Ada yang tahu bagaimana perkembangan si artis dadakan Norman Kamaru?? Gaungnya sudah tidak terdengar lagi saat ini. Norman yang kala itu tenar gara-gara rekaman youtube dengan lagu caya-cayanya seolah menyirih seluruh masyarakat. Kini semuanya telah hilang bagai ditelan bumi. Norman Kamaru seperti sudah almarhum…. Demikian kata sahabat saya.

Segala sesuatu yang baru dan booming dengan tiba-tiba, maka akan cepat hilang dan dilupakan oleh orang lain dengan secepat itu pula. Tetapi sesuatu yang dimulai dengan cara bertahap, justru akan lebih berkesan dan menyimpan kenangan yang begitu kuat dalam ingatan. Lagu - lagu yang tahun 70-an kini tetap dikenang, bahkan terasa “nikmat” di telinga.

Hal seperti inilah yang seharusnya dijadikan pegangan oleh setiap orang dalam bertindak. Ketika tawaran yang baru, dan datang  menghampiri hendaknya bisa selektif dalam menentuka pilihan. Tidak serta merta melupakan apa yang sudah sejak lama kita impikan dan diida-idamkan. Salh satu contoh yang bisa diambil pelajaran adalah Norman Kamaru. Bagaimana ia meninggalkan dunia TNI dan memilih untuk menjadi seorang artis. Nyatanya, hingga saat ini ke-artis-an Norman tidak lagi terdengar.

Tawaran yang datang tiba-tiba memang menggiurkan. Tapi jika salah mengambil keputusan maka semuanya akan hilang. Saya yakin Norman merasa menyesal, dulu ia mengambil keputusan yang tidak tepat. Padahal dengan mengabdi di Negara semuanya akan berbuah manis untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan Jadi artis hanya saat itu saja. besoknya lagi tidak dipakai. Mungkin inilah kenapa alasan artis-artis senior kemudian “menceburkan diri” menjadi wakil rakyat.

Artis yang sudah berpengalaman ia sadar betul dengan yang ia jalani, dunia yang ia jalani hanya sebentar.  Setelah naik daun tentu akan redup kembali dan hingga akhirnya kembali ke asal. Sudah banyak artis-artis yang sudah tua kemudian memilih menjadi orang biasa, dan menikmati hasil jerihpayahnya. Ada juga artis yang terkena sakit ganas, kemudian semua hartanya habis digunakan untuk berobat dan kembali menjadi orang biasa.

semoga bermanfaat..


Orang yang pertama datang ke mesjid untuk sholat jumat, maka ia diibaratkan sedekah satu ekor sapi. Orang yang datang kedua, diistilahkan dengan sedekah dengan seekor kambing. Orang yang ketiga diibaratkan sedekah dengan seekor ayam. Oang yang ke empat diibaratkan berkurban dengan sebutir telur… kita sering dibarisan yang mana nich?? pertama, kedua, ketiga, keempat atau malah yang terakhir…??

Hadits Rasulullah di atas merupakan sebuah motivasi bagi kita untuk berlomba-lomba datang ke mesjid lebih awal. Jika kita tiba di mesjid untuk sholat jumat ketika khutbah sudah dimulai, apakah pahala jumat itu masih kita dapatkan? diibaratkan bersedekah apakah orang yang datangnya terakhir, bakteri mungkin.

Yuk kita datang ke mesjid lebih awal, disana kita bisa memperbanyak dzikir, tasbih dan tahmid. Bahkan kita bisa “bersuka ria” dengan kalimat-kalimat toyyibah. Membasahi mulut kita dengan kalimat illahiyah, dengan demikian mulut yang kita gunakan untuk berkata kotor dan bohong diberikan kesempatan untuk memuji tuhannya.

Jangan karena kita jadi khotib terus datangnya duluan. Tetapi giliran jadi makmum datangnya paling akhir dan sengaja duduk di shaf paling akhir.

Apa yang kita cari?
Penulis setuju dengan pendapat bahwa khutbah itu tidak mesti harus menggunakan bahasa arab secara keseluruhan. Bahasa arab itu hanya dibaca ketika bagian yang menajdi rukun khutbah, tetapi pendukung atau isi dari apa yang disampaikan boleh menggunakan bahasa masing-masing. Pendapat penulis, dengan menggunkan bahasa daerah setempat justru ada sebuah pesan atau ajakan yang bisa disampaiakan kepada jama’ah sekalian.

Oleh karenanya, ketika jama;ah pulang ke rumah, ada sebuah ilmu yang didapatkan dari mesjid. Secara otomatis setiap minggu jama’ah mendapatkan pencerahan dan belajar. Bagi yang tidak sempat ikut pengajian mingguan, ini juga bisa menjadi solusi. Bayangkan jika khutbah hanya menggunakan bahasa arab dari awal hingga akhir, lalu apa yang didapatkan dari khutbah tersebut? bertahun-tahun seperti itu, tidak ada kemajuan sama sekali.

Penulis ketika tiba waktu shalat jum’at, yang penulis cari adalah mesjid dimana ada khotibnya yang bagus. Dengan demikian, setiap minggu penulis mendapatkan penecerahan dan ilmu yang baru dari berbagai khotib. Bahkan biasanya apa yang khatib sampaiakan ketika berkhutbah, penulis mencoba tulis ulang ketka sudah tiba di kamar. Hingga terciptalah sebuah tulisan yang dipadukan dari khatib dengan pemikiran penulis. allahu’alam []

Semoga bermanfaat..


Akhir-akhir ini banyak iklan-iklan yang menganggu. Bahkan menurut penulis pribadi iklan itu tidak layak ada. Entah hanya karena ingin diKlik dan akhirnya mendapatkan keuntungan bagi si pembuat iklan tersebut atau malah bagi penyedia layanan tersebut. Secara pribadi penulis mengecam perbuatan yang demikian, itu adalah cara haram. Jika si pembuat iklan itu berpikir, jelaslah bahwa yang ia lakukan adalah mengotori dirinya sendiri dan mengotori orang lain.

Supaya iklan itu menarik orang untuk me-Kliknnya maka cara apapun digunakan, termasuk dengan gambar wanita telanjang. Jelas ini perbuatan salah. Amat disayangkan, sekelas kompasiana pun berani dan memasangnya. Apa tujuannya kompasiana memasang iklan tersebut?? jelas ini melanggar dan mengotori citra kompasiana itu sendiri.

Tak hanya satu tempat saja, tetapi ada beberapa tempat, di bagian atas dan di bagian samping. Jelas ini mengganggu menurut penulis. Bagi pengunjung yang lain tentu demikian (sehati bagi yang memiliki hati). Media yang dianggap sebagai agaen perubahan malah “menjerumuskan” inilah yang salah.

Oleh karenanya, marilah beriklan secara baik dan benar. Jika ingin mencari keuntungan dengan cara beriklan, maka gunakanlah cara yang baik, sehingga akan membawa dampak kebaikan. Ketika kita sudah mati, kelak akan diperatngungjawabkan, dengan cara apa harta itu kita dapatkan dam kemana kita belanjakan??

Semoga bermanfaat… penulis hanya sekedar menyampaikan dan saling mengingatkan dalam kebaikan….


Media belajar itu tak hanya harus dari buku-buku saja. Belajar itu sangat luas maknanya. Ketika kita jalan-jalan pun bisa saja itu bermakna belajar. Lebih tepatnya belajar menggunakan hidup yang lebih baik, dengan jala-jalan pikiran yang sumpek akan terasa ringan dan seolah seperti istirahat. Tak hanya itu, ketika jalan-jalan banyak hal yang kita jumpai disana dan itu bisa menjadi alat atau media untuk belajar juga.

Kemarin (26/05) tanpa disengaja saya menjumpai teman yang sedang asyik nonton film. Ketika itu saya pun ikut menyaksikan film tersebut, tetapi hanya beberapa menit saja. Dirasa film itu menarik dan mengundang "emosi" untuk ditonton, maka saya pun berjanji pada sang teman untuk meminta filenya paska urusan saya selesai.

Usai sholat Isya saya pun mendatangi kamarnya dan meminta file film tersebut. Malam itu pula saya menontonnya sendirian, saya pun terbawa emosi dan mulai tertarik dengan film tersebut. Film yang berdurasi 20 episode itu saya selesaikan dalam waktu dua hari. Lumayan menguras emosi dan banyak hal yang saya dapatkan dari film tersebut. Terutama tentang pelajaran bagaimana menjalani hidup ini.

Meskipun hanya sebuah film, nilai-nilai yang saya tangkap justru lebih besar. Ada berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar pelajaran yang bisa diambil dari kisah yang fiktif tersebut. Kelak makna itu akan kita rasakan dan kita temukan ketika sudah menjalani hidup yang sesungguhnya. Kelak khidupan kita seperti apa dan bagaimana maka jalani saja... Intinya, terus belajar untuk jadi lebih baik dan jangan pernah merasa putus asa.

"Pengorbanan.." mungkin kata itu sangat cocok untuk menggambarkan film ini. Makna film itu bermuara pada satu titik di mana pengorbanan itulah kata kuncinya. Pengorbanan yang begitu besar, bahkan lebih berharga daripada nyawa sendiri.. Secara rasional, nyawa itu hanya kita miliki sekali dalam seumur hidup, tetapi pengorbanan itulah yang akhirnya menjadikan dirinya hidup untuk yang kedua kalinya.

Pernahkan kita berkorban untuk orang lain? berapa besar pengorbanan itu? apa yang kita rasakan jika pengorbanan tersebut tidak dihargai bahkan seolah tidak pernah dianggap? jika sudah demikian, apakah kita mau berkorban yang kedua, ketiga dan seterusnya? atau malah berhenti sampai disitu?.... Pengorbanan tanpa batas itulah yang saya temukan dalam film ini.

Tak perduli berapa kalikah pengorbanan itu, tak mesti ia tahu pengorbanan yang sudah dilakukan. Teruslah berkorban dan berkorban...

Kang Ma Roo itulah nama laki-laki yang berkorban demi seorang perempuan pujaanya. Ia rela menghancurkan masa depannya sendiri demi orang lain. Tetapi setelah ia keluar dari penjara, justru perempuan yang selama ini diidamkannya malah berpaling ke lelaki lain. Lelaki itu pemilik perusahaan besar.

Di sinilah ia merasa pengorbanannya selama ini tidak pernah ada. Apa yang ia lakukan selama ini ternyata hanya permainan. Ia telah dimanfaatkan oleh perempuan itu. Kini ia bersiap untuk membalas dendam dan menyadarkan Si Perempuan jalang itu.

Korban film korea, tadinya
mau cari film yang lain.

Pukul 07.00 pagi suara motor khas Pak Gino sudah terdengar. Sontak saya pun yang berada di kamar lantai dua, langsung berdiri dan mengejar ke arah datangnya suara motor tersebut. Di balkon atau teras [depan asrama] itulah biasa Pak Gino memarkirkan motor tahun 70 an. Dengan tablug (bakul khusus di belakang motor) khas warna hijau dikedua sisinya, yaitu untuk mengangkut dagangan yang Pak Gino bawa.

Tak tahu kapan mulainya Pak Gino sudah jualan seperti ini di asrama kami. Yang jelas kami sudha hafal betul dengan manu Pak Gino, kalau pagi hari kadang nasi goreng, opor, dan soto. Kalau sore hari atau menjelang malam hari yaitu nasi putih biasa beserta sayur, ikan, sate, telur dan ayam. Ada satu khas yang tidak bisa lepas dari Pak Gino, yaitu gorengan dan minuman tehnya.

Pagi ini, Pak Gino membawa opor khasnya. Beberapa teman pun datang menghampiri dan berkumpul disekeliling pak gino, siapa cepat dia dapat duluan, meskipun datangnya terakhir. Meski demikian, tetapi bila ada yang lebih duluan dan lebih senior, maka yang merasa junior tetap mempersilakan seniornya terlebih dahulu. Tapi ya tergantung orangnya juga, kadang ada yang ngerti kadang ada juga yang belum ngerti.. biasalah kehidupan namanya juga.

Telat sedikit bisa berabe, pasalnya pak gino hanya membawa beberapa mangkuk saja. Jadi ya kalau ingin mencicipinya harus dulu-duluan. Gak hanya itu, alasan malas keluarlah salah satunya. Sehingga banyak memilih Pak Gino sebagai solusi pengganjal perut yang lapar sementara.

Apapun makanannya minumnya ya teh Pak Gino.... slogan ini mungkin cocok buat Pak Gino. Rasa tehnya yang khas, dan manisnya yang pas, sehingga menurut saya teh Pak Gino lah yang terlezat saat ini. Saya pernah membandingkan rasa teh yang ada di angkringan dan burjo di sekitar atau di tempat yang saya kunjungi, tetapi rasanya tetap kalah jauh dengan rasa teh nya Pak Gino.

Ketika saya tanya langsung pada Pak Gino : Pak tehnya kok enak banget, pake merek apa emang pak?? Dengan gaya bicara yang khas, beliau menjawab :  Kami (maksudnya saya) hanya pake teh merk cap tang Mas.. di warung-warung juga banyak yang jual kok Mas.... mohon maaf, Mas nya mau buat juga atau gimana?......  Demikian potongan dialog kami waktu itu.

Terbukti sudah, meski dengan olahan sederhana, di tangan Pak Gino teh yang biasa itu begitu nikmat dan lezat bagi kami, khususnya saya pribadi.

Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme