Mereka biasa berangkat menggembala kambing pukul 13.00 dan pulang ke rumah pukul 17.00. Kedua bocah itu juga harus rela bersahabat dengan keringat, trik panas matahari, bahkan hujan dan petir. Bagi kedua bocah itu sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari.

Mencuci baju sendiri sudah ditanamkan ketika sekolah dasar. Kebiasaan ini sudah mendarah daging dan secara tidak langsung mendidik untuk mandiri. Tugas inidividu ditanggung sendiri-sendiri, itulah yang orang tua tanamkan dan ajarkan kepada kakak, adik dan termasuk ke mereka juga.

Di saat orang lain sudah mandi dan wangi, mereka masih berada di hutan mengurus kambing-kambing peliharaannya.

Di saat orang lain bisa bermain sepulang sekolah, kedua bocah itu tak punya pilihan selain bermain dengan kambing-kambingnya.

Salah satu cara supaya bisa main, ya harus nekat. Tetapi resikonya harus tanggung sendiri. Siap-siap saja, pulang ke rumah kena marah dan gak dapat jatah makan.

“Pokoknya nyesel banget kalau ngelakuin hal senekat itu, yang ada nanti malah ngerasa bersalah… “.

***

Selepas shalat maghrib, mereka sudah duduk rapi dan lengkap dengan pakaian sarung, peci, dan al-quran baghdadiyah (Metode mengaji dengan di eja perhuruf, tapi saat ini yang lebih familiar adalah metode Iqra yang simpel dan mudah).

Mereka menunggu sang guru ngaji selesai menunaikan shalat Maghrib. Guru ngaji yang mereka tunggu-tunggu tak lain ialah ibu mereka sendiri. Waktu-waktu menegangkan akan segera dimulai.

Dengan bantuan penerangan seadanya, mereka mengaji. Waktu itu masih menggunakan lampu dari minyak tanah. Meski pencahayaan tidak seterang seperti saat ini, bentuk dan huruf hijaiyah tampak begitu jelas terlihat, bahkan hingga saat ini masih terekam dengan sangat kuat, melekat kuat bagaikan tulang dan daging yang menyatu.

Lampu minyak yang terbuat dari botol bekas merupakan benda yang begitu berjasa. Karena menggunakan lilitan kain sebagai sumber cahaya maka tak ada istilah mati lampu dan akhirnya libur ngaji.

Paling ke tiup angin atau tersenggol, sehingga lampu padam. Setelah dipercikan api, semuanya kembali normal. Libur mengaji bagi mereka tat kala ibu tertidur atau kecapekkan setelah seharian bekerja di sawah.

Mereka wajib ngaji, dan tidak boleh tidak. Tidak ada dispensasi sedikitpun. Sehingga kalau tadi sore tidak menggembala kambing, persidangannya ketika mengaji. Apalagi kalau ngajinya salah terus dan gak lancar. Ya sudah, jadi sasaran empuk untuk disalahkan.

Semuanya dimulai dengan rasa tidak enak dan penuh perjuangan. Tetapi pepatah ini past benar adanya “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Besakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian…

***
Ditemani lampu minyak dan keheningan malam. 
Lembur Pancur, 1995

Suasana pesawahan yang sejuk dan pemandangan pegunungan yang begitu indah kala sore hari menjadi pemikat siapa saja yang mengunjunginya. Pedesaan, itulah kehidupan di mana kami dibesarkan dan kami dididik.

Suasana kedamaian dan ketentraman begitu terasa. Ditambah lagi dengan udaranya yang sejuk, membuat siapapun merasa nyaman ketika tinggal di desa.

Gotong royong dan saling membantu begitu tampak dan masih menjadi budaya di desa, sehingga hubungan kekeluargaan dengan tetangga begitu kuat. Ditambah lagi kegiatan orang-orang desa lebih banyak di sawah dan di kebun.

Penghidupan orang desa dari cocok tanam, meski hasilnya tidak bisa menghasilkan uang, asal bisa menghidupi dan mengisi perut, rasanya sudah lebih dari cukup. Bagi orang desa, kekayaan harta bukan lah segalanya, tetapi kekayaan hati dan kebersamaan itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Cara mendidik orang desa biasanya keras, tapi itu bukan semata-mata karena tidak sayang dan cinta. Tetapi itulah bukti rasa sayang dan cinta yang sesungguhnya. Orang tua  mereka, tidak ingin anak-anaknya kelak menjadi orang bodoh, terutama tidak bisa mengaji. Dari didikan yang “keras” itulah (kami) anak desa lahir dan menjadi seperti sekarang.

Aku adalah akumulasi dari masa lalu….” Demikian kalimat yang menjadi kunci dalam bukunya Chairul Tanjung, Aku Anak Singkong.

***

Siang itu begitu terik, jalan aspal itu terasa panas meski beralaskan sepatu. Apa lagi tanpa alas kaki. Tampak dari kejauah dua bocah yang baru pulang sekolah dasar (SD), berlarian. Mereka bergegas untuk pulang ke rumah. Dua anak kembar itu ternyata sudah dinanti tugas besar dari orang tuanya; menggembala kambing.

Suara kambing yang mengembik sudah terdengar jelas, dan itu menandakan bahwa mereka sudah sangat lapar untuk mengisi perutnya. Mereka bergegas mengganti pakaian sekolah dan langsung mengeluarkannya dari kandang.

Pada saat pintu itu dibuka, satu bocah sudah berjaga di salah satu kebun milik orang lain, supaya kambing-kambing itu tidak masuk ke kebun yang ada tanaman singkong dan lain sebagainya. Sebab kalau masuk ke kebun mereka bisa kena marah Si pemilik kebun.

Padahal, kedua bocah itu belum sempat makan siang. Sarapan pagi pun tidak. Tapi bagi mereka, hal ini sudah biasa. Toh mereka akan mengganjal perutnya dengan buah-buahan yang ada di hutan.

Kambing yang mereka punya, bukan jenis kambing yang menyukai rerumputan, dan tidak terlalu suka dengan rerumputan. Tetapi lebih menyukai dedaunan dan pucuk daun yang muda. Sehingga untuk menggembala harus ke hutan.

Dari sana mereka terbiasa menggembala kambing ke hutan, bahkan ke kuburan. Kuburan di perkampungan tentu berbeda dengan di kota. Di kampung begitu seram dan banyak pohon besar-besar. Sehingga kalau menggembala ke kuburan, siang hari pun terasa seperti sudah memasuki waktu maghrib

***


Di setiap malamku, ku selalu berdoa dan berharap engkaulah kelak imam dalam hidupku. Di setiap hela nafasku, ku selalu berharap engkaulah orang yang paling mengerti aku. Di setiap hariku, ku selalu berdoa engkaulah laki-laki yang selalu setia mendampingku dari lemahnya aku.

Di sisa umurku, ku berdoa dan berharap engkaulah pendamping dunia akhiratku. Mungkin kau selalu khawatir akan setiap laki-laki yang mencoba mendekatiku. Mungkin kau selalu khawatir akan cinta yang tak lagi seperti dulu. Mungkin kau selalu khawatir akan kita tak dapat menyatu.

Tapi, aku punya satu keyakinan untuk menutupi segala kekhawatiranmu. Bahwa aku telah yakin memilihmu sebagai imamku. Karena aku lelah… lelah menjadi sempurna. Aku lelah menjadi wanita serba bisa. Aku lelah menjadi wanita yang penuh dusta.

Aku ingin menjadi wanita apa adanya, dengan kamu yang punya segalanya. Segala yang membuatku menjadi apa adanya aku.

Boleh aku mengajukan permintaan? Aku ingin menjadi orang pertama dan selamanya yang selalu ada di sampingmu. Menemani setiap langkahmu, memotivasi kala lemahmu, membangun kala rapuhmu.

Aku ingin menjadi wanita yang menitikan air mata bahagia atas suksesmu. Aku ingin selalu dapat memberi senyum semangat kala letihmu. Aku ingin menjadi pelipur kala sedihmu. Aku ingin menjadi sandaran kala goyahmu. Tentu atas izin Allah dan kuasa Allah.

Serangkaian kata-kata di atas mungkin tidak bermakna apa-apa buat Aa. Tapi, begitulah cara Neng menyampaikan tulusnya perasaan ini.

Cibarusah, 19/08/14 pukul 23:24


Saya pacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Bukan tanpa alasan semua itu saya lakukan. Kala itu saya mengejar waktu dan berburu tiket kereta api. Pasalnya sedang musim liburan, jadi banyak yang bepergian dengan kereta api.

Kebetulan pada hari itu juga saya harus berangkat ke Jogja. Jika tidak cepat-cepat memesan tiket pasti kehabisan. 'Siapa cepat dia dapat' begitulah bunyi slogan yang sering kita dengar.

Di tengah perjalanan sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba bermasalah. Gas nya sudah tidak berfungsi dan jalannya tersendat-sendat. Ini pasti bensin nya habis, tebak saya dalam hati. Dalam posisi itulah saya berusaha mencari tempat jualan bensin eceran. Tepat di warung penjual bensin eceran itu pula sepeda motor itu terhenti.

Setelah dibuka dan dicek, ternyata betul. Bensin nya kering kerontang. Saya langsung membeli bensin. Kebetulan penjaga warung nya langsung paham. Langsung membawa satu botol bensin yang isinya satu liter, tak lupa di tangan kirinya menggenggam corong yang sudah disambung dengan selang.

Selesai menuangkan bensin, uang pecahan sepuluh ribu saya serahkan kepada ibu penjaga warung. Sebentar ia masuk dan keluar lagi. Di tangan ibu itu ada uang kembalian dan dua buah permen yang didominasi dengan warna merah. Uang itu saya terima dan dimasukan kedalam kantong, saya penasaran dengan dua buah permen tadi.

Begitu saya lihat, ternyata ada tulisan yang membuat saya merasa diingatkan. Ternyata tulisan yang ada di permen itu bisa memberikan dampak yang positif. Tulisan dari dua permen itu "sabar... dan belum terlambat"

Dua permen ini sengaja saya simpan dan akhirnya saya abadikan. Ternyata sesuatu yang bentuknya sekecil ini mampu memberikan dampak yang sangat besar. Kala itu saya sedang terburu-buru dan mengejar tiket kereta supaya tidak kehabisan. Tapi setelah membaca dua tulisan dari permen tersebut, saya pun langsung tersadar.

Kejadian ini kira-kira saya alami di pertengahan tahun 2013.

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme