Nurcholis Majid, lahir di Jombang, 17 Maret 1939 (26 Muharram 1358), dari keluarga kalangan pesantren. Pendidikan yang ditempuh: Sekolah Rakyat di Mojoanyar dan Bareng (pagi) dan Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar (sore); Pesantren Darul 'Ulum di Rejoso, Jombang; KMI (Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah) Pesantren Darus Salam di Gontor, Ponorogo; IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta (Sarjana Sastra Arab, 1968), dan Universitas Chicago, Illinois, AS (Ph.D., Islamic Thought, 1984).

Aktif dalam gerakan kemahasiswaan. Ketua Umum PB HMI, 1966-1969 dan 1969-1971; Presiden (pertama) PEMIAT (Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara), 1967-1969; Wakil Sekjen IIFSO (International Islamic Federation of Students Organizations), 1969-1971.

Mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah, 1972-1976; dosen pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1985-sekarang; peneliti pada LIPI, 1978-sekarang; guru besar tamu pada Universitas McGill, Montreal, Canada, 1991-1992. Fellow dalam Eisenhower Fellowship, bersama isteri, 1990.

Ia banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan dalam berbagai majalah, surat kabar dan buku suntingan, beberapa diantaranya berbahasa Inggris. Buku-bukunya yang telah terbit ialah Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang/Obor, 1984) dan Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan, suntingan Agus Edy Santoso (Bandung, Mizan, 1988)

Sejak 1986, bersama kawan-kawan di ibukota, mendirikan dan memimpin Yayasan Wakaf Paramadina, dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada gerakan intelektual Islam di Indonesia. Buku ini adalah salah satu hasil kegiatan itu. Dan sejak 1991 menjabat Wakil Ketua Dewan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI).
Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, dia melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil "nyantri" di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah. Pada 1958, dia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadis Universitas Al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al-Quran dengan tesis berjudul Al-I 'jaz Al-Tasyri'iy li Al-Qur an Al-Karim.

Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, dia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang ini, dia juga sempat melakukan berbagai penelitian; antara lain, penelitian dengan tema "Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur" (1975) dan "Masalah Wakaf Sulawesi Selatan" (1978).

Pada 1980, Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas Al-Azhar. Pada 1982, dengan disertasi berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa'iy, Tahqiq wa Dirasah, dia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Quran dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtat ma'a martabat al-syaraf al-'ula).

Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984, Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca-Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, dia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashih Al-Quran Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989), dan Ketua Lembaga Pengembangan. Dia juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syari'ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Di sela-sela segala kesibukannya itu, dia juga terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun luar negeri.

Yang tidak kalah pentingnya, Quraish Shihab juga aktif dalam kegiatan tulis-menulis. Di surat kabar Pelita, pada setiap hari Rabu dia menulis dalam rubrik "Pelita Hati." Dia juga mengasuh rubrik "Tafsir Al-Amanah" dalam majalah dua mingguan yang terbit di Jakarta, Amanah. Selain itu, dia juga tercatat sebagai anggota Dewan Redaksi majalah Ulumul Qur'an dan Mimbar Ulama, keduanya terbit di Jakarta. Selain kontribusinya untuk berbagai buku suntingan dan jurnal-jurnal ilmiah, hingga kini sudah tiga bukunya diterbitkan, yaitu Tafsir Al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1984); Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987); dan Mahhota Tuntunan Ilahi (Tafsir Surat Al-Fatihah) (Jakarta: Untagma, 1988).
Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim
(1120-1230 A.D.)

Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim lebih dikenal dengan nama Attar, si penyebar wangi. Meskipun sedikit yang diketahui dengan pasti tentang hidupnya, namun agaknya dapat dikatakan bahwa ia dilahirkan pada tahun 1120 Masehi dekat Nisyapur di Persia Barat-Laut (tempat kelahiran Omar Khayyam). Tarikh wafatnya tak diketahui dengan pasti, tetapi dapat diperkirakan sekitar tahun 1230, sehingga ia hidup sampai usia seratus sepuluh tahun. Sebagian besar dari apa yang diketahui tentang dirinya bersifat legendaris, juga kematiannya di tangan seorang perajurit Jenghis Khan. Dari catatan kenang-kenangan pribadinya yang tersebar di antara tulisan-tulisannya agaknya dapat disebutkan bahwa ia melewatkan tiga belas tahun dari masa mudanya di Meshed. Menurut Dawlatshah, suatu hari Attar sedang duduk dengan seorang kawannya di muka pintu kedainya, ketika seorang darwis datang mendekat, singgah sebentar, mencium bau wangi, kemudian menarik nafas panjang dan menangis. Attar mengira darwis itu berusaha hendak membangkitkan belas kasihan mereka, lalu menyuruh darwis itu pergi.

Darwis itu berkata, "Baik, tak ada satu pun yang menghalangi aku meninggalkan pintumu dan mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini. Apa yang kupunyai hanyalah khirka yang lusuh ini. Tetapi aku sedih memikirkanmu, Attar. Mana mungkin kau pernah memikirkan maut dan meninggalkan segala harta duniawi ini?" Attar menjawab bahwa ia berharap akan mengakhiri hidupnya dalam kemiskinan dan kepuasan sebagai seorang darwis. "Kita tunggu saja," kata darwis itu, dan segera sesudah itu ia pun merebahkan diri dan mati.

Peristiwa ini menimbulkan kesan yang amat dalam di hati Attar sehingga ia meninggalkan kedai ayahnya, menjadi murid Syaikh Bukn-ud-din yang terkenal, dan mulai mempelajari sistem pemikiran Sufi, dalam teori dan praktek. Selama tiga puluh sembilan tahun ia mengembara ke berbagai negeri, belajar di permukiman-permukiman para syaikh dan mengumpulkan tulisan-tulisan para Sufi yang saleh, sekalian dengan legenda-legenda dan cerita-cerita. Kemudian ia pun kembali ke Nisyapur di mana ia melewatkan sisa hidupnya. Konon ia memiliki pengertian yang lebih dalam tentang alam pikiran Sufi dibandingkan dengan siapa pun di zamannya. Ia mengarang sekitar dua ratus ribu sajak dan banyak karya prosa. Ia hidup sebelum Jalal-uddin Rumi. Ditanya siapa yang lebih pandai di antara keduanya itu, seorang Sufi mengatakan, "Rumi membubung ke puncak kesempurnaan bagai rajawali dalam sekejap mata; Attar mencapai tempat itu juga dengan merayap seperti semut. Rumi mengatakan, "Attar ialah jiwa itu sendiri."

Garcin de Tassy menuturkan bahwa dalam tahun 1862 Nicholas Khanikoff menemukan sebuah batu nisan di luar Nisyapur, yang didirikan antara tahun 1469 dan 1506 (sekitar dua ratus lima puluh tahun sepeninggal Attar). Di situ terukir inskripsi dalam bahasa Parsi. Terjemahan Tassy atas inskripsi itu ke dalam bahasa Perancis dapat diterjemahkan pula sebagai berikut:

    Allah Kekal
    Dengan nama Allah
    Yang Pengasih Yang Pengampun

Di sini di taman Adn bawah, Attar menebarkan wangi pada jiwa orang-orang yang paling sederhana. Inilah makam seorang yang begitu mulia sehingga debu yang terusik kakinya akan merupakan kollirium di mata langit; makam syaikh Attar Farid yang terkenal, yang menjadi ikutan orang-orang suci; makam penebar wangi yang utama dengan nafasnya yang mengharumi dunia dari Kaf ke Kaf. Di kedainya, sarang para malaikat, langit bagai botol obat semerbak dengan wangi sitrun. Bumi Nisyapur akan terkenal hingga hari kiamat karena orang yang termasyhur ini. Tambang emasnya terdapat di Nisyapur sebab ia dilahirkan di Zarwand di wilayah Gurgan. Ia tinggal di Nisyapur selama delapan puluh dua tabun, dan tiga puluh dua tahun dari waktu itu dilewatkannya dalam ketenangan. Dalam usia yang sudah amat lanjut ia dikejar-kejar pedang pasukan tentara yang menelan segalanya. Farid tewas di zaman Hulaku Khan, terbunuh sebagai syahid dalam pembantaian besar-besaran yang terjadi ketika itu ... Semoga Tuhan Yang Maha Tinggi mempersegar jiwanya! Tingkatkanlah, o Rabbi, kebajikannya.

Makam orang yang mulia ini terletak di sini dalam wilayah pemerintahan Syah Alam, Seri Baginda Sultan Abu Igazi Hussein ...

Selebihnya, inskripsi itu menyatakan pujian terhadap Sultan. Agaknya tak ada catatan tertulis dewasa ini tentang bagaimana, bila, dan di mana dia meninggal dan dikuburkan.
Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Tusi al-Shafi'i al-Ghazali lahir tahun 1058 A.D. di Khorasan, Iran. Ayahnya meninggal pada saat dia masih sangat muda, namun dia mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah dengan kurikulum yang bagus di Nishapur dan Baghdad. Segera setelah itu, dia menerima penghargaan di bidang agama dan filsafat dan ditunjuk sebagai professor pada Universitas Nizamiyah di Baghdad, yang terkenal sebagai institusi pendidikan yang bergengsi pada jaman keemasan sejarah Islam.

Beberapa tahun kemudian, dia berhenti dari kehidupan di dunia universitas dan hidup keduniaan, lalu mencari kehidupan zuhud. Saat ini merupakan masa transformasi mistis bagi Al-Ghazali. Kemudian, dia mulai tugasnya lagi sebagai pengajar, namun kemudian ditinggalkan lagi. Sebuah kehidupan menyendiri, yang dikonsentrasikan pada kontemplasi dan menulis dia lakukan, yang menghasilkan beberapa karya yang monumental. Dia meninggal di Baghdad pada tahun 1128 A.D.

Karya Ghazali yang utama pada bidang agama, filsafat, dan sufi. Beberapa filsuf Muslim mengikuti dan mengembangkan beberapa pandangan yang berasal dari filsafat Yunani, termasuk filsafat Neoplatonis, yang berakibat benturan dengan ajaran Islam. Di lain pihak, gerakan sufi kadang dipandang terlalu berlebihan, seperti misalnya tidak menjalankan kewajiban shalat dan kewajiban yang lainnya dalam Islam. Berdasarkan kepada reputasi keahliannya dalam bidang agama dan pengalaman mistis, Ghazali mencoba mengawinkan kecenderungan ini, baik dari segi filsafat maupun sufi.

Dalam bidang filsafat, Ghazali percaya bahwa pendekatan matematika dan ilmu pasti adalah benar. Namun, beliau menggunakan logika Aristotelian dan prosedur Neoplatonis, serta menggunakan keduanya untuk mengungkap kelemahan-kelemahan dan kekosongan dalam filsafat Neoplatonis dan untuk menghilangkan pengaruh negatif dari Aristotelianisme dan rasionalisme yang berlebihan. Sebagai kontras dengan beberapa filsuf Islam lainnya, misalnya, Farabi, dia menggambarkan ketidakmampuan akal untuk mencerna yang mutlak dan tak terhingga. Akal tidak mampu mentransformasikan segala yang terhingga dan terbatas menjadi suatu pengamatan yang relatif. Demikian pula, beberapa filsuf Islam berpendapat bahwa jagad raya ini terbatas dalam ruang tetapi tak terbatas dalam waktu. Ghazali berpendapat bahwa ketakterhinggaan waktu mempunyai korelasi dengan ketakterhinggaan ruang. Dengan kejernihan dan kekuatan argumennya, dia berhasil menciptakan keseimbangan antara agama dan akal, dan mengidentifikasi kawasannya sebagai tak terhingga dan terhingga.

Dalam agama, terutama dalam bidang mistisme, dia membersihkan pendekatan sufisme yang berlebihan dan memantapkan otoritas agama yang ortodoks. Namun, dia tetap menekankan pentingnya keaslian sufisme, yang dia pelihara adalah jalan untuk menuju kebenaran hakiki.

Dia adalah seorang penulis yang mahir. Buku klasiknya termasuk Tuhafut al-Falasifa, Ihya al-'Ulum al-Islamia, "The Beginning of Guidance and his Autobiography", "Deliverance from Error." Beberapa karyanya diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa Eropa di Abad Pertengahan. Dia juga menulis tentang astronomi.

Pengaruh Ghazali sangat dalam dan lama. Dia adalah salah satu dari ahli agama Islam yang terbesar. Doktrin teologinya menembus Eropa, mempengaruhi baik Yahudi maupun Kristiani dan beberapa argumentasinya tampaknya telah digunakan oleh Thomas Aquinas untuk memantapkan otoritas agama Kristen yang ortodoks di Barat. Begitu kuatnya argumentasi dia dalam keberpihakannya terhadap agama, sehingga dia dituduh sebagai penyebab kemunduran filsafat, dan di kalangan Muslin Spanyol, Ibn Rushd (Averros) menulis bantahan terhadap karyanya Tuhafut al-Falasifa.
Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:

"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud."

Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan:
    "It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain." (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York).

    "Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama)."

Adam Clarke melanjutkan:
    "During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As…the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact…See the quotation from the Talmudists in Lightfoot."

    "Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab "Ringan Kaki".

Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.

Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur - yang diperkirakan jatuh pada bulan September - atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.

Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.


Ramadan berarti bulan musim panas terik. Pada zaman sebelum Rasulullah SAW, masyarakat Arab tidak murni menggunakan kalender qamariyah (bulan), tetapi setiap tiga tahun menambahkan satu bulan tambahan untuk menyesuaikan dengan dengan musim. Sistem kalender campuran itu biasa disebut sistem qamari-syamsiah (luni-solar calendar). Nama bulan lain yang berkaitan dengan musim adalah Rabiul awal dan Rabiul akhir yang berarti bulan musim semi pertama dan terakhir.

Berdasarkan nama tersebut, pada zaman itu Ramadan jatuh sekitar bulan Agustus-September, Rabiul awal pada Februari-Maret, dan Rabiul akhir pada Maret-April. Itu sesuai dengan keadaan musim di bumi belahan utara.

Bila dihitung mundur, saat Nabi Muhammad SAW menerima risalah kenabian pada 17 Ramadan tahun gajah ke 41 (tahun ke 41 sejak kelahiran Nabi, 13 tahun sebelum hijrah) bertepatan dengan 13 Agustus 610. Perhitungan mundur itu menggunakan perhitungan kalender qamariyah murni. Mungkin ini bisa menunjukkan bahwa sampai dengan saat itu sistem kelender yang digunakan adalah sistem qamari-syamsiah. Dan sesudah kerasulan Nabi Muhammad SAW sistem kalender yang digunakan murni qamariyah.

Tidak ada keterangan yang pasti sejak kapan Rasulullah SAW menetapkan sistem kalendar murni qamariyah, menggantikan sistem qamari-syamsiah. Namun sangat mungkin dilakukan setelah turunnya ayat At-Taubah 36-37 yang merupakan perintah Allah untuk menghapus sistem campuran tersebut dan menggantikannya dengan sistem qamariyah murni.

Pada ayat 36 At-Taubah Allah menegaskan, "Sesungguhnnya jumlah bulan pada sisi Allah adalah dua belas menurut ketetapan Allah sejak hari diciptakannya langit dan bumi..." Dengan bahasa astronomi, ayat itu bermakna Allah telah menetapkan bahwa peredaran bumi mengitari matahari yang mendefinisikan batasan waktu 'tahun' setara dengan dua belas kali lunasi (datangnya hilal) yang mendefinisikan batasan waktu 'bulan'. Satu tahun syamsiah adalah 365,2422 hari, sedangkan satu bulan qamariyah adalah 29,5306 hari. Jadi satu tahun qamariyah berjumlah 354 hari, sebelas hari lebih pendek daripada kalender syamsiah.

Ayat berikutnya, At-Taubah 37, mengecam praktek Annasiy, yaitu mengulur atau menambah bulan yang hanya akan menambah kekafiran, pengingkaran kepada Allah. Bulan suci yang telah disepakati bersama (Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharam) bisa tergeser karenanya. Sesudah Dzulhijjah ada bulan ketiga belas sehingga menggeser bulan Muharram.

Penambahan bulan itu untuk menyesuaikan dengan musim, tetapi dilakukan sepihak sehingga bisa mengacaukan kesepakatan yang telah ada. Dalam prakteknya, annasiy bisa dilakukan dengan menambah satu bulan tambahan setiap tiga tahun untuk menggenapkan selisih tahunan yang 11 hari itu.
Ramadan Zaman Rasul

Ayat perintah puasa Ramadan diturunkan oleh Allah pada bulan Sya'ban 2 H. Berarti Rasulullah SAW sempat melaksanakannya sebanyak 9 kali sebelum beliau wafat pada 12 Rabiul awal 11 H. Menurut atsar Ibnu Mas'ud dan Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah SAW semasa hidupnya lebih banyak berpuasa Ramadan 29 hari daripada 30 hari. Puasa Ramadan pada zaman Rasulullah SAW ini menarik untuk dibuktikan dengan hisab astronomi.

Saya telah menghisab posisi hilal awal Ramadan dan Syawal semasa Rasulullah SAW hidup dari 2 H - 10 H. Analisis astronomi tersebut memang menunjukkan selama sembilan tahun itu enam kali Ramadan panjangnya 29 hari, hanya tiga kali yang 30 hari (lihat tabel). Dari analisisi itu juga diketahui bahwa pada zaman Nabi itu puasa dilakukan pada musim semi dan musim dingin dengan waktu puasa mulai sekitar pukul 4 sampai sekitar 17:30 pada musim semi dan mulai sekitar pukul 4:30 sampai sekitar 16:40 pada musim dingin.

Puasa pertama berawal pada Ahad 26 Februari 624 dan idul fitrinya jatuh pada Senin 26 Maret 624. Berarti lama puasa 29 hari. Perang Badar yang terjadi saat itu pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624) jatuhnya pada hari Selasa. Perhitungan ini berbeda dengan riwayat yang menyatakan bahwa perang Badar terjadi malam Jum'at.

Salah satu Idul Fitri pada zaman Nabi terjadi pada hari Jumat, yaitu 1 Syawal 3 H yang bertepatan dengan 15 Maret 625. Inilah satu-satunya idul fitri yang jatuh pada hari Jum'at semasa Rasulullah SAW hidup. Mungkin inilah kejadian yang berkaitan dengan hadits yang membolehkan meninggalkan salat Jum'at bila pagi harinya telah mengikuti salat hari raya. Dalam hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan dari Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Pada hari ini (Jumat) telah berkumpul dua hari raya, maka siapa yang mau, (salat hari rayanya) telah mencukupi salat Jumatnya, tetapi kami tetap akan melakukan salat Jumat."

Tahun Hijriyah         Awal Ramadan            Idul Fitri                    Hari Puasa
2                        Ahad, 26 Feb. 624       Senin, 26 Mar.  624          29
3                        Kamis, 14 Feb. 625     Jum'at, 15 Mar. 625          29
4                        Selasa, 4 Feb. 626       Rabu, 5 Mar. 626              29
5                        Ahad, 25 Jan. 627       Senin, 23 Feb. 627            29
6                       Kamis, 14 Jan. 628       Sabtu, 13 Feb. 628            30
7                       Senin, 2 Jan. 629          Rabu, 1 Feb. 629               30
8                       Jum'at, 22 Des. 629      Ahad, 21 Jan. 630             30
9                       Rabu, 12 Des. 630       Kamis, 10 Jan. 631            29
10                     Ahad, 1 Des. 631         Senin, 30 Des. 631            29


Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.

Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.

Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.

Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.

Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.

Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.

Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.

Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.

Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.

Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.

Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.

Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.

Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.

Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.

Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan.

Naskah Perlindungan oleh Nabi Muhammad saw. kepada penghuni Biara St. Catherine di Sinai, Sinai Selatan, Mesir

Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.

Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

Anak-anak perlu disediakan buku-buku bacaan murah yang sesuai dengan minat mereka agar minat membaca terus berkembang, kata pustakawan Soekarman Kertosedono.

"Untuk menumbuhkan minat baca, apakah sudah tersedia bacaan-bacaan yang terjangkau masyarakat dan yang dijangkau itu sebaiknya yang disenangi mereka," kata Soekarman usai acara Gemilang Perpustakaan Nasional 2012 , di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan minat membaca generasi muda Indonesia tidak kalah dengan negara lain. "Minatnya saya kira anak-anak Indonesia tidak kalah dengan anak-anak dari negara lain," kata pria kelahiran 1934 itu.

Menurut dia, buku-buku yang diperlukan bagi perkembangan jiwa anak, bukan hanya buku ilmu pengetahuan, tetapi buku yang bisa menumbuhkan karakter anak.

Soekarman yang didampingi istrinya, merasa bahagia mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Anugerah itu diberikan atas dedikasi Soekarman bagi perkembangan perpustakaan di seluruh Indonesia.

Soekarman dikenal sebagai salah satu tokoh pencetus berdirinya Perpusnas. Penerima bintang jasa utama dari Presiden pada tahun 2000 itu merupakan Pustakawan Utama Pertama yang dimiliki Indonesia.

Dia berharap keberadaan perpustakaan akan terus berkembang. Soekarman mengapresiasi banyaknya kalangan masyarakat yang telah mendirikan perpustakaan untuk umum.

"Mudah-mudahan lebih banyak lagi masyarakat yang bukan hanya menggunakan, tapi juga mendirikan perpustakaan untuk masyarakat," katanya

sumber: 
http://www.antaranews.com/berita/338225/pustakawan-tingkatkan-minat-baca-dengan-buku-murah-sesuai-minat
Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan pesantren bukanlah lembaga pendidikan yang erat kaitannya dengan penebaran radikalisme.

"Pesantren bukan tempat penebar radikalisme," tegas Agung usai memberikan bantuan bagi sejumlah pesantren di Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu.

Agung mengatakan, kesan pesantren yang selama ini dikaitkan dengan lembaga penebar radikalisme oleh sejumlah pihak harus dihilangkan.

"Cara menghilangkan kesan tersebut tentu dengan membuktikan bahwa lulusan pesantren merupakan generasi yang berkualitas menerima keberagaman, moderat, menerima kemajemukan dan bahkan lebih baik dibandingkan lulusan lain," kata Agung.

Agung juga mengatakan, keberadaan pesantren sangat diperlukan sebagai lembaga yang tidak hanya mengajarkan tentang kurikulum nasional melainkan juga pendidikan agama.

"Dengan demikian kita bisa mencetak lulusan yang tidak hanya berkualitas di bidang pendidikan formal, tapi juga memiliki moral dan karakter yang kuat," katanya.

Untuk itu, Agung mengatakan pemerintah terus mendorong eksistensi pesantren agar dapat terus bekiprah secara positif bagi masyarakat.

"Salah satu bentuk perhatian pemerintah adalah dengan menjalin komunikasi secara intensif dengan para pimpinan pesantren dan juga memberikan bantuan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses belajar mengajar," katanya.

sumber: 
http://www.antaranews.com/berita/338437/pesantren-bukan-tempat-penebar-radikalisme
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menilai para guru di sekolah sekarang masih sebatas melakukan "transfer of knowlegde" (alih ilmu pengetahuan).

"Guru masih menempatkan diri sebagai person yang hanya melakukan `transfer of knowledge`. Menganggap, pokoknya tugas saya (sebagai guru) itu menyampaikan pelajaran kepada siswa," katanya di Semarang, Jawa Tengah, Jumat.

Hal tersebut diungkapkan setelah melantik pengurus Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah yang merupakan hasil kerja sama Muslimat NU dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Menurut mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu, guru sekarang tidak lagi melakukan tugas "transfer of attitude" (sikap) untuk membentuk kepribadian dan karakter anak didiknya menjadi "manusia".

"Pokoknya, tugas hari ini mengajar matematika dan biologi sebanyak dua jam pelajaran, selesai. Besok, dua jam pelajaran lagi, selesai. Lalu, bagaimana karakter dan pribadi anak akan terbentuk menjadi seorang `manusia`," katanya.

Ia mengatakan pembentukan karakter dan kepribadian anak-anak saat ini memang tidak "include" (inheren) dan tidak melekat dalam sistem pembelajaran, karena semata-mata lebih mengedepankan alih ilmu pengetahuan.

Akibatnya, kata dia, sekarang ini banyak ditemui aksi kekerasan yang dilakukan kalangan anak-anak dan pelajar, misalnya tawuran yang kian marak dan menjadi potret buruk dunia pendidikan di Indonesia.

"Anak-anak ini semestinya diajarkan sikap, bagaimana menghormati pada yang lebih tua, sementara yang tua menyayangi yang muda. Sedikit sekali sekolah-sekolah yang mengajarkan seperti ini," katanya.

Bagaimana sikap antara murid dan guru atau sikap anak dengan orang tua sangat penting diajarkan, katanya, tetapi sayangnya tidak ditransformasikan dalam pembelajaran di sekolah karena anak-anak hanya dibebani pelajaran.

"Pembelajaran sikap bagi anak-anak bisa dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan di sekolah. Anak-anak harus disiapkan, misalnya, ada jam pelajaran tertentu yang terpaksa ditiadakan karena ada salah satu orang tua siswa yang sakit. Mereka kemudian diajak bersama-sama untuk menjenguk," katanya.

Melalui pembiasaan-pembiasaan semacam itu, kata dia, bisa menumbuhkan empati anak dan mengajari bagaimana menunjukkan saat ada temannya yang terkena musibah, dan sikap itu sebenarnya menjadi bagian dari kearifan lokal.

"Kemudian, kalau ada anak yang makan sambil jalan, guru mengingatkan. Repotnya, kalau gurunya sendiri juga makan sambil jalan. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. `Lha` ini sudah berlari semua," kata Khofifah yang juga memimpin Yayasan "Khadijah" Surabaya itu.

sumber :
http://www.antaranews.com/berita/338332/guru-masih-sebatas-transfer-of-knowledge
Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Nia Elvina, MS.i menilai bahwa dunia pendidikan di Indonesia yang terang-terangan menerapkan sistem pasar menimbulkan perubahan yang sangat signifikan, yakni berkembangnya suatu habitus yang baru di kalangan mahasiswa.

"Kalau meminjam istilah Jawa, yakni sistem `kulakan` (jualan). Realitas di tingkat mikronya kita bisa melihat berkembangnya suatu habitus yang baru di kalangan mahasiswa, yakni jualan untuk mendanai unit kegiatan mahasiswa (UKM)," katanya di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, jualan untuk mendanai UKM itu, mulai dari badan eksekutif mahasiswa (BEM) sampai ke UKM-UKM lainnya.

Menurut dia, tidak bisa ditampik ketika ke kampus, misalnya ke Universitas Indonesia (UI), banyak berjumpa dengan mahasiswa yang menjajakan makanan-makanan kudapan.

Kondisi tersebut, kata Sekretaris Program Sosiologi Unas itu, juga berlaku di beberapa universitas lain.

"Yang lebih memprihatinkan lagi, akibat sistem ini adalah berkembangnya habitus yang lain, yakni datang ke acara-acara `talk show` televisi, motifnya untuk mendapatkan dana tambahan untuk UKM mereka," kata anggota peneliti Kelompok Studi Perdesaan UI itu.

"Jadi asumsi kita jika `talk show` dihadiri oleh mahasiswa karena mereka ingin memperluas pengetahuan, tidak berlaku dalam hal ini. Orientasi utama mereka adalah `fee` yang diberikan oleh stasiun TV yang menayangkan acara tersebut," tambahnya.

Menurut penilaiannya, sistem pendidikan yang sekarang tidak menstimulan para siswa atau mahasiswa untuk melakukan tindakan yang inovatif, dan berpikir yang kreatif.

"Saya kira, sebaiknya sistem `kulakan` tersebut harus segera dieliminir dalam sistem pendidikan kita. Kita
terapkan sistem pendidikan yang sesuai dengan konstitusi kita," katanya.

"Ideologi kita adalah Pancasila. Seharusnya ideologi yang diterapkan dalam sistem pendidikan kita, ya Pancasila. Bukan sistem `kulakan`. Jika tidak bangsa kita akan sulit mencapai kemajuan," demikian Nia Elvina.

sumber:
http://www.antaranews.com/berita/338230/sosiolog-sistem-pendidikan-pasar-munculkan-habitus-baru
Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, akan memberikan dana insentif kepada guru pendidikan anak usia dini (PAUD) sebesar Rp1,2 juta per tahun.

"Pemberian dana insentif kepada guru PAUD, akan diberlakukan mulai tahun 2013," kata Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany, di Tangerang, Sabtu.

Airin mengatakan dana insentif tersebut akan diberikan kepada 500 guru PAUD dari total 967 guru yang ada di Kota Tangerang Selatan.

Nantinya, guru yang tidak menerima dana insentif dari Pemkot Tangerang Selatan, akan diberikan melalui bantuan dari Pemprov Banten.

Airin juga diberikan penobatan sebagai Bunda Pendidikan Anak Usia Dini karena kepedulian dalam dunia pendidikan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan.

"Airin mendapatkan penobatan dari kementrian pendidikan dan kebudayaan sebagai bunda PAUD dari total 133 orang yang diberikan se-Indonesia," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, Mathoda.

Mathoda menjelaskan, perhatian Airin dalam PAUD adalah dengan menambah dari 10 unit kini berkembangan menjadi 161 unit dengan jumlah tenaga pengajar 942 guru dan 6.878 peserta didik.

Banyaknya PAUD di Kota Tangerang Selatan, terang Mathoda, membuat masyarakat jadi mengerti arti pentingnya pendidikan usia dini bagi anak yang hendak memasuki usia sekolah formal.

"Perkembangannya sangat signifikan karena Pemkot Tangerang Selatan memang memperhatikan pendidikan dari tingkat dini hingga atas," katanya.

sumber : 
http://www.antaranews.com/berita/338449/guru-paud-di-tangsel-dapat-rp12-jutatahun
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan jika mahasiswa yang sering terlibat tawuran akan mendapatkan sanksi tegas termasuk dengan penurunan akreditasi kampus.

"Semuanya akan mendapatkan sanksi, mahasiswa yang terlibat tawuran serta kampusnya berupa penurunan akreditasi," tegasnya didampingi Kapolda Sulselbar Irjen Pol Mudji Waluyo di Makassar, Jumat.

Ia mengatakan, penurunan akreditasi itu berlaku bagi semua perguruan tinggi dimana jika terbukti mahasiswaanya terkibat tawuran, apalagi tawuran yang sering terjadi.

Ia mencontohkan, akreditasi kampus yang mempunyai tingkat akreditasi A akan diturunkan menjadi akreditasi B dan begitu seterusnya. Bukan cuma itu, program studi mahasiswa yang terlibat pertikaian juga akan ditutup.

Namun sebelum program studi (prodi) ditutup, akan diberikan sanksi berupa tidak bisa menerima mahasiswa selama beberapa tahun hingga akhirnya ditutup secara permanen.

"Semoga dengan langkah seperti ini, semua pihak yang terkait bisa saling bekerjasama dalam menciptakan kedamaian di dalam kampus karena kampus merupakan salah satu pusat pendidikan, bukan ajang aktualisasi diri ke arah negatif," katanya.

Selain itu, ia mengaku jika dikemudian hari ada mahasiswa yang terbukti melakukan pelanggaran dan sudah jauh diluar ambang toleransi, maka pihak kepolisian langsung mengambil tindakan tegas untuk segera memproses mahasiswa yang melanggar itu.

"Polisi punya tanggungjawab menjaga ketertiban masyarakat serta stabilitas kota termasuk menindak para mahasiswa yang terbukti bersalah," ucapnya.

Menurutnya, jika selama ini pihak kepolisian selalu terbatasi untuk masuk ke dalam kampus itu tidak berlaku lagi jika terjadi tawuran.

Polisi, kata Nuh, bisa mengambil tindakan dan merangsek masuk ke dalam kampus untuk menenangkan mahasiswa yang sedang tawuran serta mengamankan oknum-oknum pelaku yang terlibat pertikaian, apalagi membawa senjata tajam ataupun senjata api.

"Jika ada mahasiswa yang terbukti bersalah langsung tindaki karena kami tidak ingin melihat ada mahasiswa yang menjadi preman. Tugas kepolisian menindaknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku," jelasnya.

sumber : 
http://www.antaranews.com/berita/338394/mendikbud--akreditasi-kampus-diturunkan-jika-mahasiswanya-tawuran
Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah di semua tingkatan di seluruh Indonesia.

"Untuk Sekolah Dasar, misalnya, hanya akan ada 6 mata pelajaran," kata Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Balikpapan Totok Ismawanto, Jumat.

Untuk SMP atau Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat, SMA (Sekolah Menengah Atas) dan yang sederajat, menurut Totok, ia masih menunggu kurikulum baru yang akan keluar.

Saat ini murid-murid SD masih belajar 13 mata pelajaran, siswa SMP belajar 14 mata pelajaran, dan siswa SMA harus mengikuti 16 pelajaran.

Kemudian keenam mata pelajaran di SD setelah pengurangan nanti adalah adalah Bahasa dan Sastra Indonesia, Matematika, Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan satu mata pelajaran seni budaya, plus satu lagi pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Empat mata pelajaran pertama dipastikan pula akan tetap diajarkan di SMP dan SMA dan sekolah-sekolah yang sederajat.

"Sebab keempatnya adalah mata pelajaran perekat bangsa atau pendidikan karakter bangsa," tegas Totok. Dengan menguasai keempat mata pelajaran tersebut, diharapkan siswa menjadi manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan berkarakter baik, mampu berpikir logis dan cerdas, sehingga bisa mendidik dirinya sendiri.

Menurut Dr Lambas dari Pusat Kurikulum dan Buku Kementerian Pendidikan Nasional saat di Balikpapan, pendidikan karakter bangsa ini telah diatur Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010.

Di Balikpapan pendidikan karakter ini diterapkan sebagai percontohan di SMA Negeri 4 dan SMK Negeri 4.

Menurut Totok, pelajaran sebagai manusia Indonesia ada pada pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia, dan juga pada pelajaran seni budaya, dimana bisa dimasukkan muatan lokal sesuai budaya suku bangsa setempat. Pelajaran itu diperkuat lagi dengan Pendidikan Agama sesuai dengan keyakinan siswa.

"Akan semakin baik bila orangtua menambah lagi pendidikan agama ini di rumah," kata Totok.

Pelajaran Matematika mendidik murid (sebutan untuk pelajar di tingkat SD) dan siswa (pelajar di SMP dan SMA) untuk berpikir logis, dimana semua persoalan pasti memiliki jawaban.

Dengan berlatih menjalankan operasi hitung, apakah penambahan, perkalian, perjumlahan, pengurangan, pembagian, dan operasi-operasi yang lebih rumit lagi, siswa dididik tentang ilmu kehidupan.

"Dengan demikian harapannya terbentuk manusia Indonesia yang berkarakter baik dan berakhlak mulia tadi," demikian Totok.

sumber : 
http://www.antaranews.com/berita/338339/mata-pelajaran-sekolah-akan-dikurangi
Presiden Direktur ESQ Leadership Centre Ary Ginanjar Agustian akan menawarkan pelatihan ESQ kepada sekolah yang masih terlibat tawuran, seperti SMK Yake dan SMK Karya Zeni.

"Tahap pertama, setelah pelatihan ESQ kepada siswa kelas 1 SMAN 6 dan SMAN 70, kami akan menawarkan pelatihan serupa kepada SMK Yake dan SMK Karya Zeni," kata Ary Ginanjar di sela-sela acara pelatihan di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan program pelatihan ini diharapkan dapat mengurangi dan mencegah tawuran di antara siswa-siswa SMA di DKI Jakarta.

"Kami dari ESQ dan alumninya bisa mengadakan pelatihan secara gratis. Namun, tentu kemampuan kami terbatas. Jadi, kami mengajak pemerintah dan swasta, seperti BUMN dan lembaga-lembaga tertentu untuk ikut bekerja sama menggelar pelatihan ini untuk mengurangi tawuran yang kerap terjadi," kata dia.

Menurut dia, setelah pelatihan kelas 1 di kedua SMA 70 dan SMA 6, ESQ Leadership Centre juga akan menggelar pelatihan yang sama untuk kelas 2 dan 3.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 70 Saksono Lilik Susanto mengatakan bahwa program ESQ ini akan terus dijalankan secara terus menerus untuk mendapatkan hasil efektif.

Inti dari pelatihan ini bahwa pihak sekolah terus berusaha mencegah aksi tawuran yang selama ini terjadi, kata Saksono.

"Kami berusaha terus mengadakan pelatihan ini secara terus menerus, karena kalau hanya dua hari "dicharge" tidak akan cukup. Karena itu kita berupaya terus," ujarnya.

Kegiatan ini merupakan hasil kesepakatan rapat antara pihak sekolah beserta alumninya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ujar dia.

Sebanyak 800 siswa-siswi kelas X SMA 70 dan SMA 6 Jakarta mengikuti program ESQ. Pelatihan ini bertujuan untuk membina karakter anak didik dari kedua sekolah.

sumber : 
http://www.antaranews.com/berita/338211/pelatihan-esq-untuk-sekolah-terlibat-tawuran
Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme