PONPES UII – Menginjak Ramadhan hari ke 20, panitia Bahana Syiar Ramadhan atau yang disingkat dengan BASYIRO 2013 mengadakan acara puncak sekaligus penutupan acara. Serangkaian acara tersebut dimulai pada pukul 17.00 yaitu dengan diawali khotmil Qur'an serta disusul dengan pengumuman pemenang pelombaan. Sabtu,27/07/13.

Setelah shalat tarawih di mushola PONPES UII - Yogyakarta, acara dilanjutkan dengan Nuzulul Quran. Penceramah yang mengisi acara tersebut ialah Ust. Aang Kunaepi, S.Ag., M.Ag. Dosen UII sekaligus dosen tetapi UNS. “berapa banyak orang yang membaca al-quran tatepi al-Qur’an melaknat mereka..” begitulah beliau membuka pengajian. Sebab karena kebanyakan manusia tidak membaca al-Qur’an dengan hatinya.

Banyak yang hafal dan lancar, tetapi apa yang mereka lakukan hanya diseputar otak saja, dalam hatinya kosong. Sehingga banyak yang ngerti dengan al-Qur’an tetapi perilaku seperti dajal. “ngerti hukumnya dan tahu ayatnya tetapi masih melakukan perbuatan tersebut..” ngerti ayat “laa taqrabu zinaa....” tetapi masih tetap saja melakukannya (pacaran).

Beliau juga berpesan untuk mengoptimalakan dalam mengolah tiga unsur dalam diri manusia. Diantaranya ialah : Hati, Akal dan Jasad.

Hati manusia ada tiga jenis, hati yang mati, sakit dan sehat. Hati yang mati ialah hati yang selalu membading-bandingkan dengan keburukan. Hati yang sakit selalu memiliki sikap iri, dengki, buruk sangka dan sinis terhadap orang lain. Hati yang paling baik ialah hati yang bersih, yaitu hati yang sehat. Hati yang sehat selalu besikap selalu membersihkan hatinya dari “kotoran”.

Unsur yang kedua ialah, akal. Akal manusia merupakan pembeda dari manusia dan hewan. Tetapi ada juga manusia yang lebih heina dari pada hewan. Seburuk-buruknya hewan, tidak pernah menyukai sesama jenisnya. Tetapi manusia, ada yang menyukai sesama jenisnya. Itulah merka orang sukses (suka sesama).

Unsur yang ketiga ialah, jasad.  Jasad merupakan anggota badan yang dengannya kita melakukan tindakan. Sebagaimana iman, tidak hanya ucapan dan membenarkan dalam hati semata, tapi harus disertai dengan tindakan seluruh anggota badan. Inilah arti iman yang sesunguhnya.

Ustadz asli kota Bandung ini menyampaikan pula tentang makna sholat. Baru-baru ini tersiar sholat tercepat di dunia. Shalat tarawih 23 rakaat selesai hanya dengan waktu 7 menit. Ini jelas salah, dan masyarakat yang demikian sangat awam. Menurut pandangannya. Sholat bejamaah yang dilama-lamakan juga kurang baik, sebab kita tidak tahu pekerjaan tiap ma’mum. Yang baik tu, sholat berjamaah bacaanya pendek, sdangkan sholat sendiri bacaanya boleh dipanjangkan. Ingat jangan dibalik.

Jangan beranggapan bahwa sholatnya lama berarti sholatnya khusyuk. Sholat yang khusuyuk bukan sholatnya lama, tetapi mampu mengaktualisasikan nilai-nila sholat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebab ada orang lama sholatnya karena ada calon mertua, ingin dilihat dan lain sebagainya.

Sebelum menutup tuasiahnya, ustadz yang lebih populer dengan sebutan Mr. Ank (baca: mister eng) menyampaikan tiga tipe orang berdoa. Pertama orang berdoa mengadukan tuhannya kepada makhluknya. Kedua, orang yang berdoa mengadukan makhluknya kepada tuhannya (mengutuk). Ketiga, mengadukan dirinya kepada tuhannya. Sebaik-baiknya berdoa ialah dengan cara yang ketiga. (/zah)

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah [02] : 185)

Alhamdulilah pada kesempatan tahun ini kita diberikan kesempatan untuk menjalani ibadah puasa ramadhan. Tak bisa kita lupakan, salah satu kenangan yang begitu besar dalam sejarah negri ini yiatu kemenangan yang dinanti oleh seluruh rakyat indonesia (merdeka) didapatkan pada saat bulan ramadhan pula. Begitu bahagia kala itu bisa lepas dari penjajah yang ratusan tahun menjajah negri tercinta ini.

Jika kita menengok ke belakang, ternyata bulan ramadhan memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari negri kita ini, bahkan bulan ramadhan telah memberikan semangat dan kekuatan yang begitu besar bagi rakyat Indonesia. Meski jumlah pahlawan yang terbatas dan bersenjatakan bambu runcing, ternyata mampu mengusir penjajah dari negri ini.

Inilah salah satu kebesaran Allah swt yang telah menunjukan kebesarannya. Sebagai generasi bangsa, inilah yang harus kita ingat dan renungkan, tanpa campurtangan Allah semua ini tak akan pernah berhasil, bahkan bisa dikatakan mustahil. Tetapi ditangan Allah tak ada yang mustahil, meski bambu melawan peluru tak sulit bagi rabbku untuk memusnahkan musuh-musuhku.

Tak hanya itu, tentu keberhasilan kemerdekaan itu juga ditopang dengan kebersatuan, kebersamaan serta kekokohan diantara pejuang negri ini. Dengan menjunjung tinggi prinsip ini, mereka mengesampingkan ras dan golongan. Tujuan mereka satu, yaitu memperjuangkan kemerdekaan negri ini dengan tumpah darah mereka, tanpa tawar-menawar lagi.

Seandainya para pejuang itu masih hidup hingga saat ini tentu akan menangis, miris dan selalu bersedih. Bhineka tunggal ika hanya tinggal nama, tetapi faktanya kini sudah tak ada. Belum lagi dalam ajaran agama islam yang dianut oleh sebagian besar rakyat indonesia seolah lupa akan ajaran tuhannya. Padahal, sudah tertulis jelas dalam al-Quran : "Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai." (QS. Ali Imron [03] 103.)

Saat ini kita terjebak dalam ranah perbedaan pendapat yang akhirnya tidak menemukan titik temu. Fanatisme muncul dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling baik dan paling benar. Salah satu contoh ialah terkait penentuan kapan mulai dan akhir puasa, yang sering menjadi pembicaraan hangat diawal bulan ramadhan setiap tahun.

Jika meminjam istilah yang digunakan oleh Dr. Malik Madani, M.A., dalam pola keberagamaan kita hanya difokuskan pada pembetukan dan pembinaan sholih al-ibadah (keshalilahan dalam ibadah, keshalihan ritual). Kita hanya mengukir-ukir dan membagus-baguskan sholat saja, sehingga berujung pada perdebatan yang berlarut-larut hingga sampai sesat-menyesatkan.

Inilah kesalahan  yang terjadi, kebanyakan yang dituju dan yang dicari hanya shalih dalam ibadah saja (tata cara sholat). Padahal jika kita renungkan, dalam ajaran Rasulullah saw, tujuan akhirnya adalah untuk shalih al-akhlaq (keshalihan akhlaq). Agama itu datang untuk membetuk moral melalui ibadah, mislanya melalui sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Sehinga, jika sholatnya baik sudah pasti yang lainnya mengikuti.

Mensikapi Perbedaan

“Ya Allah, lunakkanlah hati kami sehingga kami bisa berlapang dada menghargai adanya perbedaan faham dan keyakinan, tanpa harus menghujat bahkan menyakiti hati orang lain yang tidak sefaham dengan kami, Aaamiiin.” Tulisan ini saya dapatkan dari jejaring sosial milik Dr. Junanah, MIS.

Kedewasaan dalam perbedaan itu sangat perlu, sikap ini telah ditunjukan oleh beliau sehingga kita harus menirunya. Semua memiliki argumentasi, dan semua memiliki pilihan untuk memilih yang sesuai dengan diri kita masing-masing. Tidak perlu saling menghujat atau malah lebih dari itu. Oleh karenanya mari kita renungkan bersama kaliamt ini, “Kalian ber-Tuhan satu, bernabi satu, berkitab satu, berkeyaknan satu, tapi kenapa dalam berkehidupan kalian bercerai-berai...?”

Alternatif yang kedua, ketika mensikapi perbedaan ini bisa dengan cara yang lain. Misalnya seperti Gus Nuil dalam sebuah tulisannya. “Kita ini memang bangsa bawel yang kurang proporsional, hanya gara-gara menentukan puasa ributnya setengah mati. Padahal setelah ditentukan harinya mereka juga kadang jarang berpuasa dan menggunakan alasan macam-macam untuk tidak berpuasa.

Sebenarnya puasa itu ada dalilnya; Shumu li ru'yati wa aftiru li ru'yati," berpuasalah kamu setelah melihat bulan dan ber-idul fitri-lah kamu dengan melihat bulan. Nah kalau dengan mata telajang tidak kelihatan maka genapkan sebulan penuh. Sederhana bukan? Jadi, mau berpuasa tanggal 9 sialahkan,  mau puasa tanggal 10 juga silahkan. Tidak puasa pun tidak masalah, wong perintah puasa itu untuk orang yang beriman, bukan untuk yang baru berkelas Islam syahadat tho...”

Puasa dan Mu’min
Ayat tentang puasa (Al-Baqarah  [02] : 183) dimulai dengan menyeru kepada orang-orang yang beriman (yâ ayyuha al-ladzîna âmanû...) dan tidak untuk yang lainnya. Jelas bahwa apa yang disampaikan oleh Gus Nuril, bahwa hanya orang-orang yang berimanlah yang mendapatkan perintah puasa, bukan kepada orang islam yang berkelas syahadat. Kedua kelas ini jelas sangat jauh berbeda.

Dalam agama islam, ada dua rukun yang wajib kita jalani. Rukun islam (arkanu al-islam) dan rukun iman (arkanu al-iman). Kedua rukun ini kita laksanakan secara berbarengan, rukun islam dikerjakan dalam bentuk dzohir (tampak). Misalnya syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan rukun iman yaitu mempercai hal-hal yang gaib (tidak tampak), Allah, Malaikat, Kitab (wahyu), Rasul (utusan Allah), Hari Qiyamat dan Qada-qadar.

Jika kita urutkan tingkatannya, islam (muslim) itu yang pertama, kedua ialah iman (mu’min) dan yang terakhir ialah ihsan (muhsin). Jadi, kedudukan iman itu lebih tinggi daripada islam. Iman itu artinya percaya. Orang yang beriman percaya kepada Allah dengan sepenuhnya, dan tidak setengah-setengah.

Iman itu tidak hanya dalam ucapan belaka, atau pun hati saja, tetapi iman itu dimplementasikan dengan tiga unsur tadi. “al-qoulu bi al-lisan, wa al-tasdiqu bi al-jinan wa al-‘amalu bi al-arkan” artinya : Diucapkan dengan lisan, dibenarkan dalam hati dan dikerjakan dengan segenap anggota badan. Sehingga ucapan, hati dan tindakannya semuanya sudah didasarkan kepada Allah swt dan akhirnya melekat dalam dirinya dan menjadi sebuah sifat.

Inilah iman yang sesungguhnya. Tidak banyak orang yang mampu menggabungkan ketiganya, kadang baru sekedar tahu, tapi dalam hati belum bisa menerima. Bahkan ada juga yang sudah mantap dilidah, sudah diyakini dengan hati, tetapi belum mampu dalam tindakan. Artinya belum bisa sepenuhnya menjaga diri dari keburukan, maksiat, dan dosa-dosa kecil yang lainnya.

Jika sudah demikian, dimanakah level iman kita saat ini? Sudah sampai tahap mana? Apakah baru sekedar lidah, atau hati? Atu malah baru kelas syahadat. Kita renungkan kembali kualitas keimanan dalam diri masing-masing. Sebab keimanan seseorang menentukan kualitas ibadahnya.

Ikhhtitâm
Kedewasaan dalam mensikapi awal dan akhir ramadhan perlu dibudayakan. Sebab hal ini hanya ranah khilafiyah, tidak perlu diperdebatkan lagi. Semuanya sudah memiliki dasar yang jelas, tidak perlu mencari siapa yang paling benar ataupun sebaliknya. Sebetulnya yang salah adalah yang tidak menjalankan puasa.

Orang yang mengaku beriman, tetapi tidak berpuasa (tanpa sebab udzur), dipertanyakan keimanannya. Boleh jadi, keislamannya baru sampai kelas syahadat. Berarti ia belum beriman, orang islam (muslim) belum tentu beriman (mu’min), tetapi orang yang beriman (sesuai dengan arkanu al-iman) sudah pasti islam.

Ramadhan merupakan bulan yang paling ampuh dan tepat untuk menyucikan diri (tazkiyah an-nafs). Dengan berpuasa kita dituntut untuk menjaga diri dari sifat-sifat hewani dan mengumbar nafsu. Sebab dengan berpuasa semua sifat-sifat ini dapat dikendalikan dan diminimalisir. Pada bulan Ramadhan ini juga dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak kebaikan (amal shalih). Selain pahalanya dilipatgandakan, ternyata hal tersebut merupakan sebagai alat terapi, supaya terbiasa melakukan hal-hal yang baik akhirnya akan melahirkan pribadi yang baik pula.

Oleh karenanya, maka kebaikan itu seharusnya terus dijaga supaya terus istiqamah, meskipun ramadhan sudah lewat. Salah satu tolak ukur, untuk mengukur ramadhan itu berbekas atau tidak, cukup dengan melihat before dan after-nya saja. Apakah ada perubahan sebelum dan setelah ramadhan? Disinilah akan terlihat jelas dampaknya. Allahu’alam []

Amir Hamzah
Santri PONPES UII
Alhamdulilah, puasa pada tahun ini terasa penuh makna. Puasa yang Allah wajibkan atas orang-orang sebelum kita seperti dalam  surat Al-Baqarah :183. Tujuannya ialah untuk memberikan pelajaran dan bagaimana mengendalikan nafsu bukan membunuhnya.

Itulah kenapa setiap umat-umat terdahulu Allah wajibkan mereka berpuasa meskipun caranya berbeda-beda. Bahkan dalam ajaran agama lain (khususnya di Indonesia), itu ada yang namanya puasa.

Boleh jadi tujuan mereka puasa juga sama dengan puasa yang kita lakukan saat ini. Hanya saja, kita memiliki keyakinan bahwa yang akan menggatinya langsung adalah Allah SWT. Sebagaimana dalam hadits qudsi "Puasa itu untuk Ku dan Aku yang akan membalasnya.." Sedangkan mereka (nonmuslim) berharap dengan balasan dari tuhan mereka sendiri pula.

Berbicara tentang puasa, saya sendiri sudah melewati sepuluh hari pertama. Rasulullah membagi bulan ramadhan dengan tiga bagian. Sepuluh hari pertama ialah rahmat, kedua maghfirah dan yang ke tiga ialah dijauhkan dari api neraka. Kalau saya menoleh kembali ke belakang, tepatnya pada awal ramadhan, banyak sekali perbedaan yang terasa ketika puasa hari pertama dengan pertengahan bulan ini.

Di manakah letak perbedaan tersebut?. Puasa di hari pertama terasa berat, tetapi memasuki pertengahan bulan, seolah sudah tidak terasa berat. Tadarus, sedekah dan amalan-amalan yang lain pun sangat bersemangat dilakukan ketika masih awal-awal puasa, tetapi jauh berbeda ketika puasa ini menginjak pertengahan bulan, semangat itu mulai luntur dan seolah hilang entah kemana. Kenapa bisa demikian?

Ketika semangat itu menurun dalam diri ini, berarti secara tidak langgsung saya tidak mendapatkan apa yang Rasulullah sabdakan "awwaluhu rahmah.." Saya merasa telah kehilangan kesempatan ini, diawal bulan ramadhan..

Saya sadar, apa yang harus saya lakukan. Saya harus memohon ampunan, cepat-cepat bertaubat kepada Allah dan mendekatkan diri kepadaNya. Semoga dengan taubat itu saya bisa diampni oleh Allah SWT.. biarlah saya kehilangan rahmatNya, tetapi saya tidak boleh kehilangan MaghfirahNya.

Saya yakin, ketika semuanya sudah benar, istiqamah, dan semata mengharap ridha Allah, maka sudah pasti akan dimasukkan kedalam syurgaNya. Pastinya tentu akan dijauhkan dari api neraka. Untuk itu marilah kita tetap jaga semangat, jaga niat, dan  terus istiqamah dalam menjalani ibdah di bulan ramadhan ini, semoga dapat menjalaninya dengan penuh kekhusyukan.

Semoga kesalahan yang saya lakukan ini tidak terulangi lagi, dan dengan niat yang sungguh-sungguh untuk kembali semangat dan memperbaiki diri lagi. Semangat tadarus, semangat beramal kebaikan, dan rajin tarawih, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat melalaikan diri. Tujuan saya hanya satu, yaitu ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi saya, bulan ramadhan kali ini merupakan bulan kejujuran. Jujur dalam artian bahwa sebetulnya diri ini lebih condong ke arah yang mana, kebaikan atau keburukanlah yang lebih dominan. Jik kebaikan lebih dominan berati baik, tetapi sebaliknya maka berusaha lah supaya menjadi lebih baik.

Seperti kisah saya di atas, yang mengalami penyusutan semangat. Perlahan saya ditunjukkan bahwa diri saya yang sesunggunya ialah seperti ini. Lebih condong ke arah keburukan dan senang dengannya. Au’dzubillah min dzalik.[]
Sebentar lagi kakek pensiun. Itulah kabar yang aku terima dari nenek. Sedikitpun kakek tidak merasa ada yang berbeda baginya, setelah pensiun nanti. Pasalnya kakek memiliki segudang pekerjaan yang bisa ia kerjakan disela-sela pensiunnya. Meski pensiun dari pekerjaan kantornya, pekerjaan yang lain masih banyak untuk menantinya.

Kata kakek “gak ada istilah pensiun sebetulnya… ungkapan itu hanya sebagai salah satu kebijakan dari setiap perusahaan atau lembaga saja“. Kalau kita kembalikan kepada agama kita (islam) sebetulnya perpindahan aktivitas dari satu ke aktivitas yang lain itu dimaknai dengan istirahat. Nah, ketika kakek pensiun, berarti secara tidak langsung  sedang istirahat saja. Ungkap kakek datar.

Kakek pernah berkata, jika masa pensiunan kakek saat ini sudah ia fikirkan jauh sebelum kakek memiliki pekerjaan. Kakek sudah mempersiapkan semuanya secara matang, yang ada dalam pikiran kakek bukan harta benda, tetapi anak. Kakek bangga dan puas, karena anak-anaknya sudah bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Bagi kakek, hadiah yang terbesar pada masa pensiunan hanyalah itu.

Kakek tidak memperdulikan harta, jabatan ataupun apapun. Dari anak-anak kecil kakek tidak pernah mempermasalahkan tentang keduniaan. Bagi kakek menjadi manusia yang dapat bermanfaat bagi orang lain itu lebih mulia ketimbang yang lainnya. Pesan kakek buat kami sebagai cucu-cucunya “jadilah orang baik, jadilah orang yang berilmu, jadilah orang yang ikhlas, sebab dunia itu akan mengikuti kalian….“

Inilah masa kebahagiaan kakek yang merasa bangga dengan hasil jeripayahnya semasa hidupnya. Masa pensiunan ini akan kakek isi dengan aktivitas yang lainnya. Sebab kakek orangnya tidak bisa diam, selalu saja ada hal yang bisa ia lakukan. Yang seing kakek lakukan saat ini merawat kebun yang ada di belakang rumahnya.  semoga bermanfaat []

Anak merupakan aset yang paling berharga dalam keluarga. Sebuah keluarga tidak lengkap bila tidak ada yang namanya buah hati (anak). Rasanya sunyi, sepi, dan entahlah apa namanya karena saya belum menikah dan berkeluarga. Yang jelas terasa ada yang kurang dengan hidup ini, meski semuanya serba cukup tetapi apalah gunanya jika tidak memiliki aset berharga yang satu ini.

Seorang anak merupakan penerus keturunan sebuah keluarga, dan ini berjalan tak pernah berhenti hingga seterusnya. Terus bertambah dan bertambah hingga menjadi sekelompok orang, dari satu daerah ke daerah lain, berupalu-pulau, bersuku-suku dan akhirnya berbangsa-bangsa. Hal ini disebabkan karena manusia terus berkembang biak.

Dalam agama Islam, anak merupakan sebuah amanat yang diberikan oleh Allah swt kepada orangtua (ibu dan bapak). Kelak amanat itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah dihari kiamat. Untuk itu mengajarkan agama dan membimbing anak ke jalan yang benar merupakan tugas dari orangtua. Dan begitu seterusnya, karena yang saat ini menjadi anak, kelak akan menjadi orangtua.

Dalam sebuah kisah, diceritakan ada orangtua yang ibadahnya baik, sholatnya tepat waktu, sedekah, suka menolong dan lain sebagainya. Ketika di akhirat, orangtua tersebut divonis masuk surga. Tetapi sebelum masuk syurga ada seorang pemuda yang meminta keadilan. Pemuda itu ternyata putra dari orangtua tersebut. Pemuda itu berkata "mereka memang ahli ibadah, suka menolong, sedekah dan lainnya, tetapi mereka tidak pernah mengajarkan saya shalat, puasa, dan membiarkan saya mabuk-mabukan, maksiat dsb".

Jika saya masuk neraka, maka mereka juga harus bertanggungjawab. Akhirnya orangtua tersebutpun masuk neraka bersama anaknya. Cerita ini menggambarkan dan mengajarkan kepada kita bahwa mendidik dan mengajarkan anak merupakan kewajiban orangtua. Sebab bagimanapun semuanya adalah amanat dariNya.

Al-Qur’an mengatakan bahwa anak/keturunan dan harta adala fitnah "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28). Maksunya ialah dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar.

Fitnah di sini juga berarti bisa menyibukkan atau memalingkan seseorang dan menjadi penghalang baginya dari mengingat dan mengerjakan amal kepada Allah swt, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik, sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah swt uji pada harta dan anak bagi manusia.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SWA juga menyebut keduanya sebagai pembuat pengecut dan kekikiran bagi manusia. Sebagaimana dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah SWT".

Empat Metode

Oleh karenanya, mari lah kita mempersiapkan generasi (anak) yang berkualitas serta memiliki pengetahuan dan kefahaman yang baik dalam agama. Adapun cara yang dapat dilakukan antara lain : a) Mengajarkan konsep Luqman. b) Mengajarkan keteladanan. c) Mengajarkan kejujuran dan d) Belajar keikhlasan.
Empat hal inilah yang hilang dari generasi anak masa depan. Kalau kita berkaca kepada kisah Lukman, bagaimana ia mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana mengenal tuhan dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dalam segala hal, yakinilah bahwa Allah membersamai langkah dan tindakan yang kita lakukan.

Miskin keteladanan, ya kata itu sangat tepat untuk diungkapkan. Pasalnya tak ada lagi yang dapat dijadikan sebagai seorang uswah (teladan) yang hidup, bagi generasi saat ini. Semuanya memiliki "track record" yang buruk. Hanya Rasulullahlah satu-satunya orang yang dapat dijadikan uswah, karena tindak dan tanduk beliau bagitu indah.

Kedua yang patut dijadikan teladan adalah orangtua kita sendiri. Tetapi kebanyakan orangtua tidak mampu menjadi sosok yang dapat dijadikan sebagai uswah oleh anaknya. Berarti di sini lah tantangannya bagi para calon orangtua, bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi contoh yang baik dan panutan bagi anak-anaknya kelak. Yuk kita siapkan sedini mungkin, bagaimana sudah siapkah Anda?

Kejujuran merupakan harga mati, dan hanya segelintir orang saja yang mampu melakukannya. Begitu banyak orang yang mampu melakukan kesalahan, tetapi hanya sedikit saja yang mau mengakui kesalahannya. Jujur terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan yang terpenting adalah jujur terhadap Allah SWT. Berapa banyak yang dapat melakukannya??

Hidup merupakan perjalanan sementara, dan sebagai alat perantara untuk mencapai ke sebuah titik yang disebut dengan akhirat. Semua yang dilakukan, amalan ibadah dan lain-lain bermuara pada satu kata, yaitu kata ikhlas. Semua perbuatan yang tanpa didasari dengan keikhlasan semuanya hampa, kosong dan tak akan memiliki nilai. Itulah sebabnya allah melarang manusia untuk menjauhi sikap riya (syirik kecil).

Terlebih ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan maka ikhlaslah yang tepat untuk diungkapkan. Sedikit ataupun banyak, besar dan kecil semuanya harus diikhlaskan. Sebab manusia tidak akan pernah tahu rencana yang Allah persiapkan untuk dirinya. Apapun itu, pada dasarnya baik bagi diri kita. Yang terpenting, ketika ditimpa musibah bersabar dan ketika mendapat nikmat bersyukur. Lebih dahsyat lagi ketika mendapatkan musiabah ia tetap mengucapkan syukur. Allahu’alam.

____________
* tulsian ini diterbitkan oleh okezone.com di kolom Opini (KLIK DISINI)
Tulisan ini sebagai refleksi Hari Anak Nasional yang diperingati Tgl. 23 Juli

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme