Tulisan ini ku persembahkan untuk sahabat elmunish678 yang sudah lama kita tak berjumpa, semoga kelak kita dipertemuakan ketika sudah menjadi orang sukses. Amiin


Pada suatu sore (24/02) sebelum beranjak menuju kamar mandi, sejenak ku menatap ke arah handphone nokia jadul yang ku beli tahun 2010 lalu. Ternyata ada pesan satu yang masuk, ku tekan tombol paling kiri sebelah pojok atas, ternyata setelah ku lihat SMS [Short Message Sending] tersebut dari Suci Hati, teman sekelas sekaligus satu kecamatan ketika  sekolah di Madrasah Aliyah. Isi pesan itu cukup singkat kira-kira berbunyi seperti ini, “ass,, pie kabare tmen2 smua??”

Sekilas pesan itu sangat pendek, tidak terlalu bermakna atau bahkan tidak berguna sama seklai. Tetapi menurut kaca mata saya, pesan ini sangat dalam, menyimpan beribu-ribu makna yang sangat-sangat penting. Bisa saja ketika pesan itu dikirim, sang pengirim sedang merasa kesepian karena butuh teman untuk mengobrol, bercanda dan lain sebagainya.

Bahkan pasan ini dapat memiliki makna yang begitu besar ketika dua sahabat yang sduah lama tidak bertemu karena terpisah oleh jarak, kesibukan, bahkan karena sudah memiliki keluarga sendiri. Teman, ialah orang yang begitu berjasa ketika hidup ini merasa sunyi, sepi dalam keheningan, teman bisa dianggap melebihi keluarga bahkan teman dapat menggantikan posisi orang tua sendiri.

Begitu besar arti teman dalam kehidupan, tak terbayang jika ada orang yang dalam kehidupannya tidak memiliki teman. Seorang istri tak lain merupakan teman hidup bagi suaminya, yang selalu menemani dan menjadi tempat berbagi dikala susah maupun senang. Teman yang sejati adalah teman yang setia menemani apapun kondisinya, dikala senang tetap bersama dan begitu pula ketika masalah menimpa. “Mawaddatu ash-shodiqi tadzharu waqta adh-dhiqi” artinya : kecintaan seorang teman itu akan terlihat pada saat kesulitan.

Seorang teman merupakan cerminan dari temannya yang lain, pepatah yang sering kita dengar adalah “jika ingin mengetahui seseorang seperti apa dan bagaimana sifat dan kelakuannya, maka lihat saja siapa temanya.” Sudah sangat jelas, jika teman yang baik akan memberikan dampak yang baik terhadap teman yang lainnya. Tetapi jika teman itu “tidak baik” hanya akan menjerumuskan dirinya kepada hal-hal yang buruk.

Pepatah yang familiar kita dengar “berteman dengan pedagang minyak wangi otomatis akan kebagian wanginya.” Sudah bukan rahasia umum lagi jika berteman dengan berperilaku bejad/buruk tentu akan terbawa buruk, dan begitu sebliknya.

Memilih Teman
Bergaul dengan memilih teman itu harus dilakukan, karena demi kebaikan serta manfaat yang akan diperoleh nantinya. Kenapa harus milih-milih teman? Jawaban sederhananya adalah ketika kita membeli sebuah barang tentu ada proses memilah dan memilih, barang yang lebih bagus, besar, dan kualitasnya baik itu yang dipilih. Tujuan dari memilih itu adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal, tahan lama, awet dan kuat, tetapi jika asal dalam membeli tentu yang ada bisa jadi “kecolongan” dalam arti, baranganya ada yang cacat, penyok, kualitasnya tidak terjammin, dan yang jelas membuat sang pembeli merasa dikecewakan. Itulah kenapa harus selektif ketika memilih teman.

Sebetulnya, berteman itu tidak mesti memilah dan memilih, jika posisi pertahanan sudah kuat, atau dengan kata lain kita sudah betul-betul matang. Tidak akan bisa terpengaruhi oleh orang lain lagi, dalam hal ini adalah teman. Kemudain memiliki ketegasan serta komitmen yang kuat terhdapa ajakan yang menyimpang. Jika teman berbuat salah maka ia kita salahkan, dan mengatakan tindakan yang teman kita lakukan itu salah. “Qul al-haqqo walau kẩna murron

Bukan malah karena ia teman kita, ketika ia salah tetap dibela dan kemudian malah mendukung teman yang salah akhirnya menyalahkan orang lain yang berada diposisi yang benar, justru ini yang nambah masalah.

Teman yang baik adalah yang mengajak kepada kebaikan, tetapi jika teman malah menjerumuskan dan mengajak kepada hal-hal yang tidak baik, maka sesungguhnya ia adalah musuh. “Khairu al-ashẩbi man yadulluka ‘ala al-khoiri” artinya : sebaik-baiknya teman adalah yang menunjukan kepada kebaikan.

Mendapatkan Teman
Tidak ada gading yang retak, tak ada manusia yang sempurna, kalo gak salah, istilah bahasa inggrisnya no body one is perpect. Ya, kata-kata itu paling tepat untuk diungkapkan. Mencari teman yang sempurna tentu tidak ada, walaupun dicari hingga ke ujung dunia pastilah tidak akan bertemu, karena setiap manusia memiliki sisi kelemahan dan kekurangan.

Pepatah arab mengatakan “Man tholaba akhon bilẩ ‘aibin baqiya bilẩ akhin” artinya : siapa saja yang mencari teman yang tidak bercela maka ia tidak akan mempunyai teman selamnya. Karena lantaran temannya tidak baik terus kemudian memilih untuk tidak  mempunyai teman. Tentu sikap seperti ini salah, alangkah lebih baiknya jika tetap berteman, dan saling mengingatkan ketika teman melakukan kesalahan ataupun sebaliknya. “Watawa soubi al-haq..”.  saling mengingatkan dalam kebenaran.

Teman yang saat ini kita miliki, jaga dan sayanghilah mereka. Sejauh jarak memisahkan, sewaktu yang memisahkan, bukanlah halangan untuk terus menjaga teman nan jauh disana. Ia merupakan keluarga, tatkala merangkai sejarah perjuangan hingga semuanya kini hanya berupa kenangan indah yang tak dapat dilupakan. Kelak ketika semuanya telah mencapai kesuksesan, semoga anak dan cucu kita kembali mengulang sejarah kita ini. Saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari kalian (elmunsih678.red). [amr]

Sumber Bacaan
Akbar Zainudin, 10 Jalan Sukses Menghidupkan Prinsip Man Jadda Wajada, Bandung: mizania. 2011 

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001.

Pada tahun 1997, Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim," dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa.

Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama. Langkah-langkah telah diambil untuk peresmian istilah ini dalam bulan Januari 2001 di "Stockholm International Forum on Combating Intolerance". Di sana Islamofobia dikenal sebagai bentuk intoleransi seperti Xenofobia dan Antisemitisme .

Berbagai sumber telah mensugestikan adanya kecenderungan peningkatan dalam Islamofobia, sebagian diakibatkan serangan 11 September, sementara yang lainnya berhubungan dengan semakin banyaknya Muslim di dunia barat. Dalam bulan Mei 2002 European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC) mengeluarkan laporan berjudul "Summary report on Islamophobia in the EU after 11 September 2001", yang menggambarkan peningkatan Islamofobia di Eropa setelah 11 September.

Para penyanggah mengkritik konsep itu, diduga ada penyalahgunaan saat menggali kritik Islam yang sah, dan menyebutnya sebagai "mitos". Penulis novel Salman Rushdie dan teman-temannya menandatangani manifesto berjudul Together facing the new totalitarianism di bulan Maret 2006 menyebut Islamofobia a "konsep yang buruk yang mencampurkan kritik terhadap Islam sebagai agama dengan stigmatisasi terhadap para penganutnya."



Rasulullah SAW merasa takut kepada umatnya bukan karena kekurangan makanan, harta dan lain sebagainya, melainkan yang Rasulullah SAW takutkan adalah tetkala umatnya terlalu mengagung-agungkan dunia daripada menyembah tuhannya. Kelak umatnya akan senang terhadap dunia dengan berlebih-lebihan bahkan karena urusan dunianya ia lupa akan urusan akhiratnya itu.

Banyak dijumpai disekeliling kita orang-orang yang demikian. Padahal Allah SWT sudah mengingatkan didalam firmannya,  Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).. (Qs. At-takatsur : 1-3)

Dalam surat at-takatsur, Allah SWT telah mengingatkan kepada manusia bahwa mengejar urusan dunia (bermegah-megahan) hanya akan melalaikan siapa pelakunya. Akibat sibuk dengan urusan dunia, pelakunya sampai lupa akan hidupnya, ternyata hidup yang dijalaninya hanyalah sementara. Matanya tertutup oleh urusan dunia, hatinya menjadi keras dan tertutup karena mengurus dunianya.

Kisah Tsa'labah ibnu Hbtib
Ada seseorang yang bernama Tsa’labah ibnu Hatib. Ia cukup rajin beribadah, ikut shalat berjamaah di masjid bersama nabi, dan juga tak pernah ketinggalan shalat Jum’at. Ia termasuk orang yang miskin. Oleh karena itu, pada suatu saat ia meminta Rasulullah saw untuk mendoakannya agar bisa menjadi orang yang kaya.

Rasulullah saw sebenarnya enggan untuk mendoakannya agar menjadi kaya.  Karena ia tahu apa yang bakal terjadi padanya jika ia mendoakannya. Namun karena terus didesak, akhirnya beliau mendoakannya, lalu doanya terkabul. Akhrinya Tsa’labah mendapat rejeki untuk memelihara kambing-kambing. Lambat laun, tak terasa kambing-kambingnya berkembang biak dan menjadi banyak, sampai-sampai ia kesulitan menghitungnya.

Semakin hari ia semakin sibuk, ia mulai jarang kelihatan di masjid. Akhirnya ia sama sekali tak pernah terlihat di masjid untuk shalat jama’ah, dan apa lagi untuk shalat Jum’at. Rasulullah saw mengutus seseorang untuk memungut zakat dari Tsa’labah. Namun Tsa’labah merasa enggan, dan meminta utusan itu untuk menagihnya setelah menagih zakat orang-orang lain terlebih dahulu.

Sang utusan pun pergi memunguti zakat dari semua orang selain Tsa’labah, sebagaimana yang dimintanya. Akhirnya utusan itu mendatangi Tsa’labah sebagai orang terakhir yang harus dipungut zakatnya. Utusan berkata: Sekarang tinggal kamu yang belum membayar zakat. Tsa’labah dengan cemberut berkata: Sebenarnya aku tidak bersedia membayar zakat. Utusan bertanya: Memang kenapa? Apa kamu miskin? Bukannya kamu sedemikian kaya sampai-sampai tidak bisa menghitung jumlah kambing-kambingmu? Tsa’labah menjawab: Sudahlah, aku tidak mau membayar zakat.

Akhirnya utusan itu pun pergi, dan menceritakan hal itu kepada Rasulullah. Sang nabi pun berkata: Sejak awal saat hendak mendoakannya agar menjadi orang kaya, aku sudah mengkhawatirkan hal ini.

Dunia itu Fana
Banyak yang gila bekerja, gila harta, gila jabatan dan lain sebagainya, tetapi itu semua adalah urusan dunia. Banyak yang telah tertipu dengan dunia ini, padahal hanya sementara kita tinggal di dunia ini, seperti yang di ibaratkan oleh para mubaligh bahwa dunia ini laksana pelabuhan sebagai tempat persinggahan. Kelak kapal ini akan berlayar lagi menuju pelabuhan yang bernama akhirat.

Islam sendiri memang menganjurkan kepada umatnya untuk berusaha, mencari rizki, berdagang, dan lain sebagainya. Akan tetapi jangan sampai melupakan urusan akhirat, sebab itu merupakan tujuan akhir dari semua yang kita lakukan ketika di dunia yang fana ini. Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Qs. Al-Jumu’ah [62] : 9-10)

Perintah islam tidak hanya terpaku pada amalan akhirat semata, melainkan amalan dunia perlu. Untuk itu islam menganjurkan agar keduanya bisa tetap ada sinkronisasi, tujuannya supaya antara keduanya bisa dicapai dengan baik. “beramalah untuk akhirat mu seakan esok kau tiada, dan beramalah untuk dunia mu seakan engkau hidup selamanya..” konotasinya adalah kita dianjurkan untuk mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kedua (akhirat), dan ketika bekerja kita harus sungguh-sungguh dan tekun dalam melaksanakanya, sebagai bekal untuk hidup di dunia, menfkahi keluarga, anak dan istri.

Jika kita telaah seksama, Allah SWT memiliki rencana yang tak terduga. Allah menganjurkan kita hambanya untuk bekerja, tetapi setelah cukup apa yang telah didapatkan, maka hasil dari bekerja kita juga diperintahkan untuk membagikan sebagian hasil dari pendapatan tersebut. Jelas, bahwa dari pendapatan tersebut ada hak orang lain yang harus diberikan kepada siapa yang berhak menerimanya.

Banyak yang merasakan bahwa hartanya tidak berkah, cepat habis bahkan secepat itu mendapatkannya maka secepat itulah pula lenyapnya. Barangkali hal yang demikian disebabkan ada hak orang lain yang kita makan sendiri dan tidak diberikan kepada siapa yang berhak. Inilah rencana allah, semakin banyak yang diberikan maka semakin banyak yang akan kita terima.

Dunia semakin dikejar maka semakin jauh, mengutip pesan Cak Kuwaidi dalam pengajiannya beliau mengatakan seperti ini “jangan kau pandangi dunia itu, karena semakin kau pandang maka dunia itu akan bertambah manis” pesan yang ingin disampaikan oleh cak kuswaidi adalah biarlah dunia itu menjadi indah bagi siapa yang mengejarnya, tetapi bagi kita  mengejar keindahan tuhan itu sudah dari pada cukup.

Dunia bisa berbentuk macam-macam, bentuk fisik bahkan nono fisik. Contoh non fisik adalah ajakan dari teman atau salah satu rekan yang begitu menggiurkan. Apapun itu sama saja bentuknya, semakin menumpuk-numpuk dunia maka semakin keras pula hati kita dibuatnya. Dalam alquran digambarkan begitu sangat jelas, misalnya saja “jahiduu biamwalikum wa anfusikum...” kenapa kita diperintahkan untuk berjihad dengan harta terlebih dulu? Karena orang yang sudah gila harta tentu merasa berat ketika harus mengorbankan hartanya dibandingkan dengan nyawanya sendiri.

Penutup 
Apapun yang dimiliki saat ini hanyalah titipan semata, pemilik yang hakiki adalah allah swt. Semua yang dimiliki saat ini hanyalah perantara bukan hak paten, toh allah akan mengambilnya kembali. Cak kus pernah mengatakan “beragama itu harus sampai ke asal-usulnya, jika sudah demikian maka apapun tidak akan menjadi permasalahan..” karena allah swt merupakan asal-usul dari semuanya.

Kuncinya adalah Qanaah, karena dengan sifat qanaah inilah justru dapat melindungi diri manusia dari rasa “haus” berkepanjangan. Rasa "haus" ini begitu mengebu-gebu sehingga menjelma dan menjadikan dirinya buta, gila dan lain sebagainya. Hidupnya dirundung dalam ketidak puasan, ketidakcukupan dan merasa kurang dengan apa yang sudah dimilikinya saat ini. Padahal manuisa itu adalah makhluk yang amat rakus, jika  ia memiliki satu ladang emas, maka tentu ia menginginkan untuk mempunyai dua ladang.

Itulah manusia, manusia yang allah ciptakan pada dasarnya memiliki nafsu yang begitu kuat, sehingga jika nafsu tersebut dibiarkan begitu saja dalam diri kita maka sudah bisa dipastiakan nafsulah yang menguasai diri. Tetapi jika nafsu itu dikendalikan dengan baik dan digunakan kepada jalan yang lurus insya allah semuanya akan melahirkan amala-amalan yang terpuji lagi berpahala.

Manusia, Allah SWT ciptakan sebagai makhluk yang lupa diri "apabila di diberikan musibah maka berkelukesah, tetapi apabila diberikan kenikmatan maka akan menjadi lupa diri" (Qs.). Untuk itu, sebagai makhluk ciptaan Allah mengenalinya lebih dalma lagi dan mengingatnya setiap detik, manit dan dalam konsisi apapun merupakan sebuah keharusan, dengan demikian hidup ini terasa diawasi dan diperhatikan oleh allah swt. Menyembah Allah SWT seakan-akan menlihatnya, tetapi jika tidak dapat demikian maka yakinlah bahwa Allah SWT melihat kita, inilah yang disebut dengan ikhsan. [wallahu'alam]




Kamis, (07/02/13), Main futsal bareng teman-teman angkatan memang menyennagkan. Selain ajang unjuk kebolehan kemampuan menggiring sikulit bundar, kegiatan ini juga sebagai media untuk mempererat tali kekompakan khususnya dalam persahabatan.

Angkatan tua, ya ungkapan itu mungkin lebih tepat untuk kami sandang saat ini. Karena tak bisa dipungkiri lagi bahwa kami sudah memiliki tiga adik, angkatan 2010, 2011, dan 2012. Tak terasa memang, perasaan baru saja kemarin kami ada di pondok tercinta ini.

Kembali ke main futsal, permainan yang kami sajikan memang bukan mencari siapa yang lebih kuat atau siapa yang lebih hebat. Tetapi kekompakanlah yang kami ciptakan dalam permainan ini. Tim mana yang lebih kompak maka bisa dipastikan dialah tim yang akan menang.

Pagi tadi, lawan kami cukup bagus. Mereka mengandalkan taktik operan pendek maupun jauh, dan hasilnya beberapa kali kami memungut bolo dari jaring gawang sendiri. Beberapa peluang sempat kami ciptakan juga, namun sayang keberuntungan belum memihak saja. Kami pun harus rela  ketinggalan beberapa poin.

Beberapa menit kemudian kami pun bangkit dan akhirnya mampu membalikan keadaan. Walaupun posisi kami diatas awan, tetapi ancaman di lini belakang kami sangat rapuh. Sehingga tak jarang kami harus naik turun dan mngandalkan serangan balik.

Kubu lawan memang cukup tangguh. Selain operan mereka bagus, mereka juga memiliki pertahanan lini belakang yang cukup baik, sehingga peluang yang kami miliki selalu bisa digagalkan.

Pertengahan pertandingan, skill individu lebih ditonjolkan. Sehingga kami memungut si kulit bundar dari jaring gawang. Sebagai penjaga gawang, yang pada waktu itu mendapat jatah, merasa marah dan dengan langsung memberikan intruksi untuk bisa main operan. “kalo main kayak gini terus gimana bisa ngalaihin lawan.. Mereka mainnya operan. Makanya harus operan juga.”

Setelah diberikan intruksi, beberapa goal kami ciptakan. Dan akhirnya, sampai peluit atau bel dari pihak gaol dibunyikan, pertandingan ini kami menangkan dengan skor telak. (amr)

Susunan Pemain
Group A : Tubagus, acan, yusuf, dani, dan miqdam
Group B : Aziz, ansor, syahrudin, amir, adigus, dan syamsul

Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Dalam kata-kata serapan asing dalam bahasa Indonesia, kata egois yang berarti orang yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli akan orang lain atau masyarakat. Dalam kamus bahasa online,  egois berari tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri dari pada untuk kesejahteraan orang lain atau segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

Ketika ada orang yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri ketimbang orang lain, maka kita sebut ia adalah orang egois. Begitu juga, ketika ada orang yang selalu ingin menang sendiri kita sebut orang itu dengan sebutan yang sama, yaitu egois. Pernahkah kita melaukan tindakan yang menurut orang lain itu egois? Padahal dalam diri kita sendiri, tindakan itu sama sekali bukan egois.

Tak jarang keegoisan seseorang membuat orang lain menjadi benci terhadap dirinya, bahkan tak sedikit yang memusuhinya pula. Ketika belum lama berteman, sifat keegoisannya belum kelihatan, tetapi setelah ia tahu bahwa temannya itu memiliki sifat egois, bisa jadi ia menjaga jarak atau memilih tidak menjadi temannya lagi.

Coba kita bayangkan jika keegoisan tumbuh sebuah keluarga. Biasanya, ketika masih  menjadi pengantin baru, sifat egois tidak kelihatan, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya kelihatan juga. Jika tidak pintar dalam menyikapinya bisa dipastikan hubungannya tidak bertahan lama, dan berakhir dengan perceraian.

Nabi Juga Pernah Egois
Semua manusia pernah egois, tetapi dalam perakteknya kadang secara sadar ataupun tidak sadar. Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas: “Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman, di waktu itu masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum.

Dia masuk ke dalam majlis dengan tangan meraba-raba. Sejenak Rasulullah terhenti bicara, Ummi Maktum memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur’an. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut. Akhirnya allah menurunkan surat ‘Abasa [80] : 
Artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa [80] : 1-4)

Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasulullah SAW akan kekhilafannya itu. Lalu segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta dan dia pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW. Allah SWT begitu halus mengingatkan rasulullah ketika beliau sedikit saja melakukan kesalahan karena menurut rasulullah melobi para pembesar quraish lebih penting dibandingkan dengan Ummi Maktum.

Apakah anda tipe orang egois?
Sikap egois bisa kita temukan dimana pun, lebih tepatnya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu ciri orang yang egois; pertama, mendustakan ayat-ayat allah. Kedua, ingin menang sendiri. Ketiga, Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Keempat, Keras kepala.

Pertama,mendustakan ayat-ayat allah swt. Dalam hal ini cakupannya sangat luas sekali. Orang kafir bisa dikategorikan oang yang egois, karena mereka enggan memeluk islam. Padahal agama islam adalah agama penyempurna bagi agama – sebelumnya. Sehingga jelaslah bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang super egois.

Orang yang mengaku muslim (orang islam) tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah allah maka termasuk kedalam orang-orang egois. misalnya saja tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan amalan-amalan yang lain yang allah perintahakan, serta tidak menianggalkan apa yang allah larang, misalnya mabuk-mabukan, berfoya-foya, dan lain sebagianya.

Pengertian egois yang dimaksud disini mereka egois terhadap dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman allah swt. Padahal akibat ke-egois-an merekalah allah swt memberikan sebuah peringatan melalui tentara-tentaranya. Misalnya saja allah mengirimkan tentara air, tanah, angin, dan sebagainya. Sehingga timbullah banjir, angin puting beliung, longsor, gempa bumi dan lainnya.

Kedua,ingin menang sendiri. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan merupakan hal yang lumrah, tetapi menjadi bermasalah ketika ada orang yang ingin menang sendiri. Buat apa menang kalau tidak sportif, menang seperti ini sama saja kalah. Kemenangan sesungguhnya adalah menang secara sportif, tentu lebih terhormat. Orang yang ingin menang sendiri, kurang lebih bisa dianalogikan seperti itu. Akibat sifatnya inilah ia dijauhi serta di musuhi teman-temannya.

Orang yang ingin menang sendiri biasanya tidak peduli dengan apa yang ia lakukan, walaupun itu sebetulnya salah. Untuk itu berhati-hatilah bila memiliki teman yang seperti ini, sedini mungkin untuk diiangatkan sebelum hal-hal yang diinginkan terjadi. Jika bukan anda sebagai sahabatnya maka siapa lagi.

Ketiga,Suka mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang pemimpin dituntut untuk mempu memimpin anggotanya. Tetapi masa menjadi seorang pemimpin itu ada batas dan jangka waktunya. Ketika menjadi seorang pemimpin ia bisa mengatur anggotanya seperti apa yang diinginkan, tetapi ketika ia sudah kembali menjadi anggota maka harus siap diatur seperti dirinya mengatur ketika menjadi seorang pemimpin.

Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-orang yang siap memimpin tetapi tidak siap dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan sebagai pemimpin, ia memilih keluar. Inilah potret yang saat ini terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya bermusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lain sehingga perseteruan ini tanpa akhir alias jadi “musuh bebuyutan”.

Keempat,keras kepala. Keras kepala identik dengan sebutan kepala batu, artinya isi kepalanya sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan. Orang bekepala batu yaitu orang yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Orang yang berkepala batu biasanya berpasangan dengan muka tembok dan tangan besi. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi untuk diingatkan.

Orang yang keras kepala pada masa Nabi Musa adalah fir’aun, dan akhirnya Allah swttenggelamkan fir’aun dan tentaranya di tengah lautan. Tak hanya itu, pada masa Nabi Nuh. umatnya juga sangat keras kepala. Sehingga Allah swt mengirimkan banjir bandang yang sangat dahsyat, sehingga tak ada yang selamat dari umatnya Nabi Nuh walau pun lari ke atas gunung. Kecuali yang ikut naik kapal dengan Nabi Nuh.

Penutup
Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri manusia. Karena benar-benar alami, sampai manusia tidak menyadari kehadiran sifat egois itu sendiri. Dan sampai sekarang pun belum ada obat yang bisa menghilangkan sifat egoisme dari dalam diri manusia. Setiap orang pasti pernah bertindak egois, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Untuk mampu menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia, sebabnya Rasulullah SAW bersabda : " Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar...’, yang membuat para Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ?"Rasulullah berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi)

Perang melawan hawan nafsu adalah perang yang sesungguhnya. filsafat kuno juga menyebutkan, musuh terbesar adalah diri sendiri. Karena bisa di lihat, dalam diri manusia terdapat sifat-sifat yang buruk. Amarah, dendam, benci adalah contoh sifat manusia yang buruk. Begitu juga dengan egois.

Maka sebenarnya mau tidak mau kita secara tidak langsung juga berperang melawan diri sendiri. Berperang melawan sifat sifat buruk yang timbul secara alami di dalam diri kita. Mungkin hanya kebesaran iman kita lah yang mampu melawan itu semua, dan  iman kita lah, sebenarnya obat untuk melawan egois itu sendiri.

Abu  Bakar Al-Warraq berkata :“Jika hawa nafsu mendominasi, maka hati akan menjadi kelam, Jika hati menjadi kelam, maka akan menyesakkan dada. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaknya menjadi rusak. Jika akhlaknya, maka masyarakat akan membencinya dan iapun membenci mereka”.

Dengan mengedepankan iman, tentu sifat-sifat egois yang terdapat dalam diri kita akan bisa diredam. Bantuan allah swt lah yang menjadi tumpuan terakhir agar kita terbebas dari sifat-sifat buruk tersebut, dan selalu dalam bimbingan-NYA. Semoga kita termasuk kedalam hamba-hamba yang mendapat perlindungan allah swt. Amiin [amr]

Amir Hamzah
divisi Pendidikan
Lembaga Pengabdian Masyarakat

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme