Suatu sore, Herman sedang berselancar di dunia maya. Tiba-tiba HP (hand phone) nya bergetar, menandakan ada sebuah pesan untuknya. Ternyata Rudi, yang mengirimkan SMS (Short Message Sending) tersebut. Intinya, SMS itu adalah meminta tolong kepada Herman  untuk menyadarkan salah satu teman mereka yang sedang putus asa. Awalnya Herman merasa tidak yakin dapat membantu, ia sadar betul bahwa dirinya bukanlah orang yang pandai dalam banyak hal. Herman menyadari bahwa dirinya hanyalah orang biasa, seperti teman Rudi yang lainnya. Ketika sekolah dulu, tidak pernah masuk ke rangking sepuluh besar.

Akhirnya, dengan bermodalkan niat tulus dan ikhlas Herman pun mencoba sebisa mungkin untuk memenuhi permintaan dari temannya itu. Rudi sangat senang dengan sikap Herman. Rudi tahu bahwa Herman pasti akan selalu membantunya, apalagi ketika dimintai bantuan oleh teman akrabnya sendiri. Itulah kelebihan Herman, sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh teman-teman yang lain. Begitulah sosok Herman di mata sang teman.

Dara, begitulah ia disapa oleh teman-teman seusianya. Gadis yang memiliki nama lengkap Dara Khoirunnisa, begitu ceria dan aktif di kegiatan kampus. Namun karena ia sakit-sakitan dan sakitnya tak kunjung sembuh ia menjadi putus asa. Ia sering mengeluh, bahkan ia sempat mengatakan ingin mengakhiri hidupnya. Alasannya, karena Dara  sudah capek, sudah tidak kuat harus seperti ini terus-terusan dengan penyakit yang dideritanya.

Herman sebisa mungkin menyadarkan Dara. Herman merasa bingung dengan peristiwa yang dialami Dara. Ia tidak belajar ilmu seperti ini ketika kuliah. Di kampus tempat ia belajar tak ada rumus atau jurus seperti ini yang diajarkan oleh dosennya. Namun, Herman teringat pesan Ustadz Rahmat ketika mengikuti pengajian mingguan, di mesjid Al-Falah. Begitu detail Ustadz  Rahmat menjelaskannya, bahasanya juga sangat lembut dan lugas. Herman ingat betul Ustadz Rahmat sedang membahas QS. Al-Baqarah [02] : 286

Artinya : Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."

Dengan pengetahuan yang dimilikinya, Herman berusaha dengan maksimal untuk  meyakinkan Dara. Awalnya ia merasa tidak yakin dengan apa yang ia lakukan. Tetapi atas izin Allâh swt Alhamdulilâh ternyata Dara mau menerima nasihat darinya. Dara berjanji akan berubah dan mau menerimanya dengan ikhlas dan sabar, Dara juga yakin bahwa apa yang ia jalani merupakan takdir Allâh yang sudah tertulis di lauhilmahfudz, seperti yang dinasihatkan Herman kepadanya.

Menanamkan Keyakinan
Setiap masalah yang dialami oleh manusia tentu berbeda. Walau pun tinggal dalam satu atap rumah dan satu ari-ari ketika dalam kandungan, tentu masalah yang dihadapi tak ada yang sama. Masalah itu datang silih berganti, jika masalah yang satu selesai maka masalah yang satunya lagi datang. Ini semua adalah rangkaian kehidupan, kehidupan orang yang normal tentunya. Hanya orang tidak normal (gila) yang tidak  memiliki masalah dalam hidupnya.

Jika berada diposisi Dara? Apa yang akan dilakukan ketika mengalami hal demikian? akankah bisa bersabar?  bisa saja tindakan yang lebih “nekat” akan dilakukan, bahkan melebihi yang dilakukan Dara, dan hal itu dilakukan di luar kesadaran. Tidak sedikit orang yang prustasi kemudian memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Untuk itu, sebagai seorang muslim yang harus diakukan agar membentengi diri supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka solusinya adalah dengan memperkuat keyakinan (keimanan) kepada Allâh swt.

Dalam kondisi tertekan, kehilangan arah (bimbang), atau pun merasa terasingkan tentu hanya Allâhlah yang terasa begitu dekat, hanya Allâh juga yang dapat dimintai pertolongan. Berserah diri kepada Allâh bila semua usaha telah dilakukan dengan maksimal, merupakan keharusan, karena Allâhlah yang menentukan hasilnya. Berpasrah diri, ungkapan itulah yang sering diucapkan ketika melakukan sholat. Sadarkah dengan apa yang diucapakan tersebut? “…inna shalatî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî lillahirabbil’âlamîn

Bagi yang memiliki keyakinan tinggi terhadap sang khâliq tentu masalah sebesar apapun tak akan menjadikan beban baginya. Ada sebuah penghargaan yang telah dipersiapakan ketika rintangan itu mampu dilewati. Mereka sadar betul bahwa untuk meperoleh mutiara dibutuhkan perjalanan panjang, menyelam jauh ke dasar samudera. Mereka tak gampang menyerah, tidak gampang patah, walaupun tantangan selalu menghadang dirinya.

Allâh SWT berfirman : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali’Imran [03] : 139)

Mensikapi Dengan Sabar
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik bahwa suatu ketika Rasûlullâh saw. berjumpa dengan seorang wanita yang sedang menangis di hadapan sebuah kuburan. Nabi saw. menegur wanita tesebut, “bertaqwalah kepada Allâh dan bersabarlah.” Wanita yang kebetulan belum mengenal Nabi menjawab, “Pergilah! Jangan engkau campuri urusanku. Engkau tidak tahu kepedihan yang menimpaku.”

Setelah diberi tahu bahwa yang menegurnya adalah Nabi saw, wanita itu merasa menyesal dan segera menemui beliau untuk meminta maaf. Kemudain, Nabi saw. bersabda, “hakikat kesabaran dinilai pada saat pertama datangnya musibah.” Adapun yang dimaksudkan oleh Nabi sabar itu tidak harus menunggu setelah musibah itu berlalu.

Bersabar berkaitan pula dengan masa depan, sebagaimana firman-Nya : “Maka bersabarlah kamu, karena Sesungguhnya  janji Allâh itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi”. (QS. Al-Mu’min [40] : 55)

Sabar itu memberikan nuansa “waktu dan masa depan.” Sehingga, sabar merupakan fungsi jiwa yang berkaitan sebanding dengan harapan waktu dan peroses berikhtiar untuk nyata. Sabar yang berarti merupkan harapan (tujuan, perjalanan dalam menggapai ridha Allâh), hanya dapat terwujud apabila mampu “bertoleransi dengan waktu.” Bila menanam benih padi, tentu saja tidak otomatis padi tersebut yang tumbuh. Untuk itu harus dipelihara, dipupuk, dan dibersihkan dari segala rerumputan dan hama yang mengancam. Menanam benih, memelihara, lalu memetik dan mejualnya merupakan rangkaian usaha dalam bersabar.

Kesabaran petani tampak dari sikapnya. Menunggu (faktor waktu) terus bergiat, memlihara, dan bersiaga menghadapi segala macam tantangan, hama, cuaca, dan penderitaan rasa cemas. Ketika banjir melanda tanamannya, itu tidak membuat surut, begitu pula ketika terkena hama, selalu saja ada upaya untuk memperbaikinya bahkan mencari alternatif-alternatif yang dilakukannya.

Sabar berarti memiliki ketabahan dan daya yang sangat kuat untuk menerima beban, ujian, atau tantangan tanpa sedikit pun mengubah harapan untuk menuai hasil yang ditanamnya. Rasûlullâh memuji orang mukmin yang bersabar , sabdanya : “Sungguh menakjubkan orang mukmin itu, jika ditimpa ujian dia bersabar” (HR. Bukhari)

Ikhtitâm
Sabar dapat disetarakan dengan kecerdasan emosional (emotional intelligence), yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai tekanan (stressor). Sehingga, orang orang yang bersabar tidak mengenal atau memiliki kosa kata “cengeng”. Karena makna dari sabar itu bagaikan batu karang yang tidak pernah bergeming walau ditimpa ombak samudera. Mereka tidak memiliki rasa gentar apalagi surut dari perjalanannya untuk menempuh jalan yang sudah mereka yakini. Firman Allâh swt : Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar...(QS. Al-Ahqâf [46] : 35)

Mereka yang sabar akan menerima ujian sebagai tantangan. Baginya hal tersebut adalah sesautu yang biasa atau memang demikianlah seharusnya. Dangan hati yang lapang dan antusias, ia merasakan penderitaan dengan senyuman. Kepedihan hanyalah sebuah selingan dari sebuah perjalanan. Bukankah tidak selamanya jalan yang ditempuh itu mulus dan indah. Terkadang harus mendaki dan penuh tantangan atau ujian. Itulah sebabnya, Allâh memeberikan kabar gembir bagi orang-orang yang tabah dalam perjalanannya.

Apapun yang dihadapi hendaknya disikapi dengan sabar. Bersabar itu tidak memiliki batas, ketika ada yang mengatakan “sabar itu ada batasnya,” berarti secara tidak langsung ia sudah tidak bersabar. Lebih tepatnya adalah “Shobrun ‘alâ shobrihî..” bersabar di atas kesabarannya.

Begitu dahsyat orang-orang yang sabar, Allâh berfirman  (QS. Al-Anfâl [08] : 65) : “…. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu…..” Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bersabar, dan senantiasa saling mengingatkan dalam kesabaran. Amîn. Wallâhu a’alamu bi asshowâbi.[]

Amir Hamzah
Div. Pendidikan - Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM)
PONPES UII - Yogyakarta


Rasulullah bersabda : “sesungguhnya yang paling ku takutkan dari yang ku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya , “wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu? ” beliau menjawab, “riya’.” Allah berfirman kepada mereka kelak pada hari qiyamat, tetkala memberikan balasan amal-amal manuisa,” pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ di dunia apakah kalian mendapatkan balasan dari sisi mereka?” (Diriwayatkan Ahmad dan Al-Baghawy)

Riya’ berasal dari kata ru’yah, yang artinya adalah melihat. Orang yang riya’ adalah mereka yang menginginkan agar orang lain melihat apa yang dilakukannya. seseorang beramal untuk Allah tetapi juga diniatkan untuk selain Allah, yaitu ingin di lihat oleh orang lain. Sehingga orang yang riya’ itu pada dasarnya melaksanakan ibadah yang Allah perintahkan tapi niatnya bukan karena Allah. Menurut al-Quran surat al-Ma’un riya’ ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat/manusia. Virus riya’ dalam diri seseorang melalui beberapa hal diantaranya adalah : pertama Senang terhadap pujian dan sanjungan, kedua selalu menghindari celaan dan yang ketiga yaitu mengaharap kedudukan di hati orang lain.

Tiga aspek inilah yang menjadikan penyakit riya’ itu tumbuh dengan subur dan akhirnya menggrogoti jiwa manusia, dan menjadikan amalan-amanlan manusia menjadi tidak di terima oleh Allah swt.  Orang-orang yang riya’ ternasuk orang yang celaka sebagaimana dalam firman Allah dalam surat al-Mau’un : “maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’.” [107]: 5-6

Macam-Macam Riya’

Riya’ itu banyak macamnya, diantaranya adalah sebagai berikut : pertama, riya’ yang berasal dari badan. Biasanya hal ini lebih bersifat kepada bentuk fisik yang ingin di lihat atau memamerkan tubuh yang bagus atau sebagainya, memperlihatkan mata cekung dan  agar terlihat ahli puasa, memperlihatkan kegagahan, penampilan yang menarik, dan kecantikan maupun kecakapan yang ada pada dirinya. Kedua, riya’ yang berasal dari perhiasan/pakaian. Merasa apa yang ia punya paling bagus dari yang lain, sehingga merasa ingin di lihat oleh orang lain; atau memakai pakaian yang meniru para ulama agar dipandang sebagai ahli ibadah atau oarng yang ahli ilmu agama, atau memperlihatkan pakaian yang mahal, atau rumah dan harta yang ia miliki.

Ketiga, riya’ yang berasal dari perkataan. Biasanya membagus-baguskan bacaan ketika berbicara, dan begitu juga ketika membaca al-Quran dengan niat ingin di puji oleh orang lain yang mendengarnya. Sehingga membuat yang mendengar memberikan pujian atas keindahan suaranya ataupun yang lainnya. Keempat, riya’ yang bersal dari perbuatan. Yaitu memanjangkan bacaan sholat saat ruku dan sujud, menampakan ke khusyukan, shodakoh lantaran karena ada seseorang yang disukai atau lain sebgaianya, sehingga apa yang ia lakukan bukan murni atas kehendak dirinya melainkan karena ada dorongan dari orang lain yang mengakibatkan ia melakukan perbuatan itu. Kelima, yaitu riya’ dengan teman dan orang-orang yang berkunjung kepadanya. Misalnya ia memiliki teman yang sudah terkenal dan lain sebagainya kemudian ia selalu menyebut-nyebut temannya tersebut, bahwa orang tersebut sering datang kerumahnya. Ia punya banyak teman dan bahkan ia pernah didatangi oleh si fulan dan fulanah yang terkenal itu.

Bahaya Riya’

Bahaya riya’ yang pertama, dapat menghapus amal shalih. Seperti yang disampakan di atas, yaitu seseorang yang melaukan perintah Allah akan tetapi ia memasukan sifat riya’ ketika melakukan amalan tersebut dan hal itu menyebabkan amalan yang seharusnya mendapatkan pahala, akan tetapi menjadi amalan yang sia-sia. Amalan yang shalih itu menjadi amalan yang kosong dan tidak memiliki nilai di mata sang khalik. Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya yang paling ku takutkan dari yang ku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya , “wahai rasulullah, apakah syirik kecil itu? ” beliau menjawab, “riya’.” Allah berfirman kepada mereka kelak pada hari qiyamat, tetkala memberikan balasan amal-amal manuisa,” pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ di dunia apakah kalian mendapatkan balasan dari sisi mereka?” (diriwayatkan Ahmad dan Al-Baghawy)

Bahaya Riya’ yang kedua, riya’ adalah penyakit yang tersembunyi. Karena penyakit riya’ itu tidak tampak dan hanya pelakunya sajalah yang tahu, maka sangatlah sulit untuk mengetahui siapa yang terkena penyakit riya’ ini, oleh karena itu riya’ sangat berbahaya dan dapat menyerang siapa saja, kapanpun, dan dimanapun. Rasulullah bersabda : “maukah aku tunjukan sesuatu yang lebih aku takutkan kepadamu dari pada al-Masih dan ad-Dajjal? Yaitu syiruik yang tersembunyi, seorang berdiri mengerjakan shalat lalu ia menghiasinya karena ada yang melihatnya.” (Riwayat Ibnu Majah)

Bahaya riya’ yang ketiga yaitu riya’ dapat menambah kesesatan. Sudah sangat jelas sekali jika ada seseorang yang terjangkit penyakit riya’ maka penyakit tersebut akan menggerogoti jiwanya dan menyerang seluruh elemen yang ada di dalam tubuhnya terutama hati. Riya’ merupakan penyakit yang sukar disembuhkan, sehingga bagi orang yang telah terkena penyakit ini akan terus menerus menjalankan riya’ dalan kehidupannya sehingga ia akan terus menerus masuk kedalam kesesatan tersebut. Allah berfiraman dalam al-Quran :

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabakan mereka berdusta.” (QS. Al-baqarah [2] : 9-10)

Terapi Riya’
Hal yang pertama adalah dengan membiasakan diri menyembunyikan amalan. Sebisa mungkin kita melakukan kebaikan dan kemudian kita melupakan kebaikan tersebut, sehingga dangan tidak mengingat-ingat kebaiakn tersebut maka secara otomatis kebaikan itu tidak akan pernah kita ungkapkan ataupun kita ucapkan kepada orang lain. Seperti dalam peribahasa yang sering kita dengar yaitu “tangan kanan beramal dan tangan kiri tidak tahu.” Berusaha untuk tidak mengingat-ingat dan menyembunyikan dari tangan kiri atas perbuatan tangan kanan merupakan salah satu terapi yang bisa mencegah penyakit riya’ ini muncul.

kedua adalah dengan mengetahui dan mengingat bahaya riya’. Jika kita menyadari akan bahaya riya’ tersebut, tentulah kita takut dengan kemurkaan Allah dan azabnya bagi diri  kita  tetkala kita melakuakn amalan riya’, dan tentunya kita akan menyadari sebetulnya pujian itu untuk apa, dan tidaklah memiliki apapun.  Apalah artinya sebuah pujian dan sanjungan apabila Allah tidak ridha, bahkan sanjungan dan pujian hanya akan menimbulkan murka Allah kepada hambanya.

ketiga adalah dengan Berdoa kepada Allah. Yaitu dengan memohon untuk dijauhkan dari penyakit riya’ yang mampu menghilagkan pahala amal shalih. Abu Musa al-‘Asy’ari berkata :

“Pada suatu hari Rasulullah berkhutbah kepada kami. “wahai sekalian manusia, takutlah akan syirik ini (riya’) karena ia lebih tersembunyi dari pada rayapan seekor semut”, lalu salah seorang bertanya, “ya Rasulullah, bagiamana kita mewaspadainya?” beliau menjawab, “berdoalah dengan doa ini : ya allah kami berlindung kepada engkau dari mempersekutukan sesuatu dengan Mu apa yang kami ketahui dan kami memohon ampunan dari apa yang kami tidak ketahui.” (Riwayat Ahmad)

Penutup
Riya’ merupakan penyakit yang berbahaya dan mampu menghapus amal shalih, dan menjadikan manusia rusak, karena apa yang ia cari hanyalah sesuatu yang tidak berarti dan sifatnya hanya sesaat saja. Oleh karena itu kita harus menjauhi penyakit riya’ ini, jika tidak ingin terjebak dan masuk kedalam lembah kegeglapan, yang mampu membuat mata hati kita tertutup rapat oleh pintu riya’. Percuma kita sholat, puasa, menolong, dan lain sebagainya jika hanya ingin di lihat oleh orang lain dan di nilai oleh rang lain.

Jika penyakit riya’ telah datang menghampiri diri kita maka cepat-cepatlah memberikan penawarnya yaitu dengan segera mengingat allah dan mengingat bahaya riya’ tersebut dan kemudian berdoa kepada allah untuk dihindarkan dari penyakit tersebut. Jika tidak cepat-cepat di obati maka penyakit tersebut akan menyebabkan semuanya amalan kita hilang dan menjadi sia-sia. Ketika semua amalan yang kita lakukan telah dibumbui dengan sifat riya’ maka amalan tersebut sudah dipastikan tertolak dan menjadi amalan yang kosong, hampa dan lain sebagainya. Amalan yang demikian hanya memiliki tampilan luar semata, akan tetapi tidak memiliki sesuatu arti apapun di hadapan allah swt.

Sebisa mungkin kita menyadari bahwa pujian dan sanjungan itu merupakan sesuatu hal yang tidak memberikan manfaat,  dengan kesadaran itu maka kita akan mengesampingkan niat untuk mendapatkan sebuah pujian ataupun sanjuangan dari  makhluk yang namanya manusia. Ingatlah bahwa pujian hanya akan membuat kita terjebak kedalam sebuah lembah yang sebetulnya menjadikan diri kita lemah, tidak berdaya, dan membuat mata hati kita menjadi tertutup.

Sadarilah bahwa sebetulnya yang kita cari bukanlah pujian ataupun sanjungan dari manusia akan tetapi yang kita cari adalah ridha Allah swt untuk memperoleh  sebuah balasan yang setimpal atas amalan-amalan yang telah kita lakukan dalam hidup ini, dan yang kita cari adalah balasan syurga dari Allah untuk menempuh hidup di akhirat yang kekal suatu hari kelak. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang terjauh dari sifat riya’, dan selalu mendapatkan ridha Allah dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang selalu bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat, dan menjadi hamba-hamaba yang bertaqwa.

“Ya Allah kami berlindung kepada engkau dari mempersekutukan sesuatu dengan Mu apa yang kami ketahui dan kami memohon ampunan dari apa yang kami tidak ketahui.” Amin. Wallahu’alam bishowab.[]

*Amir Hamzah
Mahasisiwa Prodi PAI│FIAI UII
Santri PONPES “Ashabul Kahfi”

#arikel ini pernah diterbitkan oleh buletin Al-Lulu, PONPES UII

Itu foto, biarlah menjadi memori foto terindah. Dan wacana biarlah menjadi wacana. Namun, akan ada story historis disana. Terlihat disana, ada action seorang wanita berjilbab merah, tengah beraction sedikit membuka pelukan tangannya. Pelukkan itu, bukan sekedar pelukan kecil, namun itu adalah gambaran dari betapa besar pelukkannya terhadap teman-teman yang duduk-berdiri bersama mengelilinginya. Mengapa ia berpose seperti itu?. Itu karena ia merasa begitu sayangnya terhadap mereka disana. Banyak rasa, story dan pengalaman yang ia dapatkan bersama mereka.

Story ini memang indah. Sejak, kali pertama kita jumpa di kelas hingga saat ini kita satu gerakan. Tentunya, gerakan skripsi manis kita.

Ahaa, bila kita flash back ke depan banyak story yang terungkap. Ada sosok Ustad-Ustad pencerah hati kita yang the-best the-best, seperti AZIZ-AMIR-YUSUF. Kalian sangat istimewa deh. Santun pulak perangainya. Ada pula sosok Ibu-Ibu kita yang nah kasih perhatian, nasehat, omelannya yang tentunya sangat-sangat positif untuk kita. Tidak lain tidak bukan mereka adalah MEYLITA , NURUZ and NURUL @nuru, yang dulu-dulu sempat mendapatkan nominasi wanita cantik nan galau se-Indonesia. Mengapa?. Itu karena dia sempat memiliki hati yang indah namun tengah berjarak di Pulau Seberang sana, dengan segala tugas yang diamanahkan kepadanya. Namun, seiring waktu berjalan nampak’y Si Nurul pun sukses mengatasinya. Ehem, ikut salut yah kita.

Oh, ya!!. Kelas kita juga tak luput dari “SESUATU” loh.!! Tau tak, mengapa??. Itu karena kelas kita juga nah punya sosok artis gitu. Yah, artis layaknya Syahrini versi Prodi kita. Dia nah selalu berpenampilan oke-oke punya. Dia nah pake sesuatu yang bling-bling. Mulai dari aksesoris’y, fashion’y, dan model gaya berjilbab’y. Kita nah senang deh liat gayanya yang sesuatu itu. Dan Dia terlihat manis dengan gaya diri’y sendiri. Apa-apa yang ia kenakan, kita ikut senang. Bahwasanya, kita boleh berkreasi apa-pun asalkan itu terlihat meching, cocok dan nyaman untuk dikenakan. Sosok artis sesuatu itu adalah ROCHIMAH MUSTIKANINGRUM, yang sering di panggil dengan nama “TIKA”

Lanjut story berikutnya, ada pula sosok teman kita yang nah nampak imut-imut, baik, terkadang mengingatkan kita kalo-kalo ada info-info penting dan tugas-tugas kuliah. Yah, dia seperti surat kabar untuk kita. Hehe, NISA KUSWANDARI nama’y. Teringat pula dengan sosok bapak kita. Itu tuh, bapak MAUL dan Pak DITA FATURRAHMAN. Mengapa saya sebut mereka bapak?. Itu karena suara mereka yang mirip bapak-bapak. Hehee.

Yuhuu, kelas kita, ada juga sosok terheboh. Dia memang selalu heboh. Ada orang yang nah asik ketiduran di kelas, dia jadi’in korban. Tentunya korban kejailannya, keisengan’y. Dia isengin teman kita, sampe-sampe satu kelas tertawa semua. Pokoknya dia sering iseng. Tapi ia sangat-sangat lucu pula. Kata-kata apapun yang keluar dari mulut’y, pasti bikin heboh kita dan teman lainnya. Kita ketawa di buat’y. Contoh neh, dia selalu manggil-manggil cewek pujaan’y dengan panggilan “cinta”. Neh kata-kata yang sering ku dengar. “Hallo, Tika.!! (Sandy sambil senyum). “Tika cintaku, I Love you”. Kemudian, Ada Nurul datang, bilang lagi “Hai cinta, Aku padamu. Nurul dihatiku.” Dan begitu seterusnya gombalan-gombalan maut’y setiap perkuliahan kita. Itu dia sosok si endut kita. Si SANDY anak Cilacap punya. Hehe.

Satu lagi sosok yang nah buat kita sempat terharu. Ia selalu kasih perhatian-perhatian ke kita yang tak di sangka-sangka. Seperti waktu kita memerlukan sesuatu, namun diri kita belum bisa usaha’in sesuatu itu. Ternyata, ia nah datang ke kita secara tiba-tiba. Nah kasih sesuatu itu ke kita. Baik sesuatu itu bernilai, besar ataupun kecil tapi itu suatu rasa yang indah buat kita. Feel inilah yang nah buat hati kita rasa haru. Terima kasih LINA (HERLINA MUNAWAROH) , kau nah hadir kasih support-support, story-story dan kritikan ke kita, yang terkadang buat kita koreksi terhadap diri ini menjadi lebih positif kembali.

Gak ketinggalan juga. Si VIVI teman kita. Teman yang gaul punya. Kata iklan bilang, “Gak ada Loe, Gue masih bisa Happy”, (Hehe, sedikit rubah kata”). Nah, ia paling cocok sama Sandy. Sama-sama gila’y di kelas. Dan selalu stand by sama yang nama’y BB. Kan komunitas blackberry geto.

Kita juga punya sosok teman yang disiplin, tuh dua cowok. Si om HARRY dan om ARIF. Disusul juga dengan sosok Rock N Roll kita. Si Master ANDI, Pacitan punya. Begitu pula dengan sosok Si Kribo kita. Sosok nah muncul dari Flores punya. Si om SYUKUR. Nama lengkap’y sih ABDUL SYUKUR USMAN. Tapi ia sangat tenar dengan nama “SYUKUR”. Jadi kalau ada apa-apa selalu panggil syukur dan harus selalu bersyukur. Hehehe. Dia nah sering jadi topik pembicaraan dosen kita. Seperti ini. “Haduh, Syukur. Jauh-jauh dari flores sampai kelas Cuma tidur”. Tapi apapun keadaan syukur yah tetap bersyukur. Lah emang nama’y syukur, yah harus bersyukur, karena Si Syukur masih mau berangkat kuliah walaupun sore-sore. Begitu seterusnya, berputar-putar dengan kata-kata syukur. Tapi Si Syukur, adalah sosok yang hebat juga. Dia nah sosok pertama yang mencetuskan kata-kata “Si Mentah” kepada teman kita Si INAM, teman-teman bilang. INAM (IN’AM/NAIM) ini, adalah sosok yang baik juga. Baik karena kita di kasih tumpangan berangkat PPL di SMA UII, waktu minggu pertama kami dilepas disana. Pan kita tau jalan waktu itu. Setelah kita tau jalan, lalu, balapan motor lah kita. Hehehe.

Satu lagi neh. Sosok yang nampak diam-diam menghanyutkan nan yang suka ngeledekin kita, Si nama’y. Dan kabar’y tengah kecantol anak didik’y di sekolah tempat ia PPL. Hehehe, ikut senang yak. Lanjutkan aksimu, Om.!!

Intinya, kalian semua adalah kebaikan-kebaikan yang kumiliki, ku rasa sampai saat ini. Sekarang kita semua sama-sama gerak dalam karya tulis ilmiah kita. Semangat kalian adalah semangat kita juga. Kelak, esok kita gerak wisuda bersama. Semoga silahturahmi ini akan berjalan sampai nantinya kita gapai semua target-target keberhasilan pencapaian kita. Terima kasih ku kepada Allah SWT yang telah mempertemukan kita di kampus ini. Semua ini tidak lepas dari rencana indah-Nya, kita dapat duduk di samping kalian, mendapat story-story kalian serta pengalaman-pengalaman pun juga berkat-Nya. Saya bersyukur, atas rencana indah-Nya ini yang kelak menuntun hidup ke depan.

Oke teman-temanku. Kita nah gerak. Kalian juga gerak. Merdeka untuk kita semua ^^ —

Oleh :
Ika Aryani

Sumber :
https://www.facebook.com/ika.aryani.9/posts/504188212951815?comment_id=5466022&offset=0&total_comments=45&notif_t=mentions_comment

#catatan :
foto yang digunakan di atas sengaja tidak disamakan dengan sumber aslinya, tujuannya adalah untuk mengabadikan momen yang lain.

Tadinya aku kira telat, setiba di Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) mobil xenia putih telah berada diparkiran. “waduh Pak Idrus kayaknya sudah datang..” batinku. Tetapi dengan keberanian yang aku miliki aku tetap berjalan menuju ruang kerja beliau. Dengan membaca bismillah aku memasuki ruangan dosen-dosen FIAI. Ternyata, taka da satu orang pun yang aku temui di dalamnya. Ruangan Pak Idrus pun terlihat masih tertutup, kunci ruangannya juga masih tergantung di lubang kunci pintunya. Ini menandakan bahwa baru karyawan/office boy yang membersihkan ruangan beliau.

Pikiranku kembali terbang ke jauh. Yang ada dalam benak ku pada waktu itu “bagaimana jika pak idrus sudah masuk kelas?? Bisa repot kalo kayak gini..” tetapi dengan sabar aku berjalan meninggalkan ruangan beliau dan menuju hall. Disana aku melihat-lihat madding yang berada ditengah-tengah hall. Mading tersebut sudah ada semenjak aku masuk sebagai mahasiswa baru, rasanya taka da yang erubah dengan madding ini gumamku dalam hati.

Sambil mencari-cari informasi jadwal seminar proposal skripsi, tiba-tiba kau dikagetkan dengan suara laki-laki tua. Dari suaranya aku sudah dapat mengenali siapakah lelaki tua itu. Pak Muhanam, begitulah ia disapa. Orangnya kecil dan kurus, serta memiliki jangggut yang lumayan panjang sudah keputih-putihan tetapi tidak lebat. Dengan gayanya yang khas, pak Muhanam menyalami ku dan kamipun salig bertegur sapa ditengah hall FIAI.

Suasana FIAI begitu sunyi, dari kesunyian tersebut terdengarlah suara orang yang aku tunggu seklaigus aku cari-cari. Aku yakin suara itu adalah suara pak idrus. Dengan langkah yang pasti aku segera menuju ke sumber suara tersebut, tampaklah lelaki yang berumuran sekitar 50an, dengan berbalut kemeja ungu tua panjang dan celana bahan yang berwarna hitam. ikat pinggangnya terlihat sudah begitu lama dibandingkan dengan baju dan selana yang beliau kenakan.

Perawakan beliau tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kurus, rambut beliau cukup tebal dan berkumis tipis. Bentuk mukanya besar, agak bulat serta sangat sulit untuk tersenyum. Begitulah tampak beliau dari fisik depannya.

Dengan mantap akupun memasuki ruangannya beliau. Tanpa dipersilakan duduk pun aku langsung duduk didepan meja beliau, karena pak idrus saat itu sudah duduk di kursinya. Dengan basa-basi aku membuka percakapan, setelah ngobrol sejenak aku langung mengalihkan pembicaraan pada pagi itu. “begini pak.. ketika saya mengajar TPA, saya akhirnya menemukan sebuah judul… bla..bla..bla..” dari cerita tersebut aku sampaikan bahwa permasalahan itulah yang  akhirnya membuat saya tergelitik untuk membahasnya di skripsi ini.

Ketika pak idrus bertanya lebih jauh, dengan mantap saya jawab pertanyaan bapak sudah ada dibuku ini…  beliau langsung terkejut dan bertanya “buku siapa kui??” “saya kira bapak kenal beliau”. Jawab ku. sambil menyodoran buku. Oh iya pak judul skripsi saya tentang ini “patpadk”

Ya sudah, bagus itu… terus mau penelitian di mana??? Mungkin disleman saja pak. Kenapa gak di daerah mu?? Waduh pak kurang pas. Masyarakatnya belum terbiasa dengan baca tulis.

Tak lupa saya meminta do’a dari belia. “do’a juga harus di lakoni… percuma do’a juga kalo tanpa usaha”. Secepatnya dikerjakan. Begitu pesan beliau. Dengan perasaan senang dan lega akhirnya akupun berpamitan meninggalkan ruangan beliau.

Ternyata, salah satu teman pun sudah berada di depan ruangan pak idrus. Ia juga baru mau mengajukan judul skripsinya. Namanya Hari Sulistiantoro ia berasal dari Bekasi.

Yogyakarta, 28/maret/2013

Semalam aku tidak bisa tenang, banyak hal yang ada dibenak ku yang aku pikirkan. Semuanya terasa campur aduk dan menjadi satu, ibarat es campur yang siap untuk diminum. Tak hanya itu, tadi malam juga aku memperbaiki komputerku yang sudah lama “istirahat” akibat terkena radiasi suara petir cukup keras waktu itu. Alhamdulilah semuanya bisa diperbaiki, sekaligus aku install ulang hingga aku tak sadarkan diri bahwa aku sudah terjaga dan lelap dalam tidur.

Suara adzan subuh yang menyadarkan aku dari kesunyian malam. Sejenak aku bisa lupa semua beban yang begitu menumpuk. Begitu aku sadar aku tertidur, maka sejak itu pula pikiran –pikiran itu muncul, rasa cemas dan gelisah itu muncul kembali. Aku bangun dan langsung mengecek komputer yang semalam aku tinggalkan. Ternyata semuanya baik-baik saja dan telah siap untuk digunakan.

Selepas sholat subuh aku langsung mandi, karena aku sudah janji dengan ketua prodi untuk bertemu pada pukul 07.30 di Fakultas. Tak lupa ku buka-buka buku dan coretan yang pernah aku buat untuk mengajukan judul. Aku masih ingat dengan perkataan beliau, kalau mau mengajukan judul harus diawali dengan masalah.

Setelah mempersiapkan buku-buku dan semuanya sudah siap, maka aku langusng tancap gas menuju kampus tercinta. Di jalan sesekali ku lihat jam yang ada di ponsel, sesekali aku juga mengamati orang yang beraktivitas di pinggir jalan.

Ketika sedang asyik mengendarai sepeda motor Honda tahun 70an aku dikagetkan dengan kerumunan kendaraan yang berjejer cukup panjang, sehingga deretan itu menjadi sebuah kemacetan.  “Ada apa gerangan?” Gumamku dalam hati. Tak lama dari kejauhan terlihat seseorang yang memakai rompi hijau menyala, akupun sudah bisa mengenal siapakah orang tersebut; ia adalah pak Polisi.

Dengan rasa waswas dan sedikit ketakutan, aku tetap mencoba memberanikan diri untuk terus memacu sepeda motorku. “walupun ada razia aku sudah pasrah…” pikir ku singkat.  Dalam kegelisahan yang tiada berujung itu, akhirnya terjawab sudah ketika aku menyaksikan ada sebuah sepeda motor vixon yang terjatuh dengan velg depan hancur. Tak hanya itu, body motor Honda kharisma yang rusak parah tak berjarak tak begitu jauh dari motor vixon.

Seketika, akupun merasa was-was campur dengan ketakutan. Akhirnya aku memacu sepeda motor dengan begitu pelan dan tetap terjaga dalam kondisi “sadar”. Yang ada dalam pikiranku pada waktu itu “kecelakaan itu disebabkan kerena tidak dalam kondisi sadar.” Misal, karena ia ngebut akhirnya terjadilah kecelakaan maut dan berakibat nyawa jadi taruhannya.

Boleh ngebut, tapi asal tahu tempat, dan kondisinya. Jika jalanan sepi ngebutpun tak masalah, tetapi jika terjadi kecelakaan ya tanggung sendiri saja. Pagi hari jalanan sangat ramai, setiap jalan pasti penuh. Karena kebanyakan setiap orang berangkat kerja pagi hari, mahasiswa berangkat ke kampus pagi juga, begitu juga dengan siswa-siswi yang akan belajar disekolah mereka.


Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme