Terima kasih adalah ucapan yang paling sering kita gunakan untuk mewakili rasa kepuasan terhadap orang lain. Terima kasih juga merupakan ucapan pamungkas untuk menutup sebuah acara dan percakapan. Sehingga, dengan ucapan terima kasih tersebut semuanya menjadi senang dan bahagia. ketika ada yang mengucapkan terima kasih, maka jawabannya adalah sama-sama (terima kasih juga).

Terima dan kasih terdiri dari dua kata. Terima berarti menerima dari orang lain, entah itu berupa fisik atau pun kasat mata. Menerima bantuan, pertolongan atau apapun. Besar, kecil, dirasa, maupun tidak. Sekecil apapun yang kita terima dari orang lain, tak segan kata ini keluar dari dalam mulut kita.

Kasih artinya mengasihi. Mengasihi dalam bentuk perbuatan yang memiliki efek dan dapat dirasakan oleh siapapun. Atau sebuah perbuatan yang bersifat tanpa pamrih (tak perlu balasan). Kasih itu bisa juga berarti memberikan. Jadi, kata terima kasih itu juga berarti bisa menerima dan memberi.

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan [67] : 9)

Dua kata sederhana ini sering diajarkan kepada anak-anak kecil. Mereka semenjak kecil sudah dibiasakan dan diajarkan dengan ucapan kata ini ketika menerima sesuatu dari orang lain. Dengan dilatih semenjak kecil, akhirnya anak-anak itu menjadi terbiasa.

Sudahkan kita mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah banyak berjasa? Terima kasih kepada orang tua, guru-guru, teman/sahabat dan 'guru kehidupan'. Rasa terima kasih ini sangat diperlukan karena ini sebagai salah satu ungkapan tak ternilai. Mungkin kita tidak sempat memberikan yang terbaik kepada mereka, tetapi lewat ucapan kata terima kasih seolah semuanya sudah mewakili.

Kenapa harus berterima kasih?
Terima kasih dalam arti yang luas yaitu bisa saja diartikan sebagai bentuk syukur. Syukur atas apa yang sudah diperoleh dari hasil campur tangan orang lain, bahkan Allah swt. Syukur atas nikmat kesehatan, kelapangan, kehidupan, dan semuanya. Sebab jika bukan karenaNya, mana mungkin semuanya bisa dinikmati begitu saja.

Syukur merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Sehingga sekecil apapun yang diperolehnya akan membawa kebahagiaan, sebab itulah jatah yang telah diusahakannya. Selain itu juga syukur mampu mengusir rasa pesimis dan kecewa. 

Apapun yang didapatkan, jumlahnya berapapun akan dikembalikan kepada sang pencipta. Terima kasih ya tuhanku, semoga dengan yang sedikit ini akan menjadi berkah. Mungkin jauh di belahan bumi nan jauh di sana masih banyak yang mengalami kesulitan dan kesusahan.

Berterima kasih merupakan tanda bahwa manusia membutuhkan bantuan dari orang lain. Ia tidak boleh sombong dan congkak atas apa yang dimilikinya atau atas apa yang diusahakannya. Menganggap bahwa orang lain tidak berperan di dalamnya, semuanya murni atas dirinya seorang. Jika ada yang seperti ini berarti ia adalah orang yang angkuh bin sombong.


Kadang ketika mendapatkan sebuah pilihan, kita akan merasa bingung. Terlebih pilihan yang ada di depan mata itu, semuanya baik dan bagus. Dilema, itulah yang akan terjadi. "Andai bisa memilih keduanya". Tetapi sayang memilih itu harus satu, diantara sekian banyak pilihan yang ada. Ketika bingung memilih yang mana, maka jalan yang paling sering diambil adalah dengan melibatkan sang pencipta; Shalat Istikharah.

Ketika menjadi objek (dipilih) lantas kita juga akan senang dan bahagia? Mungkin jika yang memilih itu orang yang sesuai dengan diharapkan, bisa saja senangnya setengah mati. Tetapi jika sebaliknya?.. yang ada hanya was-was dan ketidaktenangan. Bahkan, jurus langkah seribu untuk melarikan diri akan dijadikan langkah terakhir. 

Keduanya (memilih dna dipilih) butuh waktu dan proses yang panjang. Bagaimana ininya, itunya dan siapa saudaranya, pokoknya semua bercampur aduk di dalamnya. Sehingga semuanya akan berubah, pokoknya tidak lagi menjadi objektif. Jika sudah subjektif maka yang terjadi adalah titik temunya tidak akan pernah bisa ditemukan, karena yang menjadi objek penilaian adalah kekurangannya.

Ada dua orang sahabat, lebih tepatnya teman ketika kami duduk di bangku SLTP. Begitu lusus dari MTs, dua orang sahabat ini melanjutkan sekolahnya ke SLTA, waktu itu melanjutkan ke Madrasah Aliyah. Tetapi, salah satu dari sahabat ini orang tuanya meninggal dunia. Dengan terpaksa, ia juga harus meninggalkan sekolah barunya. Tidak ada yang membiayai sekolah, itulah alasannya. 

Sahabat yang satunya ia justru menikmati masa-masa sekolahnya dengan penuh kebahagiaan. Satu tahun berlalu, kedua sahabat ini begitu sangat berbeda. Seketika itu sahabat yang putus sekolah terkesan pasrah dan tidak memiliki masa depan, ia lebih mengubur impiannya. Sahabat yang menikmati sekolah SLTAnya seolah ia akan menjadi sosok yang berhasil dan tak jarang ia sering mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Tetapi semua itu berubah, hanya dalam tempo dua tahun. Semuanya berbalik 180 derajat, ini di luar prediksi dan penilaian nalar manusia. Sahabat yang putus sekolah, ia memutuskan untuk menikah dengan seorang guru. Rupanya dari sana ia mendapat akses untuk mengikuti sekolah paket C, dan setelah lulus ia langsung melanjutkan daftar kuliah.

Ada kabar, jika sahabat yang sekolah ini dibawa kabur oleh pacarnya. Keluarganya sibuk mencari dan menghubungi teman-temannya. Sayang, tak satupun yang bisa memberikan keterangan pasti. Seminggu kemudian barulah ia muncul dan datang ke rumah. Berawal dari kejadian itu, semuanya menjadi rusak, sekolahnya tidak karuan dan begitu juga dengan masa depannya. Selepas lulus dari sekolah ia langsung dinikahkan. 

Saat ini, keduanya sedang menikmati pilihan mereka masing-masing. Awalnya putus sekolah, kini mengajar di sekolah, yang sekolah malah kini mengajar di rumah (mengurus anak dan suami). Memilih dan dipilih itu tidak semuanya sesuai dengan harapan, dan semuanya bukan tidak baik, tetapi itulah kebaikan yang digariskan sang pencipta.   

Intinya, memilih dan dipilih sama tidak enaknya. Tetapi nikmatilah apa adanya, let's flow []


Manusia sebagai makhluk yang di ciptakan oleh sang khaliq untuk menyembah kepadaNYA. Menyembah Allah, bukan berarti seolah-olah Allah butuh dengan makhluknya. Bukan juga Allah egois. Melainkan ibadah tersebut adalah bukti ketaatan kita sebagai makhluk (yang diciptakan) kepada siapa yang telah menciptakan. Kepatuhan dan ketaatan itu harus disadari oleh manusia.

Bahkan ibadah tersebut pada hakikatnya akan memberikan efek yang positif bagi manusia itu sendiri. Salah satu penelitian ilmiah tentang gerakan shalat adalah bisa memperlancar jalan darah dan memfungsikan otak dengan baik. Dan yang paling penting, dengan menjalankan ibadah tersebut manusia akan mendapatkan pahala dari Allah; (merasa tenteram dan tenang), inilah yang dicari oleh manusia.

Kewajiban beribadah itu sangat pantas Allah berlakukan untuk makhluknya, karena apabila manusia itu menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan nya maka allah akan memberikan ganjaran yang berupa kenikmatan di surga dan siksaan di neraka.

Proses manusia untuk mau melakukan ibadah tidak mudah, sebagai bukti nyata bahwa telah kita saksikan begitu banyak manusia yang mengaku Islam namun kesadaran untuk beribadah sangat sedikit bahkan sangat jarang. Butuh beberapa tahap ujian tingkatan manusia untuk menyadari untuk beribadah kepada sang pencipta, yaitu allah swt.

Kesadaran yang di bangun bukan hanya sekedar sadar yang biasa melainkan kesadaran yang sangat tinggi yang mampu menghantarkan kita benar-benar menyerahkan segalanya demi sang pencipta. Kesadaran ini di bangun dari kesadaran hati nurani dan dari kesadaran ‘aqal untuk merelakan semuanya.

Sadar Diri
Sadar diri sebagai makhluk berarti menyadari akan adanya sang khaliq (sang pencipta) sehingga dengan demikian mengakui bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, bukan malah merasa paling pintar dan paling bisa serta merasa paling benar sendiri. Sadar sebagai makhluk juga  merupakan sadar akan kelemahan yang dimilki serta keterbatasan yang mampu untuk di jangkau, karena manusia merupakan makhluk yang serba kurang. Manusia hanya makhluk yang lemah dan tempatnya salah dan lupa, yang sempurna itu hanya allah swt. Tuhan yang maha agung dan maha tinggi.

Sadar Posisi
Setelah kesadaran diri ini tertanam dengan kuat maka akan melahirkan kesadaran yang kedua yaitu kesadaran posisi. Kesadaran posisi ini merupakan implementasi dari kesadaran diri, yang mana kesadaran ini akan berkembang apabila kesadaran diri yang telah diciptakan benar-benar bagus. Akan tetapi apabila kesadaran diri ini tidak berjalan atau tidak secara bagus maka akan mempengaruhi kesadaran posisi tersebut, bahkan tidak sama sekali muncul.

Sadar posisi akan memunculkan sebuah perilaku positif bagi siapapun yang memiliki kesadaran diri yang baik, orang tersebut akan menjadi orang yang baik. Menurut hemat penulis, baik disini secara garis besarnya adalah menjalankan kewajibannya terlebih dahulu kemudian meminta haknya.

Seharusnya yang harus kita tekankan adalah bagaimana kita menjadi manusia yang bisa merasa tapi bukan merasa bisa, karena dua kalimat ini jika salah mengartikan maka akan menjadi makna yang salah pula. Kita harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbuat dan sebelum berbicara, dan ini merupakan sebuah bentuk kehati-hatian kita dalam mengolah bagaimana kita mampu membiaasakan terlebih dahulu kemudain menjalankan, bukan ngomong dulu baru mengerjakan.[Ah]

Repost - Maret, 13/2014

Rendah itu berarti tidak tinggi. Atau bisa juga berarti sesuatu yang menyebabkan munculnya kata tinggi. Sebab jika tidak ada kata rendah, maka mustahil kata tinggi itu akan muncul. Rendah adalah sebuah posisi, letak keadaan atau sebuah ukuran pola geografis. "Gunung itu lebih tinggi dibandingkan bukit, sedangkan bukit lebih rendah dibandingkan gunung."

Rendah itu mengukurnya ke atas bukan ke samping. Kalau mengukurnya ke samping itu namanya pendek dan panjang. Sebetulnya ketika kita mengukur postur tubuh, itu lebih pas dan tepat menggunakan kata tinggi dan rendah. Sebab kalau menggunakan kata pendek pasangannya adalah panjang. Ini sekali lagi berbicara masalah kosakata bukan masalah ukurannya.

Rendah memiliki arti paling bawah. Jika ditambah dengan akhiran an maka berubah artinya. Apalagi jika di depannya ada kata benda yang menemaninya, sudah dipastikan bahwa benda tersebut tidak memiliki nilai (dianggap tidak memiliki harga lagi). 

Misalnya 'perempuan rendahan' artinya perempuan yang biasa dan suka dimainkan atau ditukar dengan uang,  Contoh yang lain, karyawan rendahan. Artinya ia bekerja di kantor, tetapi posisinya hanya sebagai office boy atau lainnya yang setara dengan itu. 

Jika ditambah dengan awalan di dan akhiran an, maka siapapun yang mendapatkan kata ini tidak akan tinggal diam. Sebab siapapun, tidak rela dirinya dihina dan dijatuhkan. Direndahkan merupakan perlakuan yang semena-mena dan jelas-jelas menjatuhkan harga diri. Tak sedikit kasus mutilasi yang terjadi, hanya gara-gara direndahkan.

Kenapa manusia memiliki sifat dan kegemaran untuk men-judge seseorang. Dengan adanya judge-men-judge seolah ada pengakuan diri bahwa dirinya hebat dan tidak sebanding dengan orang lain. Padahal tidak ada yang demikian. Jelas-jelas dalam ajaran Islam yang mampu menjadikan diri kita berbeda dengan yang lainnya adalah karena ketaatan dan kepatuhan.

Ketaatan dan kepatuhan ukurannya adalah perilaku dan tindakan nyata serta disertai dengan amalan ibadah yang lainnya. Tidak peduli status kepemilikannya seperti apa, kondisi fisiknya bagaimana, ksesehariannya di mana dan dengan siapa. Indikatornya adalah melaksanakan perintah dari Allah atau tidak. 

Jiak kepemilikan yang dijadikan ukuran, jelas aturannya akan lain. Rendah dan tinggi itu hanyalah ukuran untuk sebuah benda mati, jangan digunakan untuk mengukur manusia. Sebab manusia itu makhluk yang fana, tidak kekal dan akan mengalami jatah kematian. Sejatinya kita sama, dan saling mengingatkan dalam kebaikan itu lebih utama. Khairunnas anfa'uhum linnas []

#sehari300kata 


Terik matahari siang ini begitu hangat. Aku sudah siap dengan pakaian batik, kopiah, dan sarung. Tak ketinggalan sandal jepit menjadi pelengkap kepergianku untuk menunaikan shalat jum’at. Sebagai muslim yang taat dan meyakini kewajibannya, maka shalat jum’at merupakan sebuah momen spesial. Bahkan, selalu saja ada ‘oleh-oleh’ yang bisa dibawa pulang dari masjid. Inilah kenapa aku selalu semangat jika berangkat untuk shalat jum’at.

Jujur ya, yang aku cari adalah khatibnya. Tetapi kebanyakan teman-teman itu lebih memilih masjid yang lebih cepat keluarnya. Aku juga dulu kepikiran seperti itu, tetapi cara berpikir seperti itu sudah aku buang jauh-jauh. Sebab yang ada rugi.

Bayangkan saja, ikut pengajian enggak pernah, kumpul di masjid mendengarkan ceramah enggak pernah. Kapan lagi menggunakan momentum yang baik ini untuk menuntut ilmu di masjid, minimal satu minggu sekali. Lumayan bukan? Ketimbang tidak sama sekali. Jadi, selama satu minggu dapat pencerahan atau nasihat tentang agama.
***

Nasihat untuk siang ini yaitu bagaimana kita memilih teman yang baik dan seharusnya mendekati teman yang shalih. Sebab teman yang baik dan shalih itu kekal, tidak hanya di dunia saja menjadi teman, tetapi kelak ketika di akhirat pun akan bersama-sama. Tetapi jika berteman yang tidak baik, hanya sebatas di dunia saja, di akhirat berpisah.

Memilih teman itu harus, selektif dalam memilih teman sangat dianjurkan. Terutama untuk teman-karib. Diusahakan yang memiliki ketaqwaan, sebab sahabat yang taqwa akan kekal dan tidak akan menjadi musuh. “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS: Az-Zukhruf Ayat: 67).

Firman Allah subhanallahu wa ta’ala, di atas menyampaikan pesan bahwa semua pertemanan dan persahabatan yang bukan karena Allah akan menjadi permusuhan pada hari Kiamat, kecuali persahabatan yang dilandasi niat karena Allah subhanallahu wa ta’ala, sebab persahabatan seperti itu akan kekal selamanya.

Kadang kita dekat dengan seseorang karena jabatannya, hartanya, karena bentuk fisiknya atau karena lainnya. Maka teman yang seperti itu hanya akan menjadi musuh di akhirat kelak. Sebab mereka menjadi teman karena ada embel-embelnya, ada daya tarik yang lain. Mencari teman yang baik parameternya adalah keshalihan dan ketaqwaan.

Jika didasarkan kepada keshalihan dan ketaqwaan, akan berimplikasi kepada siapa yang menajdi temannya. Temannya tukang minyak wangi akan kebagian wanginya, sedangkan orang yang berteman dengan tukang besi, bisa kebagian apinya atau malah mungkin terbakar juga. Jadi memilih dan mencari teman yang baik itu sangat dianjurkan.

Aku? Masih bisa dihitung dengan jari. Teman-teman yang kuanggap baik hanya beberapa, itupun tidak dan jarang berkomunikasi. Semoga dengan nasihat yang diberikan oleh khatib siang ini bisa kuaplikasikan dengan segera. Komunikasi yang sudah vakum bisa dibangun kembali. Harapannya semoga akan menjadi lebih baik. []

#Sehari300kata

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme