Bagi anda penikmat tulisan-tulisan religius, buku ini sangat pas dan cocok untuk dibaca. Selain bahasanya santun, "renyah". buku ini juga mudah dipahami. Tak hanya itu, kita juga bisa diajak berpetualang menelusuri sisi lain alam ini oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA.

Meski saat ini menjabat sebagai orang nomor satu di UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta, beliau tetap menjadi orang yang begitu rendah hati dan low pofil.

Pria kelahiran Magelang 18 Oktober 1953 memulai buku ini dengan fenomena keseharian yang sering kita temukan dan konflik-konflik yang besar sampai yang kecil, entah itu masalah pemahaman, budaya, gaya, politik, maupun masalah pendapatan. Semuanya hampir disinggung di sini.

Banyak sekali makna yang terdapat dalam buku ini, sebab banyak sekali hikmah yang tersimpan dari kisah dan inti pesan yang dituliskan oleh penulis buku dalam tiap judul-judulnya. Ranah tasawuf dan bagaimana menemukan hakikat hidup yang sesungguhnya, itulah pesan yang ada dalam buku ini.

Dulu saya sempat berdiskusi dengan salah satu sahabat dari Psikologi UIN-Bandung, tentang ilmu Psikologi. Saya sedikit paham mengapa menggunakan judul ini (Psikologi Kematian). Awalnya sepintas saya berfikir bahwa buku ini pasti berhubungan dengan ilmu psikologi, tetapi begitu membacanya saya semakin paham maksudnya.

Kematian merupakan sesuatu yang pasti datangnya, hanya saja kita tidak tahu kapan kematian itu datang menjemput kita. Apakah hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan. Sekali lagi kita tidak pernah tahu akan hal ini. Untuk itu kematian merupakan sesuatu yang sangat pasti tetapi banyak sekali orang yang melupakannya.

Mari kita mencari makna sebelum kematian datang (Bagian ketiga). Hanya dengan cara inilah kita akan dapat menemukan arti yang sesungguhnya. Konsep balasan (pahala-dosa) akan begitu jelas bila kita mampu mendobrak kegelisahan manusia (Bagian kedua) yang ada di alam ini. Setelah proses itu kita jalani, tentulah kita akan menemukan kehidupan yang abadi (bagian keempat).

Hidup ini hanyalah singkat, tetapi kebanyakan manusia merasa berada di zona nyaman (comfort zone). Karena merasa dunia ini tempat yang begitu indah dan memberikan kebahagiaan, akhirnya mereka lupa bahwa kelak akan hilang dari dunia ini dan pindah menuju alam yang abadi.

Lantas, tak ada lagi alasan bagi yang sudah membaca buku ini untuk menjadikan dunia ini sebagai tujuan atau obsesi terbesar dalam hidupnya. Sebab semuanya hanyalah sesaat dan hanyalah titipan semata. Cukuplah buku ini, sebagai pesan terakhir yang begitu ampuh untuk selalu menjadikan diri kita sadar akan kelemahan dan ketidakberdayaan atas nyawa ini.

Mari kita sambut kematian dengan sebuah kesadaran. Sadar untuk mempersiapkan dan membekali diri supaya tidak menjadi orang-orang yang merugi ketika berada di hadapan Allah kelak. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan hidayah dan beruntung. Amiin. []

--------------------

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir di blog sederhana ini. Jangan lupa, biar cakep dan cantik silakan ninggalin satu atau dua patah kata. Apa pun komennya boleh, yang penting sopan dan tdk promosi.

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme