Sore itu sahabat saya datang ke kamar. Tanpa sengaja kami ngobrol tentang film, dari film Sherlock Homes hingga Naruto. Terus kawan saya ini mengajak nonton. "eh, kang ntar senin malam kami mau nonton film tenggelamnya kapal van der wijck di Amplaz.. mau ikut gak?" Saya pun, pikir-pikir dulu dan tak berapa lama akhirnya meng-iyakan ajakan itu.

Karena penasaran saya mencoba cari informasi dan sinopsisnya. Setelah dapat, saya agak sedikit pesimis dan sudah bisa menebak alur cerita tersebut. Saat itu saya di bayang-bayangi oleh kalimat "kasih tak sampai" sebagaimana yang saya temukan pada sinopsis itu.

Agak sedikit kecewa dan pesimis. Tetapi begitu menonton film ini anggapan itu hilang. Justru saya dapat ilmu dan "amunisi" yang baru. Saya menemukan semangat dan "film ini gue banget dweh..." Dalam hati, saya berazam, kelak saya harus bisa hebat dan sukses seperti Zainudin yang dulu diremehekan dan dikecewakan.  Cekidot !!!

Tahun 1930, Berawal dari pertemuan di jalan, Zainudin begitu terpana dengan kecantikan Hayati. Kala malam hari, hujan turun dan Hayati pun berteduh di sebuah warung dengan sahabatnya. Akhirnya Zainudin menawarkan payungnya untuk digunakan oleh Hayati. “amboy, pucuk dicinta, ulam pun tiba…” demikian ungkapan pepatah yang seing kita dengar.

Zainudin berasal dari keturunan Minang dan Makasar, sedangkan hayati keturunan Minang. Kedua skat itulah yang harus memisahkan cinta mereka berdua. Zainudin terancam dan akhirnya harus rela meninggalkan kekasihnya itu untuk pergi ke tempat lain. Di tepi sungai itulah hayati berjanji untuk menunggu Zainudin kembali sampai kapan pun.

Rupanya itulah yang membuat Zainudin menjadi lebih semangat dan termotivasi meskipun nantinya harus terpisahkan oleh jarak. Toh keduanya bisa berkirim kabar melalui surat, seperti yang biasa mereka lakukan untuk mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain.

Suatu hari, Hayati mendapatkan izin untuk mengunjungi sahabtnya khadijah. Dan kesempatan itu digunakannya untuk mengobati rasa rindunya selama ini. Kesempatan itu ia gunakan untuk bisa bertemu Zainudin pada saat acara pacuan kuda. Ketika hari itu tiba, rupanya Hayati sedang bersama Aziz dan Khadijah. Tak sepatah kata pun yang sempat ia ucapkan kala itu.

Zainudin sempat mengirimkan surat untuk melamar Hayati, dan begitupun Aziz. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Aziz lah yang diterima oleh ketua adat, sebab ia berasal dari keturunan Minang asli, berbeda dengan Zainudin yang ada darah Makasarnya. Padahal ayah Zainudin berasal dari suku minang pula.

Dengan perasaan kecewa, hayati harus menerima Aziz sebagai suaminya. Zainudin mengirimkan surat untuk hayati, menjelaskan siapa sebenarnya Aziz calon suaminya, dan bahkan Zainudin menyebutnya dengan pernikahan harta dan kecantikan semata, bukan pernikahan cinta yang sesungguhnya.

Kala itu, Hayati membalas suratnya dan seketika itu surat tersebut sangat menyakiti Zainudin hingga membuat dirinya sakit parah. “kau miskin, akupun miskin, tentu tak elok untuk menata kehidupan kelak.. biarlah yang lalu berlalu, dan kita sudahi saja semua ini, dan semuanya telah berakhir… ”

Ditinggal menikah oleh sang kekasih pujaan, tak mudah baginya untuk bisa begitu saja melupakan semuanya. Barulah setelah Abang Muluk menasehati dan memberikan semangat baru baginya, akhirnya ia mantap untuk berubah dan meninggalkan semua yang berhubungan dengan Hayati, termasuk meninggalkan padang dan merantau ke jawa.”konon cakrawala akan terbuka lebar disana…”

Berkat dari abang Muluk juga, akhirnya mereka berkenalan dengan salah satu penerbit yang akhirnya tertarik dengan karya Zainudin yang telah dikirmkan Bang Muluk. Bermodalkan mesin ketik itulah akhirnya karya-karyanya dibaca oleh banyak orang. Zainudin juga menjadi orang yang sukses dan tinggal di Surabaya.

Ternyata, Aziz dan Hayati juga  pindah ke Surabaya karena urusan pekerjaan. Akhirnya mereka bertemu, kala itu dalam sebuah acara teater yang mengangkat tentang kisah mereka. Alangkah terkejutnya Hayati, ketika mengetahui penulis buku yang ia baca selama ini adalah Zainudin, dan kini berganti nama menjadi Tuan Zabir.

Karena kebiasan berjudi, Aziz memiliki banyak hutang dan kekayaan mereka disita. Terpaksa mereka meminta bantuan kepada Tuan Zabir (Zainudin). Dengan tangan terbuta Zainudin membuka pintu rumahnya untuk mereka tinggali. Meskipun bagi ia sangat sulit tinggal bersama orang yang pernah menyakitinya. Tapi bagi Zainudin, Hayati yang kini bukanlah siapa-siap, ia hanyalah istri orang lain. Mereka boleh tinggal di rumahnya, asal jangan pernah memasuki ruang kerjanya.

Suatu malam, Hayati hendak mengantarkan teh, rupanya Zainudin tidak ada. Hanya ada Bang Muluk yang ada disana. Dari obrolan itulah akhirnya Hayati diperbolehkan masuk ke dalam ruang kerja Zainudin. Ia menanyakan kenapa alasannya tidak boleh masuk ke ruang kerja tersebut, dan Bang Muluk menyingkapkan kain tabir yang ada di depan lukisan tersebut. Seketika itu Hayati lemas dan langsung duduk, menangis sejadi-jadinya. "permataku yang hilang.." demikian tulisan dalam foto Hayati yang selama ini Zainudin simpan.

Karena merasa tidak enak terhadap Zainudin yang sudah terlalu sangat baik pada mereka, akhirnya Aziz memutuskan untuk mencari pekerjaan dan meninggalkan Hayati tinggal di rumahnya. Kelak ketiak pekerjaan itu sudah ia dapatkan maka sesegera mungkin akan menyurati Zainudin. Sudah sekian lama tak ada kabar, ternyata Aziz memilih untuk bunuh diri dengan meminum obat.

Hayati yang kini sendiri, mencoba menyapa Zainudin, tapi zainudin sudah kadung sakit hati dan ia membeberkan semua perasaannya kala itu, kala ia ditinggalkan oleh Hayati hampir saja mati. Hayati hanya bisa mengucapkan maaf. Karena perasaan kecewa yang begitu dalam, akhirnya Zainudin mengambil keputusan untuk memulangkan Hayati ke negeri asalnya dengan menggunkan Kapal Van Der Wijck.

Sebelum kapal berangkat, Hayati menitipkan sebuah surat kepada Zainudin. Surat tersebut Hayati titipkan kepada Bang Muluk. Setelah surat itu dibaca, barulah Zainudin sadar, dan ingin membawa Hayati kembali. Tapi ternyata kapal tersebut tenggelam dan hayati harus meninggal dalam pelukan Zainudin. Ia sedih, dan merasa terpukul. Tapi ini bukan yang pertama kalinya, ia pun sadar dan terus bangkit lagi, menatap masa depannya penuh dengan optimis.

Sejarah dan info
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian.

Novel ini pertama kali ditulis oleh Hamka sebagai cerita bersambung dalam sebuah majalah yang dipimpinnya, Pedoman Masyarakat pada tahun 1938. Dalam novel ini, Hamka mengkritik beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai kawin paksa.

Kritikus sastra Indonesia Bakri Siregar menyebut Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka, meskipun pada tahun 1962 novel ini dituding sebagai plagiasi dari karya Jean-Baptiste Alphonse Karr berjudul Sous les Tilleuls (1832). (wikipedia)

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini diadaptasi dari novel dengan judul sama karya sastrawan terkenal Buya Hamka pada tahun 1938. Film yang disutradarai oleh Sunil Soraya.[]

#Studio Ampaz 13/01/14  - 20:30-23.00

--------------------

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir di blog sederhana ini. Jangan lupa, biar cakep dan cantik silakan ninggalin satu atau dua patah kata. Apa pun komennya boleh, yang penting sopan dan tdk promosi.

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme