebih sulit ketimbang di tempatku, untuk mencari bahan yang sesuai selera sangat sulit bahakan langka. Sudah ku kelilingi semua toko dan tempat bahan tetap saja hasilnya nihil. Toko kecil maupuan besar jawaban mereka sama, yaitu “maaf mas bahan seperti ini tidak ada...”

    Tak lupa minyak wangi yang ku semprotkan ke seluruh bagian tubuh menjadi kegiatan rutin, dalam keyakinan ku adalah sama dengan pepatah timur tengah yang berbunyi : “tuhan itu maha indah dan menyukai keindahan”.

    Pukul 06.30 aku sudah siap dangan pakaian rapih, memakai dasi garis-garis, kemeja polos warna abu-abu, sepatu yang hitam mengkilat, rambut tertata rapi, dan tak lupa kukenakan almamater warna kesukaan ku yang mirip dengan warna langit.

    Motor yang sudah dipanaskan sebelum pukul 07.300 tepat, kini sudah siap untuk dikendarai dan mengantarkan ku ke tempat PPL. Dalam sekejap motor yang tadi masih dipanaskan kini sudah hanya tertinggal semerbak bau harum dari parfum yang aku kenakan setiap hari.

    Inilah separuh kegiatan ku, ternyata tanpa disadar sudah satu bulan lebih kegiatan ini aku lakukan setiap hari dan kadang semuanya terasa aneh dan membuat aku terheran-heran sendiri. Semua terasa tidak ada yang berubah dan hampir sama.

    Dunia ini memang bentuknya bulat, kagiatan yang sama setiap hari jika dilakukan terus menerus bisa menmbulkan kejenuhan. Senikmat apapun hari tersebut jika tiap hari kegiatan yang menyenangkan tersebut itu dilakukan maka yang terjadi adalah kebosanan. Begitu juga dengan apa yang aku rasakan saat ini.

    Hanya ada satu cara untuk melupakan semua ini. Yaitu menikmati dan tertawakanlah sepuas mu atas apa yang sudah kamu lakukan setiap hari. Tertawakan sesukamu atas sikap-sikap kamu yang tidak jelas, narsis, lebay, atau sejenisnya. Tetapi jangan sampai lupa bahwa mentertawakan dunia tidak berlebihan karena dapat menjadikan kamu gila beneran. Tertawalah sepuas mu jika itu dapat mengobati dan mnghibur hidupmu yang sedang mumet dengan masalah,[/]

    BAB  I
    PENDAHULUAN

    A.    Latar Belakang Masalah.

    Tercapainya tujuan Pendidikan di Indonesia tidak dapat terlepas dari peran guru , siswa , masyarakat maupun lembaga terkait lainnya. Sebagai salah satu upaya peningkatan kwalitas pendidikan menuju tercapainya tujuan tersebut perlu disampaikan suatu upaya perbaikan sistim pembelajaran  inovatif yang merangsang siswa untuk mencintai yang akhirnya mau mempelajari secara seksama terhadap suatu mata pelajaran.

    Mata pelajaran sejarah dalam konsep umum seringkali dipandang sebagai mata pelajaran hafalan yang membosankan  hal tersebut dapat kita ihat dari adanya ketidak tuntasan  siswa kelas X saat ulangan harian pada masing-masing kompetensi dasar, sehingga para guru sejarah harus mulai mengembangkan sistim pembelajaran inofativ untuk membangkitkan minat siswa terhadap pelajaran sejarah.

    Hal tersebut yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian yang diberi judul  “ METODE TEHNIK MENCARI PASANGAN SEBAGAI UPAYA MENINGKATAN MOTIVASI HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 2 XXX  “

    B.    Identifikasi masalah.


    Identifikasi masalah merupakan interpretasi guru :
          a. Siswa mengalami kesulitan belajar yang disebabkan oleh metode yang
              disampaikan oleh guru.
                b. Kesulitan belajar siswa nampak pada menurunnya motivasi belajarnya
                c. Menurunnya motivasi siswa menyebabkan hasil penilaian siswa yang
                    diperoleh kurang maksimal

    C. Perumusan Masalah.

               Sesuai dengan latar belakang masalah tersebut, maka dapat
         dirumuskan masalah  sebagai berikut :
         1. Apakah Metode tehnik mencari pasangan dapat meningkatkan motivasi
             hasil belajar siswa  ?
         2. Seberapa jauh metode tehnik mencari pasangan dapat meningkatkan
            motivasi hasil belajar siswa ?.

    C.    Tujuan dan kegunaan penelitian.

          1. Tujuan penelitian
    a. Untuk mengetahui  perubahan hasil belajar siswa setelah 
         menggunakan  metode tehnik  berpasangan.
                b. Untuk mengetahui seberapa jauh penggunaan  metode tehnik
                     berpasangan terhadap hasil belajar siswa SMA Negeri
         2. Kegunaan Penelitian.
       a. Untuk meningkatkan Prestasi belajar siswa khususnya kelas X.
       b. Mengembangkan metode pembelajaran Cooperatif Learning sehingga
           pembelajaran sejarah tidak monoton.
       c. Memberikan motivasi guru untuk menerapkan metode pemelajaran
           terpadu       
          d. Menunjang tercapainya tujuan pendidikan Nasional.
         
    D.    Ruang lingkup penelitian.
     
    Ruang lingkup penelitian ini di dalam penelitian ini dapat dijelaskan  sebagai berikut :
    1.    Daerah penelitian atau populasi di dalam penelitian ini adalah siswa
    Kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Xxx.
    2.    Aspek-aspek yang diteliti adalah :
    a. Metode tehnik mencari pasangan
    b. Motivasi  hasil belajar siswa.
         
    E.    Strategi pendekatan Metodologi .


    1. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatip / Inferensial dengan daerah
        generalisasi Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Xxx.
    2. Masalah yang akan diteliti adalah apakah Metode tehnik mencari
                    pasangan dapat meningkatkan motivasi hasil belajar siswa.

    F.    Hipotesis.
    Menurut Sutrino Hadi (1982) Hipotesis adalah pernyataan yang masih
    lemah kebenarannya dan perlu dibuktikan..
                Ha    :  Metode Tehnik mencari pasangan dapat meningkatkan
                                     motivasi hasill belajar siswa pada mata pelajaran sejarah
                                     kelas X  di SMA Negeri 2 Xxx.
                Ho       :  Metode mencari pasangan tidak dapat meningkatkan motivasi 
                   hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah  kelas X
                  di SMA Negeri 2 Xxx. 

    BAB  II
    KAJIAN PUSTAKA
    2.1. Pengertian tehnik mencari pasangan.

    Tehnik menurut kamus WJS Poerwodarminto adalah  Metode atau sistim dalam mengerjakan sesuatu ( 1158 ) Sedangkan Tehnik mencari pasangan ( make-A Match) menurut Loma Curan 1994  : adalah suatu cara untuk memberi kesempatan pada siswa untuk mencari pasangannya sesuai dengan topik yang digunakan saat itu dengan langkah - langkah sebagai berikut :

    1.    Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocock untuk sesi review. Satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
    2.    Setiap siswa mendapat satu kartu
    3.    Setiap siswa memikirkan jawaban dari kartu yang dipegangnya.
    4.    Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
    5.    Setiap siswa dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
    6.    sisiwa mempresentasikan hasil jawabannya.
    Menurut Anita Lie tahun 1999 dalam buku Cooperati Learning  : menyebutkan bahwa tehnik mencari pasangan merupakan salah satu bentuk tehnik pembe lajaran gotong royong dengan berpusat pada aktivitas siswa serta menghilangkan dominasi guru danmenggunakan berbagai macam metode secara terpadu.
    2.2. Metode Mengajar.
         
    Menurut Prof.DR. Winarno Surakhmad :metode adalah cara yang sebaik baiknya mencapai tujuan. Sedangkan mengajar adalah suatu usaha yang bersifat sadar tujuan yang dengan sistimatis terarah pada perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik.
                 
    Perubahan yang dimaksud itu menunjukkan pada suatu proses yang harus dilalui. Tanpa proses itu perubahan tidak mungkin terjadi jika tanpa proses tujuan tak dapat dicapai dan proses yang dinaksud disni adalah  proses pendidikan atau proses educatif.
    Dalam strategi pembelajaran komponen yang paling dominan adalah pendekatan dan metode pembelajaran
              
    Atas dasar pendekatan dan metode inilah, guru menyusun strategi dan langkah langkah penyampaian materi pembeajaran untuk mencapai tujuan.

    Pelaksanaan pembelajaran atau proses pembelajaran merupakan proses transaksional untuk mengembangkan potensai siswa secara aktif dan kreatifseoiptimal mungkin agar terwujud aktivitas dan kreativitas siswa selama proses pembelajaran perlu mempertahankan motivasi belajarnya. Untuk itu proses pembelajaran dibuat penggalan-penggalan kegiatan yaitu pendahuluan, inti dan penutup. Kegiatan pendahuluan untuk menarik perhatian siswa sehingga mereka termotivasi secara aktif dan kreatif pada kegiatan berikutnya, maka yang perlu dilakukan antara lain : menunjukkan essensi tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran , mendiskripsikan pokok-pokok materi yang akan dipelajari dan menunjukkan manfaat apa yang dapat dipetik dari usahanya dalam mempelajari atau menunjukkan manfaat apa yang dapat dipetik dari usahanya dalam mempelajari materi itu bagi kepentingannya sehari-sehari.

    Penilaian Hasil Belajar
    Penilaian atau evaluasi adalah seluruh alat atau sarana yang digunakan disekolah untuk mengukur kinerja siswa secara formal, baik berupa kuis, tes, evaluasi tertulis dan pemberian nilai/grades ( Slavin,1994,486 ).

    Didalam Kurikulum berbasis Kompetensi dijelaskan tentang evaluasi yaitu penentuan nilai suatu progrtam dan penentuan pencapaian tujuan suatu program.
    Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada obyek tertentu berdasarkan sustu criteria tertentu.

    Sedangkan proses pemberian nilai dapat saja berbentuk interpretasi yang diakhiri dengan Judgement. Keduanya merupakan tema penilaian yang membandingkan antara criteria dan kenyataan dalam konteks situasi tertentu. Atas dasar itulah maka kegiatan penilaian selalauada obyek atau program, ada criteria dan ada interpretasi/ Judgement ( Nana Sudjana, 2004 ; 3 ).
       
    Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan criteria tertentu. Jika dihubungkan dengan pandangan diatas, dimana penilaian selalu ada obyek yang dinilai dalam konteks ini tentunya yang dimaksud dengan obyek disini adalah hasil belajar siswa.
       
    Hasil belajar siswa seringkali dihubungkan dengan perubahan tingkah laku yang dalam arti luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik . Lebih jauh penilaian hasil belajar dilaksanakan untuk memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan atau kompetensi dasar yang telah ditetapkan sebelumnya.

    Sekali lagi penilain dalam pembelajaran merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar itu sendiri dimana hubungan dengan metode dan tujuan pembelajaran sangat erat. 

    * Bagi yang ingin mendowload MATERI PTK secara langsung, silakan BUKA DISINI 
    PELAJARAN SENI TARI MENGGUNAKAN METODE TUTOR SEBAYA

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1    Latar Belakang

    Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, tata krama, pergaulan, kesenian, bahasa, keindahan alam dan ketrampilan lokal yang merupakan ciri khas suatu suku bangsa. Keanekaragaman tersebut memperindah dan memperkaya nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, keanekaragaman tersebut perlu diusahakan pengembangan dan pelestariannya dengan tetap mempertahankannya melalui upaya pendidikan.

    Pengenalan keadaan lingkungan alam sosial dan budaya kepada peserta didik di sekolah memberikan kemungkinan besar untuk akrab dengan lingkungan dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungan serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu Kanwil Propinsi Bali bekerja terus untuk menggali potensi daerah Bali yang dijadikan identitas daerah dalam wujud muatan lokal didalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

    Di dalam tahun pelajaran 2007/2008 kurikulum berbasis kompetensi untuk pelajaran muatan lokal di SMP Negeri 2 Xxx dipilih seni tari khususnya tari Bali sebagai bahan kajian pilihan yang diterapkan kepada semua siswa dari kelas VII sampai kelas IX sesuai dengan sarana dan pengajaran yang tersedia. Jumlah waktu efektifnya 2 jam pelajaran tiap minggu.

    Pelajaran seni tari Bali sebagai muatan lokal pilihan diberikan kepada semua siswa. Dimana muatan lokal yaitu bahan kajian dan pelajarannya ditetapkan di Daerah dan disesuaikan dengan lingkungan, sosial budaya serta kehidupan Daerah (Depdikbud, 1994:1).

    Di pilihnya tari Bali sebagai muatan lokal pilihan yang wajib diikuti oleh semua siswa SMP Negeri 2 Xxx dikarenakan guru yang mengajar Tari Bali ada 4 orang, sedangkan guru yang berkompeten dibidang seni yang lain tidak ada. Seni tari Bali diberikan secara klasikal yang lebih banyak praktek dibandingkan dengan teori. Karena semua siswa wajib mengikuti mata pelajaran tersebut, maka dalam satu kelas sudah tentu ada siswa yang tidak mempunyai bakat dan minat harus ikut dalam pelajaran tersebut untuk mendapat nilai raport.

    Mutu pendidikan khususnya pendidikan seni tari Bali, tentunya tidak bisa lepas dari tiga faktor, yaitu sekolah sebagai tempat terlaksananya pendidikan, guru sebagai pelaksana dan siswa sebagai peserta pendidikan. Ketiga faktor tersebut menjadi kurang berarti meskipun sudah disiapkan dengan baik, jika penyampaian materi pelajaran guru menggunakan metoda atau cara yang kurang tepat. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka pada setiap akhir program pembelajaran dilakukan evaluasi. Salah satu hasil evaluasi tersebut adalah prestasi belajar seni tari siswa. Namun dewasa ini prestasi belajar yang diperoleh siswa terutama dalam mata pelajaran seni tari khususnya di SMP Negeri 2 Xxx masih tergolong rendah.

    Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai guru di SMP Negeri 2 Xxx, ditemukan bahwa pengajaran lebih banyak di lakukan dengan metode demontrasi dan imitasi dari guru pengajar sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dan tidak kreatif. Selama ini peneliti juga mengamati siswa kelas VIII D tahun pelajaran 2007/2008 pada waktu kelas VII, memiliki nilai rata-rata pelajaran seni tari paling rendah di bandingkan dengan kelas paralel yang lain. Disamping itu aktivitas siswanya sangat pasif, yaitu tidak ada kreativitas siswa untuk memahami materi yang diberikan.

    Berbagai metoda pembelajaran telah sering digunakan seperti diskusi, demonstrasi, tanya jawab dan lain-lain. Penerapan metoda pembelajaran seperti itu kemungkinan belum dapat mencapai tujuan yang diharapkan, hal ini disebabkan karena kemampuan guru, keadaan siswa dan fasilitas/sarana yang belum memadai. Terbukti jika proses belajar berlangsung sering siswa yang sudah mahir merasa jenuh dan bosan. Maka dari itu perlu ada usaha lain yang dilakukan oleh guru agar proses pembelajaran berlangsung baik dengan menerapkan tutor sebaya dalam proses pembelajaran.

    Implementasi  tutor sebaya dalam pembelajaran seni tari Bali diharapkan memberikan situasi belajar yang lebih leluasa bagi siswa untuk berkreasi dan berkreativitas, lebih percaya diri dan menimbulkan keberanian pada siswa karena di dalam mentransfer pengetahuan didapat dari teman sendiri. Dalam situasi seperti itu akan dapat menciptakan proses belajar yang lebih baik, sehingga diharapkan meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar seni tari Bali.

    1.2    Identifikasi Masalah.
    Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini dapat di identifikasi masalah masalah tersebut yaitu :
    • Kurikulum pendidikan sering berganti.
    • Letak geografis sekolah yang berbukit.
    • Dukungan dari orang tua siswa masih kurang.
    • Antusias siswa mengikuti pelajaran sangat rendah.
    • Metode mengajar masih bersumber pada guru saja.
    • Input siswa terutama dalam bidang seni tari Bali sangat kurang.
    • Sarana dan prasarana di sekolah belum memadai dengan mata pelajaran tari Bali.
    • Kemampuan, minat dan bakat siswa dalam bidang seni tari Bali berbeda-beda.
    Dengan teridentipikasinya masalah-masalah tersebut, maka salah satu diantaranya dipilih metoda tutor sebaya dalam proses pembelajaran.

    1.3    Rumusan Masalah.

    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
    1. Apakah Implementasi tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx.
    2. Apakah Implementasi tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx.
    3. Bagaimana respon siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx terhadap Implementasi tutor sebaya.
    1.4    Tujuan Penelitian
    Bertolak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai sehubungan deangan tindakan yang akan diberikan adalah sebagai berikut:
    1. Untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dalam proses belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx melalui Implementasi tutor sebaya.
    2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx melalui Implementasi tutor sebaya.
    3. Untuk mengetahui respon siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx terhadap Implementasi tutor sebaya.
    1.5    Manfaat Penelitian
    Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
    1. Bagi siswa dengan proses pembelajaran yang menggunakan teman sendiri sebagai tutor akan memberikan kesempatan yang leluasa pada siswa untuk bertanya, mentransfer dan menyerap materi pelajaran sehingga dapat membantu siswa untuk menguasai tari puspawresti.
    2. Bagi guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dan bahan pertimbangan dalam mencari metoda pembelajaran untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif dan efektif dalam proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan  mutu pendidikan terutama dalam bidang seni tari Bali dengan menerapkan tutor sebaya.
    3. Bagi peneliti, melalui penelitian ini peneliti memperoleh wawasan dan pengalaman dalam merancang serta menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan tutor sebaya.
    4. Bagi sekolah, bila dalam PTK ini ada pengaruh yang efektip untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terutama dalam bidang pelajaran seni tari Bali, maka diharapkan agar guru-guru yang lain termotivasi untuk menggunakan metode tutor sebaya dalam pembelajaran.

    BAB II
    KAJIAN PUSTAKA

    Beberapa teori yang digunakan sebagai landasan berpikir untuk menjawab permasalahan yang diajukan adalah: Seni tari, prestasi belajar, model pembelajaran, tutor sebaya.

    2.1    Seni Tari
    Seni tari terdiri dari dua kata yaitu seni dan tari. Seni merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaanya dan bersifat indah. Dalam buku Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan bahwa seni yaitu : “Kecakapan batin (akal) yang luar biasa yang dapat mengadakan atau menciptakan sesuatu yang luar biasa.“ ( Poerwadarminta, 1976:917). Sedangkan tari dinyatakan bahwa: “Gerakan badan, tangan, dsb, yang berirama dan biasanya diiringi oleh bunyi-bunyian seperti musik, gambelan“. (Poerwadarminta, 1976:1020).

    Ada beberapa pengertian seni tari dari berbagai ahli tari yaitu : pertama, seni tari adalah: “Ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak – gerak ritmis yang indah“. (Soedarsono, 1972:4). Kedua Seni tari adalah: “Ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap“. (Wardhana, 1990:8). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seni tari adalah Ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak ritmis yang indah dari keseluruhan tubuh yang ditata dengan irama lagu pengiring sesuai dengan lambang, watak dan tema tari.

    Pada awalnya seni tari khususnya tari Bali merupakan tarian untuk kepentingan upacara agama hindu, tapi dalam perkembangan selanjutnya banyak berubah fungsi. Adapun fungsi tari Bali yaitu:
    1. “Tari Wali yaitu tari yang dilakukan di pura dan ditempat-tempat yang ada hubungannya dengan upacara keagamaan“. (Artika, 1989:22).
    2. “Tari Bebali yaitu tari yang berfungsi sebagai pengiring upacara di pura-pura atau di luar pura“. (Artika, 1989:22).
    3. “Tari Balih-balihan yaitu segala tari yang mempunyai unsur-unsur dan dasar seni tari yang luhur dapat dipentaskan sewaktu-waktu, baik sehubungan dengan upacara adat maupun agama“. (Artika, 1989:23).
    Dalam penyajian seni tari, yang harus diperhatikan adalah peraturan dan norma tari Bali yang sangat penting artinya untuk mencapai penampilan yang sempurna. Istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan peraturan dan norma di atas adalah TRI WI yaitu:
    1. Wiraga adalah seorang penari Bali harus menguasai perbendaharaan gerak tari yang berhubungan dengan postur tubuh penari dan gerak yang dipertunjukkan.
    2. Wirama adalah penari harus mengerti tentang musik, melodi, ritme, dan tempo  dikuasai dalam pertunjukan.
    3. Wirasa adalah rasa atau perasaan yang berkaitan dengan gerak tubuh dan perasaan, yaitu kemampuan  penari mengungkapkan rasa sedih, gembira, lucu, takut yang merupakan perpaduan antara mimik dan panto mimik.
    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seni tari Bali berguna untuk melatih, mengembangkan potensi, bakat seni dan mendorong kreativitas untuk dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari – hari baik untuk diri sendiri maupun untuk lingkungan. Untuk itu seni tari Bali yang diberikan di kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx adalah tari puspa wresti. Tari Puspawresti berasal dari kata Puspa dan Wresti. Puspa artinya bunga, Wresti artinya persembahan. Jadi tari Puspawresti yaitu tari persembahan bunga yang ditujukan pada para tamu. Ditinjau dari segi fungsi Tari Puspawresti berguna untuk menyambut  tamu yang sedang berkunjung kesuatu Daerah Tari Puspawresti lebih mudah dipelajari karena gerak-gerak dasarnya tidak rumit. Tari puspawresti disajikan secara kelompok.

    2.2    Prestasi Belajar
    Salah satu tugas dari guru adalah mengadakan suatu proses evaluasi. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa, salah satunya adalah prestasi belajar siswa. Imformasi ini sangat berguna untuk memperjelas sasaran dalam pembelajaran.

    Prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes. Prestasi belajar adalah prestasi yang  diperoleh disekolah dan di luar sekolah. Prestasi belajar di sekolah adalah hasil yang diperoleh anak-anak berupa nilai mata pelajaran: (Sunartana, 1997:55). Menurut Bloom (1971:7) Prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah yaitu: kognetif, afektif, dan psikomotor. Gambaran prestasi belajar siswa dapat dinyatakan dengan angka dari 0 sampai dengan 10 (Arikunto, 1998:62). Disamping itu prestasi belajar dapat dioperasikan dalam bentuk indikator- indikator berupa nilai raport, angka kelulusan dan predikat keberhasilan (Saifudin Azwar, 1996:44).

    Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah : kemampuan aktual yang dapat diukur setelah mengalami proses belajar praktek tentang pengetahuan dan ketrampilan tertentu, nilai-nilai yang dicapai oleh siswa sebagai hasil dari proses belajar di sekolah. Hasil yang diperoleh siswa dalam satu mata pelajaran dinyatakan dalam bentuk nilai yang disebut dengan prestasi belajar.

    2.3    Model Pembelajaran
    Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan yang menyeluruh. Misalnya, problem-based model of instruction (model pembelajaran berdasarkan permasalahan) yang meliputi kelompok kecil, siswa bekerja sama memecahkan masalah yang telah disepakati. Model pembelajaran ini dapat menggunakan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural, seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan, melakukan penelitian, berdiskusi, menciptakan karya seni dan melakukan presentasi. Model pembelajaran berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting dalam mengajar di kelas, praktek atau mengawasi anak-anak. Penggunaan model pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran yang lain (Wasis, 2002:1).

    * Bagi yang ingin mendowload MATERI PTK secara langsung, silakan BUKA DISINI  

    Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme