Semua ini berawal dari sarung tangan. Ya, karena penasaran dengan sarung tangan untuk sepeda yang sempat dilihat-lihat sekitar daerah mirota kampus tetapi karena harganya terlalu mahal maka terpaksa tidak jadi dibeli. Ingtanku mencoba menerawang ke tempat yang pernah dikunjungi. Sepertinya di mall ambarukmo plaza (amplaz) ada, dan dulu sempat coba-coba juga.

Sore itu setelah mandi dan shalat Ashar, ditemani si soleh kuberangkat menuju amplaz. Tak lupa sebelum kesana mampir dulu ke tempat rabbani. Setelah melihat-lihat dan Tanya-tanya seputar rabbani, maka aku langsung menuju amplaz. Tidak sulit untuk memarkirkan si soleh, dimasukan ke parkiran motor gratis.

Setelah masuk di dalam, di hall ada stage yang lumayan megah. Di sana sudah ramai dengan pengunjung yang duduk di kursi yang sudah ditata rapi. Sepertinya ada acara khusus dan aka nada artis yang launching filam, kataku dalam hati. Setelah muter-muter dan cari sarung tangan, ternyata nihil. Perlengkapan sepeda banyak, tetapi untuk sarung tangannya malahan tidak ada. Cukup kecewa, tetapi mau diapakan lagi?

Dugaanku tepat, setelah kembali dari pencarian sarung tangan dan ke hall amplaz sedang heboh dan jeritan fans yang ingin berselfi ria dengan sang artis idola. Ada maudy ayunda, babe dan lelaki yang saya tidak kenal, tetapi sepertinya lelaki tersebut bintang utama dan lawan mainnya maudy ayunda. Setelah acara foto-foto bareng dan ikut menyaksikan dari jarak dekat artis ibu kota tersebut, aku memutuskan untuk pulang.

Setellah keluar dari parkiran dan si soleh dinaiki, ada perempuan yang naik sepeda lipat berpapasan denganku. Karena aku sudah terbiasa membunyikan bel atau suara-suara lain ketika bertemu dengan pesepedah lainnya. Seperti biasa, kubunyikan hentakan lidah ketika berpapasan dengan perempuan bersepeda tersebut.

Ku kayuh si soleh menuju jalan arah pulang. Sempat bertemu dengan anak-anak kecil juga yang bersepeda dan sesekali mereka kuajak untuk balapan. Tiba-tiba suara dari belakang nyahut.. “bang mau kemana emang” Suara tersebut cukup mengagetkanku. “saya mau pulang ke selokan mataram..” Jawabku singkat. Emang abang dari amplaz habis apa? Tanya lagi. “Habis nyari sarung tangan sepeda ajah..” Timpalku lagi. Karena suara adzan isya berkumandang, maka dengan reflex kutanya balik. “Sudah shalat belum, kalo belum yuk cari masjid dulu..”

Meski dalam hati masih bertanya-tanya dan sedikit waspada, tapi kutetap berusaha tenang. Setelah mengikuti suara adzan yang sikumandnagkan, ternyata masjid atau mushala yang kami cari tidak ketemu. Terpaksa nyari sedapatnya. Setelah Tanya-tanya dan sempat salah masuk ke gereja juga, akhirnya kami pun dapat menunaikan shalat isya dengan berjamaah.

Setelah shalat, bingung mau ke mana. Karena masih belum terlalu malam, maka kuajak ke tugu jogja. Melewati perempatan UIN Suka, dan gramedia, kami pun tiba di tugu. Sepeda kami diparkirkan di jalan mangkubumi. Kami duduk ditrotoar dan ngobrol ngalor ngidul deh. Tak lupa semangkuk ronde hangat menemani obrolan kami malam itu.

Aku menunggu momen yang pas untuk menanyakan nama. Aku sedikit gengsi jika harus menanyakan nama langsung, atau lebih tepatnya aku kehabisan ide untuk basa-basi menanyakan nama. Sampai disatu titik obrolan yang menyangkut nama, aku tak sia-siakan untuk menebak namanya. Maka disitulah akhirnya kami tukar menukar nama.

Namanya Oke (huruf e dieja seperti pada kata bekas). Ia punya kembaran, namanya Oka. Si kembar identik ini berasal dari Sragen-Solo. Sragen ke solo jaraknya sekitar satu jam perjalanan. Oke bekerja sebagai waiter di bakso tenis senayan, sedangkan Oka sebagai pijat refleksi di nakamura. Tempat kerja mereka masih di amplaz.

Oke lahir setelah Oka. Dengan kata lain, Oke adalah adik dari Oka. Oke bisa ke jogja karena ikut Oka yang sudah sekitar satu tahun bekerja di amplaz, sedangkan oke baru dari bulan desember kemarin (baru sekitar empat bulan). Dulu mereka bekerja di tempat yang sama, yaitu di tempat pijat refleksi tepatnya di daerah solo. Tetapi karena mereka sering berantem, akhirnya oke keluar dan pindah.
“Oke sama Oka bedanya apa aja?”

“Kalo aku lebih cantik” jawab Oke sambil senyum kecil dan pedenya.

Obrolan kami di tugu Jogja, sampai ke mana-mana. Dia cerita kakaknya yang di DO dari kampusnya gara-gara uang untuk smesteran dipakai untuk operasi adiknya yang jatuh dari motor. Cerita adiknya yang keterima bidik misi dan kehilangan laptop, sehingga harus mengerjakan tugas di kantor organisasi. Cerita ibunya yang bekerja di Jakarta jadi baby sister, dan bapaknya yang bekerja di pabrik macaroni.

Sampe-sampe cerita kalo ibunya gak akan pulang dari Jakarta. Sang ibu mau dan akan pulang kalau anaknya mau yang menikah. Ibunya asli bekasi, dan ada sudara dekat terminal senen.

Mampir ke tempat Oka kerja
Setelah magrib, rasa lapar dating tiba-tiba. Kuambil dompet dan entahlah tempat makan apa yang akan kutuju, waktu itu tak ada rencana untuk makan di mana. Dengan sepeda yang biasa kubawa, kususuri jalan wahid hasyim, hingga tertuju warung yang menjual sop.

Sambil menunggu pesanan, waktu shalat isya sudah tiba, dengan terpaksa kutunda. Setelah menunggu sekian lama, maka pesanan baru dating. Dengan sedikit kesal kusantap hidangan tersebut dengan lahapnya.

Selesai makan, bingung mau kemana. Langsung kembali ke asrama atau jalan-jalan dulu menikmati suasana malam. Akhirnya karena bingung, kuputuskan untuk memarkirkan sepeda fixi biru di depan ambarukmo plaza. Setelah beberapa menit duduk di sana tanpa tujuan dan sesekali mengaktifkan wifi ku putuskan untuk menemui kembaran Oke.

Berbekal informasi dari Oke, ku beranikan diri untuk bertanya ke penjaga keamanan yang sedang bertugas di sana. Tak sulit mendapatkan lokasi yang kucari. Berkat arahan dari petugas, aku tiba ditempat yang dicari, sayangnya yang tidak jeli dengan pengamatan sekitar. Padahal saya sempat duduk dan membelakangi tempat tersebut. Sehingga karena sedikit tergesa-gesa dan buru-buru, tempat tersebut tidak ketemu.

Setelah diputeri kedua kalinya dan nanya ke karyawan bakso lapangan tembak, dengan entengnya sang pelayan tersebut menunjukan tempat yang saya tuju, tepat berada di samping bakso tenis. “Itu lho mas pijat refleksi kimora.” Ucap karyawan bakso tenis senayan sambil menunjukan dengan tangan.
Kutuemui resepseionis dan kusampakan maksud dan tujuanku. Meski dengan sedikit tidak enak karena takut mengganggu, dan dari resepsionis meykinkan jika kedatanganku tidak mengganggu, maka dipanggilkanlah Oka.

Begitu dipanggil dan membuka pintu, wajah oka memasang muka bingung sekaligus judesnya dipasang. Tapi setelah agak dekat dan Oka menyapa duluan “Mas Amir ya?” Sambil membuka percakapan, dalam pertemuan perdana kami. Setelah itu, barulah senyum itu muncul. Setelah ngobrol dan duduk di kursi depan nakamura (tempat Oka bekerja) kami ngobrol seperti tanpa skat. Seketika obrolan itu ngalor ngidul dan apapun dibahas.

Obrolanku yang tadinya mau sebentar dan beberapa menit saja, malah kebablasan hingga bermenit-menit lamanya. Obrolan tak terasa sampe amplaz mau tutup, padahal kalau tidak salah, ketika aku masuk ke sana, waktu menunjukan sekitar pukul 19.45. dan biasanya ampaz tutup sekitar pukul 21.30an. bisa dihitung berapa lama kami ngobrol, tidak terasa memang.

Ketika kami ngobrol di sana, dan sepengamatanku juga, tangan oka tak bisa diam. Tangannya bergerak tak bisa diam. Bahkan, sambil ngomong pun jari telunjuknya diputer-puter di atas kuris duduk, entah sedang membuat tulisan apa? Tetapi yang jelas lebih mirip sedang menggambar benang kusut, heeeeee. Tak cukup di situ juga, bahkan sempat kutanya prihal jari kuku tangannya.

“Oka kuku jari tangannya agak gelap, akibat mijat atau gimana??..” Pertanyaan ini tidak muncul begitu saja, tapi aku menemkan hal yang sama di jari kuku tangan Oke. Kata Oke, ia juga dulu pernah bekerja di nakamura bareng dengan Oka sang kakak. Tapi jika aku amati, kuku jari Oke masih seperti jari Oka, meskipun Oke sudah pindah kerja dan tidak mijit lagi.

Obrolan kami kemana-mana dan tidak kaku, meskipun kami baru kenal dan ketemu. Apa yang disampaikan Oke benar, kalao Oka tidak memiliki tahi lalat di hidung, suaranya agak lembut, sedikit berbeda dengan Oke yang cempreng, lantang, dan keras suaranya.

Kata Oka, ia lebih dewasa ketimbang Oke. Jadinya cukup pantas untuk menjadi kakak. Bahkan kalau tidur, Oke harus dikloni terus sama sang kakak. Oke tida biasa tidur tanpa Oka, demikian pengankuan dari sang kakak terhadap adiknya. Keduanya masih suka bertengkar, padahal asalanya dari hal yang sepele. Tetapi pertengkaran mereka tidak sampai parah kok, paling sebentar juga baikan lagi.
KENAPA sih keren, gagah dan maco itu diidentikan oleh kebanyakan (meski tidak semua) laki-laki dengan rokok? Bukankah rokok itu sejatinya hanya kebutuhan sekunder saja? Sejatinya juga malah membahayakan.

Bahkan ada analogi unik dan menggelitik, yang pernah saya temukan dalam sebuah tulisan. “Dirinya (badannya) saja ia sayangi, apalagi pasangannya. Kalau sama dirinya saja sudah gak sayang, gimana bisa sayang sama keluarganya, anak-istrinya dll.” nah PR besar bagi ahli hisap jika diginiin. Skak mat deh.

Kata kebanyakan perempuan, justru laki-laki yang tidak merokok itu lebih baik. Selain mulutnya tidak bau rokok, tak perlu mikirin uang yang habis gara-gara jajan rokok. Initinya untuk disave ke kebutuhan lain lebih banyak. Yuk bayangkan. Sehari 20rb, kali sebulan? Setahun? Bahkan 2 tahun saja sudah 14 juta.

Jadi bisa menghemat besar-besaran. Malah bisa beli motor baru, kes lagi bayarnya, tanpa harus mikirin angsuran bulanan. Asal, bisa konsisten untuk menyisihkan uang 20rb ke dalam celengan. Intinya, merokok itu tidak baik dan imej kekerenan itu bukan rokok.

Bahkan ada yang bilang, rokok itu tanda atau ciri orang mampu. Mampu dalam hal apa dulu? Maksudnya ciri orang kaya gituh? Haaa. Jadi absrut. Begitu juga ketika ditanya enakanya ngeroko itu dimana? Ya begitulah, enak ajah. Kalo gak enaknya pas gimana? Efek sampingnya apa? Nah lho…

Abis makan, ngerokok. Itu enak banget. Mulut yang tadinya pait jadi terobati dengan merokok. Padahal hanya itu, tapi kenapa hampir setiap ngobrol roko selalu dibakar? Padahal tadi bilang, enaknya pas cuma abis makan doang! Tuh jadi absurt lagi kan? Heee

Oke, kalo semisalnya rokok itu gak apa-apa, kenapa kita sendiri ngelarang jika ada adik, saudara, atau siapapun yang ngerokok tapi usianya masih anak SD? Apa alasannya karena dia belum bisa nyari duit doang? Atau bisa repot kalau sudah ketagihan ngerokok?

Sejatinya, dari hati nurani kita sendiri mengakui dan menyadari bahwa merokok itu tidak baik. Jangan salah, banyak pencurian yang dilakukan gara-gara berawal dari belajar merokok dan akhirnya jadi pecandu. Butuh rokok, tapi tak ada lembaran kertas. Minta ortu gak dikasih. Terpaksalah akhirnya mencuri.

Dengan demikian, silakan simpulkan sendiri isi tulisan ini seperti apa kesimpulannya. Yang jelas, ketika saya ditawari merokok atau ditanya merokok atau tidak? Jawaban saya hanya ini “Alhamdulilah saya belum mau…”

_

SELEPAS menikah, aku tinggal bersama mertuaku. Karena mertuaku dikenal seorang guru ngaji dan ustadz, maka sebagai menantu baru ada saja celah untuk mengetes. Apalagi ketika pertama kali sholat di mushola tempat istriku tinggal.

Awalnya menolak disuruh jadi imam, dan beralasan masih banyak yang lain. Tapi akhirnya nurut juga. Mau gak mau emang harus siap dan serba bisa. Alhamdililah jadi ketagihan masyarakatnya. Katanya sih suaranya manis dan gurih.

Tak hanya disitu, ketika kebingungan mau ngadain hiburan masyarakat, para pemuda setempat lagi-lagi melibatkanku untuk mengkonsep acara. Alhamdulilah semua puas, dan mereka minta tahun depan biar lebih seru lagi. Ujung-ujungnya aku juga disuruh tinggal lebih lama disitu.

Hanya saja, Pekerjaan Rumahku masih banyak. Misalnya saja, ngaji Nahwu dan sorofku dulu setengah-setengah. Jadi belum bisa ngaji kitab kuning alias kitab gundul. Padahal itu ilmu yang paling pas untuk bermasyarakat.

Kalau aku bisa, dan mahir, yang akan dikaji bukan lagi kitab fiqih, tapi kitab akhlaq dan tasawuf, seperti kitab Nashaihul ‘Ibad karya dari Syeh Nawawi al Jawi. Lalu kitab tauhid, semisal kitab Jauar at-tauhid, agar keimanannya teguh.

Biar pada tambah pinter, hatinya pada tentram dan damai. Tak ada yang dendam - dendaman dan saling menjelekkan, tapi lebih ke memaafkan. Saling merukunkan itu yang paling penting. Sebab, tak ada keindahan selain ukhuwah dan jamaah.

Pekerjaan Rumah yang kedua adalah menggalakan remaja ke arah pergaulan yang positif. Mengisi dan membuat acara yang bisa menyelamatkan masa depan mereka ke arah yang lebih baik. Syukur-syukur bisa menggandeng pihak lain yang berwenang untuk memberikan sejenis pelatihan dan soft skill.

Pekerjaan rumah yang ketiga, yaitu menyediakan sarana belajar tambahan bagi siswa dan siswi. Tidak hanya bidang pelajaran sekolah yang berbentuk bimbingan belajar (bimbel), tapi ke arah kreativitas dan seni juga. Tentunya ini di luar jam sekolah pagi dan sore (khusus pada waktu libur sekolah).

Semoga saja ada jalan…

_

Setelah isya, seperti biasa kami berkumpul di depan warung Kak Usep. Di sana kami ngobrol segala hal dan membahas setiap permasalahan. Kebetulan karena malam itu malam tahun baru islam 1438 Hijriyah maka kami pun membuat rencana untuk ziarah kubur ke Katamanik atau ke makam keramat Syekh Abdul Jabar Karang Tanjung.

Obrolan kami malam itu tak terasa, dan waktu sudah menunjukan sekitar pukul 23.15 malam. Akhirnya kami pun memutuskan untuk berangkat. Sambil mengambil dan mempersiapkan sepeda motor, Kak Usep menutup warungnya. Malam itu kami menggunakan tiga motor. Semua bensin motor, ditanggung yang punya warung. Motor metik, motor bebek, dan satu motor tril atau kros sudah siap berangkat. Kak Usep, Juji, Heri, Saepul, Sandi dan Amir meninggalkan kampung Pancur dalam keheningan.

Malam itu kami berangkat menuju tempat tujuan. Jarak yang kami tempuh sekitar 6 kilo meter, dan melewati beberapa kampung. Kampung tersebut diantaranya: Turus, Citapung, Ancol Masjid, Ancol kulon, Majalaya, Nanggor, Pasir Kupa, Panjulan, Paniis, Kubang, Bantar Wangi, Kontrak, Pasirandu, Pagadungan, Karang Tanjung, Kadu Sumbul, dan Katamanik.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menitan, kami pun tiba di tempat tujuan. Kami disambut dengan makan malam di prasmanan. Awalnya kami merasa tidak enak dan sedikit segan, sebab sedang ada yang makan-makan layakanya seperti di tempat orang yang sedang hajatan. Tetapi setelah kami memberanikan diri dan masuk, kami pun dipersilakan untuk menikmati hidangan tersebut.

Sebagai orang jawa yang baik, pantang bagi kami untuk segera menuruti permintaan (disuruh makan). Setelah basa-basi dan ditawari beberapa kali, barulah kami pun menikmati hidangan yang cukup menggugah selera. Hidangan lauknya cukup mewah dan begitu nikmat. Mungkin ini adalah rizqi bagi kami yang berniat mengagungkan pergantian tahun baru islam tersebut.

Jika seandainya kami hanya duduk-duduk manis dan ngobrol di rumah, tak ada hidangan mewah nan lezat seperti ini yang dapat kami santap dengan lahapnya. Sekali lagi, ini adalah rizqi yang sudah diatur oleh yang maha kuasa bagi siapa yang mau berusaha dan berupaya. Meskipun usaha yang kami lakukan cukup simple dan kecil, tetapi balasan itu akan senantiasa mengikutinya.

Setelah melahap makan malam, kami sempatkan untuk ngobrol dengan lelaki paruh baya sekitar 70 tahunan. Ternyata lelaki tua tersebut masih memiliki garus keturunan dari Syekh Abdul Jabar. Beliau juga yang sengaja menyuguhkan makanan tersebut untuk para penziarah yang akan berziarah ke makam tersebut. Dari obrolan yang singkat tersebut, hanya sedikit sumber yang kami dapat mengenai siapa asal usul dari Syekh Abdul Jabar tesebut.

Tak lama, kami pun langsung melakukan ziarah kubur. Kami masuk saung berukuran sekitar dua meter dengan alas keramik dan beratapkan genting serta tiap sisinya tembok menyerupai lorong. Lorong tersebut panjanganya sekitar 13 meter dan tepat di makam Syekh Abdul Jabar, atapnya dibuat terbuka, jika ada hujan air dapat membasahi kuburannya.

Kami langsung duduk dan membuat formasi. Kak Usep di depan sebagai juru makam yang siap membacakan tawasul, sedangkan kami berlima duduk dibelakang dengan susunan dua shaf. Petaka datang menimpa salah seorang dari kami kala tawasul dimulai, setelah beberapa kali membaca surat al-fatihah, rasa kantuk datang dengan tiba-tiba. Inilah kebiasaan buruk jika perut sudah diisi dengan makanan. Perut semakin besar, mata semakin kecil.

Proses tawasul hanya diikuti awalnya saja, sedangkan tengah serta akhirnya sudah tidak ingat lagi. Jika rasa kantuk sudah datang, tak peduli tempat maupun posisi. Meski pun berdiri, jika sudah waktunya ngantuk pasti tidur. Apalagi waktu itu sedang duduk, ya posisi yang cukup ideal dan banyak orang sudah melakukannya, sebagaimana tidur ketika duduk menunggu shalat jumat.

Setelah selesai ziarah kubur, baru tersadar dan bangun. Kami pun meninggalkan makam dan dilanjutkan ke saung tempat awal kami ngobrol. Lagi-lagi karena mata sudah lelah, begitu tiba di saung, langusng mengambil posisi dan membaringkan tidur. Obrolan pun dilanjutkan hingga pukul 02.00 dini hari. Setelah dirasa cukup kami pun memutuskan untuk pulang.

Dini hari itu, tiga motor yang kami gunakan melesat meninggalkan makam keramat Syekh Abdul Jabar. (Amha/)

Berawal dari sebuah pesan singkat dari Anis, aku memberanikan diri untuk menawarkan bantuan dan sekaligus mengantarkannya pulang ke rumah. Awalnya sempat ragu dan fivty-fivty, dengan ajakanku ini. Tetapi, akhirnya kepastian itu dating juga. Aku arahkan Anis untuk berangkat naik angkot dari warung pojok (warjok) dengan tujuan Tunjung Teja.

Aku pun kirim SMS ke Anis, jika sudah naik angkot dari warjok jangan lupa langusung kabari. Biar nunggu di tunjungnya lebih enak dan bisa dikira-kira. Setelah mendapat kabar dari Anis, aku langsung berangkat dari rumah. Dengan niat bismillah, aku meninggalkan rumah sore itu juga untuk bertemu dengan dara asal Rangkasbitung.

Setelah tiba di tunjung teja, aku parkirkan sepeda motor tepat di depan alfamart. Karena merasa sedikit haus, aku juga menyempatkan masuk kedalam untuk membeli sebotol minuman. Setelah beberapa tegukan minuman itu kuminum, aku kirim sms ke Anis. Sudah sampai mana sekarang Nis? Tanyaku singkat. Tak lama, sms balasan dari Anis masuk. Gak tahu udah sampe mana Kak, tapi tadi sudah lewati tulisan POLSEK Petir. Kemudian kubalas lagi pesannya. Wah sudah dekat berarti.

Setelah mengetahui posisi Anis sudah dekat, aku lebih banyak mengamati kendaraan yang lalu lalang. Terutama mencari angkot yang berwarna biru muda atau yang berwarna kuning. Kuamati terus jalan untuk memastikan mobil angkot yang lewat. Hingga tertuju kepada angkot biru muda yang datang dan berhenti tepat di depan tempatku menunggu. Aku sudah senyum dan siap menyambut kedatangan Anis. Ternyata yang turun bukan Anis, tetapi penumpang lain. Ketika itu juga aku gak ngeh jika Anis duduk di depan.

Setelah mobil jalan lagi, disitu aku baru ngeh, kalau Anis duduk di depan. Aku segera mengamati angkot tersebut dan memastikan jika yang turun di depan nanti adalah Anis. Benar saja, kulihat dari kejauhan gadis berkaca mata yang mengenakan jilbab berwarna biru dongker, sama seperti gadis yang sering kulihat di blog dan di facebook. Aku pun langsung menghidupkan motor dan menghampiri Anis yang kala itu sedang duduk di pingir jalan.

Begitu tiba di depannya, aku segera menyambut dengan ucapan “Kenapa gak turun di depan alfa tadi Nis..” sambil tanganku dirapatkan telapaknya dan kutaruh di depan dada sebagai tanda untuk mengajak salaman. Aku pun langsung mengajak Anis untuk beranjak dari tempat tersebut dan langsung menuju arah pulang.

Sewaktu di kendaraan, kami sempatkan untuk ngobrol dan Tanya jawab. Tanya jawab soal apa pun yang dapat menghidupkan suasana antara dua manusia yang kala itu baru bertemu setelah sekian lama berkenalan di dunia maya. Aku sedikit canggung dan merasa minder, sebab pengalaman dan dunia jelajahnya Anis sangat luas, sedangkan aku pengalamannya masih sedikit dan belum pernah kemana-mana.

Tapi kembali ke niat awal. Dulu aku punya azam untuk dapat bersilaturahmi dengan keluarga Anis di Rangkasbitung, terutama dengan Ibunya yang sempat ngobrol melalui chatting di facebook. Kami ngobrol layaknya teman yang sudah berkawan lama dan cukup akrab juga.

Perjalanan yang kami tempuh, rasanya tidak sampai satu jam. Berangkat dari tunjung sekitar pukul 17.50 dan menyempatkan shalat maghrib di masjid al-Ikhwan kampung Rumbut. Anis sedang libur shalat, jadi aku yang masuk masjid, Anis yang jagain motor. Setelah shalat maghrib, kami lanjutkan perjalanan. Tiba di rumah Anis pukul 18.42 jika tidak salah lihat.

Masuk ke gapura yang bertulisakan BTN Narimbang Curug Sawo. posisi rumah berada disebelah kanan, catnya berwarna kuning dan list-listnya berwarna putih. Jaraknya hanya sekitar 30 meter dari gapura atau jalan raya.

Setelah parkirin motor, dan masuk kedalam rumah anis tampak di meja makan sedang makan adiknya anis yang pertama. Adik yang kedua sedang ngaji dan ditemani suara perempuan yang begitu halus dan indah. Ketika itu aku menyangka ada yang sedang privat ngaji. tetapi akhirnya semuanya hilang setelah ingat bahwa ibu anis yang ngajari ngaji anak-anaknya sendiri sedari anis masih kecil.

Suasana ibu dan anak yang sedang belajar mengaji seolah membuatku teringat masa-masa kecil. Tak hanya itu, kehangatan keluarga Ibu Hamidah dengan anak-anaknya belum pernah aku temui di keluarga lain. Dalam hati kecilku mengatakan “pola asuh orang tua dahulu dengan masak kini memang berbeda” suasana dalam keluarga begitu hidup dan terasa terbuka antar satu sama lain.

Setelah dirasa cukup ngobrolnya, aku pun berpamitan kepada keluarga anis. Waktu menunjukan sudah pukul 19.35. kusampaikan niat dan maksud kedatanganku sekedar bersilaturahmi menyambung persaudaraan dan sekaligus mengetahui posisi rumah Anis. Jika sudah tahu, kapan-kapan bisa mampir lagi.

Aku pamitan dan bersalaman ke Kiki, Ibu, dan Anis. Ketika itu opik sedang keluar, ke rumah temannya. Aku langsung menyalakan motor dan mengucapkan terima kasih dan mohon maaf sudah merepotkan. Pesan dari keluarga Anis “hati-hati”, ucapan itu beberapa kali diulang-ulang. Setelah mengucapkan salam, aku pun meninggalkan perumahan BTN Curug Sawo secepat kilat dan dalam hitungan menit aku sudah berada di POM Mandala. Aku berhenti dan menumpang untuk menunaikan shalat Isya.

Sempat ku kabari Anis melalui SMS, setelah selesai perjalanan aku lanjutkan kembali. tiba di rumah sekitar 20.40. Demikian perjalanan hari ini yang begitu mengesankan dan memiliki banyak arti dalam hidupku ini. Aku banyak dapat banyak pelajaran dan semoga ini merupakan titik awal dalam menentukan hidup, meraih masa depan.



Amir Hamzah Copyright © 2009 - 2015 | Template : Yo Koffee | Design By : Designcart | Modif By : amirisme